Author's: Maaf untuk update yang sedikit lama. Saya mau berterima kasih secara spesial buat semua yang telah membaca, mereview, mem-fave, bahkan mem-watch saya. ^_^ THANX VERY MUCH FOR YOU ALL!

So, please enjoy!

Disclaimer

Genre: Humor and friendship

Note: No chain, setting dimana Light belum mengingat siapa dirinya sebagai Kira.


Notice

Chapter Seven: A Song


Yagami Light memperhatikan.

Jika partnernya ini sedang merasa penat atau bosan-ya, dia bisa merasa bosan-pemuda berkulit pucat itu ternyata suka bersenandung.

Bukan bernyanyi dengan suara keras dan merdu atau pun menjerit-jerit layaknya sang vokalis rock, tapi si detektif nyentrik itu biasanya bersenandung kecil. Beberapa orang yang kebetulan mendengarnya mungkin akan berpikir bahwa ia sedang bergumam. Tapi tidak. Ia sedang bersenandung.

Sebenarnya bisa dikatakan jarang sekali mendapati Ryuzaki bersenandung karena mengingat bahwa ia sama membosankannya dengan layar monitor komputer yang ditatap di depannya. Malah sebenarnya Light tidak percaya bahwa Ryuzaki bisa bernyanyi.

Jika sedang bekerja-dan ini bisa berlangsung 25 jam sehari-Ryuzaki terbiasa hanya berdiam diri dalam pose yang bagi kebanyakan orang mungkin bisa dikatakan sebagai 'pose paling tidak nyaman' untuk duduk.

Light pun sesungguhnya mendapati kejadian langka itu tanpa sadar.

Di suatu hari yang panas, saat mereka tengah menggodok sebuah kasus yang lumayan membuat kepala pening, Light mendapati partnernya itu bersenandung kecil. Pelan. Sangat pelan.

Sebuah kalimat acak yang disenandungkan dalam volume suara yang sangat tipis.

Dan tanpa nada.

Setiap mendengarnya secara tidak sadar, Light selalu menebak, apakah orang di sampingnya ini sedang membaca sebuah file, menggumam, marah-marah (oh ya, kadang terdengar seperti mengumpat kecil) bicara sendiri, atau bernyanyi.

Dan kejadian itu mirip sekali seperti mimpi.

Light tidak menyadari kapan Ryuzaki memulainya, dan kapan ia benar-benar telah berhenti melakukannya.

Terkadang Light baru menyadari bahwa temannya itu sedang bersenandung di depan komputer tadi siang, saat ia sudah akan menutup matanya untuk tidur.

Memang, hal itu jarang sekali terjadi. Namun, belakangan ini, hal itu menjadi cukup sering.

Benar-benar menarik.

Light mendapati kejadian serupa hari ini. Hanya saja, kali ini ia tidak seperti sedang 'bermimpi'.

Ia tahu bahwa Ryuzaki tengah bersenandung sekarang. Tapi tetap saja, Light tidak menyadari kapan ia memulainya. Tiba-tiba saja Light sudah mendengarnya.

Bisikan-bisikan kecil tanpa nada.

"Hei..."

Light takut-takut menegur orang di sampingnya itu.

Ryuzaki tidak mendengarnya.

"Hei... er..."

Ryuzaki menoleh. Senandungnya tiba-tiba hilang begitu saja.

"Apa, Light-kun?" Ryuzaki menatap Light dengan mata besarnya yang bulat.

"Um... kau bernyanyi? Apakah kau bernyanyi?"

Tatapan yang tidak nyaman membalas pertanyaan Light.

"Sepertinya iya..."

"Sepertinya?"

"Mungkin, Light-kun..."

"Kau tidak menyadarinya?"

"Mungkin aku tidak menyadarinya, Light-kun."

"Oh, oke."

Hening.

"Um... kalau boleh tahu... apa yang kau nyanyikan, Ryuzaki?"

"Apa? Oh... bukan hal yang penting... tapi aku memang jarang sekali bernyanyi..."

"Ya, aku pikir juga begitu..."

"Ya..."

"Jadi... apa yang kau nyanyikan?"

"Kau mau tahu?"

"Er... aku hanya penasaran... nothing personal, I mean..."

"Oke... 'One Of Us.'"

"Ha?"

"Lagunya berjudul 'One Of Us', Light-kun."

"'One of us?'"

"Ya... kau mau dengar liriknya, Light-kun?"

"Boleh saja..."

Kemudian Ryuzaki bernyanyi... er... mungkin tidak bisa disebut bernyanyi, karena ia benar-benar tidak melantunkan sebuah nada.. Ia menggumamkan sejumlah kalimat tanpa nada. Itu tepatnya.

"'If God had a name…
Would it be
Kira
Would you let him see your face…
If you were faced with him in all his stupidity…
Would you correct him if he spelt your name wrong…'"

Light menyipitkan mata.

"Kau mengarangnya sendiri, Ryuzaki?"

"Menurutmu?"

"Aku tidak tahu... aku tidak bisa mengenali nadanya...karena suaramu terlalu bagus..." katanya sarkastis.

"Oh... aku hanya menyadurnya... entahlah, tapi aku suka lirik ini..."

"Oh ya?"

"Ya... saat aku merasa kesal dengan Kira, aku menyanyikan lagu ini..."

"Kapan kau menciptakannya?"

"Sudah lama, Light-kun..."

"Hoo..."

"Entah kenapa, dengan menyanyikan lagu ini, aku merasa sedikit terhibur..."

"Dengan mencaci?"

Ryuzaki menatap Light.

"Terserah jika menurutmu itu adalah sebuah cacian..."

"Tapi itu memang adalah sebuah cacian, Ryuzaki."

"Oh ya? Menurutku itu adalah kebenaran."

"Ha?"

"Karena Kira merasa dirinya adalah semacam dewa dan dia merasa dirinya benar... tidak ada satupun penasihat terhebat di dunia ini yang bisa menasihatinya... setidaknya untuk menyadarkannya bahwa ia itu mengalami gangguan jiwa psikis yang cukup berat."

"Ar... aku tahu itu... tapi tetap saja..."

Ryuzaki tiba-tiba tersenyum.

"Kau mau dengar semua liriknya, Light-kun?"

Light merasa seperti ditodong sebuah senjata. "Um... cobalah..." kata Light ragu-ragu. Ia mempersiapkan dirinya untuk mendengar sebuah rentetan makian yang disebut sebagai 'lagu' dari mulut Ryuzaki.

"' If God had a name…
Would it be
Kira
Would you let him see your face…
If you were faced with him in all his stupidity…
Would you correct him if he spelt your name wrong…

Yeah, yeah, God is a moron.
Yeah, yeah, God isn't good.
Yeah, yeah, yeah yeah yeah…
What if
God was one of us…
Just a
slob like one of us…
With Ray
Penbar on the bus…
Trying to kill the criminals.

If God had a face…would it be ugly…
And would you want to see…
If seeing burnt your eyes out,
Can you believe…
He's just an idiotic kid with a dream…
To make life shitty.

Yeah, yeah, God is a loser.
Yeah, yeah, God is a prat.
Yeah, yeah, yeah yeah yeah…
What if
God was one of us…
The jo
ker of the circus…
People
think he's dangerous…
But he's just a brainless twit…

Yeah, yeah, God is a dope.
Yeah, yeah, He's just a freak.
Yeah, yeah, yeah, yeah, yeah
What if
God was one of us…
With a
mental illness…
Causing
chaos on the bus…
Killing agents and police.

Trying to move out of his home…
To cause the murders all alone…
He thinks he's kept himself unknown
We'll knock him off his foolish throne
His stupidness will then be shown.
Lets smash his head in with a stone.'"

Light tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa sekaligus kaget.

"Darimana kau bisa mendapatkan inspirasi seperti itu, Ryuzaki?" tanya Light dengan perasaan luar biasa.

"Ya." kata Ryuzaki dengan... bangga.

"Oke... ini benar-benar luar biasa, Ryuzaki... maksudku... kau pasti membenci bajingan ini, kan?" kata Light masih dengan geli.

"Aku tidak membencinya, Light-kun... aku hanya tidak habis pikir dengan orang seperti dia... tapi, tidak, aku tidak membencimu..."

"Ha?"

"Aku tidak membencinya..."

"Tadi kau bilang apa?"

"Apa?"

"Kau bilang 'aku tidak membencimu'..."

"Oh... maaf... aku masih terbiasa sampai sekarang..."

Light menarik napas keras.

"Kau... maksudku... jadi kau membuat lirik itu sambil membayangkan bahwa akulah Kira itu?" tanya Light setengah jengkel.

"Mungkin..."

"Astaga... kau luar biasa..." Light menggumam.

"Jadi, bagaimana menurutmu, Light-kun? Kau setuju dengan laguku?"

"Menurutku seperti sebuah lelucon..."

"Untuk itulah fungsinya... untuk menghibur, Light-kun..."

"Aku hanya tidak menyangka kau sangat kesal dengan keparat satu itu..."

"Aku berjanji akan mendapatkannya, Light-kun..."

Mereka berpandangan.

"Ya... aku juga..." kata Light was-was.

"Baik..."

Ryuzaki berbalik menghadap komputernya lagi.

Light masih menatapnya sejenak sebelum kemudian ia juga menekuni dokumen di mejanya. Namun, ia sudah tidak konsentrasi lagi.

Selama ini ternyata lagu itu yang dinyanyikan Ryuzaki. Lirik itu. Light benar-benar tidak habis pikir.

"Ryuzaki... jadi, selama ini, kau terus memikirkan dia ya?"

"Ya?"

"Kira... waktumu benar-benar tersita karena dia?"

Ryuzaki menatap Light dengan tatapannya yang biasa.

"Aku rasa itu benar. Aku tidak bisa berhenti memikirkan penjahat satu itu... karena dia benar-benar spesial... baru kali ini ada kriminal yang bisa menyita perhatianku begitu rupa..."

"Ho...? sebelumnya tidak pernah?"

"Sebelumnya tidak ada."

Hening lagi.

Light merasa bahwa memang pengaruh Kira bagi Ryuzaki sangat besar. Selain karena dia adalah satu-satunya orang yang bisa membuat sang detektif legendaris ini keluar dari tempat persembunyiannya, Kira juga membuat Sherlock jaman modern ini tampak benar-benar kesal.

Light menyadari bahwa Ryuzaki sudah 'bernyanyi' lagi saat ia tersadar dari lamunannya.

"'If God had a face…would it be ugly…'"

Dalam nada-nada yang sama sekali datar.

"'He's just an idiotic kid with a dream…
To make life shitty...'"

"'Yeah, yeah, God is a loser.
Yeah, yeah, God is a prat.
Yeah, yeah, yeah yeah yeah…
What if
God was one of us…
The jo
ker of the circus…
People
think he's dangerous…
But he's just a brainless twit…'"

"Oke!" Light tiba-tiba bangkit berdiri.

Ryuzaki menoleh dan senandung itu kembali hilang.

"Terus terang saja, Ryuzaki... entah kenapa, aku tidak tahu, tapi cara kau bernyanyi itu benar-benar sangat menyindirku..." kata Light setengah kesal.

"Aku tidak menyindirmu, Light-kun..."

"Ya, tentu saja..."

"Kau kan bukan Kira... iya kan?" kata Ryuzaki sambil tersenyum.

"Tentu saja!"

[Seminggu Kemudian]

Light tengah berdiri. Ia tengah menekuni sebuah berkas-yang sepertinya penting-pemberian ayahnya.

Ayahnya berdiri di sampingnya. Diam.

Light mengernyitkan dahinya seraya matanya menelusuri setiap huruf di dalam dokumen yang di pegangnya.

Di tengah keseriusan itu, tiba-tiba sesuatu membuat perut Light bergejolak tidak nyaman.

Sebuah suara.

Sepertinya sebuah lagu...

Lamat-lamat...

Tunggu...

Iya, sebuah lagu rupanya.

Tapi, dimana ia mendengarnya? Sepertinya ia merasa pernah mendengarnya.

Sebuah gumaman kecil tentang sebuah lagu yang pernah ia dengar di suatu tempat berdengung di telinganya.

Light heran. Ia menoleh ke samping kirinya.

Matanya menangkap wajah ayahnya.

Light mengernyitkan dahi.

Ditatapnya ayahnya yang tengah berdiri sambil menekuni berkas di tangannya. Wajahnya menunduk. Matanya yang dibingkai kacamata tanduk, menatap intens kertas di tangannya.

Mulutnya menyenandungkan sebuah lagu.

Light tiba-tiba kehilangan antusias memeriksa catatan-catatan berkas di tangannya. Sepertinya beberapa fakta penting yang tadi sempat di dapatnya kini tiba-tiba hilang entah kemana.

"Um... ayah...?"

Yagami Soichiro mendongak dan menatap wajah cemas anaknya.

"Ya, Light?"

"Kau... er, maksudku, apa yang kau nyanyikan?"

"Apa? Oh... er... oh, lagu tadi... haha... aku juga tidak tahu... aku mendengarnya di suatu tempat... kenapa memangnya?"

"Oh... tidak apa..."

"Ho..."

Soichiro kembali memeriksa berkas di tangannya.

Light mirip seperti orang yang tersesat. Kebingungan.

[Tiga hari kemudian]

Light mengerutkan dahi tanda tak nyaman dengan seseorang di dekatnya.

Orang itu tengah membuat kopi. Light juga sedang membuat satu untuk dirinya sendiri, berhubung ia akan lembur. Lagi.

Semuanya tampak nyaman, sampai ia mendengar sebuah gumaman.

Sebuah lagu.

Light menoleh ke orang di sampingnya yang tengah menyanyikan sebuah lagu dengan wajah berseri, walau wajahnya memancarkan kelelahan yang luar biasa.

Orang itu masih bisa tersenyum.

"Um... Matsuda... apa yang kau nyanyikan?" tanya Light.

"Oh... ini... aku tidak tahu... aku mendengarnya di suatu tmpat... hanya saja aku lupa... er, Light-kun tidak masalah kan dengan lirik lagu ini? Walaupun aku tahu bahwa ini saduran... tapi terdengar lucu saja... apalagi ini kan tentang musuh kita... jadi terasa lebih bersemangat saja..." kata Matsuda polos.

"Oh... tidak, aku tidak keberatan."

Matsuda kembali mengaduk kopi di cangkirnya. Dan kembali bersenandung.

[Dua bulan kemudian]

Light menyipitkan matanya. Dahinya berkerut. Matanya menatap lurus ke arah layar komputer di depannya.

Tangan kanannya menekan mouse dengan keras.

Ia sedang bekerja. Di sebelahnya terdapat Ryuzaki dengan pose seperti biasa.

Saat itu hampir tengah malam. Sebagian tim penyelidik Kira berada di dekat sofa. Sebagian tengah menatap berkas-berkas (tidak yakin, apakah mereka benar-benar menatap berkas), sebagian lagi mungkin telah tertidur dalam pose yang tidak nyaman.

Mata Light mendelik. Menatap galak layar komputer yang menampilkan sebuah situs umum.

Sebuah lirik lagu terpampang di sana. Di bawahnya sebuah artikel yang tampaknya dibuat terlalu berlebihan tertulis memenuhi situs.

'Beberapa bulan ini sebuah fenomena terjadi di kalangan masyarakat. Sebuah lagu saduran menjadi populer. Entah siapa yang menciptakannya dan mempopulerkannya, tidak ada yang tahu, namun, lagu ini telah menjadi rahasia umum.

Tapi semua orang tentu saja tidak berani menyenandungkan lagu 'berbahaya' ini di tempat umum. Karena kita tahu persis tentang siapa lagu ini sebenarnya. –icon tertawa-

Hanya saja lagu ini menjadi ramai di dunia maya dan di kalangan-kalangan pribadi. Sungguh sebuah tantangan yang berani untuk 'Jack The Riper' kita. –icon sweatdrop-

Semoga saja lagu ini masih akan populer hingga satu abad ke depan. Dan... saya berharap tidak akan ada korban serangan jantung muncul dikarenakan menyanyikan lagu ini.

Anda tahu persis apa yang saya maksudkan disini. –icon kedipan mata-'

Light menggulung halaman situs.

Sebuah ekspresi lelah campur kesal beradu di wajahnya.

Matanya menelusuri setiap kata di dalam lirik lagu di situs terkutuk itu.

Lirik yang telah didengarnya persis dua bulan yang lalu dari mulut seseorang.

Light memasukkan sebuah alamat situs. Bahkan mereka telah membuat versi videonya di YouTube (tm).

"'He's just an idiotic kid with a dream…
To make life shitty...'"

"'Yeah, yeah, God is a loser.
Yeah, yeah, God is a prat.
Yeah, yeah, yeah yeah yeah…
What if
God was one of us…
The jo
ker of the circus…
People
think he's dangerous…
But he's just a brainless twit…'"
Ryuzaki bergumam.

Light mendesah keras. Tapi tidak ada satu pun yang memperhatikannya. Bahkan Ryuzaki sekalipun.

"Hey, Ryuzaki, hati-hati saja... jangan sampai Kira tahu siapa yang sesungguhnya menciptakan dan mempopulerkan lirik ini..." kata Light seraya bangkit dari kursinya.

.

Kira-kira pukul dua pagi, saat Light terjaga dari tidurnya, ia menyempatkan diri ke ruang kerja. Seperti biasanya, ia mendapati Ryuzaki masih bekerja di kursi kesayanganya. Dengan pose kesayangannya.

Namun, kali ini dengan bersenandung.

Dengan lagu kesayangannya.

Notice: A Song - End


Author's: Lirik lagu di dalam cerita ini bukan milik saya.

Pembaca bisa mengeceknya disini: http:/slinkers(dot)deviantart(dot)com/gallery/#/dxutp6

Itu adalah milik Slinkers, seseorang di DeviantArt. Dia benar-benar hilarious!

Temannya menyanyikan lirik itu dan merekamnya. Pembaca bisa mendengarnya di situs yang sama dengan di atas. ^_^

Ada satu bait dalam lirik itu yang tidak saya masukkan ke dalam cerita, karena itu menyebutkan tentang Ryuk. Berhubung L belum tahu tentang Ryuk disini, maka mustahil ia menyebut-nyebut tentang Ryuk. bait itu adalah:

Feeding Ryuk some apples.
He is friendless and all alone.
Nobody calling on the phone.
'Cept maybe Misa, for a moan.

LOL

Benar-benar hilarious.

Karya-karyanya menyenangkan dan kreatif. Dia juga banyak membuat fanart Death Note. Jika ada waktu silakan pembaca melihat-lihat dA-nya

Saya menemukan lirik ini sudah sejak lama dan tiba-tiba saja ingin membuat cerita tentangnya. lol

Lirik ini benar-benar tepat menggambarkan Light. LOL. Maksud saya, bagi sebagian orang yang cukup normal untuk mengakui bahwa 'merubah dunia' itu memang adalah mustahil, apalagi dengan cara yang sama sekali 'tidak waras' lirik ini benar-benar menyindir Light secara tepat sasaran.

Menyenangkan sekali mendapati bahwa Ryuzaki memang tidak bisa membuang anggapan mula-mulanya. XD

Ia benar-benar berpendapat Kira itu adalah Light. Dan for God's sake! dia sesungguhnya memang benar!

Dan... LOL... dari satu sumber di kantor pusat, Ryuzaki membuat lirik itu populer di kalangan masyarakat! XD

Dan entah kenapa Light tampak tersinggung. 8D

.

Lagu asli dari lirik di dalam cerita ini berjudul 'One of Us' dinyanyikan oleh Joan Osbourne. Lagu ini merupakan soundtrack film 'Lion King'.

Hh... saya ingin membaca Artemis Fowl ke empat... sekaligus membuat fanartnya... -abaikan ini-

Okeh, semoga pembaca menyukai cerita kali ini.

Thanx very much for read and review.

NOTE: LIRIK LAGU DALAM CERITA INI HANYALAH UNTUK HIBURAN SEMATA DAN TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN SUATU AGAMA TERTENTU.