Nano, Log In
"Maji de Watashi ni Koi Shinasai: Story of The Darkness"
Warning:
Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.
Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Highschool DxD: Ichie Ishibumi
Love Live School Idol Project: Nippon Ichi Software (Pelisensi anime)
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
Chapter 7: I Get You or You Get Me, Enigma and Einstein
Opening Song: Back On - Cerulean
05.00 PM (Rumah keluarga Uzumaki)
Hari ini adalah hari yang sangat menggembirakan bagi Kushina karena selain tahu jika anak sulungnya, Naruto masih hidup dan selama sebulan ini berada di Italia dia juga dikejutkan dengan kedatangan Naruto pada jam setengah 6 pagi itu dengan membawa seorang wanita cantik, seorang anak kecil dan juga seorang bayi.
Awalnya ia mengira jika Naruto telah menikahi seorang janda di Italia tapi setelah mendengar penjelasan dari Minato ditambah lagi dari Naruto akhirnya Kushina paham jika wanita yang dibawa Naruto ke rumah adalah temannya yang bernama Xenovia lalu bayi yang dibawa wanita itu adalah bayi yang diselamatkan Naruto dan ternyata yang paling membuat Kushina terkejut adalah umur dari seseorang yang ia anggap anak kecil bernama ophis saat ini ternyata sudah mencapai kepala 2.
Saat ini Kushina sedang berada di ruang keluarga bersama dengan Naruko, Xenovia, Ophis dan Sekai. Meski bukan anak dari Naruko maupun Naruto tetapi dia menganggap Sekai sebagai cucunya sendiri, bisa dibilang itulah naluri seorang ibu kala anaknya sudah beranjak dewasa yaitu ingin cepat-cepat punya cucu.
Xenovia, Ophis dan Naruko pun kini telah mengganti seragam mereka dengan baju santai dan saat ini tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ophis sedang memakan camilannya, Xenovia sedang menyuapi Sekai yang berada di pangkuan Kushina sedangkan Naruko saat ini nampak asik melihat Xenovia yang menyuapi Sekai.
"Mou! Onii-chan lama sekali!" Kata Naruko memecah harmoni kesunyian yang terjalin selama ini. Kushina yang paham maksud anak bungsunya ini hanya menghela nafas lelah, memangnya siapa yang membuat Naruto membereskan semua barang adiknya itu dari apartemen yang tak terpakai sejak peristiwa itu?
Flashback...
04.45 PM
"Tadaima!" Kata Naruko dengan riang seperti biasanya sambil membuka pintu rumah keluarga Uzumaki. Tidak ada lagi nada-nada kesedihan yang terkandung di suaranya seperti sebulan terakhir.
"Okaeri!" Jawab sebuah suara dari dapur dan darisana pula muncullah Kushina yang masih memakai apron memasak berwarna merahnya. Sama halnya seperti Naruko, pada hari ini Kushina terlihat lebih ceria dari biasanya apalagi setelah melihat anak sulungnya Naruto, Xenovia dan Ophis memutuskan untuk tinggal disini bersama mereka.
"Haaah... aku ingin tidur sekarang juga." Tidak seperti biasanya, Naruto ingin langsung tidur di hari pertamanya kembali ke Jepang. Biasanya dialah yang tidur paling akhir karena berbagai alasan yang tidak ingin dikatakannya sendiri.
"Tunggu sebentar, Onii-chan!" Kata Naruko sembari menghadangi jalan Naruto menuju ke kamarnya, tentu saja hal itu membuat Kushina,Ophis dan Xenovia yang sedang menggendong sekai bertanya-tanya pasalnya Naruko tadi sudah terlihat sangat senang karena Naruto masih hidup tetapi sekarang dia terlihat marah.
Sementara itu Naruto yang jalannya ditutupi oleh tubuh sang adik mau tak mau harus menghentikan langkahnya. Perkataannya tadi bukanlah sebuah dusta, sebab dia ingin ke kamarnya dan mencoba tidur (meski tahu tidak bisa) untuk melupakan firasat buruk yang ia rasakan saat berada di ruang klub Puzzle bersama Ophis.
Ngomong-ngomong soal kamar, kamar Naruto saat ini tidak ditempatinya sendiri melainkan bersama Sekai dan juga Xenovia. Hal ini terjadi karena Minato yang menyarankannya dengan alasan Sekai butuh perhatian dan penjagaan langsung dari Xenovia dan Naruto. Sedangkan Ophis? Apa dia mendapat kamar sendiri? Jawabannya memang benar, Ophis mendapat kamar sendiri tapi dia hanya menggunakannya sebagai tempat mandi, ganti baju dan beberapa aktifitas lain yang butuh privasi penuh sedangkan untuk tidur dia akan ikut ke kamar Naruto dan Xenovia sehingga membentuk formasi NaruSekai dan Ophis Xenovia.
"Ada apa Naruko? Bukankah tadi kau sudah kutraktir ramen?" Saat ini Naruto mencium bau kelicikan dari arah Naruko saat ini, pasalnya saat mereka pulang bersama tadi Naruko mengatakan dia hanya akan memaafkan Naruto secara penuh jika Naruto mentraktirnya ramen dan Naruto sudah melakukan itu. Jadi sekarang apalagi?
"Onii-chan~, karena saat Onii-chan pergi Naruko lah yang menempati apartemen Onii-chan jadi sekarang Onii-chan harus membereskan barang-barang Naruko dari apartemen Onii-chan lalu membawanya kemari." Sebuah hal yang mengerikan dan keluar bersama dengan kata-kata itu adalah fakta bahwa Naruko mengatakannya dengan tersenyum. Senyum yang lebar dan nampak bahagia karena tahu Naruto pasti akan menurutinya.
"Baiklah, akan segera kubawa kesini semuanya." Naruto yang tidak ingin berdebat dengan adiknya langsung saja menuruti perintah Naruko tadi.
"Biat kubantu." Kata Xenovia secara mengejutkan sampai-sampai membuat Naruto menghentikan larinya yang saat itu menuju ke arah garasi untuk mengambil motornya lalu kembali ke tempat mereka.
"Tidak usah, bukankah kau tadi bilang ingin menyuapi Sekai setelah sampai di rumah? Tenang saja, aku bisa mengurus semuanya sendiri." Kembali menuju ke arah Xenovia, Naruto lalu mengusapkan tangannya ke puncak kepala Xenovia dan jujur saja, hal itu membuat pipi Xenovia merona sekaligus membuat Naruko dan Ophis cemburu.
Sekai yang melihat tangan Naruto mengusap-usap puncak kepala Xenovia yang telah ia anggap ibunya kontan saja menangis karena menganggap perbuatan Naruto tadi menyakiti Xenovia. Sementara itu Naruto yang menyadari jika Sekai menangis karena perbuatannya langsung sweatdrop. Dengan sedikit mencuri-curi kesempatan, sebuah kecupan ia sarangkan ke pipi Sekai dan Xenovia.
"Ittekimasu!" Tak mau berurusan dengan Ophis ditambah Naruko yang marah, Naruto langsung berlari menuju ke garasi lalu berangkat membawa motornya.
'Sepertinya aku sudah punya calon menantu.' Batin Kushina disertai senyum lebar kala melihat Xenovia yang masih merona dan shock akibat kecupan kilat tadi sedangkan Naruko dan Ophis hanya bisa melihat Xenovia dengan iri.
Flashback off...
Gerakan tangan Xenovia yang saat itu memegang sendok untuk menyuapi Sekai tiba-tiba berhenti. Matanya yang semula terfokus pada Sekai kini berganti fokus ke sebuah kaca yang kebetulan menempel pada sebuah dinding di ruang keluarga ini.
"Ada apa Xenovia-chan?" Tanya Kushina pada Xenovia yang tiba-tiba menghentikan suapannya pada Sekai. Hal serupa dengan Xenovia juga dilakukan oleh Ophis yaitu memandangi kaca yang menempel di ruang keluarga. Segaris dengan itu semua, Sekai yang awalnya duduk dengan tenang di pangkuan Kushina kini juga mulai menunjukkan gelagat-gelagat aneh seperti merasa kurang nyaman dengan posisinya saat ini.
Hal yang terjadi selanjutnya adalah kaca yang menempel di dinding ruangan tersebut pecah karena dihantam oleh sebuah benda asing. Xenovia yang melihat benda itu berbentuk sebuah granat dengan sigap langsung memeluk Sekai, mencoba untuk melindungi Sekai dari efek ledakannya. Tapi bukannya suara ledakan yang terdengar melainkan suara gas yang keluar dari granat itu dan dalam hitungan menit semua orang yang ada di rumah itu pingsan akibat menghirup gas itu.
Seseorang tak dikenal dengan pakaian serba hitam dan topeng hitam layaknya seorang perampok kemudian masuk dengan cara memecahkan kaca di ruang keluarga. Lalu dengan santainya orang misterius itu mengambil Sekai yang tertidur di pangkuan Kushina dan di pelukan Xenovia. Setelah mengambil Sekai, orang asing itu keluar lagi dari ruang keluarga lalu menuju ke mobil yang terparkir rapi di halaman rumah keluarga Uzumaki.
30 menit kemudian...
Saat ini Naruto telah sampai di dekat rumah keluarganya tetapi ada beberapa hal aneh yang ia lihat meski kenyataannya dia belum memasuki halaman rumah yaitu ada beberapa mobil polisi yang memasuki gerbang rumah keluarganya. Penasaran dengan apa yang terjadi, Naruto langsung menambah kecepatannya lalu melewati pintu gerbang yang saat itu dalam keadaan terbuka untuk sampai di halaman rumah keluarganya.
Setibanya di halaman rumah, Naruto dikejutkan dengan banyaknya polisi yang berlalu lalang kesana kemari. Mengalihkan pandangannya ke bangunan rumah, Naruto kembali dikejutkan dengan adanya garis polisi yang telah membentang di sekitar rumahnya. Sepertinya dia benar-benar terlambat jika polisi telah menbentangkan garisnya.
"Siapapun yang melakukan ini, jika aku menemukan satu saja goresan pada penghuni rumah saat itu maka akan kubunuh orang yang melakukannya." Guman Naruto dengan volume kecil, meski begitu dengan suaranya yang telah berubah menjadi dingin akan membuat siapapun yang mendengarnya memikirkan satu hal yang sama yaitu Mengerikan.
Saat pikiran Naruto memikirkan tentang siapa yang melakukan semua ini, tiba-tiba dari arah pintu rumahnya terlihatlah Minato yang memberikannya isyarat untuk masuk. Tanpa membuang waktu lagi, Naruto kemudian masuk ke dalam rumahnya dan menemukan tubuh Okaa-sama nya, Naruko, Ophis dan Xenovia yang sedang pingsan di ruang keluarga.
"Tou-san, apa yang telah terjadi disini?" Tanya Naruto pada Minato dengan nada dingin. Sorot matanya semakin tajam kala menyadari jika Sekai tidak ada diantara ke 4 tubuh perempuan yang ada disana.
"Kata para polisi yang terjadi adalah pembobolan. Tapi kelihatannya ini hanya pengambilan sandera, Naruto." Jawab Minato lalu menunjukkan sebuah surat kepada Naruto. Surat itu sangat polos bahkan tidak ada nama pengirim, alamat dan sebuah perangko yang seharusnya menempel di bagian kanan atas surat.
Dengan cepat, Naruto merebut surat itu dari tangan Minato tak peduli jika kelakuan itu dapat digolongkan sebagai tindakan tidak sopan kepada orang tua. Membuka dan membaca isi surat tersebut membuat amarah Naruto semakin meluap-luap kala ucapan Minato tadi terbukti benar. Pembobolan tadi hanyalah pengambilan seorang sandera, dan sandera itu sendiri adalah Sekai.
"Di kuil yang berada di bukit kota Kuoh, game apa yang ada disana?" Guman Naruto mempertanyakan sedikit isi surat yang sedang ia baca. Jika memikirkan game apa yang ada di bukit maka jawaban yang ditemukan Naruto adalah game yang berhubungan dengan cahaya karena bukit adalah tempat yang indah untuk melihat sunrise (matahari terbit) dan sunset (matahati terbenam).
Sementara itu Minato yang melihat Naruto marah dengan isi surat yang ia baca menjadi teringat dengan masa lalunya yang hampir saja terbunuh dengan game yang ada di bukit kota Kuoh. Waktu itu dia tidak punya pilihan lain selain memainkan game yang diciptakan oleh pemegang gelar Aristoteles sendiri kala itu alias Obito Uchiha. Gamenya cukup simpel yaitu labirin, tetapi kalau labirin itu terletak di dalam bukit yang pastinya gelap gulita lalu Minato saat itu harus menemukan jalan keluarnya sendiri dengan memperhitungkan darimana arah cahaya datang. Apakah itu masih termasuk game yang simpel? Entahlah, penilaian orang berbeda-beda.
"Lebih baik cepat pergi, Naruto. Kita tidak tahu siapa pengirim surat ini ataupun apa yang akan dilakukannya pada Sekai jika kau tidak segera datang kesana." Saran Minato yang membuat Naruto berhenti dengan pemikirannya mengenai game apa yang akan ia hadapi disana. Naruto memang lebih suka bersiap-siap dahulu kecuali saat terpaksa dan dipaksa maka dia akan melakukannya dengan kondisi apapun.
"!" Naruto yang sadar jika dia telah membuat sebuah 'percikan api penyesalan' kemudian langsung berlari menuju halaman rumah lalu menggeber motornya menuju bukit kota Kuoh tidal peduli jika barang-barang Naruko masih terikat di motornya.
Minato yang kini sendirian setelah ditinggal oleh Naruto yang menuju bukit kota Kuoh untuk menyelamatkan Sekai mendongakkan kepalanya ke arah atas sehingga saat ini dia sedang menatap langit-langit rumahnya.
"Ini sudah puluhan tahun sejak kemunculan pemegang gelar Aristoteles terakhir. Mungkin saja Obito telah mati dan membuat pewaris gelar Aristoteles menjadi penerus yang ideal untuknya." Minato kali ini mengingat kejadian beberapa puluh tahun yang lalu saat ia seumuran dengan Naruto. Waktu itu Obito Uchiha sebagai pemegang gelar Aristoteles sekaligus pimpinan organisasi Qlippoth ingin melakukan percobaan di Jepang, lebih tepatnya di kota Kuoh.
Percobaan itu adalah percobaan untuk membuat sebuah bom atom mini dan instan yang bisa diselipkan dimana saja. Meski namanya mini tetapi dalam tahap percobaan waktu itu, semuanya dilakukan secara serentak. Total ada 100 jenis formula yang dibuat Obito untuk merealisasikan bom itu tapi jika gagal resikonya adalah seluruh prefektur Tokyo akan hancur akibat bom itu meledak. Berat masing-masing bahan yang digunakan untuk setiap formulanya juga tidak tanggung-tanggung yaitu 75kg.
"Tapi... aku saja waktu itu hampir terbunuh jika polisi tidak datang tepat waktu. Haaah... dia itu si keras kepala Einstein yang memiliki kesempurnaan Aristoteles, dia pasti bisa." Ucap Minato menghibur dirinya sendiri. Sebenarnya dia lebih protektif dari Kushina dalam urusan anak, tetapi dalam kasus Naruto dia tidak boleh terlalu memanjakannya karena Minato khawatir jika suatu saat Naruto akan menumpul. Meski akhirnya para pemegang gelar akan menumpul sejalan dengan bertambahnya usia tetapi yang Minato inginkan adalah Naruto tidak menumpul dalam hal apapun sebelum berhasil memastikan jika pemegang gelar yang tersisa bukanlah lawan dengan obsesi aneh.
Obsesi aneh? Kita lihat saja obsesi Madara mengenai balas dendam kepada dewa Zeus. Madara memang seorang jenius tetapi mempunyai sifat fanatik jika berhubungan dengan para pemegang gelar melebihi siapapun. Dia menganggap jika para pemegang gelar memiliki derajat yang lebih tinggi dari manusia lain.
Sifat fanatik itu sendirilah yang menuntunnya menuju sebuah tujuan yang akan membahayakan umat manusia yaitu membalas dendam kepada Zeus atau yang dalam mitologi Italia adalah Jupiter. Jika balas dendam Madara adalah dengan melenyapkan seluruh pohon Jupiter dari bumi maka tidak akan terlalu membahayakan manusia tetapi yang ingin Madara hancurkan adalah planet Jupiter. Bola gas raksasa yang dikelilingi oleh banyak meteor maupun asteroid.
Bagaimana Madara melakukannya? Bagaimana Madara menyulut bola gas yang bahkan tidak mempunyai 1% massa di tata surya yang ia tempati sekaligus yang membuatnya mendapat predikat sebagai planet bukannya bintang katai meski memiliki banyak bahan bakar untuk memproduksi panas seperti halnya bintang kebanyakan? Meski hanya sebuah perkiraan tetapi Minato mempunyai jawaban yang cukup logis, yaitu Madara akan mengirimkan sebuah roket kesana, roket itu membawa berton-ton bom atom yang akan diledakkan sesampainya di Jupiter sehingga akan menyulut gas-gas di planet tersebut untuk terbakar.
Karena massa yg jauh lebih kecil dari matahari ditambah lagi tidak memiliki inti yg dapat memproduksi energi maka dalam sekejap Jupiter akan mati sebagai planet yg menyala bagai bintang lalu menyebabkan supernova karena keruntuhan gravitasi secara tiba-tiba dan menjadi lubang hitam. Memang benar jika posisi bumi dan Jupiter saat ini tidak dalam 1 garis lurus tetapi ledakan supernova Jupiter Minato khawatirkan akan mendorong asteroid-asteroid di sekitarnya untuk untuk masuk ke dalam orbit bumi.
Saat hal itu terjadi maka umat manusia hanya tinggal menunggu waktu sampai akhirnya bumi menabrak asteroid-asteroid hasil lontaran dari Jupiter dan itu berarti Armageddon akan benar-benar terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu tahun setelah Jupiter meledak.
Di sisi lain...
Saat ini Naruto masih menggeber motornya dengan kecepatan tinggi. Meski sempat beberapa kali dimaki oleh beberapa pengguna jalan lain karena menyalip kendaraan mereka dengan selisih jarak tipis tapi Naruto tidak menghiraukan mereka, malahan sekarang dia menggeber motornya dengan lebih cepat.
'Sial! Jadi itu alasan Izuna mencegatku tadi, jika tahu begini maka aku tidak akan meladeninya.' Batin Naruto mengingat-ingat tentang Izuna yang ia temui dan mencegatnya saat ia ingin pulang ke rumah.
Dia dicegat? Ya, Naruto dicegat oleh orang asing. Tapi bukannya segerombolan seperti biasanya melainkan hanya satu orang. Tapi satu orang itu berhasil membuat Naruto menghabiskan waktunya untuk meladeni orang misterius itu, bukan dalam perkelahian yang selama ini Naruto lakukan tapi melainkan sebuah permainan.
Flashback...
"Haah... dasar adik merepotkan." Guman Naruto yang kini telah selesai membereskan barang-barang Naruko yang tertinggal di apartemennya. Dengan cekatan, ia mulai mengikat sekardus barang-barang Naruko di atas motornya lalu mengendarai motornya dengan kecepatan sedang menuju ke rumahnya.
Perjalanan Naruto yang awalnya terasa aman-aman saja kini mulai berubah menjadi sedikit aneh saat ada seseorang yang memberikan isyarat kepadanya untuk berhenti. Orang itu berperawakan tampan dengan rambut hitam bergaya pantat bebek dan sepasan mata Onyx yang terpasang rapi pada tempatnya.
Trotoar jalan yang Naruto lewati kini juga terasa lebih sepi karena saat ini dia melewati kawasan yang sedikit sepi untuk menghindari kemacetan yang diakibatkan oleh para pekerja kantoran yang pulang. Menuruti isyarat orang asing tersebut, Naruto kemudian menghentikan laju motornya lalu menghampiri orang asing yang mencegatnya tadi.
Sepasang Onyx bertemu dengan sebuah Saphire dan Scarlet. Saat Naruto melihat mata orang asing itu, seketika otaknya menyerukan tanda-tanda bahaya tapi tidak dituruti oleh tubuh Naruto akibat rasa penasarannya yang lebih dari cukup untuk tidak menghiraukan seruan bahaya tadi. Akhirnya setelah beberapa lama mereka bertatapan, orang asing itu mulai membuka percakapan dengan Naruto.
"Jadi... apa kau adalah Einstein generasi sekarang? Jika aku melihatmu dengan mudahnya menuruti perkataan adikmu maka tanggapanku kepadamu adalah mengecewakan. Kau tidak seharusnya seperti ini Einstein, merekalah yang seharusnya mengakui kebesaranmu." Baru saja membuka pembicaraan dengan Naruto, orang asing itu sudah berbicara tentang hal-hal yang sedikit jauh untuk ukuran baru pertama kali bertemu.
"Aku memang Einstein generasi sekarang tapi aku tidak butuh tanggapanmu orang asing. Bisakah kau memperkenalkan namamu terlebih dulu? Namaku adalah Uzumaki Namikaze Naruto, pemegang gelar Einstein setelah Hagoromo Otsutsuki." Jika orang asing tadi memulai percakapan dengan aneh maka Naruto juga membalasnya dengan aneh juga. Memangnya tidak aneh jika seseorang yang tiba-tiba sok kenal denganmu menyapa tapi kaulah yang memperkenalkan diri?
"Kau bisa memanggilku siapa saja, tapi nama asliku adalah Uchiha Izuna. Aku adalah kakak dari seseorang yang pernah kau temui sebelum kau membunuh Kokabiel waktu itu." Jawab seseorang yang diketahui bernama Uchiha Izuna itu. Dia tidak terlihat takut ataupun gentar meski ditatap dengan tajam oleh Naruto karena Izuna tadi mengatakan sesuatu mengenai Kokabiel.
Tapi tunggu dulu! Jika dia adalah kakak dari seseorang yang ditemui Naruto sebelum membunuh Kokabiel itu artinya dia adalah kakak dari pemegang gelar Aristoteles. Tapi yang menjadi pertanyaan di kepala Naruto saat ini adalah apakah Izuna juga merupakan seorang pemegang gelar? Jika iya maka dia adalah pemegang gelar Newton karena stok yang tersisa hanyalah itu.
"Jadi, kenapa kakak dari pemegang gelar Aristoteles menemuiku?" Tanya Naruto lagi pada seseorang yang mengaku kakak dari pemegang gelar Aristoteles itu. Informasinya mengenai pemegang gelar Aristoteles sangatlah minim jadi dengan inisiatif sendiri, ia mencoba mengorek informasi dari Izuna.
"Hahahaha... kau benar, aku adalah kakak dari si Faker itu." Bukannya menjawab pertayaan Naruto dengan serius, Izuna malah tertawa terbahak-bahak lalu secara tak langsung mengatai adiknya adalah seorang Faker.
'Dilihat dari reaksinya maka pasti adiknya bukan merupakan pemegang gelar Aristoteles. Jadi aku telah dibohongi waktu itu.' Batin Naruto menganalisa lalu menyimpulkan sebuah hal yang teramat penting setelah mendengar jawaban Izuna tadi.
"Jadi... Einstein. Aku ingin menantangmu bermain game denganku." Tantang Izuna yang langsung ditolak oleh Naruto.
"Aku menolak. Adikku sudah menunggu di rumah, aku tidak bisa membuatnya lebih lama menunggu lagi." Setelah menolak tantangan itu, Naruto berbalik arah dan hendak berjalan kembali ke motornya tetapi dia harus berhenti lagi akibat Izuna.
"Paling tidak mainkan satu ronde denganku. Meski aku menantangmu, ini bukan berarti kita akan bertarung hidup mati saat ini juga." Izuna memohon pada Naruto untuk memainkan satu ronde game dengannya. Hanya satu ronde tapi jika game yang dimainkan adalah game seputar mencari jalan keluar maka tentu akan membutuhkan waktu yang lama.
'Sebenarnya tidak saat ini, Einstein.' Beda di mulut maka beda juga di hati. Sepertinya pepatah itu bukan cuma pepatah belaka melainkan telah menjadi kenyataan saat ini. Pasalnya meski di luarnya Izuna memohon pada Natuto untuk bermain satu ronde game dengannya tapi di hatinya ia berniat memainkan sebuah duel game dengan taruhan nyawa melawan pemegang gelar Einstein itu.
Kenapa Izuna berniat melakukannya? Atau mungkin kenapa para pemegang gelar di luar lingkup Naruto selalu ingin membunuh Naruto? Alasannya berbeda-beda. Ophis awalnya ingin membunuh Naruto karena Naruto adalah pemegang gelar Einstein, sedangkan di generasi sebelumnya pemegang gelar Einstein telah membunuh seseorang yang ia anggap neneknya sendiri yaitu Kaguya sekaligus pemegang gelar Pythagoras di generasi sebelumnya.
Sedangkan Madara ingin membunuh Naruto sebab dia tahu jika Naruto dibiarkan maka Naruto akan menghalangi rencana balas dendamnya. Dengan Newton (Minato) di sisi Einstein (Naruto) maka Madara sudah pasti dapat dilacak dengan mudah lalu setelah itu Naruto akan menyabotase seluruh rencananya. Jika semua itu terjadi maka Madara harus memulai semuanya dari awal lagi, oleh karena itu meski sekarang Madara fokus dengan roketnya tapi dia ingin Enigma mengalihkan perhatian Einstein darinya.
Sementara itu yang berbeda dari yang lain adalah Enigma yang ingin memonopoli Einstein hanya untuknya. Memang terdengar konyol namun itulah kebenarannya. Rasa kagum Kurama pada Einstein (Hagoromo) lama-kelamaan tumbuh menjadi rasa cinta tapi saat Kurama hendak menyusul pemegang gelar Einstein (Hagoromo) yang ia temukan adalah kabar jika Hagoromo telah tewas setelah berduel melawan Pythagoras (Kaguya). Sekarang posisi Hagoromo telah digantikan oleh seseorang dan orang itu adalah Naruto, jadi Kurama tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Game seperti apa? Jika itu membuang banyak waktu aku menolak" Naruto kemudian berbalik arah untuk berhadapan dengan Izuna.
"Gamenya sangat sedehana. Tapi... untuk lebih menarik aku ingin kita menggunakan uang." Jawab Izuna lalu mengeluarkan seikat penuh uang dolar amerika dari sakunya.
"Uang? Apa maksudmu?" Tanya Naruto lagi tak mengerti. Game yang menggunakan uang biasanya berfokus pada sebuah filosofi, pepatah dan angka tapi dalam ukuran sebuah game cukup sederhana.
"Kita akan bermain game yang kurang lebih mirip seperti judi. Kau dan aku akan saling menggunakan teka-teki yang kita buat sekarang dan saat giliran kita, lawan kita yang akan menebak. Jika aku salah menebak maka aku akan menyerahkan seribu dolar ini padamu tapi jika kau salah maka kau harus membayar seribu yen padaku. Cukup simpel kan?" Jelas Izuna panjang lebar mengenai game yang akan mereka mainkan. Daripada game, sebutan tebak-tebakan lebih cocok dengan deskripsinya tadi.
"Baiklah karena kau yang mengajakku maka giliranmu terlebih dulu, Izuna." Kata Naruto mempersilahkan Izuna untuk menanyakan sebuah teka-teki padanya. Dalam keadaan saat ini Naruto hanya punya seribu yen dan sebenarnya itu juga ada di dompet Naruko yang tertinggal di apartemennya tapi sebagai kakak yang baik, Naruto telah mengamankan uang itu di sakunya.
"Hm... bagaimana kalau ini, jika sebuah atom memesan segelas minuman kepada seorang bartender maka apa yang harus ia gunakan untuk membayar minumanya?" Aneh? Mungkin memang benar. Teka-teki yang dikatakan Izuna tadi memang terdengar aneh karena melibatkan kemustahilan yang tidak mungkin terjadi.
"Kalau itu sudah pasti dengan tubuhnya sendiri. Atom menyusun segalanya di dunia, jika bartender ingin uang maka atom hanya harus merubah dirinya menjadi uang." Jawab Naruto tanpa menunggu lama.
"Kau benar." Sesuai perkataannya tadi, Izuna lalu melemparkan seikat uang senilai 1000 dolar amerika kepada Naruto dan bisa ditangkap dengan sempurna oleh Naruto.
"Hm... giliranku ya..." Guman Naruto sambil menutup matanya untuk berkonsentrasi. Dia harus segera membuat sebuah teka-teki lalu mengakhiri game ini.
"Bagaimana kalau ini, jika malam mereka berjalan menggunakan Phi, jika siang mereka berjalan menggunakam Pi, jika mereka sakit maka akan menghasilkan googol, jika mereka berlari maka mereka dapat mencapai seper sepuluh kecepatan cahaya. Pertanyaannya adalah apa yang aku maksud?" Tanpa diduga Izuna sebelumnya, teka-teki yang dihasilkan Naruto dalam waktu sesingkat ini merupakan teka-teki yang sangat sulit sebab menggabungkan beberapa istilah.
Izuna yang awalnya berniat mengulur waktu untuk sang adik pun menyerah. Memangnya apa yang dimaksud Naruto jika hal itu berjalan maka akan menggunakan Phi (1, 618) dan Pi (3, 14). Belum lagi waktu sakit maka akan menghasilkan Googol (1 digit dengan 100 angka 0 di belakangnya)?
"Aku menyerah, Einstein. Kau menang kali ini. Tapi aku penasaran dengan jawabanmu." Setelah mengakui kekalahannya, Izuna bertanya jawaban teka-teki itu pada Naruto namun yang terjadi kemudian akan membuatnya malu seumur hidup. Bukannya menjawab rasa penasaran Izuna, Naruto malah melemparkan seikat uang senilai 1000 yen pada Izuna lalu setelah itu ia berjalan ke motornya kemudian mengendarainya lagi untuk melanjutkan perjalanan yang tertunda meninggalkan Izuna yang terlihat sangat marah akibat dibodohi oleh seorang pemegang gelar Einstein.
"Dia membodohiku. Dia melempar uang 1000 yen karena tidak bisa menjawab pertanyaanku tentang teka-teki yang dibuatnya sendiri, jadi sudah pasti jika teka-teki tadi hanyalah bualan belaka. Cih!" Harga diri Izuna sebagai keluarga Uchiha terasa diinjak-injak oleh Naruto karena dengan beraninya Naruto telah membodohinya.
Flashback off...
Mengingat kejadian tadi, entah kenapa sebuah senyum terukir di mulut Naruto. Kejadian itu juga yang menyebabkannya mendapat uang 1000 dolar amerika dengan mengorbankan 1000 yen saja.
Tanpa terasa, Naruto saat ini sudah mencapai di sebuah kuil yang berada di bukit kota Kuoh. Di depan kuil itu sudah terdapat orang asing yang memberi isyarat akan mengantarnya masuk. Tanpa basa-basi Naruto kemudian langsung turun dari motornya yang kala itu masih membawa sekardus barang-barang Naruko di belakangnya. Meski tadi Naruto menggeber motornya dengan kecepatan tinggi tapi nampaknya kardus itu tidak terlihat goyah sedikitpun.
Setelah masuk ke dalam kuil mengikuti orang asing tadi, Naruto lalu disuruh untuk masuk ke dalam sebuah ruangan kecil yang nampak seperti sebuah lift dan tanpa banyak bertanya lagi Naruto langsung menurutinya. Setelah Natuto masuk, benda itu tiba-tiba saja bergerak turun yang menandakan jika benda itu benar-benar sebuah lift.
'Jadi.. gamenya ada di bawah tanah? Mengejutkan." Batin Naruto yang saat itu menyadari jika game yang harus ia mainkan untuk menyelamatkan Sekai berada di bawah tanah. Setelah satu menit turun ke bawah tanah lift itu kemudian berhenti bergerak lalu pintunya terbuka dengan sendirinya menandakan jika Naruto telas sampai.
Saat Naruto keluar dari lift itu ia dikejutkan dengan terperangkapnya ia di dalam sebuah ruang berukuran 3x3 meter yang dibatasi oleh dinding transparan di keempat sisinya. Saat ia menengok ke atas saat lift dirasa telah naik cukup jauh ternyata bagian atas ruangan itu juga ditutupi oleh dinding transparan.
Itu artinya dia sedang berada di dalam sebuah game. Di lantai yang ada di samping kakinya juga terdapat sebuah tablet dengan layar yang telah menunjukkan sebuah map yang ia duga adalah map labirin yang menjebaknya ini. Di saat-saat ia tak berdaya seperti ini tiba-tiba terdengar sebuah suara yang berbicara kepadanya, hanya suara tanpa tubuh yang mengucapkannya.
"Yo! Kelihatannya kau sangat kebingungan Einstein. Mengecewakan." Kata sebuah suara misterius itu dengan nada orang kecewa. Saat ini Naruto tidak dapat memprediksi darimana arah suara ini karena dia dikejutkan dengan bayangan Sekai yang sedang tertidur dengan masih mengenakan pakaian lengkap + selimut di semua sisi kaca yang menjebaknya dan disamping Sekai terdapat tubuh seseorang yang ia kenali mirip sebagai pemegang gelar Enigma meringkuk memeluk kakinya.
"Apa yang kau lakukan pada mereka, BAJINGAN!" Teriak Naruto marah. Dia bukan hanya marah karena Sekai ada disana tetapi juga karena ada perempuan asing yang mirip dengan pemegang gelar Enigma ada di samping Sekai. Tapi saat Naruto melihat lengan perempuan itu, ia dikejutkan dengan sebuah gelang mirip gelang Orpheus yang melingkar disana. Itu menandakan jika perempuan itu adalah pemegang gelar Enigma.
"Jika kau ingin menyelamatkan mereka maka kau harus menyelesaikan gamenya. Jika kau tidak menyelesaikan game dan ingin pulang maka kau bisa menyerah sekarang juga, tapi bayi dan juga pemegang gelar Enigma itu akan mati karena sebentar lagi tempat ini akan hancur." Ucap suara orang asing itu memberi Naruto 2 pilihan yaitu menyelesaikan game atau pulang tanpa berurusan dengan game.
"Game apapun akan kuselesaikan." Jawab Naruto dingin mengucapkan pilihannya yang memilih berurusan dengan game tetapi dapat menyelamatkan nyawa Sekai dan Enigma. Kepalanya menunduk entah karena apa yang pasti sekarang Diadora yang telah memasang kamera tersembunyi di salah satu sisi atas kaca yang memerangkap Naruto tidak dapat melihat ekspresi pemegang gelar Einstein itu.
"Akan kuberitahu sebuah hal yang menarik. Kaca yang ada di sekitarmu itu bisa berubah menjadi dinding jika aku memberi panjang gelombang cahaya yang berbeda dari biasanya. Tugasmu adalah memilih jalan mana yang tersedia di tablet yang ada di samping kakimu. Di tablet itu terdapat gambar labirin dimana kaulah yang saat ini berada di dalam kotak hijau. Kau harus memprediksi dimana posisi bayi dan juga Enigma dengan memperhitungkan darimana arah cahaya datang. Jalan A atau jalan B, tinggal kau sebutkan saja nanti akan terbuka dengan sendirinya." Ucap suara orang misterius itu memberi tahu bagaimana cara Naruto keluar dari game ini bersama dengan Sekai dan Enigma. (Untuk gambar labirinnya lihat di blog wordpress saya yang bernama majikoitrilogy atau kalau tidak bisa membangun linknya silakan PM nih akun atau PM akun fb saya)
"Waktumu adalah 4 menit, 2 menit awal, kaca disampingmu akan berubah menjadi dinding sedangkan 2 menit akhir akan berubah menjadi kaca lagi. Jika dalam 2 menit dan kalian belum keluar maka ruangan yang kau tempati akan runtuh." Lanjut suara misterius itu. Lalu setelah itu dinding kaca yang semula ada di sekitar Naruto berubah menjadi mirip sebuah dinding beton dan itu menyebabkan tempat Naruto sekarang gelap gulita dan hanya diterangi oleh tablet yang Naruto pegang.
"4 menit dimulai dari, SEKARANG!" Lanjut suara itu (lagi).
Sementara itu Naruto yang sejak tadi menundukkan wajahnya kini mulai mengangkat wajahnya lagi dan menunjukkan mata kanannya yang telah berubah warna menjadi merah (meski udah merah tapi tambah merah lagi) wajahnya kali ini bisa terlihat meski hanya disinari oleh cahaya redup dari tablet yang ia pegang.
"Tenanglah Naruto, kau bisa memenangkan game ini jika kau tenang seperti biasanya." Kata Naruto pada dirinya sendiri. Memang benar jika hari ini dia tidak terlalu tenang seperti biasanya, mungkin karena sisa-sisa Jet Lag dan terlalu lelah karena belum istirahat sama sekali hari ini.
"Labirin ini terbentuk dari kumpulan garis miring 45 derajat. Jadi sudut pantulnya adalah 90 derajat (45x2). Posisiku saat ini adalah menghadap jalur B. Jika cahaya datang dari jalur B maka aku akan bisa melihat semua bayangan tadi, karena kaca berbeda dengan cermin yang memantulkan semuanya."
"Jika cahaya datang dari jalur B maka aku bisa melihat Sekai dan Enigma di setiap kaca yang ada di sekitarku setelah cahaya terpantul sekian kali pada kaca lain. Itu artinya jalur B cocok dengan perkiraan cahaya datang." Tidak mau lekas puas dengan jawabannya, Naruto kemudian memeriksa jalur A.
"Di jalur A juga sama, cahaya yang datang dari jalur A akan memantul sekian kali dan itu menyebabkanku dapat melihat semua bayangan tadi. Mana yang benar? Mana jalur yang benar?"
Tiba-tiba dinding beton yang memerangkap Naruto kini telah lenyap dan digantikan dengan kaca menandakan jika Naruto telah menghabiskan waktu 2 menit.
"A-apa? Semuanya sama, jalur A dan B sama-sama mungkin." Kaget Naruto kala melihat kembali bayangan Sekai dan Enigma di keempat sisinya.
"Pikirkan Naruto... pikirkan apa yang membedakan kedua jalur itu... atau kau, Enigma dan Sekai akan mati." Kali ini Naruto benar-benar kebingungan karena jalur A dan jalur B sama-sama bisa membuatnya melihat keempat bayangan Sekai dan Enigma di keempat sisinya.
Tapi... kebingungan itu sirna kala melihat ke lantai di bawah bayangan Sekai dari jalur A. Jika dipikir-pikir yang Naruto lihat selama ini keempat bayangan Sekai di keempat sisinya mempunyai jarak lantai yang berbeda-beda apalagi lantai ruangan ini dibuat berblok-blok.
"Itu dia! Jaraknya! Jika cahaya datang dari jalur B yang ada di depanku maka seharusnya aku melihat bayangan Sekai di depanku ini dengan jarak 11 blok lantai, di sebelah kiriku dengan jarak 13 blok lantai, di belakangku dengan jarak 11 blok lantai dan di samping kananku dengan jarak 11 blok lantai juga tetapi yang kulihat adalah depan 29 blok, kiri 19 blok, belakang 10 blok dan kanan 9 blok. Itu artinya cahaya datang dari arah jalur A bukan jalur B." Sepertinya Naruto sudah mendapatkan jawaban dari labirin ini.
"Jawabannya adalah... Jalur A!" Teriak Naruto meneriakkan jawabannya.
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
Chap 7: END!
A/N: hm... siapapun yang gak liat gambar labirin yang saya bikin di blog maka gak akan paham game kali ini. Hahaha... saya males kalo upload di facebook soalnya nanti ketindihan sama status-status saya yang masih labil. Disana juga ada kok game di seri sebelumnya.
Q: Enigma kok jadi sandera? Gimana ceritanya?
A: Tunggu chap depan.
Q: Apa Izuna pemegang gelar?
A: Hm... entahlah.
Q: Kok Izuna bilang Diadora itu Faker? Apa Diadora sebenarnya bukan pemegang gelar Aristoteles?
A: Gak seru kalo saya bocorin disini.
Sudah, mungkin itu saja pertanyaan yang bisa saya prediksi mengenai chap ini. Akhir kata saya pusing membuat game di chap ini.
Nano, Log Out
