"Sudah jangan lagi..."

"Hah? Kau... Kakashi-san?"

"Sudah Honjo-san. Anda sudah mabuk."

"Apa urusan mu hah?!"

"Hentikan Kayako-san!"

"Panggil aku Honjo-sama! Bukan Kayako-san!"

"Minato! Hey! Kenapa kau pergi meninggalkan ku selamanya hah?!"

"Tolong!"

BYUUR!

あなただけ

Author: Namikaze Miku-chan

Rate: T

Genre: Friendship, hurt/comfort, romance(?)

Warning: main chara OC, typo dimana-mana, abal, OOC

Pair: Slight NaruHina, SasuSaku

Chapter 7: That woman is...

Suasana yang tenang hari ini. Burung saling berkicauan menyambut pagi. Embun segar di atas dedaunan. Seolah mereka siap menyambut orang-orang untuk beraktifitas kembali. Namun ketenangan itu sedikit terusik dengan adanya suara gaduh di salah satu rumah di daerah Tokyo. Rumah itu cukup besar dengan adanya 4 anggota keluarga dan 1 kepala keluarga di dalamnya. Tertera papan kecil bertuliskan 'Uchiha' di tembok luar rumah. Penyebab kegaduhan turun ke ruang makan. Masih saja terus bertengkar.

"Minggir teme!" seru seorang pemuda berambut kuning.

"Kau yang minggir dobe!" Tak mau kalah, pemuda yang di panggil teme berseru pada sosok yang terus menyikutnya. Terus saja mereka beradu argumen hingga di meja makan. Sang kepala keluarga hanya diam membaca koran pagi di tangannya. Tidak mempedulikan pertengkaran 2 anak kucing di hadapannya. Kejadian ini seolah biasa di pagi hari. Ny. Uchiha, berjalan ke meja makan dan menaruh semangkuk besar berisi kare. Ia hanya bisa menghela nafas melihat keduanya masih terus saja bertengkar. Meski mereka selalu saja bertengkar, namun jalan pikiran mereka terkadang sama. Buktinya? Mereka memegang sendok besar bersamaan untuk mengambil kare yang sudah tersedia.

"Lepaskan tanganmu, dobe..."

"Aku yang duluan, jadi kau yang harus melepaskannya, teme..."

"Aku memegang lebih banyak bagian."

"Aku tetap yang duluan."

Kembali mereka bertengkar hanya dikarenakan sebuah sendok sayur. Tidak ada yang mau mengalah diantara keduanya.

PLAK! PLAK! Sebuah pukulan mendarat dengan mulus dikepala mereka masing-masing.

"Iitai~" seru mereka bersamaan.

"Mau sampai kapan kalian terus bertengkar?!" seru seorang pemuda yang berdiri di belakang mereka seraya berkacak pinggang. Di tangan kanannya ada sebuah buku yang ia gunakan untuk memukul kedua adiknya ini.

"Aniki sakit..." ujar pemuda berambut raven, "Bukan aku yang memulai duluan. Tapi Naruto."

"Seenaknya bilang aku yang mulai. Kan kamu duluan yang mulai!" Naruto tidak terima dengan perkataan Sasuke.

"Mau saling lempar kesalahan? Sudah tahu salah masih saja mengelak!" seru Itachi yang masih marah dengan sikap mereka,

"Kalian sudah besar, bukan anak kecil lagi yang harus selalu bertengkar hanya karena masalah kecil."

"..." Keduanya diam saja.

"Sekarang lebih baik kalian segera berangkat," ujar Itachi yang sudah duduk di salah satu kursi di meja makan.

Naruto langsung memakai sepatunya sedangkan Sasuke menyampirkan tas miliknya di punggungnya. Sebelum pergi, Naruto mencium pipi Mikoto dahulu.

"Kami berangkat," ujar Sasuke. Keduanya pun keluar dari rumah.

"Apa Itachi tidak terlalu keras pada mereka?" tanya Mikoto pada Fugaku.

"Biar saja. Mereka pantas seperti itu. Kalau aku yang mendidik keduanya, akan lebih keras dari Itachi. Biar aja. Toh mereka adik Itachi kan?"

"Iya. Benar juga," ucap Mikoto.

"Kelakuan mereka memang seperti anak kecil, kaa-san. Mereka harus ditegaskan." ucap Itachi, "Lagi pula, Honjo-san sendiri kan yang meminta kita untuk mendidik Naruto."

"Iya..." Mikoto tertunduk menutupi raut wajahnya yang sedih mendengar nama Kayako di sebut.

Naruto dan Sasuke berjalan ke motor mereka masing-masing. Naruto tidak lupa mengenakan jaket kesayangannya beserta sarung tangan. Sasuke pun melakukan hal yang sama. Helm pun telah mereka gunakan dan mereka menaiki motor mereka masing-masing.

"Yang terakhir sampai harus mentraktir yang menang," ujar Naruto.

"Tidak masalah," jawab Sasuke.

Tidak lama kemudian kedua motor sport itu melaju kencang. Saling salip menyalip satu sama lain mereka lakukan.

.

.

.

Tokyo Senior High School atau lebih dikenal Tokyo Gakuen adalah sekolah terbaik di Jepang. Termasuk dalam kategori sekolah elite. Murid-murid di sekolah itu adalah anak dari orang-orang penting di Jepang. Sasuke dan Naruto termasuk murid di Tokyo Gakuen. Motor Ducati 1198Sp memasuki halaman parkir Tokyo Gakuen. Sang pengendara motor tersebut memarkirkan motor kesayangannya di tempat yang sudah disediakan. Tidak lama datanglah Sasuke dengan Honda CBR600F miliknya. Naruto membuka helmnya.

"Ha! Aku menang teme! Kau harus mentraktirku!" seru Naruto.

"Baik baiklah. Aku akan mentraktirmu," ujar Sasuke seraya melepaskan helm yang ia

kenakan.

Keduanya berjalan beriringan memasuki gedung sekolah. Naruto memasukan tangannya ke dalam saku celana, sedangkan Sasuke melipat tangannya di depan dada seraya mengulum permen karet. Kedangan mereka membuat para siswi berteriak histeris. Wajar saja, mereka adalah pangeran sekolah. Banyak siswi yang berebut ingin menjadi pacar diantara mereka berdua. Meski mereka mengetahui bahwa keduanya telah memiliki kekasih. Teriakan histeris terus menemani mereka hingga di depan kelas 2-3, kelas keduanya.

"Ohayou minna-san! Seru Naruto seraya memamerkan deretan giginya.

"Seperti biasa ya, kalian selalu membuat keributan," ucap seorang pemuda dengan tato segitiga terbalik di pipinya.

"Mereka memang seperti itu kan," timpal pemuda berkaca mata.

Naruto dan Sasuke tidak menggubris perkataan teman mereka. Naruto segera ke mejanya dan menaruh tas miliknya. Setelah itu ia berjalan menghampiri seorang gadis berambut indigo yang tengah melamun di pinggir jendela.

"Ohayou Hinata-chan!"

"Ah, Na-Naruto-kun.."

"Aku merindukan mu~~" Naruto memeluk Hinata dan sukses membuat wajah Hinata memerah seperti kepiting rebus.

"Na-Naruto-kun..." Hinata tidak bisa bergerak karena pelukan Naruto.

"Kalau mau pacaran tidak disini, baka dobe!" ucap Sasuke. Hal ini membuat empat siku-siku muncul di dahi Naruto. Naruto melepas pelukannya dari Hinata.

"Apa yang baru saja kau bilang hah teme? Baka dobe?" Naruto berjalan mendekati Sasuke, Sasuke sendiri hanya memasang wajah tenang.

"Iya, baka dobe. Tidak tahu kapan waktunya untuk berpacaran."

"Apa urusanmu?" Naruto mulai berkacak pinggang, "Kau bahkan tidak pernah bermesraan dengan Sakura-chan."

"Na-Naruto-kun, sudah. Jangan bertengkar disini." Hinata mencoba melerai keduanya dengan berdiri di antara Naruto dan Sasuke.

"Ck, mendokusai," ucap seorang berambut nanas yang terbangun dari tidurnya.

Emosi Sasuke mulai tersulut karena ucapan Naruto. Ia menarik kerah baju Naruto,

"Diam kau!" Naruto pun menarik kerah baju Sasuke,

"apa?"

TAK! TAK! Sebuah jitakan mendarat di batok kepala mereka seperti pukulan buku yang mereka terima dari Itachi tadi pagi.

"Sakura-chan iitai~~" ujar Naruto seraya mengusap kepalanya.

"Kalian itu memang bodoh! B-A-K-A"

Sakura menekannkan kata terakhir. Sasuke dan Naruto hanya diam seraya memajukan mulut mereka. Seiisi kelas tertawa melihat sikap Naruto dan Sasuke yang langsung seperti anak kecil yang tengah dimarahi ibunya.

Begitulah keduanya, seperti anak kecil. Namun sikap mereka yang seperti ini hanya ketika mereka bertengkar. Diluar itu mereka bersikap dewasa. Naruto kecil kini telah tumbuh menjadi remaja idola. Kharisma itu ia peroleh dari ayahnya. Minato pun dulu sangat terkenal karena ketampanannya. Tidak hanya kharisma, kecerdasan dan anugerah wajah yang tampan juga ada pada dirinya yang juga ia peroleh dari gen ayahnya. Setelah 'kematian' Kayako memang Naruto tinggal dirumah keluarga Uchiha. Mereka semua menganggap Naruto sudah seperti anggota keluarga mereka sendiri.

Sasuke sendiri, ia yang terlahir dari keluarga Uchiha juga di anugerahi wajah yang tampan dan otak yang cerdas. Ia selalu bersaing dengan Naruto. Kakaknya, Uchiha Itachi, adalah mahasiswa kedokteran di Unibersitas Tokyo. Ia juga anak yang cerdas. Sasuke sangat dekat dengan anikinya ini.

Hinata. Gadis cantik yang lahir dari keluarga bangsawan Hyuuga adalah gadis yang pemalu. Meski begitu kecantikannya terkenal di sekolah. Yah seperti Kayako dan Kushina dahulu. Ia memiliki kakak laki-laki dan adik perempuan. Kakaknya adalah ketua osis di Tokyo Gakuen dan ketua klub karate. Tapi itu dulu. Dia kakak yang tampan juga sangat menyayangi adinya Hinata. Hyuuga Neji namanya. Karena sifat pemalu Hinata tidak ada yang menyangka ia berpacaran dengan Naruto. Semua terkejut akan hal itu. Mereka berpacaran satu tahun lalu, tepatnya saat keduanya kelas 1.

Sakura, lengkapnya Haruno Sakura. Gadis berambut soft pink itu adalah kapten klub karate menggantikan posisi Neji yang sudah kelas 3. Sifatnya sangat bertolak belakang dengan Sasuke. Namun toh mereka menjadi sepasang kekasih. Mereka bahkan dicap sebagai sepasang kekasih yang aneh, seperti Naruto dan Hinata. Sakura adalah sahabat Hinata.

Naruto, Sasuke, Hinata dan Sakura ditempatkan di kelas 2-3. Kelas yang terkenal karena keunikannya. Selain ada 2 pangeran sekolah dalam satu kelas, ada juga profesor di kelas mereka, Nara Shikamaru. Ia cerdas namun pemalas. Padahal kecerdasannya di atas Naruto dan Sasuke, namun karena sifatnya yang malas dan suka tidur di kelas itulah ia masuk 20 besar peringkat di kelasnya.

Selanjutnya, ada Akimichi Chouji. Cowok gendut yang tidak mau disebut gendut. Kata gendut adalah kata yang tabu untuknya. Ia akan mengamuk jika ada ada yang mengatakannya gendut. Ia selalu mengatakan bahwa ia tidak gendut tapi tulangnya yang besar. Lanjut, Yamanaka Ino, gadis cantik yang suka bersolek. Ia sahabat Sakura dan Hinata. Memendam perasaan pada Sai dan dulu ia bersama Sakura selalu

memperebutkan Sasuke.

Next, ada Aburame Shino, cowok pendiam bin aneh yang suka serangga. Konon katanya kamarnya penuh dengan serangga peliharaannya. Ia tidak banyak bicara dan terkesan misterius. Inuzuka Kiba, cowok berisik yang adalah sahabat Naruto. Ia menyukai Hinata. Terkadang ia suka bertengkar dengar Shino karena perbedaan pendapat lah katanya. Sai, cowok tampan lainnya di kelas. Memang ketampanannya tidak bisa menyaingi Naruto dan Sasuke, namun ia terkenal dengan 'senyumnya'. Senyum palsu tepatnya tetapi sebelum bertemu dengan Naruto. Ia hobi menggambar. Terakhir, ada Sabaku Gaara. Ketua dari kelas 2-3. Sahabat Naruto lainnya. Ia ketua kelas yang tegas dan tidak banyak bicara. Karena merekalah kelas 2-3 disebut kelas unik. Dan mereka semua telah berteman sejak TK kecuali Sai.

.

.

.

~Only You~

.

.

.

"Ne, Hinata-chan, malam ini ada acara?" tanya Naruto yang menghampiri Hinata yang tengah memasukan bukunya di dalam tas.

"Tidak ada sih. Ada apa Na-Naruto-kun?"

"Nanti malam kita jalan keluar ya." Naruto tersenyum di depan wajah Hinata.

"Ba-baiklah Naruto-kun," jawab Hinata terbata-bata. Ia memang selalu tersipu setiap melihat senyum Naruto.

"Yes!" Naruto mengepalkan tangannya,

"kalau begitu ayo kita pulang." Naruto meraih tangan Hinata. Ia genggam tangan mungil Hinata dalam tangan hangatnya. Hinata selalu merasa nyaman meski Naruto hanya menggenggam tangannya. Keduanya kini sudah diparkiran. Murid-muris berjalan keluar gerbang sekolah karena memang ini sudah jam pulang sekolah karena menunjukan pukul 15.00. Sasuke dan Sakura sudah pulang duluan. Hinata memakai helm pemberian Naruto dan Naruto sendiri tengah mengenakan jaket kesayangannya yang adalah hadiah ulang tahun dari Hinata. Jaket itu sangat bagus dengan warna Hitam dan Orange. Semakin cocok saat dikenakan di tubuh Naruto. Ia makin terlihat keren. #AuthorMelt #abaikan# helm juga telah terpasang di kepalanya.

"Ayo," ucap Naruto yang telah menaiki motor Ducati 1198Sp miliknya. Dengan perlahan Hinata naik ke motor Naruto, "pegangan." Dengan ragu Hinata melingkarkan tangannya di pinggang Naruto. Memang ini kali pertama Hinata naik motor bersama Naruto karena biasanya ia bersama Naruto naik sepeda. Motor itu pun melesat di antara kerumunan murid-murid Tokyo Gakuen.

Selama perjalanan Hinata memeluk erat Naruto yang melajukan motornya di jalanan Tokyo. Begitu nyaman bagi Hinata memeluk Naruto. Ia sangat mencintai Naruto. Motor itu pun berhenti di sebuah manshion besar milik keluarga Hyuuga. Hinata turun dari motor dan melepas helmnya.

"Jangan lupa, jam 7. Nanti aku jemput."

"Hm." Hinata menganggukan kepala seraya tersenyum. Naruto pun langsung menjalankan motornya.

.

.

Malam yang ditunggu Naruto tidak kerasa sudah tiba. Ia turun dari kamarnya di lantai 2 dengan kaos hitam dan celana jeans. Tidak lupa sneakers dan jaket kesayangannya.

"Mau kemana Naruto-kun?" tanya Mikoto yang tengah menyiapkan makan malam.

"Mau kencan kaa-san," jawab Sasuke.

"Eh kencan?"

"Iya, kaa-san," jawab Naruto, "Kau tidak pergi dengan Sakura-chan?" tanya Naruto

pada Sasuke.

"Tidak. Aku sedang banyak tugas yang harus keselesaikan malam ini dan bukan sepertimu yang suka menunda pekerjaan," jawab Sasuke.

"Banyak tugas atau kau yang sedang tidak ada uang?" senyum jahil terlukis di wajah Naruto.

"Urusai!"

Mikoto tertawa melihat kelakukan Naruto dan Sasuke, "lebih baik kau pergi sekarang

Naruto-kun. Kasihan Hinata-chan sudah menunggumu."

"Oh iya." Naruto mencium pipi Mikoto, "aku pergi dulu kaa-san."

"Hati-hati Naruto-kun."

Naruto segera memacu motornya menembus jalanan malam Tokyo. Lampu kerlap-kerlip dari gedung pencakar langit menerangi Tokyo malam ini. Naruto telah tiba di tujuannya, manshion Hyuuga dan Hinata telah menunggunya bersama seorang pemuda yang adalah kakaknya.

"Terlambat," ucap Neji.

"Gomen Hinata-chan."

"Tidak apa Naruto-kun." Malam ini Hinata terlihat cantik dengan dress berlengan pendek warna lavender dan rambut indigonya ia biarkan terurai menambah kecantikannya.

"Jaga dia baik-baik," ucap Neji.

"Baik senpai."

-SKIP TIME-

Naruto dan Hinata berasa di sebuah cafe. Cafe favorit keduanya.

"Mau pesan apa?" tanya Naruto yang tengah melihat daftar menu.

"Hm, ice lemon tea sama green tea donut ya," jawab Hinata pada pelayan.

"Aku ramen sama... Err apa ya?" ucap Naruto bingung.

"Ice lemon tea 1 lagi," ucap Hinata pada pelayan.

"Baik, tunggu sebentar." Pelayan itu pun pergi.

"Selalu saja Naruto-kun binggung untuk pesan minuman," ujar Hinata.

"Hehehe" Naruto tersenyum seraya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. 15 menit sudah berlalu dan pesanan mereka telah tiba. Naruto langsung memakan ramen kesukannya. Hinata tersenyum melihat tingkah Naruto. Kencan malam ini mereka habiskan dengan membicarakan bermacam hal. Dari hukuman yang diterima Shikamaru karena tidur saat jam pelajaran, Ino yang mengobrol dengan Sakura hingga Chouji yang lama sekali dari kamar mandi yang ternyata ia ke kantin karena lapar.

"Naruto-kun, aku ke kamar mandi dulu."

"Hm, iya."

Setelah kepergian Hinata ke kamar mandi, mata Naruto menangkap sosok seorang wanita yang duduk si seberang mejanya. Wanita itu berambut brunette. Rambut panjang bergelombang itu dibiarkan terurai. Wanita itu duduk sendirian seraya menikamati cheese cake di hadapannya. Sosok yang diperhatikan Naruto menyadari tatapan Naruto terhadapnya. Ia pun melihat Naruto. Mata saphire bertemu mata coklat wanita itu. Cukup lama mereka saling menatap satu sama lain.

"Gomen Naruto-kun aku lama." Hinata datang dan langsung duduk di hadapan Naruto menghalangi Naruto yang tengah melihat wanita itu. Naruto hanya diam saja, ia bahkan mencari-cari sosok wanita itu yang telah pergi dari mejanya dengan taksi.

"Ada apa Naruto-kun?"

"Ah, tidak apa," jawab Naruto.

.

.

.

~Only You~

.

.

.

Naruto menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia teringat dengan sosok wanita tadi. Ia bingung mengapa dirinya tertarik dengan wanita itu dan ia merasa aneh dengan menatap matanya meski dari jarak 2 meter. Mata yang tidak asing bagi Naruto.

"Siapa dia? Mengapa aku tidak asing melihatnya?"

Di tempat yang berbeda...

Di sebuah apartment luxury seorang wanita muda tengah mencuci tangannya di kamar mandi. Ia adalah wanita yang dilihat Naruto tadi. Selesai mencuci tangan ia mengambil gelas dan mengisinya dengan susu hangat. Ia teguk sedikit susu di dalam gelasnya. "Siapa pemuda tadi? Aku merasa seperti pernah bertemu dengannya. Mata itu..."

::TBC::