Minna-san, bertemu lagi XDD
Langsung aja deh ya ke ceritanya. semoga di chapter ini tahu tentang pemuda misterius kemaren XD
o ya. Untuk apdet berikutnya saya nggak bisa cepet. Gomen na. Saya mau UAS. doain yah! Nanti updatenya pas silent week. Semoga bisa. ._. Sukses juga buat semua yang mau ujian! Ganbatte!

Sykisan:

Kayaknya bakal terjawab deh di chapter ini. XD Bukan kok, bukan mantannya Rukia. :3
Wah, apdetnya pas nih. X3

Uzumaki kuchiki:

Jaaaahhh, jangan dibunuh. Ntar ceritanya nggak bisa lanjut. XDD

Wah, iya yah. ._. Tapi nanti ada waktunya kok. XD ah, lagian kalau Rukia ngelawwan, nggak seru nantinya. *dor
Pemuda itu... pacarku. Jiakakakakaka XDDD
canda canda. Keknya bakala ada clue nih di chapter ini.

chappy ruki:

Saya juga nggak nyangka. Aku kira aku yang diajak Ichigo main. ._. *dilempar
Inoue memang pintar dan masih benyak lagi rencana yang ada. XD

Ciyuuss dia kenal Rukia? *dikubur idup2

Chapter ini udah ada bocoran kok. XD

haruki1244:

Wah, pada penasaran sama si cowo misterius nih. Authornya nggak ada yang nanyain. ._.
*pundung di pinggir jalan
selanjutnya ada di chapter ini. XD

Yosh! Cama cama~~ :3

Naruzhea AiChi:
Errr, ndak tau *plakk XDD

Yakin nih bisa bersama seterusnya? Nassib mereka ada di tangan saya lho. Hwehehehe
*ditikam zangetsu

Satu kata juga. Udah! XD

Chappy : waduh, malah stress ._.a ampun bukan gara2 saya kan ya?

kaien? Kaien kan udah dikenal sama mereka. XD

.

.

GOMENASAI
a short story of Ichigo and Rukia made by their fan

.

.

"Rukia!" Entah sudah teriakan yang ke berapa kalinya ia lemparkan pada Rukia pagi ini. Kali ini apa lagi? Tiba-tiba saja ia dihindari lagi, padahal beberapa hari sebelumnya mereka baik-baik saja dan baru saja menghabiskan waktu menyenangkan yang tak pernah bisa mereka wujudkan sebelumnya.

'Kami-sama, kali ini ada apa lagi dengan Rukia?'

Ichigo tak tahu apa yang salah , karena Rukia juga menjauhinya tiba-tiba. Padahal seingatnya, ia sama sekali tak melakukan kesalahan, dan ia juga tak melihat Orihime berulah, meskipun ia sedikit curiga kalau Orihime campur tangan atas hal ini.

.

.

"Hime, kau baik-baik saja, kan?"

Rukia berhenti ketika mendengar suara Senna di dalam toilet. Ia mengurungkan niatnya keluar dari bilik. Dari nama yang disebut, ia yakin Senna tengah bersama Orihime.

"Aku berusaha untuk melepaskan Ichigo, tapi aku tak bisa, Senna."

"..."

"Aku hanya ingin dia, bukan pria lain. Dulu..."

"Dulu?"

"Dulu saat kami berpacaran, aku sempat hamil, dan itu adalah anak dari Ichigo."

"Apa?! Lalu... lalu apa yang terjadi pada anak kalian?"

"Aku.. hiks... aku terpaksa menggugurkannya karena dia marah dan tak menginginkannya. Tapi setelah ayahnya tahu, ia malah dipindahkan ke sini agar dia bisa jauh dariku."

"Orihime..."

"Tapi sekarang aku tak bisa apa-apa karena Ichigo sudah memilih orang lain."

"Kau pasti bisa mendapatkan orang yang benar-benar mencintaimu, Hime."

"Tapi aku hanya mencintai Ichigo. Aku juga ingin dia mencintaiku seperti dulu."

"Tenanglah, Hime. Sudah lupakan dulu saja. Sebaiknya kita juga kembali ke kelas karena pelajaran berikutnya sudah dimulai."

"Hiks... Senna..."

Klik

Kini Rukia yang muncul dari tempat sembunyinya, dengan wajah yang tak karuan. Terkejut, sedih, kecewa dan kesal.

"Dulu saat kami berpacaran, aku sempat hamil, dan itu adalah anak dari Ichigo."

"Ichigo... apa lagi yang kau sembunyikan dariku?"

Tes

Ia meleleh begitu saja di pipi Rukia. Buliran bening hangat yang mengekspresikan rasa sakit di hatinya. Ia tahu jika berpacaran dengan Ichigo hanya setelah sebentar berkenalan. Wajar saja dia ia tak tahu masa lalunya. Ia tak bertanya, tak berani, dan Ichigo tak memberitahunya. Ia memang sudah tahu bahwa Orihime adalah mantan kekasih Ichigo. Tapi tentang hamil? Sudah sejauh apa mereka?

"Ichi..."

.

.

"Apa yang kau lakukan di sini, Ichigo?"

"Byakuya-san?"

"Ada perlu apa kau di sini?"

"Aku –aku ingin bertemu dengan Rukia."

"Ada masalah apa kalian?"

'Byakuya, peka sekali.'

"T –tidak ada masalah apa-apa di antara kami."

"Hn."

"Bisakah kau memberitahunya aku ada di sini?"

"Kalau dia memang tak mau bertemu, pergilah."

Nii-sama sudah bertitah, Ichigo. Lebih baik tinggalakan tempat sekarang juga, dan selesaikan besok. Kalau Byakuya sudah tak mau ikut campur, artinya jangan harap dia mau membantumu. Daripada kau kedinginan di sini, lebih baik pulang.

"B –baiklah kalau begitu. Katakan pada Rukia aku akan menjemputnya besok."

"Hn."

.

.

Seharian Rukia terus menghindari Ichigo. Kali ini, ia berada di tempat yang tak biasa ia kunjungi, karena ia yakin Ichigo akan mencarinya ke sana. Di tempat ini, ia hanya duduk di jendela. Memandang ke luar, pada langit yang terhias awan putih. Semilir angin berhembus melewati celah jendela dan membelai surainya, membuat beberapa helai mengambang sesaat lalu terjatuh lagi.

"Sebaiknya aku bolos dulu saja untuk pelajaran berikutnya."

Satu alasan. Karena kelas berikutnya ia akan sekelas dengan Ichigo, dan ia tak mau.

Dalam hatinya masih mengganjal banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan. Sebenarnya sejauh apa hubungan mereka dulu? Benarkah Inoue pernah hamil? Benarkah itu karena Ichigo? Apa dulu mereka saling mencintai? Lalu apa yang membuat mereka mengakhiri hubungan mereka?

"Ichigo..."

Klek.

Rukia menoleh ke arah pintu.

"Renji?"

"Rukia? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah seharusnya ini jam pelajaran?"

"Uhm. Aku tak masuk. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini?"

"Aku hanya ingin mengambil beberapa peralatan. Kau tumben sekali ada di tempat ini? Kau tak bersama Ichigo?"

"Tidak." Jawab Rukia tanpa melihat Renji.

Pemuda itu mendekat, berjalan ke arah Rukia, dan berdiri bersandar di tembok samping jendela.

"Ada apa dengan kalian, Rukia? Apa kalian ada masalah?"

"Renji..."

"Hn?"

"Kalian bersahabat, kan? Aku yakin kau tahu banyak hal tentang Ichigo."

"Eh?"

"Terutama tentang Ichigo dan Inoue."

Tubuhnya menegang dan setitik keringan dingin tampak di pelipisnya. Ia ragu-ragu hendak membuka suara. Tatapannya pun tak bisa fokus pada Rukia.

"Apa benar kalau Inoue pernah mengandung anak Ichigo, eh?" Tanya Rukia sembari masih sibuk mengawati awan yang bergerak lambat di langit.

"K –kau tahu dari mana, Rukia?"

"Jadi benar, ya?"

"Eh –maksudku... kau –kau... siapa yang memberitahumu?"

"Apakah itu memang benar, Renji?" Rukia mengabaikan pertanyaan Renji dan lebih peduli akan jawaban dari pertanyaannya, "Dan apakah benar kalau Ichigo menyuruh Inoue menggugurkannya?"

"Aku –aku tak tahu kejadian pastinya, Rukia. Aku juga tak berani memberimu jawaban. Kalau kau memang sudah tahu tapi kau ingin konfirmasi atas hal ini, sebaiknya kau bertanya saja pada Ichigo. Tapi Rukia, aku hanya bisa mengatakan hal ini padamu." Renji menghela napas panjang, "Apapun yang terjadi dengan Ichigo dulu, siapapun yang Ichigo cintai dulu, yang jelas sekarang dia hanya mencintaimu. Aku juga senang Ichigo bertemu denganmu. Kau membuat dia lebih baik."

"Lebih baik?"

"Dulu, saat di SMP dia adalah anak yang paling ditakuti. Tak ada yang berani macam-macam dengannya. Dia pun sering membolos pelajaran. Melihat kelakuannya, tak ada guru yang juga berani menegurnya. Kelas tiga SMP dia ketahuan sedang merokok di sekolah. Dia di skors selama satu bulan. Selama masa skors, dia sering sekali keluar malam bersama teman-temannya. Perkataanku sama sekali tak dihiraukannya."

"Tapi dia sekarang..."

"Dia mulai berubah setelah mengenalmu, Rukia."

"Tentang... hubungannya dengan... Inou –e?"

"Mereka berpacaran saat kelas satu SMA. Tak heran kalau sampai mereka..." Renji melirik Rukia sekilas, berharap kelajutan kata-katanya tak menyakiti Rukia, "sampai melakukan –nya..." Ia melirik lagi, dan kali ini ia menjumpai senyum getir di wajah kekasih sahabatnya itu.

"Ah, begitu ya... kalau begitu, wajar saja."

"Tapi aku sama sekali tak menyukai Inoue, Rukia."

"Kenapa?"

"Dia bukannya menasehati Ichigo, malah menuruti Ichigo dan membuatnya semakin parah. Alasan Ichigo dipindahkan dari Tokyo ke Karakura adalah karena aku ada di sini, aku pindah saat kelas 3 SMP, dan karena di sini tak semoderen Tokyo. Ayahnya berharap Ichigo mau berubah. "

"..." Rukia belum mau mengambil kesempatan bicaranya. Ia masih ingin mendengarkan Renji melanjutkan ceritanya, dan semua hal yang ia ingin tahu, sejauh yang bisa ia tahu.

"Aku senang melihat ia berubah. Aku juga mendukungnya dan tak keberatan ia tersiksa saat memenuhi tantangan dari kakakmu. Walaupun aku dulu menganggap kakakmu kejam, tapi... dari syara-syarat yang ia ajukan, semuanya membuat Ichigo lebih baik."

"Aku, tak tahu syarat-syarat yang diajukan nii-san padanya. Tapi dia juga berkata kalau ia harus berusaha keras. Sejujurnya..."

"Hn?"

"Aku juga tak menyangka kalau dia serius memenuhi semuanya. Aku tak mengira kalau Ichigo serius mencintaiku."

"Dia serius."

"Dulu saat awal aku pergi dengannya, aku masih belum yakin apakah aku mencintainya. Tapi melihat dia begitu baik padaku, aku lambat laun jatuh cinta padanya, dan akhirnya aku memutuskan untuk belajar mencintainya."

"Syukurlah kalau kau juga punya perasaan sama dengan Ichigo."

"Tapi sekarang Inoue kembali, dan dia..."

"Rukia, kumohon terimalah Ichigo. Kumohon jangan biarkan dia lepas dari sisimu." Renji membungkuk pada Rukia, membuat gadis itu gugup dan salah tingkah, "Aku mohon dengan sangat padamu!"

"Tapi Renji..."

"Abaikan saja Inoue, Rukia. Kumohon. Aku juga tak ingin Ichigo dimanfaatkan lagi olehnya."

"Dimanfaatkan?"

"Dia yang tahu Ichigo jatuh cinta padanya, sengaja memanfaatkan Ichigo saat dia tahu kalau Ichigo adalah orang kaya."

"Eh?"

"Aku yakin, dia datang ke sini hanya untuk memanfaatkan Ichigo lagi."

"Tapi kata ayah Ichigo, Inoue berassal dari kalangan keluarga berada."

"Dulu, Rukia. Tapi setahun lalu keluarga mengalami krisis. Aku yakin mereka tak mengatakannya pada paman Isshin."

"B –bbaiklah..."

"Benarkah?"

"I i-ya..."

"Terimakasih, Rukia! Terimakasih!"

"Uhn..."

"Ah, aku terlalu lama di sini. Aku harus segera kembali. Jaa."

Rukia melambaikan tangannya sampai pintu ruangan itu tertutup, membuat ia tak bisa melihat Renji lagi. Rukia memang tak tahu apa-apa tentang masa lalu mereka. Tapi apa yang dikatakan Renji, ia ingin mempercayainya, karena sebagai sahabat, Renji tak akan menjerumuskan Ichigo. Sejauh yang ia tahu, mereka juga bersahabat baik.

Rukia mengambil handphone-nya yang sedari tadi ia matikan. Begitu benda komunikasi itu menyala, banyak pesan berturut-turut masuk ke mailbox, dan dari nomor yang sama.

Kurosaki Ichigo

Ia lalu menekan tombol dial.

"Moshi-mosh–"

"Rukia! Kau di mana? Seharian aku mencarimu, bodoh! Di mana kau sekarang!"

Baru satu kata ia ucapkan, Ichigo sudah merutukinya dengan 4 kalimat.

"Rukia!"

"Ah. Aku masih ada di sekolah."

"Di mana kau?"

"Aku sedang kembali ke kelas. Nanti kita bertemu sepulang sekolah."

"Ruki –"

"Dengarkan aku, Ichigo. Kita bertemu seusai sekolah. Aku juga ada hal yang ingin aku bicarakan. Jadi pastikan kau jangan pergi dulu."

"Baiklah. Kau berjanji tak akan kabur?"

"Tidak. Tenang saja."

"Baiklah, sampai jumpa nanti."

.

.

Oranye sudah merona di ufuk barat. Semburat manis yang mencerahkan sore ini. Sayangnya, dua hati milik sepsang kekasih yang kini tengah berdiri di bawah pohon di salah satu taman itu tak sedang ceria. Sejak dari sekolah tadi, keduanya saling bungkam, tak mengatakan apa-apa. Ichigo menunggu, menunggu Rukia mengatakan yang ingin ia katakan, sedangkan Rukia menunggu, menunggu keberaniannya terkumpul.

"Rukia... ada yang ingin kau katakan?"

"Uhm."

"Katakan saja..."

"Apa kau kau pernah –melakukannya... dengan Inoue?"

"Maksudmu?"

"Jangan bodoh, Ichi. Kau pasti tahu maksudku."

Ichigo terdiam. Lidahnya kelu, kata-katanya masih belum mau keluar. Hal yang ada di dalam pikirannya hanyalah, bagaimana Rukia bisa tahu?

"Bagaimana aku bisa tahu?" Bukannya Rukia bisa membaca pikiran orang lain, tapi memang pertanyaan itu jelas tertulis di wajah Ichigo.

"Eh?"

"Aku tak sengaja mendengar percakapan Inoue di sekolah."

"Rukia... aku... –aku..."

"Renji juga mengatakannya padaku, kalau kalian memang..."

"Maaf, Rukia!" Kali ini pemuda bersurai oranye itu yang membungkuk meminta maaf pada Rukia.

Rukia hanya menatap punggung kekasihnya. Ia masih diam. Hatinya sakit. Rasanya lebih sakit saat ia tahu dari orang lain. Ah, rasanya sakit sekali. Rukia diam, membuat Ichigo menegakkan kembali badannya hingga ia dapat menjumpai Rukia yang tengah tersenyum pahit dengan lelehan air mata di kedua pipinya.

"Rukia..." Ia meraih gadisnya, menariknya segera ke dekapannya. "Rukia, maafkan aku. Aku berjanji tak akan melakukan itu lagi. Kumohon maafkan aku Rukia." Pintanya dengan sangat. Suaranya mulai terdengar beda. Sekuat tenaga ia tak menangis di depan Rukia.

"Aku tak apa-apa, Ichigo. Itu masa lalumu."

Ya, benar. Ia juga sudah berjanji pada Renji kalau ia tak akan meninggalkan Ichigo.

"Rukia. Kalau kau marah padaku, marahlah. Aku akui aku salah." Ichigo kalah dari rasa bersalahnya. Bening-bening itu meleleh menuruni pipinya dan jatuh di pundak Rukia, "Akan kulakukan apapun untuk menebus kesalahanku. Aku bersumpah, aku tak akan melakukannya lagi. Kumohon, Rukia."

Gadis itu membuat jarak di antara mereka. Diulurkannya tangan mungil miliknya untuk membingkai wajah Ichigo, dan mengusap air mata kekasihnya.

"Aku tak akan meninggalkanmu... aku mencintaimu."

"Rukia..."

"Tapi Ichigo... kenapa kau jahat sekali menuruh Inoue menggugurkan kandungannya?"

"Karena aku tak mau dimanfaatkannya. Aku juga yakin kalau itu bukan anakku."

"Kenapa kau yakin, eh?"

"Karena dia juga tak mau hamil."

"Apa hubungannya, Ichigo?"

"Dia selalu rajin minum obat pencegah kehamilan. Tak mungkin ia lupa."

"Bagaimana kalau memang dia lupa?"

"Kau percaya pada perkataanya yang terlambat dua minggu, padahal aku melakukannya satu bulan sebelumnya. Kau pikir aku bodoh?"

"Lalu?"

"Aku tak punya bukti kalau dia melakukannya dengan orang lain. Aku yang dulu memang –bisa kau katakan tak punya aturan, begitu saja menyuruhnya menggugurkan kandungannya. Aku tak mau direpotkan olehnya. Tapi tetap saja ia bersikukuh kalau itu anakku."

"Ehm..."

"Kau percaya padaku, kan?"

"Ya. Aku percaya." Rukia tersenyum lalu mendaratkan kecupan ringan di bibir kekasihnya sesaat, lalu berpindah ke kening Ichigo. Tindakannya berhasil membuat Ichigo terkejut, namun juga merasa senang.

Ia tersenyum lalu kembali mendekap Rukia.

"Akhirnya kau menciumku!"

"Bukankah sama saja dengan saat kau menciumku, Ichigo." Rukia protes.

"Beda, Rukia."

"Sudah sudah... lepaskan. Aku ingin pulang."

"Aku antar!" Ucap Ichigo sumringah.

.

.

"Ah, baiklah Orihime. Aku duluan, ya! Kakakku sudah datang menjemput."

"Iya, Senna. Sampai jumpa!"

"Jaa!"

Orihime berjalan ke luar sendirian setelah Senna berlari begitu melihat kakakknya sudah berada di depan gerbang sekolah dengan mobil. Tak ada yang menjemput Orihime, karena memang tak ada yang bisa menjemputnya. Ia berjalan sendiri di sore itu. Berjalan seperti teman-teman sekolahnya yang lain. Ia sebenarnya iri dengan Senna. Ia ingin seperti dulu. Dijemput oleh seorang pelayan, dan diantarkan ke rumah tanpa harus merasa capai seperti ini.

"Ah. Aku harus mampir ke swalayan untuk membeli beberapa kebutuhan." Ia berbelok arah dari jalannya yang menuju rumah ke sebuah toko swalayan. Diambilnya secarik kertas yang berisi catatan belanjaan yang harus ia bawa pulang.

Satu per satu rak yang memajang berbagai barang ia telusuri, dan memasukkan barang yang ia butuhkan ke dalam keranjang. Semuanya sudah. Tak sengaja saat ia hendak berjalan ke kasir, ia melihat sebuah etalase perhiasan. Perak, dan manik. Diambilnya sebuah gelang yang terpajang di sebuah tatakan perhiasan.

"Cantik. Tapi aku tak ada uang." Ingin ia membeli, tapi sayangnya uang yang ia bawa tak akan cukup.

.

.

"Akhirnya aku menemukanmu, Hime-chan."

Pemuda itu mengambil gelang yang tadi diambil orang seorang gadis bersurai oranye yang kemudia meletaknnya lagi. Dibawanya benda itu ke kasir dan membayarnya. Ia berjalan hati senang, namun tetap dengan raut wajah cool-nya.

.

.

Sore ini sama cerahnya seperti kemarin. Sore ini juga sama seperti sore-sore kemarin bagi Orihime. Berjalan pulang sendiri ke rumah. Namun ia tak akan menyangka ada sesuatu yang menunggunya.

Selesai meletakkan sepatu di loker siswa, ia berjalan ke luar gedung sekolah. Tak ada Senna, karena hari ini gadis itu tak masuk sekolah.

"Hime-chan." Panggil seseorang dari balik tembok pagar sekolah. Orihime menoleh dan terkejut karena seseorang di depannya. Seseorang yang sudah lama tak ia jumpai. Seseorang yang tak pernah ia duga akan muncul di depannya. Pemuda itu tersenyum tipis dan berjalan mendekat ke arah Orihime yang membeku di tempat.

"Yokatta. Akhirnya aku bisa berbicara langsung denganmu. Hisashiburi, hime-chan?"

"Ul –Ulquiorra-senpai?" Ucap Orihime yang masih sibuk dengan keterkejutannya.

"Ah. Kau masih ingat padaku." Ia masih tersenyum

"Apa yang senpai lakukan di sini?"

"Ureshi yo. Kau masih memanggilku senpai."

Sadar dari keterkejutannya, Orihime buru-buru pergi mennggalkan pemuda itu. Sayangnya sebuah tangan menariknya dan membuatnya mengurungkan niat untuk pergi.

"Apa kau sebegitu bencinya padaku, hime-chan?"

"Berhenti memanggilku dengan nama itu!"

"Ah, aku punya sesuatu untukmu." Ulquiorra, nama pemuda itu, mengambil sebuah gelang yang ada di sakunya, lalu memasangkannya di tangan Orihime.

Gadis itu sangat terkejut. Gelang yang kini terpasang di tangannya adalah gelang yang ingin ia beli di swalayan kemarin malam.

"Cocok sekali denganmu. "

"Lepaskan!" Orihime menarik tangannya dengan kasar dan segera pergi meninggalkan sekolah.

"Apa yang dia lakukan di sini? Bagaimana dia bisa menemukanku? Ugh..."

.

.

Omake~