[6]

Sang penunggu

dari Akanemori
(id: 4479325)

Kagamine Len, Kagamine Rin, Megurine Luki, Akita Neru


.

Len mengerang frustasi. Ia meletakan kuas bersih itu dengan sedikit kasar. Ide, inspirasi, ia memerlukan itu sekarang. Hari ini—tepatnya malam ini, Rin—orang yang paling ia kasihi akan pulang dari Inggris, masing-masing dari mereka berjanji akan saling bertukar hadiah saat mereka bertatap muka nanti. Dan bodohnya Len baru mengingat janji kecil itu kemarin sore.

Hari yang semakin sore membuat Len semakin gelisah. Bukan, bukan ia tidak ingin Rin pulang—justru ia rela mengurung dirinya di rumah demi membuat kejutan spesial untuk Rin. Bukan juga karena ia tidak memiliki apapun untuk diberikan, justru dia punya banyak. Tapi, kali ini saja, ia ingin memberikan sesuatu yang lebih dari kata 'spesial'.

Dering ponselnya menyadarkan Len dari hanyutan pemikirannya. Nama Luki tertera di layarnya, Len membuka ponselnya dengan kasar.

"Ap—"

"Len! Pesawat yang ditumpangi Rin terjatuh!"

—Ini bohong, kan?

.

.

.


.

Pertama

Len menatap datar Neru—sahabat Rin—yang tidak bisa berhenti menangis, berharap Rin termasuk dari deretan korban selamat. Berbagai macam doa permohonan tiada berhenti keluar dari wanita berambut madu panjang tersebut.

Luki sedari tadi memohon pada petugas penyelamat agar segera menemukan Rin—"Kumohon pak, akan ku bayar seberapa pun asal temukan adikku," membuang harga dirinya, dan membuat tangisan Neru makin menjadi-jadi.

Len tidak menangis, ia yakin Rin akan baik-baik saja—

—Karena mereka sudah berjanji, banyak sekali janji bisu yang mereka lontarkan.

.

.

.


.

Kedua

Len menatap ke arah lautan, samudera terlihat tampak ganas hari ini, kilat-kilatan beserta suara petir menjerit di telinga, seakan dapat memangsa siapa saja yang di depannya. Beberapa korban selamat sudah ditemukan oleh tim penyelamat, tetapi Len tidak menemukan nama Rin disana.

—Nihil. Bahkan ia tidak menemukan marga 'Kagamine'.

Len merentangkan tangannya menatap ke arah samudra ganas, ia percaya bahwa Rin masih hidup.

.

.

.


.

Ketiga

Sebuah goncangan membangunkan Len. Len baru sadar sepenuhnya saat sebuah pukulan bertemu dengan rahangnya, sakit.

"Apa kau bodoh! Pertama Rin, kemudian kamu mau menghilangkan nyawamu, Apa kau sudah gila?!"

Yang barusan memukul dan membentaknya adalah Luki, Len cepat menyadari itu. Jika bukan Len yang paling terpukul atas kecelakaan pesawat Rin, maka Luki lah orangnya. Len sudah dianggap Luki sebagai adiknya—setelah Rin. Bahkan, Luki lah yang pertama menyadari perasaan Len terhadap adiknya.

"Sudahlah Luki, Len juga baik-baik saja,"

Kali ini Neru yang berbicara. Luki menghembuskan nafas, "Maafkan aku, Len, tadi aku... Benar-benar khawatir,"

Len mengangguk. Ia sadar diri. Ia tidak boleh mati sebelum bertatapan dengan Rin.

"Janji ya, Len."

.

.

.


.

Keempat

Berbagai bentuk karangan bunga membanjiri rumah Rin, satu persatu korban selamat pun dapat ditemukan—tentu saja Rin tidak ada disana. Neru sudah berhenti menangis dan dengan berat hati meninggalkan Luki dan Len—satu-satunya orang yang percaya Rin masih hidup.

Len menatap Luki dengan tatapan kosong, katakan apa yang harus Len lakukan, Luki.

"Len, sudahlah, jangan seperti ini. Rin su—"

Len menutup telinganya rapat. Jangan mengatakan hal itu, apapun asal jangan itu.

"Luki, aku—" Len menatap wajah khawatir milik Luki "—a-aku mau ke kamar Rin, tolong biarkan aku sendiri,"

Len merasa akan gila.

Ah, ngomong-ngomong warna iris mata Luki sama dengan milik Rin.

Len jadi tidak berani menatapnya.

.

.

.


.

Kelima

Sudah lima hari setelah berita Rin menghilang dan sehari Len berada di kamar beraroma jeruk milik Rin.

Kapan terakhir ia memasuki kamar ini? Kalau tidak salah saat kerja kelompok semasa SMP dulu,

"Len, jangan ke kamarku lagi! Kita sudah dewasa, boah, tidak, kau selalu bersikap bocah, Len."

Len mengingat jelas saat ia menjambak rambut Rin karena telah memanggil dirinya bocah—dan itu merupakan awal mulanya perang jambak-jambakan terbesar di dunia. Len tertawa kecil mengingatnya.

Len menatap ke arah jendela, sepertinya orang-orang sudah mulai berhenti berdatangan. Rin pernah bilang bahwa terakhir orang-orang berdatangan ke rumahnya saat orang tua Rin ditemukan tidak bernyawa—serupa, tapi ironisnya mereka juga hilang saat pulang dari Inggris.

Nafas Len tercekat, kenapa. Kenapa harus Rin—selalu—kenapa ia selalu mengingat Rin. Cairan bening jatuh dari pelupuk matanya. Dasar cengeng.

Rin, aku ingin bertemu dengamu.

.

.

.


.

Keenam

Beberapa dari tim penyelamat pamit. Tidak sedikit dari mereka menepuk pundak Len seakan mengatakan 'Sabarlah', 'Terima kenyataan', atau 'Biarkan gadis itu beristirahat dengan tenang'.

Pundak Len terasa hancur, kepercayaannya mulai berbalik arah. "Sudahlah Len, jangan terpengaruh oleh mereka, mari kita cari Rin bersama—Len?"

Len teringat sesuatu.

.

.

.


.

Ketujuh

Len mengacak meja belajarnya, mencari sebuah buku—bukan—semacam jurnal yang sudah ia buat selama menunggu kepulangan Rin—ngomong-ngomong hampir seminggu ini ia tidak menyentuh kamarnya sendiri, ia lebih cenderung menginap di rumah Rin.

Len membuka-buka lembaran buku itu, mengecek keterawatan isi di dalamnya. Lembar pertama berisi surat cinta dari Len saat SMA dulu—klasik. Lembar kedua berisi cita-cita mereka masing-masing, terlalu kekanakan memang—dan Rin menulis bahwa cita-citanya adalah menjadi pengantin, Len menghela nafas. Lembar ketiga—sampai seterusnya—berupa lukisan dan puisi buatan Len untuk Rin, tentu saja, itu kan hadiah buat Rin.

Syukurlah masih tidak berubah.

Len menatap buku itu dan membungkusnya dengan plastik. Jika ia tidak bisa menunggu Rin, maka ia akan mendatangi Rin.

Len meneguk ludah, lalu berjalan ke pantai dengan kepala tertunduk.

.

.

.


.

Kedelapan

Seorang gadis bertubuh pucat hanya dapat memandangi lautan dengan tatapan kosong, ia terlihat tidak memiliki semangat hidup lagi. Air mata sudah tidak dapat keluar dari iris birunya lagi, sebagian rambut madu menutupi pandangannya menuju lautan.

Neru memeluk tubuh itu dengan erat, sesekali ia menangis getir, merasakan perasaan gadis yang ia peluk. Luki sendiri tengah berdebat dengan tim SAR, meminta agar tidak putus asa mencari seorang pemuda.

Gadis itu memeluk sebuah buku dengan erat. Buku yang terbungkus plastik, satu-satunya benda yang ditemukan oleh tim penyelamat.

Len, aku sudah pulang. Kamu dimana? Aku ingin bertemu denganmu, Len.