LAST CHAPTER

'Tidurlah Cherry, kau telah berjuang sangat hebat hari ini.' batin Sasuke yang di tutup dengan sebuah senyum di wajahnya. Ia lalu memacu kendaraannya dalam kecepatan yang sangat tinggi. Ingin segera ia sampai dan mengistirahatakan tubuhnya yang lelah akibat misi malam ini.

TIME TO REPLY REVIEWS :

Merrya Narcissa Bellatrix :Makasih…. :D ini udah lanjut. Review lagi ya?

mako-chan : Iya. Dasar itu kabuto! Tapi dia udah mati sekarang. Hahahaha :D review lagi ya?

Sasusaku 4ever :Hmmmm, sapa yach red devil itu? jawabannya ada di… di tunggu reviewnya ya? :D

hanazono yuri : iya ini sudah update. Review lagi ya?

sasusaku kira : SaGaaRichan juga seneng ma chap ini. coz di sini Sai tetep setia ama Ino walaupun apa yang terjadi ama Ino itu membuat keduanya sakit. Mereka so sweet dech.. ^_^

Sasu uchiharuno : iya, coz SaGaaRi bingung buat ngungkapinnya. Ntar dech di tunggu aja adegan berdarahnya lagi. N jangan lupa review chap ini ya?

Angodess : #pundung di pojokan kamar, cz di ancem angodess. Gomen-Gomen-Gomen yach. Kand kemarin SaGaaRichan bilang mereka, hehehe… so maaf yach? -,-"

LeEdacHi aRdian Lau :Hmm, Sapa ya? Ada di chap depan dech kyanya. :p

Fira SasuSaku : wah jadi halaman faforit. #loncat2 ampe jatuh dari kasur. Makasih buuuaanyaaakk yach udah mau baca fic GaJe ini. n di tunggu reviewnya lagi :D

aguma: makasih Aguma, iya SaGaaRi masih memikirkan hal tersebut. :D review lagi yach?

chayesung : wah arigatau udah ngeramein fic GaJe ini. ^_^ iya kah? Wah SaGaaRichan jadi merah merona mendapat pujian gtu, pdhal SaGaaRi masih awaaaaam ya? Yosh itu Gaara. :D di tunggu reviewnya ya?

And now, let's read the story..

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Warnings : OOC (maybe), Typo(s), etc.

You Hate It, Don't Read and Please Leave This Page

CHAPTER 7

Faith ?

"K-kalian sudah kembali?" Tanya seorang gadis berambut indigo saat mendapati para sahabatnya memasuki apartement.

"Yosh, Hinata-chan. Kami telah membereskan mereka." Jawab seorang pemuda dengan gaya rambut spike berwarna kuning menyala dengan disertai cengiran lebarnya.

"K-Kalau begitu cepat k-kalian bersihkan tubuh kalian," kata Hinata sambil menunjuk ngeri kepada para sahabatnya yang terdapat banyak darah tertempel di tubuh mereka.

"Hah, ini sangatlah melelahkan," ujar seorang pemuda berambut nanas seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa.

"Ano, Hinata-chan. Kemana Sai? Kenapa sepi?" Tanya seorang gadis berambut merah muda.

"Hmm, tadi S-Sai-kun bilang bahwa ia i-ingin menemani dan menenangkan Ino-chan, Sakura-chan" Jelas Hinata pada Sakura.

Semua yang mendengar kini ber-ooo ria tanpa memikirkan hal negative apa yang telah para sahabatnya itu lakukan.

"Sakura, kau mandilah dulu. Gunakan kamar mandi yang ada di kamar pribadi ku," ujar seorang pemuda dengan rambut bergaya emo-style nya yang berada tepat di belakang Sakura.

"Hmm, baiklah. Aku juga merasa sangat lengket, dan juga katana ku ini, Sasuke-kun," jawab Sakura dengan senyum bak malaikatnya.

"Hey, bisakah kau tidak hanya memikirkan katana mu itu? pikirkan juga dirimu," ujar Sasuke tegas pada gadisnya.

"Iya,iya tuan Uchiha. Sejak kapan kau jadi cerewet seperti ini, hah?" jawab Sakura dengan nada mengejek pada kekasihnya. Muncul empat perempat siku di dahi sang pemuda raven itu. sejak kapan ada orang yang berani mengejek secara terang-terangan kecuali si rubah aneh. Semua yang ada di ruangan itu pun tertawa melihat adegan singkat tersebut. Baru kali ini ada yang berani mengatai dan mengejek sang Uchiha bungsu langsung tanpa adanya rasa takut.

"Eh, tapi di mana kamarnya Sasuke-kun?" Tanya Sakura dengan wajah polosnya tanpa tersirat rasa bersalah di sana. Sauke hanya menjawab dengan menunjuk salah satu kamar. Lalu dengan santai Sakura melenggang memasuki kamar tersebut.

Saat memasuki ruangan yang lumayan besar itu, Sakura sempat terperangah. Sebab kamar ini sangatlah rapi untuk seorang anak laki-laki. Semua tertata dengan rapi dan teratur di tempatnya. Kamar dengan nuansa biru itu sangatlah nyaman. Tanpa berpikir lagi, Sakura langsung memasuki kamar mandi yang terdapat di kamar itu guna membersihkan tubuhnya. Untung di ruang itu tak terdapat lambang dari keluarga Uchiha. Atau mungkin tak terlihat oleh Sakura. Hehehe..

Tak memerlukan waktu lama untuk Sakura membersihkan diri. Sebab ini juga sudah lewat tengah malam, jadi cepat-cepat ia menyelesaikan ritualnya itu. dia menarik jubah mandi yang ada di kamar mandi tersebut dan segera memakainya lalu keluar dari kamar mandi.

"Eh, Sasuke-kun? Kau tidak mandi?" Tanya Sakura saat keluar dari kamar mandi dan mendapati seorang pemuda sedang sedang berbaring dengan bertelanjang dada.

"Hn, sebentar lagi," jawab sang pemuda seraya bangkit dan menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Namun sesaat setelah itu dia diam melihat pemandangan yang sangat jarang, bahkan belum pernah ia jumpai tersebut. Sesosok gadis berdiri dihadapannya hanya dengan mengenakan jubah mandi. Wajah serta rambut yang masih basah oleh air menambah daya tarik dari gadis ini. jika saja Sasuke adalah harimau yang sedang menemukan seekor domba sebagai santapannya, maka mungkin dengan sangat rakus ia akan 'memakan' Sakura sampai tak bersisah.

"Hey, kanapa menatap ku seperti itu, hah?" Tanya Sakura yang mulai risih dengan tatapan ganjil dari sang kekasih.

"Kau, berani sekali hanya memakai jubah mandi di hadapanku? Apa kau ingin aku 'memakanmu' bulat – bulat, Cherry ?" Tanya Sasuke dengan seringai di wajahnya. Ia juga sekarang berjalan menghampiri gadis yang mengundang 'pergerakan' dari laki-laki yang melihatnya saat ini.

"Eh, apa maksudmu?" Sakura mulai merasa terancam dan mundur teratur sesuai dengan gerak maju Sasuke.

"Hn,"

"Jangan macam-macam kau tuan Uchiha. Atau kau akan menyesal," ancam Sakura yang sekarang telah terpojok di dinding.

"Aku tak akan menyesal, Cherry," Sasuke mendekatkan tubuhnya ke tubuh Sakura. Yah namanya laki-laki normal. Mana ada yang tidak tergoda dengan 'pemandangan' indah di hadapannya. Ternyata hal ini berlaku pula pada Sasuke.

"Aku sudah memperingatkanmu, Sasuke," ujar Sakura. Ada tatapan siaga di matanya.

"Hn,begitukah?" Tanya Sasuke yang kini dengan seringai makin lebar. Ia memposisikan satu tangannya ke arah pinggul sang gadis. Namun itu terhenti saat dengan cepat…

BUUUUGK

Sebuah tinju penuh tenaga mendarat sempurna di pipi kanan pemuda itu. Satu gerakan cepat dari Sakura sukses membuat sang pemuda Uchiha itu tersungkur dengan tidak elitnya. Pipi kanan pemuda itu kini tampak kebiru-biruan dan di sudut bibirnya kini mengalir sedikit darah segar. Ingat jika Sakura memiliki tenaga monster dalam dirinya. Beruntung bagi Sasuke yang tak perlu opname di rumah sakit akibat pukulan Sakura.

"A-Apa yang kau lakukan, Sakura?" Tanya Sasuke dengan tatapan tak mengerti seraya memegang pipi nya yang menjadi sasaran tinju berkekuatan penuh Sakuara.

"BAKA! APA YANG MAU KAU LAKUKAN, PANTAT AYAM MESUUM!" bentak Sakura pada pemuda yang tersungkur di hadapannya.

"Mesum? Hey aku bisa jelaskan!" sangkal pemuda itu dengan tatapan 'oh ayolah Sakura, ini semua salah paham'. Namun hanya di balas degan satu tendangan keras di perut Sasuke. Lalu dengan kasar Sakura pun keluar dari kamar itu dan menutup pintu dengan kasar.

'hey, aku hanya ingin membenarkan ikatan jubah mandimu yang tak terikat kuat. Kanapa kau pukul dan menendangku seperti ini' batin Sasuke seraya berusaha berdiri seraya memegangi pipi dan perutnya.

Di luar kamar, Naruto, Neji, Shikamaru dan Hinata sedang berkumpul di ruang ehm bisa di bilang ruang tamu atau ruang keluarga sebelum memutuskan untuk membersihkan diri mereka. Namun mereka mendengar sedikit keributan dari dalam kamar Sasuke. Dan saat Sakura keluar kamar Sasuke hanya dengan menggunakan jubah mandi, para kaum adam ini pun di buat cengo dengan pemandangan indah itu.

"Hey, kalian. Berhenti menatapku seperti itu. Atau mungkin kalian ingin merasakan sayatan katana ku di leher kalian, hah." Ucap Sakura dingin dan disertai deathglare mematikan ditambah pula aura hitam yang kini menguar dengan tebal dari tubuh gadis ini. merekapun segera mengalihkan pandangan seraya menengguk ludah dan memegangi leher mereka masing-masing. Hinata hanya terkikik kecil melihat tingkah para sahabatnya itu.

"Hinata, kau ada baju ganti? Aku pinjam karena bajuku penuh noda darah," kata Sakura pada Hinata.

"Hai," jawab Hinata dengan senyum lembut. Lalu ia beranjak menuju kamar Naruto dan diikuti oleh Sakura.

"Hoey, Hinata-chan, Sakura-chan. Kalian bisa tidur di kamarku. Aku akan tidur di sini saja," kata Naruto yang tahu bahwa tidak mungkin Sakura akan tidur di kamar Sasuke.' Bisa-bisa dia jadi santapan Teme' itulah yang ada dalam benak Naruto saat ini.

"Hn," hanya jawaban singkat tanpa perlu repot-repot menoleh ke arah lawan bicaranya.

.

.

.

Sinar mentari kini telah menerobos masuk lewat celah gorden di apartemen itu. para penghuni yang terlelap kini mulai membuka mata mereka walaupun dengan malas. Hinatalah yang bangun lebih awal dan dengan cekatan berkutat di dapur guna menyiapkan sarapan bagi para sahabatnya. Satu per satu para penghuni apartemen itu keluar kamar.

"Hinata-chan, kau masak apa?" Tanya seorang pemuda berambut kuning yang berjalan gontai kea rah dapur.

"E-eh, N-Naruto-kun. Kau sudah bangun?" jawab Hinata kaget.

"Hn, badanku kaku semua," kata Naruto seraya duduk di kursi meja makan.

"Ah, G-gomen N-Naruto-kun. Kau harusnya tidur di kamar t-tadi malam," ujar Hinata seraya menunduk menyesal.

"Hey, sudahlah aku tak apa. Aku mandi dulu ya?" ujar Naruto seraya beranjak menuju kamar mandi di sebelah dapur. Sebab di kamarnya kan ada Sakura.

Satu per satu penghuni apartemen keluar dari kamar mereka. Neji, Shikamaru sekarang ini sedang duduk santai di ruang keluarga. Hinata sedang asyik membuat masakan untuk para sahabatnya. Naruto yang telah selesai mandi kini telah duduk menunggu masakan sang kekasih tercinta di meja makan. Namun saat Sakura keluar dari kamar Naruto dan bertepatan pula saat itu Sasuke juga keluar dari kamarnya. Tatapan mereka bertemu sesaat, namun segera Sakura memalingkan muka dari tatapan iris sekelam malam milik Sasuke dan segera duduk di samping Naruto guna menanti sarapan. Yang merasa di acuhkan hanya menghela napas pasrah dan memilih bergabung dengan Neji dan Shikamaru.

"Woey, Teme ada apa dengan wajahmu itu?" Tanya Naruto pada Sasuke seraya menunjuk wajah tampan Sasuke.

"Wah benar, sepertinya pulang dari kejadian semalam kau tak mendapatkan luka sedikitpun?" Kata Neji sambil mengingat kembali kejadian tadi malam.

"Apa kalian tidak ingat kejadian tadi malam?" sekarang Shikamaru membuka mulut dengan santai. Membuat Neji dan Naruto memutar memori mereka kembali ke kejadian malam tadi. Setelah ingat apa yang terjadi, serempak ketiga pemuda ini menahan tawa mereka dengan susah payah. Betapa tidak, seorang Uchiha menjadi sasaran amuk dari Sakura.

"Hahaha…Hahaahhaa…" tawa Naruto tak bisa dibendung lagi dan langsung meledak. Di ikuti oleh cekikikan Neji dan Shikamaru.

"Apa yang kau tertawakan, Dobe?" kata Sasuke dingin.

"Hahaha… apa tadi malam kau menjadi sasaran amuk Sakura? Hahaha.. apa yang kau lakukan, Teme? Apa kau cari mati, hah?" ujar Naruto di sela tawanya.

"Bukan, urusanmu. Lagi pula aku tak berbuat apa-apa. Tapi dia saja yang tiba-tiba menghajarku." Kata Sasuke kesal tanpa sadar dengan ucapannya barusan.

"Hahaha… K-kau di hajar hahaha..? jadi kau mengakuinya? Hahaha… seorang Uchiha sepertimu di hajar seorang gadis?" ledek Naruto makin tak bisa mengontrol tawanya. Hal ini juga membuat Neji, Shikamaru, dan Hinata pun melepas tawa mereka.

"Tidak melakukan apa-apa katamu? Hey ingatkah kau mendekati ku dengan senyum mesum di wajahmu itu pantat ayam?" kata Sakura menghardik Sasuke. Yang mendengar hanya terus dengan tawa mereka. Mereka tak menyangka bahwa ternyata Sasuke 'ganas' juga pada gadis cherryblossom ini.

"Apa yang kau bicarakan? Kau yang tiba – tiba menghajarku kan?"

"Itu karena kau tak mengindahkan peringatan ku!"

"Ini semua salah paham Sakura, bahkan kau keluar sebelum aku menjelaskannya." Kata Sasuke makin kesal.

"Salah paham? Dengan senyum mesum mu tadi malam, kau masih bisa bilang salah paham, hah?" kini Sakura tak bisa menahan emosinya.

"Hey, aku hanya ingin membenarkan tali jubah mandimu yang tak terikat sempurna! Tapi kau malah menghajarku tanpa mendengar penjelasanku!" kata Sasuke kesal dengan sedikit berteriak.

"A-ano, sebenarnya yang di katakana S-Sasuke-kun be-benar Sakura-chan. Tadi m-malam jubahmu me-memang tidak terikat sempurna." Ujar Hinata menjelaskan yang ia tahu tentang situasi ini.

"E-Eh?" Sakura kaget dan seketika wajahnya memerah karena malu. Lalu ia mengedarkan pandangan selidik sekaligus deathglare ke arah Naruto, Neji dan Shikamaru yang tadi malam sempat memandang dengan pandangan yang tidak mengenakkan ke arahnya. Yang mendapat tatapan itu sontak mengalihkan pandangan dan sok sibuk dengan sesuatu di sekitar mereka.

"Hn, jadi kau mengerti semua dan tentunya kesalahanmu?" kata Sasuke yanag kini telah berada di belakang Sakura.

"E-Eto. Go-gomen Sasuke-kun. Hehehe" jawab Sakura gagap dengan cengiran tak bersalahnya. Dia memandang horror sebuah seringai di wajah Sasuke.

"Dan kau harus di hukum atas luka di wajah tampanku ini," kata Sasuke dengan seringai kecil di wajahnya. Hey Sasuke sudah terkena virus narsis milik Naruto ternyata. Haha

"Eh apa maksudm.. Mmmmph" penasaran Sakura di jawab oleh kecupan di bibir ranumnya. Semua yang ada di sana di buat cengo sesaat dengan pemandangan itu. Uchiha yang terkenal dengan gengsi selangitnya kini tak memperdulikan bahwa diruang itu ada beberapa pasang mata yang secara langsung melihat adegan itu.

"Eh, Sakura, Sasuke? Pagi – pagi telah bermesraan?" sebuah suara membuyarkan adegan romantis itu.

"Eh I-Ino. I-Ini tidak seperti itu, hehehe," Sakura tak tahu kenapa kini ia tertular penyakit gagap milik Hinata.

"Sudahlah, aku juga mengerti kok," jawab Ino dengan sesimpul senyum di wajanya.

"Kau sudah tak apa Ino?" Tanya Sakura khawatir dengan kondisi sahabatnya itu. semua yang ada di ruangan itu pun memandang dengan prihatin ke arah Ino.

"Tenanglah, Kami sudah baik – baik saja sekarang. Bahkan sangat baik," ujar pemuda yang keluar dari kamar yang Ino tempati dengan bertelanjang dada. Hal ini menimbulkan kecurigaan pada para sahabatnya. Bahkan Sasuke yang terkenal dengan wajah stoicnya kini menampakkan ekspresi menyelidik kea rah pasangan yang baru keluar kamar itu. begitupun Neji dan Shikamaru.

"I-Ino-chan. kenapa banyak bekas merah di lehermu?" Tanya Naruto yang sukses membuat mata para sahabatnya menatap leher jenjang Ino dan mengernyitkan dahi mereka di tambah pula tatapan selidik.

"E-Eh, K-kenapa kalian me-menatapku seperti itu. I-ini hanya bekas.." jawab Ino gugup namun kata – katanya terpotong oleh ucapan pemuda pucat di belakangnya.

"Ino-chan adalah milikku. Dan semalam kami melakukannya, mengahapus jejak menjijikan dan meninggalkan hanya jejak ku seorang," jawab pemuda itu santai dengan senyum terkembang di bibirnya. Jawaban itu sukses membuat para sahabatnya berekspresi cengo dan sangat tidak elit untuk dilihat. Jawdrop lebih tepatnya. (mata melotot, mulut menganga dengan sangat tidak enak di pandang, serta ekspresi kaget dan tak percaya yang sangat konyol). Bahkan Sasuke dan Neji yang di kenal dengan sikap tak peduli kini menampillkan ekspresi konyolnya.

"S-Sai-kun. Kau tak perlu mengatakannya kan?" kata Ino kepada Sai dengan wajah yang telah memerah. Hanya senyum saja yang kini di tampilkan Sai sebagai jawabannya. Semua yang mendengar kini sedang berkutat dengan pikiran masing-masing. Mencoba mengerti situasi.

"Ya ya, kami mengerti akan hal itu. nah sekarang ayo kita makan. Sayang jika masakan Hinata-chan hanya di tonton saja," kata Naruto membuyarkan lamunan para sahabatnya. Mereka pun kini beranjak ke arah meja makan dengan sesungging senyum di wajah mereka. Suasana kini begitu hangat, serasa seperti keluarga sendiri. Dan pagi itu mereka memutuskan untuk tidak masuk sekolah kerena ingin mengistirahatkan badan mereka.

Dan satu lagi lukisan indah kini terlukis pada benak dan hati Sakura melihat kekasih dan para sahabatnya kini tersenyum tulus. Dan semua ini berkat seseorang yang sekarang begitu berarti bagi Sakura.

.

.

.

Hari berikutnya telah menyapa. Kini mereka pun memulai aktifitasnya sebagai seorang pelajar setelah sehari mereka membolos secara kompak. Mereka kini telah kembali sebagai murid KHS. Dan dari pelajaran pertama sampai jam istirahat pun semua berjalan normal seperti biasa.

.

.

"Kalian tahu perkembangan berita kelompok Black Ants? Kabarnya polisi menemui jalan buntu tentang kasus terbunuhnya dan terbakarnya markas mereka. Sepertinya pelakunya sangat professional dan sangat berhati-hati dalam aksinya itu, sebab jejak sekecilpun tak di temukan." ujar seorang remaja yang tak sengaja terdengar telinga Sasuke dan kawan-kawan saat berada di kantin.

"Itu sudah pasti tak akan terpecahkan oleh polisi," ujar Naruto dengan sebuah seringai di wajahnya.

"Jangan anggap remeh kami," sekarang Neji berkomentar dengan senyum sinis di wajahnya.

Semua yang berada di meja itu kini tersenyum bangga dengan apa yang telah mereka lakukan. Namun sebuah senyum tulus terlontar dari seorang gadis eh wanita pirang dan seorang pemuda pucat.

"Arigatou, minna," ucap wanita pirang dengan senyum tulus penuh kelegaan.

"Kita ini sahabat Ino. jadi kita harus saling bantu jika salah satu di antara kita dalam kesulitan," Sakura menjawab dengan senyum manis bak malaikat yang sangat tulus.

Mereka pun kini mulai bersenda gurau kembali. Mulai tertawa lepas seolah membuang segala kenangan buruk, terutama bagi Ino dan Sai. Mereka kini mulai dapat tersenyum bahkan tertawa setelah apa yang terjadi. Dan mereka adalah pasangan yang kuat.

"Ah Hinata-chan, bisakah kau setelah ini ke kelasku. Aku ingin mengembalikan baju yang aku pinjam kemarin lusa." Tanya Sakura pada Hinata.

"Hai, ayo sebelum bel masuk," jawab Hinata dengan senyum terkembang di wajah cantiknya. Kedua gadis ini akhirnya memutuskan untuk ke kelas lebih dahulu dan pamit pada sahabatnya yang lain.

"Hinata-chan tunggu sebentar. Aku butuh ke toilet." Kata Sakura berlari meninggalkan sahabatnya itu dan menuju ke toilet. Setelah selesai dan ia keluar…

"Ah, nona kan yang dulu di kantin itu? dan juga queen di acara prompt night, kan?" Tanya seorang pemuda berambut merah bata dengan tato kanji "Ai" di dahinya.

"Hn," jawab Sakura santai seraya melihat lawan bicaranya.

"Ah, gomenesai pada waktu di kantin itu sekali lagi," kata sang pemuda dengan wajah hangat.

"Sudahlah, aku juga sudah melupakannya," kata Sakura tanpa perubahan ekspresi di wajahnya.

"Gaara. Sobaku no Gaara." Pemuda itu memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangan dengan sopan.

"Sakura," jawab Sakura singkat dan menjabat tangan Gaara. Lalu dengan seenaknya ia melenggang meninggalkan pemuda itu.

"Senang berkenalan denganmu Sakura. Tapi mengapa senyummu hanya tertuju untuk Uchiha itu?" gumam Gaara lirih entah pada siapa. Lalu ia tanpa sengaja melihat kea rah wastafel toilet perempuan dan ada sebuah dasi merah di sana. Dan ia ingat bahwa gadis merah muda tadi keluar tanpa memakai dasi itu. #jangan sampe Gaara melihat belahan dada Sakura akibat style yang ia kenakan.

.

.

"Ini Hinata-chan. Dan terimakasih. Eh?" kata Sakura menyerahkan baju yang habis ia pinjam kepada Hinata. Namun ia kaget ada kertas yang terjatuh saat ia mengeluarkan baju itu dari dalam tasnya.

"Apa ini?" Sakura penasaran dengan kertas yang jatuh tadi. Lalu ia memungut dan membaca apa isinya. Setelah ia membacanya muncul sesimpul senyum, eh tidak seringai kecil di wajahnya.

"A-ada apa Sakura-chan?" Tanya Hinata ingin tahu setelah melihat ekspresi sahabatnya itu.

"Hanya orang yang iseng dan mencari gara-gara saja dengan ku." Jawab Sakura enteng seraya memberikan kertas tadi pada Hinata. Hinata yang membacanya mulai bergidik ngeri dan ia tahu ini perbuatan siapa.

"K-kau tak apa Sakura-chan. Kau harus berhati-hati terhadap mereka. Mereka sangatlah brutal dan licik jika berhubungan dengan Sasuke-kun. Terutama ketua mereka." Jelas Hinata yang tak tahu kenapa lancer kali ini.

"Tenanglah Hinata-chan, surat kaleng dan terkesan meneror ini tak akan mempengaruhi bahkan tak akan mempan terhadapku." Imbuh Sakura enteng. Hinata hanya membalas dengan senyum, sebab ia lupa seberapa tangguhnya sahabatnya ini. dan setelah itu pula Sasuke dan Naruto memasuki kelas kerena bel masuk telah berbunyi. Dan Hinata memutuskan untuk kembali ke kelasnya.

.

.

TOK..TOK..TOK

SREEEK

Terdengar ketukan pintu dan setelah itu suara pintu di buka dengan pelan.

"Permisi, bisa saya bicara dengan Sakura?" kata seorang pemuda berambut merah dengan sopan kepada guru yang mengajar siang itu.

"Silahkan masuk, Sakura di sebelah sana." Kata guru itu sambil menunjuk kea rah kursi Sakura.

Merasa namanya dari tadi di sebut, Sakura yang sedari tadi memandang ke arah luar jendela dengan malas menolehkan kepalanya untuk melihat situasi. Dia sedikit terkejut saat seorang pemuda berambut merah kini tengah berdiri di sampingnya.

"Eh, Gaara apa yang kau lakukan di sini," kata Sakura santai dengan wajah polosnya.

"Hanya ingin mengembalikan ini. tadi kau meninggalkannya di toilet. Dan aku terpaksa masuk ke toilet wanita." Jelas Gaara seraya menyerahkan dasi merah milik Sakura. Sakura memegang bagian dadanya dan memang benar dasi yang seharusnya menggantung di sana tak ada. Dan ia baru ingat bahwa tadi ia melepasnya saat berada di toilet.

"Hah, aku lupa. Arigatou, Gaara." Jawab Sakura menerima dasi tersebut dengan seulas senyum manis di wajahnya, membuat pemuda yang sekarang ini menatapnya terpesona sesaat.

"Hn, aku pergi dulu." Kata Gaara beranjak pergi. Namun sebelum ia membalikkan badannya, tak sengaja tatapan mata jadenya bertemu dengan tatapan onyx yang menatapnya dengan tatapan tak suka dan ingin membunuh terpancar dari iris sekelam malam itu. sebuah senyum remeh kini tersungging di wajah tampan sang pemuda Sobaku seraya meninggalkan ruang kelas itu.

-SASUKE POV-

'Kenapa si Sobaku dengan seenaknya memanggil nama Sakura?' batinku saat seorang pemuda berambut merah bata meminta ijin pada guru untuk berbicara pada gadisku.

Ku perhatikan gelagatnya saat ia tengah berbincang santai dengan Sakuraku.

"Eh, Gaara apa yang kau lakukan di sini," kata Sakura santai dengan wajah polosnya.

'Hey, sejak kapan mereka kenal?' batinku mulai menyelidik.

"Hanya ingin mengembalikan ini. tadi kau meninggalkannya di toilet. Dan aku terpaksa masuk ke toilet wanita." Jelas pemuda merah itu sok dekat dengan Sakura.

"Hah, aku lupa. Arigatou, Gaara." Jawab Sakura dengan senyumnya.

'Hey, bahkan kini Sakura dengan mudah memberikan senyumnya pada pemuda lain selain aku? Kalau Naruto, Neji, Sai, Shikamaru tidak masuk hitungan, sebab mereka adalah sahabatku dan kami selalu bersama. Dan itu tak masalah. Tapi ini, Sakura memberikan senyum pada Sobaku? Bahkan senyum itu terlampau sangat manis untuk di berikan pada pemuda lain.' Segalanya kini berkecamuk dalam benakku. Hey Sasuke, sifat possessive mu memang tak ada yang menandingi, dan kau cemburu pada Gaara kan?

"Hn, aku pergi dulu." Dia pamit hendak meninggalkan kelas. Namun saat pandangan kami bertemu aku melihat suatu niat di sana.

'Pandangan itu sepertinya tak akan baik. Tak akan ku biarkan kau mendekati Sakura ku' Batin ku kini mengambil alih komando.

-END OF SASUKE POV-

.

.

.

Seminggu sejak kejadian terror yang mulai menyerang Sakura. Kini tiap hari Sakura mendapatkan terror dari penggemar Sasuke. Hmm, dasar apes memang jika punya pacar yang memiliki penggemar fanatik. Dan hari ini adalah puncaknya. Ada surat tantangan yang Sakura terima hari ini.

"Ada terror lagi, Jidat?" Tanya Ino pada Sakura saat Sakura mendapat lemparan kertas dari orang yang tidak diketahui.

"Hn, dan kini bersifat tantangan. Mereka ingin bertemu di atap siang ini setelah pulang sekolah." Terang Sakura santai sambil menyerahkan surat kaleng itu pada Ino.

"Kau jangan ke sana. Ini hanya jebakan. Mereka akan mempermalukanmu, Sakura." Jelas Ino dengan nada khawatir.

"Sudahlah Ino. aku akan baik-baik saja. Lagi pula aku juga ingin melihat seperti apa para penggemar Sasuke itu." sebuah seringai kini mampir di wajah cantik Sakura.

"Hah, kau memang keras kepala," jawab Ino pasrah.

.

.

.

Siang itu kembali di kantin sekolah. Sekelompok murid terpopuler kini sedang menikmati santap siang mereka sambil bersenda gurau.

"Eh tahukah kalian Sakura selam ini mendapat ter-" kata Ino terpotong saat mendapat deathglare dari Sakura.

"Mendapat apa?" Tanya Sasuke kini mulai penasaran dengan yang diucapkan Ino.

"Bukan apa-apa kan I-n-o?" kata Sakura dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya.

"Hehe, iya bu-bukan apa-apa," kata Ino ngeri saat melihat tatapan Sakura.

Sepasang mata onyx kini mulai memandang punuh selidik kea rah dua gadis ini. Hmm, satu gadis, satu wanita.

'Ada yang janggal' batin sang pemuda reven ini. dan tanpa sadar kini ia menangkap sebuah tatapan dari sepasang jade yang menatap lekat kea rah gadis merah muda di sampingnya. Tanpa berpikir lagi ia melingkarkan lengan kekarnya pada tubuh gadis di sampingnya itu.

"Ne, Sasuke-kun? Ada apa?" kata Sakura kaget dengan sikap kekasihnya itu tiba-tiba.

"Hn, hanya ingin memastikan bahwa kau milikku dan tak ada orang lain yang akan mengambilmu dari ku." Jawab Sasuke dan kini ia menyandarkan kepala di pahu mungil gadisnya itu. tak lupa ia menatap tajam sepasang jade yang sedari tadi menatap ke arah Sakura dengan tatapan mengancam dan waspada.

.

.

TENG..TENG..

Siang itu setelah bel pulang sekolah, Sakura dengan bergegas merapikan semua buku dan alat tulisnya ke dalam tas. Lalu ia beranjak dan meninggalkan kelas siang itu. sampai..

"Mau kemana? Kenapa buru – buru Cherry?" Tanya pemuda raven saat melihat tingkah gadisnya yang terburu – buru siang itu.

"Eh, aku ada urusan Sasuke-kun. Kau pulang saja dulu, Jaa ne?" kata Sakura sambil berjalan keluar kelas. Yang merasa di acuhkan memicingkan mata dan setelah itu menghela napas pasrah.

Sakura pun dengan langkah sigap dan pasti menyusuri koridor dan langsung menuju tangga yang mengghubungkannya dengan atap gedung KHS. Dia sangat penasaran seperti apa penggemar fanatic kekasihnya itu.

.

.

"Hm, kau berani datang juga?" ujar seorang gadis berambut merah yang memunggungi Sakura. Dan dapat di lihat pula di sana terdapat sekitar 20-an siswi lainnya yang menatap Sakura dengan tatapan tidak suka.

"Hn, apa maumu?" Tanya Sakura santai to the point.

"Mau kami?" gadis itu berbalik dan sekarang menatap Sakura dengan tatapan sinis.

"Hn," jawab Sakura dengan nada bosan.

"Hmm, bahkan kau sudah meniru gaya bicara pangeran kami," kata gadis itu dengan nada mengintimidasi.

"Pangeran? Kalian? Haha..hahaha..haha.." tawa Sakura pecah seketika mendengar kalimat gadis itu. entah mengapa Sakura merasa geli dengan kalimat itu.

"Cih, apa yang lucu,hah? Berani kau menertawakanku?" kata gadis itu yang mulai berjalan mendekati Sakura yang masih dalam tawa remehnya.

PLAAAK

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Sakura. Yah gadis itu manampar pipi Sakura dengan wajah penuh kemenangan. Hmm, padahal dia baru saja menantang maut dengan mencari gara-gara dengan Sakura.

"Hn, hanya segini?" kata Sakura remeh. Seringai kini terkembang di wajahnya. Sakura memang telah memperkirakan gerakan gadis itu. Sakura memang sengaja tidak menghindar. Pipi Sakura kini memerah, sedikit ada memar di sudut bibirnya. Tapi itu tak seberapa. Toh juga ia ingin bermain – main sekarang.

"Cih, jangan sombong kau gadis murahan. Telah kau beri apa Sasuke-kun sehingga kau bisa mendapatkannya? Apa tubuhmu itu,hah?" kata gadis merah itu dengan emosi.

"Hmm, ku beri apa ya? Sejauh ini masih sebatas ciuman. Dan kau melihat sendiri kan waktu promt night lalu. Sasuke-kun mencium ku dengan mesra? Tapi mendengar saran mu itu mungkin aku akan memikirkannya," kata Sakura dengan wajah sok polos dan di tutup dengan sebuah senyum yang menyembunyikan sesuatu.

Mendengar kata-kata Sakura itu, membuat gadis merah itu geram. Lalu seorang gadis lainnya maju dari barisan siswi di belakang gadis merah menuju si pemimpin itu.

"Jangan buang waktu lagi Karin. Kita beri pelajaran dia sekarang," kata gadis itu dengan lirikan sinis ke arah Sakura.

"Aku juga sudah tidak sabar memberi pelajaran pada gadis murahan ini, Yuko" kata gadis yang di ketahui bernama Karin itu pada anggotanya.

Untung Sakura cukup bersabar mendengar kata 'gadis murahan' yang berulang terucap dari mulut Karin. Terakhir yang ia ingat, seorang ketua mafia meregang nyawa di tangannya setelah mengucap kata yang tak jauh berbeda dengan yang gadis merah itu ucapkan.

"Kalian, ayo lakukan," perintah Karin pada siswi lainnya. Serentak mereka mengeluarkan 'senjata' yang mereka bawa. Senjata yang di maksud adalah berbagai hal menjijikan dan kotor guna mengerjai Sakura. Seperti telur busuk, lumpur dan lainnya yang entah dari mana mereka dapatkan.

Sakura yang melihat itu menyeringai lebar.

'Hn, permainan akan di mulai?' batin Sakura.

"Dasar gadis murahan. Kau tak sepantasnya bersanding di sisi Sasuke kun," kata Yuko yang kini telah menjambak rambut merah muda Sakura.

"Dan kau akan menyeselainya setelah ini," kata Karin yang di tutup dengan sebuah tamparan keras di pipi mulus Sakura. Sekarang sudut bibir yang tadinya hanya sedikit biru, kini benar-benar memar dan darah segar kini mengalir dari sana.

"Menyesal?" kalianlah yang akan menyesal telah mencari gara-gara denganku," kata Sakura dengan menatap tajam mata ruby di depannya dan sebuah seringai iblis kini mampir bahkan bertengger di wajah cantiknya. Mendapat tatapan dari Sakura membuat Karin sedikit bergidik ngeri. Dia dapat melihat tatapan membunuh dan benci yang teramat sangat di sana.

Hendak Karin menampar pipi Sakura lagi, namun kini aksi itu di tahan oleh Sakura. Semua menatap kaget dengan kejadian itu. terutama Karin yang kini sedang meringis sebab merasa cengkeraman Sakura di tangannya serasa meremukan tulangnya. Dengan sekali dorong dari Sakura, gadis yang menjambak rambut soft pinknya kini jatuh ke belakang. Tidak lah susah melepaskan diri dari para gadis fanatik dan terkesan brutal macam mereka ini. Karin yang melihat ini langsung memberi perintah pada anggotanya untuk menyerang. Walau dia pun kini masih terjebak oleh genggaman erat Sakura.

Sakura melihat bahwa ia akan di keroyok oleh para siswi fanatik ini. lalu ia melepas dengan kasar tangan Karin dan mendorongnya hingga dia terjatuh.

'Mereka harus di bereskan dulu' batin Sakura dengan menatap calon korbannya dengan tatapan membunuh.

Para siswi yang berjumlah sekitar 20-an itu menyerang Sakura dengan cara mengeroyok. Sakura hanya menghela nafas bosan sebab ia merasa permainan ini akan cepat berakhir. Dengan gerakan lincah ia menghindari serangan berbagai macam benda menjijikan yang mereka lempar (apa gunanya keahlian yang Sakura dapatkan selama ini dari Tsunade. Dan demi dada aduhai Tsunade, jika ia tak bisa menangani ini dapat di pastikan betapa malunya ia dan juga wanita seksi itu. setuju?). Dan dengan kecepatan bak 'Yellow Flash Yondaime Hokage' (author lebay! Yang bisa nyamain Yondaime cuman anaknya yaitu, Naruto)ia menghampiri satu persatu siswi itu dan melayangkan tamparan di masing – masing orang. Untung saja tamparan itu bukan tamparan dengan tenaga monster miliknya. Jika itu terjadi maka, KHS akan masuk berita utama jepang dengan korban pembunuhan seorang siswi terhadap siswi-siswi lain yang berjumlah 20 orang dengan luka tamparan yang sangat mengerikan.

PLAAK

PLAAK

PLAAK

Entah berapa tamparan yang Sakura luncurkan pada para siswi itu sukses membuat yang menerimanya terjatuh. Meringis kesakitan, menangis, dan bahkan ada yang pingsan setelah mendapat 'hadiah' dari Sakura itu. pemandangan mereka sangat "mengenaskan" untuk dilihat. Dengan tubuh terkena lemparan berbagai macam 'senjata' yang mereka gunakan untuk menyerang Sakura. Lusuh, bau, menjijkan, itulah pemandangan di atap siang itu.

"Hah, hanya segini saja. Ku kira akan lebih menyenangkan," Sakura menghela nafas kecewa dengan kejadian yang membuatnya tak tertarik ini. lalu ia mengalihkan pandangan ke arah dua gadis yang tersisa.

"Well, tinggal kalian yang tersisa?" Tanya Sakura dengan wajah polosnya dan di tutup dengan seringai lebar.

.

.

.

"SASUKE?!" teriak seorang gadis pirang dengan gaya ponytile dari arah belakang.

"Hn, ada apa Ino?" Tanya Sasuke sambil menoleh ke arah datangnya suara itu.

"Hah.. hah.. Dimana Sakura? Hah.. hah" Tanya Ino dengan nafas tersenggal akibat berlari.

"Tadi dia bilang ada urusan. Dan dia pergi dulu. Tapi mobilnya masih ada, mungkin ada urusan dengan guru."jawab Sasuke santai.

"Dasar Jidat. Kenapa ia begitu keras kepala?" kata Ino panik.

"Ada apa sebenarnya?" Tanya Sasuke yang mencium adanya hal aneh dari gelagat Ino.

"A..no Sakura…" Kata Ino yang terlihat kebingungan. Ini membuat semua anggota Dark Assassin beserta para gadisnya menghentikan kegiatan meraka yang hendak memasuki mobil masing-masing.

"Katakan Ino ada apa sebenarnya?" Tanya Sasuke kini dengan nada sedikit tinggi.

"Sakura, mendapat surat terror dari penggemar fanatik mu selama seminggu ini. kemungkinan gara-gara acara prompt night lalu. Dan inilah puncaknya. Mereka menantang Sakura hari ini sepulang sekolah di atap gedung," jelas Ino dengan satu tarikan napas. Tanpa basa- basi lagi Sasuke langsung melesat dari kerumunan itu dan berlari menuju atap. Melihat itu para sahabatnya kini pun juga mengikuti jejak Sasuke.

.

.

"Well, tinggal kalian yang tersisa?" Tanya Sakura dengan wajah polosnya dan di tutup dengan seringai lebar.

Tersirat tatapan ngeri saat melihat Sakura 'menghabisi' para siswi itu dari mata kedua gadis yang sedang terduduk di lantai itu. dengan gerakan cepat Sakura telah berada di hadapan kedua gadis itu. dan secara tiba-tiba Sakura melepaskan tamparan keras ke arah Yuko dan membuatnya pingsan seketika.

"Itu balasan karena kau telah berani menyentuh bahkan menjambak rambutku," kata Sakura sinis kepada gadis yang tengah pingsan itu. lalu di alihkannya pandangan ke gadis ruby.

"Hn, tak kusangka kau berani juga menampar dan membuat wajah ku jadi begini. Eh salah, aku sengaja membiarkanmu karena ingin tahu seberapa kekuatan pukul mu," kata Sakura santai dan terkesan remeh pada gadis ruby itu.

"Jangan sombong kau gadis murahan. hanya kerena kau bisa membereskan mereka bukan berarti kau menang. Masih ada aku di sini," kata Karin angkuh. Namun terdengar sedikit bergetar di kalimatnya.

"Hah, aku bosan mendengar kata 'gadis murahan' yang terlontar dari mulutmu. Seharusnya mulut mu itu dapat mengatakan hal yang lebih berguna," jelas Sakura dengan wajah polos dan sesimpul senyum.

"Kata itu lebih berguna saat ini. hahaha.." Kata Karin dengan sebuah tawa.

"Hah," Sakura menghela nafas sebelum melajutkan kalimatnya.

"Baiklah akan ku beri tahu satu hal, berhubung kau adalah gadis pemberani yang berani mencari masalah denganku. Aku sangat tidak suka dengan kalimat mu itu atau segala yang memiliki arti seperti itu. dan perlu kau tahu, terakhir kali aku mendengar kalimat seperti itu, seorang pria brengsek meregang nyawa di ta-ngan-ku." Lanjut Sakura dengan tatapan membunuh yang sangat mengerikan dan penekanan di akhir kalimat itu.

Gadis ruby itu hanya diam mendengar kalimat itu. melihat ekspresi gadis yang awalnya ingin ia jadikan korban menatapnya seakan kini ia lah korbannya membuat nyalinya ciut. Dan dapat dilihat keseriusan di mata emerald itu.

"Hah, kau sudah berapa kali mengucapkannya ya? Dan itu harus mendapat hukuman," kata Sakura santai sambil berdiri. Satu tangannya menarik paksa kerah seragam Karin sehingga kini Karinpun berdiri di hadapannya.

"A-apa yang akan kau lakukan?" Tanya Karin sedikit bergetar.

"Mungkin ini," kata Sakura santai.

PLAAAK

Lalu dengan cepat ia menampar wajah Karin. Untung bagi Karin sebab tenaga Sakura tidaklah lebih dari separuh. Dan itu hanya membuat sudut bibirnya berdarah sama seperti milik Sakura namun lebih sedikit parah.

"Kita impas untuk tamparan. Aku berdarah, kau juga harus berdarah." Kata Sakura santai. Ia ingin melayangkan satu tamparan lainnya kepada gadis yang kini terjebak di depannya dengan kerah seragam masih dalam genggaman Sakura, saat…

"Sakura," terdengar suara baritone memanggil dirinya.

"Sasuke-kun? Kau tidak pulang dulu?" Tanya Sakura santai pada pemuda yang baru datang tersebut.

"Kenapa lagi? Dan kenapa wajahmu?" Tanya Sasuke dengan nada bosan dan menghampiri arah gadisnya itu.

"Hanya beberapa serangga yang salah memilih mangsa," jawab Sakura dengan melepas cengkeramannya dari kerah Karin dengan sedikit keras dan membuat Karin terjatuh kebelakang.

"Kau harusnya tak perlu melakukan ini," kata Sasuke pada gadisnya.

"Sa-Sasuke-kun. D-dia yang melakukan ini pada kami. Hiks..Hikss.." sebuah suara kini terdengar. Dan kini terdapat pemandangan yang membuat hati Sakura sedikit dongkol. Gadis ruby itu bergelayut manja dengan tangisan buayanya di lengan Sasuke. Dan yang bikin tambah dongkol adalah Sasuke yang terlihat tenang dengan hal itu.

"Cih, gadis licik. Kau sendiri kan yang menantang ku? Sekarang setelah tahu kau salah memilih lawan, kau mulai mengeluarkan tangisan buaya mu untuk mencari perhatian pengeran kalian ini?" kata Sakura dengan nada penuh emosi.

"Hiks.. T-tidak. Itu tidak benar Sasuke-kun. Hiks.. kau lihat luka ini? dia… dia yang melakukannya." Kata Karin dengan nada dan ekspresi seolah ia lah yang tertindas.

'Dasar gadis bunglon, bisa – bisanya dia melakukan hal memalukan itu. lebih baik jadi artis saja dengan kemampuan akting mu itu,'batin Sakura yang sudah mulai badmood.

"Wah Sakura-chan, ini semua bisa jadi rekor KHS. Bahwa penggemar Uchiha di hajar oleh seorang gadis pendatang baru, hahaha " ujar Naruto yang baru sampai dan mellihat pemandangan menarik dengan cengiran rubahnya. Yang di ajak bicara hanya tersenyum sinis.

"Jidat kau tak apa? Ya ampun wajahmu? Apa yang mereka lakukan?" Tanya Ino bertubi –tubi pada sahabatnya itu?

"Kau, harusnya dapat menahan emosimu, Cherry. Mereka bukan lawan yang pantas untukmu," kata Sasuke setelah diam.

"Kau lebih memihak mereka dari pada aku? Hmm, itu semua memang hakmu!" kata Sakura dengan emosi. Dia tak habis pikir pada pikiran kekasihnya itu. di sini harusnya ialah korban terror itu. kenapa dia malah membela mereka. Hmm pasti mereka adalah penggemar fanatiknya. Dan ia tidak ingin kehilangan penggemarnya. Dan yang menyebalkan lagi, gadis bunglon itu tetap setia bergelayut di lengan Sasuke.

"Bukan, hanya saja.." kata Sasuke namun terpotong.

"Sasuke-kun," gadis itu memanggil dengan nada yang membuat gadis lainnya merinding.

CUP

Dengan berjinjit, gadis ruby itu berhasil mendaratkan ciuman di pipi mulus sang pangerannya. Semua yang melihat di buat cengo. 'Beraninya gadis ini' itulah yang mereka pikirkan. Pemilik mata emerald yang memandang adegan ini pun kini makin tak tahan. Dengan langkah kasar ia berlari meninggalkan semua yang berada di atap. Para sahabatnya melihatnya dengan tatapan yang tak dapat tedefinisikan.

BUUUGK

"Aaaakkhh!" teriak Karin. Gadis ruby tadi jatuh terdorong kebelakang. Siapa lagi yang melakukannya kalau bukan Sasuke. Dengan tatapan jijik dan benci Sasuke memandang sinis ke arah gadis itu.

"Kau kira aku percaya begitu saja dengan ucapanmu? Aku lebih percaya gadisku dari pada perempuan licik sepertimu karena aku tahu siapa Sakura. Dan kau sungguh beruntung masih hidup setelah membuat masalah dengannya." Kata Sasuke dingin dan sangat menusuk.

"Dan ingat aku sendirilah yang akan mengambil nyawamu jika kau berani menyentuh gadisku lagi!" ancam Sasuke yang begitu menakutkan. Matanya berubah menjadi merah serta aura hitam kini menyelimutinya. Setelah itu ia melenggang meninggalkan atap guna menyusul gadisnya.

"Bersyukurlah Sakura-chan mengampuni nyawamu, nona." Kata Naruto sinis dengan senyum remehnya.

"Kau memilih lawan yang salah kali ini." timpal Ino dengan senyum sinis meremehkan pada gadis yang tertunduk lesu itu. sahabat yang lain pun juga menyunggingkan senyum sinis. Bahkan Hinata pun juga melakukan hal yang sama. setelah itu Naruto dan yang lainnya beranjak meninggalkan gadis menyedihkan itu. sang gadis hanya tertawa getir mendapat perlakuan ini. dan ancaman serta tatapan Sasuke tadi membuat nyalinya benar – benar ciut untuk mencari gara – gara dengan kelompok itu.

.

.

.

'Apa – apaan itu. bukannya membela ku malah membela mereka. Bahkan ia diam saja lagi saat di cium oleh gadis menyebalkan itu.' Gerutu Sakura saat berlari meninggalkan sekolah. Bahkan ia melupakan mobilnya dan terus berlari.

"Sakura? Kenapa sendirian?" Tanya seorang pengendara motor yang kini berhenti di sabelah Sakura.

"Eh?" Sakura yang kaget hanya menoleh sembari memiringkan kepala sebab ia tidak kenal dengan pengendara motor ini akibat ia memakai helm tertutup.

"Kau, tidak pulang dengan si Uchiha itu?" Tanya orang itu seraya membuka helmnya.

"Ah, kau rupanya Gaara?" jawab Sakura yang masih tetap dengan ekspresi datarnya. Namun pemuda Sobaku ini mengerti bahwa gadis ini sedang ada masalah.

"Ingin pergi bersamaku? Sambil menghilangkan beban pikiranmu" Tanya Gaara lagi.

"Baiklah. Aku juga sedang malas pulang," jawab Sakura tanpa pikir panjang menerima tawaran dari Gaara.

"Hm, naiklah." Kata Gaara. Gadis cherryblossom itupun naik ke motor Gaara. Dia berfikir untuk sedikit melupakan emosinya kali ini. dan mungkin saja dengan ini ia bisa sedikit menghilangkan pikirannya tentang Sasuke.

'Hari ini sungguh menyebalkan' gerutu Sakura dalam hati saat motor Gaara telah melaju di jalanan Konoha

.

.

.

To Be Continued

Hwaaaa…...

Selesai juga chap ini, gak nyangka bakal bikin chap kaya gni.

Ini berhubung ide berhamburan di otak SaGaaRi-chan.

So Gomen yach low GaJe..? :p

Untuk chap depan, bakal ada 3 tokoh yang keluar. Nah sapa aja mereka?

Mau taukah? Heheh… di tunggu aja yach?

N jangan lupa buat semuanya di tunggu reviewnya,

Jaa :D