"Dia tidak terlihat baik," komentar Chanyeol dan menyuapkan makanan Cina miliknya.
"Memang tidak," timpalku. Kami duduk di kantor perawat jaga, pintunya tertutup, dan pilihan hidangan Cina terhampar diatas meja. Chanyeol sampai kira-kira tiga puluh menit yang lalu, dan setelah berciuman dengan konyol di samping lift, kuambil alih kantung yang berisi makanan dan dia menyapa sebentar si remaja yang sedang sakit.
"Aku ikut prihatin, Baekhyun. Dia anak yang baik." Sorot matanya muram.
"Yeah, memang." Kudorong piringku dan bersandar ke kursi, menyisiri rambutku sekuat tenaga. "Aku benci bagian ini dalam pekerjaanku."
"Kau nampak lelah."
"Aku oke." Aku mengangkat bahu dan mengalihkan pandanganku padanya. Matanya menyiratkan kekhawatiran, menjelajahi wajahku dan aku sangat menyukai bahwa dia memperhatikanku dan berada disini. "Terima kasih telah datang. Aku butuh kehadiranmu."
Matanya mengobarkan kebahagiaan karena perkataanku dan dia menyeringai padaku. "Yang harus kau lakukan hanya meminta, babe. Kemarilah."
Dia mendorong mundur kursinya dari meja saat aku berdiri dan berjalan memutar dengan cepat kearahnya. Dia menarikku duduk di pangkuannya dan aku meringkuk padanya. Dia menyusupkan kepalaku dibawah dagunya dan membelai punggungku menenangkan.
Tuhan, terasa nyaman berada dalam dekapannya.
ooOoo
.
.
Ini telah menjadi hari yang panjang. Hyuko tidak mengalami kemajuan ketika kutinggalkan pada malam hari, dan aku merasa bersalah karena aku akan tidak berada disana untuk beberapa hari kedepan. Banyak yang mungkin terjadi dalam rentang waktu sesempit itu. Mungkin sebaiknya aku harus mengambil satu shift lagi. Besok aku akan menghubungi perawat jaga bagian siang dan bertanya jika mereka membutuhkanku dalam beberapa hari kedepan.
Aku sangat ingin pergi ke rumah Chanyeol namun pada akhirnya aku bekerja hingga amat larut. Sekarang hampir pukul empat dini hari, dan dia ada pertandingan nanti malam, jadi kuputuskan untuk langsung pulang ke rumah saja dan tidak mengganggunya. Aku masih mengendarai Rover. Ini jauh lebih mewah dari sedan Toyota-ku, dan sangat menyenangkan dikemudikan.
Ponselku tiba-tiba berdering dan aku mengerenyit ketika kulihat Football Star berkedip pada layarnya.
"Halo?"
"Di mana kau?" suaranya terdengar mengantuk.
"Di dalam mobilmu. Aku baru saja pulang kerja, aku harus lembur."
"Apakah kau dalam perjalanan kemari?" tanyanya dan kudengar sayup-sayup gemerisik selimut saat dia bergerak diatas tempat tidurnya.
"Kupikir aku akan langsung pulang. Kau ada pertandingan malam ini, kau butuh tidur nyenyak."
"Aku baik-baik saja, babe. Aku tidur lebih baik kalau kau ada disini. Lagipula aku terus menerus terbangun setiap jam memeriksa apakah kau sudah disini."
Kugigiti bibir bawahku. Siapa yang dapat kubohongi? Aku ingin bertemu dengannya. Telanjang bersamanya. Dan berterima kasih atas perbuatannya tadi.
"Aku dalam perjalanan," gumamku.
"Bagus." Kudengar senyum dalam suaranya saat dia menutup teleponnya.
Aku mengemudi memasuki pintu gerbangnya dan parkir di garasi. Dia menyalakan beberapa lampu didalam rumah untukku, lalu kumatikan semuanya ketika aku menaiki tangga. Dia ada diatas tempat tidur, terlelap, telanjang dari pinggang keatas dengan selimut tipis yang membungkus sekeliling pinggangnya.
Dia terlihat kecokelatan dan seksi dan… milikku.
Aku melepas semua pakaianku hingga tak tersisa sehelai benang pun dan meluncur naik keatas tempat tidur, dan membungkuskan diriku disekelilingnya. Kepala bersandar pada dadanya, lengan dan kaki membungkusnya, menggelayutinya.
Dia terbangun dan memelukku, mencium rambutku, menjalarkan tangan ajaibnya menuruni punggungku, dan hal berikutnya yang kutahu dia berguling hingga dia berada diatasku.
"Aku merindukanmu," lirihnya di telingaku.
"Aku juga merindukanmu."
Dia mengecup pipiku, kemudian melewati bibirku dan menawarkanku ciuman yang lembut dan manis. Dengan lembut dia menggit pelan bibirku, dan kemudian meluncurkan lidahnya masuk ke mulutku, menggoda dan memainkanku. Aku menyusuri tanganku keatas punggungnya laku turun ke bokongnya dan tersenyum pada mulutnya ketika mengetahui bahwa dia telanjang.
Bokongnya sungguh spektakular.
Dia memisahkan kedua kakiku dan menempatkan dirinya diantara kakiku, tidak bergerak, hanya berdiam diri disana, menciumku, menyisiri rambutku dengan ritmis menggunakan ujung jarinya. Aku terus membelai punggungnya, sisi tubuhnya, lengannya dan kami hanya bermaksud untuk saling menyayangi dengan penuh kelembutan. Bersama-sama.
Kuangkat tungkaiku dan mengaitkan pahaku disekeliling pinggulnya, membuka diriku untuknya. Kurasakan kebasahanku terhadap kejantanannya, dan dia menggeram saat dia meluncur masuk dengan mudah kedalam kewanitaanku.
"Sangat basah," dia berbisik.
"Membutuhkanmu," bisikku sebagai balasan. Dia menegakkan kepalanya dan merendahkan tatapannya padaku, menjalankan bagian belakang jarinya menuruni pipiku dan dengan perlahan, oh-dengan-amat sangat-perlahan, tenggelam didalamku.
Matanya terpejam saat kejantanannya mencapai mulut rahimku dan terkubur jauh didalamku. Dia menyandarkan keningnya pada keningku dan mulai bergerak perlahan, membiarkanku terbiasa dengannya, memberi waktu pada tubuhku untuk mengakomodasi dirinya.
"Tubuhmu telah mengenali tubuhku," gumamnya. "Kali ini lebih mudah, bukan?"
"Mmm…" aku mendesah dan memutar pinggulku, mengundangnya lebih jauh. Aku mengencangkan otot kewanitaanku disekeliling kejantanannya ketika pubisnya menyentuh metal yang terdapat clitku.
"Sial, tindikan itu akan menjadi penyebab kematianku," dia berkata pelan dan akupun terkikik. "Kau memiliki senyum paling indah."
Dia melumpuhkanku. Dengan hanya beberapa kata, atau sentuhan, pria ini sepenuhnya membuatku tidak berdaya.
Pinggulnya mulai bergoyang lebih cepat, sedikit lebih kuat. Bibirnya melingkari salah satu puncak payudaraku dan dihisapnya dengan tamak, menjadikannya semakin mengeras. Dia memberikan perhatian yang sama pada yang satu lagi dan aku menggeliat dibawahnya, saat tubuhku merasakan sensasinya. Kejantanannya yang indah bergerak dengan nikmatnya didalamku, tubuhnya yang kuat menyelimutiku, tangannya masih menjalari rambutku, mulutnya menempel pada mulutku… Aku dilingkupi olehnya dan masih saja aku merasa belum cukup akan dirinya.
"Aku sangat menyukai caramu mencintaiku," bisikku. Dia menyeringai terhadap mulutku dan menghujamkan seluruh kejantanannya kedalamku, pubisnya melakukan gerakan seperti menggilas, dan menahan dirinya disana hingga aku mencapai puncak disekelilingnya, ototku mengejang, tanganku mengepal diatas bokongnya, menariknya lebih erat.
"Ah, sial, honey." Kurasakan tubuhnya menegang dan dia orgasme bersamaku, mengosongkan benihnya didalam kewanitaanku.
Dia menciumku dengan lembut dan menarik keluar kejantanannya dariku, dan merendahkan kepalanya hingga perutku. Dia beristirahat disana, pipinya pada pusarku, tangannya membungkus pinggangku dan kemudian terlelap.
Kurasa aku baru saja jatuh cinta padanya.
ooOoo
.
.
"Jadi," Zitao mengkilaskan seringaian manisnya padaku dan aku menegang. Ah sial, dia hanya menggunakannya ketika dia menginginkan sesuatu. "Apa yang sedang terjadi antara kau dan kakakku?"
Aku berlama-lama meneguk margaritaku dan memandang Zitao. Dia duduk diseberangku pada bar olahraga yang sama dimana Chanyeol pernah membawaku dalam itu-tidak-dihitung-sebagai-kencan-pertama-kami. Dia, Luhan dan aku menikmati acara minum-minum kami yang cukup larut setelah berbelanja sepanjang malam dan melakukan pedikur.
Gadis-gadis ini tidak pernah main-main ketika berurusan dengan belanja.
"Jangan mengganggunya," Luhan berkata pelan, kemudian menatapku dengan kecurigaan. "Setelah dipikir-pikir, aku juga ingin tahu. Ada apa? Kalian berdua nampak sangat nyaman saat kita bermain bowling pada malam itu."
Aku mengendikkan bahu dan menunduk. "Kami tidur bersama."
"Duh." Zitao memutar matanya. "Cara kalian saling mengerling antara satu sama lain meneriakkan hubungan seks. Dan aku berusaha mengabaikan fakta bahwa dia adalah kakakku karena jika tidak, itu hanya… ew." Dia bergidik.
"Apa yang ingin kami ketahui adalah, apa lagi yang terjadi?" Luhan bertanya dengan cengiran.
"Entahlah. Kami baru mulai berhubungan intim dua malam yang lalu."
"Peraturan tiga kali berkencanmu?" tanya Zitao.
"Yep," aku tersenyum puas padanya.
"Gadis pintar." Luhan memberiku salam tinju dan aku tergelak.
"Kami berpacaran, sepertinya." Aku mengangkat bahu dan menyesap lagi margaritaku. "Dia adalah pria yang hebat. Bukan seorang bajingan yang pada awalnya kukira dia demikian.."
"Sesekali dia bisa sangat arogan, namun sama sekali bukan seorang bajingan," Zitao sependapat.
"Aku tidak menyukai kepribadian arogan yang ditunjukkannya di muka umum," aku mengakui. "Namun aku menyukai bagaimana perlakuannya ketika sedang hanya berdua denganku. Dia telah bersikap baik pada anak-anak di rumah sakit, dan dia sangat menyenangkan diajak bergaul. Aku pikir aku tidak mampu memberinya makan untuk waktu yang lama. Pria itu sangat suka makan."
"Kau harus melihatnya semasa remaja. Ini tidak ada apa-apanya. Kupikir ibu dan ayah harus mengambil hipotek rumah kedua hanya untuk menyimpan pembelanjaan bahan makanan Chanyeol."
"Aku tidak terkejut," aku tertawa.
"Jadi, kau menyukainya," Luhan menyeringai dengan pemahaman.
"Aku menyukainya," aku setuju.
"Jika dia sampai menyakitimu, aku akan membunuhnya." Mata Zitao terpicing dengan sorot mengancam dan aku terkikik.
"Bukankah kau yang seharusnya berkata begitu padaku? Dia adalah kakakmu."
"Dia adalah pria dewasa." Dia mengendikkan bahu seakan kalimat itu menjelaskan segalanya.
"Hey! Dia masuk TV! Besarkan suaranya!" Luhan berseru pada bartender. Dia membesarkan volume TV untuk melihat tayangan wawancara pasca pertandingan dengan Chanyeol.
Dia terlihat fantastis, berkeringat dan kotor, terengah-engah.
Sial, jersey itu memiliki pengaruh terhadapku.
"Pertandingan hebat, Park. Selamat untuk sebuah kemenangan lagi." Pria yang lebih pendek menyorongkan mic ke Chanyeol, yang tersenyum ramah.
"Terima kasih, bung. Kami bermain bagus tadi."
"Apakah menurutmu Kyungho akan tidak bermain selama sisa musim akibat dari cedera lutut yang dialaminya tadi pada quarter ketiga?"
"Oh, bung, aku harap tidak. Entahlah."
"Apakah kau merasa tertekan oleh lini pertahanan Green Bay malam ini?"
Chanyeol mengerutkan keningnya pada wartawan itu seolah dia telah mengajukan pertanyaan terbodoh yang pernah didengarnya. "Aku merasakan penekanan dari setiap lini pertahanan."
"Apa kau siap menghadapi Jepang pekan depan?"
"Kupikir demikian. Kami berlatih keras, menonton banyak rekaman pertandingan. Kami akan sangat siap hari Minggu depan."
"Kau terlihat beberapa kali bersama seorang wanita berambut auburn. Apakah dia kekasihmu?"
Jantungku berhenti berdetak. Berhenti dalam arti sebenarnya. Luhan terkesiap dan Zitao merenggut.
"Wartawan itu idiot." Zitao bergumam.
Chanyeol melayangkan seringaian sombong dan ogah-ogahan. "Bung, apakah wanita itu terlihat seperti seseorang yang pantas berkencan denganku?" Dia tertawa menghina. "Dia adalah salah satu teman keluarga. Aku tidak memiliki ruang untuk wanita saat ini. Football merupakan proritasku."
"Semoga beruntung pekan depan, bung."
Chanyeol mengangguk dan layar kembali kepada empat pria di meja yang memperbincangkan tentang pertandingan.
"Baekhyun, dia tidak bermaksud seperti itu," Zitao berkata dengan tenang.
Apakah wanita itu terlihat seperti seseorang yang pantas berkencan denganku?
Aku merasa mual.
"Brengsek, aku memang bodoh." Bisikku.
"Tidak, sweetie. Sungguh, dia tidak bermaksud seperti itu."
"Kupikir dia bermaksud tepat seperti yang dia katakan, Zitao." Kugelengkan kepalaku untuk menjernihkannya dan merogoh uang dalam tasku, melemparnya keatas meja dan berdiri. "Aku akan pulang. Terima kasih untuk malam yang menyenangkan, guys."
"Baekhyun, jangan pergi."
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh waktu untuk berpikir. Ketika kalian bertemu dengan para pria nanti, katakan pada Chanyeol aku merasa kurang sehat, dan aku akan meneleponnya dalam beberapa hari."
Yeah, seperti itu akan terjadi saja.
"Aku akan membunuh Chanyeol," ujar Zitao berapi-api saat aku berjalan menjauh.
ooOoo
.
.
Chanyeol~
Chanyeol
Bagaimana mungkin? Kenapa kau begitu tega menemui orang lain padahal aku tahu bahwa kau mencintaiku? Wanita jelek yang murahan itu jelas tidak ada apa-apanya dibandingkanku, dan dia tidak pernah mencintaimu sebesar aku mencintaimu. Kenapa kau tidak menyadari keberadaanku? Kalau kau berhenti menemuinya, dan mencintai aku seperti yang kutahu bahwa kau menginginkannya, aku tidak akan melukainya.
Cintamu.
Sialan. Orang brengsek macam apa yang berani meninggalkan ini di dalam lokerku dan bagaimana mungkin dia bisa masuk ke dalam ruang loker kami? Aku perlu bicara pada Hanjoo, kepala keamanan kami disini, sekarang juga.
"Hei! Seseorang tolong panggilkan Hanjoo untukku!" Aku berteriak, percaya diri, dan yakin bahwa akan ada seseorang yang akan memanggilnya.
Kami baru saja memainkan pertandingan yang keren melawan Packers malam ini. Dan ya, aku melakukan permainan terbaik dalam hidupku dalam minggu-minggu terakhir ini, dan bukanlah kebetulan kalau permainan terbaikku ini terjadi setelah aku mulai berkenalan dengan Baekhyun. Penguntit sialan ini tidak akan bisa menyentuh dia. Terima kasih Tuhan, karena aku telah memasang alarm di rumahnya.
Pikiran akan sesuatu yang terjadi pada dirinya membuatku sakit.
"Hei, Park, bisa aku menanyakan beberapa pertanyaan?" Pria baru dari bagian berita olahraga muncul sambil membawa mic dan menyodorkannya ke wajahku dan aku menampilkan senyuman publik milikku dan memainkan sebuah permainan.
"Tentu saja man."
"Pertandingan hebat, Park. Selamat atas kemenangan yang sekali lagi berhasil diraih." Pria yang lebih pendek memberikan micnya kepadaku.
"Terima kasih, man. Kami tadi bermain bagus."
"Apa kau pikir Kyungho akan beristirahat sampai akhir musim ini karena cedera pada lututnya di babak ketiga tadi?"
"Oh man, aku harap tidak. Tapi aku tidak tahu." Bagaimana mungkin aku bisa tahu? Apa kau pikir aku ini seperti seorang dokter?
"Apa tadi kau merasakan adanya sebuah tekanan dari lini pertahanan Green Bay malam ini?"
Aku mengerutkan dahi pada idiot ini dan sebenarnya ingin kembali bertanya padanya apa dia pernah melihat pertandingan football. Ya Tuhan, diamana idiot ini ditemukan? "Aku merasakan tekanan dari semua lini pertahanan di setiap pertandingan."
"Apa kau sudah siap menghadapi Jepang minggu depan?"
"Aku rasa demikian. Kami akan berlatih keras, dan melihat rekaman-rekaman. Kami akan siap saat kami bertanding Minggu depan."
"Kau sering terlihat bersama seorang wanita berambut coklat-kemerahan. Apa dia itu pacarmu?"
Sialan, tolong, babe, tolong jangan lihat ini. Perutku terasa kaku dan aku lega karena aku tadi memang sudah berkeringat karena pertandingan yang kulakukan, jadi tidak akan ada orang yang mengetahui bahwa keringat dingin baru saja mengalir di wajahku.
Aku memberi idiot ini sebuah senyuman malas, seringaian yang sombong. "Dude, apa dia memang terlihat seperti seseorang yang akan kukencani?" Aku tertawa padanya, seakan-akan ini adalah sebuah hal paling menggelikan yang pernah kudengar. Ya, dia adalah pacarku! Dia adalah yang terbaik yang pernah terjadi pada diriku, dan aku berencana mengubur diriku di dalam tubuhnya yang manis itu sesegera mungkin."Dia adalah teman di keluargaku. Saat ini, aku tidak punya tempat dalam hidupku untuk wanita. Saat ini football adalah prioritas utamaku."
"Semoga berhasil di pertandingan minggu depan, man."
Aku mengangguk padanya, dan dia membalikkan tubuhnya, menuju ke pria berikutnya yang akan dia wawancarai.
Sialan. Kalau Baekhyun sampai melihat wawancara barusan, matilah aku. Dia sudah punya masalah dengan karakterku yang arogan di depan publik, dan kejadian barusan ini akan seperti sebuah jalan menuju ke peti mati dalam hubungan kami kalau sampai dia benar-benar melihatnya.
Dan ini bukan sesuatu yang tidak mungkin.
Dan dia adalah milikku, brengsek.
Aku dengan cepat mandi di shower dan mengumpulkan semua barang-barangku, bersiap untuk keluar dari sini sehingga aku bisa bertemu dengan saudara-saudaraku di kamar hotel, kemudian bertemu dengan para gadis kami di malam hari nanti.
Aku perlu menemui Baekhyun.
"Kau ingin menemuiku?"
Hanjoo, seorang mantan tentara yang sekarang bekerja sebagai polisi Seoul, berdiri di belakangku.
"Ya, man. Seseorang meninggalkan ini di dalam lokerku. Aku menemukannya tadi setelah pertandingan usai." Aku memberikan dia catatan sial itu dan kemudian memasang wajah muram. "Bagaimana bisa seseorang masuk ke dalam sini?"
Hanjoo mengerutkan dahinya saat dia membaca catatan itu dan kemudian dia menyumpah di balik tarikan nafasnya. "Aku tidak tahu. Dia mungkin telah mengelabui seseorang dengan payudaranya. Aku akan memeriksa kamera keamanan dan kita akan menemukannya. Jangan kuatir mengenai hali ni."
Aku menyipitkan mataku padanya dan melipat kedua lenganku di depan dadaku. Aku tahu kalau kerja Hanjoo itu bagus, dia selalu bersama-sama dengan kami, dan tidak ada orang yang berani macam-macam dengannya. Tapi beberapa orang akan datang dan pergi.
"Aku ingin siapapun yang membiarkan dia masuk dipecat."
"Tanpa pertanyaan."
"Dan kalau sampai dia menyentuh sehelai saja rambut Baekhyun..."
"Itu tidak akan. Ini hanyalah seorang gadis bodoh yang buta akan cinta, Park. Aku akan mengatasinya."
Aku menganggukkan kepalaku satu kali kemudian memutar tubuhku, menyuruh dia pergi.
Para pria, Jongin, Sehun, Yifan, Jongdae dan Yunho, sekarang berada di kamar hotel, sedang makan bersama-sama dan minum bir. Aku mengambil beberapa keripik dan mengisi perutku. Sialan, aku sangat lapar.
"Permainan yang bagus, bro." Jongin memujiku dengan mengangkat birnya dan aku menganggukkan kepalaku padanya.
"Ya, kami telah melakukannya dengan baik. Rasanya luar biasa. Apa kita sudah siap untuk bertemu para gadis?" Aku bertanya dan mengambil lagi segenggam penuh keripik dengan tanganku.
"Kyungsoo tinggal di rumah malam ini. Dia merasa tidak nyaman, jadi aku akan langsung pulang ke rumah dan memijat kakinya, serta menidurkan Taeoh." Jongin mengeluarkan kuncinya dan melambai kepada kami semua, kemudian berjalan keluar.
"Ok, ayo kita pergi untuk menemui para gadis dan membawa mereka keluar untuk makan malam." Yifan memimpin kami semua berjalan menuju ke garasi tempat parkir pribadi. "Tapi aku akan memberi tahu kepada kalian sekarang, kita akan pulang lebih awal. Aku ada rencana dengannya untuk malam ini." Dia menyeringai dan kami semua berhenti dan memandangnya dengan mengerutkan dahi. Sehun tertawa.
"Hanya karena kau sudah melingkarkan cincin di jarinya bukan berarti kami tidak akan membunuhmu, Park," Yunho memperingatinya. Aku tertawa. Yifan mungkin bertubuh lebih kecil dari kami semua, tapi dia bisa menghajar siapapun di antara kami.
Tidak semuanya sekaligus, tapi dalam pertarungan satu lawan satu, aku akan bertaruh untuk Yifan.
"Kau membunuhku, Zitao akan membunuhmu. Aku tahu kau takut padanya."
"Aku tidak takut pada adik kecilku itu," Jongdae bergumam, mendapatkan pandangan dari Sehun. "Ok, aku takut padanya. Dia tidak bertarung dengan adil."
"Itulah gadisku," Yifan mengumumkan dengan bangga. Aku menyukai dia. Dia yang terbaik untuk adikku.
Sekarang aku perlu segera menemui gadisku dan memastikan bahwa dia tidak mendengar apa yang aku katakan di televisi tadi.
ooOoo
.
.
"Kau benar-benar brengsek!"
Zitao menerjangku, menyeberangi tempat parkir restoran yang kami putuskan untuk menjadikannya tempat pertemuan.
Dia mendorong dadaku dengan keras, membuatku mundur satu langkah. Jongdae benar, dia tidak bertarung dengan adil.
"Zitao..."
"Kau tahu," dia memotong perkataanku. "Aku tahu kalau selama ini kau memang seorang pria yang arogan, tapi apa yang tadi kau lakukan di televisi itu benar-benar brengsek. Kau pikir siapa dirimu itu sehingga kau membuat seseorang terluka seperti itu?"
"Sialan!"
Dia mundur satu langkah dan matanya melebar. Dan semua orang berdiri disana, memperhatikan kami.
Tangan Luhan berada di pinggangnya, dan dia juga memandang tajam ke arahku. Jaejong berdiri di sebelah Yunho, melingkarkan lengannya pada Yunho, dan aku mengerutkan dahi.
Ada apa gerangan dengan semua ini?
"Serius Chanyeol, apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan?" Luhan bertanya.
"Di mana dia?"
"Tidak ada disini." Zitao mengangkat dagunya dengan keras kepala. Aku menoleh kepada Luhan.
"Di mana dia Luhan?"
"Aku rasa dia pulang ke rumah. Dan demi Tuhan, mana mungkin dia berada disini, Chanyeol? Kau telah mengumumkan kepada dunia bahwa dia bukanlah seseorang yang akan kau kencani. Dia bukan siapapun menurutmu, kau ingat?"
"Sialan, man, apa yang telah kau katakan?" Sehun bertanya dan aku mengerjapkan mata.
"Kalian tidak melihatnya?" Zitao bertanya, matanya menyipit mengancamku. Sebagian dari diriku ingin melindungi kejantananku dengan menggunakan tanganku, tapi pria yang ada dalam diriku membuatku tidak melakukan hal itu.
"Tidak, kami tidak melihat wawancara setelah pertandingan selesai," Jongdae menambahkan.
"Well, biar aku beri tahu. Saat ada pertanyaan siapa gadis cantik yang bersama dia akhir-akhir ini, saudara kita yang idiot ini menjawab dengan, dan aku mengingat jawabannya, 'Apa dia seperti seseorang yang akan aku kencani? Aku tidak punya waktu untuk wanita saat ini. Aku adalah pria menjijikkan yang egois dan berkelamin kecil."
"Aku tidak mengatakan bagian terakhir itu!"
"Sialan, man, kenapa kau tidak mengatakan no comment saja?" Sehun bertanya, menatapku seakan aku ini benar-benar orang yang idiot. Dan aku memang idiot.
Kenapa tidak kujawab no comment?
"Karena tiga puluh detik sebelum seseorang menyerangku dengan mic di wajahku, aku menemukan sebuah catatan di lokerku, dari seorang penggemar sialan, yang mengatakan apabila aku tidak berhenti menemui Baekhyun, dia akan melukainya. Aku tidak punya waktu untuk bicara dengan pihak keamanan, atau berpikir lebih jauh. Aku hanya memainkan peranku seakan aku tidak memiliki kekasih karena kalau seseorang melukai Baekhyun, aku akan membunuh orang itu, dan aku tidak mau berada di penjara."
Zitao mengerutkan dahinya menatapku, dan saudara-saudaraku menatapku dengan mata menyempit dan mengancam.
"Apa ada keamanan di rumahnya?" Yunho bertanya. Suaranya rendah dan terdengar marah.
"Ya, terima kasih Tuhan, aku sudah memasang untuknya minggu lalu."
"Apa kau sudah memberikan catatan itu kepada Hanjoo?" Jongdae bertanya dan mengambil telepon genggamnya, hendak membuat panggilan telepon saat dia mengatakan itu.
"Ya, dia bilang kalau dia akan mengurus hal ini." Aku bergerak maju mundur di belakang mobilku, dan kemudian bergerak dengan cepat ke sisi pengemudi. "Aku akan pergi ke rumah Baekhyun sekarang. Sampai jumpa guys."
"Chanyeol, dia terlihat cukup marah. Kau sebaiknya memberi dia waktu selama beberapa hari agar dia kembali tenang." Sorot mata Luhan terlihat khawatir, tapi aku memberinya sebuah senyuman sekilas.
"Aku harus minta maaf pada dia secepatnya dan memohon padanya. Aku harap dia bisa mengerti apa yang akan kujelaskan."
"Mereka sudah menangkap gadis itu," Jongdae mengumumkan saat dia mengembalikan ponselnya ke dalam sakunya. "Seorang gadis kuliahan yang berusia sembilan belas tahun yang memberikan servis mengulum kejantanan petugas keamanan kalau mereka membiarkan dia masuk ke dalam. Dia sudah ditahan sekarang."
"Thanks, man. Makan malamlah tanpaku. Aku akan mengirimkan pesan pada kalian besok."
Apa gerangan yang kulakukan? Aku mengemudi seperti seekor kelelawar yang berhasil lolos dari neraka saat menuju ke tempat Baekhyun. Aku perlu melihat dia. Aku perlu menyentuhnya dan meyakinkan dia bahwa semua yang kukatakan pada wawancara sialan itu adalah sebuah kebohongan.
Aku tidak mau kehilangan dia.
Aku memarkir mobilku di rumahnya, membanting pintu mobilku dan segera naik ke serambi depan rumahnya. Aku menekan bel.
Tidak ada jawaban.
Lampu di dalam menyala. Aku bisa mendengarkan musik dari dalam, tapi itu tidak terlalu keras sehingga dia tidak bisa mendengarkan bunyi bel pintu.
Aku mencoba membunyikannya sekali lagi.
Tidak ada jawaban.
Aku mencoba memutar gagang pintu, dan betapa terkejutnya aku, ternyata tidak dikunci. Dia bahkan tidak menyalakan alarm atau mengunci pintunya dari dalam seperti yang aku minta agar dia melakukannya.
Wanita yang benar-benar keras kepala!
"Baekhyun?" Aku memanggilnya dan membawa diriku masuk ke dalam rumahnya. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya di ruang keluarga dan di dapurnya yang imut. Aku berjalan naik ke lantai atas, sambil terus memanggil-manggil namanya.
"Baekhyun? Di mana kau babe?"
Aku bisa mendengar suara shower dari kamar mandi utamanya, jadi aku menuju ke sana. "Baekhyun?"
"Ack!" Dia berteriak karena terkejut dan aku tidak bisa menahan tawaku.
"Ini cuma aku."
"Kau benar-benar membuatku terkejut!" Dia mematikan aliran air, membuka selambu shower dan memperlihatkan tubuhnya yang halus dan basah. Mulutku menjadi kering.
Sialan, dia cantik.
Dia halus, kulitnya putih, puting payudara yang berwarna pink, lekukan tubuhnya halus. Rambut miliknya yang merupakan percampuran warna merah dan coklat serta pirang, dan mata sayunya itu membuatku terpaku.
Tentu saja, sekarang mata itu seakan-akan melemparkan pisau ke arahku.
"Maafkan aku, tapi kau meninggalkan pintu depan rumahmu dalam keadaan tidak terkunci dan kau bahkan tidak menyalakan alarm rumah seperti yang telah kuminta agar kau lakukan."
Dia mengangkat bahunya dan kemudian meraih sebuah handuk yang besar untuk membungkus dirinya, menutupi tubuhnya dari pandanganku. Aku ingin menelanjanginya dan berada di dalam dirinya, disini, di dinding kamar mandi ini, tapi aku pikir aku tidak akan diterima untuk saat ini.
"Itu bukanlah urusanmu jika aku memasang alarm rumahku atau tidak, Chanyeol." Dia berjalan melewatiku dan masuk ke dalam kamar tidur utama untuk mencari-cari pakaian di dalam lemarinya.
"Tentu saja itu urusanku. Aku harus yakin kalau kau aman-aman saja."
"Aku aman."
"Akan lebih aman jika kau memasang alarmnya."
Dia hanya mengangkat bahunya lagi, seakan mengatakan bahwa itu bukan masalah besar, dan menarik keluar sebuah tank top dan celana yoga dari dalam lemari kemudian memakainya. Ya Tuhan, bahkan celana yoga yang membentuk pantatnya itu sudah bisa membuatku mengeras.
"Lihat, kau sudah membuatnya begitu jelas malam ini, bahwa satu-satunya hal yang kau pikirkan untuk saat ini adalah football. Jadi berhentilah mengatakan omong kosong 'aku-ingin-memastikan-keamananmu' itu dan pergilah. Aku tidak ingin kau berada disini."
Perutku terasa jungkir balik dan jantungku seakan melompat keluar melalui tenggorokanku.
"Baekhyun," Aku mencoba meraihnya tapi dia menarik dirinya menjauhi jangkauan tanganku, dan aku mulai panik. "Baekhyun, biar kujelaskan."
"Tidak perlu." Dia menggelengkan kepalanya dan bergerak melewati diriku untuk turun ke bawah, ke arah dapur. "Aku pikir aku sudah mengerti. Kau sudah mengatakan apa yang perlu kau katakan saat kau harus melewati tiga kali kencan sebelum aku berhubungan seks denganmu. Dan aku begitu bodoh karena percaya pada dirimu. Aku tidak akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya."
"Tidak." Aku meraih bahunya dengan tanganku dan memutar tubuhnya agar memandangku dan membuat dia menatap mataku. Ya Tuhan, dia begitu mungil. "Tidak Baekhyun. Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku tidak berhubungan seks denganmu. Setiap kali aku berada di dalam tubuhmu, itu adalah saat terindah di dalam hidupku."
"Kau mengumumkan di televisi bahwa aku ini bukan siapa-siapa." Matanya yang berwarna merah tua itu terlihat terluka dan sedih, dan aku merasa seperti seorang yang benar-benar brengsek. "Chanyeol, aku tidak akan mau menjadi rahasia kecilmu yang kotor. Aku bukan seseorang yang bisa kau ajak kencan begitu saja, bertemu keluargamu, ataupun ditiduri kapan saja, dan kemudian kau menyangkal diriku di depan publik. Kalau kau malu pada diriku, kau seharusnya tidak bersama denganku. Aku sedikit malu pada dirimu sekarang."
Aku menelan ludah dengan susah payah dan menutup mataku, dan kemudian membuka mataku dan kembali memandangnya. Bagaimana dia bisa menjadi duniaku hanya dalam waktu yang begitu singkat? Tuhanku, aku akan melakukan apapun demi dia.
Bahkan kalau harus kehilangan dia.
"Baekhyun, seseorang mengancammu malam ini." Matanya terlihat melebar, dan aku merasa telah mendapatkan perhatian darinya.
"Aku menemukan sebuah catatan dalam lokerku yang berasal dari seorang penguntit. Dia bilang kalau dia melihat kita bersama-sama, dan kalau aku tidak berhenti menemuimu, dia akan melukaimu. Kemudian hal berikutnya yang aku sadari adalah si bodoh itu yang menyodorkan micnya di depan wajahku, dan menanyakan mengenai dirimu. Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya dan kemudian membuat keamananmu terancam."
Dia mengerutkan dahi karena bingung, dan matanya tetap terlihat terluka, dan itu membunuhku secara perlahan.
"Babe, aku minta maaf kalau kau terluka. Aku tidak pernah ingin melukaimu. Tapi aku panik, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan saat itu."
"Kau membuatku malu Chanyeol. Aku tahu bahwa aku ini bukan seseorang yang spesial. Aku tahu bahwa kau tidak akan merasa tertarik pada orang seperti diriku. Kita berdua berasal dari dunia yang berbeda. Mungkin yang terbaik adalah kita melangkah mundur dan berhenti bertemu satu sama lain mulai sekarang, sebelum kau akhirnya benar-benar menghancurkan hatiku."
"Berhentilah merendahkan dirimu seperti itu! Aku lebih daripada cuma tertarik pada dirimu. Demi Tuhan, aku tidak bisa berhenti untuk menyentuhmu. Aku tidak akan menghancurkan hatimu, Baekhyun." Sialan! Dialah yang saat ini telah menghancurkan hatiku!
"Oh ya, kau akan melakukannya Chanyeol." Dia menggoyangkan kepalanya perlahan dan melangkah keluar dari pegangan tanganku. "Ini tidak bisa dihindari. Tidak semua orang harus selalu dekat, Chanyeol. Pada akhirnya ada perpisahan, dan aku pikir aku lebih baik meninggalkanmu sekarang daripada nanti, karena aku merasa aku tidak akan bisa bertahan kalau melakukannya nanti." Di bagian akhir suaranya terdengar berbisik, dan aku melangkah maju untuk mendekatinya dan memegangnya untuk meyakinkan dia bahwa aku akan melakukan segala hal dengan seluruh kekuatanku agar dia tidak lagi terluka, tapi dia menghindariku.
"Tolong," Dia berbisik. "Pergilah."
Well, terkutuklah aku apabila aku terus berada disini dan memohon padanya. Aku mengambil waktuku untuk menatap dia. Benar-benar menatapnya. Tuhan, dia begitu kuat dan manis dan cantik dan dia adalah milikku.
"Aku akan pergi, Baekhyun, kalau itu yang kau mau." Aku meraih wajahnya dengan tanganku dan mencium dahinya, menghirup aroma tubuhnya yang manis, dan hidungku berada di dalam rambutnya yang basah. "Kau bukanlah rahasia kecil yang kotor," Aku berbisik di telinganya. "Kau adalah segalanya bagiku."
Sebelum aku berlutut dan memohon padanya untuk memaafkanku, aku beranjak keluar dari dalam rumahnya, perlahan-lahan menutup pintu yang ada di belakangku, dan kemudian naik ke atas mobilku. Brengsek.
ooOoo
.
.
Kau adalah segalanya.
Kalimat itu terus berputar didalam benakku seharian. Kau adalah segalanya.
Aku mengambil shift-non stop hari ini. Aku harus menyibukkan pikiranku dan aku ingin memeriksa Hyuko. Keadaannya memburuk. Sangat buruk. Keluarganya memilih untuk menghormati keinginannya yaitu tidak akan melakukan langkah-langkah penyelamatan yang ekstrem, jadi kami hanya menjaganya tetap merasa senyaman yang kami bisa dan berharap agar tubuhnya cukup kuat untuk melawan infeksi. Sayangnya, akibat banyaknya zat kimia dari kemoterapi yang ada pada tubuhnya, dia tidak cukup kuat melawannya.
Aku menghabiskan sebagian besar malamku mengamati tanda-tanda vital tubuhnya bagaikan seekor elang dan berdiri terpaku. Aku tidak ingin dia ditinggal sendirian terlalu lama. Dia sangat lemah, apapun bisa terjadi dengan cepat, kami harus bersamanya setiap saat.
"Baekhyun, ada telepon untukmu." Hyomin menyembulkan kepalanya kedalam kamar Hyuko dan memberiku senyuman sedih. Penurunan kondisi Hyuko mempengaruhi kami semua. "Aku akan menggantikanmu sebentar."
Kami semua sangat terlibat dengan anak-anak ini, baik kami menginginkannya ataupun tidak. Mereka semua sangat luar biasa, bagaimana kami bisa tega?
Dalam diam kutinggalkan kamar itu dan menyeberang menuju ruang perawat.
"Halo?"
"Hey, Baekhyun, ini Yeongsu dari sekuriti. Aku ada kiriman untukmu."
Aku mengerutkan dahi. "Oke, bawa saja ke atas."
"Aku tidak bisa. Hanya ada aku di pos keamanan saat ini. Keberatankah kau untuk turun?"
"Aku akan segera ke sana."
Ya Tuhan, aku lelah. Sangat kelelahan. Semalam setelah Chanyeol pergi aku hampir tidak tidur. Terus menerus mengulang percakapan itu didalam kepalaku. Menyuruhnya pergi merupakan keputusan terbaik. Aku harus memberi jarak pada kami berdua. Aku serius dengan perkataanku, pada akhirnya dia akan menyadari dan memutuskan hubungan, atau aku akan muak akan kearoganannya dan yang memutuskan hubungan, dan kenapa membuang waktu untuk sesuatu yang akan berakhir, yang nampaknya akan terjadi lebih cepat daripada lambat.
Yeongsu memang satu-satunya sekuriti yang ada di pos pengamanan saat ini. Yang lainnya pasti sedang berpatroli. Aku berjalan ke jendela kaca-plexi dan menyunggingkan senyuman.
"Hey, Yeongsu. Kau punya sesuatu untukku?"
"Yeah, akan kubawa mereka keluar padamu."
Mereka?
Bunga. Aku seharusnya sudah menduganya. Yeongsu berjalan keluar dari ruangan berkaca dengan kedua belah lengan dipenuhi oleh bunga-bunga merah yang cantik. Mawar, peoni, poppy, callalili. Semuanya indah berwarna merah.
Terkutuklah dia.
Kutarik kartu ucapan putih dari buket itu dan membukanya. Hanya ada satu kata tertulis di sana:
Segalanya.
Kuambil bunganya dan menaiki lift kembali ke lantai tempatku bertugas dan menataa bunga itu didalam kantorku. Kubaca kartunya lagi dan kemudian kusimpan dalam saku atasan seragam perawatku dan menepuknya. Aku akan membawanya bersamaku malam ini.
Aku menarik keluar ponselku dan mengirimkan pesan untuknya, hanya sekata: Cantik.
Sebelum aku bisa mengembalikan ponselnya kedalam sakuku, datang sebuah balasan. Tidak secantik dirimu. Maafkan aku.
"Baekhyun, cepat kemari. Ada yang gawat." Salah seorang teknisi, Brandi, menyembulkan kepalanya kedalam kantorku, wajahnya pucat pasi.
"Hyuko?" tanyaku, perutku bergejolak karena takut. Dia mengangguk mengiyakan, dan kami berlari ke kamarnya. Monitor berulang kali mengeluarkan bunyi beep dengan hebatnya dan kedua orangtuanya saling berangkulan di sudut kamar, menangis.
"Paru-parunya mengalami kegagalan fungsi," Dr. Lee, seorang dokter muda dan tampan dengan segera memeriksa monitor dan mendengarkan dada Hyuko. Dia melayangkan pandangan pada orang tua Hyuko, matanya menyiratkan kekhawatiran "Kami harus melakukan intubasi padanya."
"Tidak." Ayah Hyuko tersedak ketika mengeluarkan kata itu. "Tidak ada alat penopang hidup. Kami telah berjanji pada Hyuko tidak akan membuatnya menderita."
"Dia sekarang sedang menderita, dia tidak bisa bernapas." Dr. Lee melingkarkan stetoskop di lehernya dan menghela napas dalam-dalam. "Saya paham." Dia menyapu tangannya menuruni wajahnya dan merendahkan tatapan pada Hyuko dengan penuh kesedihan. Dia telah bekerja dengan anak itu sejak Hyuko pertama kali didiagnosa menderita kanker tulang.
"Baekhyun," dia bergumam padaku. "Tetap berikan morfinnya, dan tinggikan posisi kepalanya agar dia dapat mendapatkan sebanyak mungkin oksigen untuk paru-parunya. Kita akan tetap membius dan membuatnya nyaman." Dia berjalan kearah orangtua Hyuko kemudian memeluk mereka berdua. "Duduklah dekatnya. Berbicaralah padanya. Saya pikir anda tidak akan memiliki waktu yang lama bersamanya."
Aku menatap ke bawah pada anak laki-laki ini, anak yang manis ini, yang sebelumnya memiliki segalanya dalam hidupnya. Dia adalah seorang atlet, dia memiliki pacar, dan janji untuk berkuliah dan hidup bahagia dengan umur panjang. Dia tidak memiliki kesempatan merasakan begitu banyak hal. Jatuh cinta, berdansa di pernikahannya, memeluk anak-anaknya.
Sial, usianya baru tujuh belas tahun.
Kuatur Hyuko dalam posisi yang nyaman diatas tempat tidurnya, aku mengecek tetesan cairan infusnya dan berjalan mundur untuk memberikan kesempatan keluarganya berkumpul disisinya dan mengucapkan selamat tinggal.
ooOoo
.
.
Enam jam kemudian, aku terkuras habis. Hyuko meninggal dunia dua jam yang lalu. Kami semua menghibur kedua orangtuanya dan melakukan tugas menenangkan anak-anak lain yang merasa sangat sedih dan takut serta berduka. Aku amat membenci hari dimana kami kehilangan seorang pasien. Itu sangat menyesakkan, bagi setiap orang yang ada di lantai ini.
Malam ini sebaiknya aku menginap di sini. Menemukan tempat tidur kosong dan tidur selama beberapa jam, kemudian bangun dan mengambil shift lagi. Namun aku merogoh sakuku dan menjalankan jemariku diatas kartu yang datang bersama bunga-bunga pemberian Chanyeol, dan aku tahu aku tidak ingin tinggal di sini.
Aku membutuhkannya.
Aku butuh berada dalam pelukannya. Aku ingin merasakan kehangatannya, dan mendengar dia mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Walaupun mungkin tidak demikian.
Aku tidak tahu apakah aku akan diterima. Aku belum membalas pesan terakhirnya. Namun jika ada yang kupelajari dalam dua belas jam terakhir ini, yaitu bahwa kehidupan dapat berakhir dalam waktu yang luar biasa singkat. Aku tidak ingin membuang waktu semenit pun yang dapat kuhabiskan bersama Chanyeol.
Jika nantinya dia meninggalkanku dan mematahkan hatiku, aku akan menghadapi itu.
Aku mengemudi ke rumahnya, memasuki gerbang rumahnya, dan karena aku masih memakai Rover, aku parkir di garasi kemudian aku masuk kedalam rumah. Keadaannya gelap dan sunyi, tidak diragukan Chanyeol ada di tempat tidur dan telah terlelap cukup lama.
Kunaiki tangga, dua-dua sekaligus. Aku tidak dapat mendekatinya dengan cukup cepat. Sangat yakin, itu dia di sana, tidur dengan tenang. Wajahnya santai, rambutnya berantakan akibat sisiran jarinya. Kulepaskan sepatuku, dan tidak menyempatkan diri menanggalkan pakaianku.
Aku membutuhkannya sekarang.
Aku merangkak menaiki tempat tidur dan merapatkan diriku disekelilingnya, mengagetkannya hingga dia terbangun.
"Hey," gumamnya tak jelas dan melingkarkan lengannya diseputaran tubuhku.
"Maafkan aku," bisikku dan menyusup lebih dalam, menguburkan wajahku di lehernya, bergelayut padanya.
"Babe, ada apa? Kau gemetaran."
Aku hanya merasa sangat kedinginan.
Dia berusaha menarik diri, namun aku makin mengetatkan gelayutanku. "Jangan pergi." Kudengar nada putus asa dalam suaraku.
"Sweetheart, aku tidak akan kemana-mana. Bicaralah padaku. Kau menakutiku. Apakah kau terluka?"
Kugelengkan kepalaku. Tuhan, banyak sekali yang harus kupikul. Terlalu banyak yang ada dalam benakku. Aku sedih karena Hyuko, dan takut kehilangan Chanyeol, namun aku juga takut mencintainya. Dan aku sangat lelah menjadi takut akan kehilangan sesuatu, seseorang, yang berarti bagiku.
"Butuh kau," ujarku pelan dan tiba-tiba kurasakan airmata menggenangi mataku.
"Baekhyun," dia benar-benar terbangun sekarang, dan khawatir.
"Aku tidak terluka," gumamku dan menyandarkan keningku di bahunya, masih menempel padanya, menikmati perasaan betapa kuat lengannya memelukku. "Kami kehilangan Hyuko malam ini. Aku hanya ingin bersamamu, oke?"
"Oh, baby."
Aku tidak peduli dia memanggilku dengan sebutan baby. Itu menenangkan dan penuh kasih sayang, dan aku membutuhkan itu. Aku membutuhkan Chanyeol.
"Kau selalu diterima disini, Baekhyun. SELALU."
Akhirnya aku memundurkan kepalaku dan menatap tepat ke mata coklat kehitaman lembutnya. Dia sangat baik hati. Bagaimana aku bisa bisa berpikir bahwa dia berusaha menyakitiku?
"Aku ikut sedih mengenai Hyuko. Dia benar-benar anak yang baik. Dia sepenuhnya terpincut padamu, namun aku tidak dapat menyalahkannya." Dia menyeringai kebawah padaku dan mengecup hidungku, dan aku pun rileks kembali. Dia hanya menenangkanku.
"Chanyeol, kau membuatku sangat takut." Matanya melebar sesaat, kemudian dia menghembuskan napas dan memejamkan mata. Dia terkekeh pelan saat dia mencondongkan bibirnya pada bibirku.
"Baekhyun, kau membuatku jengkel, dan bergairah, dan juga gila." Dia menciumku dengan lembut dan dengan penuh perasaan menyisirkan jemarinya di rambutku.
"Tidakkah kau lihat bagaimana perasaanku padamu? Tidak dapatkah kau merasakannya ketika aku sedang bercinta denganmu? Caraku memandangmu? Astaga, Baekhyun, hanya kau yang kulihat. Hanya kau yang kuinginkan."
Kupejamkan mataku dan berusaha melepaskan diri darinya namun dia memelukku dengan erat.
"Tidak, kau tidak boleh pergi lagi. Karena sekarang kau sudah disini, aku akan menahanmu disini, sial. Kau milikku, Baekhyun, dan begitu pula sebaliknya, aku milikmu."
"Terima kasih," bisikku.
"Untuk apa?"
"Untuk ini. Untuk ada di sini. Untuk bunganya, dan bersamaku semalaman, walaupun kau tidak tahu itu." Aku menggelengkan kepala dan memejamkan mata. "Kau membuatku takut, tapi aku tidak mau kehilanganmu."
Dia memelukku makin erat dan mencium rambutku, tangannya naik dan turun membelai punggung untuk menenangkanku. "Tidurlah, babe."
Terbaring disini, dalam kesunyian, kubiarkan mataku tertutup dan jatuh terlelap dengan suara napas dan degup jantung Chanyeol yang stabil di pipiku.
ooOoo
.
.
Aku bangun sendirian dan sinar mentari menyirami kamar melalui jendela, terpantul pada linen berwarna putih polos, membuat kamar menjadi cerah dan ceria. Kamar tidur Chanyeol indah. Dindingnya berwarna blue dan semua lis serta linen berwarna putih. Tempat tidurnya berukuran sama dengan ruang tamuku, dan mengarah ke jendela yang tingginya dari lantai hingga langit-langit yang menghadap ke perairan.
Aku bisa terbiasa bangun tidur di sini.
Brengsek, ini sudah siang! Aku tidak pernah ketiduran lagi seperti ini sejak aku sudah lupa berapa lama, walaupun aku bekerja pada shift malam. Aku mengernyit pada pakaian kerjaku dan mengingat semalam aku mendatangi Chanyeol sepulang kerja, menyerangnya diatas tempat tidur, dan bagian yang paling mengerikan dari semuanya adalah: terpuruk dihadapannya.
Sebelum aku merenung karenanya, aku turun dari tempat tidur dan menanggalkan seluruh pakaianku dan terdengar olehku shower pada kamar mandi utama menyala. Sebelumnya kupikir dia akan berada di pusat pelatihan hari ini.
Aku berjingkat memasuki kamar mandi, mengikat rambutku membentuk cepolan asal-asalan diatas kepalaku dan melihat Chanyeol melalui pintu kaca bening shower. Ruang showernya sendiri pun besar. Dengan keramik putih dan biru. Dan seorang Chanyeol yang sangat tinggi dan berkulit sedikit kecokelatan dan berotot sedang berdiri dibawah sebuah kepala shower yang paling tinggi dari empat kepala shower yang ada, tangannya menahan pada dinding dan kepalanya menunduk kedepan, membiarkan air hangat mengalir menuruni kepala dan punggungnya.
Astaga, dia seksi.
Dia sudah tidak berada didalamku selama beberapa hari.
Diam-diam aku memasuki shower dan melingkarkan lenganku disekeliling pinggangnya yang basah. Ketekankan diriku terhadap punggungnya, dan menarik napas dalam-dalam dan membiarkan air mengaliri tubuhku.
"Selamat pagi," Chanyeol bergumam dan berbalik agar dapat menatapku.
"Sebenarnya sekarang sudah siang," jawabku dan tersenyum lebar padanya. Dia mengamati wajahku, menangkupnya dengan tangannya yang besar. Nampaknya dia puas dengan apa yang dilihatnya karena dia menyeringai padaku dan bahunya terlihat santai.
"Pemalas," ujarnya lirih dan menciumku dengan lembut.
"Hey, aku bekerja hingga larut. Aku terkejut kau ada di rumah."
"Aku baru saja pulang. Aku ada pertemuan tadi pagi-pagi sekali kemudian berlatih sebentar." Dia mengambil sabunku dan menuangkan isinya diatas sehelai handuk kecil hingga berbusa, memutarku menghadap dinding. "Letakkan tanganmu di dinding."
Oh, aku amat menyukai ketika dia menjadi tukang perintah!
Aku menurut dan merendahkan kepalaku, memejamkan mata, dan menikmati Chanyeol yang memanjakanku, meluncurkan handuk kecil melewati punggung dan bahu, lengan, bokong, menuruni kakiku. Dalam perjalanannya menaiki kakiku, dia mendorong handuk kecil itu diantara kakiku, membasuh lipatanku dan aku dapat menahan lenguhanku.
Tidak ada yang pernah membersihkan area itu sebelumnya.
"Berbalik," gumamnya.
Aku menahan tanganku di pinggul rampingnya yang basah, ibu jariku menyusuri bentuk Vnya yang spektakuler, dan mengamati wajahnya saat dia membasuh dada, payudara serta perutku. Matanya mengekori tangannya, meresapi rubuhku dan hangat oleh sorot gairah.
"Aku menyukai kulitmu," matanya menatap mataku dan dia tersenyum. "Kulitmu sangat halus."
"Aku suka area ini, tepat disini," aku menepuk pelan pinggulnya dengan ibu jariku dan memberinya senyum genit. "Mari kita jaga tetap seperti ini."
Dia terkekeh. "Akan kuusahakan sebaik-baiknya. Mari kita bilas dirimu."
Dia menggeserku kebawah air, dan terpukau akan busa sabun yang meluncur turun dari tubuhku. Dia berhenti menyentuhku, dan hanya menonton reaksi tubuhku pada air dan dia.
Mataku menjelajahi tubuhnya yang kekar, perutnya yang rata, dan rambut pubisnya, dan penis paling mengagumkan yang pernah kulihat seumur hidup yang sedang berereksi penuh. Kuraih kejantanannya dengan tanganku dan kugerakkan tanganku pada batangnya naik turun dalam dua belaian yang panjang dan perlahan.
"Sial," dia menghirup udara melalui giginya yang gemertakan dan aku menyeringai sembari berlutut, dan menjilat ujung kejantanannya, perlahan, lembut dan menggoda. Kutangkupkan testikelnya dalam salah satu tanganku, dan menahan pangkal kejantanannya dengan tanganku yang lain dan menenggelamkannya semakin jauh, menghisap dan menjilat sepanjang batangnya. Ketika dia mencapai tenggorokanku, kutarik dan mengulang seluruh gerakan, sedikit demi sedikit meningkatkan kecepatan.
Jarinya menjambak rambutku dan aku makin cepat, memompanya dengan tanganku.
"Sial, aku sangat menyukai mulutmu." Dia terengah-engah, sedikit mendesakkan pinggulnya terhadapku.
"Jangan buat aku orgasme di mulutmu."
Aku tersenyum pada diriku sendiri. Tentu saja aku akan membuatmu orgasme dalam mulutku!
Aku bergerak makin cepat, makin kuat. Tiba-tiba saja Chanyeol mengangkatku hingga berdiri dan menciumku dengan keras dan intens. Dia mencengkeram bahuku, kuat, ciumannya menggambarkan keputusasaan.
"Aku belum berada dalam dirimu selama tujuh puluh dua jam, Baekhyun. Aku tidak akan orgasme dalam mulutmu yang manis." Dia memutarku agar menghadap dinding shower. "Tangan di dinding."
Dia menarik pinggulku ke belakang dan menyelipkan jarinya melalui lipatanku ke clitku. Aku terkesiap ketika dia menyapu tindikan metalku.
"Oh, Chanyeol."
"Tepat sekali. Ini adalah milikku, Baekhyun. Apa kau mengerti?"
"Ya."
Dia menghujamkan dua jari kedalamku dan diputarnya, kemudian ditariknya keluar untuk membasahi bibir kewanitaanku yang sudah membengkak.
"Sangat basah," katanya lirih.
"Chanyeol?"
"Ya, love."
Sapuan dingin menjalari tulang belakangku akibat satu kata itu dan aku menyeringai.
"Aku butuh kau ada didalamku."
"Aku pasti akan kesana, babe. Astaga, kau terasa nikmat."
"Aku akan merasa lebih baik saat kau berada didalamku."
Kudengar dia tertawa, dan kami berdua terhenyak ketika ujung kejantanannya menyapu kewanitaanku. Dengan lembut dia mendorong masuk, perlahan-lahan.
"Apakah kau oke?"
"Oh Tuhan, ya. Lebih dari oke."
"Ini akan menjadi kasar, honey." Suaranya tegang saat dia mulai bergerak, benar-benar bergerak, dengan membabi buta. Dia mencengkeram rambutku dalam kepalan tangannya dan menampar bokongku dengan tangan yang lainnya, menggugahku. "Astaga, kau sungguh-sungguh nikmat."
"Oh, Chanyeol!"
Mendadak dia menarik keluar kejantanannya dan memutarku agar menghadapnya, menempatkan tangannya pada bokongku dan mengangkatku terhadap dinding. Kubungkuskan tangan dan lenganku disekelilingnya, namun dia malah mengambil tanganku dan menahan keduanya diatas kepalaku dengan salah satu tangannya, mencondongkan dirinya padaku, dan menguburkan lagi miliknya didalamku.
"Sangat nikmat," gumamnya dan memakuku dengan mata coklat kehitaman cerahnya. "Milikku," ulang Chanyeol dan kemudian menguburkan wajahnya di leherku, mencium, menggigit pelan dan kurasakan orgasme mendorong ke permukaan.
Kakiku menegang dan aku mendorong melawan tangan Chanyeol namun dia menahan dengan kuat.
"Benar begitu, lepaskanlah," perintahnya, dan aku mematuhinya, keras dan cepat, mengejang disekeliling kejantanannya yang rupawan.
"Ah persetan!" Rahangnya mengatup dan dia menengadahkan kepalanya ke belakang dan jatuh dari tepian bersamaku.
Dia meletakkan dahinya pada dahiku ketika kami pulih. "Apakah kau bekerja hari ini?"
"Tidak."
"Bagus. Kau tinggal bersamaku, sepanjang siang dan malam."
"Rencana yang bagus."
