chapter 7 minna! maaf ya lama, haha *ketawa garing*
Tittle : Our Band, Our Friendship, Our Love
Genre : Romance, Friendship
Rate : T, semut dikit (?)
Pairing : Aoi X Reita
Status : chapter 7
Type : BL, AU, OOC, sedikit OC, Gaje, Ancur, rada garing, Aneh, maksa
NB : Alice Nine in here for few minutes (haha), and there's Byou (ScReW) yang Shin rekrut untuk hadir di ff ini *plak*
Warning!
THIS IS YAOI OF THE GAZETTE!
DON'T LIKE DON'T READ!
"moshi-moshi?" kata ku di telepon. Ku loudspeaker agar Kai, Ruki dan Uruha mendengarnya. Lagian ini telepon dari Mpon.
"AWOOO! Lu berlima kemana hah? Lu, Kai, Reita, Uruha, Ruki. Kalian kemana? Habis lu di looking at sama si Miya"
"hah? Mpon! Yang bener lu, jadi tadi pelajaran dilanjut?" tanya ku cengo.
"iya bener, padahal anak-anak Alice Nine juga pada mau kabur, tapi ketangkep sama satpam. Kami jadi kena hukum. Anak-anak the GazettE aja yang enggak ketangkep. Gue di suruh kasih tau sama kalian, besok harus kesekolah ngadep si Miya, kalo enggak hukuman jadi dua kali lipat" jelas Mpon.
"arghhhhhhh… ya udah lah, makasih Mpon!" aku pun menutup telepon setelah Mpon membalas ucapanku.
"jadi kita bakal kena hukum nih?" tanya Kai sambil memasang wajah tidak enak.
"ya mau gimana lagi? Si Mpon udah ngasih tau begitu kan?" sahut Ruki. Uruha ngangguk-ngangguk.
"terus yang kasih tau Reita siapa?" tanya ku. Tiba-tiba saja Kai, Uruha dan Ruki menatap tajam padaku.
"aku? aku nih?" tanya ku sambil menunjuk diriku sendiri.
"ya iya lah wo. Secara rumah lu paling deket, sebelahan. Sekalian gunakan kesempatan ini buat ngejelasin ke Reita kejadian yang sebenernya" Kai menjelaskan padaku.
"iya, Reita sekarang pasti lagi blank banget tuh. Lebih baik secepatnya kamu jelasin" ujar Ruki menambahi. Uruha ngangguk-ngangguk.
"jelasinnya yang bener ya Aoi, biar Reita paham" kata Uruha lagi.
"jadi kapan nih ngomongnya?" tanyaku polos.
"tahun depan wo," jawab Ruki sambil deathglare. Tiba-tiba saja kepalaku di lempar sandal oleh Kai. Dapat sandal darimana? Bukannya kita pakai sepatu?
"ya secepatnya lah wo! Mau sekarang, mau nanti, mau malam yang penting secepatnya!"
"haha, iya iya"
Setelah itu kami pulang di antar oleh supir Uruha. Aku yang di antar duluan di peringatin habis-habisan oleh Kai dan Uruha tentang penjelasanku nanti ke Reita. Sedangkan Ruki hanya berkata "tenang aja, Reita pasti ngerti kok"
Apa benar nanti Reita bakal ngertiin ini semua? Ahhh, bikin tambah sakit kepala aja.
xXx
"Reita!" kataku berbisik dengan keras tepat di depan pintu kaca kamar Reita. Ya, sekarang aku berada tepat di depan kamarnya. Tadi hampir saja aku mau jatuh ketika loncat dari seberang kamarku. Kaki ku masih sakit karena terkilir tadi siang.
Ku panggil lagi Reita, tapi tak ada jawaban. Karena rasa penasaran yang besar akhirnya ku buka pintu tersebut tanpa izin. Ya, lagian biasanya juga begitu. Nggak bilang-bilang.
"Rei…" panggilku lagi. Ahh, ternyata Reita lagi tidur. Tumben dia tidur jam segini? Jam 9 malam? Bukan seperti biasanya. Mungkin dia sedang capek.
Ku dekati Reita yang tengah tertidur itu. Duduk di sebelahnya, memandang wajahnya dan mulai membelai rambutnya. Dia terlihat lebih manis ketika rambutnya tidak Mohawk.
Tanganku pun mulai menjalar ke daerah kening dan pipi. Lalu, ke daerah bibir. Ingin sekali rasanya aku mengecup bibir lembut tersebut.
"udah puas megang-megangnya?" tiba-tiba saja Reita bangun. Aku hampir saja jatuh dari ranjang karena terkejut.
"kamu… kamu udah bangun?" tanya ku tergagap. Ya, aku masih kaget. Mana tadi aku nyentuh-nyentuh dia lagi.
"jam segini bukan waktu ku tidur. Lagian gimana aku bisa tidur kalau denger kamu teriak-teriak gak jelas di sebelah?"
Ahhh, iya. Tadi aku teriak-teriak karena frustasi. Hahaha, memalukan (sigh).
"mau ngapain kesini?" tanya Reita datar. Reita masih seperti biasanya, mungkin. Dia tidak marah-marah padaku. Hanya mungkin sedikit, dingin?
"aku mau kasih tau kabar. Kita, anak the GazettE dapat looking at dari sensei Miya. Besok kita di suruh menghadap. Katanya mau di kasih hukuman" jelasku. Reita hanya ber-oh saja.
"makanya, sudah kubilang kan? Kalau kabur kita pasti dapat hukuman. Kalian sih nggak mau dengar apa kataku" aku hanya tertawa garing. Merasa bersalah.
"ahh, Reita soal yang tadi…"
"soal yang mana?" tanya Reita memotong pembicaraanku.
"itu, masalah yang… yang kamu lihat aku sama Uruha…"
"oh, yang itu. Ya nggak apa-apa sih. Hak kalian kan mau ngapain aja. Aku kan cuma teman kalian, bukan orang tua kalian" Reita mulai mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sepertinya ia tak mau memandangku sedikitpun.
Aku yang sedikit kesal dengan perkataan dan prilaku Reita tersebut pun memegang kedua pundaknya dan mengarahkan dirinya ke hadapanku.
"Reita! Dengerin aku! aku sama Uruha nggak ada apa-apa! Dia cuma niup mataku yang kelilipan nggak lebih!" jelasku. Reita hanya memandangku dingin.
"lalu? Apa hubungannya sama aku?" kata Reita tetap datar. Aku diam saja.
"sudah kubilang itu hak kalian mau ngapain aja. Untuk apa kamu ngejelasin sampai begininya?" tanya Reita.
"Rei… masa kamu nggak ngerti apa-apa?" tanya ku. Reita diam saja.
Aku kesal. Aku bingung. Reita? Kenapa kau biasa saja? kenapa kau tidak marah?
Aku yang kalut pun mengecup paksa bibir Reita. Reita mencoba melepasnya, tapi aku sudah mengunci dirinya dan kali ini ia tidak bisa mengelak lagi.
"Aoi.. sudah lepasin!" kata Reita ketika aku menjalar di jenjang lehernya. Aku diam saja, tetap mengecup dan meninggalkan kiss mark di lehernya.
"Aoi!" kata Reita lagi. Tapi aku tetap diam saja. kali ini aku mencoba melepas baju Reita. Walau terjadi perlawanan, aku tetap bisa melampauinya. Kali ini baju Reita lepas seperti keinginanku.
"Aoi! Sudah!" Reita menamparku, membuat ku tersadar.
"haaa.. aku… Rei! Aku nggak maksud…" terlambat. Reita yang ada dihadapan ku kini menangis. Aku ingin menyentuhnya, membelainya dan memeluknya. Tapi…
"kamu ngapain sih? Mau memperkosa ku? Kamu gila apa? Nggak puas dulu kamu sudah pernah begini sama aku?" aku diam tertunduk ketika Reita berkata seperti itu.
"ini yang bikin aku kesal pada mu Reita! Kamu itu lambat atau apa sih?"
"apa? Kamu udah mau berbuat bejat masih aja ngata-ngatain aku? kamu itu…"
"aku suka sama kamu!" aku memotong perkataan Reita. Kini Reita diam, tak bereaksi apa-apa.
"kurang keras? Aku suka sama kamu! Aku cinta sama kamu!" Reita masih saja diam. Aku pun tak berbicara apa-apa lagi.
"semua yang aku lakukan itu, semata-mata karena aku cinta sama kamu! Aku nggak main-main Rei! Walau aku pernah bilang akan melepasmu, tapi aku sadar kalau aku memang cinta sama kamu! Dan aku nggak akan melepas mu lagi!"
"ja… jangan bercanda, aku nggak suka omong kosong kayak gini" aku kembali mengarahkan dirinya ke hadapanku.
"Rei! Apa aku bercanda? Apa kata-kata ku ini omong kosong? Apa aku bohong? Tatap mata ku!" Reita sesekali menatap mataku. Lalu ia mengalihkan pandangan nya.
"sudah lah Aoi, aku… mau tidur" Reita mengalihkan pembicaraan.
"baiklah" aku melepas Reita. Berbalik arah menuju keluar.
"oyasumi" kataku lagi. Reita tak menjawab. Dengan segera aku pergi dari situ. Aku, entah senang karena sudah berbicara jujur atau sakit hati karena Reita seperti itu.
~Aoi's POV end~
~Reita's POV~
Aoi pergi setelah mengucapkan oyasumi padaku. Aku tak menjawabnya. Aku tak tau harus bagaimana.
"aku suka sama kamu! Aku cinta sama kamu!" kata-kata itu masih teringat jelas di pikiran ku, melayang-layang dalam otakku. Aoi suka pada ku?
"omong kosong macam apa ini" gumamku seorang diri.
Ku ambil baju ku yang dilepas oleh Aoi tadi. Ku kenakan kembali dan aku berbaring di kasur sambil memikirkan kejadian tadi.
"jadi sebenarnya aku salah paham?" aku terdiam sejenak. Kemudian aku tersenyum dan tertawa kecil. Ah? kenapa aku malah senang seperti ini?
"aneh, hari yang aneh. Haaa… Aoi…" kata ku sambil menatap langit-langit kamar.
"seandainya kau bilang dari awal, seandainya kamu mau jujur, aku mungkin akan menjadi milikmu sekarang" aku kembali teringat masa lalu ketika aku menemukan sesuatu…
~flashback : On~
"ahhhh! Kenapa sih si Sugizo itu harus ngasih peer sebanyak ini? Mana susah lagi!" keluh Aoi.
"ya sabar lah Aoi, sensei Sugizo kan memang begini" ujar ku menenangkan Aoi.
Hari ini aku kerumah Aoi, kami sedang mengerjakan peer dari sensei Sugizo. Sensei pemarah dan kejam itu memang suka memberi tugas yang sulit. Contohnya ini, peer sebanyak 50 soal harus kami selesaikan dalam sehari. Kalau gampang sih nggak masalah, tapi ini? Susah. Kami harus bolak balik mencari buku di perpustakaan hanya untuk mencari jawabannya. Kasihan Aoi, dia yang cepat bosan dan dengan otak pas-pasan ini selalu mengeluh. Aku jadi iba (?).
"aku bosan nih Rei, aku beli cemilan dulu ya? Cemilan ku habis nih, kamu mau nitip apa?" tanya Aoi padaku. Aku berpikir sejenak.
"potato chips dan pocky"
"minumannya?" tanya Aoi lagi.
"sampai-sampai minuman di rumahmu juga habis? Aku minta coca-cola aja" Aoi tersenyum dan mengiyakan kata-kataku. Ia pun pergi ke mini market terdekat.
"bosan juga sendirian begini" kulempar buku sejarahku. Mungkin saat ini aku sudah mencapai limit dalam belajar. Ya lumayan lah setengah dari soal sudah di kerjakan.
Kudekati meja belajar Aoi untuk menaruh buku dan perlengkapan belajar lainnya. Aku memang tidak suka dengan 'kapal pecah'.
Entah kenapa pandangan dan tanganku menuju ke arah laci Aoi. Aku seharusnya tidak mendekati laci ini, karena laci ini adalah warning zone dari Aoi.
"jangan deket-deket sama laci ini! Atau kupotong tangan mu!" teringat oleh ku kata-kata Aoi dulu.
Di dorong dengan rasa penasaran yang besar, akhirnya ku beranikan diri untuk membuka laci tersebut.
"lagian Aoi pergi belanja, liat sedikit dia juga tidak tau. Asal nggak berantakan" lalu kubuka laci itu dan…
"apa-apan ini?" ku ambil satu persatu benda yang mengusik pandangan ku.
"foto ku?" ku perhatikan dengan seksama foto tersebut. Ini foto ku kan? Siapa lagi yang memakai noseband selain aku? kurasa tidak ada. Aku kan limited edition (?).
"untuk apa foto sebanyak ini?" aku bingung dengan apa yang kulihat saat ini. Untuk apa foto ku? Apa Aoi mengoleksinya? Tapi untuk apa?
"jangan-jangan… Aoi itu… psycho?" aku kaget dengan argument ku sendiri. Tanpa sadar aku mundur beberapa langkah menjauhi laci tersebut.
"eh? Apa itu?" ternyata ada lagi barang yang membuat ku terusik. Kertas kecil yang agak lusuh di antara foto-foto ku. Ku ambil kertas tersebut dan membuka isinya. Tulisan anak kecil dengan krayon, tulisannya…
"aishiteru Reita san. Aoi"
Aku tertegun membaca isi dari surat tersebut. Ini tulisan siapa? Tulisan Aoi ya? Tulisan waktu masih kecil?
Apa mungkin sebenarnya Aoi menyukai ku? Tapi kan…
"Reita!" teriak Aoi memanggil ku dari bawah, cepat-cepat aku membenahi semua yang aku keluarkan tadi.
"Rei…?"
"ah! Aoi! Gimana? Udah dapat potato chips sama pocky ku? Coca-cola nya mana?" aku mencoba mengalihkan pandangannya. Aoi terlihat sedikit aneh dengan tingkah laku ku.
"ada nih, kamu kenapa? Eh ngapain tuh di meja belajarku?" tanya Aoi. Nampaknya ia mulai curiga dengan gerak gerik ku.
"ini lagi benah-benah buku, aku sudah limit belajar" sahutku. Aoi mengangguk.
"iya, pelajaran seperti itu memang membosankan. Ayo kita makan! Aku juga beli kue loh! Kita bisa makan kue sambil main PS" ajak Aoi. Aku mengangguk setuju.
"huft… syukurlah" gumamku.
"eh? Kamu ngomong apa Rei..?" tanya Aoi. Aku sedikit terkejut.
"ah.. syukurlah ada makanan, iya ada makanan. Aku lapar Wo! Ayo makan!"
"ayooo!"
~flashback : off~
"kejadian itu tepat sehari sebelum Ruki datang kesekolah. Pandanganku yang beralih ke Ruki membuatku lupa" gumamku sambil masih menatap langit-langit.
"apa mungkin, selama ini aku nggak memikirkan perasaan Aoi ya? Tapi Aoi biasa-biasa saja kalau bersama ku. Malah hentainya kumat kalau sama cewek, lalu aku? diabaikan" aku menarik nafas panjang. Mengingat kebiasaan Aoi yang tidak patut di contoh tersebut.
"tapi kenapa aku benar-benar kesal kalau Aoi bersama Uruha?" aku menyipitkan mataku, memasang wajah tak senang ketika mengingat kembali saat dimana Aoi bersama Uruha.
"tapi… kalau aku cuma salah paham saat di karaoke tadi, lalu kejadian di café tempo hari itu apa? Kenapa mereka kelihatan dekat dan… intim?" aku kembali memutar otak, mencari jawaban yang nihil ku dapat.
"lalu bagaimana dengan kejadian dikamar waktu itu? Waktu Aoi sedang… um… 'tidur' denganku? Saat itu kan dia tidak bilang 'aku suka padamu' atau bahkan 'aku cinta padamu'. Kenapa baru bilang tadi? Sebenarnya dia benar-benar suka atau… argh!" aku menjambak-jambak rambut ku sendiri.
"tapi kalau di pikir-pikir, aku nggak masalah sama 'tidur' waktu itu. Aku malah memikirkan gimana kejadiannya, walau sebenarnya aku lupa. Yang aku tau, pantat ku sakit dan… susah berjalan" aku tersenyum mengingat kejadian waktu itu.
"argh! Sebenarnya apa yang ada di pikiran ku! Yang ada dalam perasaan ku! Aku nggak tau!" aku diam sejenak. Saat ini pikiran ku kosong.
"besok… besok akan ku selesaikan masalah ini" kali ini aku sudah bertekad untuk menyelesaikan semuanya. Aku ingin penjelasan dari Aoi langsung. Ya! Aku akan menanyakan nya, dan aku ingin Aoi tau bahwa… aku nggak membencinya atas apa yang dia lakukan, aku ingin dia tau kalau… aku cemburu ketika ia bersama Uruha dan… mungkin itu karena aku juga… menyukainya. Menyukai Aoi…
xXx
Aku berangkat sekolah sendiri. Sebenarnya aku ingin pergi bersama Aoi, sekalian membahas kejadian kemarin. Tapi ternyata ia sudah berangkat duluan.
Sekarang aku sudah berada di sekolah, menuju ke kelas. Entah kenapa aku jadi gugup begini. Sejak tadi malam aku tidak melihat Aoi. Mungkin karena akan bertemu dengannya hari ini.
"ohayou" sapa ku ketika sampai dikelas.
"ohayou Reita! Ohayou!" jawab teman-teman yang lain. Aku tersenyum. Lalu pandanganku beralih kemana-mana. Mencari sosok Aoi.
"hei Reita! Cari siapa?" Kai mengagetkan ku sekaligus bertanya padaku.
"bikin kaget aja! Itu, yang lain mana? Kok cuma kamu aja yang nongol?" kata ku berbohong.
"oh, belum datang. Tau tuh si Uruha, Ruki sama Aoi. Biarin aja lah. Oh iya sudah di kasih tau Aoi kan kalau nanti kita di suruh menghadap?" tanya Kai lagi. Aku mengangguk.
"iya, sudah. Gara-gara kalian sih bolos nggak kira-kira" Kai cuma cengengesan tanpa rasa bersalah. Ck!
Aku menuju bangku ku. Meletakkan tasku diatas meja dan menjadikannya alas untuk meletakkan tangan. Rasanya ngantuk sekali, tadi malam aku susah tidur karena memikirkan masalah kemarin.
"Aoi kok belum datang ya? Bukannya dia duluan berangkat? Kok telat…" gumamku sambil menutup mata. Tanpa sadar aku sudah ketiduran.
xXx
"Rei! Bangun! Ada sensei!" suara seseorang membangunkanku.
"hm..? Aoi?" tanya ku ketika melihat Aoi tengah membangunkanku.
"cepet bangun!" katanya lagi. Membuat ku membuka mata dengan cepat.
"kamu kapan datang?" tanyaku berbisik. Tak bisa ribut, karena sensei sudah memasuki kelas.
"barusan. Datangnya barengan sama sensei, tapi aku lari. Untung sempat" jawab Aoi pelan.
"ohayou" salam sensei Miya. Kami pun menjawab ucapan salam nya.
"the GazettE!" panggil sensei Miya. Aku, Aoi, Uruha, Ruki dan Kai pun menyahut 'ya' dan berdiri.
"kalian ke ruangan khusus sekarang, tunggu saya di situ" kami pun mengangguk dan membungkuk. Bersama-sama pergi ke ruang khusus, ruang dimana murid berhadapan dengan sensei. Ya, hampir sama seperti ruang pengadilan.
xXx
"yaaaahhh! Bakal kena hukum deh!" kata Kai sambil melipat tangannya di belakang kepala.
"kira-kira hukuman nya apa ya? Moga aja nggak di suruh milihin sampah, ihh jijik!" ujar Uruha sambil mengepalkan tangan nya dan mendekap didada. Benar-benar sok imut.
"sukur-sukur kalau cuma milihin sampah, kalau di suruh bersihin parit gimana?" tanya Ruki. Uruha bergetar nggak jelas. Persis kayak orang ayan.
"tambah jijik gue" sahut Uruha. Kai geleng-geleng melihat kelakuan Uruha.
"dasar manja!" teriak Kai. Membuat Uruha manyun lima senti.
"udah Kai, jangan begitu sama Uruha" bela Ruki. Membuat Kai menganga bingung.
"udah lah jangan gaje begini. Mending pikirin nanti hukumannya apa" ujar Aoi mengingatkan. Akhirnya Kai dan Uruha pun diam.
Didepan pintu ruang khusus.
"masuk nggak nih?" tanya Kai.
"ya masuk lah, masa nggak denger apa kata sensei Miya?" Ruki pun mendorong kami berempat untuk masuk kedalam.
"bosen" kata Aoi ketika masuk kesini.
"jelas aja bosen, kamu kan sudah sering ke sini" kataku datar membuat Aoi tertawa renyah.
"kok… kok tau sih? ah jadi malu kan nih" sahut Aoi. Membuat kami berempat sweetdrop.
"kenapa Aoi sering kesini?" tanya Ruki. Ya Ruki kan murid baru, makanya dia tidak tau.
"nggak bikin tugas" kata Kai.
"bolos jam belajar" kata Uruha.
"ngelawan sensei" kata ku.
"merokok di area sekolah" kata Kai.
"main ponsel waktu pelajaran" kata Uruha.
"suka berkelahi" kata ku.
"dan… yang paling parah adalah…" Kai membuka pidato.
"bawa majalah hentai dan video porno" kata ku, Kai dan Uruha bersamaan. Ruki cengo, membatu dan membeku.
"separah itu lu Wo?" Aoi yang ditanya begitu oleh Ruki hanya tertawa renyah. Terlihat Ruki sedikit kaget dengan apa yang baru saja ia dengar.
"iya! Aoi luarnya aja baik. Tapi kelakuannya…" kata Uruha sambil menatap tajam ke Aoi. Lagi-lagi Aoi hanya tertawa.
"ah kalian, kan aku jadi tambah malu" kata Aoi blushing banci. Kami berempat sweetdrop untuk yang kedua kalinya.
"wah, bikin kaget aja. Kamu jangan gitu lah Wo, gimana mau dapat pacar" kata Ruki sambil melirikku. Hah? Aku?
"iya, kalau kelakuannya begitu mana ada yang mau jadi pacar mu" kali ini Kai juga melirikku.
"aku mau jadi pacar Aoi" kata Uruha tiba-tiba membuatnya mendapat jitakan dari Kai dan cubitan dari Ruki.
"sakit tau! Bego nih Kai sama Ruki, uhhh!" Uruha membalas perbuatan nista dari Kai dan Ruki. Alhasil membuat mereka bertiga tenggelam dalam pertengkaran gaje.
Aku menatap bingung mereka satu persatu. Lalu aku menatap Aoi, Aoi melirikku dan tersenyum tipis. Aku yang sadar langsung mengalihkan pandanganku.
"gomen nasai" kata Aoi pelan. Ia menundukkan kepalanya. Mungkin dia malu?
Aku pun tertunduk, meliriknya dan…
"nggak apa-apa. Aoi… aku…"
"the GazettE!" tiba-tiba sensei Miya datang. Membuat kami cengo berjamaah dalam posisi membatu.
"ya sensei!" jawab kami bersamaan. Sensei memperhatikan kami satu persatu.
"kalian ini, pergi membolos kan kemarin?" tanya sensei Miya sambil duduk di tempatnya. Kami mengangguk diam.
"kalian akan dapat hukuman yang sama seperti yang lain"
"tugas kalian untuk membuat lagu karangan sendiri di gandakan, alias kalian akan membawakan dua lagu ketika tampil nanti. Masih ada waktu" kata sensei Miya sambil melihat kalender.
"apa? Dua?" tanya Kai terkejut. Uruha pusing dan meluber (?). Aoi menepuk dahinya berkali-kali. Ruki sendiri menghela nafas panjang. Sedangkan aku cengo kuadrat.
"iya, dua lagu. Itu hukuman untuk kalian. Satu kelas, hukumannya sama" jawab sensei Miya.
"Itu saja, kalian bisa kembali ke kelas. Kerjakan tugas yang saya tulis di papan tulis" sensei menyuruh kami kembali. Kami pun berdiri, membungkukkan badan dan pergi menuju kelas.
xXx
"apaaaa? Dua lagu? Yang satu ini aja masih ancur!" kata Kai marah-marah. Kasihan dia, dia kan ketua pasti berat memikul tugas memimpin kami.
"mau gimana lagi. Ini namanya derita kita" kata Ruki datar. Sepertinya Ruki sudah stress memikirkan tugas tambahan dari sensei.
"terus gimana dong? Yang Filth in the Beauty aja masih ada yang nggak pas…" kata Uruha cemberut. Kai melengoh ke Uruha dan menggeleng cengo. Kai pasti sama stress nya dengan Ruki.
"kenapa Rei? Kok mijitin kepala? Kamu sakit?" tanya Ruki yang memperhatikanku.
"enggak, cuma kebanyakan pikirian aja. Masalah yang kemarin, sekarang ada lagi masalah aka tugas baru" jawabku. Aoi melirik cemas ke arahku. Mungkin dia sedikit merasa bersalah?
...
Kami duduk di bangku masing-masing. Kali ini aku merasa di perhatikan oleh seseorang.
"kenapa sih ngeliatin mulu?" tanya ku pada Aoi.
"ah, nggak. Kamu kepikiran soal kemarin kan? Aku mau minta maaf, aku cuma mau jujur tapi aku nya malah berbuat nggak senonoh sama kamu" jelas Aoi. Aku menunduk dan mengalihkan pandanganku agar wajah ku tidak terlihat. Aku tidak ingin dia tau kalau aku sedang menahan tawa. Hahaha.
"eng… enggak apa-apa Aoi. Aku mau jujur sama kamu! Aku…"
"aku kenapa Rei?" tanya Aoi. Aku memandang Aoi empat mata.
"aku… su…"
"ITU DIA! BOSS TARGET DI TEMUKAN!" kami sekelas kaget bukan main. Ada orang-orang tinggi besar memakai tuxedo hitam, kacamata hitam dan semacam earphone menerobos kelas kami.
"MBI!" teriak Hiroto sambil tertawa. Hiroto mulai nggak waras.
"haaaa! Takut!" kata Uruha sembunyi dibawah meja.
"wah, jarang-jarang ada kejadian begini" Shou memfoto orang-orang tersebut dengan udiknya.
"dasar udik, gitu aja pakai di foto. Baka!" tegur Saga, membuat Shou melempar buku ke arahnya. Dan akhirnya mereka bertengkar seperti biasanya dengan bahagia (?).
Orang-orang itu memasuki kelas kami, lalu mendekat ke arahku. Aku yang merasa terancam sembunyi di balik punggung Aoi.
"ma… mau apa kalian?" tanya Aoi sambil memegang tanganku. Aku memblushing kilat. Seharusnya Aoi tau, kalau suhu tubuhku memanas karena ia memegang tanganku sekarang.
Orang-orang itu diam saja, tak menjawab apa-apa. Terdengar teriakan sensei-sensei di depan pintu. Ternyata mereka sudah dihalau duluan agar tidak masuk kedalam kelas dengan orang-orang semacam ini.
Tiba-tiba saja seorang laki-laki yang sebaya dengan ku masuk kekelas ini dengan tenang. Ia pun datang dari belakang kedua MBI (?) itu.
"kamu Reita kan? Masih ingat sama aku?" tanya laki-laki tersebut kepadaku.
"kamu… yang kemarin kan?" tanya ku mengingat-ingat. Anak laki-laki itu tersenyum.
"wah kamu ingat! Senangnya!" ia pun segera melempar Aoi dan berhadapan denganku. Aoi terlihat marah, tapi tuxedo man (?) itu menghalau nya.
"eh? Itu Uruha kan?" ia menunjuk Uruha yang sedang bersembunyi di bawah meja sambil menutup mata dan telinganya. Karena merasa di panggil Uruha pun menengok dan kaget.
"kamu! Ngapain ke sini?" teriak Uruha setelah bangkit dari persembunyiannya.
"aku cari dia" anak tersebut menunjukku dengan entengnya. Hampir saja hidungku tertekan (?).
"nggak nyangka ya ketemu disini, sekelas sama Uruha anak manja yang bisanya cuma nangis" ejeknya. Uruha memanas. Terlihat jelas dari wajahnya.
"Byou kampreeeeettt! Seenaknya bilangin aku kayak gitu! Dasar tuan muda nggak berguna! Cuma bisa ngandelin bodyguard. Huh! Mimpi buruk apa aku semalam sampai bisa ketemu kamu!" Uruha meledak-ledak. Kami sekelas cengo berjamaah. Nggak mengerti dengan keadaan sekarang.
"Urghh! Ah sudahlah, ngeladenin anak manja nggak bakal selesai. Aku kesini cuma mau cari Reita" anak yang bernama Byou tersebut tersenyum kepadaku. Aku pun membalasnya dengan senyuman cengo.
"aku kesini mau berterimakasih sama kamu Reita kun. Kemarin sudah nolongin aku waktu hampir di tabrak mobil" jelas Byou.
"tuan muda kabur dari rumah dan pergi sendirian, mungkin karena asik melihat-lihat akhirnya ia tidak memperhatikan jalan dan…" Byou menyikut bodyguard nya tersebut.
"nggak ada yang nyuruh kamu ngomong! Kamu mau dipecat dan jadi gelandangan?" tanya Byou. Bodyguard tersebut minta maaf dan diam. Aku masih memandang cengo, mimpi apa aku semalam sampai dapat kejadian seperti ini?
"ah, maaf aku sedang belajar. Bisa kan acara terimakasih nya di tunda?" kataku. Byou menatapku.
"oh iya, kamu lagi belajar ya. Ya sudah, nanti aku datang lagi. Bye Reita! Nanti kita ketemu lagi oke?" akhirnya Byou dan segerombolan bodyguard itu pergi. Kami yang masih terkejut hanya bisa duduk cengo dan bergosip ria. Aku merasa nggak enak, karena aku makanya ada keributan kayak gini. Hampir semua teman sekelas memandang ku dengan pandangan takjub, pandangan aneh, pandangan cengo dan lain-lain.
xXx
Saatnya istirahat. Kami berkumpul diatap sekolah.
"Byou itu siapa sih?" tanya Aoi yang memang penasaran daritadi. Atau mungkin bisa di bilang dendam?
"Byou itu anak dari teman karib ayahku. Ayahnya Byou itu punya stasiun tipi, tau LinkTV kan? Nah itu punya ayahnya Byou" kami semua ber-wah bersama. Ternyata Byou kaya juga ya?
"ayahnya Byou itu teman bisnis ayahku. Keluarga ku dan keluarga Byou itu bisa dibilang sejajar lah tingkatannya" lagi-lagi kami ber-wah ria.
"berarti kalian sama-sama orang kaya raya dong?" tanya Kai.
"kaya sih nggak ada hubungannya, cuman si Byou itu terlalu over. Liat aja segala pakai bodyguard, sombong" kata Uruha menjelaskan.
"kamu kenapa nggak pakai bodyguard juga?" tanya Ruki. Uruha senyum-senyum nggak jelas.
"aku nggak suka pakai bodyguard, cukup waktu SD aja lah. Lagian ngerepotin" kami semua ber-oh ria.
"um… Rei, hati-hati ya. Byou itu kayaknya udah nargetin kamu deh" kata Uruha memperingatkan ku.
"nargetin apa maksudnya?" tanya ku bingung. Aoi, Kai dan Ruki pun menatap Uruha, mendengarkan baik-baik.
"kayaknya Byou suka deh sama kamu. Kamu pasti sudah jadi targetnya, percaya deh. Aku hapal sifatnya Byou" aku cengo. Kai dan Ruki saling menatap bingung.
"hah? Nggak mungkin dan nggak boleh! Enak aja dia narget orang sembarangan! Langkahi dulu mayat Kai!" kata Aoi marah-marah nggak jelas.
"eh? kenapa malah mayat gue? lu nyumpahin gue mati?" Kai mulai menjitak Aoi. Kali ini Aoi dan Kai adu jotos nggak jelas dan dilerai oleh ku, Ruki dan Uruha.
"apaan sih kalian ini? dasar homo" kata Uruha. Kali ini Uruha yang menjadi target sasaran lempar sendal (?). Aku masih bingung. Sendal itu dapat darimana?
"sudah-sudah stop main-main nya, kita bahas soal hukuman si Miya yuk?" ajak Kai mengingatkan tugas tambahan dari sensei Miya.
"ah iya! Aduh, gimana dong? Yang Filth in the Beauty nya gimana?" tanya Uruha.
"gimana kalo latihan? Daripada luntang lantung nggak jelas" usul Aoi.
"tapi latihan dimana? Ruk, dirumah mu bisa nggak?" tanya Kai. Ruki mengangguk.
"bisa kok, lagian kemarin baru di beliin gitar baru. Ruang musiknya juga di gedein. Jadi sekarang luas" kata Ruki menjelaskan.
"jadi kapan mau latihan?" tanya Aoi melirik ke Kai.
"kalian bisanya kapan?" tanya Kai ke semua member. Semua nya berkata bisa kapan saja.
"tapi Kai, bikin yang beda dong. Kita latihan di taman, hutan-hutan atau puncak gitu. Sambil piknik. Daridulu gue pengen banget Kai. Ya Kai ya?" pinta Uruha memelas.
"wah, ide bagus tuh. Ya sekalian lah kita refreshing" kataku menambahkan.
"tuh! Reita aja setuju, ayolah Kai. Ruki sama Aoi setuju kan ya?" tanya Uruha puppy eyes.
"ahhh! Mata itu!" teriak Aoi sambil menutup matanya dengan satu tangan. Ruki cuma geleng-geleng sambil menepuk pelan keningnya.
"udah lah, ayo refreshing. Sekali-sekali, gak ada ruginya kan?" kata ku lagi.
"ya kalau reita maunya begitu aku sih ikut aja" sahut Aoi. Semuanya ber-huuu ke Aoi , kecuali aku.
"iya tapi mau kemana? Dimana?" kata Kai.
"gue punya villa Kai, ada studio musiknya kok. Villa gue di deket pantai"
"apa? Pantai? Wahhh… pasti banyak cewek cantik nya" Uruha menjitak Kai.
"ah! gue becanda aja kali. Nggak usah di anggap serius" kata Kai mengelus kepalanya yang sakit.
"ya udah, kita ke villa Uruha aja. Kapan nih?" tanya Ruki.
"weekend ini, jadi kita bisa nginep. Gimana?" Uruha tersenyum autis. Membuat kami bergidik
"oke!"
~Omaji~
"kenapa kamu malah ngefoto tuxedo man (?) itu sih?" tanya Saga pada Shou. Shou mengernyitkan dahi.
"suka-suka aku lah. Kan sudah aku bilang jarang-jarang ada kejadian begini" jawab Shou lempeng.
"daripada fotoin orang-orang itu, lebih baik kamu foto aku aja"
"hah? foto kamu? kenapa harus kamu?" tanya Shou cengo.
"ya kan aku lebih tampan daripada mereka" Saga menopang dagunya dengan satu tangan, bergaya bak model iklan kecantikan.
Shou sweetdrop autis.
apa yang akan terjadi di villa Uruha nanti?
apa Reita akan mengungkapkan isi hatinya?
GOMEN! *membungkuk*
Shin baru bisa publish sekarang, bikinnya juga baru tadi, hahaha *ketawa garing*
Shin udah mikirin plot chapter 7 ini berhari-hari, sudah bikin begini begitu tapi lagi-lagi di edit, di hapus, di ganti dsb
bingung sama arah ceritanya *padahal kan Shin sendiri yang bikin ya?* XD
tapi tadi Shin dapet ilham (?) jadi dalam sehari udah jadi, hebat kan? *dilempar telur busuk* T.T
chapter 7 kali ini lebih panjang dari biasanya, daripada sedikit kayaknya gak puas ya? :D
aduh, gimana lagi nasib Uruha, Kai dan Ruki? Shin masih gantung sama jodoh mereka masing-masing XDDD *plaked*
disini Shin ngerekrut Byou! yay! Rasakan kau Aoi! kali ini saingan mu lumayan berat! hahahaha *ketawa nista*
ff ini akan menjadi ff yang menyenangkan~ *sarap kumad*
seeenoo..
don't flame, don't forget R&R :)
Oh iya, nih ada balasan review dari shin buat :
~Kuro Bara no dArkY SaKurai :
haha, aduh kuro chan~
Shin lagi blank buat nentuin pasangan hidup mereka bertiga XDDDD
sudah ada rencana sih buat pairingin sama anak band lain atau, cinta segitiga XD *plak*
oke kita liat di chapter 8 aja ya :D
thx 4 review
~Kumiko29 :
hai hai...
menurut Shin, nama Shinchan itu lucu, hahaha XD *plak*
oh ya, gomenne baru publish hahaha *ketawa garing*
tau tuh Reita, asal cemburu aja *geleng-geleng*
tapi di chapter 7 sudah jelas semua kan? hehe
thx 4 review
~Akiyama Kaira :
hah? yang di atas? yang dibawah?
maksudnya main gendong-gendongan ya? XD *plak*
thx 4 review
~Uta Masaki :
segilima deh kayaknya XD
itu nambah satu, si Byou. jadi segienam XD *plak*
aduh mangap nih Uta chan~ awalnya memang mau bikin Reituki, ehhh malah nyasar ke Aoita :3
apa? suki? ternyata... virus Aoita berhasil di sebarluaskan! hahahaha *devil laugh* XD
thx 4 review
~Bake-Hime :
yay! ada yang suki Aoita! *hug-hug*
makasih ya hime chan~
anoo, neechan? panggil niichan aja gimana? XDa
thx 4 review
~achii3gu :
hahaha, iya jadi balik ke AoiReita XD
ngeekk~
ha? Uruha sama Tora? ide bagus, tapi liat aja lah di chapter 8 nanti :D
thx 4 review
~snap-me :
nee, honto? :D
aduh si Reita sama Aoi lagi memperpanjang kontrak, jadi ceritanya tambah ngegemesin ini XD
oke, sesuai req... Reita sama Aoi sudah deket :3
haha, iya dulu Shin masih amatiran, gak di edit dan ngasal (?)
tapi sekarang sudah gak lagi kok :D
thx 4 review
