Disclaimer © Masashi Kishimoto
Author © Hanamiru
Pairing : SasuSaku|NaruSaku|SasuHina
Genre : Drama, Romance, Friendship
Rate : T
Warning : Typo's, mungkin OOC, EYD, Garing, dan teman-temannya
Summary :
"Sudah ku bilang aku tidak mau membantu, titik!"/"Kau lagi datang bulan, ya?"/"Ino-pig! Padahal kemarin aku sudah membantu mu, bodoh, bodoh, bodohhh!"/"Kalau begini, lebih berdebar tidak?"/"... Aku—"/"Juga mencintai mu, Sasuke-kun."/ "Kalian sudah memiliki hubungan khusus?"/ "Bukan urusan mu, baka."/"Hei, hei! Jangan lupa pajak pacarannya!"/
\^0^Happy Reading^0^/
.
.
.
...
Sakura terhenyak, mendengar ucapan yang baru saja keluar dari pemuda di hadapannya sekarang.
"Apa itu yang membuat mu berubah?" bisik Sakura pelan. Emeraldnya balas menatap onyx Sasuke dalam.
Tatapan Sasuke meredup, onyx itu menjadi sendu saat mendengar pertanyaan sang gadis.
Lengan Sakura terulur, memegang pipi Sasuke dan mengelusnya pelan. "Asal kau tahu, Naruto sama sekali tidak mencium ku, aku menolaknya."
Sasuke masih tak bergeming.
Mata Sakura berair, siap menumpahkannya kapan saja. "Lakukanlah..."
Perlahan, Sakura mendekatkan wajahnya pada Sasuke. Sedangkan pemuda itu masih diam, sama sekali tak merespon tindakan yang Sakura ambil.
Dan akhirnya, kedua bibir itu bertemu. Sakura memejamkan matanya, berusaha menikmati kecupan yang ia berikan pada Sasuke.
Namun berbeda dengan Sasuke, pemuda itu sama sekali tak merespon kecupan Sakura, hanya membiarkan gadis itu menguasai bibirnya. Mata Sasuke pun tak terpejam, namun menatap kosong objek di depannya.
Lengan Sakura begetar, begitu juga dengan tubuhnya. Tetesan bening itu meluncur bebas diatas pipi Sakura.
Gadis itu menangis...
Sasuke tersadar, spontan mundur selangkah dari tubuh Sakura. Melepaskan kecupan dari bibirnya. Onyxnya menatap terkejut, tak percaya akan tindakan nekat yang Sakura ambil.
"Kenapa Sasuke-kun?" Sakura memandang Sasuke nanar. "Kenapa kau melepaskannya?"
"Padahal aku telah memberikan ciuman pertama ku untuk mu." Sakura menunduk. "Bukankah dulu kau pernah mengakatannya pada ku?"
Sasuke tak bergeming, pikirannya melayang pada kejadian beberapa tahun silam.
Flashback
.
"Sasuke-kun, apa kau pernah merasakan ciuman?"
Bocah yang dipanggil Sasuke itu mengangguk. "Setiap pagi aku selalu dicium oleh Kaa-san."
Gadis kecil bersuari merah muda itu menggeleng. Seraya memegang bibir mungilnya. "Bukan, maksud ku ciuman disini."
Sasuke menghentikan gerakannya yang sedang membersihkan bola Basket, kemudian menoleh hanya untuk melihat objek apa yang gadis pinky itu maksud.
"Tidak." jawab Sasuke cepat. "Menurut ku ciuman di bibir hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa."
"Benarkah?" tanya gadis itu. Haruno Sakura. "Apa kau akan memberikannya pada semua orang?"
Sasuke terkejut. "Tentu saja tidak."
"Kenapa?" Sakura nampak penasaran dengan jawaban Sasuke.
"Karena ciuman di bibir, apalagi ciuman pertama di bibir..." Sasuke menarik nafas sebelum melanjutkan. "Hanya diberikan pada orang yang kau cintai."
"Seperti Kaa-san dan Tou-san?" tanya Sakura. Sasuke menaikan sebelah alisnya tak mengerti.
"Berarti aku boleh memberikannya pada Kaa-san dan Tou-san? Karena aku sangat mencintai mereka." ucap Sakura dengan wajah berseri.
"Terserah." jawab Sasuke asal.
Sakura mendekati Sasuke, membantunya untuk membersihkan bola Basket. "Kalau Sasuke-kun? Kau akan memberikan ciuman pertama mu pada siapa?"
"Tentu saja wanita yang akan mendampingi hidup ku. Istri yang ku cintai." jawab Sasuke cepat.
"Apakah aku?" Sakura mencondongkan tubuhnya pada Sasuke. "Aku akan selalu mendampingi Sasuke-kun, kok!"
Sasuke tak menjawab, ia lebih memilih diam dan melanjuti kegiatannya. Karena ia merasa pembicaraan ini masih belum pantas untuk anak usia sepuluh tahun seperti mereka.
.
End of Flashback
~M|Y|B~
Sakura mengusap peluh yang ada di keningnya, salahkan teman-temannya yang menariknya ke dalam lapangan untuk berlatih. Padahal moodnya sedang buruk hari ini.
Sakura terus berlari, menangkap bola dan mendriblenya dengan lihai. Tak perlu kemampuan lebih bagi Sakura untuk melempar bola Basket dari jarak jauh kearah ring, ia sudah biasa, dan sudah mahir.
Menoleh pada teman-temannya dengan senyum mengembang, Sakura segera mengambil bola orange itu dan kembali melemparnya kearah teman yang satu tim dengannya dalam berlatih.
"Minna-san!" panggil Ino dari pinggir lapangan. "Bisa kesini sebentar?"
Semuanya segera menghentikan permainan mereka, kemudian menghampiri Ino dengan pandangan bertanya.
"Kita punya tambahan waktu untuk berlatih." ujar Ino dengan seulas senyum tipis.
"Memangnya kenapa?" tanya Naruto. Seolah tersadari dari sesuatu, sapphire itu menatap Ino dengan tatapan tak percaya. "Jangan-jangan..."
Ino mengangguk. "Kita akan langsung menghadapi musuh di pertandingan final."
"NANI?!" semua anggota nampak terkejut. Entah senang ataupun tak setuju dengan informasi yang baru mereka dengar.
"Memangnya kenapa?" Kiba nampak tidak setuju. "Itu artinya kita langsung menghadapi lawan yang sulit, kan?"
"Bukankah itu bagus?" tanya Shikamaru malas. "Berarti kita tak harus menghadapi tim lain."
"Semuanya, dengarkan!" sergah Ino dengan suara naik satu oktaf. "Aku baru menerima lembaran ini dari Bee-sensei tadi pagi."
"Lalu kemana sensei sekarang?" tanya Kiba.
"Dia bersama Hinata sedang mengurus perlengkapan kita." jawab Ino cepat. "Ingin ku bacakan intinya?"
Semuanya mengangguk cepat.
"Pihak Amerika mengatakan, bahwa mereka menaruh tim Jepang di tingkat final dengan beberapa pertimbangan..." Ino menarik nafas dalam sebelum kembali berucap.
"... Mereka melihat potensi yang dimiliki tim Jepang diatas rata-rata dari tim Basket negara lain. Maka dari itu mereka menempatkan kita di tingkat final, bukankah itu menguntungkan?"
"Merepotkan!" Naruto mengerucutkan bibirnya. "Itu berarti kita harus lebih banyak berlatih, bosan!"
"Baka!" Ino menjitak kepala Naruto. "Apa kau tidak mau mengunjungi tanah kelahiran mu?"
Naruto tersentak kaget, begitu juga Sakura, Sasuke, dan Shikamaru yang merupakan orang yang mengetahui asal Naruto. "Itu berarti..."
"Kita akan bertanding di London, bukan di Amerika." Ino tersenyum lebar. "Dan aku akan kembali mengunjungi rumah ku, senangnya~"
"EHH? Jadi Naruto asli orang London?" tanya anggota lain kaget. "Dan Ino-san sempat tinggal di London, dan punya rumah disana?"
Naruto menunjukan cengiran khasnya, sedangkan Ino hanya dapat tersenyum manis.
"Dengan begitu, kita tak perlu repot mencari orang untuk berbicara bahasa Inggris, karena dalam tim kita pun sudah mempunyai dua orang yang pernah melihat Londong secara langsung!"
"APA KATA MU?"
.
Sakura kembali menghela nafas dalam langkah menuju rumahnya. Gadis itu masih berpenampilan tomboy seperti biasa, jaket merah, celana jeans, dengan sepatu kets putih. Ah, tak lupa tas slempang cokelat yang bertengger di bahunya.
Sakura mengedarkan pandangannya kesana-sini, ternyata ia pulang lebih lama dari biasanya. Terbukti karena kini langit sudah sepenuhnya gelap.
"Tadaima." ucap Sakura seraya memasuki rumahnya.
"Okaerinasai, Sakura." Mebuki menyambutnya dengan hangat. "Kenapa pulang telat?"
"Aku membantu Ino membereskan gudang klub, Kaa-san." jawab Sakura seraya menaiki tangga.
"Sudah makan?" tanya Mebuki, lagi.
Sakura mengangguk. Kemudian memasuki kamarnya.
"Ada apa dengannya?" gumam Mebuki heran saat melihat anak semata wayangnya bersikap aneh.
~M|Y|B~
Sakura terbangun dari tidurnya, matanya mengerjap perlahan saat merasa bahwa ponselnya bergetar dan mengeluarkan bunyi lagu familiar di telinganya.
"Moshi-moshi..." sahut Sakura dengan suara parau khas orang yang baru bangun tidur.
"Hn." jawab orang diseberang sana. "Lapangan latihan biasa, satu jam dari sekarang, ku tunggu."
Mata Sakura membulat sempurna. "H-halo? Sasuke-kun, apa maksud—"
Tut.
Sakura mendengus kesal, padahal hari ini adalah hari libur. Apa Bee-sensei setega itu menyuruh mereka latihan pada tanggal merah seperti sekarang?
Tak ingin berdiam lama, Sakura segera meninggalkan tempat tidurnya. Dengan handuk yang bertengger di bahu gadis Haruno itu memasuki kamar mandi guna membersihkan tubuhnya.
.
"Ada apa?" tanya Sakura jutek saat ia sampai pada lapangan tempat dimana tim mereka berlatih.
Sasuke melemparkan sebuah kotak berukuran sedang pada Sakura, spontan gadis itu menangkapnya dengan sedikit oleng karena beban dari kotak itu yang lumayan berat.
"Apa ini?" kekesalan Sakura semakin menjadi. "Ku kira aku ini kuli, ya?"
"Sudah bawa saja, kita disuruh Ino untuk membawa barang-barang ini ke gudang klub." Sasuke berjalan santai seraya membawa kotak yang lebih besar daripada kotak Sakura.
"Tapi aku sudah membantunya kemarin!" Sakura masih tidak bergeming dari tempatnya. "Aku tak mau! Lebih baik aku pulang dari pada membantu mu!"
Sasuke berhenti, kemudian menoleh pada Sakura. Onyx itu menatap jengkel pada Sakura. "Kau kenapa, sih?"
"Sudah ku bilang aku tidak mau membantu, titik!" Sakura menaruh asal kotak tersebut.
Onyx Sasuke yang semula memandang wajah Sakura, kini turun kebawah. Atau lebih tepatnya daerah vital Sakura. "Kau lagi datang bulan, ya?"
Wajah Sakura spontan memerah mendengar penuturan Sasuke. Ia tahu pemuda itu sengaja berkata hanya untuk menjahilinya. "Sudah diam!"
Mengambil kembali kotak berukuran sedang yang sebelumnya ia taruh, Sakura berjalan mendahului Sasuke seraya menggerutu. "Ino-pig! Padahal kemarin aku sudah membantu mu, bodoh, bodoh, bodohhh!"
Sasuke menaikan sebelah alisnya, tersenyum geli dengan tingkah Sakura yang menurutnya sangat lucu dan menggemasnya. Bibirnya pun tertarik sedikit lebih lebar dibuatnya.
.
"Sudah, kan?" tanya Sakura saat ia menaruh kotak terakhir disudut gudang. "Aku ingin cepat pulang dan tidur."
"Hn." jawaban singkat dari Sasuke.
"Kenapa kau menghalangi aku, sih?" tanya Sakura sebal saat Sasuke terus menghalai jalannya.
Perlahan, Sasuke mendekati Sakura. Seringai lebar telah terpasang jelas diwajah tampan sang Uchiha. Onyxnya pun menatap nakal kearah Sakura, dan bagian tertentu dari gadis itu.
"Sasuke-kun, jangan berbuat macam-macam." Sakura mundur selangkah demi selangkah. Salah tingkat karena Sasuke terus memandangannya dengan tatapan aneh.
"Tidak akan." jawab Sasuke. Sakura dapat bernafas lega.
"Aku akan membuat mu lebih berdebar dari yang kemarin." kalimat ambigu itu sukses membuat Sakura menegang. Wajahnya memucat, ia memiliki firasat buruk akan hal ini.
Sakura kini terpojok pada dinding. Selangkah lagi, Sasuke akan berada tepat dihadapannya.
Dan... kini tangan Sasuke sukses menyentuh dinding bercat putih itu, menghimpit Sakura antara dinding dengan lengan kekarnya.
Pikiran Sakura melayang pada kejadian beberapa hari lalu, pikirannya pun juga melayang pada apa yang akan dilakukan Sasuke setelah ini.
Sasuke meminimalisir jarak wajahnya mereka, kedua tangannya pun terangkat untuk menangkup wajah Sakura. Mengelus perlahan pipi kenyal gadis itu.
5 centimeter.
"Kalau begini, lebih berdebar tidak?" tanya Sasuke pelan. Onyxnya menatap dalam emerald Sakura.
Sakura seakan berhenti bernafas saat ia merasakan hembusan nafas Sasuke disekitar wajah dan lehernya. Emeraldnya memandang onyx Sasuke dengan pandangan terkejut.
"Bahkan, debaran jantung mu dapat terdengar."
Sakura meneguk ludahnya.
"Ah, kau sedang gugup ternyata." Sasuke memperlebar seringainya. "Bagaimana kalau kita lebih dekatkan lagi?"
5 cm...
4 cm...
3 cm...
2 cm...
1 cm...
"Tidak!"
Sakura mendorong tubuh Sasuke, menyebabkan pemuda itu sedikit tersungkur dan menjauh dari dirinya.
Sasuke tak menyerah, ia kembali berjalan mendekati Sakura. Namun keberuntungan tidak berpihak padanya saat ini.
Hingga pada akhirnya sang Uchiha bungsu menginjak sebuah kaleng cat yang sudah kosong, menyebabkan kaleng itu menggelinding dan mengurangi keseimbangan Sasuke, hingga...
BRUKKK!
Sasuke menindih Sakura, hingga wajah mereka sangat dekat.
Tak ingin membuang kesempatan, Sasuke segera mendekatkan wajahnya pada Sakura. Meminimalis jarak diantara mereka.
Hingga kedua bibir itu bertemu, berciuman tanpa nafsu birahi diantara mereka. Ciuman tulus dari kedua remaja itu, seolah ingin menghantarkan perasaan masing-masing.
Sasuke melepaskan ciumannya, menatap wajah Sakura yang sendu. Gadis itu tetap bungkam, sama sekali tak menunjukan reaksi apapun.
"Sakura..."
"... Aku—"
"Juga mencintai mu, Sasuke-kun."
Sakura tersenyum manis, membuat Sasuke terbius olehnya.
"Apakah ini..." gumam Sasuke tak jelas.
"Hm? Apa?" Sakura menaikan sebelah alisnya. Tersenyum simpul pada pemuda dihadapannya.
Ah, bahkan sang Uchiha dapat membuat Sakura berubah menjadi gadis lembut seperti ini.
~M|Y|B~
"Sasuke-kun, ini." Sakura menyodorkan sebuah handuk dan sebotol air mineral.
"Hn."
Ini adalah minggu pertama hubungan Sasuke dan Sakura, dimana mereka akan mengeluarkan sifat berbeda seratus delapan puruh derajat saat mereka sedang berdua ataupun berkencan.
Sasuke yang bersifat dingin, akan menjadi lembut dan perduli pada saat ia bersama Sakura.
Dan Sakura yang bersifat tomboy, akan menjadi gadis lembut dan selalu bersifat manis.
"Hey, Sasuke."
Sasuke menoleh, mendapati sahabat pirangnya tengah memandang mereka intens.
"Akhir-akhir ini ku lihat kau selalu bersama Sakura-chan." ucap Naruto. Sapphirenya menatap tajam seolah ia sedang menginterogasi seorang koruptor. "Kalian pacaran?"
Rona merah hinggap diwajah Sasuke maupun Sakura. Sasuke segera memalingkan mukanya, dan Sakura lebih memilih untuk menunduk.
'Heboh jika si bodoh ini tahu.' batin Sasuke melirik Naruto sekilas. 'Aku tak ingin menjadi merepotkan.'
'Apa aku mengaku saja?' pikir Sakura tetap dengan menunduk. 'Bagaimana pun Naruto adalah sahabat dekat ku, dia pasti bisa memahaminya.'
"Naruto, kenapa kau menganggu mereka?"
Ketiga pasang mata itu melirik ke kanan, kearah seorang gadis yang mirip seperti Barbie. "Ino?"
"Naruto, kenapa kau menganggu mereka?" Ino mengulang pertanyaannya. Aquamarinenya menatap jahil dan penuh kemenangan pada kedua insan yang sedang salah tingkah itu. "Kau menganggu acara mereka, lho."
"J-jadi?" Naruto tergagap. "Kalian sudah memiliki hubungan khusus?"
Sakura semakin menyembunyikan wajahnya. Sedangkan Sasuke lebih memilih untuk bersikap acuh tak acuh. "Bukan urusan mu, baka."
Wajah Naruto nampak berseri, senyum lebar mengembang diwajahnya. "Hei, hei! Jangan lupa pajak pacarannya!"
Ino sweatdrop, begitu juga dengan Sasuke dan Sakura.
"Sehabis latihan, di kedai ramen, wa-jib!" perintah Naruto sok menjadi bos.
Sasuke menghela nafas, kalau sudah begini sahabatnya itu takkan bisa dihalangi. Pikirannya pun melayang pada isi dompet yang ia bawa saat ini.
Sasuke melirik Sakura, mencoba berkomunikasi melewati pandangan mereka.
'Kalau uang ku tak cukup, ku pinjam uang mu ya.' Sasuke memelas.
Sakura menatap remeh Sasuke. 'Beginikah keadaan ekonomi sang Uchiha bungsu, eh?'
Onyx Sasuke membulat. 'H-hei! Aku hanya lupa membawa credit card ku!'
'Ternyata seorang Sasuke bisa lupa juga?' Sakura menaikan sebelah alisnya sakarstik.
"Bahkan mereka sudah bisa saling tatap di depan kita semua, ya."
Sasuke dan Sakura memberikan deathglare mereka, menatap Kiba sang pelaku yang memasang wajah innocentnya.
"K-kenapa kalian semua disini?" tanya Sakura berusaha mengalihkan perhatian.
"Karena kami melihat pemandangan yang lebih menarik dan langka disini." jawab Neji datar. Senyum jahil terlukis diwajah stoicnya.
"Bahkan Bee-sensei juga tertarik dengan pemandangannya." sambung Shikamaru. "Bukan begitu, sensei?"
"Yeah~" jawab Bee dengan gaya rappernya.
Kedua insan yang sedang di goda itupun salah tingkah, mereka merutuki Ino yang merupakan biang keladi dari semua ini.
'Awas kau pig!'
~M|Y|B~
"Sasuke-kun, kau sudah pulang?"
Sasuke mengangguk, berdua saja dengan Karin dirumah membuat moodnya berubah. Bagaimana pun Karin adalah mantan kekasihnya, tak bisa ia berikap biasa dengan mudah.
"Bagaimana hubungan mu dengan Sakura?" tanya Karin. Matanya yang terbungkus kacamata menatap jahil Sasuke.
"Darimana kau tahu?" tanya Sasuke. Kini lengannya tergerak untuk menekan remote televisi.
"Tentu saja Itachi." Karin tersenyum menang saat melihat rona merah diwajah Sasuke. "Dia menitipkan ini padaku, dan menyuruh mu untuk memberikannya pada Sakura."
"Ah, untuk Naruto juga." Karin melemparkan kotak kecil bewarna cokelat untuk sang sepupu pada Sasuke.
Sasuke menerima pemberian Karin, sebelah alisnya terangkat. Mencoba menerka apa isi dibalik kotak merah dengan pita merah muda dan kotak kecil bewarna cokelat tersebut.
"Jadi, bagaimana hubungan kalian?" tanya Karin membuka kembali topik awal.
"Lebih baik kau urusi hubungan mu sendiri, Karin." jawab Sasuke acuh.
"Hubungan ku?" Karin seolah berpikir. "Aa, hubungan kami sangat baik, bahkan kami sudah bertunangan."
Sasuke tersedak moccanya sendiri. "Tunangan?"
Karin mengangguk. "Saat Fugaku-tousan dan Mikoto-kaasan kemari."
"Kenapa dia tidak mengabari ku?" sungguh, saat ini Sasuke ingin sekali menjambak rambut Itachi.
"Tanya saja pada Itachi." Karin menjulurkan lidahnya. "Ah, sepertinya aku akan segera mempunyai adik ipar."
"Baik-baik." Sasuke mengibaskan tangannya. "Karin nee-chan."
.
.
.
Bersambung di chapter depan...
.
Hahh~ chapter tujuh selesai! :3
Oke, aku tahu chapter ini sedikit lebih pendek dari yang biasanya, tolong Reader jangan bunuh aku ya (_-_/)
.
Apakah Reader puas dengan kejutannya? Atau bahkan Reader gak tau kejutannya apa, ya?
Kejutannya itu, SasuSaku sudah jadian, lho! ^^ Bagi ku itu adalah sebuah kejutan, tapi entah bagi Reader, hihi ^^"
Untuk kesekian kalinya, aku minta maaf pada Reader karena untuk adegan 'kissing' yang menurut ku sangat mengecewakan... Beneran deh, aku gak lihai buat adegan seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Pikiran aneh yang aku punya menuntut untuk diadakan adegan itu \u.u/
.
Ini balasan reviewnya ^^ :
AcaAzuka Yuri chan :
Hmm... gimana ngomongnya ya? ==a
Memang, awalnya Sakura agak sungkan ngomong ke Sasuke, saat Sakura minta ajarin Sasuke pun ia terpaksa (karena disini Sakura gak jago Matematika) dan hanya kebetulan karena Sasuke bermalam dirumahnya ^^
Makasih sudah RnR ^^
AnnisaHM :
Iya, ini sudah update. ^^ RnR lagi ya? ^^
mako-chan :
Mungkin ralat sedikit yah, bukan Shino tapi Shion "^^v
Makasih sudah review, RnR lagi ya? ^^
dee-chaan :
Ini sudah update ^^ Makasih buat RnRnya, jangan bosan-bosan ya ^^v
Kalau untuk ending, itu masih jadi rahasia Author buat dijadiin surprise buat Readernya ^^
karimahbgz :
Hahaha, itu memang favorite aku, memotong pas crusial momen ^^v
Ini udah update, makasih karena udah terus RnR, jangan bosan-bosan ya ^^
.
(Untuk Flamer, kalau kalian ingin mem-flame. Tolong jangan flame character yang udah dibuat Kishi-sensei ya! Tapi flame fanficnya. ^^
Dan akan lebih berharga jika Flamer-san memberikan flamenya dengan bahasa yang baik.)
.
Maaf kalau fanficnya membuat kalian bingung (atau garing?) ^^"
.
Boleh minta reviewnya? \(*u*)/
.
Salam,
