Previous Chapter :
"Aku mengerti. Terima kasih Ino, perasaanku menjadi lega..." aku tersenyum kecil pada Ino. Dia memang sahabat yang terbaik. Ah kalau diingat- ingat aku belum pernah bercerita perihal Sasuke pada Naruto. Aku ingin tahu pendapatnya sebagai laki-laki.

Sasuke you are so mean, kau sukses membuatku galau bin mellow begini.

.

.

.

.

Disclaimer : Naruto and all characters belongs to Masashi Kishimoto-sensei.
This story belong to mine, based on TRUE STORY.

Genre : Romance, Humor, Slice of Life, Drama, Friendship, Family

Rate : T
(Warn : AU, OOC, typo, tidak baku, bahasa sehari-hari)

Kuroneko : My Love Journey ?
By Hikari Matsushita © Presents

Chapter 7

.

.

.


Hari berganti, malam pun berganti pagi. Hari yang cerah untuk memulai aktifitas. Dan aku pun mulai kembali beraktifitas di waktu liburan semester-ku ini.

"Ino. Ino. Ino! Bangun!", lain hal dengan sahabat pirangku yang masih nyenyak terlelap di kasur kamarku. Setelah sesi curhatku semalam, Ino terus bercerita panjang kali lebar soal keseharian dia di Suna. Percayalah, jika aku minat bisa dipastikan aku meluncurkan sebuah buku berisi cerita Ino dan akan kuberi judul "Petualangan Ino Mencari Kitab Suci".

"Lima menit lagi Sakuraaa..." gumam Ino dengan suara khas orang malas bangun tidur.

"Hei! Katanya mau berangkat pagi ke Suna? Kok masih asyik tidur?", aku pun protes dengan sikap Ino yang susah bangun tidur. Padahal siapa yang tadi malam mengingatkan untuk dibangunkan pagi-pagi buta. Dasar Ino-buta.

"Santai saja..." balas Ino dengan gumaman super menyebalkan.

"Santai saja gundulmu! Lihat itu handphone-mu terus-terusan berbunyi!", aku berteriak kesal.

"Yare-yare, tinggal padamkan saja..." seketika Ino bangun dan segera mematikan handphone-nya. Astaga! Orang ini tidak berubah dari dulu!

"Ok, fix! Aku tak peduli kalau terjadi apa-apa! Yang penting aku sudah membangunkanmu sesuai permintaanmu, Ino-buta!" kembali kuberteriak, aku paling malas menghadapi Ino ketika pagi hari. Dia akan sangat menyebalkan, aduh please tekanan darahku naik!

Kulirik Ino yang kembali membenamkan tubuhnya pada kasur empukku, ditambah selimut yang kemudian ia tarik untuk membungkusnya.

"Geez, tukang tidur." dengusku sembari menghampiri pintu kamar.

.

.

.

.

"Are? Mana Ino, Saki?" tanya Ibu ketika aku sampai di lantai satu, tepatnya di ruang makan.

"Ck, masih tidur, susah dibangunkan..." aku mendecih sebal pada sahabatku yang satu itu.

"Tidak berubah ya..." balas Ibu yang tengah menyiapkan sarapan pagi untuk kami sekeluarga berikut si pirang tukang tidur.

"Hm... Kalau berubah, berarti akan ada badai." timpalku bercanda. Dan Ibu hanya tersenyum kecil.

Kulihat Ibu kembali menuju dapur, segera saja aku mengekorinya, siapa tahu dapat kudapan enak.

"Ish, apa-apaan sih di belakang Kaa-san? Seperti anak bebek saja!" sewot Ibu ketika tahu anak ajaibnya tengah mengekor di belakangnya.

"Iya, Kaa-san Ibunya bebek yang lagi diekori anak bebek diantara kawanan bebek yang mencari makanan bebek ke dunia penuh bebek sesuai petuah tetua bebek-"

"STOP! Kamu ini ngomong apa sih? Bikin bebek bingung aja! Eh? Bebek? Argh!" Ibu kesal dengan ocehanku soal bebek.

"Tuhkan bebeknya bingung."

SRET. Serempak aku dan Ibu menolehkan kepala ke belakang.

"TOU-SAN!" suara Ibu menggelegar dengan semangat membara.

"Good job, Daddy!" kuacungkan jempol pada Ayahku dengan tambahan kedipan mata, serunya usil di pagi hari.

"Jangan sok Inggris deh. Gak ke-muka-an." ujar Ayah dengan datar, sedatar papan triplek.

'Sakiiitttt !' aku hanya bisa tersenyum miris. Gak asyik banget nih Daddy!

Ya sudahlah, lebih baik buka kulkas saja. Biarkan Ibu yang tengah bersungut-sungut dan Ayah yang sedang asyik mengusili Ibu.

Cklek.
'Bikin susu kedelai ah~' kuambil satu dus susu kedelai instan dari dalam kulkas. Kututup pintu kulkas dan segera kuseduh susu kedelai, lalu kubawa segelas susu itu menuju ruang keluarga.

"Sakura! Mau kemana?!" tanya Ibu yang diiringi nada sewot, masih ngambek tuh.

"Mau minum susu sambil nonton tv." jawabku polos, berasa gak punya salah.

"Bangunkan Sasori sana!" perintah Ibu, galak.

"Kan ada Gaara, Kaa-san." elakku penuh alasan.

"Dia lagi asyik ngemil puding di ruang tv, sudah sana cepetan!" balas Ibu.

'Cih, tuh karung beras ajaib bukannya sekalian bangunin Sasori.' sungutku dalam hati.
"Tsk. Iya-iya." jawabku malas.

"Jawab 'iya'-nya satu kali saja!" sewot Ibu tak terima.

"Ea." jawabku lagi, kemudian aku segera berlari menuju kamar Sasori dan Gaara sambil membawa segelas susu.

"SAKURA! Gak Tou-san gak anaknya sama-sama nyebelin!" omelan Ibu masih terdengar di telingaku.

"Cieee~ Biar nyebelin tetep suka 'kan?"

'Anjrit! Tousan ngegombal! Huek' aku bergidik mendengar suara Ayah sekilas tadi.

.

.
Ketika sampai di ruang makan, segera kutenggak habis susu kedelaiku dan langsung aku menuju lantai dua.

Dok-dok. "Sasori! Bangun!" kuketuk-ups-kuhantam pintu kamar Sasori dan Gaara dengan kepalan tangan yang kuat, berharap Sasori terbangun.

"Woi! Bangun!" kembali kubersuara merdu bak pemain opera gagal audisi.
'Eswete banget gak bangun.' dengan langkah cerdik nan unyu aku masuk ke dalam kamar.

"Aish, pantas saja tak segera bangun."
Kulihat adikku tengah nyaman berguling-guling ria, rutinitas wajib untuk dia yang ajaib otaknya.

"Sasori, cepat siap-siap. Dipanggil Kaa-san sarapan." ucapku malas melihat gerakan rolling yang sama setiap pagi ketika aku membangunkan Sasori.

"Hmm..." dan Sasori hanya bergumam tak jelas sebagai jawaban di tengah kegiatan ajaibnya.

"Kata Kaa-san, kalau tidak cepat bersiap uang jajan dipotong." bohong banget.

"LAGI?! Oke-oke aku bangun!" seketika Sasori berdiri tegap dari posisi roll depannya.

"Anak pintar~" aku berjinjit dan langsung menepuk-nepuk kepala merahnya.

"Gak jadi dipotong 'kan uang jajannya?" tanyanya sedikit polos.

"Yup. Mana tangannya?" dengan senyum kupinta tangannya, otomatis Sasori menumpukan kedua tangannya di atas tangan kananku, persis anjing.

"Good boy~" kembali kuusap rambutnya dengan tangan kiriku. Sasori belum juga sadar telah aku nistai dengan gembira haha. Maklum, efek bangun tidur jadi otaknya rada lambat.

"Nah, coba menggonggong?" perintahku usil.

"Woof! Woof!"

Ckrek. Suara kamera.

"Are? Tadi apa?" Sasori mulai sadar dari pengaruh tipu dayaku.

"Woof! Lucu sekali anjingnya, Nee-san." ucap Gaara pelaku perekam tindak-tanduk Sasori yang nista.

"Iya nih, sayang lemot gitu~" ujarku menimpali diiringi kikikkan geli menahan tawa.

"GAA-RA... SA-KU-RA..." geraman Sasori penuh tekanan, ih ngeri haha.

"Wah, sudah sadar Sleeping Beauty?" aku menggodanya.

"Awas Nee-san, nanti rabies." tambah Gaara membumbui godaanku.

"Oh iya ya? Ih takuuutt~ kabur yuk, Gaara!" aku dan Gaara langsung ambil langkah kaki seribu, makin panas aura Sasori.

"Aa takuuutt." Gaara berucap seolah-olah ketakutan dengan nada datar.

Kami pun segera masuk ke dalam kamarku dan segera kukunci.

1
2
3

"AWAS KALIAN! DENDAM NYI PELET LEBIH KEJAM DARIPADA IBU TIRI!"

"Hahaha, kebanyakan drama tuh kakak kembarmu, Gaara!" celetukku seraya tertawa.

"Itu adikmu, Nee-san." balasnya datar.

Aku masih sibuk tertawa, tak sadar jika saat ini atensi Gaara berpindah pada sosok Ino yang masih pulas di kasur.

Dan tanpa tedeng aling, Gaara mendekati kasur dimana Ino tidur dan memperhatikan si pirang tidur. Kalau yang ini sih bener Sleeping Beauty.

"Doushite? Cantik yaa?" celetukku membuyarkan kegiatan Gaara.

"Hn. Sayang, kalau bangun seperti sapi gila."

"Huahahaha! Naksir mah bilang aja! Gak usah ngehina, Gaara-pyon!"

Tampaknya Ino mulai tak tenang dalam tidurnya, terlihat keningnya yang berkerut-kerut.

"Naksir? Mimpi." cibir Gaara, tapi masih memperhatikan Ino.

"Haha, ngaku aja sih!" aku masih heboh tertawa.

Raut wajah Ino makin tak nyaman. Oh, aku baru sadar kalau wajah Ino terkena semburan hujan lokalku. Ups, bendungannya jebol.

Jreng. Seketika mata Ino melotot, mirip mendiang Susana.

"Mau minta sate ya?" idiot sangat pertanyaan Gaara, dikiranya Susana asli apa?

"Enggak bang, ini hujan lokal dari mana bang?" ya ampun, malah ikutan drama ini makhluk pirang. Yasalam.

"CUT! CUT! Mana ekspresinya?!" aku berteriak memutus kontak mata mereka. Dan mereka kompak menengok ke arahku dengan tampang ala Susana.

"Eh please, ngeri loh tatapan kalian hehe..." aku tertawa miris, keki banget ditatap kayak gitu.

Tuhkan suasana jadi horror. "Eh jangan becanda dong, sudah pagi nih!" masih dengan teguh mereka menatapku seperti hendak menelanku hidup-hidup.

Krik krik krik. Suasana hening dan aku ketakutan sendiri.

Pong pong. Telepon genggamku berbunyi. Yokatta!

"Peace. Ada sms hehe." cengiranku mewarnai suasana awkward ini.

Sret. Whazzup dari Sasuke! Langsung kucium layar smartphone-ku.

'Pagi ^~^ Apa kabar?' simple, tapi mengena dihati. Cieee~

'Pagi, baik. Kamu? :3'

'Baik juga, sebenarnya disini sudah jam 9 loh ^~^' balasnya cepat.

'Yokatta. Wah beda waktunya cuma dua jam ya?' aku balas dengan cepat dan kuabaikan dua makhluk yang sempat membuatku bergidik.

'Iya, tapi, aku mengantuk sekali ~_~'

'Loh? Semalam bergadang?' balasku lagi. Aku yakin Gaara dan Ino menatapku heran yang tengah tersenyum pada telepon selular.

'Iya ^~^'

'Ada yang dikerjakan ya? Atau ada yang dipikirkan sampai bergadang begitu?' balasku lagi.

'Ada, mikirin kamu :3'

Blush. Ah pagi yang cerah~

'Haha, becandanya ada-ada aja X/D'

':3 ya sudah, oyasumi.'

'Un, oyasumi :v', eh? Kok malah tidur? Ketahuan atasannya bisa gawat tuh.

Cieee, yang salah tingkah~ siapa? Aku! Cieee, yang mukanya merah~ siapa? Aku! Cieee, yang paginya cerah~ siapa? Aku!

"Hehe, lalala~ totemo daisuki Doraemon~"
Anggap saja Gaara dan Ino angin lalu yang penting hati bahagia.

"Mulai deh gilanya." cibir Ino.

"Biarin~ lalala totemo daisuki Doraemon~" aku mulai sok rajin membereskan kasur dan benda-benda di atas meja belajar dan nakas dekat tempat tidur, padahal biasanya kalau niat.

"Ada cupid?" tanya Gaara entah pada siapa.

"Awas, jangan ganggu Snow White beres-beres~!" usirku pada Gaara dan Ino.

"Cih, baru juga semalam dikasih nasihat soal Sasuke." decih Ino sembari turun dari kasur.

"Sasuke? Dare?" tanya Gaara pada Ino.

"Gebetan fana-nya." dengus Ino.

"Dia nyata, Ino sayang~ sudah ya, Gaara kecil gak usah tahu~" aku pun menepuk kedua kepala mereka. Berhubung tinggi Gaara ini agak dibawah rata-rata, jadi aku tak perlu berjinjit.

"Nah, kalian berbenah diri ya~ bentar lagi dipanggil Ibunda untuk sarapan. Kakak yang cantik ini mau bersih-bersih dulu~"

"Idiot." cibir Ino lagi, ia kemudian memutar kunci pintu membukanya.
Ino pun keluar diikuti Gaara yang tak merespon apapun. Kaget mungkin.

.

.

.

.
'Sasuke. Harus segera cari tahu.' batin Gaara.

.

.

.
"Ohayou, Oba-chan~" sapa Ino dengan tampang sumringah walaupun belum cuci muka, jadi jika kita perbesar wajah Ino maka akan tampak belek dan jalur iler nan aduhai.

"Ohayou, Ino-chan~ akhirnya kau bangun juga. Katanya mau berangkat ke Suna pagi-pagi?" jawab Mebuki ditengah-tengah kesibukkannya menyiapkan sarapan untuk enam perut.

"Ehehe, etto, aku bangun kesiangan, ba-chan. Ehehe." tawa ragu dan garukkan di kepala sudah cukup untuk Mebuki ketahui dari sahabat karib putrinya.

"Kebiasaan." cibir Mebuki tanpa tedeng aling. Dan Ino cuma bisa nyengir, memang sudah kebiasaan mau bagaimana lagi?

Lalu Ino pun langsung masuk kamar mandi guna membersihkan wajah mulus tanpa jerawatnya, tapi belek dan jalur iler masih nyata adanya.

.

.
Cklek.
Gaara rada komat-kamit ketika memasuki kamarnya dan Sasori.

Kepala nongol, tengok kanan-kiri, radar aktif, aman.

"Keknya Saso-nii lagi di kamar mandi deh." gumam Gaara pada diri sendiri.

"Pasti lama, dasar kuncen wc." gumam Gaara lagi, sembari menyiapkan buku pelajaran untuk hari ini.

"Sasuke itu... siapa ya? Makhluk darimana ya? Sejenis dengan Nee-san gak ya?" gumam Gaara kesekian kalinya.

"Kok bisa dekat dengan Nee-san yang abnormal gitu?"

"Bisa dipalak gak ya?" terus dan terus Gaara bertanya pada diri sendiri. Begini nih kalau seorang Gaara kepo bakal autis saking penasarannya.

.

Setelah kehebohan di pagi buta-enggak pagi banget sih-mereka akhirnya berkumpul di meja makan untuk mengadakan konser akbar Haruno and Friends-salah ding-maksudnya sarapan bersama.

"Ehem, Ino-chan berangkat ke Suna jam berapa?" pertanyaan waras yang tak disangka-sangka datang dari kepala keluarga Haruno.

"Ecieee~ tumben Ji-chan nanya cieee~ mau kasih duit ya? Atau mau nganterin ke Suna?" balas Ino dengan usil.

"Ih sengklek juga kamu kayak Sakura." gumam Kizashi santai, santai sih santai anakmu pedih tuh.

'Salahku apaaa?!' batin Sakura merana.

"Ih baru tahu ya Ji-chan? Kudet deh~ Jadi? Ji-chan mau kasih duit apa nganterin?" timpal Ino makin usil.

"Hn, siapa juga yang mau kasih duit sama nganterin? Nanya aja, biar Gaara sama Sasori Ji-chan bungkus buat kamu bawa." ucap Kizashi kalem.

Deg. Dua makhluk beku di tempat.

"Eh?!" si kembar kaget, lauk disumpitnya hampir masuk hidung, hampir loh ya hampir.

"Bwahahaha~" para kaum hawa di meja makan pun tertawa.

"Seriusan Ji-chan?" tanya Ino disela tawanya.

"Hn." jawabnya kalem tapi tetap keren.

"Biar Sakura yang bungkusin, Tou-san!" timpal si Pinky unyu.

"Lalu Kaa-san beri pita-pita pink berenda, pasti lucu kyaaa~" tambah Mama gaul.

"Kalian jahat..." lirih Sasori, cup cup cup.
Gaara hanya diam, fokus menghabiskan sarapannya, padahal hati cenat-cenut.

"Kawaaaii~ Bwahahahaha~!" lagi, para kaum hawa tertawa.

"Pffft." dan ini tawa terlaknat yang pernah ada, pelakunya siapa lagi kalau bukan SuperDad.

"Mou ii yo!" rajuk Sasori dan beranjak dari kursi.

"Hora Gaara! Ikou!" langsung Sasori ajak Gaara pergi dari meja makan. Padahal niat nambah nasi mangkok ketiga, tapi gagal.

Segera Sasori dan Gaara pergi dari sana, tak lupa mereka masing-masing membawa kotak bekal mereka yang tersedia di meja makan, masih inget aja.

Drap drap. Brak.
Langkah kaki yang disengaja dan hentakan pintu yang kasar terdengar kemudian. Satu kata, ngambek. Mereka pun berangkat sekolah tanpa pamit.

"Yes, duit aman." bisik lelaki paruh baya disudut sana.

"Ji-chan kejam juga ya?" gumam Ino.

"Misi penghematan." ujar Mebuki, diiringi anggukan mantap suaminya.

"Gak gitu juga kali." cibir Sakura.

"Dan Saki, mulai semester baru kamu kuliah di Oto saja." ucap Kizashi tegas.

"Seriusan, Tou-san? Kaa-san?" tanya Sakura tak percaya.

"Hn." jawab mereka kompak.

"Beneran ekonomi genting?"

"Hn."

"Tapi kan di UKK lebih bagus dari Oto!"

"Hn."

"Lah terus kenapa harus pindah?!"

"Hemat." dan mereka masih kompak menjawab.

"Gaji Tou-san kan diatas rata-rata, jangan pelit dong buat sekolah anak." Sakura mau nangis, beneran.

"Kamu gak tahu sih, perusahaan tempat Tou-san lagi ada PHK besar-besaran, jadi antisipasi kamu pindah kuliah. Daripada nunggak uang semester kan? Mending disini murah." seriusan ini SuperDad yang bicara.

"Parah banget ya Ji-chan?" tanya Ino penasaran.

"Banget." jawab Kizashi singkat.

"Gak apa-apa kan, Saki?" tanya Mebuki cemas menunggu reaksi putrinya.

". . ." hening tak ada suara, suasana cukup tegang, Sakura berpikir keras. Menimbang untung-rugi antara Konoha dan Oto.

Dan keuntungan terbanyak ada di Oto.

"Bagaimana Saki? Mau tetap di Konoha? Tou-san gak yakin gak bakal nunggak. Feeling Tou-san, Tou-san bakal alih profesi nih." jelas Kizashi.

"Iya, iya, Oto! Bawel deh." jawab Sakura kesal.

"Nanti liburan selesai, langsung Sakura urus kepindahannya." ucap Sakura kemudian.

"Tidak perlu, sudah Kaa-san urus. Kau cukup menyerahkan berkas-berkasnya dan angkut barang-barangmu di Apato." ujar Tou-san, lalu Kaa-san menyerahkan berkas-berkas pindah kuliah.

"Perencanaannya matang ya." cibir Sakura.

Mebuki hanya tertawa.

"Haaa... Ya sudah, besok Sakura ke Konoha. Pinjam mobil, awas kalau tidak." ancaman Sakura mutlak hukumannya.

"Hn." jawab sang ayah.

.

"Kami berangkat ya! Ittekimasu~" teriak ibu dimuka rumah.

"Ha'i~" jawabku dan Ino serempak.

"Saa, mau berangkat kapan?" tanyaku pada Ino.

"Ini juga mau berangkat." jawab Ino sambil berbenah diri.

"Kenapa gak bareng dengan mereka?" tanyaku lagi diantara kegiatan membereskan sisa-sisa sarapan.

"Gak enak kali, kantor mereka 'kan jauh dari stasiun. Think smart dong!" anjir, songong ini anak.

"Whatever." jawabku sok Inggris.

Tak lama kemudian cucian piring rampung, saatnya mengantar si pirang. "Ayo!" ajakku bersiap di genkan. "Un!" ucap Ino semangat.

Pintu rumah segera kukunci, begitupula dengan pagar rumah.

"Jadi gimana?" tanya Ino ambigu.

"Hah? Gimana apanya?" aku berbalik bertanya.

"Sa-su-ke." ucapnya menyindir.

"Lanjut!" jawabku mantap.

"Cih, labil."

"Biasa aja dong!" sewotku makin mantap. Kami terus berjalan dan terasa kami sampai di halte bus. Masih ada lima belas menit untuk bus yang berikutnya. Darimana aku tahu? Dari papan jadwal di halte dong~

"Oh ya, jadi nanti kuliah di Universitas Oto dong?" Ino memecah perhatianku.

"Aa, doushite?" jawabku tanpa mengalihkan atensi pada papan jadwal di halte.

"Iie, kepikiran aja. Jangan-jangan benar nanti Kizashi-ji banting stir." balas Ino.

"Mungkin. Tanah pertanian peninggalan Obaa-chan gak terawat, bisa digunakan kok." ucapku pelan, Oto memang termasuk desa, maka tak heran banyak lahan pertanian.

"Souka. Hidup tuh berat ya..." gumam Ino.

"Banget." aku mulai menerawang jauh tentang hidup.

.

.
Kring! Kring! Kring!
Suara bel sepeda yang khas dan itu menyebalkan jika berulang kali.

"Berisik banget sih! Gak tahu orang lagi melamun ya?!" aku pun gusar dengan bel sepeda yang tak berhenti berbunyi. Kualihkan atensiku pada sumber bunyi. Oh terima kasih, pirang yang lain datang.

Ckiitt.
Sepeda keranjang itu pun berhenti di depan kami.

"Ah! Wota!" sambar Ino menunjuk Naruto.

"Siapa? Aku?" tunjuk Naruto pada diri sendiri.

"Siapa lagi?" ujarku malas.

"Aku sudah tobat kok hehehe..." cengiran Naruto membuatku sebal.

"Ah! Mayuyu!" teriakku tiba-tiba.

"Mana?! Mana?!" Naruto panik.

"Aho." ucapku dan Ino kemudian.

"Jangan bercanda dong~ ah! Tadi aku ke rumahmu, tapi tidak ada orang jadi aku cari kesini. Ada omiyage~" Naruto ngelesnya ajib. Dia mengangkat paper bag dari keranjang sepedanya.

"Karena kebetulan ada Ino, bagi dua ya Sakura-chan! By the way, hisashiburi Ino!" masih dengan senyuman lima watt Naruto yang khas. Aku pun sibuk membongkar isi paperbag dari Naruto.

"Hisashiburi~" balas Ino riang.

"Kapan kesini? Kok gak bilang-bilang?" tanya Naruto yang dengan santai duduk di sepedanya.

"Kemarin, gomen gak kasih kabar. Bentar sih." jawab Ino kemudian.

"Aa, sou-"

"Ah! Royce Matcha! Shiroi Koibito! Marusei Butter!" pekikku ajaib melihat isi paperbag dari Naruto.

"Mau dong!" lalu Ino menyerobot paperbag-nya. Bikin kesal saja.

"-ka..." Naruto keki, omongannya gak kita dengarkan lagi.

"Ambil satu saja, Ino!" aku memperingatkannya, karena dia kelihatan mau mengambil semuanya.

"Ih rese! Itu kan masing-masing ada tiga box. Bagi satu tiap jenis ya!" tuhkan pengen semuanya.

"Heh, Dobe! Kenapa cuma tiga box? Mini pula! Pelit!" Ino sewot, gak tahu diri banget.

"Eh kampret, itu kan buat Sakura-chan dan si kembar. Duit aku dikit kali, kemarin cuma bentar di Hokkaido." cibir Naruto pada Ino.

"Ya sudah deh, nih ambil satu box coklatnya. Jangan bawel. Masih untung dikasih." ucapku enteng.

"Ish, ta-" bus pun tiba, Anda kurang beruntung, nona.

"Selamat menikmati perjalanan~" ucapku dan Naruto bersamaan diiringi lambaian dan senyum mengembang yang jelas menyebalkan di mata Ino.

Ino cuma mendengus, bus pun melaju membawa Ino menuju stasiun.

.

"Arigatou, Naruto." ucapku pelan dan mendekap erat oleh-oleh yang aduhai menggiurkan. Kami pun berjalan meninggalkan halte bus, Naruto mengayuh pelan sepedanya menyamai langkahku.

"Nani?" tampang polos Naruto terlihat jelas.

"Omiyage, baka." aku mencebik.

"Aa, sou sou~ douita~" Naruto tersenyum lebar dan mengacak rambut merah mudaku.

"Ck, jadi berantakan nih!" aku menepis agak kasar tangannya yang tengah mengacak rambutku gemas.

"Haha! Oh ya, Sasuke itu siapa?" Naruto menanyakan hal yang tak terduga.

"Tahu darimana?" mataku menyipit menyelidik.

"Nih. Sms dari Ino." Naruto menyodorkan ponselnya. Sempat-sempatnya Ino bergosip, shannaro!

"Etto..." aku menggaruk pipiku yang tak gatal.

"Hayo~ mau main petak umpet nih?" tampangnya menyeringai menjengkelkan.

"Gak kok! Tadinya mau cerita, tapi lupa!" wajahku memerah, dikepalaku terisi penuh nama Sasuke kembali.

"Hmmm~ ciee punya gebetan baru~ Kiba mau dikemanain?" iseng banget Naruto mencolek-colek lenganku.

"Kok jadi Kiba sih?! Gak jadi cerita ah." kompakkan banget sih Ino dan Naruto. Gak boleh apa move on dari Kiba? Eh, berarti aku masih suka Kiba dong? Enggak, enggak!

"Haha, bercanda kok! Ayo dong cerita~!" senyum mataharinya gak pernah padam ya?

"Bonceng dulu." tanpa persetujuannya aku langsung menaruh paperbag di keranjang sepeda dan duduk manis diboncengan di belakangnya.

"Ayo jalan, jangan cepat-cepat, santai saja." perintahku seenak jidat. Tanganku melingkar dipinggangnya. Bukannya genit, tapi Naruto bawa sepedanya oleng gitu.

"Kamu santai, betis aku makin seksi nih!" dengan sekuat tenaga Naruto mengayuh sepedanya. Aku berat ya? Alamakjang!

"Oke, aku mulai cerita ya. Jangan dipotong, dengarkan." tidak peduli Naruto konsentrasinya kemana, aku tetap mulai bercerita tentang Sasuke dari awal sampai yang terbaru.

.
"Nah begitu." capek juga cerita panjang lebar.

"Kalau suka tembak aja kali." komentar Naruto ditengah usahanya mengayuh sepeda.

"Harga diri cewe kemana? Malu tahu!" aku mencubit pinggangnya.

"Itte! Kuno ih, banyak kali cewe mulai duluan!" Naruto mengaduh dan mencibir.

"Gak mau, harus cowo duluan yang mulai dong!" aku cemberut sebal.

"Ya kali Sasuke suka sama kamu. Wake up, Sakura-chan! Ini bukan jaman putri-pangeran!" Naruto menyindir mimpi terpendamku soal kisah romansa pangeran dan putri dongeng.

Buk buk. "Itte! Yamete! Hora! Itte, Sakura-chan!" aku pukul punggung tegap Naruto, Tuhan kapan sepeda ini sampai rumah?

"Tapi 'kan mungkin aja Sasuke punya rasa yang sama." aku makin cemberut.

"Ya mungkin~"

"Tsk, menyebalkan."

"Haha! Oh Princess Sakura, will you marry me? I am Prince Sasuke from Australia~ haha! Dia datang ke Jepang pakai kangguru haha!" Naruto makin semangat usilnya dan tangan ini tidak tahan untuk memukul punggungnya.

"Ampun, Sakura-chan!" Naruto mengaduh, tapi aku tahu ia juga menahan tawa gelinya.

"Ini untuk ejekannya!", cubit.

"Ini untuk keliling komplek!", pukul. Pantas saja tak sampai rumah dari tadi, aku baru sadar dibawa keliling komplek oleh si pirang jabrik.

"Ittai yo! Jarang 'kan kita jalan bareng lagi~", Naruto merajuk. Iya juga, kita sudah jarang jalan bersama.
Dulu kita selalu pergi bermain bersama kemana saja tempat yang asyik, terutama Game Center.

'Are? Game Center? Huwo! Aku 'kan ada janji jam tiga di Game Center dengan Gaara! Jam berapa sekarang?' batinku menggelora. Fiuh~ masih jam sepuluh.

'Jadi gak ya? Tadi pagi Gaara gak mengingatkan lagi sih.' aku berpikir keras nan cerdas. Apanya yang cerdas?

"Nah sampai~! Ayo turun, jangan sungkan~!" Naruto menghentikan sepedanya disaat aku sedang berpikir cerdas.

"Please, ini rumahku." aku langsung turun dari boncengan dan membuka kunci pagar serta pintu rumah, diikuti Naruto dibelakangku. Ia langsung memarkirkan sepedanya dan menutup pagar.

Cklek. Pintu terbuka, tak lupa omiyage dari Naruto kubawa. Naruto langsung nyelonong masuk. Sepatunya asal saja disimpan dimuka pintu.

"Tadaima~! Aku minta minum ya!" teriak Naruto yang kuyakin sudah di dapur.

Begitu sampai di dapur, ia sedang mengobrak-abrik isi lemari es. "Wow! Puding!", seru Naruto.

"Heh, itu punya Gaara." kuperingatkan ia soal ransum disaat genting milik Gaara yang bisa mengamuk jika ransumnya hilang.

"Kan ditukar omiyage~" tanpa tedeng aling ia mengambil satu cup puding coklat milik Gaara.

"Dasar pamrih." cibirku. Sementara itu Naruto berlalu menuju ruang makan dan aku taruh omiyage di kulkas, biar mantap haha.

'Baru jam segini sudah lapar lagi. Ampun deh.' batinku ketika lambung menggelora.

"Naruto, mau ramen cup gak?" tawarku setengah berteriak.

"Mau~!" teriaknya riang. Kuseduh dua ramen cup ukuran kecil dan langsung kubawa menuju meja makan.

"Nih." kusodorkan padanya ramen yang masih diseduh, terlihat dari uapnya yang menyelinap dari sela-sela penutup.

"Sankyuu~!"

.
"Ah kenyang~! Terima kasih untuk ramen dan pudingnya!" seru Naruto seraya mengusap-usap perutnya.

"Sama-sama~" aku pun segera membersihkan sisa-sisa makan kami dan membawanya pada tempat sampah di dapur.

"Hei, aku harus pulang. Kaa-chan sudah sms suruh pulang." ujar Naruto yang tiba-tiba di belakangku, sudah bicara begitu dia malah buka kulkas.

"Oh, ya sudah- hei! Kenapa buka kulkas?!"

"Ah sejuknya~" dia malah ngadem.

Aku memutar bola mata bosan, "terserahlah."

.
"Aku pulang ya~" ocehnya di depang pintu pagar. Aku melipat tangan, memandang bosan pada-

Cup.

-anak ajaib ini.

Tak disangka, benda lembut mengecup dahiku. Eh?

"Jaa ne~!" si pelaku langsung tancap menggowes sepedanya.

"N-NARUTO NO BAKAAA!" pipiku sukses merah merekah. Kaget. Malu. Sebal. Nano-nano.

Dulu, dia suka mencium pucuk kepalaku. Katanya, bentuk sayang pada sahabat. Tapi, sekarang didahi dan aku tak tahu maksudnya. Otaknya terlalu fantastis untuk ditebak mengingat tingkahnya yang memang annoying.

.

.

.
'Ada saingan baru, ya?' batin Naruto.

.

.

.
Pong-pong. Ponselku berbunyi. Dua pesan Whazzup kuterima.

'Nee-san, jangan lupa jam tiga.' jadi toh ke Game Center-nya? Asyik ditraktir!

'Aye!' balasku kemudian.

Kubuka pesan yang satu lagi.

'Konnichiwa~ sudah makan siang?! ^~^'
Bibirku segera menarik senyum lebar.

'Konnichiwa~ Belum :/' balasku cepat padanya. Bohong banget.
Anggap saja ramen cup itu appetizer sebelum makanan utama pada jam makan siang.

'Kenapa belum?! Nanti sakit loh!'
Kenapa? Wong belum jam makan siang. Tapi, cieee perhatian gitu cieee~

'Disini masih jam 10 pagi -_-' balasku lagi.

'Souka, disini jam 12 siang :3' sepertinya dia tidak mau pusing menghitung perbedaan waktu antara Jepang dan Australia.

'Nah, sendirinya sudah makan siang belum?' tanyaku padanya.

'Sudah~', kelihatannya sedang riang gembira.

'Sepertinya sedang semangat~'

'Iya, penyemangatnya kan kamu :D'

Blush.

Pong-pong. 'Sudah ya, jam istirahat sudah habis. Jaa ne~' dan Sasuke mengakhiri pesannya sebelum aku sempat membalasnya.

'Hahaha. Jaa ne~' balasku kemudian. Dan aku yakin akan dia baca nanti.

Tak terasa waktu hampir menunjukkan pukul tiga sore. Mengingat aku ada janji dengan si Karung Beras-ups-maka, aku segera bersiap diri.

Hari ini aku memakai one piece tanpa lengan berwarna soft pink dengan corak bunga yang entah itu bunga apa. Panjang one piece ini sedikit diatas lututku, untuk riasan wajah aku hanya memakai bedak bayi dan lipgloss warna peach dan rambut panjangku hanya kucepol diatas dengan pita lalu kusisakan untuk poni, ditambah sepatu sneaker warna merah aku siap pergi hari ini.

Aku mematut diri di cermin, sempurna!

"Eh, lupa jam tangan. Sip!" gumamku pada diri sendiri, segera kubergegas sebelum si Panda Merah mengamuk, tak lupa tas selempang mini berisi dompet dan ponsel kubawa.

"Seperti kencan, ya? Ah sudahlah..." gumamku ketika di dalam bus menuju pusat kota.

Tak lama aku sampai di Game Center. Kepalaku menoleh kesana kemari mencari kepala merah.

Puk. Ada tangan jahil menepuk-nepuk ah tidak lebih tepatnya menekan-nekan cepolan rambutku seakan-akan sebuah tombol.

Sontak aku menoleh cepat karena aku tahu siapa pelakunya.

"Hanase yo! Hanakuso!" teriakku geram pada Gaara.

"Hn." gumamnya ambigu dan masih menekan cepolku. Amarahku naik, songong banget mentang-mentang tinggiku hanya sedagunya jadi dia semena-mena pada kakaknya.

"Kono-"

"Ikou." ucapan Gaara menghentikanku yang siap akan meninju perutnya. Bocah kampret.

Gaara duluan masuk ke dalam dan membeli koin yang banyak. Tajir juga ini anak.

Aku mengikuti kemana ia pergi. Dan akhirnya Gaara mengajak duel balap mobil. Siapa takut!

Dan kalian tahu? Dia kalah! Bibirnya maju lima senti haha!

Kembali dia mengajak duel balapan motor dan pesawat. Lagi-lagi dia kalah haha! Gaara memang tak jago main game race seperti itu. Beda dengan Sasori yang jago.

Selanjutnya Gaara menantang bermain taiko, ya lumayan beda satu poin, mengalah deh.

.

"Huwo! Gaara! Sakura!" pengacau pun datang. Sasori Sleketeup.

"Ciee~ Gaara lagi kencan~ hei cewe, godain kita dong~!" ini bukan Sasori, tapi temannya yang berambut putih klimis licin berkilau. Entah pakai minyak rambut atau minyak jelantah.

"Ciee~ cantik kok jutek~ mirip karung beras lecek loh~!" si klimis sengklek ini terus mengoceh. Sasori cari teman yang waras dong!

"Ah! Bom meledak!" seru Sasori.

Teman Sasori bingung. "Ha? A-"

Trak. Dua buah koin melesat dan sukses mendarat di jidat lebar si klimis. Dan tergeletak begitu saja.

"Nice shot Gaara! Sakura! Hahahaha!" Sasori bertepuk tangan ala anjing laut sirkus, bahagia melihat teman merana.

"Nee-san, main itu yuk." tunjuk Gaara pada permainan dance.

"Ayo!"

.

.
"Baka. Gadis itu kakak kami tahu! Hahahaha! Enak 'kan?" aku terus tertawa nista pada Hidan, temanku yang otaknya sudah bergeser makin bergeser.

"Kenapa gak bilang? Itte te te~" ringis Hidan pada dahinya yang sekarang merah ngejreng.

"Biar ada tontonan seru! Hahaha!"

"Tsk. Akuma no Kyoudai." bisik Hidan yang masih bisa kudengar.

"Apa?" kupencet hidungnya sampai dia megap-megap seperti ikan mas koki.

"Ahuuuuuunn!"

.

.
"Waaaahhh~! Lihat pasangan itu battle dance-nya keren yak!" pekik seseorang.

'Hoho belum tahu ya kalau Haruno itu jago dance?' batinku bangga.

"Sakura! Ayo tanding denganku!" teriak Sasori yang heboh.

"Bawel!" balasku padanya.

Usai battle, kami siap bermain lagi. Tapi, Gaara meminta dance bertiga.

Dan arena dance makin riuh melihat kami bertiga menginjak tombol dance selaras dengan lagu.

"Gen Haruno mengerikan!" pekik Hidan yang terdengar karena posisinya dekat denganku.

Tak terasa kami berempat bermain sampai jam tujuh malam. Bermain puas disana, makan di maid café dan ditraktir Gaara, berakhir di photobox. Agak ngeselin juga, soalnya si klimis nimbrung terus. Untungnya di lembar foto dia cuma nyempil disudut kayak upil.

Hari yang menyenangkan!
.

.

.

.

Sesosok pemuda berbadan tegap tengah memandang foto gadis berrambut merah jambu di ponsel pintarnya. Ia tersenyum tipis.

"Sakura. . ." bisiknya pelan.

To be continued.

A/N : hai, Hikari datang dengan chap baru dan pen name baru XD

Masih nungguin Kuroneko? Gomen jadi PHP TwTv

Aku ngetik pake hape jadi istilah asing gak cetak miring. Cuma aku edit awal dan akhir aja TwTv kompi rusak.

Oh ya, aku update Waktu : Antara Aku, Kau dan Impian. Sila dibaca jika berkenan.

Rencananya aku juga mau publish 1 os dan 1 mc lg, tp nanti deh haha.

Ada yg pernah baca ff aku yg Penerus Klan (rate m)? Aku bingung, antara lanjut atau dihapus. Ada saran?

Oke, kritik dan saran atau flame dll silakan di kotak review atau pm :3

Thanks for reading and review.

Sign with love,

Coretan Hikari