You First Sensei

Chapter 7 : home

.

.

Kau penuh dengan misteri

Hari sudah menunjukan pukul 07.00 malam. Rivaille meminta eren untuk menyiapkan seragamnya, tapi ia tidak memberi tahu kemana tujuan mereka. Eren yang kebingungan hanya mengikuti perintah rivaille.

"Rivaille?" ucap eren berusaha memecah kesunyian

"Ada apa, eren?" jawabnya.

Ah, tumben. Nada bicaranya lembut sekali

"A-ano, se-sebenarnya..kita, mau kemana?"

"Kerumahku"

Eren terkejut. "APA?!" teriaknya.

Rivaille menatapnya dengan alis menukik. "Memangnya kenapa?" ucapnya.

"Ta-tapi, untuk apa?"

Rivaille tidak menjawab. Kemudian tak lama mobilnya berhenti didepan sebuah rumah.

Sebenarnya, apa yang dirancanakannya?

"Turunlah." ucap rivaille, dingin.

"Eh?a-ada apa rivaille?" eren berbalik bertanya.

"Kita sudah sampai dirumahku"

"Hah?!"

"Apa maksudmu dengan 'hah'?Cepat turun."

A-apa apaan ini? Uuh, bagaimana ini~ hatiku belum siap..

"Hei, turunlah." lanjut rivaille. "Apa aku harus menggendongmu untuk turun, sampai kekamarku, Hah?"

"Ah, haa ti-tidak, tidak perlu. Maksudku.." eren terbata.

Rivaille menatapnya, tajam.

Eren berkeringat dingin. "Ba-baiklah." ucapnya ketakutan.

"Pilihan yang bagus." ucap rivaille. "Jangan lupa bukakan gerbang itu untukku"

"Eh?kenapa aku?" pekik eren.

"Lalu untuk apa aku memintamu turun dari mobilku?"

Cih, menyebalkan. Masih, saja egois.

.

.

Eren turun dari mobil tersebut —dan tak lupa membukakan gerbang. Sedangkan rivaille yang masih dimobil sedang berusaha memarkirkan mobilnya digarasi. Eren benar-benar tercengang saat melihat sebuah rumah besar yang mewah didepannya.

Apa benar, ini..rumahnya?

Bagaimana tidak? Rumah yang besarnya kira-kira hampir satu hektar itu, ternyata adalah rumah milik sang kekasihnya. Rumah bertingkat tiga dengan gaya eropa yang begitu epik dan menarik membuat eren tak sanggup berkedip dengan mulut yang menganga. Eren benar-benar tak habis fikir. Pertama sahabatnya, sekarang kekasihnya.

Tak lama kemudian, rivaille turun dari mobil setelah berhasil memarkirkannya.

"Ayo masuk, eren. Ini sudah malam" ucap rivaille sambil berjalan mendekati eren.

"Eh?ah, ha-hai" jawab eren.

Mereka berjalan bersama memasuki rumah rivaille. Eren benar-benar tidak dapat berkedip saat ini. Melihat rumah besar yang mewahnya melebihi rumah armin, ini sunggu yang pertama kalinya untuk eren.

wah~ Benar benar indah. Rapih sekali. Semuanya..tersusun rapih. Keren..

Mereka berjalan kemudian berhenti didepan sebuah lift, dan masuk kedalamnya. Rivaille menekan tombol yang menuju kelantai tiga paling atas.

"Ri-rivaille?" ucap eren memecah keheningan

"Ada apa lagi, eren?" jawabnya dengan nada yang kembali melembut.

"Apa kau tinggal sendiri?"

"Tentu saja"

"Eh?be-benarkan?"

"Memangnya kenapa?kau ingin tinggal bersamaku, hah?"

"Bu-bukan begitu, maksudku..dengan rumah sebesar ini. Kukira kau tinggal bersama keluargamu."

'Menghela nafas'

Ah, dia mengabaikanku.

'Pintu terbuka'

"Masuklah" Ucap rivaille.

"Ini kamarmu?" tanya eren.

"Masuklah" ulang rivaille dengan wajah datarnya.

"Ba-baiklah"

Eren memasuki ruangan. Ya, itu kamar rivaille. Kamarnya begitu luas dengan satu ranjang berukuran besar yang mewah, kemudian dua jendela disudut ruangan, dan satu kamar mandi. Kamarnya begitu harum dengan aroma teh dan campuran lemon penyegar ruangan. Semua yang ada didalam benar benar tersusun rapih dan sangat nyaman dilihat. Eren terus menatap sekeliling ruangan.

"Kau..seperti maniak kebersihan" gumam eren. Tapi masih terdengar oleh rivaille.

"Tentu saja." ucap rivaille. "Cepat letakkan ranselmu. Mandi dengan bersih, setelah itu tidurlah"

"Em" jawab eren sambil menganggukkan kepalanya.

.

.

—Setelah mandi—

"Apa yang sedang kau lakukan, sensei?" ucap eren sambil mengacak-acak rambutnya yang basah dengan handuk, saat menatap rivaille terduduk disebuah sofa biru yang berada didalam kamarnya, dengan posisi yang tak jauh dari ranjang. Ia sedang sibuk dengan kamera digital ditangannya. Dan sebatang rokok dibibirnya, tentunya.

Rivaille tak menjawab. Kemudian ia berdiri sambil mengangkat kameranya dan mendekatkannya kewajahnya. Dalam sekejap, satu jempretan dari kamera itu dengan cahaya seperti kilat. Mengarah kearah eren yang sedang memperhatikannya dengan wajah bingung.

Eren terkejut. "Eh? Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan sensei?!" pekik eren.

"Memotretmu" jawabnya dingin. "Kurasa hasilnya cukup baik"

"Ahh, buruk sekali! Katakan dulu padaku jika kau ingin memotretku!"

Rivaille tersenyum tipis sambil menatap hasil fotonya saat sudah tercetak ditangannya.

"Kenapa kau tersenyum? Tidak lucu!" ucap eren sambil memalingkan wajahnya yang sudah memerah, karna merona.

Rivaille mematikan rokoknya, dan mulai berjalan mendekati eren. Setelah sangat dekat, ia mengelus lembut rambut belakang eren, kemudian mencium keningnya dengan lembut.

Eren kembali terkejut. "Ehh~" ia kehilangan kata kata, dengan mata yang membulat.

Rivaille mengusap lembut rambut eren."Pakai pakaianmu, dan tidurlah. Besok kau tidak boleh terlambat" ucapnya sebelum kembali duduk disofa, kemudian kembali mengutak utik kameranya.

Eren tak dapat bergerak. Kakinya bergetar dan jantungnya berdebar begitu cepat. Darahnya memuncak secepat kilat, dan perutnya bergejolak. Rona merah dipipinya begitu terlihat, pekat sekali. Eren tak tahu harus berbuat apa saat ini.

"Eren? Apa lagi yang kau tunggu? Cepat tidur" ucap rivaille sambil terus menatap kekasihnya itu. "Atau..kau ingin tidur bersamaku?"

Eren tersentak. "Eh?baiklah, aku tidur sekarang" kemudian eren berjalan cepat kearah ranjang dengan kaki yang masih sedikit bergetar. Eren menaiki ranjang, kemudian mulai meletakan tubuhnya diranjang tersebut.

"Rivaille?" ucap eren.

"Hm?" jawab rivaille tanpa menoleh sedikitpun.

"Kau tidak lelah? Apa kau tidak ingin..tidur?"

"Jangan fikirkan aku. Tidurlah"

"Eum, baiklah. O-o..oyasumi" eren berbalik dan tak lama tertidur pulas. Rivaille yang sedang duduk disofa pun tak lama mulai ikut menaiki ranjang besarnya dan tertidur bersama eren.

.

.

.

Monday, 06.00 a.m

Nit nit— nit nit— 'alarm berbunyi'

Eren terbangun, perlahan. Pupilnya membesar, kemudian matanya terbuka sempurna dan mulai menatap langit - langit dikamar yang besarnya dua kali lipat dari kamarnya. Tak lama ia mulai terduduk dan menoleh kanan kiri, memandangi seisi ruangan.

Rivaille, kemana dia? Apa..semalam ia tidak tidur?

'Pintu terbuka'

Eren terkejut. "Ri-rivaille?" ucapnya sambil menatap rivaille didepan pintu.

"Ohayou" jawab rivaille.

"Eh?o-ohayou" eren merona.

Kejadiannya seperti kemarin. Rivaille datang didepan pintu sambil membawa sebuah piring kaca. Namun kali ini dengan warna dan isi yang berbeda. Rivaille membawa nasi goreng. Aromanya benar - benar sedap sekali, hingga begitu tercium oleh eren.

Ah, aromanya.. Sedap sekali!

"Rivaille?apa itu buatanmu..untukku?" tanya eren.

"Memangnya untuk siapa lagi kalau bukan kau, hah?" jawab rivaille sedikit jengkel.

Eren tertunduk."Eum, begitu"

"Cepat mandi, setelah itu makanlah"

"Apa kau tidak ingin menyuapiku lagi?" goda eren.

Rivaille mendekat, kemudian meletakkan piring itu diatas meja kecil didekat ranjang. Satu tangannya menyentuh kepala eren, lalu mengacak - acak rambutnya yang memang sudah berantakan, sambil tersenyum. Eren yang merona mulai mendongak dan menatap mata sang kekasihnya itu, sambil memanyunkan bibirnya dengan ekspresi yang jengkel namun terkesan imut untuk rivaille. Sesaat mereka saling menatap satu sama lain.

"Jangan menggodaku. Cepat mandi, sana" ucap rivaille, mengalihkan.

"Ah, baiklah"

Eren menuruti perintahnya dengan senang hati. Setelah mandi, ia mulai menyantap sarapannya yang 'mungkin' dibuat rivaille dengan penuh cinta. Kemudian berangkat ke sekolah bersama menaiki mobil rivaille.

Hari ini benar-benar hari yang sangat menyenangkan untuk eren. Ia sangat bersyukur dengan semua takdir yang telah diatur oleh tuhan.

Terima kasih untuk takdir ini, tuhan.

.

.

NEXT CHAPTER #8