chapter 6 : nothing will change between us
.
.
Ini bukan situasi yang sering terjadi.
Orangtuanya tidak pernah berada di rumah dalam waktu bersamaan. Apalagi, menyempatkan waktu serta menahan ego mereka untuk makan bersama. Sehingga, malam ini begitu ia melihat ayah dan ibunya duduk berhadapan saling menyantap makan malam masing-masing dan tampak menunggu dirinya. Jongin yakin ada sesuatu yang akan dibicarakan oleh mereka berdua. Jongin mengambil langkah malas menduga kalau ini akan ada hubungannya dengan perceraian mereka.
Sebut dirinya anak durhaka, karena ia akan merasa jauh lebih bahagia apabila orangtuanya bercerai.
"Jadi, kapan persidangannya?" tanya Jongin. Ia berdiri menatap lurus ke arah orangtuanya yang kini menoleh menghadap dirinya. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat dan sesuatu yang diluar dugaan Jongin terjadi; mereka bergandengan tangan kemudian.
"Kami tidak jadi bercerai, Jongin," ayahnya memberitahu sambil tersenyum lebar. Pria itu melirik istrinya yang membalas senyumnya dengan tatapan hangat. "Kami memutuskan untuk mempertahankan pernikahan kami demi dirimu,"
Jongin membeku di tempat. Ia tidak percaya atas apa yang didengarnya. Orangtuanya tidak jadi bercerai karena dirinya? Hell no! Pasti ini semua hanya omong kosong belaka yang mereka buat untuk menutupi alasan sebenarnya. Jongin tidak bodoh. Ia tidak akan semudah itu percaya pada alasan konyol kedua orangtuanya. Mereka pikir dirinya akan termakan oleh alasan bodoh itu? Tidak akan.
Semenyedihkan apapun kedengarannya, Jongin sadar kalau orangtuanya tidak pernah sekalipun peduli padanya. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Karier mereka, kehidupan mereka, atau pendapat mereka sendiri. Tidak pernah ada Jongin yang sekalipun terlintas dipikiran mereka. Dan Jongin sendiri pun sudah terbiasa untuk menjadi pihak yang selau terabaikan di dalam rumah ini.
"Jangan bohong," ujar Jongin dengan suara setengah mengancam.
Wajah ayah dan ibunya langsung berubah. Senyuman serta kebahagian yang beberapa detik lalu terpancar dari mereka lenyap begitu cepat. "Kami tidak berbohong. Walaupun, sebenarnya ada alasan lain yang membuat kami memutuskan untuk tetap bersama," sanggah ibunya.
Lihat, seperti dugaannya pasti selalu ada alasan lain. Pada akhirnya, mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. "Firma hukum ayahmu akan membuka cabang di Amerika. Jadi, ayahmu akan menangani cabang di sana. Ibu diminta untuk mendampinginya dan-"
"Persetan dengan kalian berdua! Aku tidak akan pindah ke Amerika hanya untuk memuaskan ambisi kalian berdua!" Jongin berteriak keras. Matanya menusuk tajam ke arah ayah dan ibunya. Ia tidak menyangka kalau mereka akan sejahat ini. Apa mereka tidak cukup menghancurkan gambaran keluarga bahagia di dalam pikirannya? Apa sekarang mereka ingin menghancurkan seluruh hidupnya? "Kau tahu, aku juga punya kehidupan di sini!"
"Kehidupan? Kehidupan bersama teman-teman pecandumu?" bentak ayahnya.
Dimata Jongin, ia hanya bisa melihat merah sekarang. Ia tidak lagi menganggap kedua orang yang duduk di hadapannya ini adalah orangtuanya. Mulai sekarang, mereka hanyalah orang yang kebetulan mengenal dirinya sejak kecil. Mereka tidak lagi pantas disebut sebagai keluarganya. Apalagi, disebut sebagai ayah dan ibunya. Jongin sudah muak dengan kedua bajingan itu. "Setidaknya, mereka peduli padaku. Mereka tahu apa yang benar-benar kuinginkan. Mereka tidak pernah memaksaku untuk mengikuti keinginan mereka. Mereka-" fuck, ia tidak boleh menangis. "-ada disaat aku membutuhkan mereka. Mereka bukan hanya sekedar teman pecandu bagiku. Mereka adalah keluarga yang tidak pernah aku dapatkan dari kalian berdua,"
Setelah itu, Jongin berjalan keluar rumah tanpa ada niatan untuk menoleh ke belakang meski hanya sekali. Dan kedua orangtuanya pun tidak mencegahnya. Ibunya terisak dan ayahnya membeku. Namun, meski begitu.. mereka masih belum juga menyadari apa yang sebenarnya Jongin inginkan dari mereka.
.
.
Ini adalah hari kedua sejak ia pulang dari rumah sakit. Kondisinya mulai membaik, namun ia masih belum diperbolehkan untuk masuk sekolah.
Sehun duduk di samping Hani yang daritadi diam-diam menambahkan nas dipiringnya. Sudah tiga kali, Sehun mendelik ke arah Hani meminta adiknya untuk berhenti. Namun, Hani sama sekali tidak takut dengan ancamannya dan malah pura-pura tidak tahu.
"Apa kau sudah merasa lebihbaik?" tanya ayah tirinya tiba-tiba.
Sehun segera beralih menatap pria itu. Sekilas, ia melirik ibunya yang kini juga menatap ke arahnya. "Ya, aku sudah merasa lebihbaik. Mungkin, besok aku bisa sekolah," jawabnya.
Ibunya langsung melotot dan menggeleng cepat. "Tidak, kau masih sangat lemah, Sehun. Apa aku harus menusuk tanganmu dengan infusan agar kau mau mendengarkanku?" ibunya tidak tampak bergurau. Wanita itu memang membeli infusan untuk berjaga-jaga kalau saja apa yang terjadi kemarin terulang lagi.
Sehun tidak tahu apa yang membuatnya tersenyum. Ia juga tidak tahu apa yang membuatnya dapat menatap ibunya tanpa ada rasa kebencian yang memenuhi dirinya. Apa mungkin ini adalah efek pertama dari perubahannya? Apa mungkin akhirnya ia bisa berubah? Pertanyaan itu membuat senyumannya semakin mengembang. "Sehun, stop! Senyummu itu membuatku merinding," seru Hani. Gadis itu menatapnya seolah ia adalah orang paling aneh sedunia.
Sehun hanya memutar mata lalu kembali menyendok nasi dipiring. Fuck, Hani kembali menambahkan nasi di piringnya. "Oh iya, Sehun, besok malam keluarga kita diundang ke pesta salah satu kolega appa. Aku sudah memberitahu Hani sebelumnya. Dan, oh, kau harus datang. Tidak ada penolakan darimu, anak muda," mulut Sehun langsung mengatup rapat. Kalau sudah begini, ia tidak memiliki pilihan lain selain pura-pura sakit atau- "Aku tahu kalau kau akan pura-pura sakit," lanjut ayahnya membuat Sehun kembali memutar otak hingga akhirnya ia menyerah.
Ia menarik nafas panjang lalu menjawab, "Aku akan datang."
Ibunya tersenyum kecil tampak puas atas keputusan (terpaksa) anaknya. Wanita itu menyendokkan sup untuk Sehun sambil berkata, "Mungkin, kau akan menemukan gadis cantik di sana."
Hani nyaris menyemburkan sup-nya dan tersedak membuat seluruh pasang mata menoleh ke arahnya. Diam-diam, Sehun menyikut lengan adiknya dengan delikan tajam sebagai ancaman agar gadis itu tidak bicara , Hani bukan orang yang takut akan ancamannya. "Sebenarnya, Sehun sudah memiliki kekasih," kata Hani lalu menggigit bibir guna menahan tawa yang berada di ujung bibirnya.
"Benarkah? Apa jangan-jangan wanita yang kemarin datang mengunjungimu?"
"Bu-" Sehun kembali menyikut lengan Hani, kali ini lebih kasar. "maskudku, aku tidak tahu,"
Wanita paruh baya itu menatap kedua anaknya dengan curiga. Entah mengapa, naluri ibunya mengatakan kalau wanita yang tampak lebih dewasa itu memang kekasih anak lak-lakinya. Sehun tetap memasang wajah datar sambil mengangkat bahu yang artinya ia tidak mau menjawab pertanyaan ibunya. "Kau bisa mengajaknya kalau kau mau," celetuk ayahnya membuat kepala Sehun pening.
Hani melirik ke arahnya menunggu jawaban Sehun. Diluar dugaannya, Sehun menganggukkan kepala dan tidak memberikan penjalasan apapun yang membuat Hani mulai mempertanyakan hubungan antara Sehun dan wanita itu. Apa mereka benar-benar sepasang kekasih? Lalu, bagaimana dengan Sehun dan Jongin?
.
.
"Aku benar-benar tidak menyangka kalau kau akan menelponku, Jongin,"
Jongin tersenyum kaku padanya dan dimata Victoria, ia hanya melihat seorang pemuda kebingungan yang tidak memiliki arah maupun tujuan. "Apa kau ingin membicarakan Sehun?"
Jongin menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu mengapa ia menelpon Victoria dan meminta wanita itu untuk bertemu dengannya. Ia berpikir kalau ia membutuhkan seseorang sekarang. Dan entah mengapa, nama Victoria terlintas di otaknya. "Boleh aku menebak mengapa kau memanggilku ke sini?" Jongin hanya menganggukkan kepala. Victoria menyunggingkan senyum lalu menebak, "kau merindukan Sehun dan hanya aku orang yang dapat membuatmu merasakan kehadirannya. Kau tidak mungkin memanggil adik Sehun ke sini karena Sehun bisa curiga. Jadi, kau memanggilku dan selain itu, mungkin kau membutuhkan saran seseorang yang lebih dewasa dari teman-teman seusiamu."
Tebakan Victoria mungkin ada benarnya. Namun, mengapa semua yang ia lakukan akan selalu berujung pada Oh Sehun? "Kemarin, aku pergi kencan dengan seseorang," ujarnya tiba-tiba. Walaupun, dirinya dan Taeyong berciuman dan setelah itu mereka mulai menjadi semakin dekat. Jongin tetap tidak bisa menganggap Taeyong lebih dari temannya. Ia tetap tidak bisa dan segala macam alasan mengapa ia tidak bisa akan selalu berujung pada satu orang; Oh Sehun.
Sampai detik ini, meski sulit untuk dirinya akui, tidak ada orang yang bisa membuatnya merasakan apa yang dirasakannya saat bersama Sehun. Hanya Sehun yang mampu membuatnya lupa akan betapa kacau kehidupannya. Hanya Sehun yang dapat membuatnya menyerahkan pikiran, tubuh dan segala yang dirinya punya. Dan se-fucked up apapun hubungan yang mereka miliki sebelumnya, Jongin mulai berpikir kalau ia mungkin sangat membutuhkan hubungan itu.
Ia membutuhkan Sehun untuk mengalihkan pikirannya - dunianya. Dan jika dirinya harus terluka untuk kedua kalinya hanya untuk membuatnya lupa akan kedua orangtuanya, maka ia akan melakukannya lagi. Ia akan membiarkan Sehun menghukum dan melukainya sesuka hati pemuda itu.
"Tapi, aku tidak menyukai orang itu. Aku pikir yang kuinginkan sekarang hanya Sehun dan hubungan yang kami punya sebelumnya,"
Victoria mendengus keras. Wanita itu tidak tahu apa yang mengacaukan pikiran Jongin sampai pemuda itu menjadi sefrustasi ini. Tidak mungkin, kalau Jongin menginginkan hubungan semacam itu. Victoria yakin Jongin hanya menginginkannya untuk menghukum dirinya sendiri. Semua orang yang terjun dan akhirnya tenggelam dalam dunia BDSM adalah orang-orang dengan pikiran atau hidup yang kacau. Karena pada dasarnya, tidak ada orang waras dengan kehidupan normal menginginkan aturan BDSM untuk mengatur hidupnya. Mereka dapat mengatur hidupnya sendiri tanpa perlu menggunakan hukuman atau balasan berupa kenikmatan seksual.
"Apa itu benar-benar yang kau inginkan?" pertanyaan Victoria bukanlah pertanyaan yang sulit. Namun, bagi Jongin.. entah mengapa ia tidak menjawabnya. Lidahnya seolah tertahan dan bibirnya mengatup rapat. Ia pun menganggukkan kepala dengan wajah pucat.
"Kalau begitu, aku akan memanggilkan Sehun untukmu. Sekarang, kau ikut aku ke rumahku. Di sana, kalian bisa melakukan apapun yang kalian ingin lakukan. Aku yakin masih banyak sex toys Sehun yang tersembunyi di sana," jelas Victoria. Wanita itu mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan pesan singkat pada Sehun. Jongin hanya memperhatikannya dengan nafas tertahan.
Satu pertanyaan kini memenuhi pikirannya; Apa ini benar-benar yang dirinya inginkan?
.
.
Setelah Sehun menerima panggilan dari Victoria, pemuda itu langsung bergegas meraih kunci mobil di atas meja nakas dan berjalan melewati Hani yang baru saja keluar dari kamarnya. "Kau mau kemana? Eomma, tidak akan mengizinkan-" Sehun membekap mulut adiknya dan menyeret Hani masuk ke dalam kamar gadis itu. Begitu mereka berada di dalam kamar, Hani langsung berontak dan mendorong Sehun. "What the fuck?"
"Aku harus pergi sekarang juga. Ini penting," Sehun memegang kedua bahu Hani dan menatap lurus ke matanya. Jika Hani tidak mengenal Sehun dengan dekat, mungkin ia sudah mengira pemuda itu sedang memohon padanya. "Aku berutang padamu jika kau membiarkanku pergi kali ini,"
Sejenak, Hani hanya terpaku menatapnya. Pikiran gadis itu entah mengapa melayang pada Victoria. Apa Sehun pergi untuk menemui wanita itu? Dan entah mengapa, hatinya terasa sakit tanpa alasan yang jelas. Ini tidak adil bagi Jongin ataupun bagi dirinya. "Jangan temui dia," bisik Hani begitu rendah hingga Sehun tidak mendengarnya.
"Apa?"
"Pergi! Pergi sana!" tiba-tiba saja, Hani berteriak dan mendorong Sehun keluar dari kamarnya. "Lakukan apa yang kau ingin lakukan!"
Kemudian, Hani membanting pintu kamarnya meninggalkan Sehun yang berdiri kebingungan menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Sehun tidak tahu apa yang membuat Hani begitu marah. Namun, ia bisa memikirkannya nanti setelah ia menyelesaikan masalahnya terlebih dahulu dengan Jongin. Sehun berjalan mengendap-endap menuruni tangga menuju pintu keluar. Untungnya, kedua orangtuanya berada di kamar entah sedang melakukan apa.
Ia segera bergegas masuk ke dalam garasi rumahnya setelah membuka pagar rumah. Mobil ayahnya terparkir di samping mobilnya. Mobil Camaro keluaran terbaru ini adalah hadiah ultang tahunnya setahun yang lalu. Sehun cukup membanggakan mobilnya dan bahkan menyaanginya lebih dari ia menyaangi Hani. Begitu ia sudah berada di dalam mobil, Sehun segera memanaskan mesin mobil dan menginjak gas sebelum ayah dan ibunya keluar untuk mencegah kepergiannya.
Selama perjalanan, Sehun sama sekali tidak bisa fokus. Pikirannya hanya terpusat pada Jongin dan apa yang terjadi pada pemuda itu hingga ia mencari Victoria. Jujur saja, Sehun merasa belum siap untuk menemui Jongin karena baginya dirinya yang sekarang masih belum begitu berubah dari dirinya yang dulu. Ia masih belum mengerti apa itu cinta. Ia masih belum bisa mengendalikan dirinya sepenuhnya. Menurut Sehun, ini bukanlah saat yang tepat baginya untuk bertemu dengan Jongin.
Mengingat, kondisinya yang cukup menyedihkan seperti ini. Siapapun orang yang melihatnya pasti akan bertanya-tanya, termasuk Jongin. Sehun tidak mau Jongin menganggapnya lemah hanya karena dirinya penderita anorexia. Sehun tidak mau Jongin menyerah dan memilih meninggalkan dirinya hanya karena ia tidak mau makan serta berat badannya turun drastis.
Sehun memang belum mengerti apa itu cinta. Namun, ia ingin Jongin mencintai dirinya apa adanya. Karena jika akhirnya Sehun mengerti, ia pun akan melakukan hal yang sama pada Jongin.
Begitu dirinya sampai di area pekarangan rumah Victoria, Sehun segera memarkirkan mobilnya dan bergegas masuk ke dalam rumah. Baekhyun yang sedang menggambar di teras rumah berlari memeluk kaki Sehun saat menyadari kedatangannya. "Sehun, tolong Jongin," gumam bocah laki-laki itu. Sehun mengusap rambutnya dengan sayang dan menganggukkan kepala meski Baekhyun tidak bisa melihatnya.
Setelah, Baekhyun melepaskan dirinya. Sehun berjalan masuk ke dalam rumah menuju kamarnya. Ia tahu kalau Jongin ada di sana. Dia tidak mungkin berada di tempat lain. Langkahnya memberat begitu ia sampai di depan pintu kamarnya. Tiba-tiba, perasaan takut mulai menyelimuti dirinya membuat tangannya bergetar hebat. Hingga, akhirnya Sehun mengumpulkan seluruh keberaniannya dan membuka pintu. Ia berjalan masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu dengan rapat. Matanya beralih memandang jauh ke arah Jongin yang sudah menantinya daritadi.
Sehun menelan ludah begitu melihat pemandangan yang disuguhkan di depannya. Jongin berada dalam kondisi telanjang. Tidak ada sehelai pakaian pun yang menutupi tubuhnya. Selain itu, kakinya terbuka lebar seolah menawarkan apa yang ada di antara kedua kakinya. Sehun tidak bisa berbohong kalau penis Jongin yang memerah akibat cock ring yang mungkin menahan orgasmenya daritadi berhasil merangsang penisnya hingga berdiri. Tangan Jongin terikat pada kepala ranjang, sementara matanya ditutup oleh kain hitam. Sehun dapat mendengar deru nafasnya yang keras.
Berbeda dari sebelumnya, kali ini Jongin tidak terlihat takut atau ragu sama sekali. Pemuda itu malah terlihat amat menginginkan hal ini. Sehun yakin kalau Victoria tidak mungkin menghasut Jongin untuk menjadi seperti ini karena wanita itu tahu kalau Jongin bernilai lebih dari sekedar submissive bagi dirinya. Ia yakin kalau semua ini adalah keinginan Jongin sendiri. Dan jujur saja, itu membuatnya bingung.
"Sir," Jongin memanggilnya dengan suara serak.
Sehun berusaha untuk tenang. Ia menahan dirinya sekeras mungkin agar tidak terjatuh ke dalam kesalahan yang sama. Ia bersumpah kalau ia tidak akan pernah melukai Jongin lagi dan ia akan memegang janjinya itu apapun yang terjadi. "Aku membutuhkan sentuhanmu," lalu, Jongin mengeras keras sambil menggerakkan pinggulnya membuat gerakan seduktif yang amat menggoda Sehun.
Sehun berjalan mendekat. Ia membuka kaos kaki serta kaosnya dan meletakkan di lantai. Matanya tidak berpindah dari bibir Jongin yang memerah. Ia merangkak naik ke atas ranjang lalu berhenti di depan Jongin. Wajahnya dan Jongin hanya berjarak beberapa senti lagi. Bahkan, Jongin sendiri pun dapat merasakan nafas hangat Sehun yang menyapa wajahnya. "Sir," panggilnya lagi.
Sehun menggelengkan kepala. Pemuda itu menempelkan keningnya dengan kening Jongin. "Bukan, aku ini Sehun. Panggil namaku, Jongin," suara Sehun tidak terdengar memerintah ataupun menuntut dirinya. Jongin menarik nafas panjang. Apa ini benar-benar Sehun yang dikenalnya?
"Sehun," panggil Jongin. Kali ini, lebih keras daripada sebelumnya.
Sehun tersenyum, meski Jongin tidak bisa melihatnya. Tangannya berada di belakang kepala Jongin, membuka ikatan kain tersebut. Begitu ikatan kain tersebut terlepas, mata mereka saling beradu dan terpaut untuk waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya, pandangan Jongin berpindah pada pipi Sehun yang terlihat lebih tirus daripada biasanya dan kemudian ia melihat tubuh Sehun yang benar-benar kurus. Ketika, matanya kembali bertemu dengan Sehun. Jongin melihat satu sisi seorang Oh Sehun yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Akhirnya, ia melihat sisi lemah Sehun.
Sehun membiarkan dirinya melihat sisi lemah pemuda itu. Sehun seolah mengundangnya masuk kembali ke dalam kehidupannya. Dan kali ini, bukan sebagai submissive atau patner BDSM-nya. Melainkan, lebih dari itu. "Kau berpikir kalau kau membutuhkanku sekarang. Padahal, nyatanya kau salah. Aku-lah yang amat membutuhkanmu sekarang," Sehun menyentuh pipinya dengan lembut. Tatapan pemuda itu teduh mengingatkannya akan rumah yang selama ini dicarinya. Meski, tangan Sehun dingin. Namun, Jongin merasa hangat.
"Kau lebih pantas untuk mendapatkan lebih, Jongin. Aku tidak akan pernah menjadikanmu submissive-ku lagi karena kita sama-sama tahu kalau kau lebih dari itu," Sehun mencium keningnya. Jongin bersumpah kalau dirinya tidak menangis. Namun, ia merasakan air mata jatuh mengenai pipinya. "Aku tidak akan membuat dirimu menjadi sama sepertiku. Aku tidak akan menjadi Kris yang akan mengambil keuntungan seperti apa yang dia lakukan padaku dulu. Aku ingin kau menghadapi apapun masalah yang kau hadapi sekarang dengan berani. Janganlah jadi pengecut sepertiku yang memilih untuk melarikan diri dan terjebak di dalam dunia pelarian yang kubuat sendiri,"
Jongin dapat melihat air mata yang jatuh mengalir dari mata Sehun. Pemuda itu menangkup pipinya dan kembali mempertemukan keningnya dengan kening Jongin. Jongin tenggelam di dalam Sehun, tersesat di dalamnya dan tidak mengharapkan jalan untuk pulang. "Aku tidak ingin kau melukai dirimu sendiri, Jongin. Hanya itu yang kuinginkan darimu," bisik Sehun. Pemuda itu memohon pada dirinya.
Sejenak, Jongin hanya bisa terdiam menatapnya. Walaupun, Sehun benar-benar terlihat berbeda karena penyakitnya. Dimata Jongin, Sehun tetaplah Sehun yang ia kenal. Tidak ada yang berubah dari pemuda itu dan begitupun dengan perasaannya terhadap Sehun. Tidak akan ada yang berubah. Apapun yang terjadi pada Sehun, Jongin tetap akan mencintainya. Itu tidak akan pernah berubah.
"Lepaskan aku," pinta Jongin dan Sehun segera melepaskan ikatan pada tangannya.
Tiba-tiba saja, Jongin mencium bibir Sehun serta mengalungkan tangannya pada leher pemuda itu. Bibir mereka bergerak dengan lambat seolah mereka takut momen ini akan berakhir. Tangan Jongin menekan pelan tengkuk leher Sehun untuk memperdalam ciuman mereka. Tidak ada lidah ataupun permainan, Sehun dan Jongin menikmati ciuman mereka sampai salah satu dari mereka menarik diri untuk bernafas.
Sehun kembali menempelkan keningnya pada Jongin. Hidung mereka beradu serta bibir mereka nyaris kembali bertemu. Mata Jongin terpejam. Kini, ia mendekap tubuh Sehun dengan erat. Tidak ada yang berubah. Tangannya mengusap punggung Sehun dengan perhatian. Sehun nyaris membuka mulutnya untuk protes. Namun, Jongin kembali mencium bibirnya. Tidak ada yang berubah.
Kali ini, Jongin lah yang melepaskan ciumannya dari Sehun. Pemuda itu mengatur nafasnya sambil menatap lurus pada Sehun yang tak pernah mengalihkan pandangan darinya meski hanya sedetik saja. Tangan Jongin kini berada pada dada serta perut Sehun. Tidak ada yang berubah.
"Make love with me," bisik Jongin dan sebelum Sehun membuka mulutnya. Jongin sudah terlebih dahulu mencium bibir pemuda itu.
Tidak ada yang berubah. Apapun yang nantinya akan mengubah mereka. Jongin yakin perasaannya terhadap Sehun tidak akan pernah berubah.
.
.
Rin's note :
aku agak ngerasa overwhelming pas nulis chapter ini... jadi agak stress sendiri gitu pas nulisnya kkk
di chapter ini aku fokusin ke keluarga Jongin dan Sehun. Karena mereka adalah salah satu plot utama dari book 2 ini. Anyways, Sehun itu bener-bener boyfriend goals banget.. like seriously.. where i can find someone like him? dan di chapter ini, table's turn. Jongin jadi fucked up and Sehun trying to save him.
Soal TaeyongxKai aku nggak bakal memperpanjang hubungan mereka seperti plot awalku karena jadi banyak yang baper sama Taeyong hohoho im sorry udah bikin kalian emesh sama TaeKai hehehe. Dan aku juga "lupa" masukin part kristao di sini. next chapter aku bakal masukin mereka. selain itu, aku juga nambah bumbu-bumbu Hani ada feeling sama Sehun. Tapi, itu cuma selingan aja sih.
And I kind of have this feeling.. kalau ff ini bakal bentar lagi tamat haahaha. Spoiler dikit: ke depannya bakal tetap ada bdsm cause the boys are going to test their limits.
AND OH NEXT CHAPTER SMUTT.. a bit dominant Jongin. Walaupun, bottom nya tetep dia haha. Bossy bottom is hot, right?
