My Black Cat My Prince
Little Blue Rhythm
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Chapter 7: Rescue Them
"Uwaaaa... Dari sini saja Istana Uchiha kelihatan besar ya,"
"Jangan norak,"
"Hei, aku kan baru pertama kali ke sini!"
"Hn, terserah,"
"Ehem... Aku mau meralat perkataan Naruto. Dulu waktu umurmu lima tahun kau pernah ke sini, Naruto," ucap Minato.
"EH? Aku tidak ingat?"
"Tentu saja kau lupa. Apa sih masa lalu yang kau ingat selain yang berhubungan dengan Sakura," sindir Kushina.
"Kaa-san!"
"Yah, tapi tak kusangka kita tiba di sini sore hari. Berterimakasihlah pada Naruto yang mengulur banyak waktu. Jadi kita tidak perlu menunggu lama hingga malam tiba," ucap Minato.
"Tou-san ini sedang memujiku atau menghinaku sih?"
"Dua-duanya,"
"Ngomong-ngomong, sepertinya waktu Sasuke-sama dalam wujud manusia sekarang jauh lebih lama ya dibandingkan dulu. Tidak dua jam lagi tapi lebih," ucap Hinata.
Semua langsung memandang Hinata. Hinata yang merasa diperhatikan langsung menunduk malu. Ia tidak menyangka reaksinya akan seperti itu.
"Iya juga ya," ucap Naruto akhirnya.
"Berarti, waktu Sasuke-sama dalam wujud kucing menjadi lebih sebentar? Berarti nanti kita harus bertindak cepat," kata Minato sambil berpikir.
"Lebih cepat lebih baik. Aku ingin segera bertemu Sakura-chan!" ucap Naruto.
"Hah, dasar kau ini"
"Hehehe..."
. . .
"Untung saja Sasuke-sama berubah jadi kucing ketika malam tiba," ujar Minato.
"Hn,"
"Hinata, kau bisa kan mengalahkan prajurit-prajurit itu tanpa membuat mereka berteriak?"
"Akan kuusahakan,"
"Baiklah, ayo kita mulai!"
Hinata dan Sasuke mengangguk. Minato melihat ke belakang. Naruto dan Kushina hanya mengacungkan jempol tanda siap. Minato pun memulai langkah awal. Dengan gerakan cepat, Minato memukul belakang leher penjaga yang membuat mereka pingsan.
"Penjaga gerbang, beres,"
"Ke sini,"
Sasuke menuntun keempat orang dibelakangnya. Begitu memasuki gerbang besar, ia langsung pergi ke arah selatan. Menurut instingnya, di bagian selatan adalah bagian yang minim penjagaan. Walaupun mereka harus memutar, karena seingat Sasuke tempat tahanan ada di bagian yang berlawanan.
"Kuambil jalan memutar. Ada jalan rahasia,"
"Apa Orochimaru tau?"
"Tidak. Hanya aku dan Itachi-nii yang tau,"
"Bagus. Ah, usahakan wajahmu tidak terlihat, Hinata,"
"Baik,"
Sasuke terus menuntun Minato, Hinata, Naruto, dan Kushina. Mereka sampai di depan sebuah sumur kering. Letaknya juga tersembunyi. Sumur kering tersebut tertutupi oleh semak-semak jika dilihat dari jauh. Tempatnya juga agak suram. Jadi tak heran jika tak ada yang menyadarinya.
"Masuk ke dalam," ucap Sasuke sambil terjun ke dalam sumur.
"Uwaaa... Ternyata ada jalan seperti ini," ucap Hinata kagum.
"Kalau seperti ini sih aku rasa kita bisa dengan cepat menyelamatkan keluarga Sasuke-sama dan Sakura,"
"Ya, semoga saja,"
"A-ano, Sasuke-sama, apa ini seperti... jalan bawah tanah?" tanya Hinata.
"Kurang lebih,"
"Jadi kita di bawah istana?"
"Hn,"
"Ada apa?"
"Tidak. Hanya ada sedikit perasaan aneh,"
"Aura Orochimaru, mungkin," jawab Sasuke asal.
Hinata hanya diam. Mungkin hanya perasaannya saja.
"Di depan sana, terhubung langsung ke gudang persenjataan. Setelah itu kita berjalan sebentar ke utara, di sana ada sebuah bangunan yang cukup besar. Di bawah bangunan itu adalah penjaranya," terang Sasuke.
"Padahal aku sering ke sini, tapi tak kusangka ada jalan macam ini,"
"Tentu saja. Sebelumnya hanya aku dan Itachi-nii yang tau,"
"Aku yakin penjagaan di dekat penjara sangat ketat. Nanti kita beristirahat sejenak saja dulu di gudang," kata Minato.
"Hn, jangan terlalu lama,"
"Apa itu pintunya?"
"Ya,"
KRIEEET!
Minato mengintip sedikit. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Hanya bau debu dan bubuk mesiu. Terdengar langkah kaki pun tidak. Merasa aman, Minato lalu membuka pintu tersembunyi itu lebar. Kini tampaklah dengan jelas senjata-senjata lengkap milik Uchiha ini.
"Uwaaaa... Banyak sekali," ucap Naruto tidak percaya.
"Jangan norak,"
Naruto lagi-lagi hanya mendengus kesal. Ia sudah bosan membuntuti Minato, Sasuke, dan Hinata, sekarang kekagumannya akan gudang ini seakan tidak diperbolehkan.
"Hinata, tolong simpan ini untukku," perintah Sasuke sambil menunjuk sebuah pedang yang tak jauh darinya.
"Eh? Ba-baiklah,"
"Lalu? Apa yang akan kau lakukan Minato-san? Aku yakin di sekitar tempat tahanan penjagaannya sangat ketat,"
"Sedang kupikirkan,"
"Bagaimana kalau makan dulu?" tawar Kushina sambil mengeluarkan toples isi cemilan.
"Aku mau!" ucap Naruto semangat.
'Sejak kapan?' batin Sasuke.
"Hinata, tolong kau alihkan perhatian penjaga dengan pasukan boneka saljumu. Kau bisa?" ucap Minato.
Hinata terdiam sebentar. Lalu akhirnya mengangguk.
"Apa yang tou-san rencanakan sih?" tanya Naruto.
"Boneka-boneka salju Hinata akan menarik perhatian para penjaga setelah itu kita menyelinap," balas Minato singkat.
"Sudahlah, kita jalan sekarang," ujar Sasuke.
"Kalian duluan. Ada yang ingin kubicarakan pada Minato," ucap Kushina tiba-tiba sambil menahan Minato.
"Baiklah, kami duluan,kaa-san,"
Setelah Naruto, Hinata, dan Sasuke sudah tidak terlihat dari gudang, Kushina langsung mendorong Minato ke tembok, menatapnya tajam.
"Apa yang kau rencanakan?"
"Menye-"
"Kau tau apa yang kumaksud, Minato,"
Minato hanya terkekeh pelan melihat tingkah istrinya. Sepertinya istrinya sudah menyadari apa yang ingin dia lakukan.
"Sepertinya aku tertangkap basah,"
"Jawab," ancam Kushina sambil menarik pedang yang ada di sisinya.
"Menguji Hinata untuk yang terakhir kali," balas Minato lalu mengecup istrinya lembut yang membuat wajah Kushina memerah.
. . .
"Kalian lama!" ucap Naruto kesal.
"Maaf,maaf. Tapi sepertinya tanpa kami kalian bisa mengalihkan perhatian para penjaga," puji Minato.
"Sudahlah. Ayo kita ke dalam!" ucap Naruto.
BRUUUK!
BRAAAAK!
DUAAAK!
"SAKURA-CHAAAN!"
BLETAK!
"Jangan berteriak!"
"Na-Naruto-kun!"
Mata Naruto tertuju pada gadis merah muda yang memegang jeruji besi. Menatap tak percaya ke arahnya. Matanya pun sudah berkaca-kaca.
"Apa itu suamimu? Wah, rupanya anak Minato dan Kushina," tanya seorang wanita yang tak jauh dari Sakura.
"Iya, Mikoto-sama," balas Sakura malu.
"Mikoto-sama, Sakura!"
Kushina langsung menghampiri tempat Sakura. Ia mendapati Sakura bersama Mikoto, Fugaku, dan Itachi. Kushina hanya menghela napas lega melihat Sakura dan yang lainnya selamat.
"Sakura, menjauhlah," ucap Kushina sambil menarik pedangnya.
TRANG TRANG
Pilar-pilar besi yang menghalangi Kushina dan Sakura terpotong kecil-kecil seketika. Sakura menatap kagum Kushina. Ia tau bahwa Kushina ahli memainkan pedang. Namun ia tidak mengira bisa seperti itu.
"Sakura-chan!" Naruto langsung berlari menghampiri Sakura dan memeluknya erat.
"Na-Na-Naru-"
"Syukurlah,"
Sakura tersenyum lembut. Lalu membalas pelukan suaminya.
"Aku yakin kau akan datang," ucap Sakura lirih.
"A-ano, maaf mengganggu. Tapi sebaiknya kita segera keluar dari sini. Aku tidak yakin bisa menahan penjaganya lama-lama," ucap Hinata gelisah.
"Hinata benar. Ayo keluar," ujar Minato.
"Eh? Kenapa tidak langsung menghajar Orochimaru saja?" tanya Naruto.
"Tentu saja tidak, bodoh,"
BLETAAAK!
"Sakura-chan! Kenapa kau memukulku?"
"Karena kau tidak tau keadaan. Dasar. Walau sudah lebih baik, Fukagu-sama dan Itachi-sama perlu perawatan lebih di tempat yang lebih layak!"
"Sudah, sudah, ayo jalan,"
"Ngomong-ngomong, mana Sasuke?" tanya Itachi.
Sasuke yang dari tadi diam saja dalam wujud kucingnya hanya menatap sang kakak. Sepertinya sang kakak tidak tau kalau kucing yang dari tadi berada tak jauh darinya adalah Sasuke. Berbeda dengan sang ibu yang hanya tersenyum mendengar pertanyaan Itachi.
"Nanti kau juga tau sendiri," balas sang ibu, sedangkan Itachi hanya menatap ibunya tercinta heran.
. . .
Saat ini mereka berjalan di jalan bawah tanah. Suasana hening. Bahkan tak ada komentar atau pun protes dari Naruto.
"Kita istirahat dulu di sini," ujar Minato.
POOOF!
Tiba-tiba sang kucing hitam berubah menjadi sosok sebenarnya yang membuat Itachi terkejut. Itachi langsung menatap ibunya. Sedangkan sang ibu hanya tersenyum.
"Jadi?"
"Ya, kaa-san kan sudah bilang kalau Sasuke jadi suatu makhluk," ucap Mikoto enteng.
"Apa?" bentak Sasuke yang tidak suka dengan pandangan kakaknya.
"Hmmmph, tidak," ucap Itachi sambil menahan tawanya.
"Yang penting kan kita sudah berkumpul lagi," ucap Mikoto sambil tersenyum lembut.
"Itu benar," kali ini Fugaku membuka suara, walau terdengar jelas bahwa pria itu masih dalam keadaan lemah.
"Hiks... Hiks... Syukurlah Sakura baik-baik saja," sekarang Kushina kembali menangis. Ia masih mengingat jelas saat-saat di mana Sakura ditahan.
"Sudahlah, Kushina," ucap Minato, menenangkan istrinya.
"Tou-san benar. Yang penting sekarang Sakura-chan sudah di sini!" tambah Naruto sambil merangkul Sakura.
Hinata hanya terdiam melihat dua keluarga yang sedang berkumpul. Hatinya merasa perih. Ingin sekali Hinata segera beranjak dari tempat dengan pemandangan indah namun menyesakkan hatinya ini. Ia juga rindu keluarganya. Hinata menundukkan kepalanya. Mencengkram erat bajunya agar air matanya tidak tumpah. Hinata tidak sadar bahwa Sasuke memandangnya. Sasuke tau apa yang saat ini Hinata rasakan.
"Eh, ngomong-ngomong siapa gadis itu?" ucap Mikoto yang membuat Hinata mengangkat kepalanya.
"Namikaze Hinata,"
"Uzumaki Hinata,"
Kushina dan Minato saling memandang. Sedangkan Hinata terbelalak kaget. Mikoto dan Fugaku hanya menghela napas.
'Mulai lagi, deh,' batin Fugaku dan Mikoto.
"Hei Kushina, kau kan sudah ada Naruto dan Sakura yang bermarga 'Uzumaki'! Setidaknya berbaikhatilah padaku. Dia kan muridku!"
"Tidak bisa. Aku mau marga Hinata 'Uzumaki'! Itu lebih cocok! Benar kan, Naruto, Sakura?"
"Ummm... Sebaiknya kaa-san mengalah saja pada tou-san," ucap Naruto ragu.
"Aku setuju dengan Naruto," tambah Sakura.
"EH? Kenapa kalian tidak membelaku?" ucap Kushina kesal, sedangkan Minato hanya tersenyum senang.
Hinata hanya menatap keluarga unik di depannya. Ia masih belum mengerti keadaan yang sekarang sebenarnya terjadi.
"Huh. Baiklah. Setidaknya kalau Hinata menikah nanti marga 'Namikaze'nya langsung lenyap seketika," ucap Kushina akhirnya.
"Ummm... Maaf. Aku ulang perkenalannya. Dia Namikaze Hinata, anak angkat kami," ucap Minato.
"E-eh? A-apa maksudnya, Minato-sensei?"
"Hei, berhenti memanggilku 'sensei'! Mulai saat ini kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Yah, walau sebenarnya rencananya kami akan memberitaumu setelah ini selesai, sih,"
"Kyaaaa... Aku punya adik!" ucap Sakura senang sambil memeluk Hinata.
"Hinata-chan kan memang sudah menjadi adikku dari sejak lama!" ucap Naruto sambil mengacungkan jempolnya.
Hinata sudah tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia merasa senang dan terharu. Sebuah keluarga yang ia idam-idamkan sejak lama. Sejak ia ditemukan oleh Minato saat musim dingin enam belas tahun yang lalu, saat usianya masih lima tahun.
Mikoto yang melihat hanya tersenyum lembut. Sedangkan para Uchiha yang lain hanya memasang wajah datar walau mereka turut bahagia. Karena terlalu datar, tak ada yang menyadari bahwa sebenarnya Sasuke menarik sedikit ujung bibirnya ke atas. Tersenyum sangat tipis.
.
.
.
Chapter Tujuh telah hadiiiir~
Tak disangka cerita ini begitu panjang. Mungkin cerita terpanjang yang pernah saya buat.
Yah... Tapi, terima kasih buat yang udah nge-review.
Mungkin cerita ini tamatnya di chapter belasan.
Yap, saya tunggu reviewnya lagi ya...
Terima kasih.
