Break the Ice

·

·

Naruto © Mashashi Kishimoto

·

Break the Ice

·

Genre : Romance, Hurt/Comfort

·

Disclaimer : This story is original comes from my mind

·

Rated : T

·

Sakura

·

Summary : "Jangan dekat-dekat dia nanti kau membeku" / "Sakura Haruno sudah mati" / "Kau tidak tahu apa-apa!" / Sasuke, murid pindahan dari Oto tertarik pada gadis yang disebut Manusia Es yang sebangku dengannya. Sayangnya, gadis itu sudah kehilangan hatinya sejak lama

·

·

·


Festival

Autumn

Thursday, October 3, 2013; Lunch time

Canteen, 2nd Floor

Konoha Gakkuen

Kedatangan dua murid baru, Shion dan Karin menjadi bahan pembicaraan yang hangat di Konoha Gakkuen. Jumlah siswa yang tadinya tergabung menjadi fans dari Naruto dan Sasuke berkurang drastis setelah mereka mengetahui track record dari dua gadis cantik itu. Hal ini adalah satu dari satu-satunya hal yang disyukuri Naruto dan Sasuke mengingat mereka lelah diikuti dan diteriaki setiap hari oleh gadis-gadis kurang kerjaan itu.

Mendengar track record dari seorang Shion, Hinata juga ikut was-was. Pada dasarnya, ia memang mencintai Naruto. Mungkin lebih dari siapapun, termasuk Shion. Hanya saja, gadis itu tidak punya cukup keberanian untuk terang-terangan menyukai Naruto dengan Shion memantau laki-laki itu terus menerus.

Putri keluarga Hyuuga itu menoleh kesana kemari mencari meja yang kosong sambil membawa nampan berisi makan siangnya. Belum sempat berjalan kemanapun untuk mencari meja kosong, sebuah tangan mendorongnya dari belakang hingga semua makan siangnya tumpah dan berceceran di lantai. Tidak perlu waktu lama bagi Hinata untuk tahu siapa dalang dibalik itu semua ketika Shion muncul dengan wajah tak bersalah buatannya di depan Hinata.

"Ups. Maaf, kukira tidak ada orang" katanya tanpa rasa bersalah sama sekali.

Ah, Hinata harusnya tahu alasan kenapa Shion berlaku buruk padanya. Sebelum kedatangan gadis itu, berita kalau ia menyukai Naruto sudah berhembus kemana-mana. Jadi wajar saja kalau Shion mengerjainya begini mengingat gadis itu mengidap semacam Naruto complex.

Hinata menundukkan wajahnya dalam-dalam, berusaha tidak terlalu serius menanggapi cemoohan Shion, Karin dan kawan-kawannya. Gadis itu menahan mati-matian air mata yang siap jatuh kapan saja dari matanya agar tidak tampak lemah di depan Shion.

BYUR!

Hinata membuka matanya ketika cemoohan Shion mendadak berhenti dan menemukan seorang gadis dengan warna rambut mencolok menumpahkan jus stoberi kental ke rambut Shion. Hinata mengenalnya, salah satu siswa dari kelasnya. Sakura.

"Ups. Kukira tidak ada orang" kata Sakura tanpa ekspresi sebelum berjalan meminta segelas cola pada petugas kafetaria.

Shion menggeram dan menjambak rambut belakang Sakura yang panjang sampai gadis itu mendongakkan kepalanya.

"Beraninya kau mengotori rambutku, jalang!" teriak Shion murka. Karin dan Tayuya mengamati Sakura dengan seringaian menantang.

Seperti de javu, Sakura menangkap tangan Shion dan memelintirnya, persis seperti yang dilakukannya pada Rin beberapa bulan yang lalu. Mata emeraldnya berkilat dingin, saking dinginnya sampai membuat Hinata merinding hanya dengan memandangnya saja. Seringaian gadis itu terlihat sadis, seolah siap menghancurkan Shion kapanpun. Menghancurkan dalam arti sebenarnya, bukan hanya kiasan saja.

"Jalang teriak jalang" desis Sakura dingin sebelum melemparkan Shion sampai meringkuk di lantai kafetaria.

"Jalang adalah orang yang mempermainkan hidup orang lain lalu tertawa karenanya" kata Sakura lagi sebelum berjalan menjauhi Shion yang masih mengaduh ke arah Ino yang duduk tenang memperhatikan di sudut kafetaria.

Hinata bersumpah, dia tak pernah dibela sebegitunya. Apalagi oleh orang paling dihindari di sekolah ini.

Sakura meletakkan makan siangnya di meja dengan tenang seolah kejadian barusan tidak pernah terjadi. Ino hanya memperhatikannya sambil terkekeh pelan.

"Mou...Sakura, kau menyeramkan sekali tadi" komentar Ino, menyumpit ebi dalam kotak bekalnya dan melahapnya bulat-bulat.

"Barusan itu seperti de javu" jawab Sakura, menyendok nasinya. "Maaf, Ino. Aku bangun kesiangan jadi kita harus ke kafetaria" keluhnya, memasang wajah memelas.

"Daijoubu, lagipula jangan memasang wajah seperti itu. Mengerikan, tahu!" kekeh Ino. "Orang seperti mereka itu memang harus diberi pelajaran!"

Sakura diam saja, memakan makan siangnya dengan pelan. Sakura hanyut dalam pikirannya sendiri. Kenapa ia membantu gadis itu? Sakura bukan tipe orang yang mau ikut campur urusan orang lain apalagi tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Entahlah, Sakura sendiri hampir saja lepas kontrol. Bayangan Rin tiba-tiba datang ke pikirannya, membuatnya ingin sekali meremukkan pergelangan tangan gadis bernama Shion tadi.

"Um...ano...Sakura-san..." panggil gadis berambut indigo yang tadi dipermainkan Shion.

Sakura bergumam tanda ia mendengarkan.

"Ano...arigato gozaimasu!" kata Hinata, membungkuk dalam sekali sampai lebih dari sembilan puluh derajat. Ino tertegun sementara Sakura menghentikan makannya.

"Aku tidak melakukan itu untuk menolongmu" kata Sakura dingin dan tanpa menoleh. Gadis itu melanjutkan lagi makan siangnya yang tertunda.

Hinata tersenyum. Sesuatu dalam dirinya berkata kalau itu adalah cara Sakura untuk menjawab rasa terima kasihnya.

"Bo-boleh...a-ak-aku..du-duduk di...sini?" gagap Hinata, wajahnya sudah berubah merah.

Sakura diam saja, pura-pura tuli. Ino tersenyum manis dan berkata, "silahkan", membuat Hinata nyaris pingsan karena malu.


Lunch time

2nd Building, Rooftop

Konoha Gakkuen

Berita tentang kejadian di kafetaria segera menyebar seperti api yang disiram minyak. Semua siswa KA tahu dengan jelas bagaimana Karin dan Shion bekerja sama menggencet semua siswa yang berani mendekati atau bahkan menyimpan perasaan untuk Sasuke dan Naruto. Bullying terjadi dimana-mana, dan tidak ada yang berani menentang duo putri keluarga kaya raya itu karena mereka tak ingin bisnisnya hancur mengingat pengaruh perusahaan Shion dan Uzumaki cukup tinggi.

Bagi semua siswa di KA, Sakura termasuk ke dalam daftar siswa yang harus dijauhi mengingat dia memang tidak pernah beriteraksi dengan siapapun selain Ino Yamanaka. Tidak ada satu orangpun yang mengira kalau orang seperti Sakura bisa berdiri membela Hinata Hyuuga dan melawan Shion dan Uzumaki. Berita ini segera saja menjadi hot topic di kalangan siswa tingkat sebelas KA dan sampai ke telinga Naruto dan Sasuke.

"Kau dengar itu, teme? Sakura menghajar Shion di kafetaria tadi siang!" seru Naruto heboh ketika ia berjalan menghampiri Sasuke yang duduk tenang di atap sekolah.

"Hn?" Sasuke memasang wajah datarnya sekalipun mengeluarkan suara tanda ia tidak tahu.

"Kudengar kalau Shion mem-bully Hinata Hyuuga di kafetaria dan Sakura membelanya! Yeah, kau tau? Mereka bilang Sakura memelintir tangan Shion dan mendorongnya sampai tersungkur di lantai! WOW!"

Sasuke diam. Otaknya berusaha keras membayangkan simulasi kejadian di kafetaria. Tangannya melipat di belakang kepalanya, menjadi alas sementara ia berbaring di lantai atap yang sedikit berdebu.

"Dan kau tahu? Ternyata Sakura itu juara karate nasional, lho!" lanjut Naruto lagi.

Oke, Sasuke terkejut dengan ekspresi tidak cool kali ini.

"Juara karate? Nasional?" ulang Sasuke kaget. Naruto mengangguk semangat.

"Aku ingin sekali melihat aksinya tadi!" kata Naruto sambil nyengir. "Tapi, teme. Tidakkah menurutmu aneh? Sakura menolong seseorang! Maksudku, yeah, tentu saja untuk orang lain itu bisa saja terjadi. Tapi ini Sakura! Dan katanya, dia menatap Shion dengan tatapan yang mengerikan sekali!"

"Hn," gumam Sasuke tanpa berniat menanggapi Naruto dan ocehannya.

"Lagipula, tidakkah menurutmu aneh? Sakura tidak mencantumkan nama keluarganya dalam absen. Bukankah dia tampak seperti yatim?" celoteh Naruto tanpa henti.

Tentu saja karena keluarganya sedang bermasalah, baka. Batin Sasuke.

"Lalu, peringkatnya selalu ada dalam lima besar di angkatan kita. Dia bisa saja seorang murid beasiswa, kan?"

Dia memang pintar..

"Tapi murid beasiswa sepertinya berani menentang Shion dan Karin, teme! Maksudku tidak ada satupun gadis di sekolah ini yang mau cari masalah dengan nenek sihir itu!"

Karena keluarganya lima kali lebih kaya dari mereka, bodoh!

"Hentikan ocehanmu, dobe. Kau membuatku mual" ketus Sasuke, berjalan meninggalkan Naruto sendirian di atap.

Sakura benar-benar diluar ekspektasinya. Sasuke benar-benar tak bisa membaca gadis itu. Sakura yang tidak pernah terbuka pada siapapun, membatasi diri, mengisolasi pergaulannya, menolong Hinata Hyuuga? Gadis yang pasti tidak pernah berinteraksi dengannya. Kenapa? Kenapa gadis itu memandang Shion dengan mata yang mengerikan? Kenapa gadis itu memendam begitu banyak misteri?

Kenapa Sasuke begitu peduli?


Free time

Monday, October 7, 2013

Chemistry Class

2nd Building, 2nd Floor

Konoha Gakkuen

Seminggu lagi, Konoha Gakkuen akan mengadakan festival budaya yang biasa diadakan setiap tahun. Seperti kebanyakan sekolah lainnya, festival budaya di Konoha Gakkuen akan diramaikan dengan stand-stand dari setiap kelas dan penampilan kelas di hari keduanya. Untuk menyambut festival budaya, sekolah memberikan waktu satu minggu bagi setiap kelas untuk mempersiapkan diri yang berarti jam kosong selama seminggu.

Sakura tidak pernah tertarik dalam kegiatan semacam itu karena pada dasarnya Sakura benci berada dalam keramaian. Setiap festival budaya digelar, Sakura selalu menggunakan waktunya untuk menginap di rumah Yamanaka selama seminggu. Sakura tidak pernah mendapat bagian apapun dalam kegiatan kelasnya dan dia tidak keberatan akan hal itu.

"Baiklah minnasan! Untuk festival kali ini, kelas kita akan membuka sebuah kedai kopi dan menampilkan sebuah duet di hari kedua!" kata Shikamaru ogah-ogahan.

Tidak ada sanggahan apapun dari teman-teman sekelasnya, jadi Shikamaru melanjutkan. "Untuk tahun ini, semua siswa harus mengikuti audisi" mata Shikamaru melirik Sakura yang dibalas sebuah death glare.

"Tapi Shika, kau tahu, kan? Orang itu tidak pernah ikut kegiatan festival sejak tingkat sembilan" kata Tayuya agak sinis.

Shikamaru mengangguk malas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali.

"Ibiki-sensei bilang kalau siapa saja yang tidak mengikuti audisi, akan bermasalah dengannya" jawab Shikamaru santai.

Sakura berdecih, membuang muka memandang taman belakang sekolah di balik jendela. Sakura harusnya tahu kalau paman tua itu akan membawa banyak sekali ganjalan baginya. Bermasalah dengan Ibiki-sensei berarti kehilangan semua nilainya di semester ini dan berakhir dengan didepaknya dia dari kelas unggulan. Ibiki-sensei selalu begitu, egois dan tidak mau kalah. Hanya saja, baru kali ini guru garang itu tampak begitu bersungguh-sungguh di sebuah festival sekolah.

"Apa salahnya kau ikut saja?" komentar Ino saat mereka menghabiskan waktu di kelas sambil memakan bento.

Sakura melotot. "Ikut audisi duet itu? Buang-buang waktu saja" komentar Sakura, menyuapkan sepotong ayam goreng ke dalam mulutnya.

"Ya, kau tahu, kan, kalau Ibiki-sensei tidak pernah main-main dengan perkataannya" kata Ino. "Ya ampun, Saku! Kenapa kau masukkan sayuran merah ini dalam makananku?!

Sakura memandang sayuran merah yang dimaksud Ino. Empat potong tomat segar yang sembunyi dibalik salad buatannya. Sakura terkekeh, lupa kalau Ino benci tomat sebenci gadis itu pada anime dan kehilangan make up. Sakura sudah hampir menyendok tomat-tomat tipis itu pergi dari kotak bento Ino ketika Sasuke tiba-tiba berdiri di sampingnya dan memandang tomat itu seperti anak kecil memohon minta dibelikan mainan.

Sakura memandang laki-laki itu dengan tatapan menuntut. Sasuke tidak menghiraukan gadis itu melainkan terus memandang tomat di kotak bento Ino yang sekarang ditusuk Sakura menggunakan garpunya.

Di dalam kelas, hanya ada Shikamaru yang sedang tidur di mejanya. Lalu ada Karin, Tayuya dan Shion yang sedang mengobrol sampai membuat Sasuke merasa nyaris tuli. Hinata sedang duduk mengerjakan soal Fisika yang dijadikan Anko-sensei sebagai pekerjaan ruman mereka. Nyaris mereka semua—kecuali Shikamaru—menghentikan kegiatan mereka ketika Sasuke secara tiba-tiba menarik lengan Sakura dan menyuapkan tomat di ujung garpu ke dalam mulutnya.

Sakura membatu, begitu juga Ino yang duduk di depannya. Untuk beberapa saat, wajah pucatnya tampak memunculkan semburat merah. Gadis itu memandang Sasuke yang sekarang duduk di sampingnya, mendengarkan musik.

"Kau! Apa yang kau lakukan, hah?!" omel Ino, menodongkan garpunya ke depan wajah Sasuke.

"Hn," jawab Sasuke ogah-ogahan. Laki-laki itu seratus persen mengabaikan Ino.

Sakura memakan bekalnya dengan cepat seolah itu adalah waktu makannya yang terakhir. Hal ini tidak luput dari perhatian Sasuke. Putra kedua Fugaku Uchiha itu tidak tahu sejak kapan memperhatikan si gadis es menjadi kegiatan kesukaannya. Sasuke tersenyum—sangat tipis—ketika Sakura selesai makan.

"Kau cepat sekali, sih?" keluh Ino, memandang bekalnya yang masih tersisa setengah.

Sakura tidak menjawab dan malah kembali ke kegiatan favoritnya. Memandangi halaman. Gadis itu berusaha mati-matian meredam debaran tiba-tiba dalam dadanya.


Free time

Tuesday, October 8, 2013

Music Class

2nd Building, 3rd Floor

Konoha Gakkuen

Hari ini, seluruh kelas 11-A tampak dengan tertib mengantri di depan ruang musik yang biasanya sepi. Audisi untuk menentukan siapa yang akan berduet di festival sekolah sudah berjalan sejak jam tujuh pagi tadi. Ibiki tetap bersikukuh ingin melakukan audisi, mengabaikan saran dari Iruka untuk melihat saja nilai mata pelajaran musik tiap siswa.

"Karin Uzumaki" panggil asisten Ibiki dari dalam ruang musik. Karin berjalan dengan percaya diri.

Sakura bersandar santai di sisi jendela yang terbuka, memperhatikan lalu-lalang siswa KA di bawahnya. Sejujurnya ia ingin sekali melarikan diri dari audisi ini, tapi Ibiki -sensei sudah mewanti-wantinya untuk tidak kabur seperti tahun lalu atau nilai Sakura ada dalam bahaya. Gadis bersurai pink itu menghela nafas sebentar sebelum berjalan ke pintu ruang musik ketika namanya dipanggil.

Ibiki-sensei duduk di kursi di depan sebuah grand piano besar di ruang musik. Wajahnya yang garang sama sekali tidak memperlihatkan kalau dia bisa memainkan alat musik bernada lembut itu. Sakura berdiri di depannya dengan wajah 'can-you-stop-this-things-quickly?' miliknya yang hanya dibalas helaan nafas oleh Ibiki.

"Baiklah, nona tanpa marga. Jika kau begitu ingin ini cepat berakhir, bernyanyilah sebagus mungkin" kata Ibiki, mulai menekan tuts-tuts piano, menciptakan melodi indah.

Sakura mendengarkan bunyi piano itu dengan seksama. Yang perlu dilakukannya hanyalah bersuara sejelek mungkin agar Ibiki tidak memasukkannya dalam tim festival nanti. Ibiki mulai memainkan lagunya, Sakura sudah bersiap-siap, mendengarkan nada demi nada...

Oh tidak. Lagu ini...

Sakura tertegun, memandang Ibiki dengan tatapan tidak percaya. Pria itu memainkan lagu yang dulu selalu dinyanyikan ibunya saat Sakura akan pergi tidur. Alunan piano yang simple dan menyenangkan, membuatnya selalu cepat mengantuk. Biasanya, setelah Sakura tertidur, ibunya akan mengelus kepalanya sampai Sakura benar-benar terlelap.

Sakura melupakan rencananya semula. Gadis itu bernyanyi dengan perasaannya. Air matanya mengalir begitu saja di kedua sisi wajahnya semetara matanya terpejam. Ia membayangkan ibunya mengelus kepalanya selembut dulu, menyanyi untuknya..

In other world, please be true..

In other world, I love you...

Ibiki menghentikan permainan pianonya, memandang Sakura yang masih hanyut dalam gelombang perasaannya sendiri. Suaranya indah, tapi yang lebih indah lagi adalah perasaannya yang terbawa dalam setiap lirik yang keluar dari tenggorokannya. Gadis itu sempurna.

"Silahkan keluar" kata Ibiki singkat, mempersilahkan Sakura keluar setelah gadis itu kembali dingin seperti biasanya.

Tidak hanya Ibiki, hampir semua siswa kelas 11-A yang menunggu giliran di luar ruangan terpesona pada Sakura. Sasuke adalah salah satunya. Sasuke melihat dengan jelas bagaimana gadis itu membawa perasaannya ketika dia menyanyi. Sakura Haruno itu...ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Sasuke tenggelam di dalamnya.


Free time

Mathematic Class; Stairs

2nd Building, 3rd Floor

Konoha Gakkuen

Ino Yamanaka percaya bahwa suatu hari nanti Sakura Haruno, sahabatnya, akan kembali menjadi gadis yang ceria dan penuh kebahagiaan. Untuk itu, Ino Yamanaka bersedia menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalan kebahagiaan sahabatnya termasuk Rin Uchiha. Ino bukannya tidak tahu kalau Sasuke Uchiha, idola baru sekolahnya memendam sebuah perhatian khusus untuk Sakura. Gadis itu tahu kalau Sasuke dan keluarganya berbeda dengan Rin meski mereka memiliki nama yang sama. Hanya saja, Sakura terlanjur membenci Uchiha yang menurutnya tidak mendidik salah satu keturunannya dengan benar. Sakura juga tidak salah. Dialah korban sebenarnya dari polemik ini.

Sejak kedatangan Sasuke, ada banyak perubahan yang Ino rasakan dari Sakura. Gadis itu tampak lebih hidup dibanding biasanya meski tentu saja, masih sulit sekali membuatnya kembali seperti Sakura yang dulu. Mengikuti audisi ini adalah salah satunya. Sakura yang manusia es tentunya tahu kalau Ibiki tidak benar-benar akan mengancam semua nilainya mengingat Sakura termasuk salah satu murid kesayangannya. Ino juga bukannya tidak tahu kalau Sasuke yang meluncurkan ide ini pada Ibiki setelah tahu kalau Sakura punya suara yang sayang sekali kalau disia-siakan.

Ino tahu semuanya.

Ia hanya diam saja. Ino tahu kalau Sasuke mati-matian mencoba mendekati Sakura meski caranya agak tidak biasa, dan ia mendukung hal itu.

"Yamanaka, bisakah kau bawa perlengkapan ini ke kelas? Mereka akan membuat dekorasi untuk maid cafe kita" pinta seorang gadis bercepol, Tenten.

"Baiklah" kata Ino, mengangkat dua buah dus berisi steroform dan karton berbagai warna.

Ino berjalan pelan, berusaha menghindari kemungkinan ia akan terjatuh mengingat kardus besar yang dibawanya menghalangi pandangannya dari jalan. Gadis blonde itu meraba lantai di depannya dengan kaki kanannya. Tidak ada lantai. Seperti dugaannya, ia sudah di ujung tangga. Ino sudah hampir melangkah ke tangga kalau seseorang tidak memeluknya dari belakang, membuat kardus paling atas jatuh dan isinya berantakan di tangga.

"Geez...apa yang kau pikirkan, sih?!" omel orang itu. Ino mendelik padanya. Wajahnya pucat, mungkin lebih pucat dibanding Sakura. Rambutnya pendek dan lurus sekali. Matanya hitam legam dan tangan kirinya memegang kanvas dan plastik berisi alat lukis. Yang paling penting lagi, dia laki-laki.

"Kau sendiri siapa? Lihat! Gara-gara kau mengagetkanku, barangku jatuh semua!" omel Ino balik, menunjuk steroform dan karton yang berceceran di tangga.

Orang itu memandang Ino datar seolah musibah yang menimpa Ino sama sekali bukan salahnya. "Dengar, ya, gadis cerewet. Kalau aku tidak menahan tubuhmu, yang patah bukan Cuma steroform itu saja, tapi tulangmu juga!"

Rahang Ino jatuh seiring kepergian laki-laki itu. Dengan diikuti gerutuan-gerutuan kecil, Ino berjalan menuruni tangga, memberesi perlengkapan kelasnya yang sudah separo hancur. Laki-laki itu akan ia ingat wajahnya dan ketika mereka bertemu lagi, Ino akan memastikan si pucat iu mendapat hadiah tinju darinya!


Free time

Wednesday, October 9, 2013

Chemistry Class

2nd Building, 2nd Floor

Konoha Gakkuen

Shikamaru memperhatikan ketika teman-teman sekelasnya berlalu-lalang kesana-kemari menghias kelas. Papan tulis mereka tutupi dengan menggunakan sebuah tirai panjang berwarna hitam dan emas. Meja-meja mereka sulap menjadi kursi pelanggan dan meja barista lengkap dengan peralatan pembuat kopi lainnya. Shikamaru bersyukur kalau ayah Hinata bersedia meminjamkan peralatan pembuat kopi dari salah satu cafe mereka untuk festival ini.

Shikamaru berdiri di depan kelas dengan gaya malasnya yang biasa, membuat teman-temannya berhenti bekerja selama sesaat demi mendengarkan si ketua kelas bicara. Shikamaru membawa secarik kertas dalam genggamannya.

"Baiklah, minna. Ibiki-sensei sudah memberiku hasil audisi dua hari yang lalu" kata Shikamaru mengawali. Atmosfer kelas mendadak berubah. Beberapa orang yang berharap lolos mulai berdoa dengan khusuk sementara yang tidak berminat sama sekali pada festival—seperti Sakura—cuek-cuek saja.

Shikamaru berdeham sebentar sebelum melanjutkan pengumumannya. "Baiklah. Yang akan menjadi pasangan duet untuk festival nanti adalah—

—Sasuke Uchiha dan Sakura".

Sakura memandang Shikamaru dengan tatapan tidak percaya sementara Sasuke diam saja di tempatnya duduk. "Aku keberatan" kata Sakura.

"Aku juga keberatan!" teriak Karin tidak terima. "Bagaimana mungkin si gadis es itu pantas berduet dengan Sasuke-kun!"

Sasuke mendelik tidak suka ketika beberapa orang ikut menyuarakan keberatannya atas keputusan Ibiki. Sakura sendiri memilih diam saja. Dia memang bermaksud untuk tidak ikut serta dalam kegiatan festival ini. Jadi lebih baik jika ia tidak terpilih dalam duet ini.

"Jadi, menurutmu siapa yang lebih pantas menjadi pasangan duet Sasuke, Karin?" tanya Shikamaru sarkastik.

Karin tersenyum, "Tentu saja aku!" jawabnya percaya diri. Sasuke terkekeh sebelum akhirnya berdiri menghampiri Karin. Karin yang dihampiri Sasuke diam saja dengan wajah memerah sampai ke telinga.

"Aku tidak mau duet denganmu" kata Sasuke ketika ia berdiri tepat di depan Karin. Laki-laki bermarga Uchiha itu kemudian berjalan ke depan Sakura sambil memandang tepat ke arah manik emerald gadis itu.

"Ikut aku" kata Sasuke pelan sebelum menarik lengan Sakura keluar kelas.

"Yah...kurasa Sasuke dan Sakura setuju" gumam Shikamaru, menggaruk lagi rambutnya.

Sasuke menarik Sakura menjauhi kelas mereka dengan sedikit terburu-buru. Sakura tidak tahu kenapa dia hanya diam saja ditarik Sasuke sementara ia bisa saja membanting laki-laki itu dan meninggalkannya terkapar di lorong. Meski berjalan di belakang dan Sakura menderita minus, ia bisa melihat kalau telinga Sasuke berubah menjadi merah. Mereka berdua sudah sampai di atap sekolah ketika Sakura kembali sadar pada apa yang baru saja terjadi.

Dia itu Uchiha, Sakura. Ingatlah!

Suara dalam dirinya mengingatkan Sakura kalau ia harusnya menjaga jarak dari Sasuke. Dengan sekali hentakan, genggaman Sasuke di pergelangan tangannya terlepas. Sakura mengambil nafas sebelum kembali lagi mempertahankan air wajah dinginnya. Sasuke memandang Sakura dengan tatapan datarnya yang biasa.

"Kukira aku sudah menunjukkan dengan jelas padamu kalau aku membencimu, Uchiha" kata Sakura dingin. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.

Sasuke diam saja, memandang Sakura tepat di matanya. Mata hitam Sasuke yang segelap malam seolah membuat Sakura tenggelam. Gadis itu mengalihkan wajah, memandang awan yang berarak-arakan di atasnya.

"Aku bukan orang yang mudah mengerti kalau kau tak mengatakannya, Haruno" kata Sasuke. Laki-laki itu berjalan selangkah mendekati Sakura.

"Aku membencimu" kata Sakura.

"Benarkah?" selangkah lebih dekat.

"Ya" Sakura menjauhi Sasuke yang mulai mendekat. Selangkah demi selangkah Sasuke mendekat, dan selangkah demi selangkah juga Sakura menjauh.

"Tapi aku tidak membencimu, Haruno" kata Sasuke.

"Berhenti memanggilku dengan nama keluargaku!"

Sasuke terkekeh, kekehan lembut yang jarang sekali dikeluarkannya. "Menyebutmu begitu membuatku merasa lega".

"Lega?" Sakura menaikkan sebelah alisnya.

"Yeah...seperti mengetahui sesuatu tentang orang yang kau sukai yang tidak diketahui orang lain" jawab Sasuke. Sedetik kemudian menyadari kesalahannya.

"Kau pasti bercanda" kata Sakura sarkastik.

Sasuke memandang gadis itu lagi. "Tidak...aku serius".

"Tidak mungkin" Sakura menggelengkan kepalanya seolah mencoba menghentikan Sasuke yang mendekatinya. Gadis itu berjalan cepat ke arah pintu atap dan menghilang. Meninggalkan Sasuke terpaku sendiri di atap, memandang kepergiannya.

"Bodoh".

-to be continued-


Oke, sorry banget ini baru update lagi kkk~ untuk yg suka ff dormitory, tunggu saja yaaa hari ini akan update kkk!

Q : Kok ga dibatalin? kalo Sakura tau gimana?

A : hhh~ masih rahasia Illahi tuh kkk

Q : gimana cara Sakura ngatasin Karin?

A ; hanya dia yang tahu~

Q ; Kenapa Shion dan Karin jadi mimpi buruk buat Sasuke dan Naruto?

A ; kalo gasalah udah aku jelasin disitu atau di chap sebelumnya hehe

Q ; chap 4 ada Namikaze Menma? Hubungan sama Naruto apa?

A : aku juga ga sadar masukin Menma hahaha. nanti aku cek. dan Naruto emang anak tunggal. jadi kalaupun Menma ada, dia cuma kerabat aja

Q : Fic ini berapa chap?

A : aku aja sekarang masih project chap 14. ditunggu aja ya hehe. udah hampir selesai semua kok

oke readers! sekian balasan reviewnyaaa. keep reading!