Link of Us

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Padahal niatnya mau upload bulan Januari, tapi aku lupa password nya dan baru sempet hari ini buka lagi

Maafkan aku semuanya /lemparakulempar!/

Warning : ooc, drama, gaje, misstypo, dll


Chapter 7


Hinata menatap serius pria yang kini duduk di hadapannya. Ia berdebar kencang tanpa banyak gerakan di tubuhnya. Si pria yang berambut pirang itupun mulai tersenyum canggung dan akhirnya memecahkan keheningannya yang sudah berlangsung hampir 5 menit ini.

"Hinata, ada apa? Kenapa kau memanggilku tiba-tiba?"

"Na..Naruto-sanApa benar kau menjadi perwakilan detektif untuk memata-matai Sakura? Oleh siapa?" Hinata menatap Naruto serius. Ia tatap lekat-lekat wajah Naruto yang segera tertawa kecil mendengar pertanyaan.

"A-ah... Ternyata itu" Naruto menggaruk pipinya dengan telunjuk, merasa canggung dengan keadaan sekarang. "Maaf, aku harus menjaga rahasia klienku. Jadi, aku tidak bisa memberitahumu."

"Ah! Maaf aku tidak sopan."

"He? Tidak! Kau tidak perlu merasa begitu! Aku juga sebenarnya ingin memberitahumu, tapi.. Bagaimanapun ini pekerjaan." Naruto lalu memberikan sebuah amplop ke arah Hinata. "Ini beda topik, tapi, suamimu menyuruhku melacak tentang kejadian saat perusahaanmu turun."

"Ga-Gaara-kun memintamu?" Hinata mengambir amplop coklat itu dan menatapnya bingung. "Kenapa?"

"Entahlah" Naruto tersenyum lebar dan melihat jam di pergelangan tangannya. "Ah! Aku harus kembali ke kantor."

"Ma-maafkan aku mengganggu waktu kerjamu!" Hinata membungkukkan tubuhnya dalam. "Terimakasih telah meluangkan waktumu."

"Santai saja! O,ya.. Sampaikan salamku pada Gaara, ya!" Naruto lalu segera keluar dari dalam cafe meninggalkan Hinata. Melihat itu, salah satu penjaga Hinata segera memasuki cafe.

"Hinata-sama, waktunya anda kembali." Ujar penjaga Hinata bernama Ko yang berdiri di samping Hinata.

"Ya, terimakasih." Hinata segera keluar dan memasuki mobilnya. Dalam hatinya Ia tampak ragu membuka amplop tersebut atau tidak.


"Gaara-san!"

Seorang wanita yang tadi duduk di atas bangku taman, langsung berlari kecil menuju pintu masuk hotel saat melihat orang yang Ia sebut namanya keluar dari sana. Gaara yang baru saja menghentakkan langkahnya keluar Hotel, segera menghentikkannya. Membiarkan dirinya menunggu wanita yang kini berlari ke arahnya.

"KauKarin?" Gaara menatap wanita di hadapannya ragu-ragu. Bukan sekali atau dua kali Gaara berusaha keras mengingat nama wanita itu tadi.

"Maaf! Aku dengar kau sedang rapat bersama Sasuke, jadi aku segera kemari. Kebetulan aku sedang tinggal disini." Wanita berambut merah dengan kacamata hitamnya tersenyum senang. Karin, adalah rekan kerja Uchiha dan membantu cukup besar. Bagaimana Ia bisa mengenal Gaara? Tentu saja karena link pekerjaan yang luas. Memiliki intelek yang tinggi membuat wanita yang satu ini menemui banyak petinggi perusahan, dan Gaara salah satunya. Hanya Gaara serta Sasuke yang tahu bahwa intelek yang wanita ini miliki adalah salah satu bakatnya menjadi penyusup atau mata-mata untuk membantu perusahaan Uchiha maupun Sabaku.

"Laluapa kau ada urusan dengan Sasuke? Dia baru keluar malam nanti untuk menemui klien." Gaara berjalan ke arah bangku taman diikuti Karin yang mengangguk-angguk tampak mengerti.

"Sebenarnya, uhm- kemarin aku mendengar kalau Haruno Sakura menjadi tangan kanan klien kalian untuk projek yang satu ini. Ini masih rahasia, tapi, sesungguhnya Sakura bisa mendapatkan posisi itu dengan cara kotor." Gumam Karin agar orang-orang di sekelilingnya tidak bisa mendengarnya kecuali Gaara yang di sebelahnya. "Dia menggunakan uang untuk menyuap direktur itu agar projek ini bisa Ia tangani."

"Hmmaku sudah bisa mengiranya." Gaara lalu mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah gambar yang tertera di atas ponsel hitam miliknya. "Ini, proyek ini akan berlangsung di tempat ini besok. Bisa kau lacak keamanan tempat ini? Jika benar Sakura menyuap klien kami, maka Ia punya uang yang cukup banyak untuk menyewa snipper handal besok agar bisa membunuhku."

"Jangan bercanda, Gaara-san!" Karin tertawa kecil dan mengingat foto di ponsel Gaara dengan seksama. "Baiklah, aku tahu tempat ini. Serahkan padaku, sebelum pukul 12 malam semua sudah beres."

Gaara mengangguk pelan dan kembali memasukkan ponsel kedalam sakunya. Ia lihat jam di pergelangan tangannya dan kembali bangun dari duduknya. Setelah 2 langkah berjalan, Ia menatap Karin di belakangnya yang masih duduk di sana. "Bayarannya, akan kukirimkan seperti biasanya."

"Santai saja! Ah, tunggu dulu! Aku penasaran satu hal!"

"Hm?"

"Bagaimana dengan gadis yang kulacak waktu itu? Apa kau berhasil mendapatkannya?" Karin tersenyum penuh makna. Ia masih ingat betul saat dimana presdir dingin yang satu ini mendatangi dan menyewanya untuk mencari seorang gadis yang bahkan Karin sendiri tak menduganya. Ia sangat penasaran dengan kelanjutan setelah Ia berhasil melacak gadis yang satu itu. "Jangan katakan tidak ada hasilnya-"

"Tenang saja." Gaara menatap Karin datar dan kembali menghadap kedepan mulai berjalan. "Akan kukenalkan istriku secara langsung kapan-kapan."

"Heeee?!"


Malam-malam, Hinata masih memegang erat amplop di tangannya. Ia masih ragu antara membuka amplop tersebut atau tidak. Beberapa kali Hinata mencoba merobek bagian atasnya, tapi pada akhirnya hanya setengah dari bagian atas amplop tersebut yang sudah Ia buka. Ia menghela nafasnya dan kembali menaruh amplop tersebut ke atas meja.

Tepat beberapa detik kemudian, ponselnya berdering. Dengan malas Hinata beranjak dari atas kasur dan mengambil ponselnya. Buru-buru Ia mengangkatnya saat melihat nama yang tertera di layar.

"Ha-halo.. Gaara-kun?"

"Kau dimana?"

"Di-dirumah.." Hinata menjawabnya dengan tenang. Ia sedikit lega mendengar suara Gaara setelah tidak mendengarnya 5 hari ini.

"Hmapa kau sehat?" Tanya Gaara yang juga terdengar canggung.

"Uhn, aku sehat. Gaara-kun sendiri, apa kau baik-baik saja?"

"Ya, aku sedang menyusun projek yang tadi siang dibicarakan."

"Begitukah?" Hinata bernafas lega mendengarnya. Ia lalu teringat bahwa Ia harus mengatakan pada Gaara mengenai ingatannya. Hinata seakan terombang-ambing mengatakan pada Gaara atau tidak. Ia gigit bibir bawahnya, sedikit takut memikirkan bagaimana reaksi Gaara nanti.

"Ada apa?" Gaara kembali bersua mendengar Hinata tak berbicara.

"Ti..tidak." Hinata mengeratkan genggamannya di ponsel dan kembali membuka suaranya.

"Baiklah, akan kututup tele-"

"A-anu, Gaara-kun!"

"...hm?"

"Aku" Hinata menelan salivanya dan mengatur pernafasannya. "Aku sudah ingat segalanya."

.

.

Gaara terdiam mendengarnya. Entah Ia harus bernafas lega atau tidak mendengar pernyataan Hinata barusan. Ia merasa sedikit kecewa karena dirinya tidak ada di saat penting itu. Merasa terlalu lama terdiam, Gaara akhirnya kembali membuka suara.

"Apa kau baik-baik saja?"

"Hm.. I-iyaHanya saja, ada beberapa hal yang masih mengganjal."

"Baiklah, aku akan selesaikan masalah disini secepatnya dan kembali. Maaf, disaat seperti ini aku tidak denganmu."

"Tidak! Kau meneleponku saja sudah cukupaku tidak mau mengganggu pekerjaanmu." Hinata tersenyum tipis. Ia lalu menatap secarik kertas di atas meja. Selembar kertas putih yang berisi beberapa informasi penting yang ia dapatkan kemarin. Dengan cepat Hinata mengambilnya dan menatap kertas tersebut. "AnuGaara-kun.."

"Ng?"

"Se-sesungguhnya.. Aku bohong." Hinata terdengar ragu dari nada suaranya yang bergetar. Ia terlihat takut membuka suaranya kali ini. Tapi, takut kali ini berbeda dengan ketakutan sebelumnya.

"Tentang apa?"

"Aku bohong bilang bahwa hormonku sedang tidak stabil.. Saat aku mengeceknya, hasilnya positif."

Gaara sedikit tercekat mendengarnya. Entah sudah keberapa kali Hinata menutupi hal-hal penting darinya. Beruntung Gaara masih memiliki prinsip untuk tidak 'main kasar' dengan istri yang Ia tekankan saat menikah dengan Hinata. Jika tidak, si darah dingin yang satu ini bisa menghancurkan rumahnya setiap hari. Gaara berusaha menenangkan dirinya. Ia tarik nafasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.

"Kenapa kau bohong?"

"Karena, saat itu kita sedang ada masalah dengan Sakurajadi, aku ragu-"

"Begitukah?" Gaara membalasnya dingin. "Hinata, dengarkan aku."

"I-iya!"

"Berhenti menyembunyikan apapun."

"...i-iya"

"Jika kau melakukannya, tidak akan ada masalah kedepannya atau kapanpun. Jika kau jujur padaku, aku juga akan melakukan hal yang sama. Aku tidak tahu 'menikah' itu seperti apa, karena aku sendiri tidak ingat bagaimana orang tua ku bersikap dulu. Yang kutahu bahwa menikah itu saling menjalankan prioritas mereka sebagai suami-istri." Gaara yang sedari tadi berdiri segera duduk, Ia letakkan ponsel ditangan kirinya dan mulai tersenyum tipis. "Tapi, saat aku menjalaninya, semua hanya omong kosong. Pada akhirnya, semua kembali lagi pada 'kejujuran' di antara keduanya. Kau mengerti maksudku?"

"I-iyaTerimakasih, Gaara-kun." Hinata tertawa kecil mendengar 'ceramah' yang pertama kali Gaara layangkan padanya. Ia lalu menatap jendela balkon kamarnya. "Ne, Gaara-kun A-apa kau senang?"

"Hm?"

"Anak ini, apa kau senang mendengarnya?"

"Bagaimana mungkin aku tidak senang? Baiklah, di sana sudah larut malam kan? TidurlahAku akan kembali secepatnya."

"Baik! Selamat ma-"

"Tunggu" Gaara memotong ucapan Hinata cepat.

"Ada apa?"

"Jaga kondisimu. Selamat malam."

Gaara memutus panggilannya. Hinata sendiri hanya bisa tersenyum-senyum seraya menuju ke atas kasur.


Naruto yang tadi masih asik berada di depan komputer kesayangannya segera beranjak pergi mengetahui panggilan darurat yang ditunjukkan kepadanya. Ia berlari menuju tempat janjian dimana klien-nya menunggu. Sesampainya di sebuah taman sepi, Naruto langsung berjalan menuju ke arah seorang wanita yang sedang duduk di bangku terdepan. "Ada apa? Ini masih jam 2 pagi!"

"Berisik, kau kubayar mahal untuk ini!" Wanita itu mengambil seberkas amplop dan menyerahkannya pada Naruto. "Besok Gaara sudah kembali, jadi aku ingin kau bisa mengurusnya hari ini."

"H-hoi Temari, kenapa kau begitu ingin aku memata-matai Sakura? Hinata sendiri bahkan tidak ingin Sakura berada di bawah tahanan."

"Aku tahu"

"Eh?"

"Haruno terlibat pada kasus 17 tahun yang lalu."

"Ma-maksudmu.. Saat kematian Ibu-nya Hinata?"

"Ya, tampaknya" Temari lalu beranjak bangun dari tempatnya dan kembali berjalan. "Kau juga"

"Apa?" Naruto menatap Temari bingung.

"Kau belajar mati-matian dan menjadi detektif, semua itu karena kau ingin membongkar peristiwa 17 tahun lalu, bukan?"

.

.

.


"Hinata-sama, Gaara-sama akan tiba beberapa menit lagi. Apa anda tidak sebaiknya bangun?" Salah satu pelayan pribadi Hinata memasuki kamarnya saat mendengar kabar bahwa Gaara sudah hampir sampai dari perjalanan.

"A-anu.. Ta-tampaknya aku demam" Mata Hinata tampak berkunang-kunang saat bangun. Dengan segera Ia kembali menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan menutup tubuhnya dengan selimut. Nafasnya naik turun merasakan panas di sekujur tubuhnya, suaranyapun parau saat mencoba bicara.

"Hee? Apa karena musim panas? Saat musim panas datang, tubuh anda menjadi lemah." Ucap pelayan berambut hitam tadi cemas.

"Hahhah.. A-anu, to-tolong katakan pada Gaara saat Ia datang-"

.

.

.

"Hah? 'Jangan masuk kekamar' ?" Gaara yang baru datang hanya bisa bingung saat salah satu pelayan menyampaikan pesan Hinata kepadanya. "Bagaimana keadaannya?"

"Sepertinya karena cuacanya, saat musim panas datang, Hinata-sama mulai tidak enak badan."

"Hmkalau begitu, panggilkan dokter sekarang." Perintah Gaara kepada salah satu sekertarisnya. Ia lalu beranjak ke lantai 3, tepat di depan pintu kamarnya. "Hinata"

"Ga-Gaara-kun!" Suara Hinata dari balik pintu terdengar parau. "Jangan masuk! Aku akan sangat marah jika kau masuk.."

"Ya, aku mengerti." Gaara yang masih berdiri di depan pintu kamar menatap pintu tersebut, seakan pintu berwarna putih ini bukan jadi penghalangnya. "Neji meneleponku sebelum aku kemari. Ia mengatakan kalau tubuhmu lemah saat musim panas. Dan, kau penular yang hebat."

"Ne-neji-niisan? Ahitu benar. Karena itu, jangan masuk."

"Ya, aku tidak akan masuk. Sampai kau sembuh, aku akan tidur di kamar sebelah. Kau tidurlah." Gaara lalu mundur selangkah dari kamar Hinata dan berjalan menuju kamar tepat disebelahnya. Kejam? Mungkin. Tapi, Gaara masih memikirkan projek-projek kedepan, jika Ia sakit sekarang maka bisa terjadi kegagalan. Yang bersalah? Bukan Gaara, tapi Hinata. Demi menghalangi kejadian itu, Gaara memilih menghindarinya dibanding cari muka menjadi suami yang baik.

"Gaara-sama, saya sudah memanggil Shikamaru-san. Apa ada yang anda perlukan lagi?" Tanya salah satu sekertaris pribadi Gaara.

"Tidak- aku akan istirahat dulu. Bangunkan aku jika Shikamaru sudah datang."

"Baik, tuan."

Gaara lalu memasuki kamar, dan segera menjatuhkan tubuhnya di kasur. Betapa lelahnya lelaki yang satu ini mengurus segala projek perusahaan akhir-akhir ini. Beruntung Gaara bukan tipe pria yang suka mengeluh. Jika begitu, maka Hinata akan disuap keluhan tiap harinya dari mulut Gaara mengenai pekerjaannya. Bukannya Gaara tidak mau sesekali mengeluh akan pekerjaannya, tapi Ia lebih tahu bahwa Hinata akan bereaksi lebih cemas dibanding dirinya sendiri nanti dan Gaara malas jika itu terjadi.

Merasa kantuk mulai melanda, Ia tutup matanya perlahan. Dengan beberapa menit, Gaara sudah pulas memasuki ruang mimpinya.

.

.

.


"Selamat malam"

Mata Gaara langsung terbuka lebar saat melihat wajah Shikamaru di depannya sedang duduk sembari berpangku tangan.

"Shikamaru! Sejak kapan kau disini?" Gaara segera bangun seraya memegangi kepalanya yang masih pusing. Ia lihat Shikamaru menaruh bukunya dan berdiri di samping kasur.

"Aku sudah dari tadi siang disini. Setelah mengecek dan merawat Hinata, aku kemari untuk membangunkanmu. Tapi, kau terlihat lelah sekali. Aku jadi tidak enak." Shikamaru tersenyum tipis. Rasanya Gaara yang tadi ingin marah jadi tidak bisa mendengar pernyataannya.

"Lalu bagaimana? Apa dia baik-baik saja?"

"Tenang saja. Sepertinya itu hanya penyakit musiman. Demamnya sudah sembuh." Shikamaru menyerahkan sebuah kertas ke arah Gaara yang sedang memakai kaosnya. "Ini, data Hinata. Kau sudah tahu kalau dia menyembunyikannya? Maaf, aku tidak bilang."

Gaara mengambil kertas tersebut dan membacanya seksama. Kata 'positif' yang tertera di atasnya membuat Gaara melayangkan senyuman tipis. "Hm, terimakasih Shikamaru."

"Baiklah, aku akan pulang sekarang." Shikamaru mengambil tasnya dan berjalan ke arah pintu. "Kau juga, jangan paksa badanmu bekerja terus! Sampai jumpa."

Gaara mengangguk paham saat Shikamaru membuka pintu kamarnya dan keluar. Ia sedikit senang melihat perhatian temannya yang satu itu meski terkadang Gaara sebal dengan sikap malasnya. Mengingat Hinata, Gaara buru-buru beranjak keluar dan memasuki kamarnya. Dilihat dengan seksama tubuh Hinata yang masih terlelap di atas kasur.

Gaara lalu menaiki kasur dan merebahkan tubuhnya di sebelah Hinata. Ia pandang baik-baik wajah mulus wanita berambut panjang dengan warna biru tuanya. Dengan jemarinya Ia sentuh kening Hinata sangat pelan, takut wanita berkulit putih ini terbangun.

"Kau sudah mengingatnya?" Bisik Gaara sedikit cemas. Ia lalu semakin mendekatkan tubuhnya ke tubuh Hinata dan menempelkan bibirnya diatas kepala Hinata. "Jangan lagi ada hal buruk menimpa dirimu."

.

.

.

Hinata yang baru terbangun sedikit kaget melihat siapa yang sedang tidur di sebelahnya. Lelaki berambut marun itu masih asik menutup matanya, tak terbangun sedikitpun meski Hinata beberapa kali menyentuh wajahnya dengan telunjuk guna membangunkannya.

"Karena hari ini hari Minggu, akan kubiarkan dia beristirahat." Gumam Hinata sambil tersenyum senang. Hinata lalu bergegas menuju kamar mandi. Ia tampak segar setelah diberi obat yang sangat ampuh oleh Shikamaru kemarin. Hinata biasanya butuh waktu 3 hari untuk sembuh dari demam, karena itu Hinata sangat berterimakasih pada Shikamaru akan hal ini.

Selesai berganti pakaian, Hinata menuju lantai 1, dilihatnya para pelayan sedang mengerjakan tugas masing-masing. Mereka terlihat senang saat Hinata kembali bertenaga, karena beberapa hari belakangan, wajah Hinata seperti orang yang sudah tidak tidur seminggu.

"Hinata-sama, apa anda mau sarapan sekarang?" Tanya pelayan di samping Hinata.

"Ah, bi-bisakah aku ikut membantu?"

"E-etto, tapi- jika tuan Gaara tahu akan hal ini"

"Tidak, tenang saja! Aku akan bertanggung jawab!"

Melihat tatapan Hinata yang penuh harap, mau tak mau para pelayan menyerah menolak tawaran manis Hinata.


"Ga..Gaara-kun.." Hinata membuka pintu kamarnya dengan membawa sebuah nampan beserta piring dan gelas di atasnya. Dengan perlahan Hinata berjalan ke arah kasur dan menaruh nampan tersebut di meja sebelahnya. Ia lalu duduk di sudut kasur dan mulai mendekati Gaara yang masih pulas. Sesungguhnya, Hinata memaklumi berapapun lamanya Gaara tertidur, tapi, hanya satu hal yang membuat Hinata terkadang sebal dibuatnya. Ya, itu adalah betapa susahnya si tuan muda Sabaku satu ini dibangunkan. Bukan sekali dua kali Hinata berniat menyiram Gaara dengan air agar Ia terbangun. Beruntung Hinata tahu si stoic yang satu ini pasti akan 'meledak' jika dibangunkan seperti itu, karena hal inilah Hinata selalu mengurungkan niatnya.

"Gaara-kun, aku membuat sarapan..Bangunlah" Hinata menepuk pundak Gaara dengan tangan kirinya. "..Ga..Gaara-kun, bangun"

"Aku dengar, jangan ucapkan lagi." Tiba-tiba suara Gaara terdengar. Tidak terlalu jelas karena kepalanya yang Ia sembunyikan di atas bantal. Ia lalu memiringkan kepalanya menghadap Hinata dengan wajah bangun tidur seperti biasa, kesal.

"Ini hari liburku. Biarkan aku tidur seharian."

"A-aku mengerti, tapi setidaknya makanlah dulu." Hinata menunjuk sarapan di atas meja. "Aku yang membuatnya."

Mendengar pernyataan Hinata, dengan malas Gaara mengangkat tubuhnya dan mengambil piring di atas meja. Ia makan dengan perlahan roti sandwich yang sudah lama tak Ia rasakan beberapa minggu ini. "Lalu, bagaimana?"

"Eh?"

"Ingatan itu." Gaara menyerahkan piring kecil di tangan Hinata setelah menghabiskan roti tersebut. Ia menyenderkan tubuhnya di tembok dan menatap Hinata.

Merasa cepat atau lambat Hinata akan menjelaskan ingatannya, dengan takut-takut Hinata lalu menceritakan mengenai apa yang Ia ingat 17 tahun yang lalu. Ingatannya yang kelam, dan penuh dengan teka-teki yang masih menyelimuti perasannya.

.

.

.


"Hei, Naruto. Kau belum pulang? Sudah pagi begini, biasanya kau pulang paling cepat." Ujar seorang polisi yang sedang menyiapkan barang-barangnya untuk bergegas pulang. Yang ditanya hanya tertawa sembari tetap berkutat di depan komputernya.

"Tidak.. Tugasku masih sangat banyak."

"Hee- semangat sekali anak muda jaman sekarang. Baiklah, aku pulang duluan!" Seorang polisi tua itu lalu bergegas keluar dari ruangan khusus penyelidikan, meninggalkan Naruto sendiri.

"...hmSampai sekarang aku belum menemukan jawabannya." Keluh Naruto. "Sekarangkau ada dimana?"

.

.

.


Setelah menceritakan seluruh ingatannya, Gaara hanya terdiam. Ia bingung berkata apa setelah mendengar secara rangkum peristiwa yang menimpa istri di hadapannya yang satu itu.

"KauBaik-baik saja?" Gaara lagi-lagi bertanya hal yang sama dengan beberapa hari lalu di telepon. Ia lalu menarik Hinata dan memeluknya erat. "Tidak apa. Kau tidak salah"

"Ga..Gaara-kun" Mendengar pernyataan Gaara, entah kenapa air mata Hinata mulai keluar. "Ba-bagaimana ini.. Aku yang membunuh Ibuku"

"Bukan kau!" Gaara mengencangkan pelukannya dan menatap mata Hinata tajam. "Aku akan cari siapa yang menabrak Ibumu pada kejadian itu."

"Tidak! Jangan! Aku tidak mau Gaara-kun terlibat! Dan lagi, dia tidak bersalah!" Hinata menggelengkan kepalanya dan mengeratkan genggaman dilengan baju Gaara.

"Aku suamimu! Secara tidak langsung, aku juga sudah terlibat dengan hal ini. Dengarkan aku, aku akan cari tahu kejadian ini lebih detail." Gaara mengeratkan tangannya di kedua pundak Hinata yang duduk di pinggir kasur.

"Tidak! Aku tidak maukh!" Hinata tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangan kanan dan berlari ke kamar mandi di kamarnya cepat. Meninggalkan Gaara yang langsung mengekorinya ke kamar mandi.

"Hinata! Kau tidak apa?" Gaara hanya bisa menatap cemas melihat Hinata yang masih sibuk memuntahkan isi perutnya ke wastafel. Ia usapkan tangannya di punggung Hinata, berusaha membuat Hinata sedikit tenang. "Aku akan memanggil Shikamaru."

"Tidak usah, ini hanya mual seperti biasanya." Hinata mencuci mulutnya dan kembali duduk di atas kasur bersama Gaara.

"Kau tidak boleh memikirkan sesuatu yang membuatmu stress. Tubuhmu bukan lagi hanya milikmu, mengerti?" Gaara menatap Hinata lebih serius. Hinata hanya mengangguk pasrah dan menyenderkan kepalanya ke arah dada Gaara. "Baiklah, masalah ini kita kesampingkan dulu sampai tubuhmu membaik. Aku tidak akan menyinggungnya sampai kondisimu stabil."

"U-uhmTerimakasih, Gaara-kun." Hinata tersenyum simpul. Beberapa detik setelahnya, tiba-tiba suara ponsel Gaara berbunyi, membuat pemiliknya segera mengangkatnya cepat.

"Ada apa, Temari?" Jawab Gaara dingin.

"Ini mengenai Haruno. Bisa aku bicara dengan Hinata?" Temari tampak serius dari nada bicaranya. Sepertinya Ia menemukan sesuatu kali ini.

"Jangan sekarang, Temari. Hinata sedang dalam kondisi tidak stabil. Jika kau beritahu sesuatu tentang masalah itu, dia bisa kepikiran." Ujar Gaara sedikit pelan membuat Hinata sedikit bertanya-tanya disampingnya. "Jangan bicara dulu dengannya."

"Ah? Begitu. Baiklah, aku akan bertanya padanya lain kali. Lalu, Gaara.. Sebaiknya temui Naruto. Ia sepertinya sudah melacak yang kau minta, tentang kemerosotan Hyuuga."

"Ya, aku akan hubungi lagi." Gaara mematikan ponselnya san menatap Hinata di sampingnya.

"Ada apa?" Tanya Hinata penasaran.

"Bukan apa-apa. Ngomong-ngomong, Naruto sudah menyerahkanmu amplop? Dia kuminta melacak tentang kemerosotan perusahaan Ayahmu."

"Ah, su-sudah.." Hinata yang kini duduk di atas kasur seraya menutupi setengah tubuhnya dengan selimut menunjuk ke arah laci. "Aku menaruhnya disana."

"Apa sudah kau buka?"

"Belum, aku takut.."

Gaara lalu berjalan ke arah laci. Membukanya, dan menemukan sebuah amplop coklat berukuran A4 di dalamnya. Dengan cepat, Gaara mengambilnya seraya ikut duduk di atas kasur, tepat di pinggir kasur.

"Ga-Gaara-kun.. Sebaiknya, kita lanjutkan masalah ini besok." Pinta Hinata ragu.

"Tidak apa. Besok aku harus kerja lagi. Kalau bukan sekarang, aku tidak akan sempat mengurusnya." Gaara lalu merobek bagian atas amplop. Di dalamnya ada beberapa lembar kertas putih. Terburu-buru Gaara mengambil isinya, membacanya dengan seksama, lembar demi lembar. Hinata yang berada di balik punggung Gaara hanya bisa menatap tubuh Gaara takut. Ia takut kalau hal ini menjadi masalah bagi Gaara, padahal ini adalah masalah keluarganya.

"Ga-Gaara-kun kenapa kau diam?"

"Heh, dugaanku tepat." Gaara melempar lembaran kertas di tangannya ke lantai. Ia terlihat lega dan segera berdiri menuju lemari. Ia mengganti bajunya dengan sebuah kemeja polos hitam. "Aku akan keluar, jika ada apa-apa segera telepon aku."

"Tu-tunggu! Aku ikut!"

"Diam dirumah." Gaara mengeluarkan suaranya lebih berat. Tanda bahwa perintahnya tidak boleh, bahkan tidak bisa dilawan. Mengerti hal itu, Hinata kembali memasuki kasur dan terdiam melihat Gaara yang keluar dari kamarnya.

Penasaran dengan apa yang ada di dalam kertas tersebut, Hinata langsung memungutnya. Ia baca pelan-pelan. Dadanya sedikit berdebar melihat nama siapa yang ada di kertas itu. Ia lalu menaruh kertas tadi kembali kedalam laci. Tangannya masih memegang dadanya yang terus berdebar. Masih ingat apa yang tertulis di kertas itu;

Tersangka utama dalam kasus kemerosotan Hyuuga adalah:

Uchiha Sasuke

.

.


Gaara yang mengendarai mobilnya menuju sebuah apartemen mewah di kawasan Ibukota segera memberhentikkannya saat sampai di tempat tujuan. Ia berjalan dengan ringan menuju salah satu kamar bernomor 157 di lantai dua.

Ting tong

Gaara membunyikan belnya. Ia terlihat tidak sabar menunggu pemilik apartemen itu membuka pintu berwarna putih ini. Beberapa detik sebelum Gaara berniat ingin menyalakan bel-nya lagi, tiba-tiba pintu terbuka. Memperlihatkan sang pemilik kamar kaget melihat siapa yang ada di hadapannya.

"Ga..Gaara? Ada apa?"

"Ada yang perlu kubicarakan denganmu,"

"Eh?"

"...boleh aku masuk, Sakura?"

.

.


Hinata membolak-balikkan kertas di dalam buku berulang kali. Buku panduan untuk merawat anak di tangannya itu Ia baca dengan seksama. "Haah, aku tidak tahu akan serepot ini." Hinata menghela nafasnya panjang melihat banyaknya cara yang harus dilakukan seorang Ibu untuk merawat anaknya. Hinata membuka bukunya seraya memegangi perutnya yang masih berusia 2 bulan. Sudah hampir 3 jam Hinata membacanya dan masih berada di tengah halaman buku. Ia terlihat benar-benar serius membacanya.

Disaat Hinata sibuk membaca, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan Gaara yang baru kembali segera menuju kasur.

"Ga-Gaara-kun! Kau kemana saja?"

"kantor."

"Ah, begitu. Apa kau sudah makan?" Tanya Hinata lagi.

"Ya. Aku mau tidur." Gaara lalu merebahkan tubuhnya dan segera menutup kedua mata hijaunya. Ia tak bergerak lagi, segera terlelap menuju mimpinya. Hinata sedikit bingung dengan sifat Gaara. Ya, dia memang tidak banyak bicara, tapi, kali ini ada yang aneh dengannya. Entah apa, tapi hal ini membuat Hinata sedikit resah.


Hinata pagi-pagi sudah tidak menemukan Gaara. Para pelayan mengatakan bahwa Ia berangkat ke kantor. Sejujurnya Hinata memakluminya, tapi ini kali pertama bagi Hinata. Biasanya, seburu-burunya Gaara pergi ke Kantor, Ia akan membangunkan Hinata untuk sekedar mengatakan 'aku pergi'. Tapi sekarang? Apa dia suda lelah? Mungkin. Mengalihkan pikiran-pikiran negatif, Hinata segera bergegas mandi dan mengganti pakaiannya. Ia lalu keluar berjalan kaki menuju kediaman Sabaku yang hanya berkisar 5 menit jika berjalan kaki. Ia menolak untuk diantarkan supirnya kali ini.

"Halo? Temari-neesan, aku sudah ada di depan rumah induk." Ujar Hinata melalui telepon saat sampai di depan rumah keluarga Sabaku. Ia memang sudah berjanji pada Temari untuk bertemu hari ini karena permintaan dari kakak iparnya itu sendiri.

"Ah, baiklah! Tunggu sebentar, aku akan segera keluar."

Temari lalu mematikkan teleponnya dan bergegas menuju pintu gerbang yang terbuat dari kayu tersebut. Ia terlihat senang melihat siapa yang sedang berdiri di sana. "Syukurlah, kukira Gaara akan melarangmu kemari."

"A-anu, Gaara-kun tidak tahu aku kesini menemuimu"

"Ah? Pantas saja. Gaara sangat tidak suka jika tahu kau datang kesini karena ada Ayahnya disini. Bagaimana kalau kita bicara di kafe dekat daerah ini? Mencegah kemarahan Gaara." Temari tertawa kecil.

"Baiklah. Aku juga awalnya berniat begitu."

Temari lalu segera berjalan bersama Gaara, keluar dari kediaman Sabaku dan memasuki kafe kecil yang ada di daerah tersebut. Sebuah kafe kopi minimalis, dekat dengan rumah Gaara. Setelah duduk, Temari lalu mengeluarkan seberkas kertas ke atas meja.

"Ini, aku mau mengaku kalau aku yang menyuruh Naruto untuk memata-matai Sakura." Temari tersenyum tipis. Ia sedikit merasa tak enak hati pada Hinata didepannya. "Maaf, aku keterlaluan."

"Ja-jadi begitu.. Tidak, aku minta maaf melibatkanmu." Hinata membungkukkan tubuhnya dan segera kembali menatap Temari. "Anu, sejujurnya.. Aku kemari juga punya alasan."

"Hm? Ada apa?" Tanya Temari penasaran.

"A-apa hari minggu kemarin Gaara-kun pergi ke kantornya?" Hinata menatap Temari serius.

"Tidak, bukankah dia bersamamu saat aku meneleponnya?"

"Iya, tapi setelah itu dia pergi. Dan, dia mengatakan bahwa Ia ke kantornya."

"Ah.. Entahlah, tapi kurasa tidak. Aku tidak mendapat laporan dia pergi ke perusahaan kemarin." Temari menatap Hinata ragu. "Tenang saja, kurasa dia ada alasan berbohong padamu."

Hinata menganggukkan kepalanya mengerti. "I-iya.. Aku juga merasa seperti itu. Tapi, belakangan dia jadi aneh."

"Maksudmu?"

"Dia jadi lebih dingin kepadaku." Hinata menautkan kedua alisnya. Ia menggenggam erat rok panjangnya tak peduli rasa sakit di tangannya. "Terkadang aku masih bingung menghadapinya."

Temari terdiam mendengarnya. Ia lalu mengelus kepala Hinata lembut seraya tersenyum. "Aku yang kakak kandungnya juga begitu. Dia memang sulit dimengerti, jadi kau tenang saja."

"Ba-baik."

"Ngomong-ngomong, mengenai berkas ini.. Aku mencurigai Sakura sebagai salah satu tersangka pada kejadian itu. Semuanya ada dalam berkas ini, bukalah saat kau ada dirumah."

"Eh? Kejadian apa?"

"EhmKe-kematian Ibumu. Rasanya ada yang tidak beres."

Mendengar perkataan Temari, Hinata langsung memegangi dadanya yang mulai berdebar. "A-ah, aku tidak tahu."

"Ya, pada tahun yang sama dengan peristiwa itu, perusahaan Haruno langsung memuncak. Entah apa yang terjadi, sampai saat ini Naruto masih mencari tahunya. Karena itu, bersabarlah. Aku akan berusaha menemukan pelakunya." Temari tersenyum simpul.

"AkuMerepotkan Temari-neesan, juga Naruto-san.." Bisik Hinata meski Temari masih bisa mendengarnya. Ia merasa tidak enak hati pada keduanya. "Ma-maafkan aku."

"Tidak, kau tidak perlu minta maaf. Ini kehendakku dan Naruto sendiri. Tenanglah." Temari menepuk pundak Hinata pelan.

"Tidak! Ini salahku! SemuanyaKarena aku semuanya menjadi begini.."

"Hinata, dengarkan aku! Kau akan baik-baik saja. Ini bukan salahmu"

"nuh..aku membunuh mereka."

"Eh?"

"Kalau saja aku mati pada saat itu.. Gaara, bahkan Temari-nee tidak akan kesulitan seperti ini.."

Temari mulai khawatir melihat tubuh Hinata mulai gemetar dan mulai kesulitan mengkontrol pernafasannya. "Hinata? Kau baik-baik saja? Tunggu sebentar, aku akan memanggil taksi dan mengantarmu pulang."

Tepat saat Temari berdiri dan bergegas keluar kafe, tiba-tiba tubuh Hinata terjatuh manis ke atas lantai. Menimbulkan suara kencang, sehingga Temari sendiri dibuat kaget bukan main, melihat Hinata sudah tak sadarkan diri.

"Hinata! Hei, Hinata. Kau baik-baik saja?!" Seru Temari seraya mencoba mengangkat pundak Hinata. "Hinata! Oh tuhan"

Buru-buru Temari mengambil ponselnya dan menelepon ambulans. Setelah menelepon ambulans, dengan rasa takut, Temari lalu segera menelepon salah satu nama dari kontaknya;

Gaara.

.

.

.

Temari yang tidak tenang duduk di tempat tunggu, Ia berulang kali membuka-tutup ponsel flip-nya. Ia sedikit berkeringat dingin, karena dirinyalah yang memanggil Hinata disaat kondisi wanita itu sedang tidak stabil. Belum sempat Temari berdiri, tiba-tiba seorang lelaki berambut marun dengan jas hitamnya berlari ke arah Temari. Terlihat amarahnya saat melihat kakak perempuannya langsung membungkuk dalam.

"Maafkan aku, Gaara! Ini salahku mengajaknya keluar!"

Gaara mengepalkan tangan kanannya erat dan menghantamnya ke tembok putih itu kencang. Temari langsung bergidik menyadari betapa besar kemarahan adiknya yang satu ini.

"Sudah kubilang jangan bicara apapun, dan sekarang kau malah menemuinya!" Seru Gaara kencang. "Dia baru ingat akan peristiwa itu! Kenapa kau malah mengungkit masalahnya!?"

"Ma..maafkan aku." Temari lagi-lagi mengucapkannya tercekat. Ia telan salivanya melihat Gaara menatapnya tajam. Gaara mengkontrol nafasnya yang naik-turun dan segera duduk. Tepat beberapa detik setelahnya, sang Dokter wanita keluar dari ruang rawat Hinata.

"Bisa aku bicara dengan keluarganya?" Ujar dokter tersebut. Tag name 'tsunade' yang terpasang di jas putihnya terpampang jelas di hadapan Gaara yang segera berdiri.

"Aku suaminya. Bagaimana kondisinya?"

"Oh, tenanglah. Dia baik-baik saja. Istrimu hanya kecapekan dan sedikit mengalami stress. Apa dia tergantung pada obat dulu?"

"..ya. Tapi, sekarang dia sudah tidak meminumnya lagi."

"Begitu? Lebih baik hindari dia dari obat-obat sepereti itu, karena tidak baik untuk janinnya juga. LaluDia memiliki sedikit tekanan mental dan batinnya. Sebaiknya Istrimu menjalani rehabilitas."

"Maaf, tapi Istriku tidak gila." Balas Gaara tajam di depan Tsunade. Ia sedikit marah mendengar perkataan dokter bertubuh subur itu kali ini.

"Tuan Sabaku, asal kau tahu sajaRehabilitas bukan berarti dia gila. Aku hanya ingin dia meringankan beban pikirannya." Tsunade menatap Gaara sedikit kesal. Tsunade lalu mendekatkan wajahnya ketelinga Gaara. "Dan, sebaiknya kau lebih menghargai sikap Istrimu, Gaara."

Tsunade lalu berjalan meninggalkan Gaara. Ia memang cukup dekat dengan Tsunade karena Naruto juga sering mengajaknya ikut berkumpul dulu. Dibanding sosok Ibu, Tsunade lebih terlihat seperti nenek bagi Gaara.

"Ga..Gaara, Hi-Hinata sedang hamil?" Tanya Temari semakin tidak enak hati.

"Ya. Karena itu aku tidak ingin dia memikirkan hal ini." Gumam Gaara yang mulai berjalan ke arah pintu. "Pergilah, aku sedang tidak mau melihatmu."

BLAM

Gaara meninggalkan Temari memasuki ruangan Hinata sendirian. Temari sendiri hanya bisa menghela nafasnya panjang. Ia benar-benar menyesal akan keputusannya menemui Hinata hari ini.


"Gaara-kun?" Hinata yang masih terkapar di atas ranjang putih itu melihat Gaara memasuki ruangan dengan perlahan. "Maafkan aku"

"Tidak apa." Jawab Gaara yang segera mengambil kursi untuk duduk di sebelah ranjang Hinata. Gaara lalu meraih tangan kiri Hinata yang masih terhubung dengan selang infus disebelahnya. Ia merasa sedih lagi-lagi melihat Hinata terbaring di Rumah Sakit.

"Akukenapa?"

"Kau hanya kelelahan. Lusa sudah boleh pulang."

"Kerjaanmu?"

"Sudah selesai. Tenang saja." Ujar Gaara berbohong. Sebetulnya, kerjaannya masih bertumpuk saat mendengar telepon Temari tadi. Yah, setidaknya Gaara bisa memastikan besok Ia harus lembur untuk menyelesaikannya.

"UhmGaara-kun, apa dia baik-baik saja?" Tanya Hinata sembari memegang perutnya dengan tangan kanannya. Usia yang sudah menginjak 2 bulan itu membuat Hinata sedikit was-was karenanya.

"Tidak apa-apa, dia baik-baik saja."

"Syukurlah." Hinata tersenyum dan kembali menatap Gaara. "Syukurlah, Gaara-kun juga sudah kembali lagi."

"Maksudmu?"

"Dari kemarin kau bersikap dingin padaku. Aku jadi tidak tenang." Hinata tertawa pelan. "Terimakasih sudah datang."

"ng."

Gaara lalu menyentuh kening Hinata perlahan. Dibukanya poni yang menutupi kening Hinata dengan lambat. "Kau terluka."

"Ah, sepertinya saat aku pingsan, aku tergores sudut meja." Ingat Hinata samar-samar.

"Kenapa kau menemui Temari tanpa sepengetahuanku?" Ujar Gaara sedikit kesal. Ia lalu kembali memegang tangan kiri Hinata dan menggenggamnya erat.

"Karena.. Aku penasaran."

"Ng?"

"Kenapa Gaara-kun berbohong bilang kau pergi ke kantor, padahal tidak." Hinata menautkan kedua alisnya, Ia terlihat sedih kali ini.

"Ya, aku bohong. SejujurnyaAku pergi menemui Haruno."

Mendengar nama itu, Hinata segera menatap Gaara tampak tak percaya. "Kau.. Menemui Sakura? Sendirian?"

"Ya. Kau tenang saja"

"Mana bisa aku tenang.." Bisik Hinata pelan.

"Hm?"

"Mana ada istri yang tenang mengetahui suaminya pergi ke tempat wanita seorang diri!" Ujar Hinata lebih kencang. Hinata segera bangun dan terduduk di atas kasur sembari memegang kedua lengan Gaara kencang. "Kenapa kau bohong padaku?!"

"H-hoi, Hinata. Kenapa? Tenanglah-"

Gaara memandang Hinata bingung. Entah mengapa emosi Hinata mulai naik sebegitu cepatnya.

"Padahal aku sedang memikirkan ingatankuTapi kau malah bertemu Sakura.." gumam Hinata pelan. Ia menggoncang kedua lengan Gaara, membuat Gaara semakin memegang erat kedua pundak Hinata. Bingung dengan emosi wanita di hadapannya kini.

"Tenanglah, ada apa denganmu. Tidak biasanya kau begini."

"Kau memilih Sakura Kau akan meninggalkanku, sama seperti yang lain kau akan meninggalkan aku.."

"Hinata! Jangan berpikir apa-apa, tenangkan dirimu!" Gaara memeluk Hinata erat. Ia masih ragu dengan perilaku Hinata sekarang.

"Kau sama saja dengan mereka.. Kau selaluUgh!"

Merasa mual, Hinata buru-buru menutup mulutnya, Ia segera melepaskan pelukan Gaara, ingin segera turun dari kasurnya sekarang. Tetapi apa daya, infus masih terhubung di tangan kirinya, membuatnya tertahan di atas kasur.

"Muntahkan saja disini!" Gaara menahan tubuh Hinata. Ia segera memencet tombol untuk memanggil suster di samping kasur cepat. Dengan tergesa-gesa Gaara segera keluar ruangan tersebut, melihat seorang suster sedang berjalan disudut ruangan, dengan kencang Gaara memanggilnya untuk datang.

"Apa kau baik-baik saja?" Gaara yang kembali memasuki ruang rawat, melihat Hinata yang masih terduduk di atas kasur yang sudah kotor dengan muntahan Hinata. Merasa malu, Hinata hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Gaara.

"Hinata-san, tidak apa-apa.. Kau bisa mengganti bajumu. Gaara-san, apa kau mau tetap berada disini?" Tanya seorang suster yang segera membersihkan kasur Hinata dengan cepat.

"Ya, aku akan mengganti pakaiannya." Jawab Gaara sambil berjalan ke arah Hinata yang masih terduduk di atas kasur.

"Baiklah, saya akan keluar mengambilkan kasur yang baru. Silahkan memanggil saya jika ada apa-apa." Suster bernama Shizune itu segera keluar meninggalkan Hinata dan Gaara berdua.

"Buka bajumu," Gaara melepaskan kaitan baju di belakang tubuh Hinata. Pakaian pasien berwarna hijau yang kini terlepas dari Hinata, segera Gaara taruh di atas meja. Hinata yang kini hanya mengenakan pakaian dalamnya tetap diam tak berkutik. "Aku akan mengelap tubuhmu, menghadaplah kemari."

Hinata menatap Gaara yang sudah membawa sebuah handuk kecil hangat dari kamar mandi. Ia lalu duduk di pinggir kasur, membiarkan Gaara mengelap tubuhnya dari kaki dengan lembut.

"Maafkan aku"

"Untuk apa?" Tanya Gaara tenang.

"Emosiku lagi-lagi tidak stabil."

"Ya. Karena itu, jangan lagi berpikir yang aneh-aneh. Itu akan membebanimu." Gaara lalu melepaskan kaitan bra Hinata, membersihkan tubuh wanita itu menyeluruh. Gaara lalu mengangkat rambut Hinata, mengelap dengan lembut punggung putih wanita di depannya. Sesekali Gaara mencium tengkuk Hinata, bukan dengan hasrat nafsunya, melainkan rasa cintanya pada Hinata. Ia terlalu sayang pada wanita itu hingga tak tega melihatnya jatuh lemah seperti ini.

"Gaara-kun, terimakasih telah menikahiku." Tiba-tiba kalimat itu keluar dari mulut Hinata. Gaara hanya bisa kaget mendengarnya, meski bibirnya sedikit terangkat saat itu. "Terimakasih"

Gaara yang berada di belakang Hinata, tahu bahwa wanita ini sedang menangis. Suaranya yang serak saat berterimakasih itu membuat hati Gaara terenyak. Merasa tidak tahan, Gaara segera memeluk Hinata dari belakang erat. Tak peduli Hinata tak mengenakan pakaian sehelai benangpun, Gaara tetap mendekatkan tubuhnya.

"ya."

.

.

.


Setelah mengganti pakaian Hinata, Hinata segera tertidur lelap. Merasa sudah terlalu larut, Gaara keluar dari ruangan itu. Ia lalu mengeluarkan ponselnya, melihat betapa banyak panggilan tak terjawab dari beberapa direktur dan klien-kliennya. Ia memang sengaja tidak mau menjawab, demi mengisi waktunya dengan Hinata hari ini.

"Bagaimana kondisinya?" Tsunade yang tiba-tiba datang segera duduk di sebelah Gaara.

"Entahlah. Akhir-akhir ini emosinya mulai aneh. Dia juga sering mual, apa itu normal?"

"Ya, saat mengandung memang banyak wanita yang mual seperti itu, tapi ada juga yang tidak. Kau tenang saja. Hanya saja, jangan sampai dia tertekan dan memikirkan banyak masalah, tidak baik untuk anakmu juga." Tsunade tersenyum simpul. "Kau tahu? Kau terlalu khawatir padanya."

"Ya, karena dia berharga."

Mendengar jawaban Gaara, Tsunade lalu menatap wajah Gaara di sebelahnya dan tersenyum jahil. "Aku tak menyangka, bocah yang dulu selalu bersikeras memasang topeng dinginnya ini sudah menikah dan akan menjadi seorang Ayah. Waktu memang cepat berlalu."

"Tsunade-san" Gaara lalu tersenyum sangat kecil. Bahkan hanya bisa dilihat secara kasat mata. "Aku harap kau juga bisa menyusulkuMenikah."

"He?! Da-dasar bocah yang satu ini-" Tsunade menahan amarahnya mendengar ucapan Gaara yang datar di telinganya. "Kau menginap disini?"

"Tidak, aku harus lembur karena aku meninggalkan banyak pekerjaan tadi. Karena itu, aku mohon bantuannya untuk menjaga Hinata. Tolong hubungi aku jika dia kenapa-kenapa."

"Tenang saja, aku akan segera memberitahumu!"

Mendengar jawaban Tsunade, Gaara langsung lega. Ia yakin Ia bisa mempercayakan Hinata di tangan Tsunade. Dengan buru-buru Gaara segera pergi keluar dari RS, meninggalkan Tsunade seorang diri.

"Aah-apa yang harus kulakukan minum bir? Tidak, bisa bahaya..."

"A-anu..." Terdengar suara Hinata pelan. Tsunade yang berada di dalam ruang rawat Hinata segera menolehkan kepalanya menuju Hinata yang sedang berusaha terbangun dari tidurnya.

"Tidurlah, jangan memaksakan dirimu dulu." Tsunade tersenyum dan duduk di sebuah sofa, tepat sebelah ranjang, di sudut ruangan.

"A-apa Gaara-kun masih disini?"

"Tidak, dia baru saja pergi. Apa kau butuh sesuatu? Mungkin dia masih di parkiran." Tsunade menatap Hinata penuh cemas.

"Tidak perlu! Aku hanya bertanya" Dengan tersenyum, Hinata menggelengkan kepalanya, sesungguhnya Ia sedikit sedih tidak melihat Gaara saat terbangun.

"Tenang saja, dia akan kembali secepatnya saat pekerjannya selesai. Apa kau lapar?"

"Tidak, terimakasih."

Tsunade lalu berdiri dan mengelus kepala Hinata lembut. Ia seperti menyayangi Hinata yang terlihat pucat di depannya. Hinata sendiri hanya bisa terdiam tak mengerti apa yang harus Ia lakukan.

"Kau mirip sekali dengan ibumu, wajah dan sifatnya."

Kalimat itu membuat Hinata tercengang. Ia langsung menatap Tsuande cepat, penasaran dengan perkataan Tsunade.

"A-apa anda mengenal Ibuku?"

"Ya, tidak terlalu dekat tapi dia sering berkonsultasi saat aku masih menjadi dokter di tempat kecil." Tsunade lalu kembali dan duduk dan mulai bercerita. "Terakhir kali aku bertemu dengannya saat kau masih bayi. Ia konsultasikan padaku, mengapa kau lahir dengan tubuh yang lemah. Ia ketakutan bahwa usiamu tak akan bertahan lama. Ia selalu bilang, 'tolong lakukan apapun asal dia bisa hidup hingga besar nanti. Jika nyawaku dibutuhkan, aku akan memberinya'. Dia sangat mencintaimu."

"A-ah, be-begitu" Hinata mulai menahan air matanya. Ia sedih mengingat terakhir kali Ia bersama Ibunya. Kenapa Ibunya ingin membunuhnya jika sangat mencintai Hinata? Pikiran itu mulai melesat di kepala Hinata.

"O,ya.. Aku juga ingatIbumu sering bilang padaku, 'lebih baik aku mati sebelum mereka menemukannya'. Aku tidak mengerti, tapi dia selalu berulang kali mengatakan itu. Apa kau tahu?"

"Eh?" Hinata mencoba mengulang perkataan Tsunade dalam otaknya. 'Mereka'? Siapa? Menemukan apa? Apa ini ada hubungannya dengan peristiwa itu? "A-anu! Tsunade-sanBoleh aku tahu.. Apa.. Kaa-san pernah menyebutkan nama seseorang? Siapapun itu"

"...hm? Ah! Aku ingat! Dia sering bercerita juga tentang sahabatnya, kalau tidak salah"

.

.

.


Gaara masih sibuk berkutat dengan laptop-nya, Ia tak peduli sudah 3 pagi menjalar di jam tangannya. Ia sibuk dengan dokumen dan berkas-berkas penting di atas mejanya. Pikirannya sangat terfokus dengan semuanya, Ia bahkan tak berniat pergi dari tempat itu meski sudah dini hari.

"Halo? Ya, ini aku. Aku sudah mengerjakan seluruh berkasnya. Besok, kau ambil dan segera kirim laporannya. Ya, ya.. Maaf menghubungimu sekarang. Terimakasih." Gaara mematikan ponselnya. Ia harus berterimakasih pada salah satu karyawannya itu, karena mau mengangkat telepon jam segini. Ya, mana ada orang yang mau bangun hanya untuk mengangkat sebuah telepon?

Ia lalu merapihkan meja kerjanya setelah menyelesaikan seluruh tugasnya. Ia minum kopi di cangkir putih miliknya dan mulai merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Gaara lalu mengambil berkas yang di berikan oleh Naruto tadi pagi. Sebuah data mengenai perusahaan Uchiha. Ya, Gaara sedang giat-giatnya mencurigai perusahaan sahabatnya yang satu ini. Meski tak menuduh bahwa Sasuke yang menjadi tersangka perusahaan Hyuuga, tapi ada baiknya berwaspada padanya.

Gaara lalu mulai membaca berkas di tangannya cermat. Tidak ada penemuan besar. Skala ekonomi Uchiha tak terlihat aneh. Bahkan normal. Tak ada tanda-tanda bahwa Uchiha melakukan kecurangan. Melihat itu, Gaara segera melempar berkasnya di atas meja. Tak puas dengan penemuan Naruto. Ia lalu mengambil kunci mobilnya, segera berjalan keluar, menuju Rumah Sakit yang tak jauh dari kantornya. Tempat dimana Hinata berada.


Pagi-pagi Hinata sudah disambut kehadiran Gaara yang masih tertidur di atas sofa. Ia sedikit senang, bukan hanya ada Gaara disini, melainkan Ia diperbolehkan pulang siang nanti oleh pihak RS. Merasa bersemangat, Hinata segera bergegas bersiap-siap. Setelah mandi, dan berganti pakaian, Hinata segera berjalan menuju ke arah sofa.

"Gaara-kun? Bangunlah, aku harus siap-siap.."

Beda dengan dirumah, Gaara segera membuka matanya dan bangun dari atas sofa. "Jam berapa sekarang?"

"10, apa kau masih ingin tidur?"

"Tidak, sudah cukup. Aku harus segera ke perusahaan. Kau sudah boleh pulang sekarang?"

"Iya. Aku akan bersiap-siap."

"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang dulu." Gaara lalu segera bangun dan memasuki kamar mandi yang berada di dalam ruangan. Sementara Hinata sedang memasukkan pakaiannya, Tsunade lalu masuk dengan riangnya.

"Halo! Selamat pagi, senangnya kau bisa pulang lebih cepat." Tsunade tersenyum lebar dan segera membantu Hinata mengenakan sweater putihnya.

"Iya, terimakasih, Tsunade-san."

Gaara yang baru kembali dari dalam kamar mandi membungkukkan tubuhnya memberi salam pada Tsunade. "Terimakasih telah menjaga Hinata. Aku berhutang budi padamu."

"Santai saja, kau pikir aku repot hanya dengan hal ini?" Tsunade tertawa kecil. "Hati-hatilah, jangan terlalu lelah. Kau tidak mau kehilangan anakmu 'kan?"

"Ah, iya. Terimakasih banyak." Hinata tersenyum simpul seraya membungkukkan tubuhnya.

"Baiklah, kami permisi." Gaara segera mengambil barang-barang Hinata dan keluar bersama Hinata dari Rumah Sakit menuju mobil mereka. Sembari Gaara memasukan barang di dalam mobil, Hinata segera duduk di bangku depan. Ia tampak lebih segar hari ini.

"Ada apa? Apa tubuhmu benar-benar baik-baik saja? Butuh sesuatu?" Ujar Gaara cerewet. Ia terlihat lebih protektif kali ini terhadap Hinata.

"Tidak, aku baik-baik saja."

"Baiklah." Gaara lalu mengenakan sabuk pengamannya dan mulai menjalankan mobil ke arah jalan raya.

"A-anu, boleh aku meminta sesuatu?" Tanya Hinata pelan. Gaara yang fokus menyetir menganggukkan kepalanya. "Akuingin kau bertemu dengan Ayahmu."

Gaara yang tadi tampak tenang segera masam. Ia terlihat tidak menyukai topik ini. "Untuk apa?"

"Temari-nee bilang hubunganmu dengan Ayahmu buruk"

"Kau tahu itu, dan kau meminta kami bertemu? Tidak."

"Tapi, kebetulan"

"Apa yang kebetulan!?" Gaara memberhentikkan mobilnya tiba-tiba. Ia terlihat emosi kali ini. Beruntung jalanan sepi sehingga tak mengganggu mobil lain. Tapi tidak untuk Hinata, Ia sangat kaget saat Gaara memberhentikan mobilnya cepat.

"K-kau bisa berhenti dengan baik-baik"

"Jadi, apa yang membuatmu menyuruhku bertemu dengan orang itu?" Tanya Gaara tak mempedulikan Hinata.

"Ka-karena sebentar lagi ulang tahunmu.. Jadi"

"Aku bukan anak kecil lagi."

Kata-kata itu membuat Hinata sebal. Ia yang sedari tadi menahan emosinya segera meledak.

"kau masih kekanak-kanakkan!" Seru Hinata kencang. Ia segera melempar tas-nya dan keluar dari mobil. Tak peduli Gaara yang memaki dari dalam mobil. Dengan cepat Hinata berlari ke arah pejalan kaki, tempat dimana Gaara tak bisa mengejarnya dengan mobil yang masih di jalan raya kini.

"Wanita itu" Gaara kembali menjalankan mobilnya. Kemana? Pulang? Tidak. Dia memarkirkan mobilnya di depan mini market dan segera keluar dari mobil. Sebenarnya, Gaara kalau boleh jujur, Ia tidak mau mengejar Hinata. Ia sudah lelah melakukannya. Ia merasa Hinata pasti hanya akan kembali ke dua tempat, jika bukan rumah Gaara, maka Ia akan pulang ke rumah Hyuuga. Gaara tahu itu. Tapi, Gaara kini lebih mencemaskan benih di dalam perut Hinata dibanding Hinata sendiri. Jika bukan karena itu, Gaara tidak akan mau berlari seperti ini sekarang.

Hinata yang baru sembuh mulai lemas. Ia segera berjongkok di jalan sembari mengatur pernapasannya. Tak sadar bahwa Gaara kini tepat di belakanganya.

"Beraninya kau" Dengan suara beratnya, Gaara segera mengangkat tubuh Hinata bak seorang putri. Bedanya, sang putri tak terlihat senang kali ini.

"Le-lepaskan aku!"

"Berhenti memberontak."

"Aku tidak akan pulang sampai Gaara-kun mau mengunjungi keluargamu!"

"..."

Gaara lalu menghentikkan langkahnya dan menatap Hinata datar.

"Baiklah. Aku akan menemuinya minggu depan."

"Be-benarkah?"

"Kau mau aku mengubah pikiranku?"

"Ti-tidak! Syukurlah..."

"Tapi, sebagai gantinya.. Jangan lagi membuatku cemas, mengerti?"

"I-iya.. Aku mengerti."


.

.

.

.

Ting tong

"Ya..?" Sakura yang baru mengganti pakaiannya segera bergegas membuka pintu apartemennya. Matanya langsung terbuka saat melihat siapa yang datang di hadapannya.

"Maaf mengganggu, boleh aku bicara denganmu?"

"ada apa? Aneh sekali kau datang kemari."

"..ya. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan. Terutama mengenai suamiku."

Wanita berambut panjang itu tersenyum tipis seraya menunjukkan sebuah dokumen di tangannya. Dengan baju terusan hitam di atas lutut itu, Ia anggukkan kepalanya memberi salam.

"Masuklah, Hinata"

.

.

.


TBC

maaf pendek ya :'D

Chapter 8-nya aku upload minggu depan ya, udah ada sih, tapi aneh sekali upload 2 chapter gitu ;_;

Disini banyak yang beluim terungkap, tapi banyak clue tentang chapter depan hehe

DAAAN! Sasuke ga ada sama sekaliii!? Ya, karena chapter depan akan penuh sama Sasuke..haha

Heheu buat yang tanya kapan ini berakhir... aku juga gatau...

karena masih banyak rahasia yang belum aku ungkapin, dan 1 chapter aja bikin kalian bisa begadang bacanya hehe

Jadi kalau ditanya sampai chapter berapa, aku belum tahu.. yang pasti plot cerita sampai akhir udah ada,

tapi aku belum tahu bakal jadi berapa chapter ^o^;

Terimakasih banyak buat yang masih bngikutin LoU ini sampai chapter 7 (Wooow 7 loh) *3*

Ini fic pertama jadi belum bagus-bagus bgt, silahkan di review ya teman-temaaan X''D

review kalian membangkitkan semangatku untuk melanjtkan fic ini hehe~


Terimakasih buat yang udah baca, apalagi udh review.. omg seneng banget hehe

kirei- neko : hihihih terimakasih banyak atas reviewnya /3/ iya, banyak yang belum keungkap, makasih ya udah review /bearhugs

Naomi Hana : huhuhuhuhu maaf aku baru nongol lagi sekarang kyaaaaah makasih banyak yaaaa... aku juga mau coba buat sasuhina, semoga bisa untuk fic selanjutnya ;3;

SweetMafia95: selamat bergabung di ffn~/padahalsendirinyajugabarugabung/ maaf mengecewakan, tapi aku belum pernah ceritain kalau gaara itu anak kecil di masa lalu Hinata, aku juga gatau itu anak siapa /dilempar heheu makasih banyaaak

flowers lavender : berkat anda, aku semangat ngetiknyaaa XD maaf jadinya februari ya ;3; panggil aku kura-kura juga gapapa! XD

Amu B : sebegitu berlumutnya kah aku smpai kamu sudah membuat akun? hehe Iya, Sasuke bilang kalau Hinata mainannya, jahat ya :( baca terus ya buat tahu rahasia-rahasianya hehe pengennya sih nyelesain masalah Hinata dulu /kenapaspoiler

Ookami-Taiyou: gatau, kasian ya Hinata :( aku belum tau ini hepi ending apa nggak /dihancurkan/ ini hepi ending kok XD belum tahu itu anak siapa, semoga di chapter depan terungkap ya XD makasih sudah dibacaaa

hanazawa kay: ya, di chapter 6 bagian review aku udh kasih tau aku salah tulis /maafakubodohseduniahuhu/ nanti ku edit kalau sempat :D makasiiih tentang anak kecil itu bakal di ungkap chapter depan yaaa XD

soEe Intana: maaf telat update/tamparaku!/ 3 hehe disini ketauan deh kalau ternyata Hinata bohong, dia sebenrnya hamil kok D: baca terus ya makasiih

Guest : aku gapunya facebook huhuhuhuhu ;3;

mayu masamune: waa jangan begadang hehe.. maaf ya satu chapter kayak satu novel /no/ aku juga suka gaaraaa/ fangilrling/ makasih banyaak

And thank you buat review kaliaan huhuh aku seneng banget bacanya :
Fuchsia Harumi,Hinataholic,Guest,Ruki-chan SukiSuki'ssu,HIME,hyuuga kyoko,Sherinaru, .777,EdelweissHime,charida triska,Virgo24