Title : The Pearl Jade

Author : Sulis Kim

Main C, : Jung Yunho

Kim Jaejoong

DBXQ & SUJU

Other

Genre : Drama, Mixed Fictional History, Sejarah, Romance ..etc.

Rate: M

Desclaimer : Kisah ini fiksi yang berpatokan pada sejarah korea dan china, hanya sebagian fakta sejarah yang sisanya adalah hasil imajinasi storyline Author sendiri. Author tidak ada niat untuk mengubah atau menyalah gunakan sejarah, ini hanya imajinasi Author, mohon maaf seandainya ada pihak yang kurang berkenan.

Para pemain dalam FF ini milik diri mereka sendiri dan ini hanya Fanfiction karya saya tidak ada hubungan tentang sifat dan kebiasaan mereka di dunia nyata.

WARNING

GS, jika tidak suka jangan baca, Author cinta damai. Jika ada kesalahan typo dan salah kata mohon di maklumi. Menerima kritik dan saran yang membangun.

Happy Reading...!

Sepanjang malam Yunho tidak dapat tidur dengan nyenyak setelah perdebatan dirinya dengan Jaejoong. Ranjang besar yang biasanya terasa nyaman entah mengapa berubah keras dengan selimut sutra tebal yang membuat tubuhnya berkeringat dingin.

Sungguh, belum pernah sebelumnya Yunho merasa segelisah ini. Bahkan tidak juga ketika Ayahnya, Raja Gogueryeo menawarkan kesepakatan untuk melamar putri kerajaan Silla yang sebelumnya belum pernah ia temui.

Hanya karena Kim Jaejoong dan kedua pilihan konyol yang ia tawarkan kepada gadis keras kepala itu mampu membuat Yunho tidak tidur sampai langit terang menjelang fajar sampai bangun kesiangan.

Dan disinilah dirinya di pagi yang panas ini dengan matahari sudah hampir setinggi pandangan mata, berdiri di depan pintu kediaman Jaejoong, menunggu ...menunggu sampai dirinya mendengar suara atau sesuatu yang dapat ia dengar dari dalam yang sialnya tidak juga di dengarnya.

"Apakah Jaejoong belum bangun."

"Maafkan hamba yang mulia. Nona Kim semalaman tidak tidur dan menjelang fajar beliau baru beranjak tidur, beliau mengatakan tidak ingin di ganggu sampai Nona Jaejoong bangun dengan sendirinya." Pelayan wanita itu berkata ragu ragu dan meringkuk ketakutan.

Sebersit kebahagiaan tumbuh di hati Yunho, mendengar wanita itu juga mengalami hal yang sama seperti yang ia rasakan, tidak dapat tidur semalaman. Namun, mendengar wanita itu memerintahkan mereka dan tidak ingin di ganggu membuat amarah Yunho kembali berkobar.

Ya Tuhan, ia bisa cepat tua seandainya terus berdebat dengan wanita muda keras kepala seperti Jaejoong lebih lama lagi. Tanpa menunggu pelayan membukakan pintu untuknya, Pangeran Yunho menerobos masuk dan menutup pintu besar itu.

"Jangan ganggu kami apapunyang terjadi." Hanya itu yang Yunho katakan. Dan ia yakin tidak akan ada yang berani membuka pintu meskipun Jaejoong menjerit sampai wanita muda itu kehilangan suaranya.

Setekahpintu tertutup di belakang Yunho, kamar itu redup tanpa penerangan lilin atau jendela yang terbuka. Langkah Yunho terasa ringan melewati ruang depan dan masuk ke kamar wanita itu, dan ia tidak ingin mengganggu putri tidurnya yang masih bergelung nyaman si atas ranjang besar di sana.

Sialan wanita itu, dirinya hampir tidak bisa tidur dan lihatlah dirinya, tertidur begitu pulasnya di atas ranjang. Jaejoong tertidur begitu nyaman bergelung di selimut merah muda dengan sebelah wajah cantiknya tersembunyi di bantal, wanita itu memakai pakaian yang sopan namun tipis dengan dada yang mengintip dari balik selimut yang menutupi hanya separuh dari dadanya.

Duduk di sisi ranjang Yunho menatap wajah damai Jaejoong, garis garis wajah wanita itu terlihat mengagumkan sangat berbeda dengan Jaejoong yang selalu menentangnya selama dua hari terakhir ini.

Jemari Yunho menarik rambut panjang wanita itu, dan Yunho merundukan tubuhnya untuk di sambut aroma manis yang menguar dari kulit Jaejoong, aroma yang menenangkan namu sekaligus menggelisahkan untuk seorang pria seperti dirinya.

Bahkan laki laki manapun akan takluk kepada wanita itu seandainya sekali saja Jaejoong meratu mereka. "Kalau kau tidak segera bangun Jaejoongie, aku akan menciummu saat ini juga."

Wanita itu hanya melengguh malas dan memutar wajah juga tubuh kesisi lain ranjang memperlihatkan leher jenjangnya yang mulus, Yunho melihat jelas kulit lembut Jaejoong meskipun dalam remang remang pencahayaan.

Menuruti kata nurani Yunho menunduk untuk mendaratkan ciuman disana, rasanya sama dengan yang ia bayangkan, memabukkan, di tambah pekikan keterkejutan kecil yang keluar dsri mulut Jaejoong membuat kesejatian Yunho menegang.

Astaga, wanita ini benar benar berbahaya. "Jaejoongie, bangunlah atau aku benar benar akan menciummu." Yunho menegakkan tubuhnya untuk manatap Jaejoong.

Lagi. Jaejoong hanya mengibaskan tanganya seolah berniat mengusir siapapun yang mengganggu mimpi indahnya.

Cukup! Yunho tidak ingin bermain main lagi. Menunduk untuk menempelkan bibirnya di atas bibir Jaejoong yang kering, wanita itu membuka mata saat itu juga, mata bulatnya mengerjap ketika merasakan benda lunak bergerak gerak brutal di atas bibirnya, benda lunak basah yang membasahi bibirnya itu seakan menuntut sesuatu yang Jaejoong sendiri tidak tahu apa. Kesadaran akan adanya penghuni lain dikamarnya memaksa wanita itu menjerit sekuat tenaga setelah berhasil mendorong tubuh siapapun yang ada di atasnya saat ini.

"Brengsek, aku akan membunuhmu Pangeran gila yang menyebalkan." Jaejoong bangkit setelah mengetahui siapa laki laki kurang ajar itu hanya untuk meraih benda apapun yang dapat di lemparnya kearah Yunho.

Yunho telah berdiri menjauh, dengan sikap santai pria itu, Yunho menarik selimut dan membungkus tubuh Jaejoong sampai wanita itu terdiam meringkuk di dalamnua. Sejenak wanita itu masih memberontak kemudian wanita itu berubah tenang di dalam selimut sana. "Ganti pakaianmu segera, kita harus mendiskusikan urusan kita yang belum selesai."

Langkah kaki Yunho terhenti di antara sekat kamar dan ruang lain ketika mendengar Jaejoong berkata." Aku sudah memutuskan." kepala wanita itu muncul dengan rambut acak acakan. Wanita itu bangkit dari ranjang dengan baju tidur panjang menjuntai ke lantai dan rambut tergerai panjang di punggungnya bertelanjang kaki. Dan mulut Yunho menjadi kering melihat lekukan tubuh menggoda wanita muda yang berdiri seakan menantang dirinya untuk berduel di atas ranjang.

Memikirkan ranjang yang hanya berjarak beberapa langkah dan Jaejoong dihadapanya membuat Yunho frustasi. Tuhan tahu, ia belum pernah menahan hasrat miliknya ketika wanita manapun akan menarik Yunho keranjang mereka, karena dirinyalah yang jarang berhasrat kepada seorang wanita sebelum ini.

Sialan, ingin rasanya Yunho membopong tubuh wanita itu dan membaringkannya di ranjang, membuka gaun Jaejoong dan mencium disemua tempat di tubuh Jaejoong yang ia inginkan.

Tidak! Yunho tidak suka memaksa karena dirinya sudah terbiasa di puja dan diinginkan oleh semua wanita yang ia inginkan, akan tetapi yang satu ini pengecualian untuk dirinya dan untuk sebuah paksaan, Yunho akan menunggu sampai wanita keras kepala yang datang entah darimana itu menyerah.

Tanpa menyadari penampilan dirinya, tanpa rasa takut sedikitpun yang tersirat dari wajah Jaejoong ia berkacak pinggang di tempatnya berdiri. "Aku memilih jadi prajuritmu,"

Yunho mengerjap mencoba menverna apa yang baru saja didengarnya.

Serigaian menyebalkan terlihat di bibir Yunho yang menggoda kala Pangeran itu berkata. "Apa yang kau rencanakan di dalam kepala mungilmu itu, manis?" Sial, pria itu sepertinya mampu membaca pikiran Jaejoong.

" Melarikan diri tanpa kapal dan anak buahmu. Kau hanya akan mati di terkam hewan buas di hutan sebelum sampai di desa terdekat jangankan panyai yang jaraknya satu hari perjalanan dengan kuda." Pangeran Yunho itu berkata santai. "Bahkan prajurit kami akan menangkapmu sebelum kau sampai di sana, dan aku tidak mengatakan yang lain juga akan di bebaskan dari ruang bawah tanah seandainya kau memilih pilihan yang pertama."

Sialan Pangeran itu. Yunho mempermainkanya, Jaejoong memang berpikir akan melarikan diri dan bersembunyi di desa atau manapun asal ia dapat membebaskan prajurit lain. Tetapi sekarang,,, oh ia harus menyusun siasat baru agar dapat membebaskan mereka semua, dan ia akui itu bukanlah hal yang mudah ketika mereka semua berada di ruang bawah tanah yang diawasi oleh banyak prajurit.

"Aku tetap akan memilih pilihan pertama."

Yunho menutup mata mencoba meredam amarahnya yang kembali muncul. Oh sialan, ia sudah membayangkan semalaman suntuk dan Jaejoong akan memilih pilihan pertama dengan Yunho akan memanjakan wanita itu dan menuruti semua keinginan Jaejoong, bahkan kalaupun sampai Jaejoong meminta untuk membebaskan prajurit yang di tahan di ruang bawah tanah, maka Yunho akan memenuhi permintaan tersebut dengan senang hati, akan tetapi Jaejoong lebih memilih pilihan yang pertama dan memberontak.

Apakah wanita itu berharap Yunho akan luluh dan merasa kasihan kepadanya?

Tidak! Jaejoong akan mendapatkan apa yang diingankanya dan Yunho akan mendapati wanita itu akan menyerahkan diri sebelum hari ini berakhir untuk bergabung dengan Yunho di atas ranjang miliknya.

"Jaejongie,,," ia menghela nafas." Pikirkan baik baik pilihanmu sebelum kau mengatakan mana yang akan kau pilih, dan juga bagaimana nasib teman temanmu." Mungkin dengan sedikit ancaman wanita itu akan sadar dengan posisinya saat ini.

"Oh, mereka akan sangat mendukung pilihanku, bahkan mereka dengan senang hati akan menggantikanku di tempat gantungan jika perlu." Dan memang benar, Jaejoong tidak meragukan itu. "Aku tetap pada pilihan pertamaku."

Sialan Wanita ini, Yunho melupakan fakta bahwa Jaejoong tidaklah sama seperti wanita pada umumnya, keras kepala. Ia mengatupkan rahang ketika berkata. "Baiklah, kau akan menyesalinya, dan segera ganti pakaianmu dan bergabung dengan prajurit yang lain, jangan harap kau akan mendapat perlakuan yang layak disana, karena aku akan memastikan Hyunjoong maupun Changmin akan mengawasimu mengangkat balok balok kayu untuk pembangunan Paviliun bagian belakang."

Jaejoong mengerjap. Apa tadi yang pangeran itu katakan? Membangun Paviliun. Bukankah dirinya akan jadi prajurit perang dan bergabung untuk latihan di lapangan.

Oh, Jaejoongie sepertinya kau salah, " Oh,malangnya nasibku." Batinya.

.

.

.

Jaejoong memekik terkejut dan mundur kebelakang ketika sebatang kayu yang ia angkat hampir saja jatuh mengenai kakinya. Kayu itu terlalu tinggi dari tubuhnya meskipun tidak lebih besar dari tubuh Jaejoong sendiri, tetap saja kayu itu benar benar berat untuk dapat dia angkat seorang diri.

Pangeran sialan itu benar benar memberinya hukuman yang pantas, dan lihatlah penampilanya, Kembali dengan pakaian nelayan laki laki yang ia dapatkan dari prajurit lain, meskipun pakaian itu baru tetap saja sudah penuh serbuk gergaji kayu di tubuh bahkan wajahnya mengingat Jaejoong sudah disini sejak makan siang selesai untuk membantu mengangkat angkat kayu balok maupun papan.

Sebelumnya, Jaejoong membayangkan akan ikut berlarih pedang panah atau apalah dan bukanya membantu Pangeran tampan yang menyebalkan itu membangun rumah baru yang entah untuk apa.

Ya Tuhan, Paviliun Bolero sudah cukup besar dengan banyaknya kamar yang tersisa dan teganya Pangeran Jung itu menendang Jaejoong dari kediaman untuk Putri Junsu bergabung dengan pelayan wanita lain di kediaman para pelayan dapur.

"Kau harus mengeluarkan seluruh tenagamu, Jaejoong. Atau kayu itu akan menimpa tubuh mungilmu."

Dengan mata mendelik, Jaejoong menatap seorang pria yang berdiri mengawasi para pekerja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Ah, Jaejoong melupakan sesuatu yang lebih menarik yang harus ia lakukan selain mengangkat kayu sialan itu dan membangun rumah musuh mereka, Ya Jaejoong menyatakan mereka adalah musuh kerajaan Sankuo mulai saat ini.

Jaejoong melirik sekilas, Pria itulah yang membunuh kakaknya dan celakalah ia seandainya tidak membalas dendam pada Hyunjoong. Entah mengapa Jaejoong merasa matanya basah dan panas ketika mengingat Hankyung, dirinya memang tidak melihat pria itu menghunuskan pedang ketubuh Hankyung akan tetapi itulah yang dikatakan yang lain, pria itu yang membunuh Hankyung dengan pedang yang kini menggantung indah di pinggul pria itu. Jaejoong membayangkan bagaimana rasanya seseorang dibunuh menggunakan pedangnya sendiri.

Tenang Jaejoongie, kau tidak boleh membuat masalah, anggap saja laki laki itu kasat mata dan kau akan kehilangan kebebasanmu seandainya kau melawan pria itu, ataupun melukainya.

Hyunjoong mendekati Jaejoong dan berdiri di belakangnya untuk berbisik di telinga wanita itu. "Seharusnya kau menerima tawaran Pangeran Yunho dan menjadi wanitanya, atau kau lebih suka aku meminta kepada Pangeran untuk memberikan dirimu kepadaku sebagai wanita simpananku." Pria itu menyentuh pipi Jaejoong dengan punggung tanganya yang sedikit kasar, Jaejoong merinding jijik.

Persetan, seandainya dirinya harus di gantung karena ia membunuh pria ini, maka itulah yang akan ia bayar untuk membalas dendam kematian Kakaknya. Memutar tubunya dan tersenyum cerah kepada pria itu, tangan Jaejoong meraih pinggang Hyunjoong, membelai pria itu dengan ringan disana, perlahan namun pasti menjalar turun sampai di kedua sisi pinggul Hyunjoong. Pria itu tersenyum penuh arti kearah Jaejoong.

Meraih pedang di pinggang pria itu Jaejoong mengarahkan pedang yang ia curi dari Hyunjoong kearah sang pemilik pedang. Sialnya tepat sebelum ia menghunuskan pedang tersebut, Hyunjoong melompat menjauhinya . " Pergilah ke neraka." Jaejoong menerjang maju dengan pedang Hyunjoong di tanganya dan menyerang laki laki itu membabi buta.

Pria itu meraih pedang milik prajurit lain dan mundur ketika Jaejoong kembali mengayunkan pedang dan berhasil melukai pundak kiri pria itu sampai berdarah.

Umpatan Hyunjoong membuat tawa Jaejoong menggema. "Bagaimana, apa kau menyukai sentuhanku, sayang." Jaejoong mengedipkan mata kearah Hyunjoong dengan bangga. "Aku akan membunuhmu seperti kau membunuh pemimpin kami." Sekali lagi Jaejoong menerjang maju, sepertinya luka di pundak jenderal perang itu sedikit mengurangi kecepatanya karena Jaejoong berhasil menendang dan melukai lengan Hyunjoong dengan mudah. Sabetan berikutnya ia berhasil melukai lengan lain pria itu.

"Kau sangat payah menggunakan pedang, apakah kau benar benar seorang Jenderal perang atau Jenderal kuda perang." Hinaan Jaejoong tepat mengenai perasaan Hyunjoong, karena pria itu menyerangnya membati buta tanpa memberi Jaejoong kesempatan untuk mengucapkan sepatah kata lain lagi.

Teriakan ricuh para prajurit sedikit menggoyahkan keberanian Jaejoong. Ia tidak akan menang melawan mereka semua seandainya mereka maju serempak untuk menyerang atau menangkapnya dan ia akan mati konyol. " Jenderal pecundang, kau harus menerima bantuan perajurit lain untuk mengalahkan seorang wanita muda sepertiku."

Perkataan Jaejoong telak mengenaik harga diri pria itu dan langsung menyuruh mereka untuk mundur, dan inilah yang Jaejoong inginkan satu lawan satu sampai darah penghabisan.

"Kita akan bertarung sampai satu di antara kita mati." Tanpa menunggu jawaban pria itu, Jaejoong menyerang maju, pria itu lengah dan terluka akan sangat mudah membunuhnya kalau saja tidak ada kayu yang dilemparkan Hyunjoong kearahnya, dan ia menghindar. Hyunjoong berhasil menghunuskan pedang kearah Jaejoong sebelum Jaejoong berhasil menghindar lagi, pedang itu merobek sebagian pakaian di bagian pinggang Jaejoong. Astaga, di tempat itu lagi!

Luka yang di buat pangeran itu belum juga kering dan kini harus di tambang tusukan ujung pedang jenderal keparat itu di tempat yang sama disana.

Untungnya Jaejoong sempat mundur di saat yang tepat untuk menghindari tikaman lebih dalam dari luka yang dialaminya.

Melompat mundur lebih jauh, Jaejoong melepaskan jubahnya kemudian merobek jubah itu untuk ia gunakan sebagai pengikat luka dibagian perut agar tidak mengeluarkan darah semakin banyak. Hyunjoong kembali menyerang ketika dirinya meraih pedang yang ia tancapkan di tanah dan pria itu berhasil menendang tubuh Jaejoong sampai ia terlempar menghantam tumpukan kayu bangunan.

Setidaknya ia kalah setelah melukai Jenderal keparat itu. Jaejoong sudah akan kehilangan kesadaran sampai ia merasakan sesuatu yang dingin tersentuh oleh ujung jarinya. Ia mencoba membuka mata dan melihat tombak itu tergeletak disana dengan ujung runcing yang ia sentuh.

Trimakasih Tuhan. Menarik nafas dalam untuk mengurangi sakit akibat terbentur kayu yang keras, Jaejoong hanya memiliki satu kesempatan untuk menyerang, ia mati atau Jenderal itu mati. Bisa juga mereka mati bersama kecuali,,,,

Tidak ada waktu untuk berpikir ia berguling tepat ketika laki laki itu bersama pedangnya menyerang melewati depan matanya dan dengan sekali putaran Jaejoong sudah berada di belakang Hyunjoong, ia mengangkat tombak, memutarnya sampai ujung tombak itu berada tepat di belakang bagin perut pria itu dan Jaejoong menacapkan tombak itu di sana.

Tanganya menekan dan mendorong lebih dalam dan dalam lagi sampai Hyunjoong berteriak kesakitan, dan sialan siapapun yang menghalanginya. Pria itu menarik ujung tombak disisi lain sampai Jaejoong ikut tertarik kebelakang.

Sial. Hyunjoong beputar dan menatapnya garang sambil menahan luka tusukan barunya, seakan siap untuk menelan Jaejoong hidup hidup.

Laki laki yang berhasil menghalangi Jaejoong untuk membunuh Hyunjoong, pria itu muncul di belakangnya dan berhasil merebut tombak itu dengan mudah dari tangan Jaejoong tanpa perlawanan. Ia merasakan serangan rasa sakit di perutnya sendiri yang tertusuk pedang.

"Jenderal Kim, maksudku Kim Hyunjoong. Kau melanggar perintah pangeran, tugasmu hanya mengawasi Jaejoong bukan menyerangnya."

Jaejoong mengenali laki laki itu sebagai Jenderal Shim, Shim Changmin. Laki laki itu begitu tinggi dan lebih kurus dari pangeran Yunho akan tetapi mereka memiliki kesamaan, aura entah apa itu Jaejoong tidak mengenalinya seperti aura kepemimpinan yang tak terbantahkan.

Laki laki itu menunduk untuk menatap Jaejoong. " Dan Kau Nona muda, Seharusnya kau menghindari perkelahian yang hanya akan menambah hukumanmu semakin berat, mungkin saja Pangeran akan menambah lebih banyak lagi hukaman baru untukmu." Changmin mengatakan itu dengan nada lebih lembut.

Jaejoong mendongak dengan mata merah karena marah dan juga menahan rasa sakit yang menyerang dirinya dan juga tangisanya ."Setidaknya aku berhasil membalaskan dendam pemimpin kami meskipun aku tidak berhasil membunuhnya." Jaejoong menunjuk Hyunjoong yang sudah bertumpu pada lututnya.

Kesedihan dalam mata Jaejoong mengetuk hati Changmin. Ini bukan pertanda baik, Changmin tidak boleh merasa kasihan kepada prajurit wanita itu. Ia mundur untuk mendorong Hyunjoong menjauh. "Bawa Jenderal Kim dan obati lukanya." Jaejoong sudah akan membuka suara saat Changmin menggeleng. "Tidak sekarang, ketika kau juga mengalami luka, Nona cantik."

Entah mengapa Jaejoong merasa wajahnya terasa hangat. Apakah dirinya tersipu mendengar pujian Changmin. Hey, dirinya belum pernah mendengar pujian itu dari laki laki lain dalam kondisi mengenaskan dan berdebu seperti saat ini.

"Apa yang terjadi disini."

Suara barithon yang sangat Jaejoong kenali muncul dari belakang belakang mereka. Pahkawan selalu datang terlambat, dan Syukurlah Pangeran Yunho bukanlah pahlawanya.

Pangeran Yunho berdiri disana bersama segerombol pelayan dan pengawal yang mengikutinya seperti dirinya adalah induk bebek. Jaejoong membenci suasana kerajaan Sankuo dan bersyukurlah dirinya sudah bebas dari tembok kerajaan meskipun saat ini dirinya terkurung di tembok kerajaan lainya.

"Brensek kalian semua." Raung Jaejoong. Persetan dengan tata krama yang diajarkan ibu suri untuknya juga lupakan semua hal yang pernah ia pelajari tentang p pantas dan tidaknya bagi seorang putri mengumpat kasar, toh dirinya sekarang adalah seorang tahanan. "Aku ingin membunuh bajingan itu dan kau boleh membunuhku setelahnya."

Cengkraman pada lenganya membuat Jaejoong menatap siapa gerangan yang menahanya itu. "Tidak, kau tidak dapat melakukan itu."

Yunho memperhatikan kekacauan yang diperbuat Jaejoong dengan murka. Tuhan, apa yang sudah di lakukan wanita muda itu dan lihatlah kekacauan yang dibuatnya bukan hanya melukai Hyunjoong dan demi Tuhan, Hyunjoong sangat bodoh karena kehilangan pedang miliknya dan direbut wanita itu sebagai senjata untuk melukai dirinya sendiri.

Senjata makan tuan.

Dengan murka dan suara yang tegas yang tak dapat di ganggu gugat Yunho memberi perintah. "Masukan Kim Jaejoong keruang tahanan bawah tanah, pisahkan dia dari yang lain. Kita lihat apakah besok dia akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan saat ini."

Jaejoong sudah cukup letih untuk menyadari perkataan Yunho, tanganya mencengkeram luka diperutnya semakin erat.

"Yang Mulia, tidakkah itu keterlaluan. Nona Kim, dia juga terluka," Changmin terdiam setelah mendapatkan tatapan tajam Pangeran Yunho yang tak terbantahkan. "Maafkan hamba yang mulia."

"Lukanya yang tak seberapa akan sembuh dengan kekeras kepalaanya sendiri. Kau lihat apa yang sudah di lakukan Wanita itu dengan Jenderal Kim, itu adalah hukuman yang pantas untuk Jaejoong. "Usai berkata Yunho melangkah pergi setelah menyuruh pengawal lain membawa Hyunjoong yang terluka ke kediaman pria itu.

Changmin masih berdiri memperhatikan Jaejoong. Wanita itu akan roboh seandainya saja Pria itu tidak menangkap tubuhnya. "Kau terluka." Itu adalah kata terakhir yang di dengar Jaejong sebelum dirinya diseret oleh prajurit lain untuk di bawa keruang bawah tanah.

Apakah ia akan berakhir disana dan juga teman teman yang lain. Jaejoong ragu ia dapat membebaskan diri dari ruang gelap dan dingin itu ketika dirinya juga mengalami luka yang terus mengelurakan darah. Ya Tuhan, ia akan mati kehabisan darah, apakah ia dapat bertemu dengan Hankyung nantinya di surga?

Tubuhnya dilempar ke lantai jerami dengan begitu keras sampai tubuhnya yang kebas semakin mati rasa. Ia lelah dan betapa ia merindukan Ayahanda dan Ibunda ratu, seandainya saja ia menuruti kata kata Hankyung untuk tidak pergi berjalayar bersama mereka, seandaianya ...saja.

Kemudian gelap menghampirinya.

~TBC~

Author cuap cuap: Maafkan author yang masih bermuka badak dan update Ff lagi. Trimakasih RCLnya Author sangat senang ff ini ada yang baca.

Ff ini memang Author terinspirasi tetapi bukan Remake, bagi yang bilang terisnpirasi sampai part yang cukup jauh Author mau tanya apakah ff ini begitu mirip dalam semua hal seperti yang anda bilang, dari dialog dan lainnya Author putar otak sendiri. Jadi saran Author untuk tanpa nama yg berkomentar untuk JANGAN BACA Ff ini, karena author tidak mau di kutuk reader karena gx mood nulis atau gx update di Ffn lagi karena jera. Author coba Strong ~gaya kota dikit~ karena komentar itu satu dari sekian komentar baik dan mendukung tapi tetep aja kalau ada lagi bisa bikin Author munduk di pojok bareng Jaejoong.

Enakan di Wattpat karena gx bisa koment dan baca kalau gx punya akun.

Bagi siapa saja yang berminat kalau ff ini gx lanjut bisa kunjungi wattpat ; Suliskim.

Kamsahamnida sudah baca.