07

UNDECIDED

.

Are we both losing our minds?

.

.

.

.

Aku terbangun dari tidurku pada pukul tujuh pagi. Melewatkan sunrise kurasa. Namun Yoon-gi sudah tidak ada disampingku.

Aku mengurut kepalaku dan seketika itu juga teringat akan apa yang terjadi pada malam itu. Mataku membulat, dadaku berdegup kencang, berpikir bahwa Taehyung mungkin sudah memberitahu Yoon-gi mengenai hal ini.

Kuputuskan untuk diam di kamar sambil mengutuk segalanya. Andai saja aku tidak mengiriminya pesan sama sekali, hal ini tidak mungkin terjadi dan kami pasti masih aman. Aku tidak bisa menghadapinya. Aku tidak sanggup.

Namun sekitar duapuluh menit berlalu, Yoon-gi tidak masuk ke kamar. Kucoba untuk mengintip dari balik pintu, namun kurasa tidak ada siapa-siapa disini. Segera aku berlari ke kamar mandi dan membersihkan tubuhku. Mencoba untuk menenangkan diri sembari menghapus jejak semalam.

Aku menghabiskan waktu di kamar mandi dengan berpikir. Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan jika sampai aku disidang atau mati beberapa menit lagi. Hingga kuputuskan untuk keluar, menyudahi acara mandiku dan mengenakan pakaianku—yang lebih tertutup.

Aku mengenakan kaos berwarna putih dengan ripped jeans berwarna hitam. Kemudian keluar dari kamar dan mendapati mereka semua sudah berada di ruang tengah.

"Hei, Lisa," Seokjin yang berada di sofa single samping menyapaku.

Aku hanya tersenyum simpul dan melihat Yoon-gi menepuk bagian sofa yang di dudukinya—sofa panjang—memintaku untuk duduk disana. Aku menghampirinya perlahan dan duduk disana. Sementara Jungkook duduk di sofa single hadapanku.

Kulihat Taehyung hanya berdiri.

Dia melirikku. Ah, tidak, menatapku. Kucoba untuk menjauhkan pandangannya yang mengintimidasiku.

"Maaf tidak membangunkanmu. Kau pulas sekali."

What the heck, Lalisa. Kau bisa tidur pulas dan tidak memikirkan apa yang terjadi semalam? Kenyataanya aku baru berhasil tidur pukul empat lebih.

"Kami habis berkeliling sembari membicarakan project baru. Bodoh memang menghabiskan liburan dengan masalah pekerjaan lagi." jelas Seokjin.

Aku hanya mengangguk pelan.

Yoon-gi melihat Seokjin membuka keripik kentang dan itu membuat ia menyerbunya. Sementara aku melirik Jungkook yang hanya diam, tidak melihat ke arahku. Disaat mereka sibuk—dan beruntung tubuh Yoon-gi menghalangi pandangan Taehyung dariku—aku mengirim pesan singkat secara cepat kepada Jungkook.

I'm sorry…

Aku tidak tahu apa yang terjadi semalam pada Jungkook dan Taehyung. Yang pasti mereka berdua sudah berbeda, namun aku masih dapat bernapas karena Taehyung tidak membocorkannya pada Yoon-gi—untuk sekarang. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti.

Kulihat Jungkook menyadari smartphone-nya bergetar. Ia hanya membacanya, tanpa membalas pesan dariku. Aku memang tidak membutuhkan ia membalas. Aku hanya… ingin mengucapkannya.

"Well, sebelum hari ini berakhir," Yoon-gi, yang sudah mendapatkan keripik kentang dari tangan Seokjin melirikku lalu tersenyum, "mari kita rayakan persahabatan ini! And also,"

Dia melirik semuanya sambil tersenyum.

Oh, Yoon-gi, maafkan aku. Kau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

"Aku ingin berterima kasih karena kalian sangat terbuka untuk Lisa. Terima kasih sudah menjaga baik kekasihku ini."

Aku terbatuk, tiba-tiba. Tenggorokanku terasa sangat kering. Yoon-gi menatapku khawatir dan aku mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, aku hanya perlu pergi ke kamar mandi. Lalu aku bergegas meninggalkan tempat itu.

Kudengar mereka bersorak—tidak, itu mungkin hanya suara Yoon-gi dan Seokjin—lalu menyarankan untuk minum beer lagi di pagi hari seperti ini. Entahlah. Aku hanya melarikan diri.

Aku masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh wajahku di wastafel. Ini baru beberapa detik aku pergi meninggalkan ruang tengah, dan saat aku melihat cermin di hadapanku, dapat kulihat juga dengan jelas Taehyung berdiri di balik tubuhku.

"Kau tidak seharusnya melakukan ini."

Dia berucap dengan sangat dingin. Tidak seperti Taehyung yang aku kenal. Tidak seperti Taehyung yang biasanya, yang selalu ceria.

Aku berbalik dan menunduk, mencoba untuk melewatinya namun ia memblokir jalanku.

"Kau tidak tahu apa yang Yoon-gi banggakan tentangmu. Kau tidak tahu apa saja yang sudah Yoon-gi lakukan untukmu."

Suaranya sangat dingin dan itu membuatku ketakutan. Aku berucap padanya untuk minggir dengan suara yang tercicit. Aku tidak berani melihatnya sama sekali. Namun ia tetap menahan jalanku.

"Kau sangat tidak tahu… apa arti persahabatan kami."

Deg!

Kalimat itu sangat menyakitiku.

Aku belum melakukan sesuatu, namun Taehyung mencengkram tanganku dan memaksaku untuk melihatnya. Mataku bergetar, ketakutan, dan aku memintanya untuk meninggalkanku sendiri. Tapi ia mengeraskan cengkraman tangannya dan membuatku meringis.

"S-sakit… Taeh—"

"Apa yang kau lakukan, Taehyung?"

Seokjin menyelamatkan hidupku. Atau entahlah. Taehyung melirik Seokjin yang muncul dari belakang tubuhnya, dan hal itu memberikanku kesempatan untuk menarik tanganku lalu pergi dari tempat itu. Aku tahu Taehyung ingin mengatakannya. Dan aku tahu ia menahan segalanya. Terbukti karena pagi ini aku masih bisa bersandiwara.

Pertemanan mereka akan rusak kapan saja. Dan aku yakin bahwa aku sudah mulai merusaknya. Tetapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.

Semuanya akan hancur dengan perlahan.

Dan semuanya ada di tanganku.

-:o+o:-

Kuyakin Yoon-gi sudah tahu tentang hal ini. Bukan. Bukan mengenai aku dan Jungkook. Tetapi tentang aku dan Taehyung di kamar mandi itu. Terbukti karena Yoon-gi terlihat marah pada Taehyung, dan tidak bicara padanya sama sekali.

Kami dalam perjalanan pulang. Yeah, lebih cepat dari yang seharusnya karena mood semuanya sudah jelek. Aku bersama Yoon-gi di mobilnya. Sementara Jungkook, Taehyung dan Seokjin berada di mobil lain.

Apa yang terjadi disana?

Apa Seokjin menghakimi Taehyung?

Apa Taehyung membela diri dan memberitahu semuanya?

Apa Jungkook ikut bicara?

Aku sama sekali tidak tahu apapun.

Yang aku tahu sesekali Yoon-gi memukul stir mobil karena amarahnya.

"Teman macam apa yang merusak hubungan temannya sendiri!"

Yoon-gi mengira Taehyung menyukaiku.

Dia adalah kambing hitam.

Karena dia tidak memberitahu Yoon-gi dan Seokjin tentang apa yang sebenarnya terjadi.

"Apa saja yang ia lakukan padamu?"

Aku terkesiap dan melirik Yoon-gi yang menatap lurus jalanan. Dia marah, dan kecewa. Aku tahu hal itu. Aku hanya menggeleng pelan berusaha untuk tidak merugikan siapapun.

"Dia memaksamu melakukan sesuatu?"

Aku terdiam.

Dari ekor mataku kulihat Yoon-gi melirikku. Lalu dia mendesis dan mengatakan 'brengsek'.

"J-jangan begitu. Taehyung tidak melakukan apapun padaku…"

Aku hanya mencoba menyelamatkannya. Tapi Yoon-gi tidak mau mendengar apapun.

Tuhan senang mempermainkanku disaat aku… jatuh pada seseorang.

-:o+o:-

Aku mencoba menghubungi Jungkook tadi malam, tetapi ia tidak menjawab panggilanku. Mungkin aku bisa bicara dengannya hari ini, walau kini harus sangat berhati-hati.

Aku sampai di BILLION dengan tidak bersemangat. Siapa yang bisa ceria setelah mendapatkan masalah seperti ini? Taehyung mungkin bungkam kemarin, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ia akan membocorkannya hari ini atau besok, atau besok, atau besok. Agh!

Setelah menaruh ranselku di locker, aku berjalan menuju studio. Baru satu langkah masuk, Jimin menghampiri dan segera memelukku—pelukan teman.

Aku terkesiap dan bingung, sampai dia tiba-tiba berucap, "bagaimana perkembanganmu dengan Jungkook?"

Aku menatap Jimin yang melepaskan pelukannya lalu memandangku dengan wajah penasaran.

"Kebetulan hari kamis lalu aku menyuruh Jungkook membawa mobilku ke bengkel. Kuharap ia mengantarkanmu pulang saat itu."

Mataku mengerjap dan mengingat kejadian kamis lalu, dimana itu ketika kami 'resmi' melakukan semua kesalahan ini dengan sengaja.

Jimin melambaikan wajahnya di depan wajahku dan aku tersadar. "A-ah, yeah, uhm… dia mengantarku pulang…"

"Bagus!" Jimin tertawa hingga deretan gigi rapinya terlihat. "Kuharap kalian semakin mengenal satu sama lain."

Sudah, Jimin. Kami sudah sangat 'mengenal' satu sama lain.

Suara gaduh di belakang tubuhku menandakan bahwa sudah banyak orang yang datang. Namun aku masih berbicara dengan Jimin yang terus menggodaku. Aku tidak menyangka bahwa Jimin menginginkan aku dan Jungkook menjadi sesuatu yang lebih. Dia tidak mengerti bahwa dukungannya padaku dengan Jungkook membuatku merasa memiliki pelindung dari hubungan mematikan ini.

Lalu, seseorang menarik tanganku dari arah belakang. Aku meliriknya, dan itu Jungkook. Dia segera menarikku menjauh dari Jimin dan bisa kulihat Jimin tersenyum senang. Berbeda dengan seseorang yang kami lewati, Jennie, yang terdiam di langkahnya melihat Jungkook membawaku ke tempat lain menyusuri koridor.

Kami berhenti di depan pintu gudang yang tidak akan dilewati orang-orang yang berjalan menuju studio melalui koridor. Di tempat ini sepi. Lalu dia mendorongku ke dinding—tidak terlalu kasar namun cukup mengagetkanku—lalu memenjarakanku.

Disanalah aku baru sadar bahwa pelipis Jungkook terluka—karena bagian yang tidak tertutup plester itu berwarna keunguan.

"Kau tidak bisa melakukan hal itu di depan Jennie!" ucapku tiba-tiba.

Bukan itu masalah utamanya. Namun setelah kejadian kemarin, aku tidak ingin banyak orang curiga bahkan tahu tentang kami.

"Apa peduliku?" tanya Jungkook. Shit. Suaranya sedingin es. Dia menatap mataku tajam dan itu membuatku takut untuk menatapnya kembali.

"Un—" baru saja aku ingin bertanya tentang perihal mengapa ia membawaku kemari, Jungkook melontarkan kalimat yang membuatku tidak percaya.

"Apa yang kau rasakan bersamaku?"

R-rasa?

Dia mengunciku, segala pergerakanku. Bahkan dia mengunci mataku untuk terus menatapnya walau aku takut.

Jungkook, apa yang kau maksud?

"Answer me, Lisa."

Mulutku tetap membisu, bahkan aku mengeraskan rahangku karena tidak bisa menerima semua ini.

"Kau tidak bisa pergi begitu saja, Lisa."

Tubuhku mendadak dingin. Bagian dari diriku tidak bisa menerima semua ini. Mendengar semua kalimat pernyataan itu dari mulut Jungkook yang sebelumnya… aku pikir hanya membutuhkan tubuhku?

Apa ia… akhirnya jatuh padaku?

Ia tetap menatapku, meminta jawaban. Dan aku hanya tidak tahu. Pikiranku mendadak kosong. Aku tidak berpikir jernih. Sebagian dari diriku menginginkan hal ini namun sebagian lainnya menginginkanku untuk lari. Aku tidak sanggup mendengarnya. Jangan… jangan membuatku seperti ini.

Lalu sebuah sentuhan lembut jatuh pada bibirku. Jungkook menciumku lembut namun penuh emosi. Aku terdiam tanpa membalasnya. Tanganku tertahan, seperti ingin membawanya ke dalam pelukanku, tapi semua ini tidak bisa.

Sampai mataku yang menutup secara refleks karena ciuman itu terbuka, dan mendapati seseorang berdiri tak jauh dari Jungkook. Matanya bergetar dan melihat kami dengan tidak percaya.

Jennie.

Aku mendorong Jungkook, membuatnya bingung, lalu ia berbalik dan melihat Jennie disana, yang masih enggan beranjak.

Tidak, Tuhan. Kau tidak bisa melakukan ini terus menerus. Aku baru saja mendengarkan confession secara tidak langsung dari Jungkook dan Kau akan menghancurkannya?!

Jisoo datang, secara tidak diduga-duga. Dia melihat Jennie, Jungkook lalu padaku. Kemudian dia menghampiriku dan meraih pergelangan tanganku.

"Lisa, bisa aku minta bantuanmu?"

Bibirku bergetar, tidak tahu harus menjawab apa sementara otakku berputar dengan banyak pertanyaan. Lalu Jisoo mengartikannya sebagai iya, sehingga ia menarikku menjauh dari tempat itu dan meninggalkan Jungkook dengan Jennie disana.

Jisoo membawaku ke dalam studio, menuju area yang tidak dikerumuni oleh yang lainnya. Lalu ia menatapku dan menunduk sedikit, meminta maaf karena meminta waktunya.

"Aku benar-benar butuh kau membantuku dengan koreo ini, Lisa."

Jisoo memberikan smartphone-nya padaku dan menampilkan sebuah video dimana aku menari di dalamnya. Videoku di BILLION saat menari Worth It milik Fifth Harmony, kurasa ini materi tiga bulan lalu. Dan aku baru ingat, Lia Kim selalu memberi pekerjaan rumah pada Beginner untuk mempelajari tiga materi dalam dua minggu dari video BILLION sebelumnya.

"Aku sudah menguasai satu lagu, dan ini lagu keduaku. Kau menari disini dan sangat bagus. Aku ingin meminta bantuanmu." Jisoo berkata dengan suara memelasnya yang imut. "Rose juga mengatakan bahwa aku bisa meminta bantuanmu jika ingin bagus."

"A-ah," aku mengangguk. Lalu aku memberikan smartphone-nya kembali. "Aku suka lagu itu, aku masih ingat koreo-nya."

"Bagus!" Jisoo bersorak. "Ayo ajari aku," lalu ia berbisik. "tetapi jangan sampai ketahuan siapapun."

Aku terkekeh kecil dan mengatakan bahwa kita belajar dengan hitungan. Dia mengangguk menyetujui dan segera mengambil posisi di balik tubuhku. Lalu aku mengajarinya step-by-step. Dan Jisoo lumayan tanggap menerimanya. Walau pikiranku semakin berkecamuk. Kemarin Taehyung baru saja memergoki kami, bahkan dengan kondisi yang, ugh, sangat fatal. Dan kali ini aku baru mendengarkan kalimat Jungkook yang membuat diriku bergetar, ditambah Jennie memergoki ia menciumku. Sial. Aku benar-benar sial.

Mengajarinya menari membantuku larut. Aku tidak tahu sudah berapa lama kami berlatih, ditambah belum ada satu koreografer yang datang—lupakan Jimin, dia menghilang dari tempat ini. Dan hal itu membuatku lupa tentang kejadian tadi sampai Rose datang dan berdiri di hadapan kami.

"What the hell, Lisa?!"

Mataku membulat. Ini pasti tentang Jennie.

"Apa yang kau lakukan dengan, Jungkook?!"

Aku yakin suaranya mengundang beberapa perhatian.

Bagus, Lalisa. Hidupmu benar-benar berantakan.

Aku tidak tahu argumen apa yang harus aku berikan pada titik ini. Bahkan aku tidak tahu dimana Jungkook sekarang.

"Mereka mengobrol."

Sebuah suara yang menginterupsi itu membuatku menoleh. Jisoo menatapku lalu pada Rose.

"Mereka mengobrol, Roje."

"Mereka tidak mengobrol, Jisoo." Rose terlihat kesal. "Jennie told me—"

Jisoo memutar kedua bolamatanya. "Kau sendiri yang bilang bahwa Jennie hanya cemburu karena Lisa dan Jungkook adalah partner minggu kemarin."

"Tapi—"

"Mereka partner. Jennie cemburu. Dan kau bilang padaku bahwa Jennie memang tipe pencemburu. Dan apa yang salah dari Jungkook dan Lisa? Mereka teman sebelum di tempat ini—Jennie memberitahuku itu."

Jisoo menyelamatkanku?

"Eugh, whatever. Aku harus kembali pada Jennie." Dia bicara pada Jisoo dan setelah itu menatapku sambil menghela napas. "Kuharap dia tidak mengada-ngada."

Siapa 'dia' yang kau maksud, Rose? Jisoo, Jennie, atau aku? Hhh.

Lalu ia meninggalkan kami. Dadaku masih berdegup kencang, ketakutan ini menyiksaku. Lalu Jisoo menatapku, terlihat bingung.

"Ada apa, Lisa?"

Aku menggeleng pelan dan memaksakan sebuah senyuman. "Terima kasih, by the way."

"Untuk apa?"

Aku mengulum bibir bawahku sebelum menjawab. "Tadi."

Dia menggerenyitkan dahinya. "Apa maksudmu? Bukankah kalian memang sedang mengobrol?"

Shit! Ternyata dia bukan menyelamatkanku. Dia hanya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dan mengambil kesimpulan dari apa yang ia tahu. Aku hampir saja kelepasan.

"Nevermind. But thanks, anyway."

Jisoo hanya mengangguk saja dan memintaku untuk kembali mengajarinya. Aku menarik napas dan disaat akan mengambil posisi, Jungkook berjalan melewatiku.

Dia hanya melewatiku dan berjalan ke arah Jimin yang kembali entah darimana.

-:o+o:-

Oh God, thanks Chichu-ah~ Lisa beruntung karena ada dia hihi

Hey, guys~

Apa Taehyung akan membocorkan semuanya? Dan apa maksud Jungkook? Bagaimana perasaan Lisa sekarang?

Jawabannya ada di chap depan, and you need to give me some review~ I love you

Sign, Yuri Masochist

...

Line : yurimasochist

FB : Yuri Mamasochist

Twitter : littlerape

Wattpad : Yuri Masochist