Unperfect Kyungsoo

.

.

Cast : All member EXO

Genre : Tragedy, Romance

Rate : T

Disclamer : EXO itu cuma milik Tuhan YME, Orang tua,dan SM Ent. Saya hanya minjem nama doang untuk mendukung cerita saya.

Warning : YAOI (boyxboy), Typo(s), gaje, abal, Don't Like Don't Read, No Plagiat, Real dari pemikiran Author

.

.

Summary :

Kyungsoo adalah namja cacat dengan segala kekurangannya. Hidupnya berubah saat Ayahnya menikahi janda dengan dua Putra yang ternyata adalah penyebab kematian Ayahnya. Bagaimana nasib Kyungsoo saat Ia hanya tinggal bertiga dengan saudara tirinya?

.

.

Note : Kalimat dengan cetakan miring berarti bahasa isyarat dari Kyungsoo atau tulisan pada buku nya.

.

.

Kim Jong Soo 1214

.

.

.

Present

.

.

.

Preview

JEDUUAARR!

Jongin dan Jongdae terpental. Kyungsoo yang masih berada dipelukan Jongin menutup matanya erat. Memorinya benar-benar berputar cepat. Berkecamuk dalam kepalanya. Ia membuka matanya dengan berat. Betapa hancur hatinya saat melihat mobil Appa-nya dikelilingi api. Terbakar hingga tak ada celah untuk Appa-nya selamat.

Jongin dan Jongdae menekuk wajahnya dalam. Posisi mereka yang bersimpuh diaspal sangat mengenaskan. Perasaan hancur dan kehilangan menyeruak kedalam hati mereka. Mereka telah kehilangan satu-satu keluarga. Jongin mendekap tubuh bergetar Kyungsoo dengan erat. Ia tahu bagaimana perasaan Kyungsoo. Ia mengerti bagaimana hancur perasaan namja mungil ini. Karena Ia sendiri telah mengalaminya. Bersama Kyungsoo.

.

.

.

Genap seminggu setelah kematian Junmyeon dan Yixing membuat kehidupan Jongdae, Jongin dan Kyungsoo berbeda 180 derajad. Kesibukan yang selama ini dikeluti kedua orang tua mereka, kini mereka rasakan terutama Jongdae dan Jongin.

Jongdae, sebagai putra tertua dari Yixing Ia harus rela waktu bersenang-senangnya terbuang. Bukan karena pekerjaannya sebagai seorang agent rahasia, namun karena Ia yang sekarang mengambil alih butik-butik Eomma-nya. Selama seminggu ini setelah pulang sekolah, Ia akan langsung pergi ke butik untuk sekedar memeriksa perkembangan penjualan mereka.

Jangan heran jika Jongdae memiliki kemampuan hebat dalam berbisnis. Sebelum Yixing menikah dengan Junmyeon, Yixing selalu mengajak Jongdae maupun Jongin pergi ke butik. Mengarahkan mereka sebagai calon penerus perusahaan dan usaha mereka yang tengah berkembang baik. Untuk itu, Jongdae sudah akrab dengan dunia perbisnisan.

Jongin, kehidupannya tak jauh berbeda dengan Jongdae. Butik milik Yixing yang tidak hanya satu, membuatnya harus rela berbagi tugas dengan Jongdae. Memiliki kemampuan yang sama dengan hyung nya itu, mampu menjadikan Jongin sebagai orang yang cemat dan tegas dengan kepemimpinannya dalam mengolah butik.

Jika Jongdae dan Jongin memiliki kesibukan ekstra, berbeda dengan Kyungsoo. Namja manis itu berubah menjadi seseorang yang pendiam. Trauma yang dialaminya membuatnya depresi berat. Hampir seminggu Kyungsoo tidak mau melakukan apapun. Sosoknya yang ceria dan banyak tersenyum kini menghilang. Setiap hari, Ia hanya berdiam diri disudut ranjang empuknya. Menekuk kaki pendeknya didepan dada sambil menangis. Ia seperti kehilangan sebagian nyawanya. Tidak melakukan aktifitas apapun. Bahkan untuk makan, minum, dan mandi, Sehunlah yang membantunya. Ah tidak, sebagai saudara sesekali Jongin dan Jongdae juga membantunya.

Mereka sadar jika Kyungsoo memiliki trauma yang berat. Depresi yang menyebabkan Kyungsoo mudah terbangun tengah malam, menangis sendiri hingga sesenggukan, dan melemparkan benda apapun yang berada didekatnya sebagai bentuk rasa menyesalnya.

Kyungsoo benar-benar berada dalam masa terpuruknya.

Maid? Sebagian dari mereka diberhentikan karena tenaga mereka sudah tidak terlalu diperlukan. Jika biasanya para maid akan melayani Junmyeon dan Yixing dengan baik dan telaten, maka berbeda dengan sekarang. Tiga namja yang tinggal disana lebih tenang jika hanya mempekerjakan satu atau dua maid sekedar untuk memasak dan bersih-bersih rumah.

Paman Oh? Kini Ia tinggal disebuah apartemen milik keluarga Do agar lebih dekat dengan Perusahaan. Sebagai seorang yang diberi kepercayaan lebih oleh Junmyeon, Ia ditunjuk untuk mengurus Perusahaan Do Corp hingga Kyungsoo cukup umur untuk mengurusnya sendiri. Itu telah tertulis jelas pada surat kuasa dari Junmyeon beberapa tahun lalu. Tidak ada yang tahu mengapa Junmyeon menulis sesuatu yang seperti meramalkan takdir hidupnya sendiri. Tapi itulah kenyataannya. Ia telah mengetahui dan menyadari jika nyawanya sebagai pengusaha sukses akan selalu berada diujung tanduk.

"Hyung" namja berkulit seputih susu itu memasuki kamar Kyungsoo dengan sebuah nampan berisi makan malam dan segelas susu hangat untuknya. Ia berjalan mendekati ranjang Kyungsoo. Matanya yang sipit menatap sedih pada nampan diatas meja nakas. Nampan berisi makan siang yang masih utuh. Tidak tersentuh sama sekali.

Sehun menghela napas. Meletakkan nampan yang Ia bawa disebelah nampan yang lain dan mendudukkan dirinya pada pinggiran ranjang.

"Hyung, kau tidak memakan makan siangmu lagi?" Sehun bertanya dengan lembut. Ia mendekatkan tubuhnya pada tubuh mungil Kyungsoo yang masih meringkuk diatas ranjangnya. Kaki pendeknya ditekuk didepan dada. Tatapannya kosong. Membuat Sehun sekuat tenaga menahan kesedihannya.

Sehun mengangkat tangannya untuk mengelus surai hitam Kyungsoo. Mengelusnya dengan sayang.

"Mian, aku tidak bisa menemanimu makan siang. Aku baru pulang sekolah. Banyak tugas yang Lee seonsaenim berikan pada kelas matematika" Sehun berusaha mengajak bicara Kyungsoo dengan gaya khasnya. Mencoba tetap memberikan pancingan agar namja mungil ini bisa bersosialisai kembali.

"Umh, sebagai permintaan maafku, bagaimana kalau aku menyuapimu?" Sehun tersenyum konyol didepan wajah Kyungsoo. Tapi sepertinya namja mungil itu memilih tetap diam. Tidak merespon apa yang dikatakan Sehun.

"Baiklah, kau harus makan hyung. Setelah itu aku akan membantumu mandi. Arraseo?" Sehun membantu Kyungsoo agar terbangun dari posisi tidurnya. Mendudukkan tubuh mungil Kyungsoo pada rajang. Sehun mengambil semangkuk bubur yang tadi Ia bawa. Mulai menyuapkan satu sendok untuk Kyungsoo.

"Aaaaaa" Sehun melebarkan mulutnya agar Kyungsoo mau menirukannya. Dan berhasil.

Meskipun Kyungsoo memandang kosong, tidak menganggap Sehun ada, tidak mengerti apa yang namja tampan itu katakan, setidaknya Kyungsoo memahami apa yang diperintahkan oleh Sehun.

Dengan telaten Sehun menyuapkan sendok per sendok bubur ke mulut mungil Kyungsoo. Sesekali mengusap bibir namja manis itu saat bubur yang disuapkan menempel pada sudutnya.

Jantung Sehun berdetak cepat. Ini selalu terjadi saat Ia menyentuh bibir Kyungsoo. Bibir yang merah merekah, bentuk hati yang sangat manis, membuat seorang Oh Sehun luluh pada pesona Tuan Mudanya ini.

Suapan terakhir telah ditelan oleh Kyungsoo. Sehun tersenyun puas melihat usahanya menyuapi Tuan Mudanya ini telah selesai.

"Waah...kau pintar, hyung. Buburmu habis hanya dalam waktu 10 menit" Sehun meletakkan mangkuk buburnya pada meja nakas dan meraih segelas susu coklat untuk Kyungsoo.

"Minumlah" Sehun menyodorkan gelas susunya pada Kyungsoo, namun dibalas dengan gelengan lemah.

"Kau tidak mau minum susu, em? Pantas saja kau tidak tumbuh tinggi, hyung" Sehun terkekeh kecil dengan perkataannya sendiri. Walaupun Kyungsoo tak lagi menanggapi candaannya seperti biasa, setidaknya Sehun tetap berusaha berkomunikasi pada Kyungsoo. Berusaha selalu ada disampingnya, menenangkannya, mengelus punggungnya, dan menghapus air matanya saat namja manis itu menangis. Ah, rasanya Ia rindu dengan pukulan Kyungsoo jika melihatnya seperti ini.

Sehun percaya jika suatu saat Kyungsoo-nya akan kembali ceria seperti dulu. Hanya saja, Ia membutuhkan proses. Proses yang tidak mudah memang, mengingat mental Kyungsoo yang lemah. Selalu meraung tanpa suara ketika memorinya berputar dan menampakkan sosok Appa-nya terbakar didalam mobil. Memori dimana Ia tak dapat menyelamatkan Appanya, memori dimana Ia melihat air mata terakhir Appa-nya sebelum ledakan besar itu terjadi. Memori menyakitkan yang selalu berputar setiap malam.

" Kalau kau tidak mau minum susu, sebaiknya sekarang kita mandi, ne? Aku akan membantumu" Sehun meletakkan gelas susunya diatas meja nakas dan membantu Kyungsoo berdiri. Memegangi pinggang rampinya dan menuntun namja mungil itu menuju kamar mandi. Kyungsoo hanya terdiam. Ia sudah kehabisan ekspresi untuk sekedar menjawab maupun menanggapi Sehun. Pikirannya masih sulit untuk sekedar memproses keadaan sekitarnya. Ia kesulitan bersosialisasi kembali. Depresi.

.

.

.

"Kau sudah selesai?" tanya sebuah suara saat Sehun melangkah keluar dari kamar Kyungsoo. Yang ditanya pun menolehkan pandangannya pada sosok berahang tegas yang berdiri tak jauh dari tangga.

"Nde, hyung" jawabnya singkat

"Kau mau menginap disini?" tanya sosok itu lagi

"Tidak, hyung. Aku akan pulang keapartemen" dan anggukan kecil menjadi balasannya.

"Jongin tidak bersamamu?" tanya Sehun saat tak melihat Jongin bersama Jongdae.

Sejak kecelakaan itu, Jongin, Jongdae, dan Sehun menjadi dekat. Bergiliran merawat dan menemani Kyungsoo meskipun Jongin yang paling minim waktu untuk mengurus Kyungsoo. Tapi setidaknya mereka bisa bekerja sama untuk menjaga namja lemah itu mengingat Jongin dan Jongdae adalah saudara tiri Kyungsoo. Sedangkan Sehun adalah sahabat kecil Kyungsoo.

"Jongin masih ada urusan diluar" Sehun mengangguk mengerti.

"Dia sudah tidur?" tanya Jongdae lagi. Mata tajamnya mengarah pada pintu kamar Kyungsoo.

"Emm. Dia tertidur setelah aku menyuapinya makan dan membantunya mandi"

Jongdae mengangguk. Ia berjalan mendekati pintu kamar Kyungsoo dan membukanya sedikit. Mengintip sosok bertubuh mungil tengah terlelap didalam balutan selimut hangat.

"Aku akan kembali besok pagi, hyung" Sehun mulai berjalan meninggalkan rumah itu setelah mendapatkan anggukan singkat dari Jongdae.

Jongdae masih tak mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo. Raut khawatir dan rasa kasihan menyeruak dalam hatinya. Ia sadar, Kyungsoo mengalami kejadian seburuk ini karena Eomma-nya. Ia sadar jika Eomma-nya yang Ia anggap baik ternyata tidak lebih dari seorang penjahat. Ia merasa bersalah. Seberapapun dingin hatinya, Ia tetap seorang manusia. Melihat orang lain menderita tanpa tahu apapun adalah hal yang paling mengganggu pikirannya. Untuk itu Ia bertekad. Ia bertekad mengungkap tuntas kejadian ini. Meskipun Ia tahu akan menyakitkan.

"Aku dan Jongin berjanji padamu, Kyungsoo-ya" senyuman tipis tercipta dari wajah tampannya. Ya, ini adalah keputusan final. Keputusan untuk membalas kematian Junmyeon sekaligus mengungkap kejahatan Eomma-nya.

.

.

.

"Kau menemukan sesuatu, hyung?" namja berkulit tan itu tengah berdiri disamping seorang namja tinggi yang duduk disebuah kursi empuk. Matanya yang setajam elang masih setia memperhatikan layar laptop didepannya.

"Aku masih akan membuka hasil penyelidikan ditempat kejadian dan isi dari berkas-berkas itu" jawab Kris dengan tak mengalihkan pandangannya pada layar laptop.

"Kau yakin jika ini adalah sebuah tindakan berencana?" tanya namja berkulit tan itu lagi. Wajahnya yang datar tiba-tiba berubah tegang.

"Kita masih harus memeriksanya lebih jauh, Jongin. Kemungkinan besar iya. Tapi aku belum mengetahui jelas apa motif mereka sebenarnya" jawab Kris dengan raut serius. Jongin hanya mengangguk ragu.

"Bagaimana keadaan saudara tirimu?" tanya sesosok bertubuh tinggi lainnnya yang tengah duduk dibalik meja kerja dengan beberapa lembar kertas ditangannya.

"Masih seperti sebelumnya" ucapan Jongin terasa begitu hampa. Chanyeol, menghentikan kegiatan memeriksa kertas-kertas itu dan mengalihkan pandangannya pada Jongin.

"Aku sungguh tidak tahu jika Appa-ku bekerja pada Perusahaan Appa tirimu"

"Dan aku tidak menyangka kejadian seperti ini akan menimpa keluargaku" jawabnya lemah

"Bersabarlah, Jongin. Aku tahu kau namja kuat" namja berpipi cubby yang sedari tadi diam berjalan mendekati Jongin. Menepuk pelan tubuh tegapnya. Menyalurkan kekuatan pada dongsaengnya itu.

Ia tahu seberapapun dingin dan keras kepalanya Jongin, namja itu hanya lah anak berusia 18 tahun. Dimana masa remaja yang seharusnya bisa menuntunnya menjadi namja kuat, tapi kehidupannya berbeda. Sejak kecil, Ia dan Jongdae telah menjadi sesosok yang dipaksa kuat oleh Eomma mereka. dipaksa mengerti dengan kehidupan yang rumit.

"Kami akan berusaha membantu. Aku yakin keterlibatan Eomma-mu dengan Direktur Kim Corp juga menyangkut Appa dan saudara tirimu"

Deg

Perkataan Xiumin membuat Jongin mengerut bingung. Mata tajamnya menatap lekat mata bundar Xiumin seolah bertanya 'apa yang hyung maksud?'

Mengerti arti tatapan Jongin, Xiumin berusaha menjelaskannya.

"Kau ingat saat kau tertembak oleh Direktur Kim Corp?" pertanyaan Xiumin membuat Jongin menganggukkan kepalanya. Sedangkan Kris dan Chanyeol menghentikan kegiatan mereka dan mulai mendengarkan perkataan Profesor jenius itu.

"Bukankah kau ditemukan Jongdae dalam keadaan maskermu terbuka? Tidak menutup kemungkinan mereka tahu identitas aslimu. Menurut analisisku, Direktur Kim Corp yang sebelumnya memiliki urusan dengan Appa tirimu, berfikir jika keterlibatanmu adalah bentuk penghianatan dari Junmyeon. Mereka mencarimu. Setelah mereka tahu bahwa kau anak Junmyeon, mereka mengincarmu dan juga...saudara tirimu" jelas Xiumin panjang lebar.

"Mereka mengincar Kyungsoo?" Jongin bertanya dengan tatapan kosong.

"Ya. Bukan karena mereka memiliki dendam pada Kyungsoo. Mereka hanya menginginkan Perusahaan Do Corp berada ditangannya"

"Benar, berkas-berkas yang kita rampas dari Direktur Kim Corp ternyata adalah berkas mengenai Cabang Perusahaan Do Corp di Busan" Kris menimpali, membuat ketiga namja lainnya menoleh padanya.

"Kau yakin?" tanya Chanyeol

"Aku baru saja memeriksanya" Kris menjawab dengan mantab

"Itu berarti Eomma-ku..." Jongin terduduk dikursi disamping Kris. Matanya menerawang jauh. Pikirannya berputar, dadanya sesak.

"Ya. Eomma-mu 100% terlibat dengan penghianatan ini"

Seperti terhantam batu besar. Dada Jongin tak hanya sesak, bahkan Ia seperti tak bisa bernapas sekarang. Ia terlalu kaget. Eomma yang selama ini Ia kenal sebagai wanita baik, pendiam, dan penurut, ternyata benar-benar seorang wanita jahat. Melibatkan seseorang yang tak bersalah demi keserakahannya.

"Kau harus melindungi saudara tirimu, Jongin. Karena aku yakin sasaran selanjutnya adalah Kyungsoo" Chanyeol menyela. "Aku mendengar dari Appa ku jika Ia mencurigai orang dalam diperusahaannya" lanjutnya lagi dengan nada serius.

"Orang dalam?" Jongin bertanya karena merasa tak yakin

"Emm. Kau tahu kan masalah ini menyangkut dua Perusahaan besar. Jika salah satu dari mereka berhasil melenyapkan musuh atau bahkan rekan bisnisnya, itu berarti ada orang dalam yang memberi informasi pada sang lawan" tagas Chanyeol.

"Aku tidak begitu mengerti karena itu bukan Perusahaanku" Jongin menatap lekat mata Chanyeol.

"Justru itu yang akan menjadi tantangan kita. Kita harus menyelidiki siapa yang terlibat dengan ini semua dengan cepat. Jika tidak, bukan hanya Kyungsoo, bahkan kau dan Jongdae akan menjadi objek incaran mereka"

"Aku dan Jongdae?"

"Wajahmu sudah diketahui mereka, Jongin. Dan sebelumnya Eomma-mu terlibat bukan? Tidak menutup kemungkinan mereka juga akan mengambil alih perusahaanmu. Dunia bisnis memang seperti ini. Saling membunuh demi keserakahan mereka sendiri" Chanyeol mendengus, sangat terlihat raut kesal disana.

"Jangan terpancing emosi. Ini bukan masalah kecil. Kita harus memastikan motif sebenarnya dari kejadian ini. Dan juga siapa saja pihak yang terlibat" Kris berucap untuk memecah ketegangan diruangan ini. Udara dingin malam hari sepertinya tidak cukup untuk mendinginkan otak mereka yang terlalu mendidih karena masalah ini. Dan parahnya, anggota mereka sendiri yang menjadi korban karena kesalahan yang mereka buat.

.

.

.

Waktu sudah menunjukan hampir tengah malam saat mobil sport itu terparkir dihalaman luas rumah keluarga Do. Namja tampan dengan kulit tan dan tubuh atletis terlihat menuruni mobil itu. Wajah lelah dan perut yang kosong membut jalannya sedikit gontai. Sepertinya Ia harus segera makan setelah memasuki rumah mewah itu.

Dengan sedikit tergesa tangan kanannya terangkat untuk membuka pintu utama. Langkah pertamanya terhenti setelah Ia menutup kembali pintu bercat putih itu. Suasana rumah yang remang membuat ingatannya kembali pada beberada hari yang lalu.

Mata tajamnya menatap lurus kearah tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai dua. Dua kali Ia melihat sosok mungil yang tengah menunggunya pulang. Sosok mungil dengan takut-takut mendekatinya. Sosok mungil bermata bulat yang memandangnya penuh kekhawatiran, dan sosok mungil yang berhasil membuat jantungnya berdetak lebih kencang.

Ia menatap sofa berwarna putih bersih yang terletak tak jauh dari sebelah tangga. Ingatannya kembali berselancar bebas. Bagaimana sosok mugil itu memaksanya untuk duduk disana, mengobali lukanya dengan lembut, hembusan napas hangatnya yang bahkan masih terasa hingga sekarang.

Dadanya kembali berdesir setiap kali Ia mengingat saat itu.

Kriukk kriukk...

Suara aneh menginterupsi lamunannya. Jongin, namja tan itu memegang perutnya yang terasa dijepit. Perih dan kosong. Ia belum makan dari tadi siang. Ia masih akan melangkahkan kaki panjangnya kedapur sebelum sebuah memori kembali berputar dikepalanya. Memori dimana Ia dan Jongdae ditarik paksa oleh sosok mungil menuju dapur. Senyum dari bibir hatinya tak pernah lepas dari wajah manisnya saat Ia menyodorkan sepiring spagetty kimci didepan wajahnya.

Tanpa sadar Jongin tersenyum. Sangat menyenangkan jika ada yang memperhatikan seperti itu. Tapi senyum tampan yang belum lama tersungging dari bibir tebalnya kini menghilang. Berganti dengan ekspresi datar seperti biasanya. Niat untuk mengambil makanan didapur Ia urungkan saat mata tajamnya menatap ujung tangga diatas sana. Hatinya tergelitik untuk sekedar memeriksa apakah sosok mungil yang sedari tadi berputar-putar dikepalanya telah terlelap.

Tanpa sadar langkahnya telah terhenti didepan pintu kamar Kyungsoo. Memutar kenopnya dan mulai berjalan mendekati ranjang.

Senyum dari wajah tampannya kembali tercipta hanya dengan melihat wajah damai sosok mungil yang telah terlelap dibalik selimut tebalnya. Jongin mendudukkan tubuhnya ditepian ranjang. Tangan kokohnya Ia arahkan untuk menyentuh surai hitam itu. Terasa sangat halus dan lembut.

"Apa begitu sakit?" tanyanya lirih. Ia tahu jika Kyungsoo tidak akan bisa mendengarnya. Hanya saja, hatinya tergerak untuk menanyakan itu.

"Sekuat-kuatnya kau disekolah, ternyata kau sangat rapuh dirumah" kalimat itu mengalir begitu saja dari bibir tebal Jongin. Ia merasa aneh melihat Kyungsoo tidak seperti sebelumnya. Yang ceria, yang tersenyum tulus, dan sekarang sosok itu hilang. Sosok yang selalu kuat pada tindakan bully disekolah ternyata hancur dengan satu kejadian yang diluar dugaan.

Pergerakan tangannya turun menyentuh pipi gembil Kyungsoo. Ia mengelus lembut, merasakan bagaimana kulit putih itu terasa halus dikulit tangannya. Jongin tersenyum kembali. Dadanya terasa hangat. Ia merasa nyaman berada didekat Kyungsoo.

Pergerakan tangannya terhenti saat Ia merasakan tubuh mungil Kyungsoo bergerak. Bibirnya yang sedikit terbuka entah mengapa membuat jantung Jongin semakin berdetak tak beraturan.

Ia tergerak untuk menyentuh bibir merah itu sebelum sebuah gerakan dari Kyungsoo membuatnya terpaku. Mata bulat itu terbuka. Mengerjap sebentar untuk membiasakan retina matanya dengan suasana remang dikamarnya.

"Kau bangun?" pertanyaan dari Jongin membuat Kyungsoo menatapnya bingung.

"Kau membutuhkan sesuatu?"

Tidak ada jawaban.

Tubuh mungil itu tak lagi bergerak. Hanya terdiam ditempat berbaringnya. Mata bulat itu tak lagi mengerjap. Hanya menatap kosong pada sosok didepannya, pada Jongin.

Jongin menatapi wajah Kyungsoo dengan seksama. Ia melihat jika pipi itu semakin memerah. Mungkinkah Ia sedang menahan tangisnya?

Dan benar saja, sedetik kemudian lelehan hangat mengalir dipipi gembil itu.

"Appa" bibir hati Kyungsoo bergerak tanpa menimbulkan suara. Hati Jongin terasa dicubit. Sakit saat melihat Kyungsoo seperti ini.

"Appa"

Lagi, lelehan kristal itu mengalir bebas. Membasahi bantal yang ada dibawah kepala mungilnya.

"Ssstt...uljima" Jongin mengelus lembut pipi itu. Menghapus jejak air mata yang tak henti mengalir. Entah mendapat keberanian dari mana. Yang ada dipikirannya adalah melihat Kyungsoo tenang. Tidak menangis lagi karena mengingat Appa-nya.

Tangan mungil Kyungsoo mencoba meraih tangan kokoh Jongin yang masih mengelus pipinya. Menggenggamnya erat dengan sedikit remasan. Jongin tahu jika namja manis ini masih sangat terpukul.

Tubuh kecilnya bergetar hebat. Kepalanya menggeleng kuat sambil terus meremas tangan Jongin. Memori-memori itu datang lagi. Kelebat-kelebat bayangan ledakan dan api memenuhi kepala Kyungsoo.

"Ssstt...tenanglah. Aku disini, aku disini" Jongin memposisikan dirinya berbaring disebelah Kyungsoo. Bagaimanapun juga Ia tak tega melihat saudara tirinya seperti ini. Wajah yang biasanya datar kini berubah penuh kecemasan.

Tangannya yang lain meraih tubuh Kyungsoo agar berhadapan dengannya. Mendekapnya erat seperti yang Ia lakukan saat kecelakaan itu terjadi. Mengelus lembut punggung Kyungsoo agar merasa tenang. Dan getaran ditubuh namja mungil itu sedikit berkurang.

"Kau sudah baik padaku dan Jongdae selama ini. Sekarang giliranku. Biarkan aku melindungimu" dan kalimat itu berhasil menghantarkan deru nafas teratur dari Kyungsoo. Jongin tersenyum. Ia senang karena kehangatan yang Ia berikan pada Kyungsoo berhasil membuat namja mungil ini merasa nyaman.

"Aku berjanji"

.

.

.

Cangkir kristal dengan teh yang masih mengepul baru saja diletakkan diatas meja kerja seorang namja bertubuh tegap. Kemeja biru dilapisi jas hitam melekat ditubuhnya. Wajah tampan dengan kulit putih menambah kharisma yang ada didalam dirinya. Didepannya, berdiri seorang namja manis dengan sebuah tablet PC digenggamannya. Namja itu tengah sibuk mengecek apa saja yang mungkin akan dibutuhkan oleh Direkturnya.

"Sejauh ini keadaan masih normal, Direktur. Wartawan tidak lagi menyoroti kecelakaan Direktur Do satu minggu yang lalu. Dan berita baiknya, seluruh Perusahaan milik Do Corp berada ditangan Oh Changmin, orang kepercayaan Do Junmyeon" namja itu mengutarakan hasil penyelidikannya.

"Bagus" namja tampan itu berseringai sambil mengambil cangkir teh dan menyesapnya perlahan.

"Tapi Direktur, butik milik Zhang Yixing berada ditangan putra mereka. Bahkan seluruh anak cabangnya juga ditangani sendiri oleh mereka"

"Kau sudah memastikannya, Jaejong?" tanyanya penuh dengan penekanan. Namja manis bernama Jaejong itu mengangguk.

"Bukankah ini akan lebih memudahkan kita?" namja itu meletakkan kembali cangkir tehnya. Tatapannya lekat pada sekertaris setianya itu.

"Maksud anda?" Jaejong merengutkan dahinya tak mengerti.

"Aku sudah tahu siapa mereka. Anak dari Yixing adalah perampok yang mencuri berkas-berkas milik Do Corp beberapa waktu lalu" jawabnya tenang

"Apakah itu yang membuat anda berfikir untuk menghabisi mereka juga?" Jaejong mulai mengerti arah pembicaraan Direktur muda didepannya ini.

"Untuk saat ini belum. Karena ada seseorang yang harus aku lenyapkan terlebih dulu sebelum mereka" Direktur tampan itu berseringai.

"Apa anda yakin?"

"Tentu saja. Tidak ada yang bisa menipu Kim Yunho. Tidak ada!" tegasnya. Mata tajamnya menatap sekertaris didepannya ini. Sedikit banyak membuat Jaejong mengkerut jika melihat Direkturnya berkata demikian. Ia sangat hapal bagaimana Direktur Kim Corp ini. Tidak ada yang bisa menghalangi langkahnya untuk menjadi orang tersukses di Korea Selatan, meskipun itu adalah relasi kerjanya sendiri.

.

.

.

Matahri sudah menampakkan keceriaannya beberapa saat yang lalu. Menghantarkan suasana hangat musim semi yang indah. Begitu juga yang dirasakan salah satu penghuni rumah mewah keluarga Do. Putra tertua yang sudah siap dengan seragam sekolah dan tas punggungnya. Tengah terduduk manis dimeja makan sambil menyantap sarapannya.

"Kau datang?" suara berat menyapa telinga namja berkulit putih saat tubuh tingginya muncul dari balik pintu utama, hendak melangkah ke arah tangga.

"Nde, hyung. Aku akan membantu Kyungsoo hyung dulu sebelum pergi kesekolah" jawabnya antusias.

"Kau tidak usah repot-repot, Sehun. Jongin akan mengurusnya" Jongdae mengatakan dengan santai. Tangannya mulai mengoles selai pada roti panggang kesukaannya.

"Jongin?" sedikit tidak percaya memang. Mengingat selama ini Jongin adalah pihak yang paling jarang mengurus Kyungsoo

"Em. Hari ini Jongin tidak kesekolah karena ada urusan di perusahaan. Mungkin sebelum berangkat Ia akan mengurus Kyungsoo dulu" lagi, jawaban santai yang keluar dari bibirnya.

Ada perasaan aneh saat mendengar itu. Entahlah, Sehun hanya tidak mau jika Kyungsoo-nya disentuh orang lain selain dirinya. Apalagi saat orang lain melihat tubuh Kyungsoo saat mandi. Tunggu, mandi?

"Aku akan melihatnya" buru-buru Sehun melangkahkan kaki panjangnya menaiki tangga untuk menuju kamar Kyungsoo. Memutar kenop pintu perlahan agar tidak menimbulkan suara.

Matanya yang sipit membola ketika melihat pemandangan didepannya. Disana, diatas ranjang terlihat Jongin yang memeluk erat tubuh mungil Kyungsoo. Deguban jantungnya bekerja dua kali lebih cepat. Sebelumnya memang hanya Sehun yang selalu memeluk Kyungsoo dan memberikan kenyamanan pada namja itu saat tidur.

"Kau mau berangkat bersamaku?" Sehun sedikit tersentak saat merasakan sebuah tepukan pada pundaknya. Namun hal itu tidak membuat matanya beralih dari Jongin dan Kyungsoo yang masih tetap diposisinya.

Jongdae melirik kedalam. Melihat objek yang ditatap Sehun. Ah, sepertinya Ia tahu apa penyebab namja disampingnya ini lupa berkedip.

"Kyungsoo terus menangis sepanjang malam. Dan kebetulan Jongin yang bergiliran menjaganya" ucapan dari Jongdae membuat Sehun kembali kealam nyata. Pikiran aneh yang sedari tadi berputar dikepalanya perlahan menghilang. Ia menyadari jika Ia tidak bisa lagi berada didekat Kyungsoo setiap waktu karena Ia tinggal di apartemen bersama Appa-nya. Untuk itu Sehun mencoba berpikir dewasa. Mencoba mengerti dengan keadaannya.

"Apa Paman Oh ke kantor hari ini?" seketika Sehun mengalihkan pandangannya pada Jongdae. Tentu saja, selama ini namja berahang tegas itu tidak pernah berkomunikasi dengan Appa-nya. Bahkan sejak Junmyeon menikah dengan Yixing, Jongdae maupun Jongin hampir tak pernah bertegur sapa.

"Tentu saja" jawabnya singkat.

"Baiklah. Jadi bagaimana? Pergi bersamaku?" Jongdae memberi penawaran kedua.

"Aku akan menggunakan bus saja, hyung" hanya anggukan kecil sebagai jawabannya.

Jongdae sudah melangkah menjauh, sedangkan Sehun masih berdiri disana. Menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Sedikit tidak rela jika harus meninggalkan Kyungsoo seperti ini, tapi sekali lagi Ia harus berpikir dewasa. Ia harus pergi ke sekolah, dan menyerahkan tanggung jawab mengurus Kyungsoo kepada Jongin mungkin tidak ada salahnya.

Sepeninggal Jongdae dan Sehun, sepertinya namja mungil yang masih berada diatas ranjang empuk itu terbangun. Tubuhnya menggeliat kecil. Matanya yang bulat mengerjap beberapa kali. Ia merasakan sebuah tangan besar melingkar dipingganggnya. Ia sedikit mendongak dan menemukan wajah tampan yang tertidur dengan damainya. Dia bukan Sehun, bukan seseorang yang selama ini menemaninya tidur. Tapi pelukan ini mirip pelukan Sehun. Bahkan terasa lebih hangat dan nyaman.

Namja tan itu melenguh kecil saat merasakan tubuh mungil disampingnya bergerak. Membuka perlahan matanya dan menemukan bola mata besar yang tengah menatapnya dalam diam.

Jongin membalas tatapan itu. Menyelami manik mata bulat bening yang sangat indah. Degupan jantungnya kembali bekerja dengan cepat. Kenapa hanya dengan menatap matanya saja bisa membuat desiran itu hadir kembali?

Beberapa saat mereka saling menatap dengan posisi berhadapan. Hingga mata bulat itu mengerjap lucu.

Satu kedipan

Dua kedipan

Sungguh, Jongin ingin sekali mencium wajah polos ala bangun tidur itu.

"Kau mau kekamar mandi?" suara serak terdengar ditelinga Kyungsoo. Ia hanya tertegun. Pikirannya masih belum bisa mencerna kejadian ini. Posisi tubuhnya yang meringkuk didepan dada Jongin membuatnya semakin bingung.

Kyungsoo menggeleng pelan. Jongin tersenyum tipis. Bagus, ini suatu perkembangan. Kyungsoo bisa menanggapi ucapannya. Tidak menangis saat bangun tidur, tidak juga menekuk lututnya lagi didepan dada. Jongin benar-benar senang melihat Kyungsoo.

"Semua pasti akan baik-baik saja, Kyungie"

Deg

Deg

Deg

Dada Kyungsoo berdetak cepat. Suara berat Jongin terasa begitu lembut saat mengucapkan namanya. Ya, ini adalah kali pertamanya Jongin memanggil nama Kyungsoo. Bahkan namja tampan itu memanggilnya Kyungie. Seperti yang biasa Appa-nya ucapkan padanya.

Tes

Air mata tiba-tiba meleleh dipipi gembil itu. Jongin tersentak. Apa ucapannya membuat Kyungsoo terluka?

"Appa" sebuah kata tanpa suara kembali menohok hati Jongin. Ia tahu bagaimana terpukulnya Kyungsoo. Mungkin panggilan itu mengingatkannya pada Appa-nya.

Jongin segera meraih tubuh Kyungsoo kedalam pelukannya. Memberikan sentuhan lembut dipunggung dan kepalanya agar Kyungsoo tenang.

"Aku disini, Kyungie. Uljima" Jongin menumpukan dagunya pada pucuk kepala Kyungsoo. Sesekali menciumnya lembut. Ia benar-benar ingin melindungi Kyungsoo. Entah apa yang membuatnya seperti ini, hanya saja hatinya merasakan perasaan ini sejak Kyungsoo berlaku baik padanya.

Kyungsoo mengusak dada Jongin, mencari kenyamanan yang pernah diberikan Appa-nya. Pelukan Jongin mengingatkannya pada Appa-nya. Sangat nyaman dan hangat.

Jongin tersenyum merasakan gerakan kecil dari kepala Kyungsoo. Hatinya menghangat. Lengkungan lebar dari bibirnya seolah memberitahu bahwa Ia bahagia. Bahagia setelah sekian lama Ia tak merasakannya. Bahkan Ia tidak merasakannya dari sosok Yixing.

.

.

.

Drrtt... Drrtt

Sebuah getaran dari ponsel begitu terasa. Namja berahang tegas itu memicing. Tidak biasanya ada yang menghubunginya sepagi ini kecuali ada hal penting. Segera Ia menyalakan lampu sein dan menepikan mobilnya.

Ia merogoh saku celana untuk menemukan ponselnya. Menekan tombol hijau dan mendekatkan benda kotak itu didepan telinganya.

"Yeobseyo"

"..."

"Ah, Kris. Wae?"

"..."

"Kau serius?"

"..."

"Baiklah, aku kesana sekarang"

Pip

Setelah mematikan sambungannya, Ia segera menekan gas. Melajukan mobilnya secepat yang Ia bisa. Yang ada dipikirannya adalah segera sampai di markasnya. Memastikan perkataan Kris adalah benar.

"Sial!"

.

.

.

"Sehun-ah" sebuah suara lembut menyapa pendengarannya. Ia hapal dengan suara ini. Karena sejak pertama kali Ia bersekolah disini, hanya suara ini yang selalu setia menyapa telinganya.

"Kau baru sampai?" senyum lebar dengan mata rusa yang menyipit terlihat begitu manis. Sehun menghentikan langkahnya.

"Umh" deheman lirih dari Sehun masih terdengar jelas ditelinga Luhan karena keadaan lorong sekolah yang masih sepi.

"Aish, kenapa kau selalu seperti ini jika menjawab pertanyaanku" Luhan mengerucutkan bibirnya.

Sehun tak berniat menjawab. Ia kembali melangkahkan kaki panjangnya untuk menuju kekelasnya.

Luhan mendelik melihat pergerakan Sehun. Apa Ia baru saja ditinggal?

"Yak! Sehun-ah, aku sedang berbicara padamu" langkah kecil Luhan mencoba mengejar langkah besar Sehun. Mensejajarkan tubuhnya untuk berjalan disamping namja tampan ini.

"Apa kau tidak ada pekerjaan lain selain mengekoriku?" datar. Sehun selalu berkata datar pada Luhan.

"Aku tidak mengekorimu. Lihat, aku berjalan disampingmu" cengiran manis itu terpampang jelas. Tapi Sehun tak berniat menolehkan kepalanya untuk sekedar melirik wajah manis itu. Tatapannya tetap lurus. Tak menghiraukan sosok yang selama ini telah berperilaku buruk pada Kyungsoo-nya.

"Berhentilah" perkataan Sehun membuat senyuman Luhan luntur seketika.

"Kau membenciku?" Luhan menghentikan langkahnya saat kaki panjang Sehun berhenti didepan kelasnya.

"Kau pasti tertawa senang melihat Kyungsoo seperti ini. Jadi berhentilah"

Deg

Rasanya Luhan ingin sekali menangis. Perkataan Sehun begitu menohok hatinya. Oke, selama ini Ia memang sangat membenci Kyungsoo tanpa alasan. Sering membully dan menyakitinya. Bahkan tak jarang Ia mempermalukan Kyungsoo didepan seluruh siswa sekolah ini. Tapi Ia merasa menyesal saat mendengar kabar itu. Kabar kematian Appa-nya yang ternyata adalah pemilik sekolah ini. Kabar Kyungsoo yang depresi dan trauma berat hingga tidak bisa masuk sekolah, kabar terancam hancurnya perusahaan Do Corp, dan terutama kabar mengenai Sehun yang ternyata adalah anak dari bawahan keluarga Do.

Selama ini Luhan hanya salah paham, Ia mengira Kyungsoo yang jahat padanya karena dekat dengan Sehun. Ia mengira Kyungsoo yang jahat padanya karena nilainya yang selalu berada diatasnya. Ia mengira Kyungsoo yang jahat padanya karena dulu Kyungsoo sangat dekat dengan Baekhyun dan Tao. Hingga satu pikiran kotor bersarang dikepalanya. Menjauhkan Baekhyun dan Tao dari Kyungsoo dan membuat mereka membenci namja manis itu. Luhan menyesal. Ia benar-benar menyesal. Persahabatan yang dulu terjalin baik tiba-tiba berubah. Dan semua adalah karenanya. Karena otak kotornya. Karena hati jahatnya.

"Tidak Sehun-ah. Aku tidak sejahat itu" lirihnya. Kepala mungilnya menunduk. Bahunya bergetar. Ia berusaha menahan ketakutan yang menyerang hatinya.

"Kau bilang kau tidak sejahat itu? Lalu apa yang selama ini kau lakukan padanya?" perkataan Sehun yang penuh dengan ancaman membuat Luhan terpaku ditempatnya. Namja mungil itu bingung harus menjawab apa. Ia menyadari kesalahannya. Dan sudah sangat terlambat jika menyesalinya sekarang.

"Kau tidak bisa menjawab? Maka berhentilah!"

Tes

Mata rusanya memburam. Air yang sedari tadi Ia tahan agar tidak jatuh ternyata luruh juga. Menetes deras dikedua pipi tirusnya. Sehun berjalan meninggalkannya sendiri. Meninggalkan rasa penyesalan dihatinya.

"Mianhae...Kyungie"

.

.

.

"Kau sudah merasa baik?" mata tajam itu menatap lembut mata bulat didepannya. Pelukan hangat ditubuh mungilnya membuat namja itu merasa lebih baik dari yang sebelumnya.

Tangan kokoh itu bergerak untuk mengusap sisa air yang ada disudut matanya.

Kyungsoo mengangguk singkat.

"Baiklah. Aku akan pergi ke butik nanti. Kau mau ikut?" Jongin berkata sambil mengelus surai hitam Kyungsoo. Jongin memberi penawaran menarik pada Kyungsoo. Ia berpikir mungkin Kyungsoo membutuhkan udara segar setelah seminggu hanya menangis dikamarnya. Jadi tidak ada salahnya jika mereka pergi keluar untuk mencari suasana baru.

Kyungsoo masih terdiam. Perkataan Jongin yang begitu lembut dengan segala perhatiannya membuatnya nyaman. Namun trauma yang ada pada dirinya membuatnya berpikir keras. Jika Ia keluar maka Ia akan menaiki mobil. Ia takut jika kejadian yang merenggut Eomma dan Appa-nya kembali terulang. Ia trauma dengan mobil.

"Kau takut?" jelas Jongin mengerti. Dokter yang selama seminggu ini menangani Kyungsoo berkata jika Kyungsoo mengalami trauma berat dengan mobil. Besar kemungkinan Kyungsoo tidak bisa lagi berada didalam mobil kecuali rasa takut itu menghilang.

Kyungsoo mengangguk pelan membuat Jongin kembali tersenyum. Dua kali Kyungsoo membalas perkatannya. Itu artinya Ia sudah bisa kembali berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Jongin hanya berharap jika depresinya segera menghilang.

"Aku akan selalu disampingmu, Kyungie. Kau percaya padaku?" entah mendapat siraman rohani dari mana. Tiba-tiba bibir yang biasanya datar dan dingin kini menjadi lebih hangat dan...apa tadi dia bilang? Percaya pada Jongin?

Mata bulat itu mengerjap lagi. Mencoba mencerna perkataan namja tan itu. Kemudian sebuah senyuman tersungging dibibir hati Kyungsoo.

"Gomawo" ia mengucapkan tanpa suara. Sesaat Jongin tertegun. Apa baru saja Kyungsoo mengucapkan terimakasih padanyanya?

"Kau mau aku membantumu mandi?" Jongin mendelik menyadari perkatannya sendiri. Bodoh! Bagaimana mungkin dengan terang-terangan Ia mengatakan itu. Sungguh, ia merasa canggung sekarang. Menatap mata bulat yang tak berkedip itu membuatnya semakin salah tingkah. Jujur, Ia belum pernah membantu Kyungsoo mandi. Yang membantunya selalu Sehun.

"Sehun" ucapan tanpa suara lagi. Jongin mengerutkan keningnya. Oke, mungkin kepalanya baru saja berpikir jika yang selama ini membantu Kyungsoo mandi adalah Sehun. Tapi saat Kyungsoo mencari Sehun saat Ia dengan baik hati menawarkan bantuan, membuat Jongin mendengus sebal.

"Aku yang akan membantumu mandi" tegas. Bibir tebal itu sedikit mengerucut. Tentu saja ini kejadian yang jarang. Kyungsoo terdiam melihat tingkah Jongin yang satu ini. Tangan kokoh yang masih melingkar dipinggangnya semakin terasa erat memeluknya.

"Tapi Sehun" Kyungsoo menggerakkan tangan mungilnya. Tentu saja Jongin tidak mengerti artinya. Yang Ia tahu adalah, Ia harus segera membantu Kyungsoo mandi sebelum Ia kesiangan sampai di butiknya.

Dengan cekatan Jongin mengangkat tubuh mungil itu. Membawanya menuju kamar mandi tanpa penolakan. Emh, sepertinya Jongin akan terserang demam tinggi setelah melihat betapa indahnya tubuh Kyungsoo.

.

.

.

"Jadi benar ada pihak dalam yang merencanakan ini?" Jongdae menggemeratakkan rahangnya ketika mendengar penjelasan dari Kris dan juga Chanyeol. Ia merasa dihianati.

"Kau harus masuk ke Do Corp dulu, Jongdae. Usahakan kau menjadi bagian di perusahaan itu" ucap Kris. Mata elangnya menatap tajam rekan sekaligus sahabatnya itu.

"Tapi jangan gegabah. Setiap tindakanmu bisa memancing kecurigaan mereka" kini Chanyeol yang berkata

"Tapi bagaimana bisa aku masuk kesana? Aku bukan Putra Junmyeon"

"Kau Putranya, bodoh! Meskipun kau Putra tiri, aku yakin Junmyeon memberimu hak yang sama dengan Kyungsoo" Chanyeol mulai mengunyah bola-bola renyah dari toples yang Ia bawa.

"Apa itu tidak akan mencurigakan?" Jongdae mengerutkan keningnya

"Tidak bagi mereka yang tidak mengetahui tujuanmu" Xiumin yang sedari tadi berkutat dengan formulanya kini mulai mengeluarkan suaranya.

"Maksudmu, hyung?"

"Mereka yang tidak mengetahui siapa kau sebenarnya tidak akan menaruh curiga padamu. Sebaliknya, seseorang yang mengetahui jika kau adalah bagian dari agent ini, pasti akan sangat terlihat raut ketakutan dan khawatir darinya" penjelasan Xiumin mendapat anggukan dari Kris dan Chanyeol.

"Kau tenanglah. Appa-ku akan membantumu" final. Ucapan Chanyeol membuat Jongdae tersenyum puas. Ia lupa jika Appa Chanyeol adalah sekertaris kepercayaan Junmyeon di Do Corp. Dan sudah pasti Sekertaris Park akan membantunya masuk dengan mudah ke Perusahaan itu.

"Baiklah, aku akan mencobanya"

.

.

.

TBC

.

.

.

Anyeong... maaf update nya telat..banget!

JongSoo sibuk sekarang

Tiap malem nyuri-nyuri waktu buat nulis biar cepet kelar chap 7 ini.

Selain sibuk yang membuat Chap ini terlambat update adalah JongSoo harus bener-bener memikirkan kekuatan karakter di masing-masing cast.

Kan gak enak kalo karakter lainnya cuma nyempil-nyempil gitu doang, khekhekhe...

Oke, JongSoo akui adegan Kaisoo diatas kesannya maksa banget. Tapi semoga kalian tetap menyukainya, nde?

Efek begadang mulu, mata panda melebar, otak juga radak gesrek, jadi maklumi saja kalau chap ini radak absurd XD

Seperti biasa, riview dari readers sekalian (?) adalah bentuk penghargaan dan penyemangat untuk JongSoo.

Big Thanks to :

kyung1225, kyungiesoo123, xkaisoone, Dayeji Ln, taufikunn9, kaisoomin, Im Magnae, meyriza, Kaisooship, waiz Snivy, overdokai , kkoch11, pikolocomel, Lovesoo, rianita701, abelkyu, BabyWolf Jonginnie'Kim, Insooie baby , nstplw, BigSehun'sjunior, kimsoo, Rahmah736 , Dks, waizmgbi, nara, Rey16 , Baby Crong, Kang Chaerin, anisafransiskaa, FarydahKAISOO8812, ica, Guest, Sofia Magdalena, alex, kyunginsoo, thalia.

Jongsoo mencintai kalian semua... XOXO