Di awal bulan pertengahan musim dingin, Boruto pernah merengek kepada ibunya, ia terus bertanya dan meminta penjelasan kenapa ayah yang ia rindukan tak kunjung pulang. Diumurnya yang masih belia, tentu saja ia sudah dapat menyadari bahwa kehadiran ayahnya dirumah tidak seperti kehadiran ayah teman-temannya yang lain.
Ayahnya... hanya akan pulang tiga hari dalam seminggu dan jika ia atau Kaa-san sedang sakit, Ayahnya baru akan tinggal seminggu penuh. Dan entah kenapa, tiba-tiba ayahnya belum juga terlihat oleh kedua mata biru Boruto. Padahal ini sudah memasuki minggu ketiga.
Boruto kecil resah, seharusnya ia dapat memeluk hangat ayahnya sekarang. Boruto sangat merindukannya sampai ia tak mempedulikan bahwa Boroto kecil sudah menuggu didepan pagar rumahnya berjam-jam yang lalu dengan cuaca dingin menyelimuti.
Yang ia ingat, Kaa-san nya pernah berkata bahwa ayahnya juga memiliki keluarga lain selain dirinya dan Kaa-san. Tentu saja hal itu membuat Boruto sedih.
Jika Ayahnya sedang bersama kelurga lain, lalu apa itu berarti Ayahnya tidak akan pulang lagi ? apa ayahnya juga tidak akan menyayanginya lagi... ?
Banyak sekali spekulasi yang terus meracuni pikiran Boruto kecil kala itu...
Boruto iri..
Ia tak ingin perhatian Ayahnya terbagi kepada orang lain.
Hingga suatu hari dimana rasa irinya sudah tak terbendung lagi, Boruto kecil memberontak kepada ibunya, hingga dia berlari keluar rumah tanpa melihat situasi dimana kala itu terdapat mobil yang melaju dengan kecepatan yang tinggi. Dan yang Boruto kecil tahu bahwa ia melihat dengan kedua matanya sendiri saat dimana Kaa-san meninggal karena menyelamatkannya dari hantaman keras sebuah truk.
.
.
.
.
.
_X_X_
Jarum jam menunjukan pukul 11 malam. Dan disebuah ruangan inap yang sepi itu terdapat sesosok kecil yang tengah meringkuk mendekap seorang pria disampingnya. Seorang anak kecil bersurai pirang yang kini memaksa untuk dapat bertemu dan tidur disamping ayahnya. Hampir enam jam sudah Boruto dalam posisi seperti itu, terus menunggu hingga ayahnya kembali sadar.
Disisi lain seorang wanita baya yang sedang duduk dan melihat interaksi Boruto yang sedaritadi terus mendekap anaknya membuat ia tersenyum tipis. Ia bisa melihat begitu sayangnya cucunya itu terhadap anaknya.
Jika ia mengetahui fakta tentang kehadiran Boruto lebih cepat. Mungkin sudah dari dulu ia menyingkirkan 'istri pria' anaknya itu. Karena yang pantas untuk menjadi pewaris setelah Naruto hanyalah Boruto seorang. Bukan anak yang lahir dari rahim seorang pria. Dan ia cukup puas mengetahui fakta bahwa Uchiha itu sudah pergi membawa anaknya sendiri. Yang ia perlu hanya memastikan bahwa Naruto tidak akan bisa mencari-cari keberadaan mereka.
..
"Boruto, ayo kita pulang. Ada Iruka yang akan menjaga ayahmu disini." Ucap lembut wanita itu. Mengelus lembut surai pirang cucu kesayangannya.
"TIDAK MAU." Balas Boruto dengan menyentak tangan Kushina kasar dari rambutnya. "Jangan sentuh rambutku selain Tou-san !" lanjutnya dengan mengeratkan pelukannya kepada Naruto yang masih berbaring tenang tak sadarkan diri.
Merasa sedikt terkejut dengan tindakan Boruto yang kasar, Kushina mencoba menenangkan dirinya dengan berasumsi bahwa Boruto masihlah menghawatirkan Ayahnya yang tak kunjung bangun. Dia pun kembali membuka suaranya untuk membujuk Boruto.
"Jika Boruto tetap disini, nanti Tou-san tidak bisa tidur nyenyak. Jadi sebaiknya kita pulang."
Seketika Boruto melepaskan dekapannya dari Naruto. Namun yang terjadi justru Boruto menatap dingin kearah Kushina dan memandang seolah-olah dirinya sebagai penggangu. "Pergi." Ucapnya pelan.
"AKU BILANG PERGI !"
Teriakan keras yang dilakukan oleh Boruto membuat suasana dalam ruangan itu menjadi tegang. Raut shock Kushina begitu kentara lantaran sikap yang ditunjukan Boruto kepadanya. Ia sungguh tak menyangka kelakuan Boruto bisa seburuk ini.
'Apa sebenarnya yang terjadi dengan anak ini ?' Pikirnya bingung sekaligus kesal.
"Jaga ucapanmu pada nenekmu sendiri, Boruto !" Balasnya dengan oktaf yang lebih tinggi. "Cepat pulang atau nenek akan memaksamu dengan ke— "
"TOU-SAN !"
Ucapan yang dilontarkan Kushina terpotong karena tiba-tiba Boruto memanggil nama anaknya dan melihat secara inten kearah Naruto. Dalam pandangannya ia melihat tangan anaknya mulai bergerak dan sedikit demi sedikit kelopak mata Naruto pun terbuka walaupun dengan pandangan yang masih terasa kosong.
Mengetahui anaknya telah sadar, segera saja ia menekan tombol yang berada diatas ranjang untuk memanggil dokter. Melupakan kejadian yang terjadi sebelumnya dengan Boruto.
"Naruto .. kau mendengarnya ? ini Kaa-san. Syukurlah kau siuman."
"Hiks... Tou-san... Hiks.."
Suara tangis anak kecil tiba-tiba saja terdengar. Naruto yang setengah sadarpun kini mengalihkan pandangannya pada sosok kecil putranya yang berada tepat disampingnya.
"Boruto...".
Ucapnya dengan suara yang terdengar lemah. "Daijoubu."
.
.
.
.
_oXo_
"Bagaimana keadaan anak saya ?" Tanya Kushina dengan suara khawatir. Pandangannya pun ia alihkan kepada Naruto yang kini sudah sadar dari komanya selama 3 hari. Disisilain Boruto masih setia dengan berada disisi ayahnya dengan terus memeluk pinggang Naruto diatas ranjang.
"Anda tak perlu cemas Nyonya. Naruto-san sudah melewati masa kritis. Sekarang hanya tinggal memulihkan luka-luka pada tubuhnya saja." Balas sang dokter tenang.
"Ah.. Syukurlah."
"Kalau begitu saya permisi, Nyonya." Ucap dokter yang bername-tag Yakushi Kabuto itu.
"Ha'i, terima kasih Kabuto-san."
Sang dokter itu pun melangkah keluar. Meninggalkan tiga orang yang masih berada diruangan ini. perasaan lega kini menyelimuti Kushina. Ia sungguh bersyukur anaknya bisa sadar lebih cepat dari dugaannya.
"Nah, Boruto.. kau dengarkan apa yang dikatakan Dokter, jadi ayo lepas pelukanmu, dan biarkan Tou-san beristirahat."
Kushina yang merasa keadaan sudah membaik, mencoba untuk membujuk Boruto kembali agar melepaskan dekapan erat yang telah berjam-jam ia lakukan pada Naruto. Memberikan bujukan agar cucunya itu tidak membuat keadaan anaknya memburuk. Jujur saja Kushina sudah cukup lelah hari ini, dan ia ingin segera pulang dan tidur nyenyak dikasurnya. Ditambah juga anaknya sudah siuman. Jadi tak ada lagi hal yang perlu ia khawatirkan.
"..."
Boruto tetap diam. Tidak merespon ataupun menuruti bujukan Kushina. Bahkan ia semakin mengeratkan pelukannya pada sang ayah. Hingga ringisan pelan meluncur dari bibir Naruto karena lukanya yang tidak sengaja tertekan oleh Boruto.
"Boruto !" Teriak Kushina yang sudah benar-benar habis kesabarannya.
"Sudahlah Kaa-san, biarkan Boruto seperti ini. Mungkin dia ingin tidur bersamaku."
Sebuah suara dari pria yang kini tengah berbaring lemah itu mengintrupsi interaksi diantara Boruto dan ibunya. Mencoba memahami keadaan Boruto yang mungkin sedang menghawatirkannya. Dan jujur bagi Naruto hal ini sama sekali tidak menggangu. Justru sebaliknya, ia merasa bahwa sikap Boruto begitu menggemaskan dimatanya.
"Oh yah.. Dimana Menma sekarang Kaa-san ?" Tanyanya yang kini teringat akan anak pertamanya. Dari pertama kali dirinya sadar, hanya Borutolah yang tertangkap oleh pandangannya. Sedikitnya ia merasa cemas dengan anak sulungnya itu, mengingat Menma jauh lebih cengeng dibandingkan Boruto.
...
"Jangan cemaskan anak itu lagi, Naruto. Menma sudah tidak berada disini." Ucap Kushina dengan wajah tenangnya. Tak mempedulikan raut anaknya yang kebingungan.
"Apa maksud Kaa-san ?" Tanyanya memastikan sekali lagi apa yang dikatakan oleh ibunya.
.
.
"Sasuke sudah membawa Menma pergi jauh dari sisimu."
Wajah Naruto pun mengeras seketika. Emosinya tiba-tiba saja meluap diwajah pucatnya hingga menampakan raut yang penuh dengan amarah.
Ia mengerti apa yang dimaksudkan oleh ibunya.
Sasuke...
...telah menghianati dirinya dengan membawa kabur Menma.
.
.
.
.
.
.
TBC
Chap ini berisi sedikit tentang Boruto's side. Karena saya merasa harus menceritakan kenapa Boruto bisa mengidap Bipolar. Dan intinya semua ini karena trauma dan tentu saja karena Naruto juga :v
