Chapter Tujuh
.
"Aku ingin begini… aku ingin begituuu… Ini… Ini… Itu… Aduh… banyak sekaliiii…. Huuaahhh doraemonnn…"gumam Eren yang mabuk.
"Ereeennn… aduh… berat…" keluh Armin.
.
Armin kewalahan membopong Eren yang mabuk berat… Sementara Eren malah seenaknya saja 'bergelantungan' pada tubuh Armin…
.
"Huuuueeee…. Dooraaaeemmooonn…." seru Eren.
.
"Eren… Tu… Aduh… Ereeennn… Whooaaa-
.
Gedubrak, jatuhlah mereka berdua, mengahantam lantai seenaknya.
.
"Hmm… Do… HUWAAAA… Annie. Leon… Heart!"
.
Armin kaget…
.
"Eren…"
.
"Aaannn… saaa… Mikasa… Annie…"
.
And pass! Eren selesai! Dia tertidur gitu aja, memeluk Armin yang disangkanya bantal guling…
.
Sementara temannya yang bermata biru laut itu menatap Eren dengan seribu tanya… Armin jadi bingung lagi antara kepercayaannya pada Eren atau… Tapi, kemudian Armin mendesah, menatap langit-langit kamarnya dengan mata yang lelah… Dia juga setengah mabuk karena bir… Dan akhirnya dia putuskan untuk kembali kepada keputusan akhirnya…
.
"Aku percaya pada mu Eren… Sahabat selamanya…"
.
Dan mereka pun tertidur samping-sampingan ala Spongebob dan Patrick…
.
Di lain tempat…
Annie mencoba menenangkan dirinya sendiri, namun batinnya masih terguncang, air mata mulai menetes satu persatu bergantian dari mata biru langitnya… Dia lihat lagi buku tersebut yang kini sudah mencapai halaman kedua sebelum terakhir… Tersisa dua halaman terakhir belum terisi dengan tinta yang terkadang biru terkadang hitam…
.
Esoknya, Armin terbangun karena alarmnya… Disampingnya masih ada Eren yang masih tidur sepulas-pulasnya… Begitu ia melihat jam berapa…
.
"Eren… Eren… bangun… Kau ada kelas pagi hari ini kan…? Aku juga ada praktikum sebentar lagi… Bangun Eren…" Armin membangunkan Eren.
"Hmm… Armin… Tolong telepon Mikasa dong, bilang suruh absenin gua…"
"Eren… jangan terlalu sering meminta Mikasa mengisi absen untukmu… Nanti kau tertinggal pelajaran… Mikasa bilang sudah beberapa hari ini kau sering membolos setidaknya satu pelajaran sehari!"
"Sehari lagi saja Armin…" kata Eren malas.
"Tidak boleh… ayo bangun… Aku akan telepon Mikasa untuk menjemputmu…"
"Hhh… Lu nih, sama aja kayak Mikasa…" kata Eren menyerah dan bangun juga.
.
Armin tersenyum menanggapinya…
.
"Mandi saja duluan…" kata Armin.
"Hmm… Oh ya Armin…"
"Ya…?"
"Aku benar-benar minta maaf, tidak bisa membantu banyak untuk menemukan Annie…"
.
Armin tersenyum lagi, sambil merapikan lantai kamarnya yang berantakan karena Eren semalam…
.
"Jangan dipikirkan… Lagipula, itu bukan tugas kita, kita kan bukan detektif atau polisi. Aku, mengharapkan yang terbaik saja… Semoga mereka cepat menemukannya…"
.
Kali ini Eren yang tersenyum… Dia meremas bahu Armin menandakan simpati.
.
.
.
Annie terbangun, buku itu masih ada di pelukannya… Ia segera ke kamar mandi dan bersiap… Sambil berendam di air hangat, Annie menegaskan apa yang akan dilakukannya ketika si penculik datang.
.
.
.
Praktikum…
.
"Ah… sudahlah… Pasrah, akhiri saja…" desah Bertolt.
"Jangan menyerah dong Bertolt! Kau bisa melakukannya kok, aku sudah pernah menunjukkan caranya padamu kan? Tenang saja…" kata Armin menyemangati.
.
Bertolt melihat Armin agak bingung…
.
"Ujian praktikum nanti kau pasti lulus! Pasti…" kata Armin mengacungkan jempolnya ke Bertolt.
.
Si ganteng berkulit tan itu terkekeh seadanya.
.
"Terima kasih dukungannya Armin…"
"Tentu…" lalu Armin kembali menyibukkan dirinya dengan kegiatan praktikumnya.
.
Tiba-tiba Bertolt teringat sesuatu…
.
"Hei Armin… jadinya bagaimana kemarin dengan Eren…? Kau mendapatkan sesuatu…?"
"Ah… itu … - Armin tampak nge down - "Sudah kuputuskan untuk tidak curiga padanya. Aku percaya pada sahabatku, dia tidak mungkin melakukan hal semacam itu padaku…"
.
Bertolt tersenyum…
.
"Kau pria yang baik Armin…"
"Haha… kau juga Bertolt…"
.
Lalu mereka melanjutkan lagi praktikum mereka…
.
"Tidak juga…" kata Bertolt pelan.
.
Annie menunggu dan menunggu, buku coklat itu masih ditangannya… Entah sudah berapa lama dia menunggu, namun ketika teringat bahwa penantiannya tidak ada apa-apanya, tapi dia tetap merasa kesal bukan kepalang. Panas sampai ke otaknya! Ke sekujur tubuhnya…
.
Berjam-jam berikutnya…
.
Si penculik akhirnya muncul…
.
Beep Beep Beep… Suara password pintu, lalu pintu pun terbuka…
.
Annie sudah bersiap dengan buku itu di sakunya. Sudah mendidih seluruh pikirannya. Tinggal meletup saja!
.
"Annie… maaf… Aku sudah tidak tahu lagi karakter yang kau sukai… Jadi… Tada… Inilah aku… Hari ini aku akan melepaskanmu…-
.
Annie tertegun sesaat… Ternyata memang dia kan… Tidak salah lagi… Rona merah yang sama di wajah si penculik yang dilihatnya beberapa hari yang lalu… Bukan! Tapi, bertahun-tahun yang lalu… Dan tahun-tahun setelahnya…
Si penculik menggapai tangan Annie dan menuntunnya perlahan menuju pintu…
.
"Jadi dia menjadi karakter-karakter itu karena tau itu semua adalah karakter favoritku? Bodoh atau apa sih?! Menyebalkan saja!" kata Annie dalam hati.
.
"Maaf… Aku menahanmu disini terlalu lama… Aku… benar-benar minta maaf… Aku tidak mungkin melakukan ini, mengkhianati temanku sendiri… Mengkhianatimu…" katanya pelan sekali.
.
Masih menuntun Annie menuju pintu…
.
Annie sudah kesal sekesal-kesalnya! Panas sekali hatinya terasa! Didampratnya genggaman tangan si penculik!...
.
"Lalu?! Sekarang kau mau kabur lagi? Begitu? Hah?" tanya Annie kesal.
"Maafkan aku memang lancang, menculikmu seperti ini… Aku… seperti, tersesat…" si penculik mencoba menjelaskan.
"PENGECUT! KAU ITU PENGECUT!"
.
Si penculik melihat ke arah lain…
.
Annie sudah marah tak karuan, dilemparnya buku coklat di sakunya sekencang mungkin ke wajah si penculik!
.
"PENAKUT! PENGECUT! PAYAH!" Annie mengejek si penculik dengan penuh amarah.
.
Si penculik sempat kaget melihat buku tersebut, tapi kemudian dia terlihat galau lagi dan memungut buku tersebut.
.
"Haha… ketahuan ya… Pantas kau marah sampai seperti itu…" katanya lemah.
.
"Aku akan mengantarmu pulang…"
"AARRGGHHH!" Annie berteriak kesal.
.
PLAK!
Annie menampar si penculik sampai berbekas merah di pipinya.
.
Annie melihatnya dengan penuh murka. Sampai terasa sakit otot-otot wajahnya.
.
"Keluarkan saja aku dari sini… Aku bisa pulang sendiri!"
.
Si penculik membawanya keluar… Dia berkata sedikit mengenai arah yang harus Annie ambil dalam jalan pulang… Dan dia sendiri kembali ke persembunyiannya…
.
Setelah pulang dan disambut dengan drama, tangis dan nasihat… Annie memutuskan untuk tidur… Besok dia harus ke kampus. Ternyata dia sudah hilang selama seminggu lebih… Seharusnya dia tidak akan diijinkan mengikuti kelas lagi karena absennya terlalu banyak yang di lewati. Tapi karena kasusnya dia bukan membolos, jadi dia diizinkan untuk ikut lagi…
.
Dimulailah lagi hari-hari membosankan Annie… Dia masih syok… Seminggu setelahnya… Annie lagi-lagi ikut ke kelas Armin di jam kosongnya…
Mereka berdua jadi banyak diamnya… Annie memang pendiam dari awal, Arminnya yang banyak omong… Sekarang buku-buku fun facts yang mereka baca terasa tidak fun lagi.
.
Annie melirik ke arah kanannya terus kedekat jendela… Armin sibuk mendengarkan omongan dosen… Tau-tau saja Annie menyandarkan kepalanya ke bahu Armin… Melihat lantai dengan lesu… Mendengus pasrah…
Berhasil membuat perhatian Armin terganggu, Armin melirik Annie, lalu menggenggam tangan kekasihnya… Annie ikut-ikutan meremas tangan Armin… Perasaanku, terasa aneh… Pikir Annie
.
"Armin! Kalau kau tidak memperhatikan lebih baik keluar dari kelas…!" dosen Armin tiba-tiba menyadari si pinter gak merhatiin.
.
Armin kaget, segera ia lepaskan genggaman tangan Annie dan menggeser sedikit kursinya kedepan… Kembali serius memperhatikan dosen… Annie melipat tangannya terlihat kesal…
.
Setelah kelas bubar…
.
Annie dan Armin keluar, bersiap pulang… Kelas Armin memang selalu sampai sore…
.
Pulangnya mereka mampir ke kosan Armin, kebetulan… Peraturan kosannya tidak terlalu ketat. Ya bukan berarti mereka jadi meremehkan peraturan tersebut…
Seperti biasa mereka berbaring senderan punggung ke punggung sambil membaca buku funfacts lainnya.
.
"Armin… aku ingin bicara…"
.
Armin melirik ke arah Annie… Lalu duduk tegap… Annie merosot, kepalanya jatuh kepangkuan Armin.
.
"Sudah selesai mogok ngobrolnya…?" tanya Armin datar.
.
Annie jadi sedikit tersinggung.
.
"Kau mencariku atau tidak…?"
"Setiap saat…"
"Lalu…?"
"Aku sudah punya kecurigaan, namun kurasa itu tidak mungkin benar…"
"Apa kau mengatakan kecurigaanmu pada ayahku…"
"Kau tau ayahmu tidak menyukaiku Annie…"
"Jadi kalau ayahku tidak menyukaimu, itu menjadi halangan bagimu? Meskipun aku dalam bahaya…? Apa kau tidak curiga sesuatu yang sangat buruk akan terjadi padaku selama aku hilang. Aku hilang lebih dari seminggu!"
"Tentu saja aku takut setengah mati…"
"Lalu kenapa kau mengikuti ketakutanmu hanya karena ayahku tidak suka padamu?"
.
Armin mendengus kesal. Terasa sedikit muak.
.
"Kurasa kau sudah sering melihat ayahmu memperlakukanku seperti sampah! Kau pikir selama ini senyumku itu tidak berarti kesal?"
"Apa? Ahh!" Annie mendesah kesal.
.
Annie bangun dan menatap Armin kesal, Armin tidak gentar dan memberikan Annie ekspresi yang sama.
.
"Kau sama saja…" kata Annie.
"Sama saja apanya?" tanya Armin jengkel.
"Sudahlah… lupakan…" balas Annie tak peduli.
.
Armin mendesah, lalu malah memeluk Annie.
.
"Aku senang kau sudah kembali…" katanya.
"Hmm…"
"Haha, aku suka kalau kau menjawab seperti itu…"
.
Armin memang tau, kalau "hmm…" itu cara lain bagi Annie untuk bilang terima kasih… Masih berpelukan…
.
"Siapa?" tanya Annie.
"Apanya…?"
"Orang yang kau curigai…"
"Eren…"
"Hah?" Annie heran.
"Dia kan memang suka padamu dulu…"
"Begitu…"
"Benar atau tidak…?" tanya Armin penasaran.
"Tidak… bukan Eren…"
"Kenapa kau tidak melaporkannya?"
"Aku selamat, tidak ada yang terjadi… Dia hanya… Terdesak, itu saja…"
"Dia minta tebusan…?"
"Tidak… Dia hanya putus asa karena beberapa hal… Tapi aku tidak benar-benar memaafkannya sih…"
"Oh…"
.
Lalu mereka berhenti memeluk satu sama lain, Annie menjangkau jepit rambutnya di meja belajar Armin.
.
"Aku pulang dulu…"
"Ya… ayo…"
"Tidak usah, sendiri saja. Kau ada ujian kan besok? Good luck ya…"
.
Armin berdiri, digapainya Annie, lalu mendaratkan ciuman manis dikening Annie.
.
"Terima kasih… Hati-hati…"
"Tentu…"
.
Annie pulang dengan ragu dihatinya.
.
"Pertama kalinya Armin menatapku seperti itu…" kata Annie pada dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Author's corner
.
Eren : mesti gitu ya? gua maboknya mikirin doraemon?
Author : Gak pa-pa Ren, masih keliatan ganteng kok…
Eren : Bisa aja nih author… *nyubit pipi author*
Author : Bisa dong… *nyubit pipi Eren*
Mikasa : Keahlianku memotong-motong daging… *tiba-tiba muncul*
Author : Aku brokoli kok Mikasa *gulp*
