"Morning, sunshine..." bisik Indonesia lembut di telinga sang kekasih tercinta.
Hari sudah pagi dan matahari mulai menari-nari. Pemuda Asia manis itu sudah rapi jali. Badan harum mewangi, habis mandi pagi pakai lulur mandi wangi melati. Gigi putih berseri karena setiap hari tak pernah lupa sikat gigi. Rambut disisir rapi disisakan poni ikal jatuh di dahi. Pakai kaos oblong warna warni motif pelangi plus celana panjang digulung kanan kiri. Yang paling keren celemeknya warna hitam plus tulisan "Trust me, i'm a chef" di dada sebelah kiri.
Lho, author jadi kayak bikin puisi?
"Ngg..." terdengar erangan super malas.
"Rise and shine..." bisik Indonesia lagi.
"Ngg..." masih mengerang dengan malas juga.
"Ayo bangun, pemalas!"
Dengan satu hentakan pemuda berambut ikal itu menyingkap selimut sehingga sang pemilik erangan malas yang bersembunyi di balik selimut itu terlihat. Tubuh besar dan berotot itu tergolek di atas kasur. Pasrah, hanya berbalut selembar boxer, sementara dada bidang dan bahu lebarnya dibiarkan terbuka. Rambut pirang oranyenya acak-acakan, jatuh terurai ke dahi dan sebagian menutupi wajahnya.
"Ngg...masih ngantuk..." ujarnya kembali meringkuk tanpa membuka matanya sedikitpun.
"Ayo bangun atau aku buat kamu jadi bangun.." bisik Indonesia seduktif.
Pemuda itu mendekatkan tubuhnya ke tubuh sang partner yang masih terbaring di tempat tidur. Tangannya menggerayangi tubuh berkulit pucat itu dengan lembut. Tubuh besar berotot yang hanya mengenakan selembar boxer itu menggeliat pelan setelah dibelai lembut namun penuh gairah.
"Ngghh..."
Indonesia terkekeh. Pemuda berkulit sawo matang itu kembali menjelajahi tubuh berkulit pucat yang masih asyik meringkuk itu Disentuhnya benda kenyal yang ada di wilayah dada bidang nan berotot itu dari arah belakang. Sembari mengeluskan wajahnya ke punggung sang kekasih, dipijatnya benda kenyal itu perlahan. Tak lama terdengar erangan nikmat dari si pemilik benda kenyal.
Indonesia tak berhenti sampai disitu. Pemuda berambut ikal itu mencolek bokong Netherlands. Tangannya semakin lama semakin bergerak ke arah depan dan berusaha menjangkau batang keperkasaan milik sang yayang. Dan ketika akhirnya tangannya berhasil menjangkau benda itu,
"Iyaaa, gue banguuunnn...!"
Seketika itu pula sang pemilik batang keperkasaan itu langsung terbangun dan berlari ke kamar mandi.
"Huh si Neth gimana sih!? Baru aja mau gue pijitin, eh malah kabur!" Indonesia ngegerundel.
Sementara Netherlands yang baru saja menjadi korban grepe-grepe itu kini sudah berhasil menyelamatkan diri ke kamar mandi. Napasnya ngos-ngosan.
"Selamet, selamet, untung buru-buru ke kamar mandi!" ujarnya sambil berusaha mengumpulkan napas.
"Besok-besok kalo tidur harus pake baju komplit nih, biar ngga digrepe-grepe sembarangan lagi!"
-o0o-
Wangi telur dadar menyeruak dari arah dapur. Rupanya si pemuda Asia Tenggara nan ganteng itu sedang mempersiapkan sarapan.
"Telur dadar, kentang panggang, sosis goreng dan bacon, plus segelas susu." ujarnya seraya merapikan meja makan.
"Neth, sarapan siap nih!"
"Yo!"
Pemuda Belanda itu keluar dari kamar utama menuju meja makan. Rambutnya tertata rapi ke atas dengan hair gel. Polo shirt oranye dan jeans sudah disandangnya.
"Hmm, smells so good..." ujarnya seraya mengendus aroma masakan yang begitu menggoda.
"And so do you..." timpal Indonesia seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang kekasih.
"Pagi-pagi udah ganteng aja nih, mau kemana sih!?"
"Ngga pergi kemana-mana kok, cuma mau ke hatimu aja!" jawab Neth gombal.
"Gombal!" ujar Indonesia seraya menggamit dagu si pemuda bule, "tapi aku suka..." tambahnya setengah berbisik dengan nada yang sangat seduktif.
Pemuda berambut ikal itu menatap sang kekasih dengan tatapan sendu dan menggoda. Tangannya mulai bergerilya ke sekujur tubuh besar dan berotot itu. Netherlands menangkap gelagat sang partner yang membahayakan dan mengancam kondisi vital regionnya.
"Neth, how 'bout just a little-"
"AHH, WOOWW, WHAT A TEMPTING BREAKFAST! I AM REALLY STARVING RIGHT NOW!" Netherlands langsung mengeluarkan jurus pengecoh sebelum Indonesia merayunya lebih jauh lagi.
Tanpa ba-bi-bu lagi, bule berambut pirang itu langsung menyerbu sarapannya.
"Umh, enak banget kentang panggangnya, ditabur mozarella, melted banget di lidah, nyam, nyam!" ujarnya excited.
"Telur dadarnya juga harum, pasti kamu gorengnya pake butter kan, Honey!"
"Bacon dan sosisnya juga enak, hmm, pokoknya masakan kamu memang paling sip deh, Honey!"
Netherlands terus mengoceh mengomentari sarapannya seraya mengunyah tanpa henti. Indonesia yang duduk berseberangan dengannya cuma mengunyah sarapannya dengan tampang bete,
"Perasaan tiap hari gue masak kayak gini, kenapa sekarang loe jadi heboh gitu, dasar semprul!" batinnya.
...
...
...
TING TONG
"Eh, ada yang dateng."
Indonesia beranjak ke pintu ruang tamu, membukanya lalu terkejut dibuatnya.
"Morning, Indo! I come to visit si Komo!"
Ternyata itu adalah Australia, lengkap dengan kostum penjelajah warna cokelat muda ala National Geographic, sepatu booth plus topi. Kayak botanist yang mau menjelajah hutan Kalimantan buat ngumpulin sampel tanaman gitu!
"Ozz!? Wha-what on earth are you gonna do with that costume!?" Indonesia jadi pingin ketawa.
Australia cuma nyengir.
"Oh iya, aku bawain ini nih buat oleh-oleh!"
Australia menyerahkan bungkusan yang ternyata berisi sebotol vegemite, makanan khas dari negeri kangguru. Itu lho selai yang warnanya hitam en rasanya asin-asin pahit gimana gitu. Orang Australia biasa mengoleskan selai ini di roti panggang, plus dikasih keju dan telur. Ada juga yang suka ngolesin selai ini di biskuit. Bahkan kadang selai ini juga dipake buat penambah rasa pada sup.
"Repot-repot amat, thanks anyway!"
Netherlands yang sedang menikmati segelas susu sambil membaca koran, di ruang keluarga, penasaran dengan tamu yang berkunjung. Ia heran kenapa Indonesia belum juga kembali dari ruang tamu.
"Indo, siapa?" ujar Nether yang akhirnya menyusul ke ruang tamu.
"Ah, Neth, ini Ozzy datang berkunjung."
Australia melambaikan tangan seraya mengucap salam.
"Ozzy mau mengunjungi si Komo, katanya mau dipinjam dulu buat dibawa ke Ballarat." jelas Indonesia.
"Udah lama ngga ketemu si Komo, mungkin dia udah ngga kenal lagi, mudah-mudahan ngga ngamuk." ujar Aussie seraya tersenyum canggung pada Nether.
Pemuda Belanda itu memicingkan matanya. Ditatapnya sosok Australia dari ujung kaki sampai ujung rambut, lalu balik ke ujung kaki lagi. Ditelitinya wajah pemuda berkulit merah itu dengan saksama. Tatapan Netherlands benar-benar sengit dan intimidatif. Australia jadi jiper.
"Hmm, mau mengunjungi si Komo, atau pemiliknya?" tanya Netherlands to the point dengan tatapan straight to the center of Aussie's eyes.
GLEK.
Australia menelan ludah. Keringat dingin mengalir di jidatnya, "A-anu...ng.."
"Ngga usah curiga kayak gitu kali!" Indonesia mendelik sewot. "We've been BFF since you haven't been my BFF!" timpalnya.
"Heehh!?" Netherlands mengernyitkan alisnya bingung.
"We've been Best Friend Forever since you haven't been my Boy Friend Forever." jelas Indonesia.
"Oh, BFF itu punya 2 arti gitu ya?" tanya Nether keder. Dibukanya kamus online Oxford di smartphonenya, mencari kepanjangan dari BFF. Namun tak kunjung pula ia temukan.
Ia baru sadar Indonesia dan Australia sudah tidak ada di hadapannya.
"Ugh, dasar!" Nether jadi geram.
Dua orang pemuda itu rupanya sudah meluncur ke kandang si Komo yang terletak di halaman belakang.
"Mo, kamu kedatangan tamu nih!" ujar Indonesia sembari memukul besi kandang biawak raksasa itu. Dibukanya pintu kandang itu lalu dielusnya kepala si Komo.
Pemuda berambut ikal itu melemparkan seekor ayam mentah ke dalam kandang. Si Komo pun mengejar dan segera melahap sarapan paginya itu.
"Good boy!" ujar Indonesia.
Pemuda sawo matang itu pergi ke dapur untuk mengambil 2 ekor ayam lagi untuk sarapan si Komo. Semakin tambah usia, nafsu makan biawak bongsor itu makin bertambah.
Australia memperhatikan binatang melata yang sedang asyik sarapan itu. Biawak khas yang hanya ada di negeri sahabatnya itu tampak lebih besar dibanding terakhir kali ia melihatnya Ah, entah sudah berapa lama ia tidak bermain dengan binatang itu. Waktu si Komo masih kecil dan imut dulu, dirinya sering menggendong dan mengajak main hewan itu. Bahkan ia, si Komo dan Indonesia, mereka bertiga kerap jatuh terlelap dalam selimut yang sama karena kelelahan bermain seharian.
"Hai, Mo, time flies so fast, kamu udah gede aja ya?" sapa Aussie.
Si Komo cuek dan masih serius menikmati sarapannya. Aussie tersenyum menatap peliharaan sang sahabat. Ia mengulurkan tangan hendak mengelus kepala hewan melata itu. Namun tiba-tiba hewan bercakar dan bergigi tajam itu mengamuk dan hampir saja melahap tangan Aussie. Mungkin ia kesal saat-saat sarapannya yang berharga diganggu elusan tangan pemuda berkulit merah itu.
"HUWAAAAA...!" jerit Aussie panik seraya melompat menjauh.
Indonesia muncul dari arah dapur membawa 2 ekor ayam mentah. Ia bergegas menuju kandang si Komo karena mendengar suara teriakan.
"Ozz!? What happened!?"
Tiba-tiba tubuh besar Australia yang berlari ketakutan menerjang dan menabraknya. Mereka berdua terguling jatuh.
Indonesia ingat waktu dulu dirinya dan Australia menghabiskan waktu bermain bersama, entah sudah berapa puluh kali mereka jatuh bergulingan bersama. Namun kali ini entah kenapa pemuda sawo matang itu merasakan sesuatu yang berbeda. Indonesia merasakan ada sesuatu yang hangat dan lembut mendarat di bibirnya.
"Mmmhh..."
Sedetik kemudian ia baru menyadari bahwa sesuatu yang hangat dan lembut itu adalah bibir Australia. Ya, bibirnya dan bibir sahabatnya itu entah bagaimana bisa bertautan. Begitu pula dengan posisi jatuh mereka. Tubuh besar sahabatnya itu berada tepat di atas tubuh mungilnya.
Beberapa saat kemudian Australia tersadar lalu secepat kilat berusaha bangkit berdiri dari jatuhnya.
"A-ah, so-sorry! I-i didn't mean it!" ujarnya jengah. Tangannya menyentuh bibirnya dengan jantung yang berdebar tak karuan. Terlihat sekilas ada rona kemerahan di wajahnya. Buru-buru ia membantu Indonesia bangun. "Are you hurt!?"
"A-anu, si Komo tiba-tiba mengamuk dan mau memakan tanganku, ja-jadi aku buru-buru loncat dan lari, dan lalu nabrak kamu, dan lalu kita jatuh, dan lalu-lalu-lalu,..." Australia menjelaskan dengan wajah memerah dan kikuk.
"Never mind, ngga apa-apa." ujar Indonesia seraya meringis mengelus jidatnya yang agak sakit. Mungkin tadi terbentur tubuh besar sahabatnya itu. "mungkin si Komo masih lapar. Ini aku bawain ayam lagi." ujar Indonesia sambil berdiri seraya memungut ayam yang jatuh. Pemuda personifikasi nusantara itu berjalan mendekat ke arah kandang dan melemparkan 2 ekor ayam mentah. Makanan itu langsung diserbu oleh sang peliharaan.
"Biasanya setelah kenyang, dia akan lebih tenang." ujar Indonesia seraya tersenyum.
Benar saja, begitu 3 ekor ayam mentah itu tandas dilahapnya, biawak bongsor itupun berbaring diam di kandangnya. Mungkin kekenyangan.
"See." ujar Indonesia kalem.
Australia menatap wajah sang sahabat. Bola mata hijaunya tertuju pada jidat si pemuda sawo matang yang sedang bersandar di pinggir kandang biawak peliharaannya.
"Indo, jidatmu benjol..."
"Heh!? Really!?" Indonesia meraba jidatnya. Ada benjolan kecil kemerahan tumbuh disana. Pantas saja dari tadi terasa cenat cenut.
Australia mengulurkan tangannya ke arah benjolan itu, mengusapnya pelan.
"Sakit?"
"Nah,.."
Pemuda personifikasi negeri kangguru itu meludahi telapak tangannya, merapal sesuatu seraya memejamkan matanya lalu mengusapkannya dengan lembut ke benjolan di jidat Indonesia.
"Uh ha, magical spell or something?" Indonesia memutar bola matanya keheranan.
"There you are, feel better?" tanya Aussie lembut. "this is what we call the aborigin's spell."
Tangan besar itu mengusap pelipis Indonesia cukup lama sembari berbisik sesuatu, seperti mantra. Ketika tangan besar itu melepaskan usapannya, entah kenapa Indonesia merasa jauh lebih baik. Benar-benar ajaib.
"Amazing, i feel better now! Thanks, Oz!" Indonesia tersenyum tulus.
Australia membalas senyum itu.
"Ah, perasaan hangat apa ini?" batin Aussie seraya tangannya menyentuh dadanya.
Entah kenapa ketika menatap senyuman tulus itu, waktu seakan berhenti dan Australia ingin selamanya seperti ini terus.
"Oh, jadi sekarang kamu alih profesi jadi dukun ya, Oz!?" Indonesia meledek.
"Ngenyek!?" balas Aussie seraya menjulurkan lidah.
Keduanya tertawa. Suasanapun menjadi cair, tidak kaku dan awkward seperti semula.
"Hey, wanna touch him now?" Indonesia menunjuk pada sosok biawak yang tengah berbaring tenang. Aussie mengangguk.
Pemuda berambut kecoklatan itu menjulurkan tangannya perlahan seraya memperhatikan gestur tubuh sang biawak. Ia menahan napas. Sang sahabat juga turut mengawasi hewan peliharaannya. Tangannya sudah lebih dulu mendarat di kepala sang biawak dan mengelusnya dengan lembut. Australia agak ragu, khawatir hewan itu mengamuk lagi. Namun bola mata hitam legam milik sahabatnya itu menyakinkannya untuk tetap melanjutkan.
"Easy, easy, boy..." bisik Indonesia seraya mengelus kepala si Komo.
Tangan berkulit merah itu mendarat pelan di kepala sang biawak. Kulitnya terasa kasar dan bersisik. Dielusnya perlahan. Tiba-tiba si Komo menghentakkan kepalanya seolah tidak ingin disentuh oleh pemuda bermata hijau itu. Ekornya menggelepar kencang di tanah. Untung saja Indonesia segera menenangkannya sehingga hewan itu tidak mengamuk dan hendak melahap tangan Aussie lagi.
"Uwaahh..!" Australia mundur beberapa langkah ke belakang, menjaga jarak dari hewan bersisik itu.
"Hweeh, kenapa sih kamu ngga mau aku sentuh, Mo!?" Aussie jadi pundung. "terus gimana caranya aku bawa kamu ke Ballarat, Mo!?" ujarnya seraya jongkok bikin lingkaran di tanah sambil manyun.
Indonesia geleng-geleng kepala Rupanya hewan peliharaannya sudah benar-benar tak mengenali sahabatnya itu.
"Yeah, it can't be helped! Kayaknya kamu harus sering-sering berkunjung kesini, Oz, supaya si Komo inget sama kamu lagi."
Australia terpaku sejenak Wajahnya yang semula manyun karena kesel dan bingung itu tiba-tiba berubah menjadi cerah. Senyum lebar merekah di wajah yang dihiasi plester itu.
Did you mean that you allowed me to come here everyday!?
Did you mean that we could be like this everyday!?
Did you mean that we could spend our time together like this everyday!?
Pemuda Australia itu berdiri sambil mengepalkan tangannya. Indonesia terkejut karena sahabatnya itu melakukannya dengan tiba-tiba.
"Wokeh, aku akan terus berusaha dengan sekuat tenaga supaya si Komo ingat aku lagi!" ujarnya penuh tekad. "aku akan berlatih mengelus si Komo setiap hari, 7 days, 24 hours!"
Indonesia sweatdrop.
"Ngga gitu juga kali..." bisiknya sambil ngelap keringet.
"Eh, kamu barusan ngomong apa?" tanya Aussie sambil tersenyum antusias.
"Eh, ngga, ngga ngomong apa-apa kok!?" Indonesia nyengir.
Lalu keduanya terlibat obrolan yang seru dan hangat.
Sementara itu di balik rerimbunan pohon, ada sepasang mata berwarna hijau yang mengawasi dengan tatapan penuh rasa cemburu.
"Si kampret ituuu...!"
...
...
...
~TBC~
