Seharusnya, semua berhak mendapatkan kesempatan kedua, 'kan?
BLUE DAYS
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
I don't gain any commercial advantage by publishing this fanfic. This exactly is just for fun.
Story © Sukie 'Suu' Foxie
Warning:
Sedikit (benar-benar selewat) menyebutkan perihal sex. Tolong fanfik ini disikapi dengan dewasa.
Yang baiknya silakan diambil, yang buruknya silakan dijadikan sebagai hiburan semata.
Saya mengambil setting di negara Jepang, so expect the culture will be based on Japanese one.
(I don't believe I have to say this tho. Lol. However, I hope my reader is mature enough for this kinda fanfict~)
Without further ado, please enjoy!
Ch 7. In Memoriam
"Baik saya ulangi pesanannya, ya?"
Pramusaji itu mengulang pesanan kedua tamunya dengan cepat. Tak lama, ia segera beranjak ke belakang—meninggalkan kedua sahabat yang hendak saling bertukar cerita. Keseruan baru akan dimulai saat mendadak sebuah suara menginterupsi.
"Lho? Sakura, ya?"
Tak hanya Haruno Sakura yang menoleh, Ino pun tergerak untuk melakukan hal yang sama. Lalu, berdiri di hadapan mereka, seorang laki-laki tinggi gagah dengan sebuah senyum ramah terlihat di wajah. Ino merasa laki-laki di hadapannya ini sangat familier. Siapa, ya?
"Itachi-san!" sapa Sakura sambil bangkit dari kursinya. Jelas perempuan berambut merah muda itu mengenali sosok tak diundang tersebut.
"Apa yang sedang kaulakukan di sini?" Kepala Sakura melongok—seolah sedang mencari sesuatu. "Sendirian?"
Laki-laki yang dipanggil Itachi itu menjawab tanpa meninggalkan senyumannya.
"Ada janji bertemu klien. Sekalian makan siang."
"Hee … hari Sabtu begini masih kerja?"
Belum sempat Itachi menjawab, suara dering ponsel menghentikannya. Setelah memberi gestur meminta maaf, ia melengos ke pojokan—mengecilkan suara seolah-olah tak ingin ada seorang pun yang mendengar. Sebenarnya itu tak perlu ia lakukan, mengingat situasi restoran yang cukup ramai dengan kasak-kusuk pengunjung lain dan dentuman lagu Coffee Rumba.
Kepala Sakura bergerak menoleh ke arah Ino. Ino tengah memangku wajah seraya tersenyum penuh arti.
"Jadi … siapa dia?"
Sakura kembali duduk. Begitu ia sudah tampak nyaman di kursinya, ia baru menjawab, "Uchiha Itachi." Lalu ditambahkannya sambil terkikik geli, "Calon kakak iparku."
Ino menepuk tangan. Akhirnya ia paham mengapa ia merasa familier dengan wajah tersebut. Tentu saja! Masih saudara dengan Uchiha Sasuke rupanya!
"Hei, Sakura! Kenalkan dia padaku!" pinta Ino sambil melirik-lirik ke arah Itachi yang saat ini hanya terlihat punggungnya.
"Haah?" Alis Sakura mengernyit.
"Kenalkan padaku!" ulang Ino sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Kau mau selingkuh?"
"Selingkuh?" Ino tertawa. "Hallooo~ aku ini single lady, lho!"
Kali ini, mata Sakura membelalak. Dia tampak mencerna perkataan Ino sebelum berkata dengan sinis, "Lalu bagaimana dengan Kimimaro?"
"Ah, laki-laki itu …." Ino mengibaskan tangan. "Sudah putus bulan lalu."
Sakura menepuk jidat. Jika melihat wajah Ino yang tersenyum ceria, ia tentu tak akan menyangka kalau Ino baru saja putus.
"Kau sama sekali tak terlihat sedih. Kupikir kalian masih …."
"Untuk apa menangisi laki-laki kayak dia?" Ino memonyongkan bibir. "Dia setahun lebih tua dariku, tapi dia belum ada pekerjaan tetap. Penghasilan part-time-nya pun sering kali hilang entah ke mana. Waktu kusuruh mencoba mencari pekerjaan yang lebih stabil, ia berkata dengan tenang bahwa ia akan memulai bisnis menanam stroberi dengan kenalannya. Untuk itu dia butuh modal dan dia memintaku meminjamkan uang …."
"Lalu?"
"Lalu apa? Dia itu bukan orang yang tekun. Tentu saja gagal! Yah, aku tak berharap banyak, sih. Kenyataannya sudah beberapa kali dia seperti itu," ujar Ino sembari mengedikkan bahu.
Pembicaraan kedua perempuan itu sejenak disela oleh pramusaji yang membawakan minuman. Setelah menyeruput minuman, pembicaraan mereka berlanjut.
"Satu-satunya yang bisa ia lakukan dengan benar hanyalah saat bercinta!" Ino kembali menyangga wajah dengan tangan. "Tapi kau tahu, lama-lama semua jadi membosankan."
"Dia padahal begitu tergila-gila padamu, tahu!"
"Aku tahu," ujar Ino sambil merentangkan tangan ke depan. Senyumnya melebar. "Siapa yang tidak?"
"Lalu kau memutuskannya begitu saja?"
Mendadak Ino tertawa. Begitu melihat wajah Sakura yang kebingungan, ia akhirnya berhenti tertawa. Ino mencuri pandang ke arah Itachi. Karena laki-laki itu masih tampak sibuk mengobrol di telepon, Ino kembali memusatkan perhatian pada Sakura.
"Aku teringat hal lucu. Setelah aku memutuskannya, dia masih mengiba-iba, meminta balikan."
Sakura menggangguk penuh pengertian.
"Aku sempat kasihan, tapi begitu tahu bahwa ia mengontak sepupuku—Karin …."
"Karin-nee? Kok mereka bisa kenal?"
"Sempat bertemu waktu obon. Tapi, bodoh, 'kan? Kenapa dia malah mengontak Karin coba? Bersikap sok akrab. Tentu saja Karin akan melaporkan hal itu padaku!"
"Apa dia bukannya bertanya tentangmu?"
"Iya dan tidak. Awal-awal ia memang bertanya macam-macam tentangku. Tapi lama-lama, ia sepertinya lebih memilih melancarkan pendekatan pada Karin." Ino terkikik. "Baguslah, jadi dia tak perlu menggangguku lagi."
"Kau sama sekali nggak sedih, ya?"
"Sedih hanya untuk orang lemah, hahahaha!" Ino memperbaiki posisi duduknya. Lalu, dengan tangan yang seolah diangkat untuk menutupi mulut, ia berkata, "Makanya, soal Itachi-san …."
"Aku kenapa?"
Spontan kedua perempuan itu tampak berkedik. Begitu menoleh, sosok Itachi sudah ada di hadapan mereka dengan sebelah tangan yang masih memegang ponsel.
"Ah, tidak," sela Sakura cepat. Ia kemudian melirik galak pada Ino sekilas sebelum memasang wajah anak manisnya kembali. "Tadi itu telepon dari klien Itachi-san, ya?"
"Begitulah. Dia meneleponku untuk mengatakan bahwa hari ini ia tak jadi bisa datang. Lalu kami sedikit membicarakan untuk reschedule."
"O—"
"Kebetulan sekali! Kenapa Itachi-san tak bergabung saja dan makan siang bersama kami?" Ino berkata-kata seolah tanpa ragu. Ia bahkan tak segan untuk memanggil Itachi hanya dengan nama kecil.
"Eh?"
"H-hei, Ino! Apa yang—"
"Kapan lagi, 'kan, kau bisa makan siang ditemani gadis-gadis cantik?" Ino tertawa sambil menepuk-nepuk meja—mengisyaratkan agar Itachi tak usah banyak berpikir dan lebih baik segera duduk bersama mereka.
Beberapa saat, pandangan Itachi dan Ino beradu. Tak butuh waktu lama bagi Ino untuk menyadari bahwa ia menginginkan pria di hadapannya. Ia belum mengenal Itachi, tapi ketertarikan itu ada. Ino memang mudah tertarik pada laki-laki tampan yang berkarisma dan ia selalu berpikir bahwa ia bisa menaklukan laki-laki mana pun jika ia menginginkannya.
"Baiklah, jika kalian tak keberatan …."
Namun, suatu kesalahan bila menganggap Itachi akan sama dengan para mantannya sampai saat ini.
Benar-benar salah!
.
.
.
Sedih hanya untuk orang lemah!
Seketika Ino hanya bisa tersenyum miris mengingat kata-katanya sendiri. Ingin ia menampar bibir sombong itu. Atau … justru inilah bentuk teguran dari-Nya? Ino memang terkadang pergi ke kuil untuk berdoa—tapi tak dapat dibantah, itu hanya terjadi dua kali dalam setahun. Apa dia boleh percaya bahwa Kami-sama itu ada dan bahwa karma itu memang berjalan pada waktunya?
Tanpa sadar, Ino sudah berada di depan sebuah pintu kamar apartemen. Matanya menyapu nomor kamar dan nama pemilik yang terpajang di sebelah kiri. Tak salah lagi.
Ino menarik napas panjang dan mengembuskannya. Tangannya kemudian terangkat untuk memencet bel. Hanya dengan sekali dering, Ino sudah mendapatkan respons. Ia sudah harap-harap cemas jika sang pemilik kamar tak ada di dalam—salahnya juga tak menghubungi dan langsung datang begitu saja. Namun, toh yang ia cari ada di rumahnya meski saat itu hari Sabtu malam Minggu—hari ketika pasangan-pasangan biasanya keluar untuk memadu kasih dan memadatkan jalanan.
Oh, tapi Sasuke bilang, mereka sudah putus, 'kan?
Lamunan Ino terputus. Pintu terbuka dan memperlihatkan wajah Haruno Sakura yang tampak keheranan.
***TO BE CONTINUED***
Maafkan saya yang ngaret banget untuk update fanfik ini T_T
Bagaimana dengan chapter ini? Apa mulai ada kejelasan kenapa Ino kayaknya baper banget sama Mas Itachi? Hahaha. Kalau belum, di chapter selanjutnya mungkin terjawab, sih. So, stay tune, ya!
Oh, ya, mau ucapin terima kasih pada semua-semua yang sudah mendukung Blue Days sampai fict ini menerima penghargaan Indonesian Fanfiction Award untuk kategori Best Drama. Ehehehe ;"
Love you all! :*
POJOK BALAS REVIEW NON-LOGIN
xoxo: sudah bawaan orok mereka mah kejam hahaha
Guest: ada interest ke Ino gak ya doi wkwkkw mari kita tunggu tanggal mainnya XD
Aku: *kipasin* halo juga Aku~ (?) XD
Sasuino351: wahahahha! Iyain nggak, ya~ XD
Cherrymomo: itu … mari tunggu sampai saatnya dikupas wahhaha
Guest: ini sudah update~ silakan! Hahaha.
Sekian balasan reviewnya XD
Review login saya balas langsung lewat PM, ya!
Many thanks for your continuous support! :*
Semoga fanfik ini masih bisa menghibur!
With love,
Suu.
