VIRTUE SEVEN,HUMILITY (KUROKO TETSUYA)

[Name] melihat sekeliling dengan teliti, mencari laki-laki berambut biru muda yang dia ajak pergi di akhir pekan. Beberapa hari yang lalu, dia mengajak Kuroko untuk pergi ke taman bermain dengan alasan refreshing setelah ujian. Tapi perempuan berambut [hair color] itu melupakan satu hal—mereka berdua tidak menetapkan tempat untuk bertemu... dan semua orang tahu kalau Kuroko adalah orang yang sulit ditemukan.

"Hah..." [Name] menghela nafas, menutup ponselnya yang tidak berisi nomor telepon Kuroko. "Seharusnya tadi pagi aku pergi ke rumah Kuroko-san saja—"

"[Surname]-san."

"Wah—!?" [Name] terlonjak saat mendengar suara seseorang yang memanggilnya bersamaan dengan tangan yang memegang pundaknya, membuatnya berbalik untuk melihat Kuroko yang agak terkejut. "A-Ah, Kuroko-san. Kamu mengejutkanku..."

[Name] benar-benar tidak mengerti. Warna rambut Kuroko yang mencolok bisa membuat siapa saja melihat ke arahnya, tapi laki-laki berambut biru muda di hadapannya itu bahkan berhasil mengejutkan dirinya yang suka film horror dan sulit dikejutkan oleh orang lain. Dan orang macam apa yang tidak memperhatikan seorang laki-laki yang memakai celana jeans dan kaos oblong putih di taman bermain? Yah, dia tidak berhak mengatakan itu karena dia sendiri terkejut...

"Maaf mengejutkanmu, [Surname]-san." Kuroko berkata sambil kembali mengeluarkan tatapan kosongnya.

"Ah, tidak masalah! Kalau begitu, ayo kita bersenang-senang!" [Name] tersenyum senang sambil melihat Kuroko. "Apa yang ingin kamu lakukan pertama, Kuroko-san?"

Kuroko berkedip. "...Lebih baik kamu saja yang memilih, [Surname]-san."

"Eh? Kenapa?" tanya [Name] bingung, memiringkan kepalanya.

"Aku sudah lama tidak pergi ke taman bermain." jelas Kuroko. "Jadi akan lebih baik kalau [Surname]-san yang memilih. Lagipula, aku bisa menaiki apa saja yang kamu mau."

"Oh, benarkah?" [Name] tersenyum lebar. "Kalau begitu, ayo naik roller coaster!"

"Baiklah."

Menunggu antri beberapa menit, kedua orang itu menaiki roller coaster bersebelahan—dimana [Name] tertawa senang sambil menikmati angin yang berhembus kencang dan Kuroko menutupi mulutnya, wajahnya yang berubah pucat memperlihatkan kalau dia sama sekali tidak kuat naik atraksi yang seperti ini.

Dan luar biasanya, [Name] tidak menyadari ini sampai mereka berdua turun dari roller coaster dan Kuroko segera berlari ke tempat sampah terdekat untuk mengeluarkan sarapannya.

"Maaf, Kuroko-san..." [Name] terlihat menyesal dan khawatir, mengelus punggung Kuroko yang masih sedikit pucat. "Aku tidak tahu kamu tidak tahan dengan atraksi yang seperti itu—selanjutnya kamu yang memilih, oke?"

"T-Tidak perlu..." Kuroko mengusap mulutnya dan melihat [Name]. "Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku, [Surname]-san. Pilih saja atraksi yang kamu ingin naik."

"Tapi..."

"Mmph—!"

Dan sekali lagi sarapan yang awalnya tidak banyak keluar menuju ke tempat sampah.

[Name] menghela nafas. "Kalau begitu, ayo naik feris wheel saja..."

Kembali menunggu atrian selama beberapa menit, [Name] dan Kuroko menaiki salah satu gondola disana. Kuroko masih terlihat pucat, tapi laki-laki berambut biru muda itu tersenyum kecil ke arah [Name], berusaha meyakinkan perempuan berambut [hair color] itu kalau dia baik-baik saja.

"Lihat di luar, Kuroko-san! Pemandangannya benar-benar indah!" [Name] berkata dengan senang, menunjuk pemandangan di luar—matahari berada di bawah, dan langit mulai berubah menjadi jingga. Kuroko yang melihat ini mengeluarkan aura berkilauan, walaupun wajahnya masih tanpa ekspresi.

Dan kedua orang itu menikmati sisa hari mereka di taman bermain dengan melihat matahari yang terbenam, Kuroko tersenyum kecil dan melihat [Name] yang tersenyum senang dan menempelkan dahinya di kaca. Dan laki-laki berambut biru muda itu berpikir kalau dia ingin waktu terhenti sebentar saja, agar mereka berdua bisa bersama lebih lama lagi.

..

..

..

..

"[S-Surname]-san..."

"K-Kuroko-san!? Ada apa!?"

"A-Aku lupa kalau aku tidak tahan dengan ketinggian..."

"K-Kuroko-san—!"