Disclaimer: Not mine but this story is mine

Warning: OOC. Typo(s). miss-typo(s). AU. And many more.

SHINee – Nuna Neomu Yeppeo (Replay)

.

.

.

행복한독서

Haengboghan Dogseo! ^^

Selamat membaca! ^^

.

.

Chapter 7: Ide Gila Empat Namja

"Aku senang sekali bisa naik busway seperti dulu. Gomawo karena kau sudah meminjamkan maskermu ini untukku," ucap Sasuke saat mereka berdua sedang berjalan di trotoar jalan menuju gedung SM Entertainment.

"Kalau tidak aku pinjamkan yang ada aku dapat musibah karena harus berhadapan dengan fans-mu. Itu sangat menyebalkan," sahut Sakura datar.

"Aiiiisshh~ tidak bisakah kau berkata manis sekali saja saat menjawab perkataanku?" tanya Sasuke kesal. Sakura tidak menjawab dan tetap memandang lurus ke depan.

Tak tak tak tak…

High heels Sakura terketuk-ketuk dengan trotoar jalan. Sasuke berjalan di sampingnya, sesekali melirik Sakura yang hari ini manis sekali dengan memakai baju terusan sampai di atas lutut sedikit bermotif bunga-bunga.

"Umma~ huaaa… balonku! Aku mau balonku!" tangis seorang anak laki-laki sambil menunjuk-nunjuk sebuah balon merah yang tersangkut di ranting pohon. Sementara ibunya berusaha untuk menenangkan anaknya.

Sakura menghentikan langkahnya melihat anak kecil itu menangis. Sasuke yang menyadari Sakura berhenti berjalan, menghentikan langkahnya. Dilihatnya ke mana arah Sakura memandang, dan Sasuke melihat Sakura sedang memerhatikan sepasang ibu dan anak yang berada di bawah pohon.

"Ya! Ada apa?" tanya Sasuke. Sakura menoleh pada Sasuke untuk menatap wajah Sasuke, lalu dia berjalan menuju sepasang anak dan ibu tersebut. Sasuke yang tidak mengerti hanya bisa mengikuti Sakura.

"Konohamaru, jangan menangis lagi. Nanti umma belikan balon yang baru," rayu Sang Ibu pada anaknya.

"Huuuuaaa! Aku tidak mau! Aku mau balon itu soalnya ada gambar Naruto hyung!" jerit Konohamaru, Sasuke dan Sakura dapat mendengarnya dengan jelas.

Sakura menekuk lututnya sedikit untuk menyamakan tingginya dengan Konohamaru dan menopang tangannya di atas lutut. Dengan senyum lembut Sakura menatap Konohamaru yang menangis hingga membuat Konohamaru terdiam melihat wajah cantik Sakura.

"Apa balon itu sangat berarti untukmu?" tanya Sakura dengan senyum lembutnya.

Konohamaru mengangguk antusias. Sakura lalu melihat ke ranting pohon di mana balon merah bergambar wajah Naruto tersangkut di sana.

Sasuke melihat wajah Sakura yang terlihat berpikir untuk mengambil balon itu di atas sana, entah apa yang merasuki otaknya, ia juga ingin menolong bocah kecil ini meskipun yang ada di balon itu adalah gambar Naruto, bukanlah gambarnya.

"Akan kuambilkan. Jangan menangis lagi, ya?" kata Sasuke pada Konohamaru membuat Sakura menatapnya tidak percaya.

Sakura melihat Sasuke perlahan memanjat ke pohon tersebut. Kelihatannya Sasuke agak kesusahan dalam hal manjat-memanjat. Rambutnya yang berbentuk pantat ayam itu berkali-kali tersangkut di ranting-ranting pohon yang kecil.

Sasuke sudah berada dalam posisi di depan balon itu tapi, balon itu terletak di ujung ranting. Sasuke berusaha merentangkan tangannya untuk mengambil balon tersebut. Sementara orang-orang yang berada di bawah pohon itu makin bertambah untuk menonton Sasuke yang ada di atas pohon.

Sasuke berkali-kali mencoba menggapai balon itu namun tidak sampai-sampai, bahkan ketika ia mencoba mengulurkan tangannya lebih jauh, dia hampir terjatuh hingga orang-orang yang menontonnya menahan napas dan menyuruhnya hati-hati. Sakura memang melihat Sasuke tanpa ekspresi namun dalam hatinya ia merasa khawatir, matanya tidak bisa berbohong.

[Naruto] Noona neomu yeppeoseo
Namjadeuri gaman an dwo
Heundeulrineun geunyeoye mam
Sashil algo isseo

Kakak kau sangat cantik

Pria-pria tidak akan meninggalkanmu sendirian

Jujur aku tahu perasaanmu bergetar

.

.

.

"Kau harus berterimakasih padaku Naruto hyung, karena aku sudah memberikan pertolongan kepada fan-mu!" gumam Sasuke dan berusaha menjangkau balon tersebut. Akhirnya balon tersebut berhasil ditangkap oleh Sasuke.

Semua orang yang berada di bawah pohon bersorak dan bertepuk tangan mengagumi aksi pahlawan pagi hari Sasuke—mengambilkan sebuah balon untuk anak kecil. Sakura hanya tersenyum melihatnya.

Hap!

Sasuke sudah berada di bawah dan memberikan balon itu lagi pada Konohamaru. Mata Sakura terus mengikuti ke mana Sasuke bergerak.

"Kamsahamnida!" seru Ibu Konohamaru sambil berbungkuk. Sasuke hanya tersenyum menjawabnya, terlihat dari matanya yang menyipit.

"Lain kali jaga balonmu baik-baik, ya!" titah Sasuke pada Konohamaru sambil menepuk kepalanya.

Konohamaru mengangguk. "Kamsahamnida, hyung."

Sasuke merogoh tasnya dan mengambil sebuah permen lolipop yang ia beri stiker SHINee pada Konohamaru. "Ini untukmu," katanya.

Konohamaru menerima permen itu dan berucap terima kasih lagi pada Sasuke, lalu ia dibawa oleh ibunya pergi dari sana. Beberapa langkah menjauh dari Sasuke dan Sakura, Konohamaru berbalik dan melihat rambut pantat ayam Sasuke yang ditutupi topi sudah sangat berantakan.

"Rambutnya seperti rambut Sasuke hyung. Aku sekarang juga jadi fan Sasuke hyung!" batin Konohamaru bersemangat.

Sasuke merapikan rambutnya dan membetulkan letak kacamatanya. Sementara Sakura terus menatapnya sejak dia turun.

"Kenapa kau melihatku begitu?" tanya Sasuke. Sakura menggeleng.

"Aniyo. Ayo kita pergi!" Sakura berjalan lebih dulu disusul Sasuke.

[Sai] Geunyeoaegae sarangeun
Hansunganae neuggimil bbun
Mwora haedo naaegaen salmae everything
Untukmu aku tahu cinta ini adalah salah satu momen, satu perasaan

Tapi tidak peduli apa yang dikatakan, ini adalah segalanya bagi hidupku

.

.

.

Saat mereka melanjutkan perjalanan mereka, ada segerombol anak SMA yang berlarian di trotoar hingga menabrak Sakura dan Sakura terhuyung, akibatnya hak sepatu Sakura patah karena terjerembab di lubang. Melihat Sakura akan terjatuh, Sasuke segera menahan tubuh Sakura.

Sakura terdiam melihat wajah Sasuke yang begitu dekat, begitu pula Sasuke. Jarak ini mengingatkan mereka saat Sasuke merebut ciuman pertama Sakura.

[All] Ama geunyeoneun eorin naega budamseureoungabwa
[Sasori] Nal baraboneun nunbichi malhaejujanha
And I think I'm gonna hate it girl
Ggutchi daga oneungeol
[
Naruto]Gaseumi malhaejunda nugamworaedo

Mungkin kau khawatir tentang usiaku yang lebih muda

Tapi coba lihat mataku, apa itu dapat memberitahumu?

Dan aku pikir aku akan membenci gadis itu jika akhirnya datang

Hatimu akan memberitahumu, terlepas dari apa yang orang lain katakan

.

.

.

Sakura membuang mukanya tidak mau tenggelam dalam ketampanan Sasuke. Dan Sasuke jadi bingung sendiri karena jantungnya makin berdetak dengan kencang. Mencoba menepis rasa aneh yang mulai muncul, Sasuke membantu Sakura duduk di salah satu kursi yang ada di pinggir trotoar jalan dan duduk di sampingnya.

"Gwaenchanayo?" tanya Sasuke.

"Gwaenchana," jawab Sakura.

"Ya! Seharusnya disaat seperti ini kau mengucapkan terima kasih padaku," kata Sasuke.

Sakura menengokkan kepalanya dan menatap Sasuke dengan ekspresi datarnya. "Gomawo," katanya.

Sasuke ingin tertawa melihat ekspresi Sakura. "Ya! Apa itu caramu mengucapkan terima kasih?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk.

Sakura melepas sepatu high heels -nya yang patah tadi. Tidak mungkin ia melanjutkan perjalanan menggunakan sepatu yang patah sebelah seperti itu. Sakura berniat membuangnya ke tempat Sampah namun di tahan oleh Sasuke. Sakura mengernyitkan alisnya saat melihat Sasuke merebut sepatunya dan melepas sepatunya yang sebelah kiri.

"Tunggu sebentar di sini," kata Sasuke, lalu ia pergi entah ke mana.

Sakura terdiam di kursi dengan kaki telanjang. Beberapa orang yang berlalu-lalang di depannya melihat Sakura sambil sesekali terkikik. Sakura merutuki orang-orang itu dalam hati.

Tak lama kemudian Sasuke datang dengan membawa sebuah tas belanjaan di tangan kanannya sambil berlari. Dia berlutut di depan Sakura sambil membuka tas belanja berwarna cokelat tersebut dan memakaikan Sakura sebuah sepatu kets berwarna putih.

Sakura hanya mampu terdiam melihat apa yang Sasuke lakukan padanya. Bocah mesum nan menyebalkan ini memiliki sisi baik yang mampu membuat jantung Sakura berdetak tidak teratur.

"Selesai!" seru Sasuke saat sudah selesai memakaikan sepasang sepatu itu di kaki Sakura.

"Kenapa kau membelikanku sepatu ini?" tanya Sakura sambil menatap Sasuke yang berdiri di depannya.

"Karena tidak mungkin kau berjalan dengan sepatu yang rusak," sahut Sasuke.

"Lalu di mana sepatuku yang rusak itu?" tanya Sakura karena tidak melihat tanda-tanda akan sepatu high heels-nya yang patah.

"Ra-ha-si-a!" jawab Sasuke. "lagipula tidak sopan jika kau tidak mengucapkan terima kasih pada orang yang sudah menolongmu," lanjutnya.

Sakura berdiri dan menepuk-nepuk roknya, kemudian dia menatap Sasuke. "Gomawo," katanya masih dengan ekspresi datar.

"Chonmaneyo," jawab Sasuke dengan tersenyum. Mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka menuju gedung SM Entertainment yang memang sudah dekat sekali.

.

.

.

[All] Noona neomu yeppeo
([
Sasuke] geu geunyeoreul boneun naneun) Michyeo
([
Sasuke] ha hajiman ijaen jichyeo)
Replay Replay Replay
Chueogi nae mameul halgwieo
([
Sasuke] a apaseo ijaen mameul)Gochyeo
([
Sasuke] da dagaol ibyeorae nan)
Replay Replay Replay

Kakak kau sangat cantik sekali

Melihatmu aku jadi gila

Tapi sekarang aku lelah

Replay Replay Replay

Kenangan menggesek hatiku

Rasanya menyakitkan ketika perasaanku akan menentukan

Replay, Replay, Replay

Prok prok prok…

Sakura bertepuk tangan saat lagu yang berjudul Nunan Neomu Yeppeo (Replay) selesai dinyanyikan oleh SHINee dengan baik. Kelima anggota SHINee ini tersenyum melihat Sakura bertepuk tangan, karena jarang sekali bahkan ini pertama kalinya Sakura bertepuk tangan.

"Aku suka koreo kalian," puji Sakura. Kelima anggota SHINee mengeluarkan semburat merah tipis. Mungkin bisa dibilang inilah pertama kalinya Sakura memuji mereka.

"Berapa nilai kami?" tanya Naruto.

Sakura terdiam sebentar lalu menulis di sebuah kertas dan menempelkannya di papan pengumuman.

"C?" tanya Sasori tidak percaya.

Sakura memandang Sasori, tahu jika Sasori tidak bisa menerima hal itu. "Pitch control masih goyang, khususnya kau, Sasori." Sasori terdiam, dia memang merasa tadi suaranya sedikit goyang ketika di nada tinggi.

"Berapa nilaiku?" tanya Sasuke penuh harap karena semalam dia sudah berlatih lagu ini dengan Sakura sampai dia kecapaian.

Sakura menatap Sasuke dan terdiam sebentar. "…C," jawabnya.

"Yeaaaaaah!" Sasuke bersorak gembira dan berlari memeluk Sakura. Sakura tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, keempat anggota SHINee yang lain segera mengambil foto mereka.

.

.

.

Kertas-kertas berserakan di sebuah meja yang sisi-sisinya disekat oleh papan triplek. Jelas ini terlihat seperti meja yang ada di dalam sebuah kantor redaksi sebuah televisi. Dari balik sekat itu terlihat seseorang yang memakai cadar sedang berkutat dengan laptop-nya dan berbagai kertas yang berserakan di mejanya. Jarinya tidak berhenti menggerakkan kursor mencari informasi yang dia incar selama ini.

Matanya bergerak naik turun mencari link-link yang ada di internet. Ketika ia membuka sebuah link dan membaca artikelnya, matanya membulat dan seringai muncul di bibirnya yang tertutup oleh masker.

"Uang-uang akan berdatangan padaku. Khukhukhu…" gumamnya sambil tertawa menyeramkan.

.

.

.

Sakura berjalan bersama SHINee menuju lantai bawah. Sakura akan pergi ke kampusnya untuk memulai perkuliahannya. Ketika sampai di depan pintu utama, mereka melihat sebuah sedan hitam yang mereka kenali berhenti tapat di depan pintu tersebut.

Kakashi ke luar dari dalam mobil dan tersenyum ke arah mereka berenam. Dengan langkahnya yang tenang, ia menghampiri Sakura yang sedang memandangnya dengan heran.

"Kita berangkat ke kampus bersama, bagaimana?" ajak Kakashi. Sasuke memandangnya dalam diam namun hatinya terasa nyeri saat melihat Sakura mengangguk.

"Joah." Sakura menjawab dan berjalan menuju mobil Kakashi.

Kakashi segera membukakan pintu mobil untuk Sakura, lalu melambaikan tangannya pada SHINee. Kelima anggota SHINee juga melambaikan tangan mereka.

Sasuke terus mengikuti mobil Kakashi ke luar dari gedung SM dengan matanya. Perlahan tangannya ia tarik dengan lemas ke sisi tubuhnya.

"Hyungs, bagaimana caranya mendapatkan SIM?"

"Eh?"

.

.

.

Hari demi hari sudah Sakura lewati di apartemen kecilnya. Hidupnya yang serba berkecukupan sekarang hanya bergantung pada gajinya sebagai guru vokal SHINee, sementara orangtuanya hanya membiayai kuliah Sakura saja. Bukannya karena orang tua Sakura tidak ingin memberikan uang bulanan pada Sakura selama tinggal di apartemennya, tapi Sakura menolak jika kehidupannya yang ingin mandiri dicampurtangankan oleh orangtuanya.

Sakura tidak pernah mengeluh tinggal di apartemen yang hanya mempunyai satu ruang tamu sekaligus ruang TV, satu ruang makan sekaligus dapur, dua kamar tidur, dan satu kamar mandi. Sakura merasa tinggal di apartemen ini sudah lebih dari cukup. Maka dari itu, sekarang Sakura sedang membersihkan apartemennya dengan hati riang ditemani oleh lagu Lady Gaga-Just Dance.

Sakura mengepel dari sudut ruangan ke sudut ruangan lagi. Selesai mengepel, ia langsung menuju kamar mandi dan bersiap-siap menuju SM Entertainment.

Sakura sedang berjalan dengan poker face-nya di lobi apartemen. Sapaan satpam dan resepsionis hanya disahutinya dengan senyum kecil. Ketika ia berada di depan gerbang apartemen, ada sebuah mobil Volvo hitam berhenti tepat di depannya. Sakura menatap kaca mobil tersebut yang gelap.

Perlahan kaca Volvo itu turun menampilkan seorang laki-laki yang memakai kacamata cokelat kehitaman. Laki-laki itu tersenyum pada Sakura seraya melepas kacamatanya, sehingga menampilkan sepasang bola mata obisidian.

"Annyeong achim, Sakura-ya!" sapanya ramah.

"Annyeong," sahut Sakura masih bingung dengan orang yang ada di dalam mobil itu.

Orang yang ada di dalam mobil pun ke luar dan menghampiri Sakura. Ia membukakan pintu mobil di sebelah pengemudi, seperti pangeran yang mempersilakan Sang Putri naik ke kereta kuda. Sakura tetap berdiri diam di tempatnya, memandang orang yang memiliki rambut seperti pantat ayam ini dengan menautkan alisnya.

"Ya! Kebetulan aku lewat sini dan melihatmu baru ke luar dari apartemen, jadi aku menawarkan tumpangan padamu! Jangan berpikir yang macam-macam!" dengusnya.

Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki di depannya, Sakura pun masuk ke dalam Volvo itu. Sasuke segera menutup pintu mobil, dan memutari moncong mobil lalu masuk ke dalam Volvo, memakai sabuk pengaman dan menyalakan mesin mobilnya.

"Apa kau sudah punya SIM? Kau terlihat seperti belum cukup umur untuk mendapatkan SIM," tanya Sakura.

"Aish!" decih Sasuke. "aku sudah berumur delapan belas tahun tahu! Dan aku sudah punya SIM. Jangan menilaiku seperti anak kecil terus!" lanjutnya, lalu melajukan Volvo yang dipinjam dari Sai dengan lancar.

Sakura tidak mengindahkan omelan Sasuke di pagi hari ini. Dia membuka tasnya dan membaca buku kuliahnya. Sasuke melirik Sakura sekilas dan melihat Sakura membaca, wajah Sakura terlihat cantik sekali saat membaca. Lagi-lagi jantung Sasuke berdetak dengan cepat.

.

.

.

Cklek.

Pintu studio latihan vokal terbuka. Keempat namja yang ada di dalam studio segera menoleh ke arah pintu dan melihat Sakura dengan Sasuke masuk ke dalam ruangan bersama-sama.

Sakura segera menuju keyboard dan duduk di depannya. Sedangkan Sasuke segera menuju ke tempat hyungdeul-nya.

"Sasuke-ah, kau tidak membuat Volvo-ku lecet 'kan?" tanya Sai cemas.

"Aniyo. Tenang saja, hyung," sahut Sasuke.

"Ayo kita mulai latihannya!" seru Sakura. Kelima anggota SHINee pun segera menghampiri Sakura yang sedang duduk di depan keyboard.

.

.

.

Saat ini SHINee sedang istirahat. Sasuke sedang pergi ke toilet dan Sakura seperti biasa pergi ke ruang santai di dekat studio latihan.

Sai, Naruto, Gaara dan Sasori duduk membuat lingkaran. Mereka terlihat serius membahas sesuatu.

"Kalau Sasuke dan Sakura semakin dekat seperti ini, kemungkinan Sasuke akan menang dalam taruhan yang kita buat," kata Sasori.

"Geurae. Kita bisa jadi pelayan Sasuke selama sebulan jika dia menang," ucap Naruto.

"Tapi, kita harus bersaing secara sportif. Aku rasa Sasuke memang sudah selangkah lebih maju dari kita," kata Gaara.

"Dan aku rasa dia benar-benar jatuh cinta dengan Sakura. Pagi-pagi sekali dia membangunkanku untuk meminjam mobilku. Katanya dia ingin menjemput orang yang ia sukai," ujar Sai.

"Jeongmal?" tanya Sasori, Naruto dan Gaara bersamaan. Sai mengangguk.

"Aigo~ kalau sudah begini, aku tidak tega jika merebut Sakura dari Sasuke," ujar Naruto sambil duduk dengan lemas.

"Ya! Kau 'kan sudah punya pacar Si Hyuuga itu!" sengit Sasori. Naruto hanya terkekeh mendengarnya.

"Tapi… kurasa Sasuke akan kesulitan mendapatkan Sakura karena saingannya adalah Kakashi hyung yang kelihatannya juga menyukai Sakura," ucap Gaara.

"Bagaimanapun, kita harus membantu dongsaeng kita itu," kata Sai. Naruto, Gaara dan Sasori mengangguk.

"Aku punya rencana bagus!" kata Sasori.

"Mwo?" tanya Naruto. Sasori mengisyaratkan agar ketiga temannya ini mendekat padanya, dan dia membisikkan mereka sesuatu yang membuat mereka menyeringai lebar.

.

.

.

Sakura sedang merapikan tasnya untuk beranjak dari studio latihan, namun tangannya ditahan oleh Sasori agar Sakura berhenti berjalan. Sakura pun menghentikan langkahnya dan menatap Sasori dengan pandangan seolah bertanya, ada apa?

"Manajer Iruka ingin bicara denganmu di sini," kata Sasori.

"A… ne," jawab Sakura dan dia kembali duduk di kursi putar keyboard.

Sasori tersenyum lebar dan membalikkan badannya menghadap Sai, Naruto dan Gaara. Sasori memberi isyarat dengan mengangkat jempol di depan dadanya.

"Sasuke-ah, bisakah kau tunggu sebentar di sini? Sai dan aku mau menemui Presdir dulu," tanya Naruto pada Sasuke. Sasuke mengangguk.

Sasuke duduk di lantai ditemani Gaara dan Sasori, namun tidak lama kemudian Gaara pamit mau ke toilet. Tinggallah di dalam studio latihan itu Sasuke, Sasori dan Sakura. Sakura sedang membaca buku kuliahnya, sedangkan Sasuke sedang memainkan i-pad-nya.

AMIGO! Keunyeol boda naega michyeo, AMIGO! Iri sone an jabhyeo, AMIGO! Yonggi nae naneun PITCH UP!—

"Yoboseyoye! Aku segera ke sana," kata Sasori ketika menjawab panggilan di ponselnya. Sasori segera memutuskan panggilan di ponselnya dan memandang Sasuke yang masih asik bermain game.

"Sasuke-ah, aku pulang duluan ya, karena ada janji dengan designer Haku," ucap Sasori.

"Ye. Hati-hati, hyung!" pesan Sasuke.

"Ye!" sahut Sasori sambil berdiri dan berjalan menuju pintu studio yang tertutup. Sebelum Sasori membuka pintu, ia berpamitan pada Sakura. "Sakura-seonsaeng, aku pulang duluan, ya?"

Sakura menoleh pada Sasori dan mengangguk. Sasori membuka pintu studio dan menutupnya dengan rapat. Di depan studio sudah ada Naruto, Sai dan Gaara.

Rupanya yang menelpon tadi adalah Naruto karena ia masih memegang ponselnya. Sasori menyeringai pada mereka dan menunjukkan sebuah kunci, lalu dia mengunci pintu studio itu.

Sakura seperti mendengar suara pintu yang dikunci, maka dia memutuskan untuk bertanya pada Sasuke. "Kau mendengar sesuatu tidak?"

Sasuke yang sedang fokus bermain hanya menjawab seadanya. "Ani."

"Tch." Sakura membuang mukanya saat melihat Sasuke menjawab tanpa melihat Sakura.

Naruto, Sasori, Gaara dan Sai terkikik geli di depan studio. Mereka berlima ber-high five ria.

"Sebaiknya kita cepat pergi dari sini," kata Sasori.

"Lalu mereka berdua bagaimana?" tanya Sai.

"Memangnya kau ingin menunggui mereka? Tujuan kita 'kan memang ingin mengurung mereka berdua agar mereka berdua makin dekat," kata Sasori.

"A… ne," sahut Sai.

"Hehehe… ayo kita pulang," ucap Naruto. Mereka berempat pun pulang ke apartemen tanpa Sasuke.

.

.

.

Sakura kembali melihat jam tangannya. Sudah tiga puluh menit dia menunggu Manajer Iruka di studio, dan sebentar lagi saatnya makan siang, setelah itu Sakura harus ke kampus. Ia melirik Sasuke yang sekarang sedang memasukkan i-pad-nya ke dalam tasnya.

"Hyungedul lama sekali sih?" gumam Sasuke.

Sasuke berjalan menuju pintu studio dan ketika ia memutar kenop pintu ternyata pintu itu tidak bergeming sama sekali. Sasuke mencoba menariknya lebih keras namun pintu tersebut tidak terbuka juga.

Sakura mendengar suara keributan yang diciptakan oleh Sasuke. Ia segera menoleh ke arah Sasuke dengan penuh firasat buruk dalam hatinya.

Sasuke membalikkan badannya menghadap Sakura dan berkata, "Kita terkunci."

Sakura menghela napas berat. Berarti suara pintu yang dikunci tadi itu benar. Sakura memasukkan bukunya ke dalam tas dan berjalan menghampiri Sasuke. Ia mencoba membuka pintu namun tidak bisa.

"Cegiral!" rutuknya. Sakura menggigit bibir bawahnya. Sasuke menatapnya dengan alis terangkat sebelah. "kenapa melihatku seperti itu?"

"Aku bingung, kenapa ada gadis sepertimu di dunia ini, ya?"

"Maksudmu?"

"Biasanya kalau gadis normal tahu jika dia terkunci dengan seorang pria di suatu ruangan, dia akan berteriak-teriak meminta pertolongan sambil menggedor-gedor pintu. Setidaknya itu yang sering kulihat di film-film," kata Sasuke tanpa sadar kalau gadis yang mungkin berteriak itu akan dibunuh atau diperkosa oleh laki-laki yang Sasuke maksud dan itu berarti dia menganggap dirinya laki-laki itu. Ckckck…

Sakura mendengus karena secara tidak langsung Sasuke mengatakan jika dia bukan gadis normal. "Dengar. Untuk apa aku berteriak sementara kita berada di studio yang kedap suara? Itu namanya membuang-buang energi dan itu tindakan yang tidak efisien."

"Kau benar-benar gadis yang penuh perhitungan," ujar Sasuke. Entah itu pujian atau celaan untuk Sakura.

Sakura tidak menyahut. Dia mengeluarkan ponsel touchscreen-nya, bermaksud menelpon Manajer Iruka. Namun sayangnya nomor Manajer Iruka sedang tidak aktif. Sakura melihat Sasuke berjalan menuju keyboard dan duduk di kursi putarnya tanpa ada usaha untuk ke luar dari studio ini.

"Ya! Kenapa kau tidak melakukan apapun untuk ke luar dari sini?" tanya Sakura.

Sasuke menoleh pada Sakura. "HP-ku lowbat," sahutnya.

Sakura menghembuskan napas beratnya dan berjalan menuju Sasuke, lalu memberikan ponselnya pada Sasuke. Sasuke memandang Sakura seakan bertanya, untuk apa HP itu?

"Hubungi Sai, Sasori, Naruto atau Gaara!" perintah Sakura.

Sasuke mulai memainkan keyboard di depannya tanpa memedulikan ponsel yang diulurkan Sakura. "Aku tidak hafal nomor mereka," kata Sasuke. "lebih tepatnya aku lebih suka terkurung denganmu di sini," lanjut Sasuke dalam hati. Well, kelihatannya pemeran utama kita ini hafal nomor-nomor ponsel hyungdeul-nya.

Sakura menghela napas gusar. Dan dia mencari-cari nama seseorang di daftar contacts-nya. Dan begitu menemui nama Kakashi di sana, Sakura segera menekan tombol hijau untuk menelponnya.

"Kau menelpon siapa?" tanya Sasuke. Sakura tidak memedulikan pertanyaan Sasuke.

"Yoboseyo, Kakashi-oppa. Bisa—"

Sasuke segera merebut HP yang sedang Sakura gunakan untuk menelpon Kakashi dan mencabut baterainya.

"Ya! Apa yang kau lakukan, pabo?" bentak Sakura dan berusaha mengambil ponselnya dari Sasuke tapi, Sasuke memasukkan ponselnya ke dalam saku celana pendeknya sehingga Sakura tentu saja sulit mengambilnya.

"Dengar, aku tidak suka kau menghubungi Kakashi hyung apapun alasannya!" tegas Sasuke. Sakura terdiam melihat sorot mata Sasuke yang mendadak menjadi tajam.

"Lalu bagaimana caranya kita ke luar dari sini?" tanya Sakura yang mulai kesal.

"Nanti akan ada cleaning service yang membersihkan tempat ini, saat itu kita bisa ke luar dari sini," jawab Sasuke.

Sakura pun terdiam dan memilih duduk di lantai kayu. Sementara Sasuke memainkan keyboard dengan membawakan lagu Rivers Flows In You. Sakura mendengarkan permainan keyboard Sasuke. Ternyata Sasuke punya bakat memainkan alat musik yang satu itu. Perasaan Sakura sedikit tenang setidaknya.

.

.

.

Permainan keyboard Sasuke berhenti dan ia langsung menoleh ke arah Sakura yang sedang duduk di tepi ruangan sambil menekuk lututnya dan kepalanya ia taruh di atas lutut dengan menghadap ke samping. Pria berambut raven ini mendekati Sakura dan duduk bersila di sampingnya.

Mata onyx milik Sasuke melirik Sakura yang diam dengan posisinya seperti itu tanpa bicara apapun. Jujur saja, Sasuke ingin ngobrol banyak dengan Sakura tapi sepertinya mengharapkan Sakura bicara duluan seperti mengharapkan hujan uang dari langit.

Sasuke pun berinisiatif memecah keheningan di antara mereka. "Ya! Apa kau tidur?" tanya Sasuke sambil mencoba mendekati wajah Sakura.

Sakura memang menutup matanya tapi ia tidak akan bisa tertidur dalam posisi tidak nyaman seperti itu. Hembusan napas Sasuke terasa hangat di wajah Sakura dan tanpa membuka mata pun Sakura bisa tahu jika wajah Sasuke berada dalam jarak yang berbahaya.

"Bisa kau menjauh?" tanya Sakura dengan nada tegas.

Sasuke menarik kepalanya karena tidak mau mengambil resiko jika ada setan lewat dan membuatnya melakukan hal yang lebih pada Sakura. "Kau galak sekali sih?" ucapnya.

Sakura tidak menggubrisnya dan membalikkan arah wajahnya, sehingga Sasuke hanya bisa melihat rambutnya. Sasuke menghela napas kesal. Susah sekali mendekati Sakura ya, Sasuke?

"Sakura-ya, bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan nilai A+ darimu?" tanya Sasuke mencoba mengajak Sakura berbincang.

Dengan masih menutup matanya, Sakura menjawab dengan ogah-ogahan. "Cukup buat aku terkesima saat meihatmu menyanyi."

Sasuke masih memandang kepala merah jambu Sakura. "Apa aku bisa dapat nilai A+ darimu?" tanyanya penuh harap.

Sakura membuka matanya dan memandang pintu yang terkunci. "Tidak," jawabnya dengan dingin.

Urat-urat emosi muncul di dahi Sasuke. Gampang sekali Sakura mengatakan hal itu. Seharusnya 'kan Sakura memberi semangat pada Sasuke agar Sasuke bisa lebih maju.

"Ya! Guru macam apa kau mengatakan hal yang bisa membuat muridmu down?" cibir Sasuke sambil membuang mukanya memandang lurus ke arah keyboard.

Saat melihat keyboard yang menganggur itu, Sasuke mempunyai sebuah ide di kepalanya. Cowok yang suka dengan tomat ini langsung menyeringai.

Sasuke segera berdiri dan menatap tubuh Sakura yang masih duduk. Cowok tampan ini segera menarik tangan kanan Sakura yang dilipat di depan lututnya membuat si pemilik mendongakkan kepalanya dengan kesal menatap Sasuke.

"Ya! Bisakah kau tidak mengganggu sebentar saja?" sungut Sakura.

Sasuke menggelengkan kepalanya. "Aniya. Sekarang tolong ajari aku teknik vokal yang lebih tinggi lagi!" ujarnya, lalu Sasuke menarik tangan Sakura hingga Sakura mau tidak mau terbangun dari duduknya.

"Ya! Beginikah caramu meminta tolong pada seseorang?" Sakura mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang ditarik Sasuke.

Sasuke menghentikan langkahnya tanpa melepas tangan Sakura, sementara Sakura berusaha melepaskan tangannya. Sakura yang mempunyai tenaga monster entah kenapa sekarang sedang dalam keadaan lemah.

"Kau lebih suka aku meminta tolong seperti ini atau…" Sasuke menundukkan kepalanya dan memandang tepat di depan wajah Sakura hingga hidung mereka bersentuhan, "…aku harus menciummu dulu?"

Mata Sakura membulat dan pipinya memerah hebat. Tidak dapat berkata apa-apa lagi, Sakura memalingkan wajahnya ke arah lain sehingga hidungnya tidak lagi bersentuhan dengan Sasuke. Tangannya juga tidak memberontak lagi dan itu membuat Sasuke tersenyum puas.

.

.

.

Sakura terus memegang perutnya saat ia memerhatikan Sasuke yang sedang menari diiringi lagu yang berjudul Hello. Gadis ini tidak bisa fokus memandang Sasuke yang sedang menari dan bernyanyi. Pandangannya sudah mulai mengabur dan badannya lemas.

Sakura makin meremas perutnya yang terasa sangat sakit sekali. Dengan sekuat tenaga ia menahan suaranya agar tidak terdengar merintih kesakitan di depan Sasuke. Sakura menggigit bibir bawahnya.

Seberapa besar pun usaha Sakura untuk menutupi rasa Sakitnya dan bersikap seolah tidak tejadi apa-apa padanya, Sasuke bisa melihat Sakura yang sedang menunduk sambil memegang perutnya dari cermin besar di depannya. Cowok ini menautkan alisnya saat melihat Sakura yang bersikap tidak biasanya. Ia melihat Sakura mencoba berpegangan pada tembok di belakangnya.

Melihat keadaan Sakura yang mencurigakan, Sasuke tidak dapat fokus latihan. Dan saat Sakura ambruk, Sasuke segera membuang mikrofonnya sembarangan dan berlari menuju Sakura.

"Ya! Kau tidak apa-apa?" tanya Sasuke khawatir sambil merangkul bahu Sakura.

Sakura tidak menjawab apapun selain rintihan kesakitan. Sasuke panik dan segera menyenderkan Sakura di tembok, lalu ia menggedor-gedor pintu. "Siapa pun yang di luar tolong bukakan pintu ini!" teriaknya berulang kali, namun tidak ada yang membukakan pintunya.

Sasuke melihat Sakura dengan keadaan yang sudah pucat sekali, maka Sasuke mendekati Sakura dan mengelap keringat yang muncul di wajah Sakura. "Bertahanlah, Saku…" ucapnya.

Sasuke teringat dengan ponsel Sakura, ia menghidupkan kembali ponsel tersebut dan menelpon Manajer Iruka. Untunglah nomor Iruka sudah dapat dihubungi.

"Ajeossi! Tolong ke studio latihan sekarang! Aku terkunci di sini dengan Sakura dan sekarang keadaan Sakura tidak sehat! Cepatlah datang ke sini!" ujar Sasuke dengan cemas ketika panggilannya diangkat oleh Iruka. Segera Sasuke memasukkan kembali ponsel Sakura ke dalam saku celananya dan dia terfokus memandang wajah Sakura.

"Bertahanlah… aku akan membawamu ke Rumah Sakit," gumamnya sambil menggenggam tangan Sakura yang tidak meremas perutnya.

Cklek!

Pintu studio akhirnya terbuka, Sasuke segera menggendong Sakura. Kesadaran Sakura berada di ambang batas, tapi dia sekilas melihat raut wajah panik Sasuke saat menggendongnya dan setelah itu dia benar-benar pingsan.

Kakuzu yang kebetulan baru sampai di gedung SM Entertainment melihat keramaian di dalam gedung tersebut. Karena penasaran dia pun mendekat dan melihat Sasuke sedang menggendong Sakura—ala bridal style—masuk ke dalam mobilnya.

Tidak mau menyia-nyiakan momen yang berarti bagi karirnya ini, Kakuzu langsung mengabadikan kejadian itu berkali-kali di kameranya dan berusaha mendekat untuk menggali informasi saat mobil yang dikendarai Sasuke sudah menjauh dari sana. Kakuzu juga melihat Iruka mengendarai mobilnya dan mengikuti mobil Sasuke.

"Apa itu Sasuke dan Sakura?" tanya Kakuzu pada seorang cleaning service yang tadi membantu Iruka membuka pintu studio.

"Iya, Sakura-ssi jatuh pingsan saat terkunci di studio latihan bersama Sasuke-ah," jawabnya. "aku permisi dulu," pamit cleaning service ini masuk ke dalam gedung SM.

Kakuzu menyeringai di balik cadarnya. "Menarik."

.

.

.

Tik tok tik tok tik tok…

Suara jam di dinding kamar VVIP Rumah Sakit Seoul itu terus berdetak menemani sesosok laki-laki yang sejak tadi terus memandang gadis yang terbaring di atas ranjang dengan mata sendu.

Perlahan tangannya terulur menangkap dan menghangatkan tangan gadis berambut soft pink itu dengan lembut. Ia tatap wajah gadis yang sedang tertidur dengan damainya yang sudah tidak terlalu pucat seperti di studio latihan tadi. Ia menghela napas lega karena berhasil membawa gadis yang sering berlari di pikirannya ini ke Rumah Sakit tepat waktu.

Reflek tangannya menggapai merapikan poni merah muda yang menutupi kening gadis ini. Ia usap kening lalu turun ke hidung dan terakhir ke bibirnya. Tangan kanannya terus mengusap pipi Sakura dan menundukkan wajahnya hingga bibirnya mencium kening Sakura.

"Cepatlah sembuh," gumamnya.

Tanpa Sasuke sadari, keempat hyung-nya memerhatikan dia dan Sakura di sela-sela pintu. Sasori dan Sai bahkan sudah mengabadikan adegan romantis tadi ke dalam kamera dan handy cam mereka. Mereka berempat tersenyum karena dongsaeng mereka sudah beranjak dewasa dan bisa merasakan cinta.

.

.

.

Wuuuuussshh~

Angin pagi menyapu gorden di jendela kamar VVIP Sakura hingga menggelitik wajah damai Sakura yang sedang tidur. Merasakan angin sejuk yang menyentuh wajahnya, Sakura membuka matanya perlahan.

Pertama kali yang ia lihat adalah langit-langit Rumah Sakit yang berwarna putih pucat. Sakura mengerjapkan matanya dan mengedarkan pandangannya ke arah lain. Ia melihat Sasuke yang tertidur di tepi ranjangnya. Tiba-tiba tangannya merasa hangat, rupanya Sasuke menggenggam tangannya.

Dengan hati-hati Sakura menarik tangannya yang di genggam Sasuke. Dia memandang wajah Sasuke yang tertidur. Tampan sekali Sasuke, pikirnya.

Tanpa sadar tangan Sakura terulur dan mengusap kepala Sasuke dengan lembut sambil bergumam, "Gomawo." Lalu ia tersenyum lembut.

"Aku iri sekali dengan Sasuke…" gumam Naruto sambil menggigit sapu tangannya.

Splash! Splash!

Sasori mengambil beberapa gambar saat Sakura mengusap kepala Sasuke sementara di sampingnya, Gaara merekam kejadian itu lewat handy cam-nya.

"Mereka berdua memang pasangan yang cocok," gumam Sasori diikuti anggukan Gaara.

Entah merasakan kepalanya diusap atau apa, Sasuke perlahan membuka matanya membuat Sakura dengan cepat menarik tangannya dan seolah tidak terjadi apa-apa. Sasuke yang melihat Sakura sudah bangun segera menatap lurus ke matanya, terlihat jelas kecemasan di balik onyx yang kelam itu.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sasuke.

Sakura berdehem kecil lalu menjawab, "Sudah baikan."

Sasuke menghela napas lega. "Ya! Kenapa tidak bilang padaku kalau kau punya sakit magh, huh?"

"Tch!" Sakura mendecih kesal. "kau yang merebut ponselku hingga kita tidak bisa ke luar dari studio, aku bolos kuliah dan magh-ku kambuh."

Sasuke terdiam menyadari kesalahannya. "Mian," ucapnya pelan. Sakura hanya meliriknya saja, dia merasa bersalah juga sudah menyudutkan Sasuke.

"Annyeong achim, Sakura-ya, Sasuke-ah!" sapa Naruto dengan ceria membuat suasana tidak enak di dalam ruangan itu mencair. Keduanya segera menoleh ke arah pintu dan melihat Naruto, Gaara dan Sasori masuk ke dalam kamar.

"Annyeong, hyung. Kalian dari mana?" tanya Sasuke.

Gaara segera mengangkat sebuah bungkusan di tangannya. "Habis membeli sarapan," jawabnya.

"Bagaimana keadaanmu, Sakura-seonsaeng?" tanya Sasori yang sudah ada di samping ranjang Sakura.

Sakura melirik Sasori tajam. Dia sebenarnya sudah curiga dengan Sasori karena sejak Sasori ke luar dari studio latihan, tiba-tiba Sakura mendengar suara pintu dikunci.

"Tidak pernah sebaik ini," sahut Sakura dengan nada dingin dan tatapan dingin. Sasori menelan ludahnya dan tersenyum canggung.

Bisa saja sekarang Sakura memberikan statement-statement bahwa Sasori yang menyebabkannya sakit seperti ini. Tapi dia juga tidak bodoh karena dia tidak mempunyai bukti apapun untuk menuduh Sasori, jadi Sakura lebih memilih diam dan membiarkan masalah ini larut begitu saja.

Pintu kamar rawat Sakura kembali terbuka, muncullah Sai dan juga Iruka. Mereka berdua lantas mendekat ke tempat Sakura yang terbaring.

"Sakura-ssi, bagaimana keadaanmu? Aku sangat menyesal dengan kejadian kemarin. Cwe song hamnida!" Iruka membungkukkan badannya.

"Gwaenchana. Anggap saja kemarin hanya kecelakaan," kata Sakura, Iruka tersenyum lega. "anyway, apa yang ingin kau bicarakan kemarin denganku di studio latihan?" lanjut Sakura. Sasori, Naruto, Gaara dan Sai menahan napas mereka mendengar pertanyaan Sakura yang menyudutkan mereka.

Iruka memasang wajah bingungnya. "Kemarin aku—"

"—Manajer Iruka, bukankah seharusnya kau mengurusi keperluan kami untuk ke Busan?" sela Naruto sambil merangkul Iruka untuk ke luar dari kamar rawat Sakura. Sakura menaikkan sebelah alisnya.

"Ha ha ha… iya benar, keberangkatan kita 'kan sebentar lagi," tambah Sasori dengan tawa hambarnya sambil mengikuti Naruto ke luar dari kamar Sakura.

"Busan?" tanya Sasuke bingung.

"Ye, Sasuke-ah. Kita ada pemotretan di sana dan setelah itu kita ada show di sana. Satu jam lagi kita berangkat," jelas Gaara.

Sasuke menautkan alisnya. "Tapi Sakura bagaimana? Tidak ada yang menjaganya."

Sakura mendengus mendengar pernyataan Sasuke hingga membuat Sasuke menolehkan kepalanya ke Sakura. Sakura bergerak untuk duduk di ranjangnya sambil menyender. Sasuke yang mau membantu di halangi dengan telapak tangan Sakura yang berarti dia tidak butuh bantuan.

"Kau tidak perlu mencemaskanku. Ini adalah langkah awal kalian untuk kembali maju," kata Sakura.

Sasuke terdiam sebentar dan akhirnya menyahut, "Tapi—"

"—Sudahlah Sasuke, di Rumah Sakit ini 'kan banyak perawat dan dokter jadi sudah pasti mereka akan menjaga Sakura," tutur Sai sambil menepuk bahu Sasuke.

"Cepatlah kau mandi sana! Kami sudah membawakanmu baju ganti," ujar Gaara sambil mendorong Sasuke ke dalam kamar mandi yang ada di kamar rawat Sakura. Sasuke akhirnya pasrah dan menuruti perintah hyungdeul-nya.

.

.

.

Di Busan…

Selesai pemotretan untuk sebuah majalah lokal di sana, SHINee segera beranjak ke tempat job mereka selanjutnya menggunakan van mereka. Di dalam van, Sasuke tampak gelisah sekali meskipun wajahnya tetap terlihat tenang.

Karena sudah tidak tahan lagi dengan perasaan cemas di dalam hatinya, Sasuke menepuk bahu Iruka yang duduk di samping supir. Sasuke sendiri duduk di belakang Iruka.

Iruka segera menoleh ke belakang dan melihat Sasuke menepuk bahunya. "Ada apa Sasuke-ah?" tanyanya.

"Boleh aku minta nomor Sakura?" tanya Sasuke. Ucapan Sasuke ini menarik perhatian keempat hyung-nya yang tadi sedang asik mengobrol. Mereka berempat langsung terdiam.

"Mulon imnida," jawab Iruka dengan senyumnya. Iruka pun memberikan ponselnya ke Sasuke dan Sasuke segera mencatat nomor Sakura ke ponselnya dan menelpon Sakura via Video Call.

Lama menunggu akhirnya panggilannya di angkat juga oleh Sakura dan terpampanglah wajah datar Sakura di ponsel touchscreen Sasuke. Sasuke senang bukan main saat melihat Sakura baik-baik saja. Sedangkan Sakura kelihatan malas sekali saat mengetahui yang menelponnya adalah Sasuke. Kelihatan sekali dari dia menghela napas sampai menerbangkan sebagian poninya.

Belum ada yang bicara di antara keduanya. Sasuke sendiri masih betah memandang wajah Sakura di ponselnya. Sementara Sakura sudah mulai bosan karena Sasuke hanya diam tanpa berkata apa-apa. Keempat hyung Sasuke memandang bingung Sasuke yang terus memandang layar ponselnya.

"Ya! Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku akan menutupnya," gumam Sakura dengan datar.

Kakashi yang baru saja ke luar dari kamar mandi melihat Sakura berbicara di ponselnya. Karena penasaran dia pun mendekat dan duduk di tepi ranjangnya.

"Aiiiiisssh!" Sasuke mendengus karena kejutekan Sakura tidak hilang juga walaupun ia sakit. "berterimakasihlah padaku karena sudah membawamu ke Rumah Sakit!" ujar Sasuke. Keempat hyung-nya memasang telinga mendengarkan Sasuke mendumel.

Mendengar suara laki-laki dari ponsel Sakura, Kakashi memutuskan untuk melihatnya.

"Siapa itu, Sakura-ya?" tanya Kakashi sambil duduk di samping Sakura dan melihat ke ponsel Sakura.

Melihat wajah Kakashi juga ada di ponselnya, Sasuke menautkan alisnya tidak suka. "Kakashi hyung!" keempat anggota SHINee yang lain mendengar Sasuke menyebut nama rival-nya langsung mendekat ke Sasuke dan melihat ke layar ponselnya.

"Yo, SHINee. Annyeong!" sapa Kakashi sambil mengangkat telapak tangannya.

"Annyeong, hyung," sahut mereka dengan senyum paksa sambil melirik Sasuke yang terdiam dengan raut wajah kesal.

"A… ne, gomawo Sasuke-ah karena kau sudah membawa Sakura ke Rumah Sakit tepat waktu," ucap Kakashi sambil mengambil alih memegang ponsel Sakura dan mewakili Sakura mengucapkan terima kasih.

"Ha ha ha… iya, untungnya Sasuke cepat tanggap, hyung," jawab Naruto yang ada di belakang Sasuke karena Sasuke tetap diam tidak menjawab Kakashi.

"Kenapa hyung bisa ada di situ?" tanya Sasuke dengan datar. Sakura bisa melihat tatapan Sasuke tajam seperti saat dia ingin menelpon Kakashi kemarin.

"A… itu karena Sakura menelponku untuk menitip absen jadi sekalian saja setelah pulang kuliah aku menjenguknya," sahut Kakashi.

Sasuke melirik Sakura dengan tajam, sedangkan Sakura tidak mengatakan apa-apa. Merasa keadaan sudah tidak nyaman, Sakura mengambil alih ponselnya lagi dari tangan Kakashi.

"Tenang saja, SHINee. Guru kalian akan kurawat baik-baik seperti aku merawat istriku sendiri," kata Kakashi dengan sedikit bergurau. Namun efeknya cukup hebat bagi Sasuke.

Sasuke menggeletukkan giginya karena kesal. Sementara Sai yang duduk di sebelahnya hanya bisa melirik Sasuke dengan takut-takut. Gaara, Sasori dan Naruto yang ada di jok paling belakang menahan napas mereka.

"Aku mau istirahat, annyeong!" Sakura segera mematikan ponselnya.

Sasuke masih terdiam melihat ponselnya yang tidak lagi menampilkan wajah Sakura. Dengan perlahan Sasuke menurunkan lagi tangannya dan memandang ke luar jendela dalam diam. Itu membuat keempat hyung-nya merasa khawatir.

.

.

.

Esoknya Sakura sudah merasa baikan dan pihak Rumah Sakit juga sudah memperbolehkannya untuk pulang. Sakura segera mengganti pakaiannya dengan pakaiannya kemarin. Setelah itu dia pergi dari kamar yang berbau obat itu menuju bagian administrasi untuk membayar pengobatan dan perawatannya.

Seorang petugas administrasi sedang mencari data Sakura di depan komputer yang ada di depannya. Sakura menunggu dengan sabar di depan loket administrasi tersebut.

Setelah mendapatkan informasi pembayaran rawat inap serta obat dan semacamnya yang menyangkut nama Sakura di kamar rawat VVIP nomor dua, petugas administrasi inipun mendongakkan kepalanya dan memandang Sakura.

"Sakura-ssi, administrasimu sudah dilunasi kemarin," kata petugas itu.

"Sinchayo?" tanya Sakura sedikit terkejut dan penasaran siapa yang membayar administrasi perawatannya.

Petugas ini mengangguk dan sambil melihat komputer dia menjawab, "Yang membayar administrasi adalah atas nama Uchiha Sasuke untuk Sakura," sahutnya membuat Sakura tercengang. Ah~ lagi-lagi bocah yadong itu membuat Sakura terkejut.

Terdiam beberapa detik, Sakura akhirnya menganggukkan kepalanya kepada petugas itu. "A… geurae. Kamsahamnida," ujarnya dibuat tidak sedatar mungkin. Ia ingat kata-kata Sasuke jika harus selalu berterimakasih dengan cara sopan.

Petugas itupun membalasnya dengan tersenyum dan mengangguk. "Jaga kesehatanmu, Sakura-ssi." Sakura mengangguk dan pergi dari Rumah Sakit terbesar di Seoul tersebut.

Sepanjang perjalanan pulangnya Sakura berpikir pasti sangat mahal sekali membayar biaya Rumah Sakit tersebut. Selain itu Sasuke sudah repot-repot menolongnya hingga menghawatirkannya. Ia merasa mempunyai hutang budi dengan Sasuke.

Saat melintasi kawasan yang banyak sekali toko-toko distro, Sakura menyuruh supir taksi yang membawanya pulang untuk berhenti. Sakura pun turun dari taksi dan berjalan menuju sebuah distro yang menurutnya unik dan lucu. Karena interior distro itu penuh dengan warna-warni yang menambah kesan ceria dan semangat.

Sakura langsung menuju gantungan-gantungan baju khusus cowok di dalam distro itu. Ia mencari dan terus mencari sesuatu yang ingin dibelinya. Setelah menemukan sebuah hoddie jacket berwarna biru tua dengan campuran hitam, Sakura memutuskan untuk membeli itu.

"Sepertinya ini cocok untuk bocah yadong itu."

.

.

.

To be continue…

Terjemahan:

A… ne: Oh… ya.

Annyeong achim: selamat pagi

Cegiral!: Sial!

a/n: Annyeong haseyo! Ini dia chapter 7-nya. Saya sudah berusaha meng-update secepat yang saya bisa. Semoga gak mengecewakan ^^ jangan bosen ya bacanya karena masih panjang banget ceritanya. Konflik sedikit demi sedikit udah mulai muncul. Saya gak mau buru-buru karena jujur aja saya sangat menikmati ketika menulis fict saya yang ini. ^^ jadi maaf kalau cerita setiap chapter panjang banget. Hehehe…

Khusus untuk UchihaKeyRaSHINee20 yang request banyakin hangul-nya saya tampung dulu sarannya, insya Allah akan saya banyakin sesuai dengan dialog. :)

Kamsa hamnida tiffany90, ame chocho Shawol, Haza ShiRaifu, Hanny Here, Rizuka Hanayuuki, 4ntk4-ch4n, Yue Heartphilia, UchihaKeyRaSHINee20, Onime no Uchiha Hanabi-hime, Putri Luna, fani hatachi, Park Ra Ra, uzumaki daichi. Jeongmal kamsa hamnida review kalian bikin saya semangat dan senyum-senyum, apalagi sampai ada yang tadinya gak begitu tertarik dengan SHINee eh jadi suka. Nan jeongmal haengbog haeyo (sungguh saya sangat bahagia) ^^ mianhae gak bisa balas satu-satu karna saya belum sempat. Jangan kapok review ya karena aku menunggu review kalian yang bisa memberiku semangat. ^^

Review again? Gomapseumnida! ^O^