Chanyeol kalut, benar-benar merasa kalut. Perasaannya tidak pernah diaduk sedemikian rupa sebelumnya hingga ia berpikir untuk menghilang saja seperti pengecut. Ia sepenuhnya merasa kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, terutama hatinya. Berkali-kali ia berusaha mencari satu saja ketetapan dalan hatinya, mencari pegangan, namun tetap saja tidak ditemukannya apapun.

Ia tidak bisa menemukan ada yang salah sedikitpun atas apa yang dilakukannya dengan Baekhyun, namun mengetahui perasaan Baekhyun padanya membuatnya menyadari bahwa ia sudah terlalu jauh. Ia tidak bisa menapik perasaan hangat dalam hatinya ketika Baekhyun mengatakan cinta padanya. Namun setelah itu justru rasa berdosa yang menyelimutinya. Ia berdosa kepada Baekhyun, dan ia berdosa pada Kyungsoo.

Perlahan ia menyadari bahwa Kyungsoo bukan lagi satu-satunya. Baekhyun, gadis itu, juga merupakan bagian dari hidupnya. Ia mencintai Kyungsoo, namun Baekhyun bukannya tidak penting. Ia mendapati dirinya berusaha menjaga gadis itu, tidak ingin ia terluka apalagi karenanya.

.

Baekhyun tahu ini salah, Chanyeol bahkan tidak membalas ungkapan perasaannya. Tapi ia tidak bisa menahan perasaan bahagia yang dirasakannya. Setelah malam panas yang mereka lewati, Baekhyun merasa bahwa Chanyeol menerimanya. Jika tidak, mana mungkin pria itu melakukannya padanya, Chanyeol bukan pria brengsek seperti itu.

Bahkan jika sekarang ia belum mendapatkan seutuhnya hati Chanyeol untuknya, ia tahu bahwa setidaknya ia ada disana, didalam salah satu bagian hati Chanyeol. Jika kesabaran adalah yang dibutuhkan, ia bisa melakukannya. Ia sudah melakukannya. Dan bersabar sedikit lebih lama tidak akan membunuhnya.

.

Kyungsoo tahu sesuatu sudah terjadi. Perasaannya berulang kali memperingatkan hal itu setiap kali didapatinya Chanyeol berusaha menghindar. Pria itu tidak menemuinya selama beberapa hari dengan alasan yang berbeda. Ia percaya setiap kali Chanyeol mengucapkan cinta padanya. Selama ini pria itu membuktikannya. Namun perlahan ia menyadari keadaannya berubah.

Ia tidak bisa kehilangan Chanyeol, tidak bisa. Pria itu sudah bersama dengannya sebelum masalah ini datang. Jika ada yang harus pergi dari masalah rumit ini, orang itu adalah Baekhyun. Tidak ada masalah pribadi disini, hanya saja gadis itu yang datang kedalam hubungannya dan Chanyeol, jadi gadis itu jugalah yang seharusnya pergi.

.

.

.

Baekhyun dan Kyungsoo, dua gadis itu kembali bertemu untuk yang kedua kalinya. Meski pertemuan pertama mereka tidak berakhir dengan baik dan tidak ada jaminan bahwa kali ini juga akan berakhir dengan baik, Kyungsoo tetap membulatkan hatinya untuk menemui Baekhyun.

Kedua gadis itu saling duduk berhadapan, segelas minuman dingin masing-masing terletak didepan mereka. Berbeda dengan pertemuan sebelumnya yang terjadi begitu saja karena mengikuti perasaannya, kali ini Kyungsoo lebih siap. Ia sudah tahu apa yang akan dikatakannya kepada Baekhyun. Ia sangat siap.

Namun yang tidak Kyungsoo sadari, Baekhyun juga lebih siap menghadapinya. Gadis itu tidak akan pergi begitu saja kali ini. Ia akan menghadapi Kyungsoo apapun itu.

"Aku akan memintamu sekali lagi, tinggalkan Chanyeol oppa!" Kyungsoo mengangkat dagunya tinggi-tinggi, berusaha untuk mengintimidasi Baekhyun.

Baekhyun tidak terpengaruh dan memilih untuk mengintimidasi Kyungsoo dengan matanya, "Kenapa aku harus mengikutimu?"

"Karena kaulah yang datang mengganggu hubungan kami. Kami baik-baik saja sebelum kau datang."

"Jika kalian baik-baik saja, apakah menurutmu Chanyeol akan menikah denganku?"

Kedua gadis itu terlihat tenang, menyembunyikan gemuruh yang memenuhi dada mereka demi satu perasaan kepada pria yang sama. Pria yang masing-masing coba untuk pertahankan.

Lucu memang, melakukan hal seperti ini karena seorang pria. Namun bukankah cinta memang selalu membutakan?

"Chanyeol oppa terpaksa melakukan itu karena ibunya." Kyungsoo masih mencoba mengamankan posisinya.

Baekhyun tersenyum sinis, "Lalu kenapa sampai sekarang ia tidak meninggalkanku?"

Kemarahan Kyungsoo meninggi membuat wajahnya memerah. Ia membuka mulut, siap membalas ucapan Baekhyun tapi gadis itu sudah lebih dahulu berbicara.

"Kyungsoo-ssi, maafkan aku. Tapi aku tidak akan meninggalkan Chanyeol jika bukan ia yang memintanya."

Kyungsoo tertegun, ucapan Baekhyun menohoknya, membuat segala kata-kata yang dipersiapkannya menjadi tidak berarti lagi. Gadis itu berdiri lalu mengambil gelas didepannya dan menyiramkannya pada wajah Baekhyun.

Baekhyun terperangah tidak percaya mendapati wajahnya telah basah karena air yang disiramkan Kyungsoo. Emosinya langsung meroket ke puncak dan tanpa pikir panjang ia mengambil gelas minumannya, melakukan hal yang sama kepada Kyungsoo, menyiram gadis itu tanpa ampun.

Kini keduanya berada dalam posisi yang sama. Basah dan menjadi pusat perhatian semua orang yang berada didalam kafe. Kyungsoo bergerak lebih dahulu, meninggalkan kafe dan Baekhyun.

Baekhyun tersenyum sinis, benar dugaannya bahwa pertemuannya dengan Kyungsoo tidak akan berjalan dengan baik. Tapi setidaknya ia sudah melakukannya, menjelaskan pada Kyungsoo bahwa ia tidak akan melepaskan Chanyeol.

Ya, ia tidak akan melepaskannya.

.

Kyungsoo marah, benar-benar marah. Ia berdiri didepan sebuah gedung tinggi, masih basah dan tentu saja masih menjadi objek rasa penasaran orang-orang yang lewat disekitarnya. Tapi ia tidak peduli, seseorang harus bertanggung jawab padanya. Tidak, hanya satu orang yang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padanya.

Chanyeol berjalan cepat menuju lantai dasar gedung kantornya, teriakan Kyungsoo saat gadis itu menghubunginya sudah cukup membuatnya memaksa kakinya berjalan lebih cepat daripada biasanya. Ia sampai diluar dan melihat sekeliling, matanya berhenti pada sosok seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari gedung kantornya. Ia mendekati gadis itu.

"Soo-ya, kau kenapa?" Ia menatap Kyungsoo terkejut beberapa saat sebelum mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengusap wajah basah gadis itu.

Kyungsoo tetap diam selama beberapa saat lalu mulai terisak kecil. Ia terlalu marah hingga rasanya meneriaki Chanyeol bahkan tidak cukup untuk membuat hatinya puas. Melihat Kyungsoo yang mulai menangis, Chanyeol mengambil antisipasi menjadi tontonan orang-orang dengan menarik tangan gadis itu menuju mobilnya. Ia membantu Kyungsoo masuk lalu menyusul gadis itu.

"Katakan padaku, Soo. Ada apa?"

Kyungsoo mengatur nafasnya sebelum menjawab, "Istrimu yang melakukannya."

Entah kenapa Chanyeol tidak terlalu terkejut dengan jawaban Kyungsoo, justru seperti yang sudah-sudah, ia merasakan kepalanya mulai berdenyut lagi.

"Sekarang ceritakan padaku, apa yang terjadi" Ia masih berusaha berbicara tenang.

Kyungsoo menceritakan semuanya, tanpa ada yang ditambah ataupun dikurangi. Chanyeol berusaha mendengarkan dengan tenang walaupun kepalanya mulai terasa akan pecah dan hatinya mulai terasa berat.

"Baiklah, kuantar kau pulang" Ia menggosok lengan Kyungsoo pelan lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya.

"MWO? Aku bercerita panjang lebar dan hanya itu tanggapanmu?" Kyungsoo berteriak tidak percaya mendengar ucapan Chanyeol.

"Aku pusing, Soo" Chanyeol memperingatkan Kyungsoo dengan suara rendah. Namun Kyungsoo tidak peduli, ia terlalu marah dan matanya kembali berkaca-kaca.

Chanyeol menghela nafas, "Baiklah, apa yang kau inginkan?"

"Kau tahu apa yang kuinginkan!"

"Beri aku waktu memikirkannya."

"Tidak. Kau sudah terlalu lama seperti ini, aku tidak mau menunggu lagi!"

Demi Tuhan, Chanyeol merasa benar-benar terdesak.

"Oppa" Kyungsoo memulai lagi, kali ini nada suaranya lebih lembut dan ia memegang lengan Chanyeol, menunggu hingga pria itu menatapnya. "Kumohon, aku tidak bisa menunggu lagi."

Air mata Kyungsoo keluar, ia mendekatkan tubuhnya ke Chanyeol dan bersandar di dada pria itu. "Tinggalkan Baekhyun. Ayo memulainya bersama lagi, hanya kau dan aku."

Chanyeol menutup matanya, benar-benar merasa terbebani sekarang.

.

Chanyeol pulang hampir tengah malam hari itu. Setelah mengantarkan dan menenangkan Kyungsoo, ia harus menenangkan dirinya sendiri sebelum nantinya menghadapi Baekhyun. Ia masuk kedalam apartment dan mendapati tempat itu gelap. Sudah hampir tengah malam, jadi kemungkinan Baekhyun sudah tertidur. Entah ia harus bersyukur atau harus khawatir dengan hal itu.

Ia berjalan ke kamarnya dan melihat Baekhyun sudah bergulung didalam selimut. Setelah mandi dan berganti baju, ia ikut menelusup masuk kedalam selimut yang digunakan Baekhyun.

"Kau sudah pulang?" Suara Baekhyun terdengar serak, khas orang yang baru saja bangun tidur.

Chanyeol menggumam pelan dan menarik pinggang Baekhyun mendekat. Ia membenamkan wajahnya pada punggung gadis itu dan memeluk pinggangnya erat.

"Ada apa?"

Chanyeol menggeleng, "Apa kau baik-baik saja?"

Baekhyun tersenyum kecil lalu mengangguk, "Hmm, aku tidak apa-apa."

Chanyeol bisa merasakan hatinya disengat perasaan bersalah mendengar jawaban Baekhyun. Ia semakin membenamkan tubuh Baekhyun dalam pelukannya. Tidak ada satupun dari mereka yang ingin membicarakan apa yang terjadi tadi.

Lama setelah itu, Chanyeol masih tidak bisa memejamkan matanya bahkan setelah Baekhyun bernafas teratur disebelahnya. Otaknya dipenuhi dengan berbagai hal, ungkapan perasaan Baekhyun, permintaan Kyungsoo hingga ucapan Sehun.

Ia menyadarinya, ia sudah berbuat terlalu jauh dan terlalu salah. Benar ucapan Sehun mengenai keserakahannya, ia memang sangat serakah. Sebagai seorang pria seharusnya ia bisa menentukan pilihannya dari dulu, bukannya mengikat dua gadis padanya dalam waktu yang sama dan bermain-main dengan perasaan keduanya.

Masalahnya sekarang adalah perasaannya sendiri. Ia bahkan tidak bisa mengerti perasaannya. Tapi ia tahu sudah saatnya bagi dirinya untuk memutuskan, ia tidak mungkin mengulur waktu lebih lama lagi.

Chanyeol memeluk tubuh Baekhyun makin dekat dan melebur tubuh kecil itu dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala gadis itu berkali-kali.

.

"Matamu hitam sekali" Baekhyun berkomentar begitu meletakkan kopi Chanyeol didepan pria itu keesokan paginya.

Bagaimana tidak, hampir semalaman Chanyeol tidak bisa menutup matanya. Bahkan pagi ini ia masih merasa sangat kacau. Apalagi seiring dengan keputusan yang sudah dibuatnya.

"Aku ingin membicarakan sesuatu, Baek."

Baekhyun tersenyum gugup dan duduk didepan Chanyeol. Entah kenapa otaknya sudah memberi peringatan bahwa apa yang akan dibicarakan Chanyeol padanya bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

"Makanlah dulu" Baekhyun menunjuk makanan didepan Chanyeol, berusaha mengulur waktu.

Chanyeol menggeleng, "Berbicara sekarang saja."

Jantung Baekhyun semakin berdetak tidak nyaman, tapi ia menurut dan duduk dihadapan Chanyeol.

"Ada apa?"

Chanyeol menghela nafas berat. Ia tidak yakin akan mampu mengucapkannya kepada gadis didepannya ini. Tapi setidaknya kali ini saja ia harus memaksa dirinya untuk bisa tegas.

"Aku mencintai Kyungsoo."

Kalimat itu diucapkan begitu saja oleh Chanyeol, tapi bagi Baekhyun, kalimat itu seakan menyentaknya.

Bagaimana jika rasanya tubuhmu dialiri listrik dalam tegangan tinggi atau bahkan merasakan petir berada diatas kepalamu? Baekhyun merasakan perbandingan yang sama saat Chanyeol mengatakannya. Gadis itu membeku, merasakan hawa dingin mengaliri tulang belakangnya terus turun dan menyebar diseluruh tubuhnya, disaat yang sama ia merasakan dunianya hancur, terbakar.

Baekhyun tahu wajahnya memucat dan air mata berbondong-bondong melesaki matanya saat kesadaran akan ucapan Chanyeol menghantamnya. Ia menggigit lidahnya keras, merasakan asin dan rasa karat memenuhi mulutnya akibat lidahnya yang berdarah. Tidak apa-apa karena setidaknya rasa sakit itu mencegah air matanya mengalir keluar. Tahu ia tidak bisa berkata apa-apa, gadis itu beranjak berdiri dari duduknya dengan tubuh kaku. Ia harus pergi secepatnya dari tempat ini.

"Baek" Suara Chanyeol menahan langkahnya. Ia berhenti, tapi menundukkan kepalanya, sebisa mungkin berusaha untuk tidak menatap Chanyeol atau pertahanan tipis yang mati-matian dipertahankannya akan runtuh.

Chanyeol berdiri, jaraknya mungkin hanya satu lengan dari gadis itu. Ia bisa meraih Baekhyun dengan mudah, membenamkan gadis itu dalam pelukannya, menggosok punggungnya dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Hatinya memerintahkannya untuk bergerak, namun otaknya menahannya.

"Maafkan aku" Bukan tubuhnya, hanya mulutnya yang bergerak walaupun ia tahu hal itu tidak ada gunanya lagi sekarang.

Baekhyun menggeleng samar, ia tidak butuh permintaan maaf. Ucapan Chanyeol sudah lebih dari cukup untuk membuatnya mengerti apa yang dimaksud pria itu. Hampir setahun bersama dengan Chanyeol, ini pertama kalinya Chanyeol mengatakan kalimat itu padanya.

Bagi seorang gadis yang diberi tahu bahwa pria yang ia cintai mencintai gadis lain setelah ia menyatakan perasaannya pada pria itu, Baekhyun mengerti maksudnya. Chanyeol menentukan pilihannya dan sayangnya gadis itu bukan dirinya. Masih dengan gerakan kaku, Baekhyun mengambil tasnya dan berjalan keluar dari apartment.

Hebatnya, ia masih bisa menahan air matanya dan sampai ke kantornya dengan tampilan luar yang mengagumkan seperti biasanya. Orang yang tidak mengenal dirinya pasti mengira tidak ada apa-apa dengan gadis itu. Tapi tidak dengan Luhan dan Tao yang sudah lebih dulu sampai ketika Baekhyun masuk kedalam ruang desain, kekuasaan tiga gadis itu.

"Wajahmu pucat sekali, kau sakit Baek?"

Pertanyaan Tao akhirnya meruntuhkan pertahanan Baekhyun. Gadis itu merosot duduk didepan pintu dan menangis sejadi-jadinya.

.

Baekhyun tidak pulang malam itu, Luhan membawa gadis itu ke apartmentnya dan membiarkannya menangis hampir seharian. Ia bahkan membiarkan saja ketika Baekhyun singgah ke mini market dalam perjalanan pulang dan membeli berbotol-botol soju.

"Kali ini saja, unnie" Permintaan memelas Baekhyun membuatnya membiarkan gadis itu meneguk bergelas-gelas soju. Tapi ketika Baekhyun sampai di gelas ketujuhnya, Luhan mengambil inisiatif dengan menjauhkan gelas itu dari jangkauan Baekhyun.

"Unnie!" Baekhyun memprotes dan matanya kembali berkaca-kaca.

"Tidak, Baek. Kau sudah minum terlalu banyak!"

Baekhyun mendecih lalu mengeluarkan ponselnya, "Aku akan menghubungi Kris saja."

Luhan kembali bergerak, ia mengambil ponsel dari tangan Baekhyun dan menjauhkan benda itu juga.

"UNNIE!" Baekhyun kali ini membentak Luhan.

"Kau bisa bercerita padaku. Itu akan lebih baik daripada mencoba mabuk seperti ini" Luhan membujuk.

"Apa lagi yang harus kuceritakan? Chanyeol memilih Kyungsoo, aku kalah. Nah, kau ingin tahu apalagi?"

Luhan mendesah berat dan entah kenapa membiarkan Baekhyun menggapai gelas sojunya sekali lagi. Ia tidak berbicara apapun, hanya menemani Baekhyun yang menyandarkan wajahnya pada bantal besar disebelahnya.

"Benar katamu unnie, kurasa aku terlalu memaksakan diri" Baekhyun akhirnya membuka mulutnya untuk berbicara dan bukannya meneguk minuman dan Luhan menghembuskan nafas lega akhirnya Baekhyun mulai berbicara.

"Aku terlalu memaksakan diri, mengira bisa mendapatkan Chanyeol. Padahal sudah jelas ia memiliki Kyungsoo. Dasar bodoh!" Gadis itu memukul kepalanya sendiri, tidak keras memang, tapi membuat Luhan meringis melihatnya.

"Aku membohongi diriku sendiri bahwa suatu saat aku akan mendapatkannya. Dari awal memang tidak ada gunanya bertahan, kan?" Baekhyun menatap Luhan, meminta persetujuannya.

Luhan tidak menjawab apapun, ia hanya memandang Baekhyun lembut. Mengerti bahwa kali ini ia tidak perlu membantah gadis itu.

Baekhyun menghapus air mata yang mengalir pelan dari sudut matanya. Pembicaraannya dengan Kyungsoo terulang lagi dalam otaknya, ia berkata tidak akan melepaskan Chanyeol. Namun kali ini Chanyeol yang melepaskannya. Ia tidak mungkin masih bertahan saat Chanyeol sendiri yang memintanya unutk berhenti. Gadis itu menghembuskan nafas pelan, ia benar-benar kalah.

Ia bergerak, mencari-cari ponselnya yang tadi sempat dijauhkan Luhan darinya dan begitu menemukan benda itu ia melihatnya. Foto Chanyeol masih terpampang menjadi wallpaper benda itu, tapi bukan itu masalahnya. Sudah lewat tengah malam saat ini, dan tidak satupun panggilan dari Chanyeol masuk ke ponselnya. Baekhyun menghapus lagi air matanya, namun kali ini gagal karena air mata itu keluar semakin deras. Chanyeol bahkan tidak peduli lagi padanya.

TBC