Mediant

Disclaimer: Shingeki no Kyojin © Hajime Isayama. Tidak ada keuntungan material apapun yang didapat dari pembuatan karya ini. Ditulis hanya untuk hiburan dan berbagi kesenangan semata.

Pairing: Levi/Hanji Zoe. Genre: Family/Hurt/Comfort. Rating: K+. Other notes: AU. Slice-of-Life. Family problems-oriented.

(Katanya, Dokter Hanji itu jenius. Dokter Levi juga hampir tidak pernah gagal dalam menangani operasi. Hidup pasangan dokter itu kelihatannya sempurna, tetapi, memangnya hidup siapa yang tidak memiliki kekurangan? Hukum yang sama berlaku untuk keluarga Levi dan Hanji.)


#6 – Three Years Later


Kedatangan Eren adalah sesuatu yang sangat serius untuk Hanji, dan perlahan, Levi menganggap ini sebagai sebuah titik perubahan yang luar biasa untuk Hanji dan dirinya. Hanji banyak berubah, ke arah yang lebih baik, tentunya, dan Levi merasa lega, diam-diam.

Tak ada lagi hari-hari tertentu di mana Hanji bangun siang dan mengulur waktu di atas tempat tidur, tak ada lagi Hanji yang sering sekali mengandalkan makanan cepat saji sebagai pengisi perut sehari-hari. Hanji bahkan bekerja lebih keras sekarang, dengan mengambil tawaran sebagai tutor di sebuah universitas swasta setiap Sabtu. Untuk tambahan pemasukan, katanya, dan itu demi masa depan Eren.

Banyak hal yang menjadi lebih baik di diri mereka, Levi juga turut merasakannya. Dia semakin paham apa itu tanggung jawab sebagai ayah, mengerti bagaimana menahan emosi untuk menjaga psikologis anak agar dia tidak berkembang menjadi lebih buruk. Levi juga mencoba untuk lebih cerdas dalam membagi waktu, karena tak jarang jika weekend, Hanji selalu ingin mengajak Eren untuk jalan-jalan dengan anggota keluarga yang lengkap.

Ya, Eren adalah sumber belajar keduanya. Levi, dalam perenungan heningnya sebelum tidur, berpikir bahwa inilah jalan Tuhan untuk memberitahu bahwa mereka harus belajar banyak dahulu sebelum diberi kewajiban mendidik darah daging mereka sendiri.

Diri mereka sendiri pun butuh banyak perbaikan sebelum menjadi orang tua sebenarnya. Dan mereka takkan mungkin mengetahui hikmah ini jika tanpa Eren.

Levi merasa beruntung akan dua hal. Satu, memiliki istri seperti Hanji yang telah membuat keputusan bijaksana untuk mengadopsi Eren. Dua, memiliki Eren sebagai putra angkat yang mengajarinya banyak hal. Setelahnya, barulah Levi menyadari, inilah makna keluarga yang sebenarnya.

Tiga tahun setelah kedatangan Eren, Levi sadar betul bahwa hidupnya dan Hanji telah semakin sempurna.


Hanji sudah akan tidur ketika dia menyadari pintu kamar Eren masih terbuka dan lampu menyala terang. Padahal, sudah pukul setengah dua belas. Hanji pun masuk.

"Kenapa belum ... Eren?" Hanji agak kaget karena Eren tak ada di kamar.

"Yaaa, aku di sini."

Hanji menuju balkon. Ternyata Eren di sana, berdiri di tepiannya, bertopang pada pagar dengan sebuah buku sebagai pusat perhatiannya ditujukan.

"Kau belajar? Astaga, Eren," Hanji menggelengkan kepala, "Ujian kelulusanmu 'kan sudah selesai. Apa lagi yang kau pelajari?"

"Belajar tidak harus saat akan ujian saja, ya 'kan," begitu Eren berucap ini, Hanji langsung tersenyum dan menepuk kepalanya. " Aku mau mempelajari pelajaran SMP."

Hanji penasaran, dia intip isi buku yang dibaca Eren dan kemudian dia balik untuk mengintip sampulnya. "Buku fisika SMP, kau pinjam di mana? Hei, apa tidak terlalu cepat?"

"Kubeli waktu kita berdua ke toko buku minggu kemarin, Bu," Eren masih sibuk membaca, tak terlalu dia perhatikan Hanji. "Aku mau tahu soal ini, supaya nanti tidak terlalu kaget."

Hanji mengangguk-angguk, "Baiklah, aku tidak bisa melawan rasa ingin tahumu," dia pun membiarkan saja Eren belajar lagi, dia tetap diam di posisinya, memandang ke kejauhan.

Lama mereka sama-sama diam. Eren bahkan sudah menghabiskan tiga lembar bacaan namun Hanji tak juga beranjak, membuat anak itu agak heran. "Aku bisa sendiri, Bu. Ibu tidur saja."

"Tidak, ah," Hanji melipat tangannya di atas pagar, merebahkan kepalanya di sana sambil memandang Eren, "Aku akan menungguimu belajar."

Eren merasa agak bersalah saat dia bisa melihat bahwa mata ibunya sudah berair dan ada jantung hitam di bawahnya. Segera di tutup bukunya. "Aku sudah selesai belajar ..."

Hanji tertawa kecil, "Tidak apa kalau kau mau terus. Sungguh. Jangan hentikan rasa ingin tahumu hanya karena tidak enak padaku."

Eren tertegun sesaat. Matanya berkedip cepat beberapa kali, kemudian dia berujar pelan, "Rasa ingin tahu ... rasanya Ayah dulu pernah bilang tentang itu ... entahlah. Aku agak lupa. Itu ingatan masa kecil ..."

"Ayah Levi atau Ayah Grisha?"

"Ayah Grisha," Eren menatap kosong, meski matanya terarah pada sampul buku. "Aku ... ingat sesuatu. Tentang rasa ingin tahu. Ingatanku agak samar ... tapi aku tahu Ayah Grisha pernah mengatakannya."

"Selalu ada ingatan masa kecil yang melekat di kepalamu, Eren. Bahkan setelah kau dewasa. Itu lumrah, aku juga mengalaminya."

"Oh ... yah, dia bilang ... bahwa rasa ingin tahu manusia itu adalah hal yang sulit dikalahkan. Mirip dengan yang kau katakan, Bu."

Hanji menepuk punggung Eren halus, "Senang mengetahui bahwa aku terdengar seperti orang tuamu yang sebenarnya."

Eren mengangkat kepalanya, lantas tersenyum tipis pada Hanji, "Ibu dan Ayah Levi ... memang sudah benar-benar jadi orang tuaku."

Hanji mendekat beberapa langkah, kemudian memeluk Eren. Dia memejamkan mata, semakin merapatkan pelukannya seiring napas yang dia hirup. "Terima kasih, Eren. Terima kasih. Maaf kalau aku berlebihan. Aku hanya sangat senang memilikimu sebagai anak. Aku senang bertemu denganmu. Kau membuatku dan Levi belajar banyak ... dan tentunya, membuat kami jadi lebih bahagia."

"Ibu sudah sering mengatakannya."

"Tapi aku tidak bosan," Hanji kemudian melepaskan pelukannya. Dia nyengir lebar, suara tawa sempat terdengar sebentar. "Aku sayang padamu. Tidurlah kalau kau mau, atau teruskan saja belajarmu kalau kau masih penasaran. Aku akan ke kamar, aku sudah mengantuk. Selamat malam, Eren."

"Selamat malam, Bu ... aku sayang Ibu. Dan ... Ayah."

"Yes, dear," Hanji berjalan menunggungi Eren sambil melambaikan tangan.

Ketika Hanji melintasi kamar Eren untuk keluar dan menuju kamarnya sendiri, Eren sempat melihat wanita itu mengusap pipinya.

Mungkinkah wanita itu menangis? Entahlah. Tapi hal yang dilihatnya itu membuat Eren segera beranjak dari balkon, menutup pintu lalu menuju tempat tidur. Ia tak ingin tidur terlalu malam, kemudian sesuatu terjadi padanya, yang membuat Hanji dan Levi khawatir.

Karena Eren menyayangi mereka.


Sebagian besar bagian rumah sudah gelap ketika Hanji datang malam itu. Eren, ketika ditengoknya, masih asyik bermain game di kamar. Dia biarkan saja karena dia tahu anak itu pasti perlu banyak penyegaran setelah ujian tingkat akhir SD. Levi, ternyata sedang duduk di tepi tempat tidur tanpa melakukan apapun. Hanji tersenyum, dapat dia pastikan bahwa lelaki itu pasti menunggunya.

"Ada apa, Levi? Sepertinya kau menungguku sejak lama," Hanji duduk di samping Levi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia segera pergi mandi agar tak membuat suaminya menunggu lebih lama lagi.

"Tch."

"Ohohoho, aku tahu itu, Levi, jangan bohong."

Levi tak langsung menanggapi. Dia biarkan Hanji mengurusi rambutnya yang basah sambil menggumamkan irama lagu yang tak Levi kenal.

"Kau ingat salah satu alasan kita mengadopsi Eren?"

Gerakan tangan Hanji mengusap kepalanya berhenti seiring dia menoleh menanggapi pertanyaan Levi. "Oh? Mmm, apa, ya?"

"Jangan pura-pura bodoh, Mata Empat."

"Serius, Levi, aku tidak mengerti apa yang ingin kau katakan."

"Mengadopsi anak bisa memancing, setahuku begitu."

Hanji terdiam.

"Hanji. Ini sudah tiga tahun sejak kita membawa Eren bersama kita."

Hanji memandang kosong ke depan. "Aku ... jujur, sudah melupakan tentang itu. Aku sudah bahagia bersama Eren dan kau. Aku tidak lagi mempermasalahkan mengapa aku belum juga memiliki anak sendiri," dia berucap lirih, tapi kemudian memandang Levi sambil tersenyum miris. "Tapi sepertinya kau masih mempermasalahkan itu. Yah, maaf, ya, Levi, aku masih belum bisa membahagiakanmu sepenuhnya. Tak terasa sudah tiga tahun."

"Aku tidak menyalahkanmu," jawaban Levi terdengar dingin. "Aku hanya mempertanyakan kenyataan."

"Mungkin belum saatnya."

"Ini sudah lama. Kurasa memang ada yang salah di antara kita berdua. Mungkin semua salah ada padaku. Jangan terlalu sok tahu bahwa aku menyalahkanmu."

"Apa takdir itu sebuah kesalahan, Levi?" nada suara Hanji meninggi. "Takdirnya ya seperti ini. Jangan kau persalahkan lagi. Tidakkah kau bisa menerima kenyataan?"

"Tsk," Levi berdecak kesal. Dia membuang muka dari Hanji.

"Apa masalahnya kalau kita tidak punya anak sendiri sementara kita sudah punya Eren untuk kita didik sesuai prinsip kita? Sesuai apa yang kita mau?" Hanji berkata dengan suara yang lebih mirip desisan. "Walau dia bukan darah daging kita, dia menyayangi kita seolah kitalah orang tuanya yang sebenarnya. Apa lagi yang kau cari, yang kau tidak puas—"

Tok, tok, tok. Hanji menarik napas panjang, memperbaiki mood sesaat sebelum menjawab ketukan itu. "Buka saja, Eren, ada apa?"

Pintu pun terbuka. "Maaf mengganggu ..."

"Masuklah, sini, sini," Hanji memalsukan senyum, "Tidak apa. Hm, kertas apa ini?"

Eren, yang berdiri di samping Hanji pun menyerahkan sepenuhnya kertas itu. "Aku hampir lupa. Ini pemberitahuan tentang upacara kelulusan bulan depan ... orang tua diminta untuk datang dan ... akan ada pidato khusus dari orang tua yang anaknya punya prestasi tertentu ..."

Hanji, yang masih membaca isi kertas itu mengangguk, "Ya, terus?"

"Karena aku pernah jadi juara karate ... Ibu atau Ayah-lah yang ditunjuk sebagai wakil dari wali siswa ... yang berprestasi di bidang olahraga."

"Wah, astaga, kerennya!" Hanji pun memeluk Eren. "Haaaaa, Ibu bangga sekali kalau Ibulah yang ditunjuk! Semua ini berkat kau, Eren. Ibu senang. Baik, baik, Ibu dan Ayah akan datang. Bagus, kerja bagus," dia mengacak rambut putranya.

"Terima kasih ..." Eren tersenyum. "Ibu boleh menyimpan kertasnya. Aku ke kamar dulu ..."

"Oke, Sayang, siap!"

Maka Eren pun pergi. Hanji melipat kertas barusan dan meletakkannya di atas rak buku.

"Kuharap kita tidak lagi mempermasalahkan yang barusan lagi," Hanji melirik. "Kita selesaikan malam ini juga. Katakanlah apa alasanmu menyinggung itu, jangan takut aku marah, jangan takut melukaiku. Aku ingin jadi istri yang demokratis, aku terima apapun alasanmu. Kita sudah janji untuk saling terbuka, bukan? Aku tidak akan membiarkanmu menyimpan hal yang membuat dadamu sesak."

Levi melipat tangannya di depan dada, tak kunjung menjawab apa yang diminta Hanji. Matanya masih tetap lurus pada lemari, seakan dia bisa membuat lubang di sana.

"Kalau kau marah padaku, boleh," Hanji berdiri, dia menaruh kacamatanya di atas rak di seberang ranjang, sambil menunggungi Levi dia lanjut berkata, "Kalau kau tak suka Eren, boleh. Kau bisa mengeluarkannya dari rumah ini bersamaku—karena aku tak akan meninggalkan Eren sendirian. Atau kau juga mau mencari wanita lain yang bisa memberimu keturunan, boleh. Tapi, ceraikan aku dulu."

Hanji tak tahu bahwa kalimatnya membuat Levi menggeram. Dia baru menyadari keadaan setelah Levi menarik tangannya dengan kasar, membuat Hanji terjatuh ke atas tubuh Levi dan lelaki itu tertimpa olehnya di atas tempat tidur. Levi dengan cepat membalik posisi, menghempaskan tubuh Hanji ke tempat tidur. Sambil menindihnya, Levi menatap Hanji tajam, seperti binatang buas yang haus mangsa. "Jangan seenaknya menyimpulkan. Siapa yang ingin menceraikanmu?"

Pertanyaan retoris itu tak butuh jawaban. Levi pun tak perlu, karena dia kemudian menyibukkan dirinya dengan mencium leher Hanji berkali-kali.

"Levi ... tolong ... ugh, jelaskan maksudmu baik-baik!"

Levi melepaskan diri. Sekali lagi dia menatap Hanji, "Kadang ada manusia yang tak mampu menerima kekurangannya hingga dia pun mempertanyakan kenyataan."

Kalimat dalam dari Levi itu mampu ditangkap Hanji dengan baik maknanya. Dia tersenyum sambil mengalungkan tangannya di leher Levi. Dia mengecup singkat bibir suaminya, untuk kemudian memberikan senyuman lagi setelah mundur, "Untuk apa mencari kebahagiaan lain lagi kalau kau sudah memilikinya?"

Levi menyatukan dahi mereka, "Kadang aku kesal, mengapa aku mendapatkan istri yang cerdas."

Hanji tergelak. Cukup keras, sekali lagi membuat Levi menggeram karena kadang wanita ini membuatnya lepas kontrol.

"Itulah yang membuatku menginginkanmu malam ini, Mata Empat," suara Levi terdengar parau.

Hanji menyeringai, "Yes, you may. Take me, take me as you want. I'm totally yours tonight."


"Kau kelihatan antusias sekali, Hanji," dokter mata yang merangkap sebagai manajer personalia rumah sakit itu berujar sambil terkekeh. "Baiklah, kau dan Levi akan kuberi izin lusa. Selamat untuk kelulusan Eren, ya."

Hanji tersenyum lebar, "Tentu saja antusias. Ini upacara penting untuk anakku, dia sudah besar, ternyata."

"Yah, kau cukup enak, sih. Sebentar saja merawatnya, tahu-tahu sudah besar. Repotnya tidak terlalu banyak. Mengadopsi itu banyak untungnya juga, 'kan?"

"Yaaah, enaknya sih, ada. Tapi tetap saja, beda."

"Nikmati sajalah apa yang kau punya. Toh, tidak buruk juga, 'kan?"

Hanji mengangguk, "Aku menikmatinya, kok. Terima kasih izinnya, ya! Aku berhutang padamu, lho."

"Ya, ya, ya, terserah kau saja."

Hanji keluar dari ruangan itu dengan gembira. Lusa adalah hari penting untuknya, dia sangat menantikannya. Bahkan, dia telah menyiapkan diri matang-matang untuk menyampaikan beberapa hal di atas podium nanti, demi Eren, tentunya.


"Astaga, Eren, kau mandinya cepat sekali! Duh, omeletnya belum kubuatkan. Sebentar, ya, tunggu dulu."

Kelihatan ada kesibukan terjadi di dapur. Kesibukan yang dibuat Hanji sendiri, hanya dia yang mondar-mandir berulang kali di dapur, seolah sedang menyiapkan banyak menu untuk sebuah acara besar. Padahal, nyatanya, dia hanya menyiapkan sarapan untuk Eren yang akan mengikuti upacara kelulusan hari ini. Seakan hari ini adalah sangat spesial hingga Hanji membuatkan sampai tiga menu sekaligus.

Hanji menuju ke penggorengan, menyiapkan omelet yang telah dijanjikannya untuk Eren.

Levi, yang baru turun karena dia menghabiskan waktu cukup lama di kamar mandi, tampaknya tak ambil pusing dengan keributan yang dibuat Hanji ketika membuat omelet. Ocehan wanita itu tentang garam yang terlalu kurang, telur yang terlalu banyak, atau sayuran yang kurang banyak dicuekinya saja. Sudah biasa.

Namun dia tak bisa mengabaikan begitu saja sebuah hal yang diperhatikannya ketika dia mencuci tangan di wastafel, tepat di samping Hanji yang sedang menyelesaikan masakannya.

"Kau pucat, Hanji."

"Benarkah? Uhuk, uhuk—" Hanji terbatuk sesaat, "Aku terbangun jam dua lalu lanjut membuat materi untuk tutorial. Baru tidur jam lima. Mungkin karena terlalu banyak pekerjaan."

Levi memperhatikan Hanji yang kembali sibuk memasak. "Kau memaksakan dirimu. Aku tahu itu. Kau berpura-pura agar tak ada yang tak khawatir."

"Wahahaha, kelihatan sekali, ya."

"Kau kelelahan. Kau terlalu banyak bekerja."

Hanji batuk lagi, kali ini lebih lama. Dia mengangkat frying pan dan menaruh isinya di piring. Levi memicingkan matanya, tampak penggorengan itu tidak stabil, tangan Hanji gemetar ketika memegangnya. Belum sempat Levi turun tangan, benda itu jatuh menyisakan bunyi yang nyaring. Setelahnya, Hanji terlihat oleng dan kehilangan keseimbangan untuk berdiri. Levi dengan cepat menangkap tubuhnya, sebelum Hanji terjatuh lemas ke lantai. Levi mengalungkan tangan Hanji pada pundaknya. Dengan hati-hati dia rangkul punggung wanita itu.

"Ibu!"

Levi memapah Hanji menuju kursi terdekat. Didudukkannya dengan hati-hati.

"Hehehe," wanita itu malah tertawa. "Maaf mengagetkan kalian. Aku tiba-tiba lemas tadi."

"Terlalu lincah."

Hanji tertawa lagi. "Aku juga terlalu banyak makan cokelat kemarin. Makanya batuk begini."

"Berapa bungkus kau habiskan?"

"... Empat."

"Kau gila," Levi menjauh, membereskan kekacauan yang tadi dibuat Hanji. "Kau, tetap di rumah hari ini."

"Aaaa, tidak mau! Aku mau ikut! Aku sudah menunggu hari ini sejak lama."

"Patuhi perintahku."

Hanji menggeleng cepat. Levi membuang muka, dia langsung mencuci frying pan tadi. Berikutnya, yang Levi dengar adalah sesuatu yang tak dia percayai. Hanji ... menangis?! Dia yakin, inderanya tak salah. Suara isak itu benar-benar suara Hanji, bukan sekadar ilusi.

"Hanji, kau ... menjijikkan."

Hanji mengusap pipinya sendiri, dia cemberut seperti anak-anak, "Masa' tidak boleh?"

"Kau. Harus. Istirahat," Levi mempertegas dengan intonasi tegas.

"Aku tidak apa-apa kalau Ibu tidak datang ... istirahatlah di rumah."

Levi lega Eren ikut turun tangan. Hanji pasti tak akan berkutik kalau Eren yang meminta.

Hanji diam, Levi merasa menang. "Semua demi kau, Mata Empat."


Levi dan Eren duduk terpisah, dan Levi sengaja mengambil tempat duduk paling belakang, dimana ada banyak kursi kosong. Orang tak banyak yang suka mengasingkan diri, mereka lebih senang memperebutkan tempat di depan. Levi berkebalikan, tak suka dengan perhatian lebih pada dirinya, membuatnya lebih suka untuk menempatkan diri di tepian.

Memang, dia cukup bingung karena harus menggantikan Hanji untuk maju dan berbicara. Dia bukan orang yang vokal. Tapi, bukan berarti dia tak biasa berbicara di depan umum, pengalamannya menjadi salah satu anggota organisasi internal ketika kuliah dulu membuatnya cukup yakin.

Dia tengah memikirkan kalimat-kalimat untuk dituturkan di podium ketika bangku di sebelahnya terisi. Levi tak memperhatikannya, dia sibuk berpikir sambil memandang panggung dengan tangan terlipat.

"Selamat pagi, Pak."

Leher Levi menegak karena dia sangat mengenal suara ini. Dia mendesis kesal ketika menoleh.

"Hai," Hanji menggesturkan gerak hormat sambil nyengir. "Aku tidak bisa menahan diriku," dia mengeluarkan kertas dari saku blazer-nya. "Aku sudah menyiapkan semuanya, sih. Speech-nya sudah kubuat dari minggu lalu."

"Kau memang keras kepala."

"Demi Eren, Levi."

Levi meletakkan tangannya di kening Hanji. Dia menggeram lagi, sementara Hanji memajang ekspresi tanpa dosa. Bagian itu tak terlalu panas, memang, itu sedikit mengurangi kekhawatiran Levi.

"Aku masih sanggup, kok."

"Kau tambah pucat. Kau seperti orang kurang makan. Bukannya tadi kau makan banyak?"

"Ya, memang banyak. Tapi aku mengeluarkan semuanya lagi."

"Kau memuntahkannya?"

Hanji mengangguk. Kali ini anggukannya tak sesemangat yang biasanya. "Semuanya. Dan aku tidak makan lagi."

"Kau memang bodoh."

Lagi-lagi, Hanji hanya tertawa. "Aku sedang tidak selera. Nanti saja. Aku capek setelah memuntahkan semuanya."

"Kalau capek kenapa kau datang ke sini?"

"Beda capeknya. Aku capek makan, bukan capek untuk mendampingi Eren di hari pentingnya."

"Kau sangat memanjakannya."

"Aku 'kan ibunya," Hanji tersenyum lebar. "Nah, Levi, dari daftar acara yang ada di undangannya, bagianku sebentar lagi. Apa aku sudah terlihat rapi?"

"Ck," Levi berdecak. "Sampai lusa kau tidak boleh masuk kerja."

"Yah—"

"Kau sudah melanggar perintahku hari ini."

Hanji mengerucutkan bibirnya.


Acara telah selesai. Hanji memang terlihat riang setelah tadi tampil di depan untuk menyampaikan pidato perwakilan, tetapi dari cara dia berjalan, dia tidak bisa menyembunyikan kondisi fisiknya yang menurun. Dia tak bisa mengimbangi langkah cepat Levi, membuat lelaki itulah yang akhirnya mengalah untuk berjalan di sisinya. Eren terlihat khawatir, dia tahu ada yang tak beres pada Hanji.

Kekhawatiran Eren terwujud ketika Hanji akan membuka pintu mobil. Pintu tak sempat terbuka, Hanji melemas duluan dan dia pun jatuh terduduk tanpa daya di tanah.

"Ibu!"

"Hanji!" ketika Levi menyebut nama itu dengan suara tinggi, sudah dapat dipastikan bahwa dia memang terlampau khawatir. Cepat-cepat dia bantu Hanji berdiri dan memasukkannya ke kursi depan setelah Eren membukakan pintunya.

"Ck. Kita ke rumah sakit sekarang."

Hanji masih bisa tersenyum. "Kau tidak memarahiku?"

Levi menyalakan mesin mobil. "Tidak ada gunanya. Itu tidak akan menyembuhkanmu."

Hanji tersenyum kecil. Dia pun menoleh pada Eren, "Hei, Eren, maaf, aku mengacaukan hari pentingmu. Aaah, harusnya aku makan saja tadi, ya. Sepertinya aku kekurangan nutrisi. Jangan ke rumah sakit dulu, Levi, aku mau beli sandwich saja."

"Aku punya roti," sambar Eren, langsung maju ke depan untuk memberikan sebuah kotak karton. "Makanlah, aku sudah makan yang lain tadi."

"Hm, tidak apalah. Sama-sama roti juga. Terima kasih, ya," Hanji menerimanya.

Sambil meninggikan kecepatan mobilnya setelah keluar dari area parkir, Levi sedang berusaha menguraikan semuanya dengan menghubungkan beberapa faktor. Hanji yang terlalu banyak makan cokelat—tak biasanya wanita itu tak bisa menahan nafsunya akan suatu menu—kemudian dia yang memuntahkan seluruh sarapannya, juga daya tahan tubuhnya yang menjadi sensitif ...

... Levi terlalu cerdas untuk tidak bisa menduga kesimpulannya.

Rasa antusias dan kegembiraan langsung mengisi batinnya, namun di lain sisi dia jadi takut kalau-kalau ini semua hanya harapan semu, jadi dia tak berani langsung terlalu gembira. Kalau ini semua hanya hal yang biasa, ekspektasi berlebihan hanya membuatnya terjatuh dan terpuruk.


"Aku merasa ini lucu," Hanji melipat kertas hasil pemeriksaannya, dan memasukannya kembali ke amplop. "Biasanya akulah yang mengobati orang, tapi sekarang akulah yang harus berkonsultasi."

Rekan sesama dokternya itu, yang bekerja sebagai dokter umum, tersenyum, "Dokter juga manusia, Hanji. Jangan malu."

"Baiklah," Hanji mengangguk, kemudian berdiri. "Terima kasih, Maria."

"Ya, sama-sama. Banyak-banyak istirahat, ya."

Hanji pun keluar dari ruangan. Levi dan Eren, yang memang dia minta menunggu di luar saja, refleks langsung berdiri ketika mendapati Hanji berjalan ke arah mereka.

"Maria mengusulkan cek darah menyeluruh untukku. Ini hasilnya," Hanji mengacungkan amplopnya. "Kita langsung pulang dulu, ya ... nanti kujelaskan di rumah," Hanji berujar dengan suara rendah.

Melihat Hanji yang masih pucat, Levi langsung setuju. Dia memandang Hanji lekat-lekat dulu, mempertimbangkan apakah dia perlu memapah wanita itu berjalan. Namun, saat dia tengah berpikir, Eren sudah lebih dulu menyalipnya dan merangkul lengan Hanji. "Ibu ... bisa berjalan sendiri? Apa penyakit Ibu parah?"

Hanji tersenyum, dia menggeleng. "Tidak usah khawatir. Tidak seburuk yang kau pikirkan, kok."

Levi semakin yakin, namun belum berani memutlakkan semuanya menjadi kepastian yang bisa dia percaya.


Hanji sama sekali belum berganti baju ketika dia langsung mendudukkan diri di tempat tidur, sambil bersandar dengan beberapa bantal sebagai penyangga punggungnya. Tak biasanya, Levi tak mempermasalahkan itu. Levi langsung mengambil kertas hasil pemeriksaan Hanji dan membaca isinya.

"Akan kubuatkan teh," Eren undur diri.

Kening Levi berkerut ketika selesai membaca tabel hasil pemeriksaan. "Semuanya normal, hanya kadar hemoglobinmu yang sedikit di bawah normal," dia langsung melipat kertas itu kembali. "Hanji, kuharap kau tidak lupa tentang ini."

"Apa?"

"Kapan seharusnya tamu bulananmu datang?"

Hanji tersenyum tipis. "Aku sudah terlambat sepuluh hari."

Levi tidak mengatakan apapun. Dia hanya menatap Hanji, lama dan tanpa kedipan. Hanji membalas tatapannya sambil tersenyum, dan perlahan pandangannya mengabur, air matanya pun perlahan terjun meleleh. Dia segera memeluk Levi, erat sekali dia merapatkan tangannya di tubuh Levi.

"Levi ... aku-aku tidak percaya ini."

Levi membalas pelukan Hanji, dia menenggelamkan kepalanya di pundak wanitanya. Dia membiarkan saja Hanji menangis di bahunya, Levi hanya memejamkan mata sambil menyelami kenyataan yang datang pada mereka berdua.

"Aku sungguh tidak percaya. Tapi ... ini nyata! Nyata, Levi! Kita akan punya anak sendiri!" Hanji melepas pelukannya, matanya masih basah namun dia tersenyum lebar tak percaya. "Punya anak! Levi, ada anak sedang tumbuh di dalam tubuhku! Astaga, aku tidak percaya ini—aku akan jadi ibu! Aku akan hidup bersamanya selama sembilan bulan ... lalu aku akan kemana-mana bersamanya ... aku akan selalu bersama dia, aku makan dengannya, aku tidur dengannya, dan astaga—dia adalah anakku sendiri! Anak kita, anakmu dan anakku, darah daging kita sendiri! Di dalam tubuhnya nanti mengalir banyak hal yang menjadi gabungan antara kau dan aku—Eren akan punya adik, Levi, Eren akan punya teman main!"

Levi hanya diam, meski Hanji terdengar begitu berisik menyuarakan kebahagiaannya.

"Oh Tuhan, terima kasih—aku tidak bisa lebih bahagia lagi ..."

Tangan Levi terulur untuk menghapus air mata Hanji. "Tolong jangan wariskan sifat berisikmu padanya."

Hanji meraih pergelangan tangan Levi, kemudian mengubah posisi tangan Levi menjadi menempel pada pipinya, dengan tangan Hanji sendiri di atasnya. Dia masih tersenyum, "Dia akan punya otak cerdasmu, Levi. Dia akan punya mata sepertiku. Dia akan punya warna rambut sepertimu—oh, atau gabungan warna rambut kita? Levi, dia akan jadi seperti apa? Ya Tuhan, aku akan benar-benar menjaganya sampai dia tiba di dunia dan bertemu ayah-ibunya."

Levi menggunakan tangannya di pipi Hanji untuk menarik wajah wanita itu dan mencium keningnya, cukup lama. Bibir Levi yang menempel dengan hangatnya membuat Hanji tertawa kecil, kemudian memeluk Levi lagi.

"Eren pasti senang mendapat teman main."

Levi membalas pelukan itu. "Aku akan jadi ayah yang lebih baik lagi."

"Ini tehnya—oh, maaf, apakah aku mengganggu?" Eren, yang baru saja mendorong pintu, bersiap mundur kembali.

"Tidak apa," Hanji langsung melambaikan tangan agar Eren mendekat. "Sini, Eren, Ibu dan Ayah punya kabar bagus untukmu."

Belum sempat Eren menaruh teh barusan ke atas meja kecil di samping tempat tidur, Hanji sudah mengambilnya dan meminumnya sedikit. "Duduklah di sini," Hanji menepuk tempat di tepi, tepat di sampingnya. Hanji kemudian merangkul pundak Eren, melihat raut penuh rasa ingin tahu Eren sangat membuatnya senang. "Kau akan punya adik."

Eren diam sesaat. Matanya berkedip cepat beberapa kali, mulutnya bergumam seakan tanpa sadar, "Oh ..."

Hanji bisa mengerti itu, ia pererat rangkulan pada tubuh Eren. "Aku bukan orang yang akan melanggar sumpah, Eren. Apalagi sumpah pada diriku sendiri. Kau tidak perlu takut, kau tetap anakku, kau tetap anak Ayah Levi, tidak akan ada yang berubah walau kami punya anak sendiri, karena kami akan tetap adil padamu. Kau sudah seperti anak kami yang sebenarnya."

Eren menunduk, "Maaf."

Levi menatap Eren, "Meski ibumu adalah orang yang ceroboh, ribut, berisik, aku tahu dia adalah orang yang tidak mau mengingkari janji."

"Tuh, Eren, Ayah saja sampai memuji Ibu."

Eren akhirnya tersenyum. Dia membalas rangkulan Hanji dengan memeluknya. "Aku mengerti. Maaf sudah meragukannya. Terima kasih ..."

Hanji megelus kepala Eren, kemudian dia melirik pada Levi, mengajaknya bergabung. Levi mengikuti tanpa perlawanan.

Pelukan ketiga orang itu diisi kehangatan yang nyaman. Hanji menangis haru lagi, dan Levi tersenyum, sayang sekali keduanya tak menyaksikan itu satu sama lain.


"Aku pernah bermimpi, aku bertemu anak dengan rambut hitam. Dia laki-laki dan punya senyum sepertiku. Apa dia yang sekarang berada di dalam tubuhku, Levi?" Hanji bercerita sambil memandang langit-langit.

Levi membuka matanya. Dia sudah hampir terlelap namun Hanji belum berhenti mengoceh.

"Aku belum banyak mendengar ekspresi bahagia dari mulutmu, Levi. Tidakkah kau senang?"

"Kau tahu aku seperti apa, Hanji."

"Oh ayolah."

"Apa perlu lebih banyak kata-kata kalau kau sudah tahu bagaimana perasaanku ketika akhirnya mendapat apa yang kuinginkan?"

"Hahaha, oke, oke, aku paham, Tuan Filosofis," Hanji mencubit pipi Levi. "Ayo tidur. Kita tidur bertiga malam ini, sampai beberapa bulan ke depan. Jangan protes karena tempat tidur jadi makin sempit, ya, hahaha."

"Kau harus tidur sekarang."

"Iya, iya."

"Selamat malam," Levi berucap parau.

Hal ini tak biasa bagi Hanji, dia tahu bahwa Levi juga sedang sangat senang, namun pembahasaannya jauh berbeda dari lelaki kebanyakan. Wanita itu tersenyum saat memejamkan matanya.

Dan senyumnya makin lebar ketika dia sadar Levi memeluknya. Penantian adalah suatu jalan berujung. Selalu ada akhir yang baik bagi yang menitinya dengan penuh kesungguhan. Kalau menitinya dengan tidak sabar dan terburu-buru—hei, bukankah seseorang akan terjatuh dan sakit?


A/N: hai dan semuanya berakhir di sini cough but masih ada epilog kok okey?