Obsesi

By : Razux

(Disclaimer : Naruto Belong To Masashi Kishimoto)

.

.

.

.


Dalam ruangan putih itu, sosok seorang anak laki-laki dan gadis kecil berambut hitam kebiruan berbaring di atas sebuah ranjang putih. Sebuah jendela besar di belakang ranjang tersebut terbuka, memperlihatkan langit malam penuh bintang.

"Kau kedinginan?" tanya anak laki-laki itu. Menyelimuti badan mereka dengan selimut yang ada, kedua tangannya kemudian memeluk erat gadis kecil tersebut.

Gadis kecil itu tertawa kecil. Pipi merahnya semakin memerah, membenamkan wajah ke dada anak laki-laki itu, dia menggeleng kepala.

Anak laki-laki itu membelai lembut rambut gadis kecil dan berbisik pelan. "Kalau kakak laki-lakimu melihatmu di sini besok, dia pasti akan marah lagi."

Gadis itu kembali menggeleng kepala. "Hinata tidak mau kembali ke kamar Hinata. Hinata tidak mau sendirian."

Anak laki-laki itu menghela napas. "Kau takut sendirian?"

Gadis kecil itu tidak menjawab, dia mengangguk.

Berhenti membelai kepala gadia kecil tersebut, anak laki-laki itu memisahkan pelukan mereka. Mata hitam legamnya menatap mata putih keperakan sang gadis. "Kau tidak takut padaku?" tanyanya pelan.

"Kenapa Hinata harus takut?" tanya gadis itu bingung.

"Semua orang takut padaku. Karena aku tidak normal, aku tidak waras, dan karena aku adalah seorang pemb–." Anak laki-laki itu tidak menyelesaikan ucapannya, atau lebih tepat tidak mampu menyelesaikannya. Sebuah senyum sendu muncul di wajah tampannya.

Gadis kecil itu menatap lekat wajah anak laki-laki itu. Mengangkat tangan, kedua jari-jari kecilnya menyentuh lembut pipi sang anak laki-laki. "Jangan menangis. Hinata ada disini, Hinata tidak takut dengan Onii-sama. Hinata tidak akan membiarkan Onii-sama sendirian."

Mata hitam kelam itu terbelalak mendengar ucapan gadis kecil yang berusaha menenangkannya. Lalu sejenak kemudian, dia menutup mata dan memeluk erat badan kecil itu.

"Aku tidak mau sendirian lagi. Aku tidak mau bermimpi buruk lagi," ujar anak laki-laki itu pelan. Pelukannya semakin erat. Dia menenggelamkan wajahnya pada pundak kecil tersebut. "A-aku.. aku.."

Gadis kecil itu tidak tahu apa yang terjadi dengan anak laki-laki yang memeluknya erat. Dia bisa merasakan badan yang lebih besar darinya bergetar hebat, dan juga, air yang mengalir turun membasahi pundaknya. Suara isak tanggis pelan terdengar dalam sunyinya malam.

Mengangkat tangan pelan, sang gadis kecil kembali membalas pelukan tersebut. Tidak mengatakan apa-apa, tangan kecilnya mengelus pelan punggung yang bergetar.

"Maafkan aku Otou-sama, maafkan aku Okaa-sama, maafkan aku, Nii-sama, maafkan aku..."

"Hinata-nee!"

"Hinata-nee! Bangun!"

Suara teriakan Hanabi membuat Hinata segera membuka mata. Wajah yang pertama kali dilihatnya adalah wajah buram penuh kekhawatiran adiknya.

"Kau kenapa, Hinata-nee?" tanya Hanabi panik. "Kenapa kau menangis sambil tertidur?"

Bangkit dari posisi berbaring, tangan putih Hinata menyentuh pipinya sendiri. Dia bisa merasakan air matanya yang mengalir turun.

"Kau mimpi apa, Hinata-nee?" tanya Hanabi lagi.

"A-aku, aku," Hinata kebingungan tidak tahu harus menjawab apa, karena dia tidak bisa mengingat mimpinya. "A-aku tidak ingat.."

Hinata tidak tahu apa mimpinya. Namun, yang dia tahu hanya satu; hatinya terasa sangat sakit. Meremas kerah kimono tidurnya, dia membiarkan air matanya terus mengalir.

Hanabi cukup kebingungan dengan jawaban Hinata, tapi dia juga tidak membuka mulut untuk bertanya lagi. Diam di tempat, dirinya hanya bisa menemani kakak perempuannya hingga tenang.

.xOx.

"Kemana saja kau beberapa hari ini, Teme?" teriak Naruto kepada Sasuke melalui ponselnya. Sarapan pagi di depannya, sama sekali tidak disentuh.

"Naruto, pelankan suaramu." Perintah seorang pria paruh baya berambut pirang pelan. Tapi, mata birunya masih setia membaca koran di tangannya.

Naruto tidak mempedulikan perkataan pria tersebut. Kemarahan dalam hatinya meningkat. Setelah sekian kali menelepon, akhirnya Sasuke mengangkat teleponnya. Tidak sia-sia dia menyisakan waktu menelepon sahabatnya saat sarapan. Hanya saja, kenapa pria itu tidak diam membisu? atau ponselnya yang rusak?

"Ucapkan sesuatu, Teme! Kau bisu?" tanya Naruto lagi. Suaranya makin meninggi.

"Berisik Dobe." Jawab Sasuke singkat dan memutuskan sambungan ponsel mereka.

"Hei! Sasuke!" teriak Naruto lagi sambil melihat sambungan ponsel mereka yang terputus.

"Aku tidak pernah tahu dari siapa Naruto menwarisi suara serta semangat tinggi ini," sela seorang wanita paruh baya dengan rambut merah tiba-tiba. Menatap pria yang masih membaca koran dengan mata ungunya, dia tersenyum. "Menurutmu, Anata?"

Pria berambut pirang itu melipat korannya dan menatap geli wanita yang duduk di sampingnya. "Melihat Naruto yang seperti ini, aku yakin, bukan dariku, Kushina"

"Jadi, maksudmu sifat Naruto itu dariku, Minato Namikaze yang terhormat."

"Tentu saja, Yang Mulia Kushina Uzumaki."

"Bisakah kalian berdua jangan seperti ini di depanku? Sebagai anak dan melihat tingkah kalian," potong Naruto tiba-tiba. Ekspresi wajahnya terlihat sangat terganggu. "Benar-benar mengelikan."

Minato dan Kushina menatap Naruto yang duduk diseberang mereka sejanak. Tersenyum, mereka sambil menatap lagi, tidak mempedulikannya.

"Kau lihat, Anata," tawa Kushina. "Kau telah membuat putra kita satu-satunya marah."

"Tidak istriku," bela Minato sambil tertawa juga. "Dia cuma marah karena dicuekin semua orang. Sakura-chan mencuekinnya selama ini, dan sekarang bahkan Sasuke yang katanya sahabat sehidup-sematinya juga mencuekinnya."

Ucapan Minato benar-benar membuat Naruto semakin frustasi. Kata itu tidak sepenuhnya salah. Tapi, apakah perlu mereka berdua yang merupakan orang tuanya mencemooh dirinya seperti ini?

"Oh iya, Naruto," ujar Minato tiba-tiba, menatap putranya yang sudah mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi. "Malam ini, gantikan aku menghadir acara ulang tahun Sarutobi-san."

"Kenapa harus aku?" tanya Naruto tajam.

"Karena aku ada kencan dengan wanita cantik di sampingku ini," senyum Minato menatap Kushina yang segera membalas senyumnya. "Dan aku yakin, sahabat sejatimu itu juga akan hadir di sana."

Naruto tersenyum lebar. Tidak pernah dalam hidupnya dia menyangka, menggantikan ayahnya menghadiri pesta membosankan menjadi hal yang akan menyelamatkannya dari cekikkan dan pukulan Sakura.

"Melihat senyum lebar di wajahnya," Kushina menghela napas. Matanya menatap sedih Naruto. "Aku jadi semakin yakin bahwa putraku adalah seorang gay yang mencintai sahabatnya sejak kecil. Apakah aku bisa mengendong cucu kelak, Anata?"

"Hei! Aku normal!"

.xOx.

"Aku akan langsung ke rumah sakit Konoha untuk check up setelah pulang kuliah, Neji-nii," jelas Hinata menatap Neji yang sedang menegemudi mobilnya. "Jadi aku akan pulang agak sore."

"Ko-san yang akan mengantarmu?" tanya Neji tanpa melihat ke arah Hinata. Mata keperakannya fokus terhadap jalan di depan.

"Iya. Neji-nii tidak perlu khawatir." Hinata tersenyum kecil. Sejak kecil Neji selalu menghawatirkannya, mungkin karena badannya yang lemah. Lalu, seingat dia, sifat itu semakin bertambah saat Ibu mereka meninggal tidak lama setelah Hanabi lahir.

Neji mengangguk kepala pelan.

Hinata masih menatap Neji. Dirinya sangat bersyukur karena Hanabi tidak menceritakan kejadian tadi pagi kepada Ayah mereka dan Neji. Apakah yang akan terjadi kalau kedua pria di keluarga mereka sampai tahu dia menangis dalam mimpi?–Hinata yakin, mereka pasti tidak akan mengijinkan dirinya kuliah hari ini.

Menatap jalan di depannya, sebuah pertanyaan yang mengusik Hinata semalaman terlintas dalam kepala. Menarik napas, dia membuka mulut bertanya, "Neji-nii, apakah kau kenal Sasuke Uchiha?"

Neji langsung menginjak rem mobilnya begitu mendengar pertanyaan tidak terduga Hinata.

Hinata sangat terkejut dengan Neji yang tiba-tiba mengerem mobilnya. Untung dia memakai safety belt dengan baik, sehingga badan mungilnya tidak terdorong ke depan terlalu kuat.

"Neji-nii? Ada a–" Hinata menatap Neji bingung serta panik. Tidak pernah kakaknya menrem mobil secara mendadak seperti ini. Namun, ucapan itu terhenti saat melihat ekpresi Vice CEO Hyuga Coorporation tersebut.

Wajah Neji sangat datar, namun sekaligus juga sangat serius. Mata putih keperakannya menatap tajam Hinata. "Kenapa kau bertanya tentang pria itu?"

"A-aku h-hanya.." Jawab Hinata terbata-bata. Reaksi Neji sekarang benar-benar tidak dimengertinya.

"Jauhi dia." Balas atau tepatnya perintah Neji.

"Eh?" Mata Hinata terbelalak. Ini pertama kalinya Neji bersikap seperti ini, dan itu menakutkannya.

Ketakutan di wajah Hinata membuat Neji sadar bahwa sikapnya barusan telah menakutkan adik perempuan kesayangannya. Menutup mata sejenak, dia menarik menghela napas. "Maafkan sikapku barusan, Hinata. Aku cuma terkejut kau bertanya tentang pria itu."

"T-tidak apa-apa, Neji-nii." Balas Hinata cepat.

Neji memberikan sebuah senyum kecil pada Hinata. Menoleh wajah pada jalan di depan, dia kembali menjalankan mobilnya.

"Dia adalah saingan bisnis kita, Hinata," jelas Neji kemudian. Suaranya terdengar lebih santai, tapi Hinata tetap bisa menangkap keseriusan di dalamnya. "Kami sering bertemu dalam beberapa acara. Dan, dia adalah pria yang tidak bisa ditebak."

Hinata diam membisu mendengar penjelasan Neji. Kepalanya tertunduk sedikit ke bawah. Dari nada Neji menjelaskan Sasuke Uchiha, dia menyadari, kakaknya itu tidak menyukai pria itu. Saingan bisnis? Itukah alasannya?

"Kenapa kau bertanya tentang pria itu?" tanya Neji kemudian.

"I-itu k-karena banyak teman sekampusku yang terus membahasnya. Dia hadir pada upacara penerimaan mahasiswa kampusku kemarin," reaksi Neji barusan membuat Hinata tidak berani berterus terang. Namun, dia juga tidak bohong sepenuhnya, karena nama itu juga sering disebut-sebut dalam pembicaraan para mahasiswa terutama para wanita. "J-jadi aku sedikit penasaran.."

"Kelak," sambung Neji lagi pelan. "Jika kau bertemu dengan dia, menjauhlah Hinata. Karena dia pria yang sangat berbahaya."

Hinata diam mendengar penjelasan Neji. Pria yang berbahaya? Dirinya teringat senyum yang diperlihatkan Sasuke padanya kemarin. Senyum bahagia itu–benarkah pria itu berbahaya?

.xOx.

"Kabarin aku hasil check upnya nanti." Perintah Sasuke dan menutup ponselnya.

Menatap langit biru melalui jendela ruang kerjanya di kantor pusat Uchiha Corporation, dia tersenyum menyeringai. Dia puas sekali dengan sistuasi sekarang ini. Semuanya benar-benar berjalan sesuai kehendaknya.

Dia ingin sekali melihat bagaimana reaksi para Hyuga itu saat mengetahui kenyataan sebenarnya. Mereka berpikir kalau mereka bisa menjauhkan Hinata darinya, tanpa mengetahui kenyataan bahwa selama ini mereka sedang menari-nari dalam telapak tangannya.

"Di dunia ini, uanglah pemegang kendali segalanya."

Senyum Sasuke langsung berubah menjadi sebuah tawa kecil–tawa yang semakin lama berubah menjadi sangat kuat namun tidak normal.

Kalimat barusan yang terlintas dalam pikiran serta suara berat yang membisikkannya, dia ingat jelas semua itu. Suara yang setiap malam menemani mimpi buruknya sejak enam belas tahun yang lalu. Ironis sekali, bagi Sasuke, suara itu adalah suara dari orang yang merebut semua yang dimilikinya; keluarga, masa kecil dan juga keutuhannya sebagai seorang manusia. Namun, suara itu jugalah yang selalu mengajarkannya bagaimana hidup itu sesungguhnya–munafik dan kejinya dunia ini.

.xOx.