Disclaimer © GUNDAM SEED / DESTINY by sunrise

Warning: Typo, OOC, kalimat ambigu, kata-kata aneh, AU, AsuCaga x ShinnCaga, dan pair lainnya.

SOUL

.

.

By. PandamwuChan

chapter 7

Mata merah darah itu terus memandang lurus. Ekspresi stoic yang ia tunjukkan nampaknya tak dapat menyembunyikan rasa kesal yang teramat dalam dari hatinya.

Sama dengan dirinya, seorang pria bermata emerald itu memandang. Penuh dengan seringai, serta tatapan mata yang tajam. Tak dapat dipungkiri bahwa Shinn Asuka tersenyum penuh arti dalam sosok Athrun Zala.

"Jadi," Shinn menginterupsi, "apa yang ingin kau bicarakan, Shinn Asuka?"

Lantas yang dipanggil, membuang muka sesaat. Memicingkan mata, dan semakin mengepal tangannya. "Apa kau merasa bangga?"

Shinn menaikkan sebelah alisnya. Berpikir sejenak, kemudian tertawa. "Kau tahu?" ia memegang jidatnya. "Aku senang. Aku bahagia." Sembari berjalan ke arah pagar besi yang ada di atap sekolah. "Aku tak menyangka. Aku pikir aku sudah gila saat itu. Tapi... ini nyata! Aku memiliki tubuh ini, hahahaha."

"Kau memang gila, Shinn−"

"Itu KAU! Kaulah Shinn! Ingat itu!"

Gigi Athrun bergemeletuk mendengar ocehan sinting dari pemuda di hadapannya saat ini. Menghela napas kencang, Athrun berucap tegas, "kau boleh memiliki tubuh itu selamanya. Tapi tidak dengan Cagalli."

Shinn mencengkram pagar besi itu.

"Aku tidak akan pernah memberikan Cagalli padamu. Sekalipun aku tak akan pernah menjadi Athrun yang dulu. Cagalli... dia pasti−"

"Jika kau berani merebut Cagalli. Kupastikan cinta tulus gadis itu hancur. Aku pun bisa membuat tubuh ini dibenci! Karena mereka tak tahu. Aku bisa saja membuatmu terlihat begitu buruk. Mengakulah. Tak akan ada yang percaya dengan semua omong kosongmu."

"Brengsek!" Athrun sekejap mencengkram kerah baju Shinn. Ditatapnya dengan tajam wajah itu. Penuh amarah hingga sebulir air mata melesak dari pelupuknya. "Jangan pernah berani kau sakiti dia."

Shinn dengan tak kalah geramnya langsung mendorong keras Athrun. "Itu tergantung dirimu. Jika Cagalli menderita nantinya. Itu pasti karenamu."

Hembusan angin yang sepoi menerpa keduanya. Bertentangan dengan hembusan itu, suasana di antara mereka terasa menegangkan. Hening. Hanya ada tatapan tajam yang mereka berikan.

Haumea... apa salahku?

SOUL

Tangis Lacus seketika pecah saat ia melihat Kira di depannya. Membuat Kira mendadak cemas. Kira lalu merangkul Lacus dan membawanya masuk ke dalam ruangan. Didudukkannya gadis merah muda itu. "Lacus." Panggilnya dengan penuh rasa khawatir. Diusap-usapnya rambut Lacus, tak lupa ia genggam erat tangan gadis itu.

Dan saat dirasa gadis itu mulai tenang. "Apa yang terjadi?" tanya Kira lemah lembut.

Namun, tak ada respon yang diberikan. Lacus terdiam sembari menatap lantai keramik di bawahnya.

"Lacus." Panggil Kira sekali lagi.

Lima menit setelah panggilan Kira. Lacus akhirnya mengusap air matanya dan memandang Kira datar. "Sepertinya aku merindukanmu. Tapi aku masih tak bisa memaafkanmu."

Kira yakin ucapan Lacus tidaklah benar. Ada yang gadis ini tutupi darinya. Terlihat dari raut wajah serta nada bicaranya. "Lacus."

Lacus menghempas tangan Kira dan mulai berdiri.

"Sebenarnya ada apa denganmu? Sesuatu pasti telah terjadi 'kan? Tidak biasanya kau seperti ini." Kira pun berdiri mensejajarkan dirinya dengan Lacus.

Masih tak memandang Kira. "Tidak ada yang terjadi. Bukankah sudah kukatakan, bahwa aku merindukanmu. Tapi, aku masih tak bisa memaafkanmu. Kau pasti mengerti bagaimana rasanya, Kira." Bibir gadis itu bergetar.

"La−" sebelum Kira memanggil namanya lagi, Lacus bergegas pergi meninggalkan Kira yang terpaku menatap kepergiannya.

"Jika memang karena itu... Kau sebenarnya salah paham denganku dan Luna." Lirih Kira.

SOUL

"Cagalli."

Cagalli memalingkan wajahnya ke arah Miriallia yang datang menghampirinya.

"Boleh aku duduk di sini?"

Cagalli terkekeh pelan. "Tak ada yang melarangmu, Milly."

Miriallia tersenyum simpul lalu duduk tepat di samping Cagalli, di bawah pohon yang ada di halaman belakang sekolah. Cagalli langsung merebahkan kepalanya ke pundak Miriallia.

"Bertengkar dengan Athrun?" Miriallia mulai membuka percakapan di antara mereka.

Cagalli mengangguk pelan. "Hm, kau tahu, Milly. Aku bingung dengan sikap Athrun sekarang ini. Ia terasa begitu berbeda."

Miriallia merangkul pundak sahabat kesayangannya. Tak lupa ditepuk-tepuknya dengan lembut. "Bukan hanya kau. Aku, Yzak, Dearka pun dibuat bingung olehnya."

Cagalli mengangkat kembali kepalanya dan memandang Miriallia. "Bagaimana dengan Yzak?"

"Kau tahu, Yzak orang yang kasar dan pemarah. Dia bersama Dearka saat ini. Yzak sebenarnya sangat syok dengan kejadian saat di kelas tadi."

"Hm, jadi begitu."

Miriallia merentangkan kedua tangannya dan merebahkn tubuhnya di atas rerumputan. "Yah, tapi ambil positifnya saja. Kita jadi ada waktu luang seperti ini, Cagalli."

"Milly, kita ini sedang bolos belajar!" Cagalli menghela napasnya.

Miriallia kembali tersenyum dan menarik Cagalli untuk ikut berbaring di sampingnya. "Aku sangsi, bukan hanya kita berdua yang sedang membolos. Hari ini, hari membolos, haha. Pikir saja, pelajaran Unato-sensei, jam terakhir pula. Kau pasti tak ingin dilempari kapur 'kan karena tertidur di dalam kelas?"

Cagalli tertawa kencang mendengarnya. Ia lalu memejamkan matanya. "Tentu saja tidak."

SOUL

Langkah Athrun terhenti saat ia melihat Cagalli yang berdiri menunggunya di depan gerbang sekolah. Ia pun sedikit mempercepat langkahnya. Dan begitu ia sudah berada di dekat gadis itu. "Kau menungguku?"

Sejujurnya Cagalli masih menyimpan rasa kesal terhadap kekasihnya itu. Tapi, ia bukanlah tipe gadis yang suka berlama-lama bertengkar. Makanya Cagalli memutuskan untuk segera berbaikan dengan Athrun.

"Ya, begitulah." Jawab Cagalli dengan pelan.

Shinn mengernyit mendengar jawaban Cagalli. "Caga−"

"Athrun. Kau tahu aku menyayangimu." Gadis itu menatap Athrun. "Jangan seperti ini lagi, ok."

Shinn menunduk dan mengangguk pelan. Ia sedikit tersenyum. Digapainya tangan kanan Cagalli. "Hm, aku janji. Pulang?"

Cagalli menggerakkan tangannya untuk menggenggam tangan Athrun. Ia mengangguk pelan.

Mereka berdua, sembari berpegangan tangan mulai berjalan keluar gerbang sekolah. Namun, mata emerald Shinn membulat seketika, begitu ia melihat seorang gadis kecil berdiri tidak jauh dari gerbang sekolahnya.

Mayu...

Langkahnya lagi-lagi terhenti. Dipandanginya gadis cilik itu. Mayu nampak begitu muram dan tak bersemangat. Gadis itu terlihat menundukkan wajahnya. Sesekali ia melihat ke arah gerbang, menanti sosok yang ia sayangi. Ini pertama kalinya Mayu menjemput kakaknya setelah kejadian kecelakaan itu. Dan lagi-lagi Shinn terbelalak ketika Mayu berlari kecil menuju seseorang.

"Ma−"

"Kakak!" Mayu berlari melewati dirinya.

"−yu..."

Mayu berlari menghampiri Shinn yang baru saja tiba di depan gerbang. Mayu tersenyum manis. Lalu dipegangnya tangan kakaknya itu. "Sedang apa kau?"

Napas Mayu agak tercekat mendengar pertanyaan bernada tak suka dari Shinn. Ia sedikit menunduk dan melihat ke sana kemari, genggamannya ia eratkan. Tentunya...

"Mayu, ingin menjemput kakak. Itu saja."

"Mayu." Pandangan Athrun terlihat begitu serius. Ia lalu melepaskan pegangan Mayu di tangannya perlahan. Dan Mayu sudah tahu arti dari sikap kakaknya tersebut. Ia tahu, kalau Shinn pasti tak suka dengan kehadirannya. Bahkan ia sudah dapat memperkirakan kalimat apa yang akan terlontar.

"Mengertilah, Mayu. Sudah beberapa kali kukatakan kalau aku bukan Shinn." Ucapan Athrun begitu pelan dan hanya Mayu yang bisa mendengarnya.

Air mata Mayu hampir jatuh jikalau ia tak segera menahannya. Mayu menggigit bibir bawahnya dan menggeleng pelan. Tangannya mencengkram dadanya pelan. "Kenapa kakak masih saja berkata begitu?"

Tak ingin menjadi tontonan teman-temannya. Cepat Athrun pegang tangan Mayu dan membawanya pergi dari sekolah. "Kita pulang."

Tes...

Perasaan tak menentu berkecamuk dalam dada Shinn menyaksikan kejadian di antara Athrun dan adik kesayangannya. Jantungnya berdetak tak karuan dan seakan ingin keluar dari dalam tubuhnya. Adiknya tak pernah semuram itu sebelumnya. Mayu selalu tertawa dan tersenyum. Kenapa sekarang Mayu.

"Dia menangis."

Shinn menoleh ke arah Cagalli yang sibuk memandangi Shinn dan Mayu yang terlihat semakin menjauh. "Apa?" tanya Shinn pelan.

"Aku melihat Mayu menangis. Sepertinya ia sedang bertengkar dengan Shinn."

"Hee? Kau tahu mereka?" Shinn nampak terkejut dengan kata-kata Cagalli.

"Ya, begitulah. Siapa yang tidak tahu dengan wakil ketua OSIS. Mengenai adiknya, aku pernah melihat mereka berdua berjalan bersama menuju taman." Jelas Cagalli.

"Jika kau mengetahuinya. Mengapa kau seperti tak mengenalinya saat dia memelukmu? Kau ingat kalau dia penyebab kekacauan diantara kita hari ini."

Cagalli menghembuskan napasnya dan melirik Athrun. "Aku sebenarnya tahu. Tapi otakku blank saat dipeluk olehnya. Itu terjadi tiba-tiba. Gadis mana yang tak akan kebingungan jika dipeluk seperti itu."

Shinn mendekatkan wajahnya ke wajah Cagalli, hingga mereka saling merasakan hembusan napas masing-masing. "Kau menyukai tindakannya?"

Cagalli menaikkan sebelah alisnya. Dijauhkannya wajahnya, dan didoronnya tubuh Athrun untuk mundur selangkah. Jari telunjuk gadis pirang ini terangkat. "Jangan memulai, Athrun. Kita baru saja berbaikan."

Shinn terkekeh dan langsung merangkul Cagalli. "Aku tak merasa kita sedang bertengkar."

"Bodoh."

"Ayo pulang." Shinn mulai berjalan sembari merangkul Cagalli.

Dan di tengah perjalanan mereka. Cagalli mulai membicarakan tentang Yzak pada Athrun. Mendengarnya, Shinn pun hanya bisa mengangguk dan berjanji akan meminta maaf pada salah satu sahabatnya itu keesokan harinya.

SOUL

Untuk kesekian kalinya Athrun membuat Mayu menangis. Ya, Mayu yang saat ini terlihat meringkuk memeluk lututnya. Air matanya tak hentti-hentinya bercucuran. Di sampingnya Athrun berdiri, namun tak menatap gadis kecil itu. Athrun takut, takut untuk menatap Mayu. Ia tak ingin Mayu semakin terluka karenanya.

"Sampai saat ini kakak masih saja mengaku sebagai orang lain." Mayu mulai angkat bicara disela-sela tangisnya.

Athrun mengerutkan dahinya, dan perlahan berbalik menghadap Mayu. "Itu memang kenyataan. Aku bukanlah Shinn."

"Seandainya kakak memang bukan kak Shinn. Mengapa tidak mau mengaku sekali saja? Bertingkah, dan memperlakukan kami sebagai keluarga!"

Sekali lagi Athrun membuang wajahnya. "Maaf, aku tak bisa melakukan itu. Karena aku memang bukan dirinya." Athrun mulai berjalan menuju pintu kamar. Cukup, ia merasa tak tahan dengan semua ini. Bagaimanapun caranya, ia harus mengakhirinya.

Trek.

Athrun sedikit terkejut saat melihat Luna yang berdiri di depan pintu kamarnya.

Mata Luna menangkap sosok Mayu yang menangis. Luna lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah Shinn. "Maaf atas kedatanganku yang tiba-tiba. Tapi, bisa kita bicara?"

Athrun yakin ini bukan pembicaraan yang akan menenangkan hatinya. Athrun tetap mengangguk, menyetujui permintaan Luna. "Kita bicara di luar saja."

SOUL

"Shinn, apa yang membuatmu mengaku sebagai Athrun Zala?" tanya Luna begitu saja ketika mereka telah sampai di sebuah taman yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah Shinn.

Athrun menghela napas berat dan mulai memijit keningnya. Lagi-lagi pembicaraan mengenai ini. Ia lalu menatap Luna dengan lekat. "Kenapa kalian semua sama saja? Bertanya siapa diriku. Aku bukan mengaku, tapi aku memang Athrun Zala."

"Omong kosong!" teriak Luna. Wajahnya terlihat memerah karena menahan amarah.

"Percayalah. Aku sudah muak dengan keinginan kalian. Aku bukan Shinn Asuka! Aku adalah Athrun Zala!"

"Bisa kau tunjukkan buktinya? Dilihat dari manapun, kau tetap Shinn." Suara Luna melemah mengatakannya.

"Kau bisa melihat dari tingkahku. Aku yakin sebagai sahabat, kau tahu bagaimana Shinn. Aku dan dia berbeda. Tidakkah kau lihat?"

Mata Luna membulat. Sekelebat memori yang terjadi beberpa hari lalu teringat. Ia ingat saat ia berkunjung ke rumah Shinn, ia mendapati Shinn yang sedang melihat pertandingan basket dari tv. Luna sadar kalau Shinn bukanlah pemain basket. Shinn lebih senang melihat acara musik.

Lalu, setiap kali Luna bercerita. Shinn terkesan kebingungan dengan ceritanya, hingga Shinn jarang sekali merespon. Shinn yang dulu pasti akan langsung menyambar habis topik pembicaraannya. Interaksi mereka terlihat sangat berbeda.

"Ta-tapi, bisa saja kau amnesia." Kilah Luna.

"Apakah aku seperti seseorang yang sedang amnesia?"

Bibir Luna mulai terbuka dan matanya langsung fokus ke bawah. Raut wajahnya drastis menjadi bingung. Otaknya berpikir keras. "Itu tak mungkin, Shinn."

"Hari itu, aku mengalami kecelakaan. Mobil yang kukendarai ditabrak oleh mobil pengangkut kayu. Kau tahu, setelah kecelakaan itu aku serasa tak bisa bangun. Dan ketika aku sadar, aku sudah berada di tubuh ini."

Srek... Luna mundur selangkah dengan wajah yang pucat pasi. "Ti-tidak mungkin." Bibirnya bergetar hebat. Cepat-cepat ia peluk tubuhnya sendiri. Karena secara tiba-tiba ia ingat kalau hari itu teman-teman di sekolahnya sedikit gempar karena peristiwa kecelakaan yang menimpa dua siswa OHS. Dua...

"Jadi... kau..." Air mata Luna jatuh begitu saja membasahi pipinya. Ia menatap Shinn yang juga menatapnya dengan wajah sedih. Terlihat Shinn mengangguk pelan.

"Ya, akulah yang mengendarai mobil itu. Dan Shinn lah yang tertimpa runtuhan kayu seperti yang kau ceritakan saat kita berada di Rumah Sakit."

SOUL

"−katakan jika kau memang mencintaiku?"

"Shh, jangan konyol. Aku tak perlu mengatakan hal itu berulang kali."

"Tapi aku senang mendengarmu bila mengatakannya."

"Athrun."

"Ya?"

"Ini seperti bukan kita. Maksudku, entah mengapa terasa begitu lain." Cagallli menghela napas lalu lebih mendekatkan ponselnya ke telinganya.

"Kau tak menyukainya?"

Cagalli tertawa renyah setelahnya. "Bukan begitu, Athrun. Hanya saja, sebelumnya kau tak pernah seromantis ini. Kau sakit? Haa, aku rasa ada yang salah dengan otakmu karena kecelakaan itu." Ucapnya sembari tersenyum. Ia rebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk di kamar.

"Aku rasa ya. Aku sakit. Sakit kasmaran."

"Kau semakin konyol saja. Baiklah. Lusa aku akan pergi denganmu ke bioskop."

"Hh, akhirnya. Kita kencan juga. Ok, aku jemput kau pukul sembilan."

"Itu terlalu pagi untukku."

"Tidak ada waktu untuk bangun siang, Cagalli. Ok, pukul sembilan. Deal."

Lagi-lagi Cagalli menghela napas. Dijauhkan ponselnya dari telinganya, kemudian ia tatap untuk beberapa detik. Hening. Manik hazel indah miliknya menatap layar ponsel dengan pandangan agak lesu. Ia akui ia senang dengan sikap romantis Athrun. Karena biasanya, kekasihnya itu selalu bersikap jahil padanya. Dan Cagalli mulai merindukan sikap Athrun yang senang mengganggunya itu.

"Haumea, apa yang sedang kupikirkan saat ini." Lirihnya kembali menatap layar ponsel. Senyumnya terkembang. Ada gambar dirinya dan Athrun yang menghiasi wallpaper ponsel. Ia usap layar ponsel itu. "Hei, jangan bersikap romantis terus. Jahil lah sekali-kali."

Sret...

Alis Cagalli langsung bertautan. Ada yang aneh dengan wallpaper ponselnya. Entah pandangannya saja ataukah...

Srak! Seketika Cagalli menghempaskan ponselnya ke ranjang. Keningnya berkerut. Napasnya naik turun, tak stabil. Ia terlalu syok. Tak mungkin ini terjadi. Mungkin ponselnya mulai rusak, pikirnya. Ia ambil kembali ponsel miliknya dan kembali ia lihat layarnya. Normal... Kemudian segera ditutupnya matanya, ingin segera tidur. Memang penglihatannya saja yang salah, pikirnya lagi.

Namun meski begitu.

Kenapa bisa?

SOUL

Athrun duduk diam di atas ranjang yang bukan miliknya. Menatap bintang, malam ini sangat sunyi. Sama seperti hatinya yang terasa begitu hampa. Ia tak menyangka hidupnya akan sesulit ini. Tak akan menyerah, sudah satu jalan terbuka untuknya. Luna mempercayainya.

Masih menangis, Luna menundukkan kepalanya. Bahu gadis itu bergetar.

"Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Aku rasa ini tak mungkin. Apa ada yang seperti ini di dunia?"

Athrun berjalan mendekati Luna, dan menyentuh bahu gadis itu. Sekiranya agar tenang. "Tak akan ada yang mempercayainya. Tapi aku harap, kau mau percaya padaku."

Langkah Athrun berhenti begitu ia tiba di balkon kamar. Lagi-lagi ia memandang langit dengan wajah yang sedih. Kapan hal ini akan berakhir?

Wush...

Athrun terkesiap dengan angin yang secara mendadak berhembus. Dialihkan pandangannya. Matanya sedikit menyipit begitu ia sadari ada sesosok pria tua yang berdiri tak jauh dari rumah keluarga Asuka. Pria itu memandang dirinya.

"Ia memandangku?" tanya Athrun pada dirinya sendiri.

Masih berusaha untuk melihat dengan jelas, mendadak terdengar suara seperti bisikan.

Ambil lah sebelum terlambat...

Athrun yakin bisikan itu bukan karena pendengarannya yang bermasalah. Ia yakin dengan suara itu. Sekejap ditatapnya lagi pria tua itu. Namun, pria tua itu sudah tidak ada di sana.

"Apa, maksudnya?"

TBC

Special thanks: Nemui Neko-chan, NaPpy, popcaga, Misca, Asuka Mayu, RenCaggie, anyaa, Lenora Jime, and silent reader :D

Gomen telat dan rada abal. Tapi makasih banget buat yang udah setia nunggu Soul XD

Mampir lagi?

NaPpy: wkwkwk, biar k cyaaz tertawa celaluuuh :D huaaa apa Shinn terlihat jahat? Bagiaman dengan chap ini? Makin jahat kah? Mungkin k cyaaz udah terkena pesona dari Shinn, hahay XD. Selalu semangat ini ka. Meskipun rada sebal karena banyak tugas *didepak dosen* XD

Misca: makasih XD. Penasaran? Baca aja lanjutannya ;_;d maaf kalau udah telat banget. Maklum banyak tugas. Makasih semangatnya XD

Anyaa: boleh dong XD. Wah, makasih banget iya agak fantasi, soalnya mereka ketuker jiwanya hoho. Baru pertama ke fandom gundam? O.O" wah, sering-sering aja mampir ke fandom gundam seed. Banyak kok fic-fic seru daari author lain :D . hehe, makasih. Tapi kalau sering mampir ke fandom gundam ntar jadi suka kok sama gundam seed

Sisanya... silahkan baca di inbox masing-masing yaa :D

See you...