PARALLEL UNIVERSE

Previous chapter.

"Zelo. Lepaskan." Pinta Minhyuk.

Dengan berat hati pula Zelo melepaskan tangannya. Seketika darah kembali keluar deras dari luka Daehyun.

Minhyuk mengintrupsikan Jongup dan Zelo untuk menjauh.

Vernon kembali menatap Youngjae sebentar sebelum memegang luka Daehyun. Seketika cahaya yang terang tercipta dari arah Youngjae. Yang lain hanya bisa menempatkan tangan mereka di depan mata agar mata mereka tidak sakit.


Chapter 7

"apa itu tadi, kau tidak bisa mati disini ?." Vernon membuka percakapan.

Hujan deras sudah reda. Cuacanya kembali cerah, kini matahari bersinar terik. Dan Vernon mengajak Youngjae bicara berdua tak jauh dari perkemahan mereka.

"bukankah itu kenyataan." Jawab Youngjae.

"dan juga, kau akan menukarkan nyawamu dengan keselamatannya ?." Vernon menatap tak percaya pada Youngjae.

Laki-laki manis itu duduk di sebuah pohon tumbang "itu hanya-"

"kau mencintainya ?." Vernon mencoba menebaknya.

Youngjae terdiam. Dia memainkan rumput yang sudah tumbuh tinggi di sebelahnya.

Vernon menghela nafas kasar. "dari kelima Knight dan disini juga ada aku. Kau- jatuh cinta pada Daehyun ?." dia kembali berucap tak percaya.

"memangnya kenapa." Youngjae membela.

"tidak. Tapi masalahnya Daehyun-" Vernon berkacak pinggang, dia berpikir. Sepertinya ini akan sulit. "orang yang sangat sulit untuk mengatakan 'aku mencintaimu.' "

"selama kau disini pasti kau tahu. Daehyun adalah orang yang akan selalu memegang kata-katanya. Itu membuatnya tidak mudah mengatakan itu. Meski dia memiliki perasaan yang sama padamu. Mungkin dia akan lebih mengekspresikan dengan perbuatannya." Sambungnya.

Youngjae berdiri. "aku akan mencobanya." Dia berucap dengan semangat.

"memangnya kau yakin dia juga mencintaimu ?." Vernon meragu.

"setelah mendengar kata-katamu pasti dia juga mencintaiku."

"kita sudah tidak memiliki waktu Youngjae. Gerhana bulan akan terjadi besok malam." Vernon berucap putus asa.

Youngjae tersenyum, dia menepuk lengan Vernon. "kenapa kau jadi putus asa ? kau adalah harapan. Mana ada harapan yang putus asa."

Kata-kata Youngjae membuat laki-laki pirang itu ikut tersenyum.

Masih dengan senyumannya, Youngjae menatap Vernon. "kau tidak akan membiarkan aku mati disini kan ? begitu juga dengan orang yang melindungiku."

Vernon mengangguk. "kau tidak akan mati disini."


Daejae


Daehyun membuka matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya. Juga berusaha mengumpulkan kesadarannya.

'sembuhkan !. bahkan jika harus di tukar dengan nyawaku !.'

Dia terperanjat, kemudian meraba perutnya. Tidak ada luka sama sekali disana. dia bergegas keluar tenda. Di luar, teman-temannya terlihat sedang membakar sesuatu di atas api unggun. Tapi, dia tidak melihat Youngjae dan Sera disana.

"hyung, kemarilah. Makanannya sebentar lagi siap." Tegur Jongup dari kejauhan saat melihat Daehyun hanya terdiam di depan tendanya.

Daehyun segera menghampiri mereka.

"bagaimana keadaanmu ?." tanya Minhyuk.

"dimana Youngjae dan Sera ?." Daehyun tak menjawabnya, malah kembali bertanya.

"Sera berada di tendanya, sepertinya dia tidak ingin di ganggu. Youngjae, dia pergi bersama temannya." Jawab Minhyuk.

"kemana mereka tadi pergi ?." Daehyun kembali bertanya.

Knight lainnya kompak menunjuk arah timur.

"aku akan menyusulnya untuk makan." Daehyun pergi meninggalkan mereka.

Setelah berjalan tak cukup jauh, Daehyun melihat Youngjae yang tengah berjalan ke arahnya.

"kau sudah lebih baik sekarang." Ujar Youngjae, saat laki-laki manis itu telah berada di hadapan Daehyun.

Daehyun mengangguk. "dimana Vernon ?."

"dia sudah menghilang."

"kalau begitu kita kembali saja. Yang lain sudah menunggu untuk makan."

Youngjae menahan lengan Daehyun yang akan berjalan.

"aku mencintaimu." Ucap Youngjae.

DEG

Daehyun terhenyak. Dia berbalik menatap Youngjae.

"aku mencintaimu." Youngjae mengatakannya sekali lagi.

"bukankah seharusnya kau mengatakan itu pada Vernon ?."

"aku mencintaimu. Bagaimana mungkin aku mengatakannya pada orang lain." Youngjae menaikan nadanya karena sebal.

Daehyun tampak bingung, salah tingkah. Dia menatap tak tentu arah.

"kau tidak mencintaiku ?."

Daehyun kembali menatap Youngjae. "Youngjae aku-" dia tak bisa melanjutkan kata-katanya. Hanya mampu menatapnya saat ini. Dengan tatapan sarat akan cinta. Berharap laki-laki manis di depannya ini bisa mengerti hanya dengan tatapannya.

Youngjae menghela nafas kasar, dia melepaskan pegangan tangannya. "lupakan saja." Dia segera berjalan mendahului Daehyun.

Dari tempatnya, Daehyun menatap punggung Youngjae. Dia juga memiliki perasaan yang sama padanya. tapi, dia belum bisa mengatakannya saat ini.

.

.

Daejae

.

.

Angin malam bertiup menggoyangkan dahan-dahan pohon menimbulkan suara berisik karena daun-daun yang bergesekan. Suara hewan malam juga terdengar samar-samar.

Youngjae mengeratkan blazernya, dia duduk di depan api unggun yang akan menghangatkan tubuhnya. Lalu, mendongak menatap gelapnya langit yang di penuhi dengan bintang dan bulan yang bersinar terang.

Dia selalu merasa nyaman saat melihat bintang. dia merasa ibunya adalah salah satu bintang itu yang sedang melihatnya.

"sedang apa ?." Daehyun datang mengintrupsinya.

Youngjae menoleh. "aku kedinginan jadi aku duduk disini."

Daehyun ikut duduk di samping Youngjae.

"kau tidak berpikir aku sedang memberi kode agar kau memelukku kan ?." lanjutnya.

Daehyun tertawa. "tidak."

"aku minta maaf tentang buku itu." Ucap Youngjae menyesal. "aku juga sudah minta maaf pada yang lainnya kecuali Sera. Dia sedang tidak ingin di ganggu."

"tak apa. Semua katamu memang benar. tak seharusnya kita bergantung pada buku itu." Jawab Daehyun.

"besok sudah gerhana bulan. Apa yang akan kalian lakukan ?."

"karena penyerangan waktu itu. Kita tidak bisa melakukan persiapan apapun. Kita akan tetap akan bersembunyi disini."

Youngjae terdiam. Semua keputusan tergantung pada mereka. Mungkin itu lebih baik. Atau mungkin menjadi hal buruk.

"kau pernah bertemu dengan Dantalion ?. yang lain bilang, belum pernah bertemu dengannya." Youngjae bertanya.

"aku pernah melihatnya, Vernon pernah menunjukannya hanya padaku."

"seperti apa rupanya ? apa seperti penyihir dengan membawa tongkat ?." Youngjae berkata antusias.

Daehyun tertawa. "tidak. Dantalion sangat mirip dengan Vernon. Dia saudara kembarnya."

"sungguh ?." kini Youngjae mulai berpikir. Bertanya dalam benaknya, Apakah Vernon yang selama ini menemuinya adalah Vernon ? atau Dantalion yang menyamar menjadi Vernon ?.

"kenapa ?." tanya Daehyun.

"kalau begitu selama ini yang menemuiku Vernon atau Dantalion ?." Youngjae meragu.

"Vernon." Daehyun meyakinkan. "hanya dia yang memiliki mawar biru. Meskipun mereka berdua terlihat mirip tapi masih bisa di bedakan. Rambut Dantalion bewarna abu-abu."

Youngjae merasa lega, dia kembali mendongak menatap langit. Daehyun ikut melakukan apa yang di lakukan Youngjae.

"benar-benar indah kan ?." ucap Daehyun pelan.

"aku sangat menyukai bintang. Saat melihatnya, rasanya begitu nyaman dan menenangkan."

Daehyun berganti menatap Youngjae dan tersenyum samar.

"Youngjae, bisakah kau memelukku ?."

Youngjae balas menatap Daehyun yang kini sudah merentangkan kedua tangannya. Tanpa berpikir lagi, Youngjae segera medaratkan dirinya pada pelukan Daehyun. Menenggelamkan wajahnya di dada lelaki tampan itu. Terasa hangat dan nyaman.

Daehyun memejamkan matanya. Satu tangannya mengusap lembut rambut Youngjae, sementara satu tangannya yang berada di punggung Youngjae tergenggam.

Usapannya berhenti saat muncul senbuah cahaya dari genggaman tangannya. Membuat suhu tubuhnya seketika menjadi sangat dingin. Dan, Youngjae bisa merasakan itu.

Laki-laki manis itu melepaskan pelukannya paksa. Rasa nyaman yang baru dia dapatkan berubah menjadi rasa khawatir.

"kau baik-baik saja ? apa kau tidak enak badan ?." Tanya Youngjae panik dengan memegang leher Daehyun untuk memeriksa suhu tubuhnya. Terasa dingin, wajah Daehyun juga pucat.

Daehyun tersenyum. "aku baik-baik saja."

"aku akan memanggil Zelo."

Daehyun mencegah Youngjae yang baru saja berdiri.

"aku baik-baik saja." Daehyun mengulanginya.

Youngjae bisa merasakan tangan dingin Daehyun yang memegang pergelangan tangannya mulai menghangat. Dan dia kembali duduk.

"kenapa badanmu tiba-tiba menjadi dingin. Itu membuatku khawatir." Ucap Youngjae.

"ini memang biasa terjadi." Daehyun berbohong. "Youngjae, aku punya sesuatu untukmu." Sambungnya.

"apa ?."

Daehyun membuka tangannya yang sedari tadi tergenggam. Mata indah Youngjae membola dan berbinar. Melihat sebuah gelang platinum berliontin crystal berbentuk bintang di atas telapak tangan Daehyun.

Daehyun tersenyum. "berikan tanganmu."

Dan, Youngjae mengulurkan tangannya agar Daehyun bisa memasangkan gelang itu.

"ini sangat indah." Puji Youngjae.

Daehyun menatap Youngjae lekat. "aku menggunakan seluruh hidupku untuk memberikan itu padamu."

Youngjae tertawa karena merasa Daehyun sedang merayunya.

Laki-laki tampan itu masih menatap Youngjae lekat yang sedang tertawa. "kau tidak akan mati disini." Gumam Daehyun hampir tak terdengar.

"kau sedang merayuku ?." Youngjae berucap dengan sisa tawanya.

Karena Daehyun yang hanya menatapnya, Youngjae menghentikan tawanya. Dia ikut menatap Daehyun lekat. Jantungnya terasa berdetak cepat hingga darah berdesir ke seluruh tubuhnya. Tapi, terasa begitu nyaman.

"Youngjae aku-"

"Youngjae."

Kalimat Daehyun terputus saat seseorang di belakang mereka memanggil Youngjae. Daehyun menghela nafas berat kemudian menatap api yang membakar kayu.

Youngjae menoleh untuk melihat pelakunya. Sera berdiri di belakang mereka dengan gelisah.

"Sera. Kau baik-baik saja ?." tanya Youngjae.

Gadis itu mengangguk. "bisakah- aku- berbicara denganmu." Ucapnya ragu.

Youngjae terdiam. Haruskah ?. dia menoleh pada Daehyun.

"kalian bicaralah. Aku akan meninggalkan kalian." Sahut Daehyun lalu beranjak untuk pergi.

Sera segera duduk di sebelah Youngjae. Tempat duduk Daehyun tadi.

Masih belum ada percakapan di antara mereka. Sera hanya bisa memainkan jubahnya, mulutnya hanya terbuka kemudian tertutup lagi. Dia tidak tahu, harus bagaimana mengatakan apa yang di rasakannya sekarang.

"aku minta maaf tentang buku itu." Youngjae akhirnya membuka percakapan.

"tidak tidak. Kau tidak perlu minta maaf. Aku rasa- kau benar." ucap Sera.

"tidak seharusnya aku menggunakan ini untuk kepentingan pribadiku. Di saat yang lainnya berjuang untuk Decastria dan dunia ini. Aku hanya memikirkan bagaimana Daehyun agar bisa membalas perasaanku." Sambungnya. Gadis itu mulai menangis.

Youngjae mengusap pundaknya pelan. "tapi secara tidak langsung kau ikut berjuang untuk Decastria dan dunia ini. Kita masih punya waktu."

"aku mencintai Daehyun. Tapi, mulai hari ini aku akan melakukan semuanya untuk Decastria." Ujar Sera.

Youngjae tersenyum. "kita akan berjuang bersama."

.

.

Daejae

.

.

Beberapa jam lagi matahari akan tenggelam. suara burung-burung yang hendak kembali ke sarangnya, merdu ke seluruh penjuru hutan.

Youngjae berdiri di tengah sungai tak jauh dari perkemahan mereka bersama dengan Daehyun. Bukan air terjun yang waktu itu. Jongup yang menemukan sungai ini. Mungkin aliran sungai ini berasal dari air terjun itu.

Satu tangan Youngjae memegang lengan Daehyun agar mereka tidak terjatuh karena bebatuan dasar sungai.

Mereka sedang menangkap ikan untuk makan malam. Tidak sulit, karena Daehyun memanfaatkan kekuatannya.

Setelah dirasa ikan yang di dapat sudah cukup, mereka segera menepi. duduk di atas batu pinggir sungai, Daehyun segera merangkai ikan yang mereka dapat dengan akar pohon agar mereka mudah untuk membawanya nanti.

"Daehyun, semalam apa yang ingin kau katakan ?." intrupsi Youngjae. Dia ingat kemarin malam Daehyun ingin mengatakan sesuatu padanya tapi dia urungkan karena Sera datang.

Daehyun menoleh sebentar sebelum kembali pada kegiatannya. "bukan apa-apa."

Youngjae menghela nafas kasar dan merengut sebal.

"sudah selesai." sahut Daehyun saat dia telah selesai dengan ikan-ikan mereka.

Dia terkekeh melihat Youngjae yang merengut dengan melempar batu-batu kecil ke arah aliran sungai.

"kenapa ?."

"kau tidak mau mengakatannya." Jawab Youngjae sebal.

Kekehan Daehyun menghilang, menatap sebentar gelang yang dia berikan pada Youngjae semalam. Yang masih melingkar indah pada pergelangan tangan lelaki manis itu. Liontin Crystalnya tampak berkilau terkena sinar matahari.

"kau tahu kenapa gelang itu memiliki liontin berbentuk bintang." Ujar Daehyun.

Youngjae segera menoleh. Mempertemukan mata indahnya dengan tatapan lembut Daehyun.

"kenapa ?."

"karena kau menyukai bintang. Ada kalanya saat langit tidak menampakkan bintangnya, aku ingin selalu membuatmu nyaman. Kau bisa menganggap gelang itu adalah diriku."

Youngjae terdiam, cukup lama. Mereka hanya saling tatap. Dia tahu, sangat tahu Daehyun juga mencintainya. Tapi, kenapa kata-kata itu sulit untuk laki-laki di depannya ini.

"kau tetap tidak akan mengatakannya ?." ucap Youngjae. Tatapan Daehyun berubah menjadi tatapan tak mengerti.

"aku mencintaimu." Kata Youngjae.

Lagi. Daehyun terdiam. Mereka hanya saling berpandangan lekat. Youngjae menunggunya untuk membalas kata cintanya. Tapi, Daehyun tak kunjung membuka mulutnya.

Laki-laki di depannya itu mendekat padanya dan-

CUP

Daehyun mempertemukan bibir penuhnya dengan bibir cherry Youngjae. Dia mulai memejamkan matanya dan merengkuh pinggang Youngjae.

Laki-laki manis itu hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Pikirannya tiba-tiba berhenti bekerja, jantungnya berdetak lebih cepat.

Lumatan pelan Daehyun pada bibirnya membuat dia tersadar. Youngjae mengalungkan kedua tangannya pada leher Daehyun, dan membalas ciumannya.

Ciuman Daehyun terasa lembut. Tidak menuntut dan tanpa paksaan, membuatnya dengan suka rela membuka mulutnya. Mengundang lidah Daehyun untuk mengeksplorasi apapun yang berada di dalam mulutnya.

Setelah beberapa menit mereka saling melumat, satu tangan Youngjae turun untuk meremas lengan Daehyun. Laki-laki tampan itu mengerti, dia mengecup bibir cherry Youngjae sebentar sebelum melepaskan ciumannya. Mereka butuh udara.

Dengan nafas terengah mereka kembali bertatapan lekat.

"tanpa mengatakannya, kau pasti bisa mengerti perasaanku." Kata Daehyun pelan.

Youngjae memutar bola matanya jengah dan mendesah kasar. "tapi aku ingin kau mengatakannya."

Daehyun tak mejawabnya, dia berdiri kemudian mengulurkan tangannya di depan Youngjae. "yang lain sudah menunggu."


Daejae


Youngjae yang duduk di dekat Minhyuk, hanya melihatnya yang sedang membersihkan ikan yang baru dia dan Daehyun dapat tadi. Di perkemahan hanya ada mereka berdua. Jongup dan Daehyun pergi untuk mencari kayu bakar sementara Zelo dan Sera mencari buah-buahan. Mereka butuh banyak makan agar tenaga mereka cepat kembali pulih.

"kau hebat." Puji Youngjae.

"hanya seperti ini apanya yang hebat." Sahut Minhyuk.

"kenapa yang lainnya belum kembali." Youngjae mengitarkan pandangannya ke sekitar. Netranya berhenti pada satu titik. Tak sengaja dia melihat Vernon yang berdiri tak jauh di depannya.

Youngjae berdiri, berniat menghampirinya.

"mau kemana ?." Minhyuk mengintrupsi.

"aku akan kesana sebentar." Jawab Youngjae.

"jangan lama-lama sebentar lagi malam."

Youngjae hanya mengangguk kemudian meninggalkan Minhyuk.

Dia berjalan ke tempat Vernon berdiri tadi, tapi laki-laki itu sudah tidak ada. Dengan heran dia mengitarkan pandangannya ke sekitar. Apa dia hanya salah lihat ?.

"mencariku ?."

Youngjae tersentak dan menoleh cepat.

"Vernon ?." ucapnya ragu. Laki-laki di hadapannya ini memang Vernon yang dia kenal, hanya saja kenapa rambutnya bewarna abu-abu ?. tapi, tanpa ragu Youngjae menghampirinya.

"kenapa kau tiba-tiba muncul ?. ada yang ingin kau katakan padaku ?." tanya Youngjae.

"kita harus cepat pergi dari sini."

"kenapa ?."

"ikut saja dulu denganku." Laki-laki bersurai abu-abu itu meraih tangan Youngjae, hendak mengajaknya pergi dari sana.

"tunggu sebentar." Youngjae bertahan pada tempatnya. "bagaimana dengan yang lain ?."

"aku akan mengurusnya setelah ini." Jawabnya dingin.

Youngjae merasa gelisah, cara bicaranya tak seperti Vernon. Dia menunduk dan menemukan beberapa kelopak mawar bewarna hitam di bawah kakinya.

"hanya dia yang memiliki mawar biru. Meskipun mereka berdua terlihat mirip tapi masih bisa di bedakan. Rambut Dantalion bewarna abu-abu."

Seketika dia teringat kata-kata Daehyun kemarin malam.

Youngjae mendongak. "kau-" dia berusaha melepaskan tangannya yang di cengkram erat oleh laki-laki yang sudah Youngjae ketahui adalah Dantalion. "bukan Vernon."

SRET

Youngjae kembali tersentak. Sesuatu secepat kilat mendorong tubuh Dantalion. Membuat cengkraman laki-laki itu terlepas begitu saja.

KRAK

Pandangan laki-laki manis itu lurus ke depan. Netranya mendapati Vernon yang dia kenal mencengkram erat kerah baju Dantalion. Pohon besar yang berada di belakang Dantalion memiliki retakan memanjang. Menandakan kerasnya Vernon mendorong tubuh saudaranya. Youngjae bahkan bisa mendengar suara retakannya tadi.

"kau tidak berhak menyentuhnya." Ujar Vernon dingin.

Dantalion menampakan seringainya. "seharusnya kau tahu kapan harus menyerah."

Dia mendorong Vernon keras hingga tersungkur ke tanah. Dari tangan Dantalion tercipta sebuah pedang. Lelaki bersurai abu-abu itu mengarahkan ujungnya tepat di depan Vernon.

"sekaranglah saatnya menyerah."

DUUAARR

Tercipta sebuah ledakan besar dari arah mereka berdua. Tempat itu menjadi berkabut dan penuh debu.

Youngjae menutup mulut dan hidungnya menggunakan telapak tangan. Dia tahu, Vernon pasti membutuhkan pedangnya sekarang. Untuk itu, dia segera berlari dari sana menuju perkemahannya.

Dia berpapasan dengan Minhyuk dan Zelo di tengah larinya yang masing-masing dari mereka telah membawa pedang. Membuatnya berhenti dengan nafas tersegal.

"Youngjae, kau baik-baik saja ? ada apa ? aku mendengar suara ledakan." Kata Minhyuk panjang lebar.

Youngjae tak punya waktu untuk menjelaskannya. Tanpa berkata, dia kembali berlari meninggalkan mereka berdua.

Zelo dan Minhyuk saling berpadangan kemudian menyusul Youngjae. Mereka memang ingin tahu apa yang terjadi, tapi yang terpenting Youngjae baik-baik saja.

Bahkan Youngjae tak mempedulikan Daehyun yang dengan khawatir menanyakan apakah dia baik-baik saja saat lelaki manis itu sampai di perkemahan.

Dia segera masuk ke dalam tendanya dan mengambil pedang Vernon.

DUAARR

Lelaki manis itu tersentak. Baru saja dia memegang pedangnya, kembali terdengar suara ledakan di luar sana. Dia bergegas keluar.

Namun, saat Youngjae membuka tendanya. Dia tak bisa melihat apapun. Perkemahan mereka menjadi berkabut.

Apa yang sedang terjadi sekarang ?

Apa mereka di serang ?

.

.

.

TBC

Terima kasih sudah Read & Review, Follow dan Favorite :)