.
Naruto Masashi Kishimoto
Warning T rated
Genres : Romance/Drama/Fantasy/Tragedy
Main Pair : SasukeXHinata
Side pair : GaaraXHinata/TsunadeXJiraiya/KakashiXSakura
Sorceress And The Knight
04003
-Sorceress Assasination ARC-
.
.
Kediaman Hyuuga Mansion
Sudah sejak 5 menit lalu Hinata berjalan mondar-mandir sambil menggerutu. Hatinya terasa panas sekaligus cemas. Disaat seperti ini kenapa dia jadi tak berdaya.
"Ini benar-benar menyebalkan! Aku tidak seharusnya berada di sini!" Gadis itu berkacak-pinggang dan menatap Sasuke dengan wajah masam. "Kenapa kalian memperlakukan aku seperti tawanan begini? Aku mau keluar!"
Hinata melangkah cepat menuju pintu, namun sebelum tangannya meraih kenop pintu, Sasuke sudah berdiri di depannya, menghalangi.
"Apa kau lupa yang dikatakan Ayahmu kepada kami?" Tanyanya dengan tatapan datar dan membuat Hinata semakin gemas.
"Aku tahu, aku tahu. Ayahku meminta kalian untuk mengawasiku. Tapi, kalian jangan lupa juga, kalau kalian masih terikat kontrak denganku dan ini belum berakhir!" Hinata mendengus tak mau kalah.
Hinata mengeluarkan deathglare ke arah Sasuke. Pemuda itu sama sekali tidak bergeming dari pintu dan itu membuatnya semakin kesal saja. Tatapan Hinata pun dibalas oleh Sasuke sama tajamnya.
"A-apa!?" Hinata kaget karena sepasang mata kelam itu memandangnya dengan begitu intens.
"Apa kau tidak menyadarinya? Ayahmu tadi sangat mencemaskanmu. Dia tidak ingin kau berurusan dengan penyihir itu."
Bukan hanya saja Hinata yang dibuat terkejut. Ino, Kiba, tenten, juga Naruto sama-sama terkejut dengan kata-kata Sasuke barusan. Tidak ada yang bisa menduga, Sasuke yang terkenal datar dan acuh bisa begitu peka akan gerak-gerik seseorang.
"Tapi, bagaimana dengan Sunagakure dan Shion…."
"Urusan Shion biar aku yang menanganinya, kalian tunggu di sini."
"Jangan bilang kau mau melawan Shion sendirian?" Sambar Kiba cepat.
Sasuke tidak menjawab pertanyaan Kiba. Pemuda itu membuka pintu dan melangkah keluar rumah dengan mantap. Tapi tidak dengan teman-temannya. Mereka malah mengkhawatirkan Sasuke. Sekuat apapun Sasuke dia tidak mungkin bisa melawan Shion, penyihir terkuat hanya seorang diri.
Tak ada yang bergerak, apalagi berani bicara. Mereka menatap punggung Sasuke yang semakin lama semakin bergerak menjauh.
"Hei, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" Kiba berbisik-bisik dengan Tenten.
"Mana aku tahu! Sebenarnya aku ingin sekali menyusul Sasuke, tapi kita 'kan ada tugas menjaga Hinata," balas Tenten bingung.
"Ayo kita susul Sasuke!" Sambar Hinata dengan mantap. Mata semua ANBU kini tertuju padanya.
"Tapi, Sasuke bilang untuk—"
"Kita tidak bisa membiarkan Sasuke berhadapan dengan penyihir itu seorang diri!" Hinata memotong kalimat Tenten.
Hinata lekas berjalan keluar untuk menyusul Sasuke, kemana pun pemuda itu pergi sekarang. Kemudian, satu-persatu Ino beserta kawan-kawannya mengikuti dari belakang.
Hinata dan yang lain melihat keadaan jalanan kota Sunagakure sudah dipenuhi oleh padatnya penduduk yang sedang berteriak, mengelu-elukan nama Shion. Di sisi lain juga ada sebagian penduduk yang menentang keberadaan Shion dan keputusan Hiashi. Semua keramaian itu bercampur-aduk menjadi satu.
"Aduh, kalau begini akan sulit bagi kita untuk mencari Sasuke!" Keluh Naruto di tengah-tengah keramaian sambil sesekali melirik ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sosok pemuda berambut hitam itu.
Di tengah keramaian itu, Hinata yang terlalu fokus mencari Sasuke akhirnya bertabrakan dengan seseorang. Tubuh Hinata terdorong sedikit ke belakang dan kehilangan keseimbangan, tapi ia tak terjatuh. Namun, ada satu hal yang tak terduga.
Orang yang bertubrukan dengan Hinata tiba-tiba saja menyerang. Pemuda itu mengeluarkan sebilah belati dari balik jaket hitamnya dan diarahkan ke tubuh Hinata.
Baik Hinata maupun yang lainnya tak sempat bereaksi. Kejadiannya berlangsung begitu cepat dan sangat tak terduga. Tiba-tiba saja pemuda asing itu menusukkan belati itu ke bagian perut Hinata. Gadis itu tak sempat menghindar. Ia ambruk begitu saja di tengah jalan.
"HINATA!"
Ino dan yang lainnya langsung panik. Ramai-ramai mereka mendekati tubuh Hinata yang tergeletak lemah di jalanan.
"HEI, TUNGGU KAU JANGAN LARI!" Naruto mengejar pemuda bertudung itu yang lari ke arah keramaian penduduk.
"Naruto tidak usah dikejar!" Ino terlambat bicara karena Naruto sudah berlari masuk ke dalam kerumunan mengejar orang bertudung tersebut.
"Sudahlah Ino, lupakan Naruto. Sekarang kita harus membawa Hinata ke tempat yang aman!" Sambar Kiba yang mencemaskan keadaan Hinata karena mengalami pendarahan.
Akhirnya Ino, Kiba, dan Tenten segera membawa Hinata yang pingsan itu menjauh dari tempat kejadian. Sementara itu Naruto terlihat sedang menerobos kerumunan orang-orang yang memadati jalanan kota dengan tatapan yang terfokus menuju ke depan. Sedetik pun ia tak membiarkan matanya berkedip agar tidak kehilangan jejak orang yang sudah menusuk Hinata tadi.
"TUNGGU KAU!" Teriaknya di sela-sela pengejaran dengan napas yang memburu.
Sekilas orang bertudung itu sempat menoleh ke arah belakang. Samar-samar Naruto dapat melihat surai merah dari balik tudung itu. Spontan pikirannya langsung tertuju ke arah Gaara, karena satu-satunya pemuda berambut merah yang ia kenal hanyalah Gaara di akademi.
"GAARA!" Teriaknya penasaran.
Diliputi oleh rasa penasaran yang besar, Naruto mempercepat langkahnya sekuat tenaga. Begitu jarak pemuda bertudung itu sudah berada dalam jangkauannya, Naruto mengulurkan tangannya dan menarik pundak pemuda tersebut.
"Gaara, berhenti kau!"
Namun ternyata dugaannya salah. Orang tersebut bukanlah Gaara, meskipun memang terdapat sedikit kemiripan di antara keduanya.
"Kau…? Siapa kau, katakan padaku!" Naruto yang sudah berhasil menarik pemuda itu langsung mencengkram kerah bajunya kuat-kuat agar tak lepas.
Sekilas pemuda itu memang mirip Gaara kecuali tidak adanya tato pada keningnya, juga sepasang manik hazel yang membedakannya.
"Kenapa kau melukai Hinata!?" Naruto semakin menguatkan cengkramannya.
"Aku tidak perlu menjelaskan apa-apa padamu," balas pemuda yang tidak diketahui itu.
Ia mencengkram tangan Naruto yang sedang memegang erat kerah bajunya sama kuat. Naruto menggerakkan tangannya yang sebelah kiri untuk melayangkan sebuah tinju, akan tetapi gerakan tangannya ditahan oleh tangan satunya dari pemuda itu.
"Menyebalkan…!" Naruto menggeram.
Sebelum Naruto melakukan tindakan lain, tiba-tiba saja tubuh pemuda di hadapanya terbakar. Reflek Naruto melepaskan diri darinya dan menghindari, mundur beberapa langkah ke belakang. Ia mengamati kobaran api yang menyelimuti pemuda itu dari zona aman dengan tatapan bingung dan bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba saja tubuh pemuda itu terbakar sendirian?
Belum hilang rasa keterkejutan Naruto, mendadak api yang tadi membakar tubuh sang pemuda padam dengan sendirinya. Naruto bahkan sampai mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali hanya untuk memastikan ia tak salah lihat. Tapi dalam sekejap mata, pemuda tadi sudah menghilang entah kemana.
"Tidak mungkin…, kemana perginya dia?"
Naruto mengedarkan pandangan matanya ke seluruh kerumunan. Akan tetapi ia tetap tidak berhasil menemukan sosok pemuda tadi melainkan sosok Sasuke yang sedang berduel dengan Gaara dari kejauhan.
"Sasuke dan Gaara…? Apa yang sebenarnya terjadi?" Naruto tak punya pilihan selain bergegas menghampiri Sasuke dan Gaara untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.
Akhirnya Negara Sunagakure benar-benar jatuh ke tangan Shion. Keluarga Hyuuga dengan dibantu oleh sebagian rakyat Sunagakure berhasil melarikan diri ke desa Mizukage bersama dengan Sasuke dan kawan-kawan.
Desa Mizukage
Hinata yang pingsan akibat pendarahan akhirnya sadar. Begitu sadar dua buah lengan kekar sudah memeluk tubuh gadis itu.
"Hinata, syukurlah kau baik-baik saja." Suara Hiashi yang biasa galak dan tegas kini terdengar begitu lembut dan diliputi kecemasan.
"Ayah…, apa yang telah terjadi…? Dimana ini…?"
"Saat ini kita berada di Desa Mizukage."
"Desa Mizukage? Lalu, apa yang terjadi dengan Sunagakure?"
Sesaat suasana menjadi hening setelah mendengar pertanyaan Hinata barusan. Hinata yang melihat gerak-gerik ayahnya jadi mendapat firasat buruk.
"Kenapa kalian semua diam?"
"Sunagakure…, jatuh ke tangan Shion…," jawab Hiashi dengan berat hati.
"Tidak…, ini tidak mungkin…." Hinata benar-benar merasa tak percaya dengan kenyataan itu. Negara, tempat ia dilahirkan kini jatuh ke tangan orang jahat. "Kita tidak bisa diam saja di sini. Kita harus segera membebaskan Sunagakure!" Hinata tanpa memedulikan keadaan dirinya segera berdiri dari tempat tidur. Hal itu malah menyebabkan perutnya semakin sakit saja.
"Uuugh…." Gadis itu meringis sambil memegangi bagian perutnya yang terasa sakit.
"Hinata jangan memaksakan diri. Kau masih terluka, jangan banyak bergerak," sambar Ino secara reflek menasehati Hinata.
"Dia benar. Tenanglah sedikit, Hinata." Hiashi memegang kedua bahu putrinya dan memintanya untuk duduk lagi di atas tempat tidur.
"Tapi…, bagaimana dengan Sunagakure…? Seandainya saja ada Gaara..., dia pasti bisa membantu…." Tiba-tiba saja Hinata menyerukan nama Gaara. Yah, dia beranggapan kalau saja saat itu ada Gaara pasti Sunagakure bisa diselamatkan dari Shion.
"Maksudmu membantu menjatuhkan Sunagakure bersama dengan Shion?" Sambar Naruto dengan ketus.
"Apa maksudmu bicara seperti itu!?" Hinata mendelik, tampak tidak suka.
"Oh, iya ya kau 'kan tidak tahu kalau Gaara berpihak pada Shion dan ikut menyerang Sunagakure," ucap Naruto dengan sarkastik.
"I-itu tidak mungkin! Gaara tidak mungkin membela Shion!" Hinata menggelengkan kepalanya beberapa kali, masih tidak percaya.
"Kalau kau tidak percaya, tanya saja pada Sasuke. Dia bahkan sempat menyerang dan bertarung melawan Sasuke."
"A-apa itu benar, Sasuke? Katakan padaku kalau Gaara tidak melakukannya…."
"Semua yang dibilang Naruto benar. Gaara memang datang tapi bukan untuk membela Sunagakure, melainkan berada dipihak Shion."
"I-ini tidak benar…, ke-kenapa Gaara…."
Hinata tertunduk lemas. Rasanya ia ingin sekali menapik semua perkataan Naruto, tapi ia tahu Sasuke tidak mungkin sedang berbohong. Tapi kenapa Gaara melakukannya? Rasanya, hatinya benar-benar sangat sakit. Ia merasa terkhianati.
"Hinata, Ayah sudah bicara dengan Sasuke tadi. Ayah ingin untuk sementara waktu kau dan Hinabi ikut dengannya ke Konoha, karena di sana lah satu-satunya tempat yang aman untuk kalian berdua."
"Lalu, bagaimana denganmu sendiri?"
"Sebagai pemimpin Sunagakure, sudah menjadi kewajibanku untuk tetap berada di Sunagakure demi Negara dan rakyat…."
"Sebagai Putrimu, aku juga ingin ikut berjuang."
"A-aku juga. Kalau Kak Hinata di sini, aku pun juga akan tetap di Sunagakure."
"Hinata, Hanabi, kali ini tolong dengarkan Ayah. Pergilah dengan Sasuke ke Konoha. Keadaan Sunagakure sedang genting, dan ayah tak ingin kau atau pun Hanabi terluka…."
Hiashi menatap kedua putrinya lekat-lekat. Jelas terlihat ia begitu berat harus berpisah dengan keuda putrinya, tapi dia tak punya pilihan lain. Hanabi dan Hinata adalah harapannya, dia ingin keduanya selamat bagaimana pun caranya. Pemandangan ini membuat rasa haru tersendiri dalam benak Ino dan yang lainnya, bahkan Sasuke juga dapat merasakannya meski ia tak terlalu menunjukkan ekspresinya seperti yang lain.
"Baiklah Ayah, kami mengerti," ujar Hinata yang meski dengan berat hati terpaksa menuruti ayahnya. Digenggamnya erat-erat tangan Hanabi.
"Sasuke akan menggantikan Ayah selama kau bersamanya. Jadi apapun yang dikatakannya kau harus menurutinya, jangan membantah."
"Jangan khawatir. Aku akan selalu mengingat pesan Ayah! Iya 'kan, Hanabi?" Hanabi mengangguk riang. Mengiyakan perkataan Hinata.
"Sudah waktunya kalian berangkat. Tsubaki akan mengantarkan kalian ke stasiun bawah tanah yang ada di Desa ini. Tolong, jaga diri kalian baik-baik."
"Kami pasti akan kembali untuk membebaskan Sunagakure."
Ayah dan kedua putrinya itu saling berpelukan untuk beberapa saat. Setelah itu dengan berat hati Hinata dan Hanabi melangkah keluar meninggakan sang ayah di Desa Mizukage.
Apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini?
TBC
