Disclaimer : All Character belong to Masashi Kishimoto

Story by me terinspirasi dari 'Kdrama Big'. Beta reader MySister.

Tittle : Soulmate

Genre : Supernatural, Angst, Family, Romance.

Rate : T

Pairing : NaruSaku, MenmaHina.

Warning : AU, OOC, gaje, abal, ancur, minim deskriptif, typo(s), dll.

.

.

Summarry: Sejak kecil ia sangat menyukai buku bergambar itu. Buku dongeng berjudul 'Miracle' karya Uzumaki Kushina. Hidup di panti asuhan miskin yang kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah membuatnya berharap akan adanya suatu keajaiban. Namun apakah 'keajaiban' itu benar-benar ada?

.

Chapter 7 : You and I

.

.

'You, the angel in my life. You are my wings when I fall. And you are always by my side. The sadness I feel disappears because you are here.'—Namikaze Menma

oooOOSoulmateOOooo

.

.

.

Sepulang sekolah Sakura merasa bosan karena Naruto masih tidur tapi ia juga tidak tega kalau harus membangunkan Naruto hanya untuk mengajaknya mengobrol. Kushina-san masih belum datang karena sepertinya masih banyak yang harus diselesaikannya di rumah. Ia benar-benar tidak ada teman mengobrol. Akhirnya ia memutuskan untuk menjenguk Menma di ruangannya.

Berbeda dengan Naruto, Menma sedang menulis sesuatu di buku catatan, entah apa yang sedang ia tulis. Sakura juga tidak melihat seorang pun selain Menma… sepertinya Minato-san belum pulang kerja. Ia berpikir apa Menma tidak merasa bosan sendirian?

'Benar juga… mungkin dia sudah terbiasa.' pikir Sakura yang kemudian menyapa Menma yang sepertinya belum menyadari keberadaannya.

"Menma-kun…."

"Sakura-san? Gomen aku tidak tahu ada kau."

"Kelihatannya kau serius sekali. Aku jadi penasaran dengan apa yang sedang kau tulis."

"Bukan apa-apa. Aku hanya menulis rencana kencan bersama Hinata-chan." jawab Menma sedikit tersipu.

"Kau sudah merasa baikan?"

"Lumayan… walaupun pinggangku masih terasa agak sakit sih."

"Aku senang sekali karena operasinya berhasil."

"Hn."

"Kapan operasi selanjutnya?"

"Entahlah mungkin dua minggu lagi."

"Operasi selanjutnya mungkin akan lebih menyakitkan… Apa kau sudah siap mental?"

"Belum makanya minggu depan aku berencana untuk pergi liburan bersama Hinata-chan."

"Liburan kemana?"

"Pulau Hokkaido…."

"Hokkaido katamu?"

"Hn."

"Mmm… rencananya kalian mau pergi kemana saja?"

"Sapporo… sebenarnya kami ingin melihat snow diamond di pegunungan."

"Snow diamond, ya? Aku juga ingin sekali melihatnya."

"Ya, tapi berhubung ini bukan musim dingin… kami tidak mungkin bisa melihatnya. Jadi kami mau jalan-jalan di Taman Odori saja. Hinata-chan juga katanya mau melihat Clock Tower Building. Ya, mungkin kami juga akan mengunjungi museum sebentar."

"Begitu? Taman Odori berhiaskan bunga-bunga cantik… Hinata pasti akan senang. Dia sangat menyukai bunga, kan?"

"Hn. Oh ya, apa kau mau ikut Sakura-san?"

"Bagaimana ya? Aku harus bertanya pada Naruto dulu… apa dia mau menemaniku atau tidak. Yah, itu juga kalau dokter mengijinkannya pergi."

"Kalau Nerro tidak boleh ikut… kita pergi bertiga saja."

"Tidak mau ah! Aku tidak mau mengganggu kencan kalian! Setelah ke Sapporo kalian mau pergi ke mana lagi?"

"Mungkin pergi ke ke Asahikawa dan berkunjung ke Furano untuk melihat padang bunga lavender. Esoknya pergike Shikotsu untuk melihat danau kaldera yang Indah. Lalu hari berikutnya kami akan pergi ke Hakodate dan jalan-jalan ke pasar pagi."

"…." Sakura sweatdrop.

"Sebenarnya aku juga ingin mengajaknya ke Kushiro. Disana aku dan Hinata-chan bisa melihat pemandangan alam yang masih murni dengan danau-danau sebening kristal tapi karena kami hanya akan berlibur selama beberapa hari saja, kurasa itu tidak akan sempat. Yah, tapi sebelum pergi ke Hokaido aku akan mengajak Hinata ke menara Tokyo dan membelikannya couple ring."

"Kenapa jadi kayak shojou manga begini sih?"

"Memang kenapa? Itu kencan yang menyenangkan!"

"Kau mendapatkan ide itu dari mana?"

"Dari buku diary-nya Hinata-chan."

Sakura semakin sweatdrop.

"Berhubung kami tidak bisa pergi ke luar negeri karena sudah pasti tidak akan mendapatkan izin… aku akan mengganti Namsan Tower dengan menara Tokyo. Sepulangnya dari sana aku akan mengajaknya candle light dinner di sebuah restoran. Lalu soal memasang gembok cinta akan kuganti dengan kalung."

"Eh? Kalung?"

"Ya, kalung dengan liontin berbentuk gembok cinta."

"Seleramu buruk sekali…" komentar Sakura sambil mengerutkan kening.

"Memang kalau gadis seperti kalian suka diberi kalung dengan liontin seperti apa?"

"Tergantung orangnya sih. Kalau aku lebih suka kalung berbentuk matahari." jawabnya dengan wajah bersemu merah.

"Kenapa?"

"Itu karena bagiku Naruto adalah langit jadi aku ingin menjadi bagian dari langit itu sendiri."

"Hah? Karena itu kau lebih suka liontin berbentuk matahari?"

"Ya. Matahari kan salah satu unsur langit. Matahari juga merupakan bintang yang paling terang."

"Kenapa tidak kalung berbentuk bintang saja? Kalau yang aku lihat di film-film, biasanya para wanita lebih suka liontin berbentuk bintang?"

"Ya, meskipun aku suka bintang… aku lebih suka matahari."

"Kenapa?"

"…karena bagiku Naruto adalah langit siang dan Matahari hanya muncul di siang hari. Kalau aku lebih suka bintang yang hanya bisa terlihat di malam hari bisa-bisa Ino mengira aku menyukai Sasuke-kun. Sasuke-kun kan seperti langit malam."

"Hahaha…"

"Kenapa malah tertawa? Memangnya itu hal yang lucu?" ujar Sakura sambil menggembungkan pipi.

"Tidak tapi yang lucu itu kau. Aku tak menyangka kau lebih menyukai Naruto daripada Sasuke padahal hampir semua siswi di sekolah kami tergila-gila pada Sasuke."

"Itu karena aku lebih dulu bertemu dengan Naruto daripada Sasuke-kun. Sejak masih kecil kami berdua sudah tinggal di panti asuhan yang sama. Jika aku lebih dulu bertemu dengan Sasuke-kun mungkin akan lain ceritanya."

"Kalau kau lebih suka kalung dengan liontin berbentuk matahari… kenapa kau selalu memakai kalung itu?" tanya Menma sambil menunjuk kalung yang dikenakan Sakura. Sakura pun menunduk sambil memegang kalungnya.

"Oh ini… pendant berbentuk bunga sakura ini adalah hadiah ulang tahun dari orang tuaku. Hanya ini satu-satunya peninggalan mereka yang aku punya."

"Souka…"

"Um, cantik bukan? Sebelum rumah kami dirampok, kalung ini sudah terpasang dileherku."

"Ya, sangat cantik."

Sakura tersenyum. Ia berjanji tidak akan pernah membiarkan kalung itu hilang karena kalung itu menyimpan banyak sekali kenangan. Baginya kalung itu adalah benda yang sangat berharga.

"Oh ya, hari ini Hinata tidak datang?"

"Ya. Mungkin dia ada urusan lain."

Sakura mengangguk.

"Ne… Sakura-san! Boleh aku minta bantuanmu?"

"Tentu. Apa yang bisa kubantu."

"Aku ingin mempelajari beberapa teknik dasar sulap karena aku ingin menyiapkan sebuah kejutan untuk Hinata-chan. Bisakah kau mencarikan buku tentang sulap dan membelikannya untukku."

"Memang ada buku seperti itu? Bukankah trik-trik sulap itu adalah sebuah rahasia yang tidak boleh dibongkar karena termasuk melanggar aturan dalam dunia magician?"

"Kalau hanya tentang trik-trik dasar sulap pasti ada. Itu kan tidak merugikan. Sebenarnya aku ingin mencari sendiri karena aku tidak mau merepotkan orang lain tapi dokter belum mengijinkanku pulang… sementara aku butuh waktu untuk mempelajari semua itu."

"Baiklah akan kubelikan untukmu tapi sekarang sudah sore jadi besok saja ya?"

"Ha'i. Arigatou Sakura-san."

"Tidak perlu berterimakasih. Aku juga mau sekalian membeli beberapa manga untuk Naruto biar dia tidak merasa bosan." kata Sakura sambil tersenyum.

.

.

.

Hinata sangat bahagia hari ini karena ia bisa kencan bersama Menma lagi. Sekarang mereka berdua sudah naik ke menara Tokyo dan melihat pemandangan malam kota Tokyo dari sana.

"Maaf ya karena tidak mendapatkan izin untuk pergi ke Korea aku terpaksa mengganti Namsan Tower dengan Menara Tokyo." kata Menma.

"Tidak apa-apa Menma-kun. Bagiku ini hari yang menyenangkan karena aku bisa berkencan denganmu lagi."

"Aku ikut senang kalau begitu. Oh ya, Hinata-chan pejamkan matamu!"

"Untuk apa?"

"Pejamkan saja, nanti kau akan segera tahu dan jangan buka matamu sebelum kusuruh, ya?!"

Hinata mengangguk. Ia kemudian memejamkan kedua matanya. Setelah beberapa detik berlalu, ia merasakan sesuatu yang dingin di lehernya. Lalu ia merasakan Menma menyentuh tangannya dan memasang sesuatu dijarinya.

"Sekarang kau boleh membuka matamu!"

Hinata membuka matanya… untuk sesaat ia nampak terkejut lalu semburat merah langsung menghiasi wajahnya saat Menma tersenyum padanya sambil memperlihatkan sesuatu yang sudah terpasang di jarinya. Sebuah cincin. Hinata kemudian mengalihkan pandangnnya pada tangannya sendiri. Cincin dengan desain yang sama juga terpasang dijarinya. Wajah Hinata semakin memerah, ia tidak menyangka kalau Menma benar-benar membeli couple ring. Lalu ia memperhatikan benda lainnya. Sebuah kalung platina dengan liontin berbentuk gembok dengan tanda hati ditengahnya.

"Anggap saja itu gembok cinta kita…" kata Menma tersipu.

"Hahaha, Menma-kun, kau ada-ada saja! Tapi Terimakasih aku akan menjaga kalung ini baik-baik."

Melihat Hinata tertawa wajah Menma malah semakin memerah dan jantungnya semakin berdegup kencang. Nampaknya Hinata sudah berhasil membuatnya jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya.

Setelah puas menjelajahi menara Tokyo, Menma mengajak Hinata ke sebuah restoran. Hinata dibuat terkejut untuk yang kesekian kalinya... Rupanya Menma sudah menyiapkan candle light dinner ini dari jauh-jauh hari. Mereka pun mulai memesan makanan dan minuman. Suasana di restoran tersebut benar-benar romantis, Hinata sampai tidak bisa bernafas untuk sesaat karena jantungnya terus berdebar kencang. Ia merasa pipinya memanas karena begitu Menma menyentikkan jarinya, sekelompok pemusik langsung memainkan musik yang sangat romantis untuk mereka. Hinata merasa menjadi gadis yang paling bahagia di dunia.

Lalu Menma membuatnya terkesan untuk yang kesekian kalinya. Entah bagaimana caranya, Menma memunculkan setangkai mawar putih dari tangannya dan yang paling membuat Hinata terkejut adalah… beberapa detik kemudian mawar itu bertambah jumlahnya menjadi tiga dan dibagian tangkainya melingkar sesuatu. Sebuah cincin berlian yang desainnya simple namun tampak elegant.

"Ini adalah cincin pertunangan kita… Terimalah!" kata Menma tersenyum sambil menyodorkan bunga tersebut pada Hinata.

Hinata ingin menangis rasanya. Tangisan bahagia. Dalam hitungan menit air matanya tidak bisa ia tahan lagi. Ia benar-benar bahagia karena Menma baru saja melamarnya. Degup jantungnya semakin kencang dan ia yakin ia pasti sedang blushing sekarang dan dengan tangan yang agak gemetar, Hinata pun menerima bunga tersebut. Ia memandang cincin di telapak tangannya untuk sesaat hingga akhirnya Menma meraih tangannya lalu memasangkan cincin tersebut di jari manisnya.

"Arigatou gozaimasu, Menma-kun." kata Hinata pula.

Menma mengangguk lalu ia mencondongkan tubuhnya pada Hinata. Hinata memejamkan matanya dan beberapa detik kemudian ia merasakan Menma mencium bibirnya dengan lembut. Air mata Hinata kembali berjatuhan. Hinata pun membalas ciuman tersebut hingga ciuman mereka semakin dalam. Hinata merasa seperti melayang ke angkasa. Tidak pernah ia merasa sebahagia ini sebelumnya.

"Aishiteru yo, Hinata-chan." bisik Menma setelah ia mengakhiri ciuman mereka.

"Aishiteru mou…" balas Hinata sambil tersenyum.

oooOOSoulmateOOooo

.

.

.

Sakura senang karena ia bisa ikut ke Hokaido. Syukurlah Naruto diijinkan pergi oleh dokter dan juga kedua orang tuanya. Sekarang mereka berempat sedang berada di dalam pesawat. Hinata tertidur sambil menyenderkan kepalanya di pundak Menma. Mereka saling bergenggaman tangan. Menma terus tersenyum sambil mengamati wajah polos Hinata saat sedang tidur. Sakura jadi merasa iri.

"Mereka so sweet…" kata Sakura sambil terus memperhatikan mereka. Tempat duduk mereka berempat memang bersebrangan. Hinata duduk di dekat jendela sama seperti Naruto.

"Menurutku itu biasa-biasa saja…" komentar Naruto yang langsung bergidik karena Sakura melayangkan death glare padanya.

"Mananya yang biasa menurutmu?" tanya Sakura dengan penuh penekanan.

"Y-ya be-begitu…" jawab Naruto gugup.

"Kalau begitu menurutmu yang so sweet itu bagaimana?"

"Seperti ini…" kata Naruto yang langsung mengecup bibir Sakura.

Sakura terbengong-bengong untuk sesaat dan ia mulai blushing. Biarpun itu hanya sebuah kecupan singkat tapi terasa manis.

"Hahahaha, manis bukan? Tentu saja manis aku kan baru memakan permen kiss rasa strawberry."

"BAKA NARUTO!" teriak Sakura sambil menjitak kepala Naruto.

"Itaaii... kenapa kau malah memukulku?" kata Naruto sambil mengelus-ngelus kepalanya.

"Salahmu karena sudah merusak suasana!" ujar Sakura sambil memalingkan wajahnya.

Menma yang perhatiannya teralihkan karena teriakan Sakura tadi sampai tidak bisa menahan tawanya karena kekonyolan NaruSaku. Hinata yang juga terbangun karena teriakan Sakura tadi juga tidak tahan untuk ikut tertawa. Sementara Naruto pundung dipojokan.

.

.

Mereka berempat akhirnya sampai di Sapporo dan segera pergi dengan Taxi menuju sebuah hotel untuk menginap. Mereka menyewa dua buah kamar. Sakura sekamar dengan Hinata. Naruto sedikit kecewa karena sebenarnya ia ingin sekamar dengan Sakura tapi itu kan tidak mungkin. Mereka masih dibawah umur dan belum menikah.

"Sakura-chan, kenapa bukan kita saja yang satu kamar?" bisik Naruto.

"Itu tidak mungkin! Hinata kan orangnya pemalu, mana mau dia sekamar dengan Menma-kun!"

"Kalau kau bagaimana? Kau mau tidak sekamar denganku?"

"Ya, kalau aku sih mau-mau saja toh kau tidak akan berani macam-macam denganku... kau kan sakit!" kata Sakura dengan wajah memerah.

"Meskipun aku sakit aku bisa melakukan itu denganmu. Itu tidak akan membuatku lelah justru aku akan melakukannya dengan penuh semangat."

"Sudah diam! Dasar mesum!"

"Yah, andai aku sudah kembali ke tubuhku sendiri… kita pasti bisa melakukan itu sampai pagi."

"KUBILANG DIAM NARUTO BAKA!" teriak Sakura yang langsung meminta maaf sambil membungkuk-bungkuk karena baru tersadar kalau bisikkannya tadi sudah berubah menjadi teriakan dan memancing perhatian orang-orang disekitar mereka.

"Sakura-san, apa yang kau lakukan, kita masih di depan resepsionis?" bisik Hinata.

"Iya, maaf Hinata… aku kelepasan, hehehe."

"Nerro apa yang kau katakan pada Sakura-san sampai dia marah begitu?"

"Bukan apa-apa." jawab Naruto innocent.

"Ini kuncinya, tuan muda!" kata seorang resepsionis.

"Arigatou..." sambung Menma sambil mengambil dua buah kunci tersebut. Menma kemudian menyerahkan salah satu kunci pada Hinata. Lalu mereka berempat pun segera pergi menuju lift.

Sesampainya di kamar, Sakura langsung membaringkan tubuhnya ke kasur king size itu… sepertinya ia mengalami jet lag atau mungkin kepalanya jadi pusing gara-gara tingkah Naruto yang mesum. Sementara Hinata langsung merapikan barang-barang bawaannya. Di kamar sebelah, Naruto melakukan hal yang sama dengan Sakura.

"Kau baik-baik saja?" tanya Menma sambil duduk di ranjang.

"Ha'i. Kau tidak perlu memasang wajah cemas begitu, onii-chan… aku hanya sedikit lelah."

"Aku tahu kalau sebenarnya dokter dan Okaa-san tidak mengijinkanmu pergi, kan?"

"EH? Kau tau darimana?"

"Itu yang sering mereka lakukan padaku tapi aku yakin kau pasti memaksa mereka sampai akhirnya mereka menyerah dan memperbolehkanmu ikut dengan kami…"

"Ralat! Bukan memaksa tapi membujuk!"

"Sama saja menurutku."

"Yah, mereka memang menyebalkan… hanya Otou-san yang pengertian dan memperbolehkanku untuk ikut."

"Aku yakin sejak tadi Okaa-san pasti berusaha menghubungi kita." kata Menma seraya menyalakan ponselnya. Benar saja dugaannya, begitu ia menyalakan ponsel… langsung muncul beberapa pesan masuk dari ibu mereka. Menma tertawa kecil, ibunya tidak pernah berubah. Ia pun langsung membalas semua email masuk tersebut.

"Hebat sekali kau… baru saja menyalakan ponsel, ponselmu langsung berbunyi."

"Bukan cuma aku. Aku yakin kau juga sama. Semuanya email dari Okaa-san, memintaku memperhatikanmu dan lain sebagainya."

Naruto pun menyalakan ponselnya dan ternyata yang dikatakan Menma benar. Hampir semua pesan itu mengatakan, 'Naru-chan, apa kalian sudah sampai? Apa kau baik-baik saja? Kalau ada apa-apa lekas hubungi kami, ya! Jangan lupa minum obat tepat waktu!'

"Hhhh… berlebihan sekali. Kita kan hanya liburan ke Hokaido bukan ke luar negeri. Jangan-jangan saat kami berlibur ke Okinawa, Okaa-san juga cerewet pada Sakura-chan?"

"Itu sudah pasti!" jawab Menma, tiba-tiba saja Naruto tersadar dan langsung bangkit dari posisi berbaringnya.

"Eh, sebentar… kenapa Okaa-san memanggilku Naru-chan?"

"Aku sudah menceritakan semuanya pada mereka."

"Maksudmu mengenai tubuh kita yang tertukar?"

"Hn."

"Kapan?"

"Saat aku tersadar dari pengaruh obat bius setelah operasi, mereka berdua sudah ada di sisiku untuk berterimakasih. Lalu kubilang seharusnya mereka berterimakasih padamu bukan padaku. Tentu saja mereka bingung."

"…"

"Saat itu juga aku langsung menceritakan semuanya. Awalnya Otou-san tidak percaya. Dia memang tidak mempercayai hal-hal yang tidak logis. Sebaliknya Okaa-san mempercayai hal-hal seperti itu. Buktinya di dunia ini ada orang-orang yang mempunyai indra keenam dan memiliki kekuatan istimewa, begitu katanya."

"—karena itu dia menyukai cerita fantasy dan menulis buku miracle?"

"Hn. Itulah kekuasaan Kami-sama, begitu katanya."

"Pantas saat aku membuka mata, orang yang pertama kali kulihat adalah Okaa-san dan dia langsung memelukku sambil menangis."

"…"

"Kau memang malaikat kecilku, terimakasih banyak, begitu katanya."

"Bagiku kau juga adalah malaikat dalam hidupku. Kaulah sayapku ketika aku terjatuh. Dan kau selalu disisiku. Kesedihanku pun akan terasa hilang karena kau ada disini."

"Onii-chan…" gumam Naruto. Matanya mulai berkaca-kaca.

"—karena itulah tidak peduli apapun yang akan terjadi, bahkan ketika langit runtuh… aku berjanji bahwa aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lagi. Kau itu lah semua yang kubutuhkan karena itulah kumohon bertahanlah. Bertahanlah sampai kita bisa kembali seperti dulu." kata Menma dengan mata berkaca-kaca. Akhirnya air mata menetes di pipi Naruto.

"Maafkan aku… harusnya kau tidak pernah mengalami rasa sakit yang kurasakan."

Naruto menghapus air matanya. Ia kemudian memeluk Menma.

"Kau ini… kenapa kau selalu merasa bersalah padaku? Sudah kubilang aku tidak apa-apa lagipula aku yakin semuanya akan berhasil walau bagaimana pun. Operasi berikutnya pasti akan berjalan lancar. Kalaupun operasi itu gagal, kau harus percaya kalau aku bahagia."

"Nande?"

"Soalnya senyum hangat onii-chan menunjukkan bahwa betapa aku sangat berarti bagimu daripada apapun."

"Nerro…"

"Ngomong-ngomong, kenapa Okaa-san dan Otou-san tidak bilang padaku kalau mereka sudah tau semuanya?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan.

"Itu karena bagi mereka kita berdua sama saja, sama-sama darah daging mereka…jadi tidak ada bedanya."

Naruto melepas pelukkannya untuk bisa melihat ke dalam mata Menma.

"—tapi sama seperti kita, mereka juga berharap kita berdua bisa segera kembali ke tubuh kita masing-masing."

"Lupakan saja! Bisa tidaknya kita kembali… aku sudah tidak peduli."

"Nerro tapi—"

"Aku tidak akan pernah menyerah! Aku pasti akan sembuh… percayalah!" kata Naruto sambil tersenyum.

"Ya sudah, aku mau mandi dulu!" kata Menma yang kemudian segera mengambil handuknya dan lekas masuk ke kamar mandi.

"Hey, onii-chan! Kau benar-benar akan mandi, kan? Bukannya menangis sendirian di kamar mandi?"

"Urusai! Tentu saja aku akan mandi!" teriak Menma sebelum menyalakan keran air.

'Tidak ada gunanya bohong padaku, baka onii-chan. Aku tahu kau masih mengkhawatikanku karena meskipun aku sudah melakukan operasi pencangkokkan ginjal… penyakit ini masih bersarang di tubuhmu tapi tak masalah, aku pasti akan menanggung semuanya sampai akhir. Aku senang bisa menggantikanmu.'

Naruto memegang dadanya. Ia bisa merasakan perasaan sesak itu, 'Sudah kuduga… kau jelas-jelas menangis di dalam sana. Jangan kau pikir aku tidak bisa merasakan kesedihanmu baka onii-chan!'

oooOOSoulmateOOooo

.

.

.

Taman Odori memang tempat yang indah. Hinata senang sekali hari ini. Ia tersenyum pada Menma yang masih mengenggam tangannya.

'Kau dan aku…bisakah kita terus bersama-sama seperti ini selamanya?'

"Ah, tunggu sebentar!" kata Menma saat ia melihat toko bunga.

"Ada apa Menma-kun?" tanya Hinata bingung karena Menma tiba-tiba saja berhenti berjalan.

"Aku akan segera kembali, tunggu sebentar!" sambung Menma yang kemudian berlari menuju toko bunga.

"Maaf Sakura-chan… kau juga tunggu disini sebentar, ya!" kata Naruto yang kemudian berlari menyusul Menma.

"Ada apa dengannya?" kata Hinata dan Sakura serentak.

"Ne… Hinata, kau pasti bahagia hari ini?"

"Tentu saja dan aku harap Menma dan aku bisa terus bersama selamanya."

"Kalian pasti akan selalu bersama. Aku yakin operasi berikutnya juga pasti akan berhasil."

"Ha'i… aku juga merasa yakin akan hal itu." kata Hinata sambil tersenyum.

Selang sepuluh menit kemudian Menma kembali dengan Naruto di belakangnya. Menma tersenyum sambil menyodorkan sebuket bunga mawar merah pada Hinata.

"Untukmu! Kau pasti tahu bahasa bunganya red rose, kan?"

Hinata mengangguk dengan wajah bersemu merah, "Umm… I Love You. Arigatou Menma-kun!"

Sakura yang melihat pemandangan itu cemberut. Ia bisa melihat kebahagiaan di mata Hinata. Kini Hinata menerima buket bunga itu dari tangan Menma lalu mencium aromanya.

"So sweet… dibanding dengan Menma-kun, Naruto itu—" Sakura memandang Naruto yang menurutnya tidak ada romantisnya sama sekali.

'Tunggu sebentar, apa yang dia sembunyikan di belakang tubuhnya itu?' pikir Sakura sambil memperhatikan tingkah aneh Naruto yang menyembunyikan tangan kirinya dibalik punggung.

"Ano.. Sakura-chan! Aku memang sama sekali tidak mengerti bahasa bunga tapi—"

Naruto menyodorkan sebuket bunga baby breath yang tadi ia sembunyikan dibalik punggunngya.

"Sakura-chan, kau lindungilah bunga ini. Dan aku akan melindungi Sakura-chan yang sudah melindungi bunga ini." lanjut Naruto sambil tersenyum. Sakura pun menerima bunga itu sambil menatap Naruto dengan pandangan heran.

"Naruto kau habis makan apa?"

"Sakura-chan kau jahat sekali…." protes Naruto padahal sejak tadi jantungnya terus berdebar-debar karena ia takut Sakura tidak akan menyukai bunga yang akan ia berikan.

"Bunga ini pilihanmu sendiri, kan? Bukan saran dari Menma-kun?"

"Kau pasti bisa menebaknya sendiri Sakura-san. Aku tadi sudah menyarankannya untuk memberimu 99 red rose tapi dia menolak saranku. Nerro benar-benar seperti bunga itu, bukan?" sambung Menma.

Sakura tersenyum. Makna bunga baby breath adalah innocent dan Naruto memang seperti bunga itu. Sakura kemudian mengecup pipi Naruto. Tentu saja ia menyukai bunga pemberian Naruto ini karena baby breath juga dilambangkan sebagai simbol cinta sejati dan kepolosan.

"Arigatou. Aku pasti akan melindungi bunga ini… Dan Naruto kau harus menepati janjimu untuk melidungiku, jadi kau tidak boleh meninggalkanku!" kata Sakura blushing.

"Aku pasti tidak akan pernah meninggalkanmu, Sakura-chan!" sahut Naruto sambil tersenyum.

'Ya, kau tidak boleh kalah dari penyakit itu! Aku sudah tidak masalah walaupun kau harus terjebak dalam tubuh Menma-kun selamanya… yang terpenting kau harus sembuh total.'

"Minna, ayo kita mengunjungi museum agar bisa milihat Clock Tower Building dari dekat!" ajak Hinata.

Sakura, Naruto dan Menma pun mengangguk. Lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka. Sekali-kali mereka berempat berfoto bersama dengan Clock Tower Building menjadi backrgound-nya.

Bagi Hinata Hokkaido adalah surganya alam. Pemandangannya sangat indah. Mereka bisa menikmati seluruh negeri yang luas ini hingga puas — pegunungan, dataran tinggi, sungai, danau, laut, dan langit birunya.

Sapporo merupakan pintu gerbang udara ke Hokkaido dari Tokyo dan Osaka dan merupakan pusat budaya, ekonomi dan politik pulau ini. Kota ini ditandai dengan jalan-jalan yang tertata rapi seperti papan catur. Jalan raya di kota ini merupakan Taman Odori yang berhiaskan bunga-bunga, tempat Festival Salju Sapporo yang terkenal di dunia yang menyedot banyak penonton setiap bulan Februari. Monumen bersejarah Sapporo yaitu, Clock Tower Building (Menara Jam) menyatu dengan sebuah museum yang memarkerkan sejarah kota ini. Resort sumber air panas populer Jozankei Spa dapat dicapai dengan perjalanan yang hanya sebentar dari Sapporo. Ini juga menjadi tempat bersantai yang populer bagi para pengunjung.

Setelah puas menjelajahi kota Sapporo, mereka menaiki bus dari Sapporo untuk mengunjungi Danau Shikotsu. Setelah melewati perjalanan sekitar 1 jam 20 menit, mereka akhirnya tiba di Danau. Danau Shikotsu adalah danau kaldera yang indah yang berada di antara tebing-tebing yang menjulang. Airnya berwarna biru tua dan tidak pernah membeku.

Danau Kaldera Toya yang bundar merupakan tempat wisata lainnya di sini. Empat pulau berhutan lebat yang dijuluki kepulauan Nakonoshima mempercantik bagian tengah danau.

Mereka berempat tampak terkagum-kagum dengan keindahan alamnya. Sekalian berpiknik, mereka menikmati pemandangan alam tersebut hingga sore hari.

.

Keesokan harinya mereka berempat pergi ke Asahikawa yang berada di Hokkaido tengah. Asahikawa dapat dicapai dalam waktu 1 jam 30 menit menggunakan kereta api ekspres terbatas dari Sapporo. Perjalanan 1 jam lagi membawa mereka ke Furano yang populer dengan padang bunga lavendernya pada awal musim panas seperti ini. Padang luas menghampar dan bergelombang terbentuk dari kumpulan bunga-bunga cantik, yaitu; bunga narsis, lavender dan cosmos.

Mengendarai mobil melewati padang bunga di Furano yang luar biasa indah ini sangat populer dikalangan pengunjung di semua generasi dan benar-benar sebuah pengalaman yang tak terlupakan.

Setelah puas dengan perjalan mereka, mereka berempat pun kembali ke Sapporo. Hari sudah mulai gelap saat mereka kembali ke Hotel tempat mereka menginap.

.

.

Pukul 04.00 pagi Hinata sudah terbangun dari tidur nyenyaknya semalam. Hari ini ia dan Menma berencana akan pergi ke Hakodate. Hakodate sendiri dapat dicapai dengan kereta api dari Aomori, merupakan tempat wisata Hokkaido yang populer lainnya.

Hakodate merupakan kota pelabuhan yang terkenal dengan pemandangan malamnya yang sangat indah. Benteng Goryokaku yang berbentuk bintang merupakan obyek wisata utama kota ini bersama dengan gunung Hakodate yang indah. Yang patut dikunjungi disini adalah pasar pagi dengan pembeli dan pengunjung yang mengerumuni lebih dari 360 toko-toko kecil dan warung-warung yang penuh dengan ikan dan sayuran segar. Menyaksikan hiruk-pikuknya pasar itu sendiri sudah menjadi obyek wisata yang menarik.

Hinata pun segera pergi ke kamar mandi untuk membersihakan tubuhnya. Hari ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikannya. Ia berencana untuk membeli oleh-oleh sea food segar dari Hakodate mengingat besok mereka akan segera pulang ke Tokyo.

.

"Kenapa pagi-pagi begini kau sudah mimisan seperti ini?" kata Menma sambil menyumpal lubang hidung Naruto dengan kapas untuk menghentikan pendarahan.

"Onii-chan, lebih baik kau bersihkan darah di hidungmu sendiri… tidak usah pedulikan aku."

"Pendarahanku tidak sebanyak dirimu. Kau pikir karena siapa aku jadi ikutan mimisan begini? Jangan begerak dan tegakkan kepalamu!" kata Menma masih sibuk mengurusi Naruto. Setelah pendarahan dari hidung Naruto benar-benar berhenti, barulah ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan darah di antara hidung dan mulutnya sendiri yang sudah mulai mengering.

"Sebaiknya kita pergi ke rumah sakit!" kata Menma setelah keluar dari kamar mandi. Ia melihat Naruto yang tadinya masih duduk di atas ranjang kini sudah berbaring di kasur sambil meringis kesakitan.

"Tidak mau!"

"Jangan seperti ini, wajahmu sangat pucat tahu!" kata Menma cemas.

"Kubilang tidak mau! Lagipula kenapa kau masih disini, onii-chan? Bukankah kau sudah berjanji pada Hinata-chan untuk pergi ke Hakodate?"

"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam kedaan sakit seperti ini!"

"Aku tidak apa-apa. Kurasa aku hanya kelelahan karena perjalanan kemarin."

"Apanya yang tidak apa-apa? Jelas-jelas kau terlihat menderita karena kesakitan. Aku yakin sekarang ini seluruh persendian tubuhmu pasti sakit!"

"Ya, badanku memang sakit semua tapi aku tidak mau pergi ke rumah sakit!"

"Keras kepala! Akan kupanggilkan ambulance…"

"Onii-chan…" rengek Naruto.

Menma menghela nafas panjang, 'Dia benar-benar mirip sekali denganku.'

"Baiklah akan kupanggilkan dokter saja!" kata Menma yang kemudian mengambilkan kotak obat dari dalam kulkas mini. Ia pun menyiapkan obat-obatan tersebut untuk Naruto.

"Sebaiknya kau minum obat!" lanjutnya sambil menyodorkan pil-pil itu pada Naruto.

Naruto menerima pil-pil itu dan langsung meminum semuanya. Ia kemudian mengambil segelas air mineral di atas meja dan menghabiskannya dalam sekali tegukkan. Sementara Menma langsung menghubungi resepsionis untuk meminta mereka memanggilkan seorang dokter. Naruto kembali meringis. Badannya benar-benar terasa sangat sakit dan ia merasa lemas.

"Brengsek! Aku tidak akan kalah darimu!" kata Naruto. Tiba-tiba ia terbatuk dan memuntahkan darah segar, "Uhuk! Argghh, sial…" lanjutnya yang kemudian memperhatikan noda darah di telapak tangannya.

Menma yang sudah selesai menelepon resepsionis kembali mengalihkan perhatiannya pada Naruto dan ia terlihat sangat panik saat melihat noda darah disekitar mulut adiknya itu.

"Nerro, kau yakin tidak mau ke rumah sakit?"

"Iie…"

Menma mengagguk mengerti lalu lekas pergi ke kamar mandi untuk mengambil air. Selesai mengambil air, ia mencari handuk kecil di dalam tasnya lalu membasahinya. Handuk basah itu kemudian ia gunakan untuk membersihkan noda darah di wajah Naruto dan juga di telapak tangannya.

"Kurasa aku harus membatalkan janjiku dengan Hinata."

"Jangan begitu! Kau harus menepati janjimu onii-chan!"

"Tidak aku—"

"Pergi saja dan percayalah kalau aku akan baik-baik saja."

"Nerro—"

"Kau tidak percaya padaku?"

"Bukan begitu... aku benar-benar tidak bisa pergi, Hinata juga pasti akan mengerti. Besok saja kami pergi kesananya… kurasa tak masalah kalaupun kita tidak pulang besok. Kau juga butuh istirahat."

"Maafkan aku… gara-gara aku kalian tidak jadi pergi hari ini."

"Iie. Kau tidak perlu minta maaf. Ini bukan salahmu…" kata Menma sambil tersenyum. Ia kemudian menghubungi Hinata dan menjelaskan semuanya.

Tidak lama kemudian dokter pun datang dan langsung memeriksa kondisi Naruto.

.

.

"Iya, tidak apa-apa."

"Ha'i. Aku mengerti, Menma-kun." kata Hinata. Setelah Menma memutuskan sambungan telepon mereka, Hinata pun meletakkan ponselnya di atas meja.

"Ada apa Hinata?" tanya Sakura.

"Menma-kun bilang kita tidak jadi pergi ke pasar pagi hari ini."

"Kenapa?"

"Ia tidak bisa meninggalkan Naruto-kun karena penyakitnya tiba-tiba kambuh."

"Apa?"
"Naruto-kun tidak mau ke rumah sakit tapi Menma-kun sudah menghubungi dokter, katanya kau tidak perlu khawatir, Sakura-san."

"Mana mungkin aku tidak khawatir, kan?"

"Nanti kita ke sana setelah sarapan, ya! Menma-kun bilang, dia tidak akan membiarkan kita masuk kalau kita belum sarapan. Nanti aku juga akan sekalian membelikannya makanan untuk sarapan."

"Baiklah..." kata Sakura. Ia kemudian mengambil handuk, "Kalau begitu aku mau mandi dulu." lanjutnya.

Hinata mengangguk. Setelah Sakura memasuki kamar mandi, Hinata memperhatikan telapak tangannya.

"ALL-mu pasti sembuh, Menma-kun! Bukankah dulu aku sudah membagi garis hidupku padamu?"

.

.

.

"Kau benar-benar sudah merasa baikan?" tanya Menma sambil melihat ke dalam mata Naruto untuk memastikan apakah Naruto akan berbohong lagi seperti kemarin atau tidak.

"Ya, aku baik-baik saja sekarang. Jadi hari ini kalian bisa pergi ke Hakodate dengan tenang."

"Hn. Kurasa kau berkata jujur."

"Ne… onii-chan, nanti kau jangan makan kepiting, ya!"

"Kenapa?"

"Soalnya aku alergei kepiting. Alergiku berbeda denganmu yang hanya terkena gejala-gejala gatal-gatal dan muncul bintik-bintik merah di kulit."

"Berbeda bagaimana maksudmu?"

"Ya, kalau aku tidak sengaja makan kepiting, biasanya aku sampai sesak nafas dan muntah-muntah."

"Hah! Separah itu? Ya, kau tenang saja aku tidak akan makan kepiting. Aku akan meminta Sakura-san untuk menjagamu hari ini. Kau sudah cukup kuat untuk kembali ke Tokyo besok, kan?"

"Ya, tentu saja."

"Baiklah. Jangan lupa minum obat tepat waktu… aku pergi dulu! Kalau ada apa-apa telepon saja aku!"

"Ha'i. Arigatou onii-chan."

"Kau tidak perlu berterimakasih padaku. Ingat, telepon aku kalau ada apa-apa!" kata Menma sambil menepuk bahu Naruto dan tersenyum. Naruto mengangguk dan balas tersenyum. Setelah itu Menma pun segera pergi untuk menjemput Hinata di kamar sebelah sekaligus meminta bantuan Sakura.

Sementara Menma dan Hinata pergi ke Hakodate, Sakura lekas pergi ke kamar Menma dan Naruto. Setibanya di kamar, Naruto langsung tersenyum kepadanya. Sakura balas tersenyum lalu duduk di atas ranjang. Ia merasa lega karena muka Naruto sudah tidak sepucat kemarin walaupun selang infus masih terpasang di lengannya.

"Sebaiknya kau berbaring Naruto!" katanya sambil memperhatikan posisi Naruto yang sedang duduk sambil menyandarkan punggungnya.

"Tidak mau, lebih enak begini." jawab Naruto.

"Bagaimana perasaanmu hari ini?"

"Seperti yang kau lihat, aku sudah baikan. Besok kita bisa segera pulang ke Tokyo."

"Kau yakin? Apa tubuhmu sudah cukup kuat untuk itu?"

"Jangan khawatir soal itu. Aku pasti sanggup."

"Baguslah!" kata Sakura sambil tersenyum.

"Sakura-chan, kenapa kau tidak ikut ke Hakodate?"

"Aku ingin menjagamu lagipula aku tidak mau menjadi kambing conge."

"Hahaha, benar juga."

"Ne…Naruto! Kau dan aku pasti akan selalu bersama, kan?"

"Entahlah Sakura-chan, kita kan tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan tapi seperti yang kubilang… aku pasti tidak akan pernah meninggalkanmu Sakura-chan. Sekalipun aku harus mati, aku akan selalu berada di sini." kata Naruto sambil menunjuk dada Sakura.

"Sudah kuduga kau akan berkata begitu… kau memang tidak romantis padahal aku mengharapkan jawaban yang lain darimu."

"Jawaban seperti apa maksudmu?"

"Ya, jawaban yang romantis, baka! 'Kau dan aku pasti akan selalu bersama. Aku pasti akan selalu berada di sisimu karena tak ada yang lebih berharga selain dirimu. Tak peduli apa yang terjadi di dunia ini, aku akan selalu memelukmu dalam pelukkanku karena kaulah satu-satunya gadis yang kucintai di dunia ini' seperti itu misalnya."

"Hahahaha. Gomen ne, Sakura-chan… terlalu gombal itu bukan gayaku."

"Iya aku tahu… aku yakin menurutmu itu pasti terdengar menjijikkan! Yah, aku hanya sedikit berharap. Memangnya tidak boleh?"

"Bukannya tidak boleh, Sakura-chan, kau hanya harus percaya bahwa aku akan selalu mencintaimu."

Sakura tersipu mendengar ucapan Naruto itu, "Benarkah? Seandainya kau bukan manusia melainkan robot atau vampire, apakah kau akan tetap mencintaiku?"

"Ya, tak peduli apakah aku robot atau vampire. Atau aku hanya jasad yang menunggu untuk di kuburkan, Sakura-chan aku mencintaimu."

"Naruto perkataanmu itu malah membuatku merinding tahu, tidak usah bawa-bawa jasad segala!" kata Sakura sambil memukul-mukul dada Naruto pelan.

"Hahaha, gomen… aku tidak bermaksud membuatmu takut."

"BAKA!" kata Sakura yang kemudian memeluk Naruto. "Aku juga sangat menyayangimu dan mencintaimu."

.

.

_TBC_

.

.

Hallo minna-san, kali ini saya langsung update dua chapter. Tadinya sih mau berakhir di chapter 7 aja, tapi rupanya kepanjangan… akhirnya saya bagi dua. Maaf ya karena telat update (lagi). Minna, mind to review? Review please and No Flame! Arigatou :D

.

.

Balasan Review yang Login and nggak Login:

Riela nacan: Lebih so sweet mana dengan MenmaHina? :D | Okay! Arigatou for read and review. ^^

Mifta cinya: Ini udah dilanjut. Arigatou for read and review. ^^

Ae Hatake: Kalau full angst sih nggak soalnya terus terang bikin fict angst itu susahnya minta ampun. Aku kan lebih biasa bikin fict hurt/comfort. Err… yang request minta dibikin ending yang sad-happy nih, gomen ne. Arigatou for read and review. ^^

Aftu-kun: Hahaha, kayaknya chap sebelumnya emang nggak ada angst-nya sama sekali. Baru nyadar setelah baca ulang dan namatin fict ini… gomen ne. Sebenarnya Aftu-kun, aku nggak ngerti seperti apa bromance itu? Dan aku emang lagi belajar bikin fict yg ada olesan humor atau comedy-nya biar bisa bikin fict romance-comedy gitu, tapi sampai sekarang belum bisa juga #authorpayah. Arigatou for read and review. ^^

Rikushiki: Fuh, syukurlah kalau alurnya lumayan jelas. Ha'i, ganbatte! Arigatou for read and review. ^^

Zee: Arigatou ne. Err...soal itu silakan baca aja chap berikutnya. Iya nih, akhirnya 'soulmate' tamat juga. Arigatou for read and review. ^^

Anon: Waa… arigatou! Maaf ya karena updatenya telat mulu :D | Nggak, ini udah mau ending, kok. Arigatou for read and review. ^^

Blossom-Hime: Arigatou. Nih udah update, dua chapter sekaligus. Arigatou for read and review. ^^

Fumiko Miki NaSa: Hallo juga NaSa-chan! :D | Err… itu… yang request alias onee-chan minta dibikinin ending sad-happy, jadinya berakhir kayak gitu deh. Alhamdulillah kalau feelnya dapet. Next chap-nya udah ada. Arigatou for read and review. ^^