"terima kasih untuk film nya tadi, aku tidak menikmatinya" Lucy dan Natsu sudah diluar apartemen Lucy

"kau tidak menikmatinya?"

"tidak, aku bercanda" Lucy tertawa pelan dan berjalan pelan.

"Lucy-san!" Natsu memanggil Lucy dan Lucy berbalik.

"terima kasih untuk semuanya"

"kau sudah dapat investasinya?" Lucy kelihatan antusias

"kontraknya akan dikirim, semuanya berkat kau"

"iya, sama sama..bersabarlah beberapa minggu lagi ya? setelah itu kontrak kita berakhir" Lucy tersenyum.

Natsu tak bisa bicara, beberapa minggu itu waktu yang lama tapi Natsu merasa terlalu singkat.

"hei? aku masuk ya? kau pulanglah, selamat malam" Lucy membungkuk dan pergi, Natsu hanya menatap punggung mungil Lucy yang berjalan menjauh dan tak lama memacu mobilnya pulang.

Keesokannya Natsu mengunjungi bibinya.

"apa apaan ini Natsu?!" Grandine melempar foto foto Natsu yang bersama Lucy.

"bibi, dapat darimana? bibi mengikutiku?" Natsu melihat foto saat dia didanau bebek karet dengan Lucy, dan saat tadi malam mereka nonton bioskop.

"dalam waktu 3 minggu, media akan tau ini! kau menikah dengannya? ya ampun, kepalaku!" Grandine memegang kepalanya yang tiba tiba terasa berat dan Natsu membantu Lucy duduk di sofa.

"jangan menyentuhku!" Natsu melepas pegangannya dari lengan Grandine

"bi, berita ini akan ditelan waktu. tak ada yang peduli"

"ya untuk orang biasa, tapi media mengincarmu! seorang presdir World hotel diam diam menikahi seorang wanita PNS, bukan itu yang mau kudengar setelah aku membesarkanmu 20 tahun"

"maafkan aku, aku akan memperbaikinya"

"bagaimana? dan kudengar Lissana sudah kembali. Kau..tak berencana kembali dan mengulang semuanya dengannya lagi kan?" Natsu diam.

"pulanglah, aku mau sendiri" Natsu mengerti bibinya shock dan berdiri lalu berlalu pergi.

Tak lama setelah Natsu pulang, seseorang mengetuk pintu ruangan Grandine.

"sudah kubilang pu-" Grandine diam melihat orang yang datang.

"selamat pagi bi" Lissana tersenyum.

"pagi, duduklah"

"bagaimana kabar bibi?" Lissana duduk diseberang Grandine.

"baik, mau minum teh?"

"tidak,aku hanya ingin menyapa bibi"

"hn, bagaimana Paris?"

"indah, tapi aku merindukan Fiore"

"kau tak berencana kembali ke Paris?" hati Lissana tertohok, jelas sekali Grandine ingin Lissana segera pergi lagi

"entahlah, aku masih punya pekerjaan sampai 4 minggu kedepan disini" Lissana mencoba tersenyum

"begitu, besok ayo makan siang bersama" Lissana mendengar kata bersama dan berfikir akan ada Natsu dan menyetujuinya.

Saat pulang Lissana mampir di café Elfman. Dia, Loke dan Elfman adalah sahabat sejak mereka masuk di universitas seni yang sama.

"paman!" Lissana menyapa Elfman yang sedang duduk membaca koran dibalkon.

"Lissana? wah, kau semakin cantik" Elfman membalas.

"paman juga semakin jantan" Lissana terkekeh.

Mereka berbincang sebentar saat Loke akan masuk lewat pintu dibalkon, dia melihat Lissana dan langsung bersembunyi dibalik dinding balkon.

"kau mau pergi?" tanya Elfman

"ya" Lissana bersiap siap pergi

"tak mau menunggu Loke?"

"tidak usah, aku yakin dia sedang sembunyi karena melihatku disini" Loke tersenyum dibalik dinding.

"baiklah, kau mau kubungkuskan makanan?"

"tidak perlu paman, aku pergi ya" Lissana berjalan keluar dari café tersebut dan Loke masuk.

"wah, kau sembunyi dimana?"Elfman melihat Loke

Loke hanya tersenyum dan masuk ke studio lukisnya dan melihat lukisan seorang gadis yang tersenyum manis.

"dia cocok dengan kakak, boleh kan aku berharap padamu?" Loke mengusap lukisan gadis itu yang ternyata Lucy.

Keesokan siangnya,Lucy mendapat telepon saat dikantor dan menyuruhnya kesebuah restoran khas Jepang oleh seseorang yang menelponnya dan Lucy langsung berangkat.

"kenapa beliau ingin bertemu denganku?" Lucy melihat kaca dan merapikan rambutnya.

Saat sampai Lucy masuk ke dalam ruangan yang sudah direservasi.

"selamat datang Heartfilia-san" Grandine tersenyum dan Lucy melihat kearah gadis disebelahnya yang kelihatan terkejut karena kedatangannya.

"kau juga?" Lucy melihat Natsu dan duduk disebelahnya.

"jangan tegang Heartfillia-san" Grandine melihat Lucy nampak gugup dengan keadaan ini

"jadi Lissana..Natsu sudah menikah, kau pasti sudah mendengar kan?" Lissana kaget bukan main, Natsu dan Lucy juga kaget.

"bibi!"Natsu menegur bibinya halus.

"ini, Lucy Heartfillia, istrinya..cantik kan? mereka saling mencintai kau tau" mata Lissana berkaca kaca.

"BIBI!" Natsu menggebrak meja dan saat itu juga Lissana berlari keluar diikuti Natsu.

"maafkan aku, pertama kali kita bertemu dan berakhir seperti ini" Lucy sedikit kecewa dan shock.

"ya?" Lucy tak bisa bicara lagi, dia mengikuti Natsu yang mengejar Lissana keluar.

"Lissana!" Natsu meneriaki Lissana yang sudah menaiki bus pulang, dan akan mengejarnya menggunakan mobilnya.

Saat Natsu berbalik, dia melihat Lucy namun tetap akan pergi. Lucy menahan tangannya.

"maaf" ucap Natsu pelan dan memasuki mobilnya meninggalkan Lucy.

Lucy berjalan pelan menuju mobilnya, kepalanya berisi pikirannya yang kacau.

"kenapa aku seperti orang bodoh?" Lucy bicara sendiri di mobilnya dan mulai menangis bahkan saat dia dijalan dia tetap menangis.

"aku keluar dari rumah ini!" Gray berteriak pada Juvia yang dihadapannnya ,keadaan rumah mereka jauh dari kata rapi, sangat berantakan.

"pergi! jangan berpikir untuk kembali kau!" Juvia masih terbawa emosi.

Saat Gray akan keluar, Lucy masuk kedalam rumah Gray dan Juvia.

"Gray" Lucy melihat Gray seperti habis dipukuli.

Lucy melihat rumah itu, sangat berantakkan namun tetap berjalan mendekati Juvia.

"seperti inilah rumah kami,dan..rumah tangga kami" Juvia menyilangkan tangannya didadanya dan berusaha tak melihat Lucy.

"Juvia, aku tak menikah" Juvia membulatkan matanya

"a-apa?"

"aku..tak menikah dengan siapapun, semuanya hanya lelucon, dari awal sampai akhir" Lucy menunduk

"dan..Natsu Dragneel?"

"kami punya kesepakatan" Lucy keluar dari rumah itu dan memacu mobilnya kesuatu tempat.

"aku sudah menduganya dari awal, tapi Lucy.." Juvia merasa tak enak pada Lucy karena dia lah, Lucy berbohong tentang semuanya.

Lucy ada didepan rumah Lissana, dia ingin mengetok pintu itu, tapi dia mengurungkan niatnya dan memilih menunggu didepan. tanpa sadar, dia menunggu hingga malam dan berakhir dengan tertidur diteras Lissana.

"sudah pagi?" Lucy terbangun dan sadar matahari sudah naik..Lucy berdiri dan melihat pintu rumah Lissana.

"mungkin aku sebaiknya pergi"Lucy berdiri dan akan segera pergi namun lagi lagi tertahan oleh sebuah mobil.

Natsu dan Lissana melihat Lucy yang melihat mereka dimobil dan segera keluar.

"selamat pagi" Lucy menyalami dua orang yang baru datang.

"selamat pagi, ayo masuk dulu" ucap Lissana ramah.

"bolehkah?"

"pasti kau menunggu semalaman, wajahmu pucat. Minumlah teh hangat dulu"

Natsu dan Lucy duduk disofa yang bersebrangan sementara Lissana menyiapkan teh .

"silahkan diminum" Lissana menyodorkan cangkir teh pada Lucy.

"terima kasih"

"Heartfillia-san, aku yang berterima kasih banyak"

"untuk apa?"

"berkat kau, kami sudah memperbaiki hubungan kami dan bertemu lagi" dada Lucy seakan ditusuk pisau tajam sedangkan Natsu hanya diam membisu.

"be-benarkah? omedetou" Lucy berusaha tersenyum dan menunduk.

"kau mau sarapan bersama kami?" tawar Lissana

"ah, tidak..aku harus pergi, aku harus bekerja.. aku benci hari senin" Lucy berdiri dan meraih tasnya.

"aku permisi" Lucy membungkuk lalu pergi.

"tadaima" Lucy menutup pintu apartemennya namun tak ada balasan, mungkin Mavis baru berangkat.

Lucy masuk kekamarnya dan melempar tasnya sembarang lalu berlari kekamar mandi.

Lucy melihat bayangan dirinya dikaca kamar mandi, wajahnya memerah dan matanya bengkak, bibirnya membiru karena semalaman diluar tanpa penghangat apapun, rambut blonde sepinggang indahnya terlihat kusam tak terawat, Lucy mengambil gunting dan mulai memotong rambutnya.

'aku harus kuat, Natsu Dragneel bukan siapapun bagiku..tapi, kenapa hatiku begitu sakit? aku tak mengerti hati wanita, walaupun aku wanita'

Air mata Lucy mengalir deras dipipinya, saat selesai Lucy menyisir rambut blondenya yang dia potong sampai bahunya.

"tidak apa apa Lucy, tidak apa apa" Lucy mengusap air matanya

"ya tuhan kau mengagetkanku!" Mavis membuka pintu kamar mandi dan melihat rambut Lucy berantakan dilantai.

"mavis, kau sudah pulang? ini kan masih pagi" Lucy menepuk nepuk wajahnya untuk menghilangkan bengkaknya.

"kau menangis?" Mavis melepas tangan Lucy yang menutupi wajahnya.

"tidak"

"kau juga memotong rambutmu, apa yang terjadi?" Mavis mengusap wajah Lucy dan memeluknya.

"aku tidak apa apa Mav, kau harus pergi kan?" Lucy melepas pelukan Mavis

"aku tak akan pergi sebelum kau tenang"

"aku…aku" Lucy memeluk Mavis dan Mavis menepuk nepuk punggung Lucy.

Lucy menceritakan semuanya pada Mavis dan Mavis nampak shock.

"kau menyukainya ya?" pertanyaan Mavis membuat Lucy sendiri mencari cari jawabannya.

"saat melihatnya dengan gadis itu, pikiranku tenang tapi hatiku kacau, saat aku tau dia masih menyukai gadis itu..hatiku sakit, pikiranku kacau" Lucy menutup wajahnya dengan telapak tangannya.

Mavis tau, sahabatnya ini menyukai Natsu.

"karena itu kau memotong rambutmu?"

"iya, aku tak mau 3 tahun terbuang lagi karena aku jatuh cinta pada orang yang salah..aku berpikir mungkin aku harus memulai dari awal" Lucy memperlihatkan senyuman manisnya.

"tersenyumlah Lucy ,jangan menangis karena laki laki.. kau bukan gadis pendek gendut dan jelek, kau cantik, pintar dan punya senyuman paling manis, tidak mungkin tak ada laki laki yang menyukaimu" Mavis menghapus air mata Lucy.

"terima kasih Mav, kau sahabatku yang paling baik..ah tidak, kau kakakku" Lucy mencubit pipi Mavis, mungkin Mavis masih kuliah namun dia sedang mengambil S2 dan bekerja sambilan disebuah café dipusat Magnolia, dia lebih tua 2 tahun dari Lucy.

"dan kau adikku yang cengeng" Mavis tersenyum

"mungkin sebaiknya aku bekerja saja" Lucy melirik Mavis

"yah, pulanglah sebelum makan malam, aku akan masak yang lezat"

"ok" Lucy berdiri dan berlari kekamarnya untuk siap siap bekerja.

"kalau paman dan bibi ada disini, kalian pasti bisa menghiburnya, dia mengalami masa yang buruk sekarang" Mavis melihat foto keluarga Lucy kecil dengan kedua orang tuanya yang dipajang didinding.

"Sting, mana laporan yang kuminta semalam?" Lucy bertanya pada rekan disampingnya.

"eh? belum, akan kuambilkan" Sting nyengir dan kembali kemejanya

"selalu begitu" Lucy berdecak kesal

"Lu-chan? bagaimana tentang acara Pertemuan Internasional tahun ini?" tanya Levy sambil membawa berkas.

"aku sudah menyusun semuanya dan akan diadakan di Gold Resort"

"wah, Gold Resort? kata orang resor itu bintang lima"

"iya, aku akan men survei resor itu lusa dengan Sting"

"jadi, kau juga akan melakukan perjalanan dinas mensurvei? serahkan padaku saja"

"tidak, kau juga punya pekerjaan yang menumpuk disini" Lucy tersenyum

"tapi kau pasti lelah"

"tidak apa apa"

"Lucy pasti baru putus dengan kekasihnya, dia menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan, bahkan memotong rambutnya" Sting berbisik pada Levy

"hei! jangan menggosipkan orang yang ada disampingmu" Lucy berbalik pada Sting ,dan Sting langsung bertingkah pura pura tidak tahu, sedangkan Levy hanya terkekeh.

DRRT DRRT

Natsu melihat handphone-nya

"ya?"

"apa kau sibuk?ayo makan siang"Lissana mengajak Natsu

"aku sedikit sibuk, jadi makanlah sendiri ya?"

"begitu? baiklah" telepon mereka terputus.

TOKK TOKK

"masuk" Natsu melihat Wendy masuk

"ini laporan Gold Resort, semuanya ka-" belum selesai Wendy bicara, handphone Natsu berbunyi lagi, tapi Natsu hanya mendiamkannya saja.

"tadaa!" Lissana masuk kedalam ruangan Natsu tanpa aba aba.

"Lis" Natsu melihat Lissana masuk dan Wendy membungkuk hormat lalu keluar.

"kenapa tak mengangkat teleponnya?" tanya Lissana

"gomen,managerku sedang bicara tadi"

"oh,ayo makan..aku lapar" mereka berjalan bersama menuju lift, Lissana mengaitkan tangannya ke lengan Natsu namun Natsu menolaknya dan saat Lissana mencoba kedua kali, Natsu hanya diam.

Juvia keluar dari lift dan melihat Natsu begitu dekat dengan seorang gadis yang dilihatnya beberapa minggu lalu disungai.

"Natsu-san?" Juvia menyapa Naatsu

"selamat siang, ada apa?" Natsu membalas

"aku ingin bicara" Lissana mengerti dan turun duluan

Saat Lissana sudah pergi,Juvia mulai bicara

"bagaimana kau bisa seperti ini?"

"maksud anda?" Natsu tak mengerti

"aku tau kau dan Lucy menikah bohongan tapi pamer hubunganmu dengan gadis itu? kau kejam" Juvia menampakkan ekspresi tak suka pada Natsu.

"apa Lucy memberitahumu?"

"ya, dia sudah bilang bisa kau membantunya membuat lelucon anak kecil begini?"

"sebentar" Natsu mencoba memotong namun Juvia nampak pura pura tak mendengar

"apa kau berusaha membuatnya nampak bodoh?"

"TUNGGU!" bentak Natsu, Juvia kaget dan diam.

Natsu diam dan berpikir, lalu meninggalkan Juvia tanpa sepatah katapun.

"hey! Natsu Dragneel!" Juvia seperti bicara dengan batu

Natsu menghampiri Lissana yang menunggunya diluar hotel.

"Lis, maafkan aku" Lissana nampak kecewa namun Natsu tak bisa berbuat apapun dan sekarang berada di mobil menuju kantor Lucy.

DRRT DRRT

Lucy sudah mendengar handphonenya bergetar dari tadi namun berusaha mengabaikannya,tapi orang yang menelponnya seakan tak menyerah dan terus menggangu Lucy

"moshi mosh?" Jawab Lucy

"aku disekitar kantormu, ayo bertemu" Lucy diam, mungkin ini saatnya.

"ada apa?" Lucy mendatangi Natsu yang sudah menunggunya.

"kau memberitau Juvia?"

"ya"

"kenapa? apa kau tak percaya padaku?" tanya Natsu

"tidak, aku harus kembali bekerja, bicara saja lewat telepon" Lucy akan berbalik

"bila marah katakan, jangan bersikap aneh begini, itu menakutkan" Lucy berbalik

"aku tak marah ,apa yang membuat aku marah? semuanya kan hanya sandiwara"

"semuanya?"

"tentu saja" Lucy akan pergi lagi namun tangan Natsu menahannya.

"aku tau, hubungan kita sudah berakhir, jadi mari tidak bertemu lagi..permisi" Lucy melepas kasar tangannya dan pergi, Natsu tak tau apa yang merasuki dirinya, bibirnya kelu saat dihadapan Lucy.

Lucy kembali ke mejanya dengan pikiran yang kacau, dia tak bisa berkonsentrasi sama sekali.

Saat Natsu kembali kerumahnya, dia membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin lalu meminumnya, namun dia mengingat kata kata Lucy kalau mereka tidak perlu bertemu lagi, dia merasa hatinya sedang depermainkan Lucy Heartfillia dan membanting botol air malang tadi.

"tadaima" salam Lucy

"okaeri Lucy" sambut Mavis

"baunya harum,kau masak apa?"

"capcay, tumis daging dengan bihun, dan tumisan gurita kecil" Lucy bersorak ria

"makan enak!" Lucy duduk dikursi meja makan dan mulai makan dengan tenang bersama Mavis.

"Lucy?"Mavis mencoba bicara

"ya?"

"kau mau kujodohkan?"

"boleh" Mavis senang

"temanku seorang asisten dosen, kakaknya seorang analis di Amerika, gajinya 100000 jewel sebulan dan punya kapal pesiar sendiri dan dia ingin mengenalmu"

"cukup menarik"

"dia akan kembali besok, kau mau bertemu dengannya?"

"boleh, tempatnya dia saja yang tentukan" Lucy meneruskan makannya

Sementara Lucy makan enak, Natsu harus dapat kabar tak menyenangkan saat kembali ke hotel.

"kenapa bisa seperti ini?!" Natsu membanting berkas berkas itu dimeja dihadapan Wedy dan Happy

'aku melihat laporan dari manager di world hotel dan menemukan ada dana yang seharusnya menjadi anggran resor malah mengalir ke rekening pribadi mereka" Wendy menjelaskan.

"aku akan ke resor lusa, aku harus turun sendiri" Natsu nampak menenangkan pikirannya

"saya akan siapkan semuanya" Happy berseru.

"aku serahkan hotel padamu, adakan rapat dengan pemegang sahan Gold Resort dan pecat yang perlu dipecat" Natsu mengambil jasnya dan pergi

Seesokan harinya, Lucy sedang siap siap untuk kencan buta dengan kakak teman Mavis itu.

"Lucy, kalian bertemu di Sky Lounge, dia sudah disana" Mavis bicara hanya memasukkan kepalanya disisi pintu tanpa masuk.

"Sky Lounge?"

"World hotel" tambah Mavis

"disitu? kenapa harus disitu?"

"kau sepakat tempatnya dia yang tentukan"

"aku tak mau"

"jangan begitu, cepatlah, dia sudah menunggu" Mavis menutup pintu kamar Lucy

"menyebalkan!" Lucy mengacak poninya pelan

Lucy sudah berada di Sky Lounge dan melihat seorang pria muda menunggunya.

"Hiro-san?"saat pria yang dipanggil menengok Lucy tersenyum

"kau lebih cantik dari yang diceritakan Mavis" Lucy tersipu malu

"benarkah? terima kasih"

"mau pesan apa?"

"apa yang enak?"

"katanya x-Steak disini enak"

"aku pesan itu"Lucy tersenyum namun saat melihat Natsu sedang berjalan kearahnya,senyumnya memudar

Natsu melihat Lucy dengan seorang pria, dia berjalan menuju mereka namun berbelok kearah beberapa orang berpakaian rapi dimeja sebelah Lucy.

Natsu menyalami orang orang itu dan duduk sambil melihat Lucy yang asik berbincang dengan cowok itu

"kau mengenal dia?" tanya Hiro pada Lucy

"tentu saja, dia presdir hotel ini kan" Lucy senyum

Saat mereka makan, rombongan Natsu bubar begitu juga dengan Natsu, Lucy hanya melihatnya dengan sendu.

"apa dagingnya keras?" tanya Hiro melihat Lucy sedikit kesulitan

"tidak ,ini enak"

Hiro hanya tersenyum dan Lucy permisi ke toilet.

Lucy membasahi tangannya dan membasahi sekitar mulutnya lalu mengambil beberapa lembar tisunya dan melap-nya.

Saat Lucy keluar dari toilet dan akan kembali ke Hiro, tiba tiba Natsu menarik tangannya .

To be continued