Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

WARNING! Typo(s), OOC, Gaje, Crack Pairs, Alur dan Konflik yang tak jelas serta Penempatan tanda baca yang tidak sesuai dan banyak sekali kesalahan-kesalahan lainnya.

Thanks a lot untuk para reviewer dan yang telah fave & follow fict ini. Semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian.

WARNING! DON'T LIKE DON'T READ!

CHAPTER 7 :

"Selamat pagi, Ino-chan…!" Senyum Kushina mengembang ketika melihat sang menantu memasuki ruang makan dan mengambil tempat duduk di sampingnya, "Bagaimana tidurmu? Apakah nyenyak? Masih merasakan mual?" Kushina menjejali Ino dengan berbagai pertanyaan khas ibu mertua yang menyayangi menantunya, hal yang tentu saja 'menghancurkan' pandangan Ino tentang ibu mertua yang selama ini melekat dalam pikirannya, ibu mertua yang cerewet, yang selalu mengontrol segala tetek bengek urusan rumah tangga anaknya maupun segala sesuatu yang berhubungan dengan putranya. Namun, Kushina lain! Ia adalah sosok ibu yang melindungi dan terkadang kocak, sosok seorang ibu yang selama ini ia rindukan.

"Aku baik-baik saja ibu dan mualku juga sudah lumayan membaik." Ino tersenyum lembut dan meminum susu yang dibuatkan oleh Shizune untuknya, ia memandang sekelilingnya namun tak menemukan Naruto maupun Sakura juga Tsunade, Jiraya serta Minato, "Dimana semuanya, Bu?" tanyanya setelah menghabiskan susunya.

"Ibu rasa Sakura-chan dan Naruto-kun sarapan di luar sedangkan kakek, nenek dan ayahmu sudah berangkat ke kantor setelah sarapan. Apa Naruto-kun tidak memberitahumu? Bukankah sekarang ia tidur di kamarmu?"

Ino tersenyum dan menggelengkan kepalanya, menyantap roti yang baru saja ia buat, "Naruto-kun tidur di kamar Sakura-san, Bu." Rasanya roti beroleskan selai strawberry itu terasa pahit di lidahnya, ia tersenyum kecut.

"Oh?" Kushina terlihat terkejut, padahal ia tahu bagaimana Sakura yang meminta Naruto sendiri untuk menemani Ino begitu menantu pertamanya itu mengetahu kabar kehamilan Ino, "Benarkah? Mengapa bisa begitu? Bukankah Sakura-chan…"

"Ia sedang tidak enak badan dan membutuhkan Naruto-kun disisinya, lagipula aku baik-baik saja." ia meyakinkan ibu mertuanya sekaligus meyakinkan dirinya. Berbagi? Adakah yang rela berbagi suami? Tidak tentu saja, ini juga berlaku untuknya. Namun, apa yang ia bisa selain memendam rasa sakitnya?

Kushina memandang Ino yang tengah terdiam dan memandang kosong piringnya, Ia menghela napas panjang, menggenggam tangan Ino, "Kau tidak baik-baik saja, Nak."

Ino mendongakkan kepala untuk memandang Kushina, Ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum, "Aku baik-baik saja, Ibu."

"Dengar, Ino-chan! Menangislah jika itu mampu membuatmu sedikit lebih lega…! Ibu tidak mengerti bagaimana rasanya berada diposisimu sekarang, kau mengandung dan kau harus berbagi kasih sayang suamimu dengan wanita lain tapi ibu akan selalu berada di sini untuk mendukung keputusan apapun yang akan kau ambil."

"Keputusan?"

Kushina menghela napas panjang dan menghapus air matanya yang keluar begitu saja dari kedua mata indah miliknya, "Kau telah banyak mengalami rasa sakit dalam hidupmu dan kemudian datang Sakura-chan dan ibu yang membujukmu untuk menikah dengan Naruto-kun, membawamu ke dalam rasa sakit yang lebih dalam lagi. Ibu tahu apa yang dilakukan Tsunade-sama padamu, ini benar-benar keterlaluan. Jika kau sudah tidak tahan maka pergilah, Ino-chan! jangan sepertiku atau Minato-kun yang terus bertahan."

"Ibu…"

Kushina tersenyum kecut dan membelai lembut pucuk kepala Ino, "Ibu dan ayah dijodohkan." Kushina lagi-lagi menghela napasnya panjang, "Karena sampai sekarangpun Minato-kun tidak pernah benar-benar mencintaiku, aku bisa merasakannya."

Baru kali ini ia melihat Kushina sesedih ini, pembawaannya yang ceria berubah menjadi sesedih ini.

"Kau benar-benar menginginkan pernikahan ini, Minato-kun?"

Minato tak bergeming, ia memfokuskan pandangannya pada kolam ikan yang berada di hadapannya, tak mempedulikan gadis cantik berambut merah yang tertunduk lesu disampingnya.

"Aku akan membuatmu mencintaiku, Minato-kun. Ayah dan ibu sudah memastikan tanggal pernikahan kita, semua sudah disiapkan dengan baik." Gadis Uzumaki itu berusaha terlihat ceria di depan calon suaminya, meskipun rasanya begitu sakit ketika kau mencintai seseorang dengan sepenuh hati namun orang itu tidak akan pernah benar-benar membalas perasaanmu.

Ia menggingit bibirnya kuat-kuat agar air matanya tidak turun.

"Lalu mengapa kau tetap menanyakannya, Kushina-chan?"

Minato tersenyum kecut kemudian mengacak rambut merah milik gadis Uzumaki yang memang telah ia kenal sejak kecil itu, "Tidak peduli bagaimana perasaanku, pernikahan kita akan tetap dilaksanakan, bukan? aku mampu bertahan. Apakah kau sanggup untuk bertahan, itulah pertanyaannya."

"Aku akan bertahan karena aku mencintaimu, bahkan sejak pertama kali aku mengenalmu saat kita kecil dulu."

"Keluarga Uzumaki dan keluarga Namikaze berhubungan dekat sejak dulu, orangtuaku juga orangtua Minato-kun bersahabat, kami saling mengenal sejak kecil dan aku jatuh cinta padanya sejak kami masih kecil, namun ia telah menjalin hubungan dengan gadis yang ia cintai."

"Mengapa ibu bertahan jika itu hanya akan menyakiti ibu?"

"Sama seperti alasan mengapa kau bertahan, Ino-chan…," Kushina tersenyum, "Cinta. Namun, aku tidak mau melihatmu tertekan dan terkekang seperti ini, aku benar-benar menyayangimu, aku tidak mau melihatmu sedih dan disakiti siapapun, Ino-chan."

Ino tersenyum, mengusap perutnya lembut, "Bagaimana aku tidak bertahan jika di rahimku sudah ada buah cinta Naruto-kun, aku akan bertahan semampuku ibu, jika nanti aku tidak kuat, ijinkan aku pergi dan membawa anakku! Aku tidak mau berpisah dari bayiku, bagaimanapun juga aku adalah ibunya."

"Ino-chan…"

"Kalian sedang berbicara apa?" Shizune memasuki ruang makan, matanya menyelidik, menatap Ino dan Kushina bergantian, "Kalian menangis?" Shizune buru-buru menghampiri Kushina dan Ino, dengan cepat ia memberikan tissue kepada dua orang wanita yang ia sayangi itu, "Ada apa?"

"Kau ini selalu saja ingin tahu, Shizune-nee!" canda Ino, "Ahh! Karin meneleponku, aku permisi dulu…!"

"Ya…menangislah terus hingga nanti anakmu akan cengeng sepertimu, Ino-chan!" goda Shizune yang kemudian mendapat dengusan kesal Ino, "Tapi anakku nanti pasti akan cantik sepertiku." Kilah Ino, calon ibu muda itu terkikik geli dan meninggalkan ruang makan, menyisakan Shizune dan Kushina sendiri, "Anda tidak apa-apa, Nyonya?"

Kushina menggelengkan kepalanya, jemari miliknya menghapus bulir-bulir air mata yang menurun pada kedua pipinya, "Bagaimana kabar Nami-san?"

Shizune menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya, "Nami-nee baik-baik saja Nyonya. Ia akan pulang ke Tokyo 6 bulan lagi."

"Benarkah?"

Shizune tersenyum kecut, "Kakak saya sudah melupakan perasaannya pada Minato-san, anda tidak perlu khawatir."

"Ada yang lebih ku khawatirkan daripada kisah cintaku sendiri, Shizune-chan. Aku mengkhawatirkan menantu dan cucu yang berada di dalam kandungannya."

"Ada apa dengan Ino-chan?"

"Aku merasakan bahwa sekarang sikap Sakura-chan berbeda padanya, juga sikap ibu yang makin parah kepadanya."

"Sudah ku duga bahwa menantumu itu tidak akan bertahan lama untuk bersikap baik pada Ino-chan."

"Tapi aku bisa mengerti bagaimana perasaan Sakura-chan. Bagaimanapun juga dia adalah istri pertama Naruto-kun, ia tidak mengetahui apapun tentang hubungan Naruto-kun dan Ino-chan di masa lalu." Kushina memijit keningnya, pening melanda wanita beranak satu itu, masalah seolah tak berhenti mendera keluarga Namikaze itu, salah apa keluarga ini di masa lalu?

Shizune tersenyum kecut, "Sepertinya begitu, namun aku tidak yakin." Shizune kemudian mengusap lembut pundak sang majikan, "Jangan terlalu memikirkannya! Semua akan baik-baik saja Nyonya."

Kushina tersenyum lembut dan mengangguk. Meski tidak yakin namun wanita itu tetap berusaha untuk tetap berpikiran positif.

=N=

"Rasanya sudah lama sekali kita tidak keluar bersama ya, Naruto-kun." Sakura menggenggam tangan Naruto erat, wanita merah muda itu kemudian mengecup pipi Naruto singkat, "Terimakasih untuk sarapan pagi ini." ungkapnya ceria.

Naruto hanya mengangguk dan tersenyum, "Kau bahagia?"

"Tentu saja. Hari ini benar-benar membahagiakan untukku.

Maafkan aku Ino-chan.

"Baiklah! Aku masuk dulu, sampai jumpa nanti malam."

Naruto membulatkan matanya, "Nanti malam?"

Sakura mengangguk, "Kau akan menjemputku dan kita akan makan malam bersama."

"Lalu bagaimana dengan Ino-chan?" sergah Naruto namun masih bisa mengontrol suara dan emosinya, ia benar-benar merasa aneh dengan sikap yang ditunjukkan Sakura dari semala, seolah ia ingin menjauhkannya dari Ino.

"Kau dan Ino sudah terlalu sering bersama, Naruto-kun. Aku tahu dia sedang mengandung namun tak bisakah kau juga membagi sedikit waktumu untuk bersama denganku?" pinta wanita itu memelas pada suaminya, sebagai laki-laki yang bertanggung jawab mana mungkin Naruto membuat istri pertamanya bersedih begitu saja, "Baiklah."

Yeayyy~

Sakura bertepuk tangan ceria, "Sampai jumpa nanti malam." Wanita keluarga Haruno itu dengan semangat membuka pintu mobilnya dan meninggalkan Naruto sendiri dengan berbagai pikiran yang menggelayuti jiwanya. Ia menghela napas panjang dan mengambil ponsel dari saku jasnya, menekan deretan angka-angka pada ponsel pintarnya, "Halo Ino-chan, aku dan Sakura-chan akan pulang terlambat malam ini."

.

.

.

.

Hah~

Ino menarik napasnya dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya kembali, "Sepertinya kita akan makan malam berdua saja, Nak!" Ino mengusap perutnya lembut kemudian merapikan pakaian yang ia kenakan.

"Apa kau sudah siap?"

Ino mengangguk, mengambil tas miliknya kemudian berlari kecil ke arah Shizune, "Rasanya sudah lama aku tidak ke toko bunga…"

"Gaara sudah ku beri tahu bahwa kita akan ke sana."

"Baguslah." Seru wanita pirang itu dan berjalan mendahului Shizune.

"Apa kau baik-baik saja Ino-chan?"

Ino berbalik dan menghela napasnya panjang.

"Aku baik-baik saja."

-To Be Continued-

Well WB melanda :'(. Bingung antara lanjut atau kaga wkwkwkwk.

Enjoy ^^