Sakura diam. Ia menunduk dalam dan menutup mata erat-erat. Ia melihat bayangan tubuh tegap yang memantul di dinding mendekat ke arah meja tempatnya bersembunyi. Dari arah bayangan itu, Sakura dapat melihat bayangan terpantul di dinding, si pria bertopeng memegang sebilah kapak berbentuk bulan sabit. Pria itu menggesek kapaknya ke beberapa benda sampai suara decitannya membuat tubuh Sakura bergetar.
"Puss, dimana kau?"
Bayangan lelaki itu semakin dekat. Tepat berada di samping meja. Sakura merunduk dalam. Bahkan, ia dapat melihat ujung sepatu kulit pria itu sambil membekap mulutnya.
"Apa yang kaulakukan di situ, Naruto?" Tiba-tiba suara seseorang menghentikan langkah kaki pria dengan kapak itu. Sakura tidak bisa bernapas lega. Justru ia semakin tercekat.
Suara itu. Ia pernah mendengar suara itu beberapa jam yang lalu. Suara khas yang lembut. Suara yang membuatnya terpaku ketika si empunya melafazkan beberapa ayat suci. Kali ini Sakura benar-benar menangis. Ia menggeleng saat air matanya jatuh hingga ke bibir.
"Tadi aku mendengar suara berasal dari tempat ini, Sasuke! Kudengar juga, tadi sore ada seseorang berambut pink datang ke rumah ini," kata Naruto yang memakai topeng putih polos. "Tapi, mungkin hanya perasaanku saja."
"Naiklah!" sahut pria yang berdiri di depan pintu ruang bawah tanah. "Di atas lebih menyenangkan dengan membunuh banyak orang."
"Ok." Naruto mengangguk dan memikul kapaknya di pundak.
Sakura dengan jelas mendengar langkah-langkah kaki itu menjauh. Suasana kembali senyap. Kini ia terisak-isak. Ia khawatir, pamannya pasti telah tertangkap. Entah apa yang akan terjadi pada pamannya? Sakura tidak ingin pamannya mati.
"Paman Kakashi," keluhnya.
Sakura berusaha untuk berdiri. Sebelumnya, ia melirik ke arah dinding dimana terdapat sebuah pintu keluar. Pintu itu berada di sampingnya, lebih menyerupai jendela. Ia harus menaiki bangku untuk dapat mencapai pintu itu.
Saat Sakura berdiri, seseorang dengan topeng besi memiringkan kepalanya. Orang itu berdiri di balik meja tempat Sakura bersembunyi. Dengan ukiran mata silang dan senyum lebar pada topengnya. Sangat mengerikan. Sialnya, pria bertopeng itu memergoki Sakura.
"Ini dia kucingnya," kata orang itu.
Sakura terpaku dan menoleh pelan ke belakang. Ia hampir lupa caranya bernapas karena terlalu terkejut. Saat ia benar-benar berhadapan dengan pria itu, tangannya melemas. Ia bahkan tidak sanggup untuk mengacungkan pistolnya ke hadapan pria bertopeng besi itu.
"Kau?" desis orang itu. Terdengar seperti nada terkejut. "Gadis itu?"
"Aku masih tidak menyangka kau menjadi bagian dalam purge, Sasuke." Sekuat hati, Sakura memberanikan diri untuk menyebut nama pria itu. Pria yang membuatnya tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Sudah lama aku menunggu malam ini. Malam dimana orang-orang dibebaskan untuk saling membunuh," sahutnya.
"Tapi, kenapa harus Paman Kakashi?" seru Sakura.
"Oh, dia Pamanmu? Jadi ... karena aku ingin membalaskan dendam keluargaku," jawabnya dingin dan mendekat. Sakura perlahan mundur dan mengacungkan pistolnya ke arah Sasuke. "Tiga tahun lalu, terdapat kasus dimana bandar narkoba terbesar di kota ini tewas di tangan seorang polisi muda. Bertahun-tahun pihak Kepolisian Negara Bagian mencari keberadaan bandar itu yang bahkan lebih tersembunyi daripada seorang teroris. Tapi Kakashi ... berkat kepemimpinannya sebagai sersan saat itu, membawa angin segar bagi kepolisian Los Angeles untuk mengendus keberadaan bandar narkoba itu hingga dia tertangkap."
Berangsur mundur, Sakura tidak menyadari bahwa ia sudah berada di tepi dinding. Ia tersudut ke dinding dingin dan gelap itu. Perlahan, ia menempatkan mulut pistol di depan wajah Sasuke di balik topeng besi.
Memiringkan kepala, Sasuke melanjutkan, "Bandar narkoba itu bernama Uchiha Fugaku. Tertangkap bersama tangan kanannya yang merupakan anaknya sendiri, Uchiha Itachi. Mereka adalah ... ayah dan kakakku. Dua orang yang kucintai di dunia ini, kau tahu itu? Tepat di saat malam supermoon."
Sakura meneguk kasar air liur yang tercekat di tenggorokannya. Ia tetap menyodorkan pistol ketika Sasuke mendesis dan mendekat.
"Bukankah kau menyukainya?" bisik Sasuke dan membelai pipi Sakura dengan pisau besar di tangannya. "Bulan yang bersinar terang. Mungkin kita harus berjalan-jalan ke luar bersama, Sakura. Bulannya sangat indah."
"Mundur!" bentak Sakura. Mulut pistol berada di kening topeng besi Sasuke. "Jika tidak, aku akan menembak!"
"Tembak saja jika kau berani," Sasuke memiringkan kepala ke kiri dan ke kanan, "seperti apa yang Kakashi lakukan padaku tadi. Dan dia ... mati."
Sasuke menangkap tangan Sakura yang memegang pistol dengan gerakan cepat. Ia mengarahkan pistol itu ke atas ketika Sakura menarik pelatuknya. Suara tembakan terdengar. Sakura memekik kesakitan ketika Sasuke mencengkram tangannya hingga memerah.
"Lepaskan!" Sakura terus menembak tanpa arah.
"Mungkin kau juga harus mati bersama Pamanmu."
"Lepaskan aku!"
Ketika cengkraman di pergelangan tangan Sakura semakin kuat, gadis itu mengayunkan kakinya ke selangkangan Sasuke membuat pria itu memekik kesakitan.
"Bitch!" bentaknya tertunduk-tunduk. Sasuke melepas Sakura hingga gadis itu terbebas.
Tanpa menyiakan kesempatan, Sakura menarik meja usang di sampingnya menghimpit dinding. Menaiki meja itu, Sakura berusaha keluar melalui pintu kecil yang hanya muat satu orang—terbuat dari kayu. Sasuke melotot melihat gadis itu akan melarikan diri. Ia berusaha menarik kaki Sakura yang tertinggal, tetapi gadis itu menendang kepalanya.
"Brengsek!" umpat Sasuke.
Akhirnya Sakura benar-benar terbebas. Namun dengan begitu, bukan berarti pelariannya akan baik-baik saja. Deru degub jantungnya yang menggila semakin bertambah ketika gadis itu melihat jauh beberapa blok dari rumah pamannya, satu rumah terbakar. Jalan kota yang mencekam, bahkan anjing peliharaan warga sekitar terlihat mati terbantai di tepi-tepi jalan.
Sakura menangis, tetapi ia bertekad untuk hidup malam ini. Dari samping rumah Kakashi, Sakura masih bisa mendengar dengan jelas keributan di depan rumah pamannya. Itu pasti rombongan gangster Sasuke.
"Aku harus segera melarikan diri dari sini," ujarnya seraya menghapus air mata. Namun, ketika ia hendak pergi, Sakura sadar ada sesuatu yang hilang. "Sial, pistolku terjatuh di dalam ruang bawah tanah tadi."
Punah sudah senjata perlindungan Sakura. Memilih untuk bertahan hidup di malam purge tanpa pistol, Sakura segera berlari bersama langkah cepatnya. Harus lewat mana? Jalan aspal komplek? Bunuh diri. Sakura pasti akan ketahuan. Akan tetapi, tidak ada jalan lain. Mengambil ancang-ancang, melirik ke kanan dan ke kiri bahwa tidak ada seorang pun yang melihatnya, ia berlari ke jalan beraspal itu.
Di sisi lain, Sasuke mengumpat penuh amarah. Rekan-rekannya datang menuju tempatnya di mana ia masih berdiri, di ruang bawah tanah rumah Kakashi.
"Ada apa, Sasuke?" tanya seorang pria berambut orange dengan topeng badut. "Kami mendengar suara tembakan."
"Perempuan itu," sahut Sasuke seraya menggeram, "aku akan menangkapnya."
Naruto yang baru tiba, berdiri di depan pintu masuk ketika Sasuke melangkah menaiki tangga.
"Kau melihatnya juga? Perempuan manis berambut merah muda?" tanya Naruto.
"Bantu aku menangkapnya, tapi jangan sentuh dia!" ujar Sasuke memberi perintah. Pria itu meregangkan lehernya bergerah ke kiri dan ke kanan. "Dia bagianku."
"Bajingan! Kau mau apa, hah?" tanya pria bertopeng lainnya bernama Suigetsu.
Menekan tombol di pisau lipatnya lalu kembali memasukannya. Menekan lagi dan masuk, mata pisau berkilat-kilat keluar-masuk seperti sorot tajam Sasuke penuh gairah.
"Memberinya pertunjukkan luar biasa di malam purge," sahut Sasuke. "Kematian Paman tercinta, Chief Hatake Kakashi."
..o0o..
Sakura sudah tidak tahu sudah seberapa jauh ia berlari. Deru napasnya yang terengah-engah menandakan ia sudah cukup lelah dalam pelariannya. Sesekali Sakura harus bersembunyi ketika ada suara mobil yang lewat. Sakura mengira mereka pasti orang jahat, sebab hanya mereka yang berkeliaran di malam purge yang penuh darah.
Kota yang kacau. Dari ujung ke ujung, Sakura bisa mendengar meskipun hanya samar, suara menjerit orang-orang yang terdengar menderita. Sakura hampir gila mendengarnya. Ia mendongak tatap langit malam, bulan bersinar terang. Baru kali ini ia melihat bulan yang biasa indah semenakutkan itu.
"Ibu, Ayah, Paman, aku mau pulang." Ia mengeluh.
Sudah terlambat jika Sakura menginginkan kehangatan rumah saat ini. Bayangannya pada jam-jam malam seperti ini ialah tidur di ranjang yang empuk dan hangat. Dengan buku novel favorit serta sedikit lagu sendu yang akan menemani malam-malam damainya. Bukan ketakutan mencekam seperti ini. Jerit tangis dan rintih. Belum lagi nyawanya pun terancam.
Seketika ia mengingat salib pemberian Sasuke yang mengalung di lehernya. Ia menarik kalung itu hingga putus dan melempar salibnya ke sembarang arah.
"Omong kosong! Bagaimana bisa 'dia' mendoakan untuk keselamatanku sementara dialah orang yang berniat untuk membunuhku?"
Kembali, Sakura terisak-isak. Ia berjongkok di samping gedung yang terlihat tidak berpenghuni. Membenam wajahnya di lutut, Sakura menangis. Detik berikutnya terkejut, ia mendengar suara mobil mendekat dengan gema tawa mengerikan yang membuat Sakura meremang.
Sorot lampu mobil itu begitu terang, bahkan nyaris menyinari Sakura jika saja gadis itu tidak segera menghindar dan bersembunyi di balik gedung. Dari jarak beberapa meter, ia dapat melihat mobil tanpa atap itu diisi oleh sekumpulan pria bertopeng dengan senjata api. Mobil itu berjalan lambat dan di belakangnya terdapat tali yang menghubungkannya pada sesuatu.
"Paman?" Sesak di dada Sakura saat ia melihat pemandangan yang tidak sepantasnya ia lihat. Begitu keji, air mata Sakura mengalir karenanya.
Di belakang mobil itu, mereka mengikat Kakashi pada kedua pergelangan tangannya dan menyeret kepala kepolisan Los Angeles itu. Langkah kaki Kakashi terseok-seok mengimbangi laju mobil sementara tubuhnya sudah dipenuhi darah dari luka basah. Ditambah pria bertopeng di atas mobil itu menembaki aspal di mana kaki Kakashi berpijak. Di balik gedung, Sakura ingin sekali berlari menyelamatkan pamannya, tetapi apa yang bisa ia lakukan? Justru ia akan tertangkap jika berlari ke sana.
"Paman, maafkan aku."
Di atas mobil, mata tajam Sasuke masih tetap berusaha mencari keberadaan Sakura. Ia sengaja memancing gadis itu keluar dengan cara memamerkan Kakashi yang terluka.
Sasuke berkata nyaring, "Keluarlah, Nona. Aku tahu kau ada di dekat sini. Apa kau tidak ingin menyapa Pamanmu, Kakashi?"
Tubuh menegang di balik dinding persembunyiannya, Sakura pikir Sasuke sudah tahu keberadaannya sekarang.
Pria itu melanjutkan, "Atau kau ingin merelakan Pamanmu mati di tengah jalan?"
"Jika kau tidak keluar, akan kukeluarkan isi kepala Pamanmu ini!"
"Satu!"
" Dua!"
"Ti—"
Prang!
Semua orang di atas mobil termasuk Sasuke menoleh ke arah suara. Sakura berhasil mengalihkan perhatian mereka sebab kini sebagian dari gerombolan itu berlari menuju tempat di mana suara berasal. Rupanya gadis itu melempar kaleng kosong yang ia dapat di tempat sampah berlawanan dari tempatnya berpijak.
Saat Sakura mengintip dari balik dinding, ia melihat beberapa orang tidak ada di atas mobil. Hanya menyisakan dua orang. Bahkan, ia tidak melihat Sasuke di sana. Di tangan kanan Sakura masih memegang satu kaleng yang rencananya akan ia lempar lagi untuk mengalihkan perhatian orang yang tersisa di atas mobil. Lalu Sakura akan berlari ke arah Kakashi dan menyelamatkannya.
Namun, baru satu langkah Sakura hendak berpindah tempat, dari belakang, pisau mengkilap bertengger mengurung lehernya. Pria topeng besi dengan seringai mengerikan terukir, berada di samping kepala Sakura. Gadis itu tahu siapa 'dia'.
Jantung hampir melompat keluar. Napas tersengal. Tangan melemas dan tubuh bergetar. Sakura meringis ketakutan ketika lima centi lagi mata pisau bisa menggorok lehernya.
Sasuke, di balik topeng menggesek kepalanya di helai-helai rambut harum Sakura. Dan mengecup pundak gadis itu melalui bibir topengnya.
"Jangan bergerak, Sakura. Sedikit saja ... dan hampir saja kau melawan, maka bukan hanya Pamanmu yang terluka karena pisau ini," bisik Sasuke lalu menarik Sakura lebih ke dekapan yang dalam, "tapi tubuhmu juga. Wajah cantik ini, rambut lembut ini, tubuh indah ini, tidak akan jauh berbeda dengan bangkai lainnya di kota ini esok paginya. Kuharap kau dengar itu, Sweetheart."
TBC
A/N : Zzzz v
