Violently Beautiful
Chapter 7 – Do You Love Me?
.
.
"Shizu-chan benar-benar monster. Aku nggak bisa bergerak."
"Salahmu sendiri, siapa suruh lari-lari di tengah hujan. Terkilir kan?"
Bagi readers yang ambigu karena chapter sebelumnya, author menegaskan kalau mereka belum melakukan apa-apa. Belum. Cerita lengkapnya itu begini—
Flashback
"Shizu-chan tau darimana kalau aku dulunya informan?" tanya Izaya sambil memandang kearah Shizuo dengan tatapan bingung. Shinichi ternganga, tapi itu belum seberapa dengan Shizuo—pria pirang itu membeku. Dia terpeleset.
Sumpah serapah berkeliaran di otak Shizuo. Dia lalu menutup dan membuka mulutnya, mencoba mencari alasan yang lebih logis. Menarik nafas, Shizuo lalu berdeham. "Namie yang mengatakannya kepadaku waktu aku bertanya kenapa kau membutuhkan bodyguard. Dia bilang kalau pekerjaanmu sebagai informan itu berbahaya dan kau memiliki banyak musuh." Untunglah suaranya tidak bergetar.
"Ah? Begitu ya." Izaya tersenyum manis. Shizuo menenguk ludah. "
Well, aku tidak kembali lagi ke pekerjaanku dulu. Hilang ingatanku sudah cukup membuatku kapok, hehe." Izaya menyengir. "Lagipula, aku butuh menjaga Mairu dan Kururi juga."
"Ah mereka ya?" Shinichi menenguk susu coklatnya sampai habis. "Well, aku titip salam ke mereka ya."
Izaya mengangguk dengan sebuah seringai. Lalu, suara petir dan juga gemercik air yang deras mengagetkan mereka. Shizuo dan Izaya menoleh kearah kaca. Hujan lagi. "Kenapa akhir-akhir ini terus-terusan hujan ya?" gumam Shinichi.
"Maa, aku juga nggak terlalu peduli." Shinichi berdiri dari bangkunya diikuti oleh Shizuo dan Izaya. Mereka lalu keluar dari restoran. Shinichi berjongkok dan memperketat ikatan tali sepatunya. "See ya, 'Zaya, Heiwajima."
Lalu Shinichi berdiri dengan tegak dan berjalan mendekat kearah Shizuo. Karena tinggi mereka—hampir—sama, Shinichi berbisik ditelinga Shizuo dengan mudah tanpa perlu berjinjit; "Kalau kau menyakitinya lagi, aku akan membunuhmu. Secara perlahan-lahan. Camkan itu, Shizuo-kun."
Shizuo membalas dengan desisan dan tatapan tajam.
Lalu Shinichi menoleh kearah Izaya yang memperhatikan dengan tatapan bingung. Pria abu-abu itu tersenyum dan mengambil tangan Izaya, lalu mencium punggung tangannya. "Jaga diri baik-baik, Izaya."
"Uh... ya..." balas Izaya pelan. Shinichi lalu melambai kearah mereka dan berlari menjauh.
Tangan Shizuo bergetar ingin menghancurkan sesuatu. Atau lebih tepatnya mencekik leher Shinichi sampai patah. Berani-beraninya dia...! Yang berhak mencium semua bagian tubuh Izaya itu hanya Shizuo, dan Shizuo seorang.
"Shizu-chan, kita pulang gimana?" tanya Izaya sambil mengeluarkan tangannya yang lain dan membiarkan hujan membasahi telapak tangan itu.
Shizuo berpikir sebentar, sebelum melepas jaketnya dan menaruh itu di kepala Izaya. Karena tubuh mereka yang berbeda ukuran, Izaya tampak seperti anak remaja di jaket Shizuo. "Loh?" pria itu menoleh kearah yang lebih tinggi, "Shizu-chan nanti pakai apa? Dingin loh. Aku sudah ada jas kok."
"Biar nggak kebasahan." ucap Shizuo. "Apartemenku dekat disini. Jalan saja, lagipula aku tidak peduli basah atau tidak."
Izaya menyeringai dan Shizuo tau hal buruk akan datang. "Lari saja! Ayo, Shizu-chan! Satu, dua, tiga!" Izaya lalu menarik tangannya dan berlari, otomatis membawa Shizuo ikut.
Shizuo yang kaget hanya mengandalkan gerakan kakinya yang otomatis bergerak karena tertarik oleh Izaya. Lalu, pria itu tersenyum samar ketika melihat Izaya yang tertawa bagaikan anak kecil. Dia tidak pernah berlari bersama Izaya. Dia hanya mengejar pria itu dulunya, tidak pernah berlari bersama. Dan sekarang, entah kenapa rasanya... berlari bersama Izaya seperti ini...
Shizuo lalu memperlebar jarak kakinya, jadinya dia berlari sejajar dengan Izaya sekarang. "Persimpangan nanti belok kiri." ucapnya. Izaya mengangguk singkat dan melanjutkan berlari dengan ekspresi bahagia.
Samar, terlihat persimpangan yang sedikit sepi. Mungkin karena orang-orang pada menyingkir agar tidak terkena hujan. Hanya ada beberapa orang saja yang berteduh dibawah toko-toko, tapi ada juga yang berniat menerobos hujan seperti Shizuo dan Izaya.
Mereka berbelok dengan mulus. Jangan ambigu ya.
Senyuman di wajah Shizuo melebar sekalian dengan tawa maniak Izaya yang semakin menggelegar. Entah kenapa tapi rasanya, kalau bermain hujan, itu menyenangkan sekali. "Ah, 'Zaya, awas!"
Ada sebuah lubang dijalanan yang mereka lewati dan Izaya berlari tepat kearah situ. Shizuo menarik tangan Izaya dan menyebabkan kaki pria yang lebih tua itu tergelincir di semen yang basah.
"Ack! SAKIT!" jerit Izaya.
Flashback End.
"Sudah nggak nyeri lagi kan?" tanya Shizuo. Izaya sekarang berada di sofa—soal kamar di chapter kemarin itu waktu Shizuo nyari baju untuk Izaya. "Mandi dulu sana, kau basah. Handuk yang baru ada didalam, bajunya ntar aku antar."
"Oke~ pintu yang ini kan?"
"Yap."
Saat Izaya masuk kedalam kamar mandi, bau wangi kapur barus dan temperatur hangat langsung menyambut Izaya. Shizuo pasti baru saja mandi. Menutup pintu, Izaya melepas pakaiannya dan menaruhnya di keranjang yang ada didekat pintu.
Dia lalu menyalakan kran shower dan membiarkan air hangat tersebut menghujani dirinya lagi.
Izaya menghela nafas dan mencari-cari shampoo dan juga sabun. Izaya menggunakan keduanya, dan membersihkan tubuhnya juga. Setelah selesai, Izaya lalu membuka pintu sedikit dan mengintip keluar. Terdengar suara televisi menyala dan Izaya memutar bola matanya kesal. Dia lalu menunduk—terdapat pakaian didepan pintu.
Izaya lalu mengambilnya dan masuk kembali ke dalam kamar mandi. Benar saja, terdapat handuk yang terlipat rapi didekat rak. Mengambilnya, Izaya mengeringkan tubuhnya sebelum mengambil pakaian dalam yang Shizuo selipkan. Masih ada merk yang tertera, berarti baru. Izaya mengeryit dan membalik boxer tersebut. Ukuran L.
Wow okay. Nevermind.
Setelah memakai boxer tersebut, Izaya lalu mengambil baju yang Shizuo berikan. Hoodie berwarna abu-abu yang sangat mirip dengan miliknya di rumah. Ah, mungkin dari toko yang sama, pikir Izaya lalu memakai pakaian tersebut. Kebesaran. Lengannya bahkan menutupi seluruh tangannya—dan ujung hoodie tersebut mencapai pangkal pahanya!
"SHIZU-CHAN!" jerit Izaya, "NGGAK ADA BAJU YANG LEBIH KECIL APA?"
"ITU YANG PALING KECIL!" teriak Shizuo balik.
Menggerutu, Izaya lalu mengambil celana yang disiapkan. Untunglah ini muat walaupun sedikit longgar.
Keluar dari kamar mandi, Izaya bertemu dengan Shizuo yang sedang bersantai di sofa sambil menonton televisi. Meminum botol susu vanilla yang besar yang tersisa setengah. Shizuo tidak menoleh kearahnya sampai Izaya duduk disampingnya.
"Dingin. Shizu-chan nyalain AC?"
"Dikamar." balas Shizuo singkat dan meminum susunya sedikit. Dia lalu menoleh kearah Izaya, "Ingin minum apa?"
"Teh saja."
Shizuo berdiri dan berbalik kearah dapur. "Dingin atau hangat?"
"Ya hangat lah." ucap Izaya lalu mengambil remote dan mencari-cari saluran yang menarik. Tidak ada yang menarik sih, yang ada cuman Fifty Shades of Gray. Izaya tidak pernah menyukai film itu karena terlalu banyak adengan anuan. Masa ada yang mau aja diikat di ranjang terus ngelakuin anu? Aneh kan?
Izaya lalu membolak-balik saluran lain sampai dia pasrah dan menonton film Fifty Shades of Gray tersebut. Lumayan lah, karena adengan anu-anuannya disingkat sesingkat-singkatnya.
Shizuo datang sambil membawa nampan berisi teh dan dua piring nasi omelet. Dia meletakkan teh dan satu piring didepan Izaya, sementara Shizuo mengambil piring yang lain dan mulai makan. "Kita nggak ada makan nasi. Maaf kalau rasa omeletnya nggak sesuai dengan seleramu." ucap Shizuo.
Izaya menggeleng, "Tidak apa-apa kok, Shizu-chan~" lalu memasukan satu sendok berisi penuh kedalam mulutnya. Izaya tertegun dengan rasanya.
"Shizu-chan, ini kau sendiri yang masak?" kata Izaya setelah menelan.
"Iya, soalnya aku tinggal sendiri."
"Tapi, ini beneran kau yang masak?"
Kali ini Shizuo benar-benar menoleh kearahnya, "Kenapa emangnya? Rasanya aneh ya? Uh—maaf."
"Nggak kok," Izaya bergumam dengan mulut penuh, "Rhasha-nyha heybat bhangeth." (Rasanya hebat banget.)
Shizuo terkekeh. Miliknya sekarang tersisa setengah sementara Izaya masih penuh. "Ngomong jangan dengan mulut penuh begitu. Telan dulu gih." ucap Shizuo sambil menghabiskan sisa makanannya. Setelah habis, pria tinggi itu langsung mengambil botol susu dan meneguk sampai habis.
Dia lalu membiarkan Izaya makan dan menoleh kearah televisi. Kalau saja Shizuo masih minum, dia yakin air itu akan tersembur begitu saja. Di layar televisinya terdapat dua manusia yang sedang melakukan hal-hal anu. Shizuo tau sih apa namanya—BDSM, karena dia pernah mencobanya dulu.
"Uhm, Izaya, mana remotenya?"
"Nih," Izaya memberikan Shizuo remote televisi. "Kenapa, Shizu-chan?" tanya pria itu dan menaruh piringnya yang sudah habis diatas piring Shizuo.
"Uh—nggak ada apa-apa," Shizuo berdeham dan mengganti saluran ke sebuah saluran musik. Izaya menatap Shizuo dengan bingung, lalu—
"Jangan-jangan Shizu-chan terangsang?"
WHAT!
"HAH!?" jerit Shizuo kaget dan menatap kearah Izaya dengan ekspresi kaget dan bingung. Izaya tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi Shizuo. Baginya ekspresi itu lucu sekali!
"Hahahahaha! Shizu-chan, kau harus melihat ekspresimu itu! Lucu sekali! HAHAHA!" Izaya tertawa sambil memegangi perutnya. Shizuo menggeram, sebelum mencari-cari titik lemah Izaya untuk membalasnya.
Dia lalu ingat—Izaya itu mudah geli.
Dengan senyum setan, Shizuo lalu menusuk pinggang Izaya dengan kelima jarinya, sukses membuat tubuh Izaya mengejang hebat. Pria itu lalu menggeliat—mencoba melepaskan diri dari cengkraman Shizuo di pinggangnya.
"Ah! AHAHAHAHAHA—" Izaya tertawa terbahak-bahak sambil berusaha melepaskan diri dan menendang-nendang tubuh Shizuo. Sekarang dia sudah berpindah posisi—Izaya berbabring terlentang di sofa sementara Shizuo diatasnya, masih mengenakan senyuman setan tersebut,
"Shi—Shizu-chan! Hen—tikan! Ahahahaha! Suudaah!" Izaya menggeliat dibawahnya, "Ah—aku tidak bisa bernafas!"
Shizuo tidak berhenti sampai Izaya bernafas terengah-engah. Dia lalu melepaskan pria yang lebih tua itu, membuat Izaya menarik nafas sebanyak yang dia bisa. "Shizu-chan benar-benar kejam..." rengek Izaya sambil mengatur nafasnya dan memberikan tendangan main-main kearah si pirang.
Shizuo terkekeh, "Aku tidak pernah bilang kalau aku adalah orang yang baik."
Shizuo lalu mengambil piringnya, "Hei Izaya, habiskan teh-mu." ucapnya sambil memberikan Izaya gelas tersebut. Izaya langsung meminumnya sampai habis dan memberikannya kembai ke Shizuo. Si pirang berdiri dan berjalan ke dapur, lalu menaruh peralatan kotor tersebut di tempat cuci piring.
"Nee~ Shizu-chan, aku tidur dimana?"
"Dikamarku."
"Lah, terus Shizu-chan tidur dimana? Masa gamau tidur bareng sih?"
Oh, aku mau kok tidur bare—Oke, stop disitu, Shizuo.
"Aku tidur di sofa saja." ucap Shizuo enteng sambil mencuci piring.
"Eh? Tapi, kan, itu kamarmu loh Shizu-chan~ nggak mau tidur bareng apa?"
"Nggak."—mau sih, tapi aku takut nanti aku kehilangan kontrol dan berakhir menyakitimu.
"Shizu-chan nggak seru~" ucap Izaya sambil cemberut.
"Kau sudah tidur dengan berapa orang?"
"Eh? Shizu-chan, nggak baik loh nanyain kehidupan privasi orang begitu~" ucap Izaya sambil tertawa. "Nggak pernah sama sekali."
Shizuo berhenti dan menoleh kearah Izaya, "Huh?"
"Aku nggak pernah tidur dengan siapapun. Bahkan kata ibuku aku jarang keluar malam." ucap Izaya enteng sambil mengangkat bahu. "Sedih ya masih virgin di umur 30 tahun. Kalau Shizu-chan?"
Shizuo mendecih, "Tentu saja sudah." ucap Shizuo lalu menoleh kearah Izaya dengan seringai. "Aku sudah menjadi top dan bottom. Semua jenis seks dan bahkan fetishs sudah kucoba." jawab Shizuo santai dan mematikan kran. Dia sudah selesai.
"Wow, jadi Shizu-chan sudah pernah ngelakuin yang di film Fifty Shades of Gray tadi?"
"Sudah. Kenapa emangnya?"
"Nanya doang! Lagipula Shizu-chan..."
"Hmm?"
"Shizu-chan gay atau straight?"
Pertanyaan macam apa itu!?
"HAH!?" jerit Shizuo lagi untuk yang kedua kalinya. "A-Apa maksudmu!?"
Izaya tertawa, "Kau tau apa maksudnya~!"
Shizuo berdecih dan berdeham, "Kalau aku jawab, apa kau akan memecatku?"
Izaya memutar bola matanya, "Kalau aku memecat orang dengan sexualitas yang berbeda, Namie sudah tidak ada dikantor dari dulu." ucap Izaya lalu menatap Shizuo dengan pandangan berbinar-binar. "Jadi, Shizu-chan apa?"
"Biseksual." jawab Shizuo agak tidak nyaman. Dia lalu membuka kulkas dan mengambil susu lagi. Ada sekitaran 5 botol susu, mau besar ataupun kecil di kulkasnya. Dia membelinya banyak-banyak dan dengan batas kadarluarsa yang lama karena jika dia marah ataupun merasa tidak nyaman, susu selalu menenangkannya. "Kalau kau apa?" tanya Izaya.
"Aseksual."
"Tidak tertarik dengan semua jenis?" tanya Shizuo setelah menenguk susunya. "Kenapa?"
"Karena aku mencintai manusia!~" Izaya berdiri disofa dan berloncat-loncat bahagia. "Aku mencintai mereka semua! Dan aku harus membagikan cintaku pada mereka secara rata jadi tidak ada yang cemburu!" ucap Izaya dengan seringai puas.
Shizuo tampak berpikir sejenak, sebelum dia menatap kearah Izaya. "Jadi..." ucap Shizuo setelah Izaya selesai berloncat-loncat.
"Hmm?"
"Apa kau mencintaiku juga?"
A/N: Maaf karena apdetannya pendek. More to come~! SAYA SUKA BANGET REVIEWNYA AAAAAAAA
Oh, apa saya harus ngasih smut ya? Harus atau nggak~? Readers pilih deh! XD
