- Toushiro POV -

"Eh, mengundurkan diri?" seru Urahara tidak percaya saat mendengar kalimat yang baru saja keluar dari sela-sela mulut ini.

"Iya, aku... mengundurkan diri dari pemerintahan..." ucapku pelan.

Urahara hanya diam, tak mengucapkan apapun. Hanya memandangku percaya dan tidak. Aku sudah memutuskannya. Aku yang manusia ini tak pantas menjadi Leird, terlibat dalam pemerintahan pun tidak.

Urahara menghela nafas pelan, dipandanginya lantai marmer yang kini ditapakinya. "Kau serius?" tanyanya dalam bisikkan pelan.

"Ya... setelah tahu semuanya..." kutatap wajah Urahara yang tertunduk. Seulas senyum terlihat di sana, senyuman yang kurasa adalah senyuman kebahagiaan karena aku tak perlu lagi menunjukkan diri di hadapannya.

"Shiro-chan, kau benar-benar masih hijau. Pengunduran dirimu..." Urahara menghentikan ucapannya. Diraihnya sebuah kotak kayu berwarna putih bersih. Kotak yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Ditolak!"

Aku terdiam. Ditolak? Kenapa, kenapa Urahara menolak keputusanku untuk mengundurkan diri? Kenapa...?

"Kemarilah," pintanya pelan. Aku mendekatinya dengan ragu-ragu. Seulas senyum terus bertengger di wajahnya, senyuman yang begitu... Hangat?

"Co--"

"Sshh!" Urahara meletakkan jemarinya tepat di bibirku. Seolah memintaku untuk diam dan tak mengucapkan apapun.

Kotak di tangan Urahara terbuka, di dalamnya terdapat sebuah kunci emas. Kunci yang terlihat tidak asing di mataku. Lagi-lagi...

"Pengunduran dirimu akan kuterima, tapi kau harus melakukan tugas yang kuberikan. Pikirkan baik-baik keputusanmu, tanyakan pada hatimu," Urahara mengembangkan sebuah senyuman yang tidak begitu asing di mataku. Senyuman yang selalu bersembunyi di balik kipasnya kini terlihat jelas, tak tersembunyi oleh apapun.

"Tu... gas?"

"Ya... temui Yamamoto-san, dia yang akan memberimu tugas ini," Urahara menghilangkan senyum di wajahnya. Diserahkannya kunci emas ke tanganku.

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian, lakukan, atau pengunduran dirimu kutolak. Dan kau akan menjadi Corard untuk seterusnya," ulas senyum kembali muncul. Aku mengangguk lemah, kali ini aku merasa tidak pantas. Tidak pantas untuk berada di dunia ini, Elfania. Apa sebaiknya aku pergi menuju Walaen Ciel? Karena aku... bukan apa-apa.

- Kisuke POV -

Toushiro menutup pelan pintu di hadapannya. Awan hitam terlihat jelas di wajahnya. Wajahnya yang tak pernah menunjukkan ekspresi apapun sebelumnya.

"Kelihatannya aku mengucapkan hal yang seharusnya tak kuucapkan," seru Renji dari atas.

Kutadahkan kepala, memandangi elf berambut merah yang tengah tergantung terbalik di langit-langit sana.

"Kurasa bagi Yoru itu adalah hal yang salah," jawabku pelan disertai cengiran yang dapat terlihat jelas. Hah... Yoruichi, mengapa kau mematahkan semua kipasku.

"Tapi... aku hanya mempercepat jalan cerita... mengapa..."

"Renji... kita memang ingin tahu akhir kisah ini secepatnya. Tapi bila akhirnya adalah awal dari kisah lain... tapi..." aku terdiam. Menggantung kalimat yang ingin kuutarakan.
Renji terlihat mengerti dengan apa yang ingin kukatakan.

Akhir cerita berada di tangannya. Keputusan yang dipilihnya adalah akhir dari semua. Saat melihat Toushiro aku merasa ada yang salah. Apakah ia akan memutuskan mengakhiri semua cerita?

Toushiro... semoga kau memilih yang terbaik...

- Ichimaru POV -

Kupandangi benar-benar wajah Hitsugaya-han yang ditutupi awan hitam. Aku tak mengerti dengan apa yang ia ucapkan barusan.

"Hitsugaya-han, barusan anda bilang apa?" tanyaku tak mengerti. Pemuda di hadapanku hanya menunjukkan senyuman lemah.

"Setelah tugas ini berakhir aku... akan pergi menuju Walaen Ciel... duniaku yang seharusnya," jawabnya lirih.

Jadi... kau sudah mengetahui kenyataan itu? Sudah kuduga reaksinya akan seperti ini. Ran-chan... kau akan melakukan apa di saat seperti ini?

"Anda sudah yakin?" hanya kata-kata itu yang keluar dari sela-sela mulutku. Hitsugaya-han mengangguk lemah, tak sekalipun iris berwarna hijau teh itu melirik ke arahku.
Kuhela nafas pelan, aku benar-benar tak tahu harus mengucapkan apa. Aku bangkit dari tempat tidurku, menggapai pakaian tugasku yang biasa kugunakan. Hitsugaya-han memandangku bingung.

"I--Ichimaru?"

"Kau bilang ini tugas terakhirmu di Elfania kan? Kurasa aku akan menemanimu..." ucapku pelan.

Aku tak tahu harus melakukan apa ataupun mengucapkan apa. Ran-chan, kurasa kau akan memarahiku bila aku melakukan hal ini. Tapi maaf, aku tak tahu harus mengucapkan apa. Aku bukan kau yang akan segera mengerti dengan apa yang harus dilakukan untuk menghibur Hitsugaya-han.

- Toushiro POV -

Kupandangi sosok Ichimaru yang menghilang di balik pintu. Aku benar-benar tak mengerti dengannya. Padahal ia tahu bahwa aku adalah manusia sedari awal. Tapi mengapa...?

Elf lain selalu memandangku sinis. Dulu aku tak mengerti, tapi kini aku mengerti. Aku tidak sama seperti mereka.

"Ayo, Hitsugaya-han," seru Ichimaru membuyarkan lamunanku. Aku mengangguk pelan, tak tahu harus berucap apapun pada Ichimaru.

Keheningan menyelimuti langkah kami. Sayup percakapan para elf merambat di dalam keheningan. Namun keheningan yang tercipta tetap tak pecah, terus ada dalam diam.

Aku tak mampu mengucapkan apapun, lidahku terasa kelu untuk bergerak dan mengeluarkan kata agar keheningan ini pecah. Pandangan dari para elf terasa begitu menusuk. Padahal dulu aku tak memperdulikannya sama sekali.

"Hitsugaya-han, anda tak perlu memperdulikan tatapan itu. Sebagian besar tertuju padamu," bisik Ichimaru tepat di telingaku. Senyum rubahnya sedikit mengembang, aku tak mengerti. Semua terasa begitu sulit dimengerti.


"Ah, selamat datang," sapa Yamamoto-san tepat setelah pintu geser di hadapanku terbuka.

Beberapa bufly dengan sayap hitam berterbangan di sekitarnya. Beliau berdiri di tengah taman yang ada di halaman rumah yang cukup luas. Ditengah taman terdapat sebuah kolam dengan beberapa Walphish (Mermaid/Merman). Tapi bukan yang sesungguhnya, melainkan hanya tiruan.

"Suatu kehormatan dapat bertemu anda," aku membungkuk sedalam yang kubisa. Berusaha agar Yamamoto-san tak dapat memandang wajahku.

"Sudahlah, tidak perlu terlalu formal," pinta Yamamoto-san.

Kuangkat kepalaku, memandang Yamamoto-san yang tengah tersenyum lembut di balik jenggot dan kumis putih panjangnya.

"Jadi... anda memberiku tugas apa?" tanyaku pelan. Ichimaru hanya diam di belakangku. Senyuman di wajahnya pudar, padahal senyuman itu selalu ada di sana sebelumnya.

"Urahara tak memberitahumu ya, yah... itu memang ciri khas pria itu," Yamamoto-san terkekeh kecil. "Jadi... apa ia memberimu sebuah kunci?"

"Iya, Corard memberiku kunci. Tapi beliau tak memberitahuku kunci apa."

"Begitu, kalau begitu pergilah ke Siance. Masuki ruangan terdalam yang ada di sana. Kau akan langsung mengerti maksud dari kunci itu," Yamamoto-san mengelus pelan kepalaku. Membuat rambut putihku menjadi semakin berantakkan dari sebelumnya.

"Kalau begitu aku pamit dulu," seruku sembari berharap usapan Yamamoto-san di kepalaku dapat berhenti.

"Ya... pergilah. Gin... temani aku sebentar," Ichimaru yang hendak membuka pintu di hadapannya terhenti.

"Baik..." pekik Ichimaru pelan.

"Aku tunggu di tempat biasa, Ichimaru..."

"Hm... maaf merepotkan..." kulangkahkan kaki meninggalkan Ichimaru. Keluar dari kediaman Yamamoto-san.

Kakiku membawaku menuju gerbang kota Elfania yang langsung menuju ke arah Siance.
Di gerbang seorang bufly berada di sana. Sayap berwarna peraknya seolah bersinar diterpa cahaya.

"Orihime..." sapaku kala menyadari siapa bufly itu. Orihime berbalik ke arahku, menampakkan sebuah senyum di wajah mungilnya.

"Leird Hitsugaya."

"Kau sedang apa di sini?"

"Bukan apa-apa, hanya menunggu anda," serunya pelan dan langsung mendarat di atas pundakku.

"Kau juga mengetahuinya?" tebakku saat kusadari Orihime tengah memainkan beberapa helai rambut putihku.

Orihime tak menjawab dan terus memilin sehelai demi helai rambutku.

"Anda benar-benar terlalu memikirkannya. Leird Hitsugaya adalah Leird Hitsugaya, tidak perduli apakah anda manusia atau bukan," bisik Orihime yang kontan membuat telingaku terasa geli. Mengingat gadis itu mengucapkannya tepat di telingaku.

"Apa Corard yang memintamu?" kulirik gadis itu dari ekor mataku. Sebuah gelengan kecil dibuatnya.

"Itu pesan dari seseorang, beliau memintaku untuk menyampaikannya saat anda sudah mengetahui kebenaran bahwa anda adalah manusia," dinaikkanya kedua sudut bibirnya. Membuat ulasan senyum yang terlihat begitu lembut.

"Siapa?"

"Seseorang, seseorang yang sudah tak ada di dunia ini," Orihime melayang pergi meninggalkanku di depan gerbang.

Sayap keperakannya terlihat begitu cemerlang dan berbinar kala tertimpa cahaya matahari.

Tidak perduli manusia atau bukan, aku adalah aku.

Seulas senyum mulai muncul di wajahku, mungkin kau benar. Siapapun yang meminta Orihime menyampaikan itu, terimakasih.

- Ichimaru POV -

Kupandangin Elf di hadapanku dari sela mata yang menyipit. Iris merah milikku terus berusaha mengintip dan memintaku membuka kelopak mata sepenuhnya.

"Gin... sudah hampir lima belas tahun kau menghindar dariku. Aku senang kau mau menemuiku," ucap elf yang terlihat menua seiring berjalannya waktu itu.

"Aku hanya ingin menemani Hitsugaya-han. Lagipula bukankah kau tak ingin melihat wajah pembunuh ini?" senyuman di wajahku tak ingin mengembang. Sudut bibirku hanya ingin naik kala aku berucap kata saja. Senyuman rubah yang sulit untuk tampak di hadapan Yama-jii.

"Hmph! Memangnya sejak kapan aku menyebutmu pembunuh?" Yama-jii menaikkan salah satu sudut bibirnya. Kelopak mataku serasa ingin terbuka sepenuhnya, sulit rasanya untuk mempertahankan agar tetap memincing.

"Gin terlalu banyak fikiran," celetuk seorang bufly yang kalau ingatanku tidak salah bernama Ririn.

"Ririn, diamlah. Gin, kau akan menemani Hitsugaya ke Siance?"

"Begitulah, aku merasa harus mengawasi anak itu," kusenderkan tubuhku pada sebuah pohon yang entah sejak kapan ditanam. Aku tak pernah menyadarinya dulu.

Suasana menjadi sunyi. Tak ada seorangpun yang berniat mengucap kata.

Para bufly berterbangan di atas permukaan air. Menebar serbuk yang selalu terjatuh kala mereka mengibaskap sayap berwarna hitam. Serbuk yang terlihat begitu indah kala menyentuh permukaan air kolam, membuatnya bagaikan pantulan cahaya pelangi.

Ingatanku mulai menyebar menuju saat di mana aku senang melihat permukaan air ini.

Tapi sekarang itu adalah kenangan yang membawa ingatan buruk akan ayahku... dan juga Ran-chan.

Mereka berdua pergi, tepat saat iris merahku menatap seluruhnya tanpa harus berusaha mengintip dari sela-sela. Aku masih ingat dengan mantra yang kugunakan saat itu.

Sebuah mantra yang membuat keduanya terbakar oleh api hitam yang bukan tipe-ku. Aku adalah gyenel type kapa (penyihir type air), tapi tidak kala mata merahku terbuka.

Kemarahan membawa fayra (api), unsur yang tak memiliki apapun untuk melindungi. Hanya dapat membakar sesuatu menjadi debu dan tak akan bisa mengembalikannya.

"Rangiku dulu sangat menyukai pantulan ini," bisik Yama-jii yang membuat senyumku semakin berkembang.

Samar di sisi Yama-jii aku menatap sosok Ran-chan yang tengah tersenyum lembut menatap serbuk yang terus berkumpul di atas permukaan kolam.

Heh...

Terkadang aku sering berkhayal akan dirinya. Aku merindukanmu... Ran-chan...


Ruise : Sangan dianjurkan untuk melakukan FLAME!!! Dalam pegerjaan chapter ini Rui sedikit (baca : bener-bener) nggak mood untuk nulis maupun ngapa-ngapapin, baca fic apapun juga Cuma buka langsung kabur T-T

Toushiro : Dasar kebanyakan pulsa…

Ruise : Key key, let read


Kurai

Alm. Ukitake : Itu DNA dariku… ekh!? Kok pake Alm.????

Ruise : Peran lo udah nggak ada kan?

Soi Fon : Trus ibunya Ggio siapa? Mengingat rambutnya hitam…

Ruise : Menurut lo pair Uki sapa yang paling popular?

Ggio : Oh…

Chian30ne

SoiGgio : Kita nggak!!!!

Ruise : (Ngirim death glare) forget-me-not… kaloan yang jadi uji coba nih.

SoiGgio : Kami suka… (Blushing)

Ruise : Yang versi English itu bias diaetikan bocoran dikit, Red Snow dan Black Snow, tebak siapa…

Black (Masih dirahasiakan dengan Red) : Sepertinya sudah pada tau…

Dina_hitsugaya

Yoruichi : Hum… menurut hipotesisku itu adalah orang yang sama. Yaitu kamu! Black Snow!

Black : Hum, kenapa nggak Pink Snow saja?

All : (Dasar maniak!)

Rukia : (Nangis di pojokan) Hisana-nee Byakuya-nii… tolonglan adik kalian yang manis ini!!!!

Hisana (Nggak jelas kapan) : A-author… apa peran Rukia sulit?

Flo : Heh, kalau boleh jujur, peran Rukia itu paling nyusahin, salah-salah ketabrak tembok dengan naskah ancur…

Ruise : Kudunya yang veteran gitu? (melirik Flo)

Flo : No way gw mau balik!!!!

Violet Murasaki

Ruise : Huaaaa… Violet-san, anda benar-benar mengerti (berlari kea rah Violet)

Byakuya : Kenapa nggak ke aku aja!?

archerrylime

SoiGgio : Membeku di tempat dengan pose yang tidak bagus!!!

Ruise : Hehe, pose kalian pelukan dengan Ggio ngelindungi Soi Fon

Soi Fon : (Nyiapin Suzumebachi) Setelah ni es meleleh awas aja

Ruise : Nggak papa kok telat review mah

Kisuke : Bukan benci, hanya saja… hal yang wajar kan kalau ada yang berbeda sendirir ia akan ditekan?

Ichimaru : Arigatou… setidaknya aku bukan pesuruh Black kali ini…

Black : Ichimaru!!! Pengkhianat! Kau menodai cinta kita berdua!

Ichimaru : Prasaan cinta gw buat Ran-chan deh. Lagian kan dah ada Momo buat lo!

Alm. Rangiku : Gin… (mata berbinar)

Ichimaru : Tapi sayang udah pake Alm.

Namie Amalia

Rukia : (Makin nangis kenceng)

Ruise : Haha, arigatou-ne, semoga tidak kecewa dengan ini

Ruki_ya

Ruise : Chapter depan akan dimulai!!!!

Ggio : Kata Yoruichi sih… factor DNA…

Soi Fon : Setidaknya tidak untuk ibunya

Toushiro : Akhirnya gw muncul, hum? Kalian siapa? (Nunjuk SoiGgio)

SoiGgio : (Mikir : anak durhaka)

Himeka-Hikari Kamisa

Rukia : Iya! Jangan HitsuRuki!

Toushiro : Eh? Udah pasti ya?

Rukia : (Death glare)

Ruise : Tunggu grimming? Grimjow?

kazuka-ichirunatsu23

SoiGgio : Gara-gara kita!?

Toushiro : Oh God! I'm with that Chappy lover!?

Ruise : Hehe, sebenernya pengen beda aja buat ortu ni anak

CursedCrystal

GinRan : Author!!! Napa bukan kita!?

Ruise : (Sweatdrop) kan udah jelas-jelas Ichimaru jadi temen Hitsugaya

Toushiro : (Ngarep UkiHana yang jadi ortunya)

Alm. Ukitake : Cucu gw kasian amat ya

Toushiro : Alm.?

Ruise : Iya! Akh!!! Mau yabf nggak pake eror kudu pake ver. Japan? T-T pengen liat ending Jaqli-kun… Cursed dapet tu ending g? Kayak gimana?

Momo : Kok jadi ngomongin game?

CherryCho79

Rukia : Banyakin HitsuHina!!!!!

Momo : HitsuRuki aja!!!!!!!!

All – para kandidat : (Pada nggak mau jadi pemeran utama cewek apa?)

Flo : Mengingat perannya…

Para kandidat : Nggak!!!!

Ruise : Sedikit pake harem kali ya…

ruki4062jo

All : Dia yang Tanya dia yang jawab?

Ruise : Wah,makasih dah bilang jenius…


HitsuRuki – 6 Suara

HitsuHina – 4 Suara

HitsuOC – 3 Suara


Bleach – Tite Kubo ; Hymmnos Language – Akira Tsuchiya

Mind to Flame?