Bulan belum sepenuhnya pergi dan matahari pun belum menampakkan sinarnya, namun hal itu tidak menyurutkan niat seorang gadis untuk melaksanakan rencana yang sudah dipikirkannya beberapa waktu lalu.

Dengan lihai tubuhnya meloncati pagar sekolah yang cukup tinggi, matanya bergerak-gerak waspada, dengan cepat dia melangkahkan kakinya menuju tempat dilangsungkannya rencana balas dendamnya itu. Beberapa foto dikeluarkan dari tasnya, bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman puas setelah menempel semua foto ditangannya.

Disclaimer:

Masashi Kishimoto

Pair:

SasuFemNaru

Warning:

Sho-ai

Pagi hari di Konoha High School memang tidak selalu sepi, namun kehebohan yang terjadi saat ini bukanlah sebuah kehebohan yang biasa. Murid-murid yang baru saja datang langsung berlari menuju mading sekolah untuk melihat berita yang baru saja ramai diperbincangkan. Desas-desus mulai menyebar dikalangan para murid.

"Apa itu benar?"

"Jadi dia juga mempunyai kekasih seorang pria?"

"Itu berarti dia tidak berhak menghukum fuhikogo kan?"

"Tidakku sangka dia benar-benar busuk."

Keramaian yang sedari tadi terdengar seketika menjadi hening ketika ketua OSIS mereka mulai menampakkan batang hidungnya. Para murid yang berada di depan mading mulai menyingkir. Kepala mereka tertunduk melihat wajahnya yang mulai mengeras menahan amarah yang memuncak.

"Siapa yang melakukan ini?"

Hening.

Tidak ada jawaban.

"Aku bertanya siapa yang melakukan ini?!" Tanyanya lagi dengan suara yang meninggi. Meski begitu, tidak ada satupun yang menjawab pertanyaannya, mereka semua terus tertunduk, tidak berani untuk menatap sang ketua OSIS. Sebuah ingatan tiba-tiba menyeruak ketika Sasuke hendak meluapkan kemarahannya pada orang-orang yang berada disekitarnya. Sebuah ingatan satu-satunya orang yang mengetahui tentang fotonya yang kini terpampang di mading. Dengan gusar Sasuke mencopot semua fotonya bersama seorang pemuda yang melingkarkan lengannya di pinggang Sasuke sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

xxXxx

'Bukk'

"Ittei~ apa yang kau lakukan, Teme? Mendorong seorang wa-"

"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan?!"

'Deg'

Gadis berambut pirang itu seketika terdiam. Ini kali pertamanya pemuda dihadapannya meninggikan suaranya, dan untuk pertama kalinya gadis bernama Naruto itu merasa takut padanya.

"A-apa maksudmu? A-" Perkataan Naruto terhenti ketika jemari Sasuke mencengkram erat pipinya.

"Jangan berpura-pura bodoh, Uzumaki Naruto."

"A-aku tidak mengerti." Sasuke yang merasa kesal karena merasa dipermainkan, diapun melemparkan lembaran foto yang dikumpulkannya ke arah gadis bermarga Uzumaki itu. Naruto pun berjongkok untuk mengambil foto tersebut setelah terlepas dari cengkeraman Sasuke.

"Eh, fo-foto ini-"

"Foto-foto itu menempel dimading pagi ini."

"Apa?"

"Tidak ada yang mengetahui foto itu selain aku. Kemarin. Di ruang OSIS. Kau memegang ponselku."

"A-"

"Kau mengirimnya ke ponselmu kan?!"

"I-iya memang, tapi bukan aku yang menempelkannya."

"Ck, kau pikir aku akan percaya?"

"Bukan akan, tapi harus!" Naruto bangun dari jongkoknya dan berdiri tepat di hadapan Sasuke. Mata saphirnya memandang tegas pada onyx pemuda di hadapannya. "Dengar, aku memang mengirim fotomu ke ponselku, aku memang mencetak fotomu dan aku memang berniat menempel fotomu di mading. Tapi aku mengurungkan niatku. Kau tahu kenapa?" Naruto melangkahkan kakinya semakin dekat dengan Uchiha bungsu itu. "Karena aku memikirkan perasaanmu. Kau dengar aku? Aku memikirkan perasaanmu, Tuan Uchiha Sasuke yang terhormat," ujarnya seraya mendorong dada Sasuke dengan telunjuknya, "akan aku buktikan jika bukan aku pelakunya," lanjutnya sambil meninggalkan Sasuke.

xxXxx

"Eeehhh~ jadi Sasuke mencurigaimu yang menempelkan fotonya?" tanya Sakura.

"Yup," jawab Naruto lesu sambil terus mengikuti gerakan pemanasan yang diperagakan Gai sensei.

"Ta-tapi jika dipikir-pikir, bu-bukankah hal ini menguntungkan kita?"

"Apa maksudmu Hinata?" tanya Tenten.

"Ki-kita tidak perlu lagi memikirkan bagaimana cara membalas perlakuan Sasuke pada Naruto karena kita dia te-telah mendapat balasannya."

"Aku tidak puas jika bukan kita sendiri yang membalasnya. Lagipula hal ini lebih merugikan kita, terutama Naruto. Karena akibat kelakukan seseorang yang entah siapa itu telah benar-benar membuat Sasuke marah dan membuat Naruto menjadi tersangka utama dan Uchiha itu pasti akan menambahkan hukuman Naruto," timpal Ino. Mereka semua tertunduk merenungkan apa yang dikatakan Ino.

'Tweetttt'

"Baiklah, sekarang kita berlari mengelilingi lapangan sebanyak tiga putaran," ujar Gai sensei seraya memimpin berlari.

"Tapi, meskipun kalian yang akan melakukan hal itu, aku akan mencegah kalian melakukannya. Kalian tahu peraturan kita kan? Kita hanya menikmati sendiri foto-foto berbau yaoi itu, tidak untuk disebar luaskan, aku harap orang yang melakukan itu bukan dari kelompok kita, aku akan sangat kecewa jika pelaku itu berasal dari kelompok kita, kalian mengerti kan?"

"Ya," jawab Tenten, Sakura, Ino dan Hinata berbarengan.

'Bukk'

Sebuah bola basket menghantam tepat ke wajah Naruto, membuatnya menghentikan larinya. Darah mengalir dari hidungnya, meski begitu Naruto segera memasang cengiran khasnya.

"Aku tidak apa-ap-"

'Bukk'

Dan Naruto pun kehilangan kesadarannya.

"NARU-CHAANNN."

xxXxx

"Ngghh..Ugh.." Naruto mulai membuka matanya perlahan. Jemarinya menyusuri hidungnya yang masih berdenyut.

"Apa masih sakit?"

Naruto yang tidak menyadari keberadaannya merasa terkejut ketika pemuda dengan kacamata itu menyapanya.

"Eh? Se-sedikit. Apa yang sedang senpai lakukan di sini?"

"Menemanimu," ujarnya seraya duduk di pinggir tempat tidur dimana Naruto berada, "bola basket yang mengenaimu, aku merasa bertanggung jawab karena aku yang melemparkannya. Maaf ya, Naruto," lanjutnya seraya mengelus perlahan hidung Naruto.

'Deg'

"Ah, a-aku baik-baik saja, Shino senpai," ujar Naruto. Kepalanya tertunduk, wajahnya sedikit merona dan jantungnya berdegup kencang. Tak dapat dipungkiri jika Naruto memang sangat bahagia atas perhatian yang diberikan Shino padanya saat ini. Bagaimanapun, Shino adalah cinta pertamanya. Shino adalah senpai yang selalu mencuri perhatian Naruto hingga Sasuke datang ke kehidupannya dan membuat perhatian Naruto teralihkan dari pemuda pecinta serangga itu.

"Kudengar Sasuke mencurigaimu yang menempelkan fotonya dimading," ujar Shino memecah keheningan. Naruto yang sedari tadi tertunduk kini mendongakkan kepalanya.

"Bukan aku yang melakukannya," jawab Naruto dengan cepat. Perubahan wajah Naruto yang cepat dari tersipu malu menjadi serius membuat Shino tersenyum.

"Aku tahu."

"Eehhhh~ benarkah?"

"Hn. Tentu saja," ujarnya sambil tersenyum dan mengusap rambut Naruto. Naruto pun kembali tersipu malu mendapat perlakuan seperti itu hingga membuat Shino tak dapat menahan tawanya melihat sikap Naruto yang begitu lucu di matanya.

"Baru kali ini aku melihat Sasuke benar-benar marah dan membuatku takut. Maksudku, meskipun aku memang sedang bermasalah dengannya, ketika dia memberikanku hukuman atau mengatakan aku ini bodoh, aku masih bisa menatap matanya, aku masih bisa melihat hal yang baik darinya, tapi ketika dia marah padaku pagi ini, mata itu, benar-benar seperti ingin membunuhku."

"Jika itu menyangkut masa lalu yang menyakitkan dan dengan susah payah ingin kau lupakan, kau juga akan berperilaku sama sepertinya kan?"

"Eh?"

"Ah, sepertinya aku terlalu banyak bicara. Aku harus kembali ke kelas, kau istirahatlah, jika butuh sesuatu kau bisa menelponku," ujar Shino, mengusap kepala Naruto dan pergi meninggalkannya.

"Senpai, apa maksudmu?"

Shino menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Naruto. "Biar Sasuke yang menjelaskannya padamu," lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan Naruto yang masih terpaku mencerna kata-katanya.

xxXxx

Bel tanda pulang sekolah telah berbunyi, setiap siswa mulai merapikan buku-buku mereka dan bersiap untuk kembali ke rumah mereka masing-masing untuk melepas penat setelah seharian belajar.

"Aaahh, akhirnya selesai juga," ujar Tenten sambil meregangkan tubuhnya yang kaku karena duduk berjam-jam.

"Ngomong-ngomong Naru-chan, apa kami perlu mengantarmu pulang dan membantu menjelaskan tentang hidungmu pada Dei-nii?"

"Ah, tidak perlu, Sakura-chan, aku bisa menjelaskannya sendiri. Jika kalian mengantarku pasti kalian akan kena ceramah Dei-nii juga."

"Benar juga, tidak lucu kan jika nanti kita tiba-tiba menjadi basah kuyub setelah diceramahi Dei-nii," timpal Ino dengan rawut wajah ketakutan dan mengundang gelak tawa dari teman-temannya,

"Te-teman-teman, aku mempunyai foto Neji-nii dengan Gaara-kun sedang be-berciuman, apa kalian mau?" tanya Hinata tiba-tiba dengan suara berbisik berharap tidak ada yang mendengar apa yang dibicarakannya selain mereka.

"Kyaaaa~ tentu sajaaa~" Tanpa ditanya dua kali, para Fuhikogo itu langsung menjawab dengan bersemangat dan membuat kelas menjadi ramai karena antusias mereka, betapa tidak? Setelah beberapa hari vakum dari dunia per-yaoian, akhirnya mereka kembali dapat menikmati hobi mereka, beruntung kelas mereka telah sepi sehingga tidak ada yang merasa terganggu karenanya.

Mereka pun segera mengeluarkan ponsel mereka masing-masing, menunggu giliran untuk dikirimi foto tersebut.

"Eh? Strap ponsel rubah kalian ke mana? Ino? Hinata?" tanya Naruto ketika menyadari strap ponsel berbentuk rubah berekor sembilan yang dibuatnya untuk masing-masing sahabatnya itu tak tergantung di kedua ponsel sahabatnya itu.

"Aku lupa memasangnya kembali ketika aku membongkar ponselku kemarin," jawab Ino tanpa mengaihkan pandangannya sedikitpun dari foto yang baru saja diterimanya sambil tersenyum-senyum.

"Pu-punyaku, ta-talinya putus, ja-jadi aku menyimpannya di-di tas."

"Kyaaa~ lain kali kau harus mengambil fotonya lebih banyak lagi, Hinata," ujar Sakura.

"Ah, i-iya, tentu saja."

Meski telah mendapat fotonya, gadis yang memiliki tiga garis halus dipipinya yang dikenal sangat heboh jika sudah menyangkut masalah yaoi itu hanya terdiam, matanya menatap kosong layar ponselnya yang menampilkan seorang pemuda bernama Neji tengah melumat bibir pemuda bertato Ai -di dahinya- dengan penuh nafsu. Entah kenapa dia merasakan ada sesuatu yang janggal. Namun semakin dia memikirkannya, semakin dia tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan itu.

xxXxx

Malam semakin larut dan membuat suasana menjadi semakin gelap. Angin malam yang dingin membuat siapa pun enggan untuk beranjak dari selimut mereka yang hangat. Namun tidak demikian bagi seseorang yang kini tengah melangkahkan kakinya di halaman Konoha High School yang lengang itu. Kakinya terus melangkah mendekati sosok yang sedari tadi sibuk mencari sesuatu di semak-semak sekitar sekolah.

"Apa kau mencari ini?"

Sosok itu menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara seseorang dibalik punggungnya. Dengan perlahan sosok itu menegakkan tubuhnya dan berbalik ke arah datangnya suara. Matanya terbelalak ketika melihat apa yang sedari tadi dicarinya berada ditangan yang menjulur ke arahnya.

"Nona penempel foto," lanjut pemuda berambut raven itu sambil menyeringai dan menatapnya tajam.

TBC

Hallo minna-saann~ Gimana kabar kalian?

Ga kerasa nih fict udah terbengkalai hampir 4 tahun hahahahuhu

Makasih banget buat review dari kalian yang bikin aku inget dan semangat lagi buat nulis nih fict :') Thanks a lot guys hoho ^^/

Ohiya, maaf buat review yang belum dibales m(_ _)m

Kritik? Saran?

~RnR please~