CHAPTER 6

.

.

.

-= Wish =-

.

.

.

~ A story by shimizudani ~

.

.

.

All Cast is God's and Theirself

.

.

.

13 tahun yang lalu.

Seorang bocah berusia lima tahun terlihat membolak-balik buku di depannya. Posisinya tengah tengkurap di sebuah sofa panjang dengan televisi yang menyala di ruangan tempatnya berada saat ini. Raut bosan nampak di wajahnya. Jelas bahwa bocah itu tak senang dengan apa yang dilakukannya. Ia menutup buku bergambar itu kemudian berganti posisi menjadi duduk dengan sebuah remote berada di tangannya. Ia menekan-nekan tombol remote itu, membuat tampilan layar televisi di hadapannya berubah-ubah. Rasa bosan itu kembali nampak di wajah imutnya. Tidak ada acara yang menarik.

Matanya kemudian beralih pada jam dinding yang terpasang di sana. Ia menatap malas jarum jam yang masih menunjukkan pukul dua. "Kapan Eomma pulang?" tanyanya entah pada siapa. Ia kembali merubah posisinya menjadi tiduran. Dipeluknya boneka beruang yang berada di sampingnya sejak tadi. "Kyu bosan," adunya pada sang boneka.

Ya, bocah itu adalah Kyuhyun. Saat ini dia tengah sendirian di rumahnya yang tidak terlalu besar ini. Ibunya belum pulang kerja. Biasanya bocah itu akan menunggu di rumah Kibum. Tapi sejak tiga hari yang lalu keluarga Kibum pergi. Ibunya bilang, kakek Kibum sakit. Jadi dia terpaksa menunggu kepulangan ibunya di rumah. Sendirian. Tanpa ditemani siapa pun.

Ibunya sudah mewanti-wanti dengan banyak hal yang harus dipatuhi Kyuhyun. Langsung mengunci pintu setelah pulang merupakan salah satunya. Ia juga harus tetap di rumah sampai ibunya pulang dan tak diizinkan untuk pergi ke mana pun. Ada lagi. Ibunya bilang, jika ada yang menekan bel atau mengetuk pintu, jangan dibuka. Pura-pura saja tidak mendengar, begitu katanya. Jangan menyalakan kompor, bermain api, dan masih banyak lagi. Intinya yang bisa dilakukannya hanya menonton televisi, membaca buku, menggambar, makan, dan tidur—seperti yang dilakukannya kemarin-kemarin.

Perlahan mata bocah itu menutup. Rasa bosan membuatnya mengantuk. Dan rasa kantuk telah mengalahkan keinginannya untuk tetap terjaga menunggu ibunya pulang. Tak lama kemudian dengkuran kecil itu mulai terdengar dari bibir mungilnya.

Dua jam sudah Kyuhyun tertidur. Namun suara televisi yang masih menyala, membangunkannya dari tidur siangnya. Dengan malas ia bangun. Ia mengucek pelan kedua matanya di antara kesadarannya yang belum sepenuhnya terkumpul. Satu hal yang dirasakannya. Lapar. Ia pun beranjak dan mulai berjalan ke dapur, tempat ibunya meninggalkan makanan untuknya. Diambilnya dua potong brownies dari dalam kulkas. Satu tangannya membawa piring kecil berisi brownies sementara tangan satunya sibuk menyuapi mulutnya dengan kue cokelat itu seraya berjalan kembali ke tempat tadi.

Belum ada dua menit Kyuhyun duduk, terdengar kegaduhan dari arah luar. Biasanya ia memilih cuek dan tidak peduli dengan suara tersebut. Ditambah dengan larangan ibunya, ia tentu tak akan berani membuka pintu demi memuaskan rasa penasarannya. Tapi tidak untuk kali ini. Ia merasa tertarik. Dan rasa ketertarikan itu bahkan telah membuatnya melakukan larangan ibunya serta keluar melalui satu-satunya pintu yang menghubungkannya dengan dunia luar.

Apa yang dilihatnya di luar? Hanya sekumpulan orang yang berkumpul di depan rumahnya. Ada yang berdiri. Ada pula yang berjongkok. Samar-samar ia juga melihat seseorang yang tertidur di sana. Jika bukan karena rasa kahawatir yang nampak di wajah orang-orang tersebut, Kyuhyun pasti lebih memilih untuk kembali ke dalam rumah. Perlahan ia berjalan mendekat. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah, ... , dan di langkah keduapuluh ia telah bergabung bersama mereka.

Memang benar apa yang dilihatnya tadi. Ada seorang wanita yang tertidur di sana. Tidak. Bukan tidur, sepertinya. Mata wanita itu terpejam, tapi darah tak berhenti keluar dari luka di kepalanya. Dan seorang pria yang tengah menekan-nekan dada sang wanita—melakukan CPR lebih tepatnya—menandakan bahwa terjadi sesuatu padanya. Tidak mungkin ada orang yang mau tidur di pinggir jalan dengan orang-orang yang mengerubunginya, bukan?

"Panggil ambulance," ujar pria yang sudah berulang kali melakukan CPR pada sang wanita. Pria lain yang berdiri tak jauh darinya, menuruti perintah itu kemudian mengambil ponsel dan menghubungi ambulance.

Tak ada yang menyadari kehadiran Kyuhyun. Mereka terlalu sibuk mengkhatirkan sang wanita hingga tak melihat kehadiran putranya yang juga berada di sana. Kyuhyun, bocah itu tentu sangat shock melihat kejadian ini. Terutama kenyataan bahwa wanita yang tertidur, wanita yang berdarah, dan wanita yang sedang diberikan CPR adalah wanita yang ia tunggu sejak tadi. Ya, wanita itu adalah ibunya. Bulir-bulir bening mulai membasahi pipinya.

"Eomma," raungnya kalap, menghampiri wanita yang masih tertidur itu dengan air mata yang mengalir deras. Orang-orang yang meilhatnya pun sadar bahwa ada orang lain yang juga harus mereka khawatirkan.

Flashback end

.

.

.

Kyuhyun, Kibum, dan ayahnya telah berada di rumah sakit saat ini. Mereka duduk di depan ruang UGD dengan gelisah. Seseorang tengah terbaring di dalam ruang tersebut dengan beberapa dokter dan perawat yang juga berada di sana. Orang itu adalah orang yang penting bagi mereka, terutama Kyuhyun. Orang itu adalah kakaknya, Sungmin.

Setengah jam telah berlalu sejak kecelakaan itu. Namun ketakutan itu masih Kyuhyun rasakan. Ia dapat melihat tangannya bergetar pelan. Tidak sehebat tadi, memang. Untung saat kecelakaan itu, Kibum menyadarkannya sehingga otaknya mampu menguasainya lebih dari ketakutannya. Walaupun setelahnya, gemetar di tangannya bertambah hebat tatkala terlintas di pikirannya kejadian yang sama yang pernah dilihatnya dulu. Seseorang tertidur dengan darah di tubuhnya dan orang lain yang melakukan CPR padanya. Bedanya, yang dilihatnya dulu adalah ibunya dan sekarang adalah kakaknya.

Tiba-tiba salah satu tangan Kibum berada di atas tangannya. "Kau masih takut?" tanyanya masih menggenggam tangan Kyuhyun, berusaha menyalurkan keberanian untuk pemuda itu.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia hanya diam. Namun Kibum tahu jika perasaan pemuda itu tengah berkecamuk saat ini. Ia juga tahu bahwa kejadian ini telah membuka luka lama sahabatnya, membuka kenangan pahitnya, dan memaksanya mengingat detail kejadian yang pernah terekam jelas melalui obsidian cokelatnya. Sayang, Kibum tak berada di sana saat kejadian itu terjadi. Keluarganya hanya mendapat telepon yang mengabarkan bahwa ibu Kyuhyun meninggal. Kaget, tentu saja. Keluarganya memang berencana kembali, tapi tidak pernah ingin disambut dengan kabar buruk tersebut. Ia tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Kyuhyun yang harus mengalaminya di saat tak ada seorang pun orang terdekatnya di sampingnya. Dan sikap Kyuhyun setelahnya yang tak mau bicara selama seminggu, membuatnya menyesal. Kenapa ia harus meninggalkan Kyuhyun saat itu?

"Kita berdoa saja semoga tidak terjadi hal buruk pada Sungmin," ujar ayah Kibum.

Ayah Kibum benar. Kyuhyun harusnya berdoa, mengharap kesembuhan kakaknya, bukannya gemetar ketakutan seperti ini. Ia pun menutup mata dan mulai berkata dalam hati—meminta Tuhan untuk menyelamatkan Sungmin. Kibum yang melihatnya, mengikuti Kyuhyun—memejamkan mata dan berdoa. Tangan mereka masih bertautan, seolah saling memberi kekuatan.

Di tengah keheningan yang tercipta di antara mereka, samar-samar terdengar derap langkah kaki dari kejauhan. Semakin lama suara itu makin terdengar jelas menandakan bahwa langkah kaki itu menuju ke arah mereka. Langkah itu bukan hanya milik seseorang. Kyuhyun tidak tahu pasti berapa, tapi ia yakin ada lebih dari dua orang. Dan memang benar. Siwon, Donghae, ayah, dan ibunya telah berdiri tak jauh dari mereka.

Kyuhyun langsung berdiri menyambut kedatangan keluarganya di sana. Kibum ikut berdiri dan sedikit membungkuk pada mereka. Begitu pula dengan ayahnya yang juga ikut berdiri. Tapi mungkin keluarga Kyuhyun terlalu cemas sehingga tak ada yang membalas salam mereka. Ya, terlalu cemas hingga Nyonya Lee berjalan mendekati Kyuhyun dan ... .

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan Kyuhyun. Tamparan itu berasal dari Nyonya Lee yang mau tak mau memberi efek kejut pada Kibum dan ayahnya serta orang-orang yang berdiri di sana. "Ini semua karenamu. Apa yang sudah kau lakukan pada Sungmin?" raung Nyonya Lee marah. Tuan Lee dengan segera berdiri di antara mereka dan membawa istrinya menjauh. Tidak mudah. Istrinya terus meronta, berusaha melepaskan diri. "Dasar anak tidak tahu diri!" Ia terus memaki Kyuhyun. "Apa yang terjadi dengan Sungmin?" teriaknya frustasi.

Kibum melirik sahabatnya yang hanya diam. Pipi kanannya memerah akibat tamparan tadi. Ia khawatir, tentu saja. Tapi ekspresi datar yang ditunjukkan Kyuhyun lebih membuatnya khawatir. Tak ada raut kesedihan, kekecewaan, atau kemarahan di sana. Pemuda itu bahkan tidak melawan atau membela diri menerima cacian itu. Wajah itu seolah menunjukkan bahwa Kyuhyun biasa mendapat perlakuan seperti ini. Kibum menggelengkan kepalanya pelan. Tidak. Tidak mungkin itu terjadi. Semoga instingnya salah kali ini

Ayah Kibum menjadi orang kedua yang menengahi mereka. Pria itu berdiri di depan Kyuhyun, menutupi tubuhnya dan melindunginya. "Apakah seperti ini perlakuan Anda pada Kyuhyun?" tanyanya tajam. "Saya menitipkan Kyuhyun pada kalian bukan untuk melihatnya diperlakukan seperti ini," ujarnya lagi dengan penuh penekanan di setiap katanya.

Mendengar itu, Tuan Lee membungkuk dalam di hadapan ayah Kibum. "Maafkan kami," ujarnya meminta maaf. Ia kemudian menenangkan istrinya dan menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu di lorong itu. Ruang tunggu itu kini terbagi menjadi dua kubu. Satu sisi diisi keluarga Sungmin sementara di hadapan mereka ada Kibum dan ayahnya serta Kyuhyun.

Lebih dari dua jam, pimtu UGD terus tertutup. Perawat yang keluar-masuk dari pintu itu, tak mau berbicara sepatah kata pun. Orang-orang di sana juga tak mau mengganggu kegiatan sang perawat karena jika mereka mengganggunya, pasti akan mengganggu pekerjaan dokter di dalam sana yang sedang berusaha menyelamatkan Sungmin, bukan?

Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari pintu tersebut. Keluarganya langsung saja menghampiri sang dokter untuk mengetahui keadaan Sungmin. "Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Nyonya Lee khawatir.

Sang dokter yang masih mengenakan seragam birunya—seragam operasi—menatap satu-persatu orang-orang di ruang tunggu itu. Ia dapat melihat dengan jelas kekhawatiran di wajah mereka. Dan ia tidak yakin berita yang akan disampaikannya mampu menghilangkan raut khawatir itu, atau justru akan menambahnya. Tapi sebagai seorang dokter, ia tetap harus menyampaikan kondisi pasien pada walinya. Seburuk apa pun kondisinya.

Dokter itu menarik nafas dalam—seolah sedang mengumpulkan kekuatan. "Pasien mengalami gegar otak ringan." Ia mulai berucap, menimbulkan sedikit kelegaan karena menyebut kata 'ringan'. "Tapi akibat benturan yang keras, organ hatinya mengalami kerusakan. Dan itu membuat kondisinya kritis sekarang," lanjutnya yang menghilangkan kelegaan yang sempat hinggap di hati mereka.

Nyonya Lee adalah orang yang paling shock mendengar penuturan sang dokter. Ia tak mampu berkata apa-apa. Bahkan air matanya semakin deras mengalir. "Tidak... Tidak..." Ia mulai bergumam. Sesuatu dalam otaknya menolak mempercayai berita yang baru didengarnya.

Semua orang yang ada di sana tak kalah terkejut dari Nyonya Lee. Namun mereka memilih diam dan menyimak penuturan dokter selanjutnya.

"Untuk menyelamatkannya, kita harus secepatnya mendapatkan donor hati." Dokter itu kembali berucap. Terselip nada putus asa dalam suaranya.

"Kalau begitu segera selamatkan Sungmin. Selamatkan anak saya, Dok!" racau satu-satunya wanita di sana.

"Masalahnya tidak mudah mencari donor hati. Harus masuk daftar antrian dan menunggu untuk waktu yang tidak sebentar," jelas sang dokter. "Kecuali kita mendapatkan donor hidup," tambahnya memberikan pilihan lain.

"Bagaimana caranya?"

"Salah satu keluarganya bisa menjadi donor hidup tersebut. Tapi kita harus melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Apa kalian bersedia?"

"Tentu saja, Dok. Apa pun itu, tolong selamatkan anak saya." Kali ini Tuan Lee yang berbicara.

"Mari ikut saya," ujar sang dokter lalu berjalan menjauhi ruang UGD, diikuti oleh ayah dan ibu Sungmin serta Siwon—yang memberikan tatapan tajamnya pada Kyuhyun sebelum pergi—dan Donghae. Menyisakan Kyuhyun, Kibum dan ayahnya yang hanya diam mematung melihat kepergian mereka.

.

.

Dua hari telah berlalu sejak kejadian itu. Kyuhyun masih tetap tinggal bersama keluarga Kibum. Sebenarnya ayah Kibumlah yang menahannya untuk tetap tinggal. Apalagi setelah melihat perlakuan buruk Nyonya Lee padanya, ayah Kibum menolak keras keinginan Kyuhyun untuk kembali ke rumahnya. Bahkan saat ia meminta bantuan Kibum, pemuda berkacamata itu hanya menjawab, "Ayah sudah lama ingin kau tinggal dengan kami, Kyu."

Kyuhyun yang tak pernah dikekang selama tinggal dengan keluarganya, sekarang harus merasakan kebebasannya sedikit terenggut. Ia tahu ayah Kibum tak menyukai keluarganya. Ralat. Sikap keluarganya. Sejujurnya, ia sendiri juga tak menyukai sikap mereka. Tapi mau bagaimana, lagi? Mereka tetap adalah keluarganya, yang memiliki darah yang sama dengannya. Kenyataan itu tak dapat dibantah. Yah, walaupun ikatan keluarga itu terasa lebih dekat bila bersama keluarga Kibum.

Kyuhyun melirik Kibum yang berada di sampingnya. Mereka kini sedang berjalan beriringan menuju rumah sakit. Rumah sakit berlantai tujuh yang didominasi warna putih itu merupakan tempat Sungmin di rawat. Ia merasa lega. Setidaknya ia masih diizinkan untuk mengunjungi kakaknya. Dan itu artinya ia juga akan bertemu keluarganya di sana.

Mereka baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu masuk rumah sakit ini sebelum Kyuhyun menangkap sosok berjas putih melalui sudut matanya. Ia menyipitkan matanya demi lebih mengenali orang tersebut. Ia tidak salah. Dokter itu adalah dokter yang menangani operasi Sungmin kemarin—yang juga menyampaikan kondisinya pada keluarganya. Tanpa pikir panjang, ia menghampiri sang dokter dengan Kbum yang mengikuti di belakangnya.

"Selamat siang, Dok," sapa Kyuhyun ramah.

Dokter yang bernama Park Jungso itu menghentikan aktivitasnya sejenak, menoleh ke sumber suara, dan mendapati dua pemuda berseragam sekolah tengah berdiri di hadapannya. Ia memiringkan kepalanya, berusaha mengenali mereka. "Maaf. Kalian siapa?" Ia akhirnya bertanya.

"Saya Kyuhyun, Dok. Keluarga Sungmin," ujar Kyuhyun memperkenalkan diri.

Dokter muda itu manggut-manggut. Ia ingat sekarang. Ia pernah melihat mereka menunggu pasien yang dioperasinya dua hari yang lalu. Sungmin, nama pasien itu. Pantas wajah mereka terasa tak asing.

"Bagaimana keadaan Sungmin Hyung, Dok?"

Sang dokter kembali menatap kedua pemuda itu. Tersirat raut penyesalan di wajahnya. Apa mereka belum tahu? "Kondisi Sungmin masih kritis. Kami memprioritaskannya untuk segera mendapatkan donor hati," ucapnya setenang mungkin.

Kyuhyun dan Kibum saling pandang. Dahi mereka berkerut. "Bukankah sudah ada pendonor hati untuknya?" Kali ini yang bertanya adalah Kibum.

Dokter Park menggeleng, pasrah. "Tidak. Keluarganya tidak bisa menjadi pendonor. Usia ayah dan ibunya tidak memungkinkan melakukannya. Siwon memiliki golongan darah yang berbeda. Sedangkan Donghae... Kami sudah melakukan pemeriksaan padanya. Golongan darahnya memang sama. Tapi kami menemukan virus di hatinya," jelasnya panjang lebar.

"Virus? Apakah parah?" tanya Kyuhyun setengah tak percaya. Ia cukup terkejut mendengar penuturan sang dokter. Kakaknya, Donghae terkena virus?

"Tidak. Virus itu masih dalam masa inkubasi. Dia hanya perlu minum obatnya selama beberapa hari."

Helaan nafas keluar dari bibir Kyuhun. Begitu pula dengan Kibum yang juga merasa lega. Donghae akan baik-baik saja. Setidaknya tak ada tambahan orang yang perlu dikhawatirkan sahabatnya, bukan? Namun sedetik kemudian ia tersadar. "Lalu bagaimana dengan Sungmin Hyung?" Pertanyaan itu diutarakan dengan lancar oleh sang pemuda berkacamata.

Dokter Park menarik nafas yang dihembuskannya dengan berat. "Seperti yang sudah saya katakan, kita harus menunggu donor hati tersebut. Kami sudah memprioritaskannya." Sang dokter kembali mengulang penjelasannya.

Kedua pemuda itu diam. Kibum memperhatikan sahabatnya yang berdiri di sampingnya. Kyuhyun terlihat berpikir. Dahinya berkerut dan alisnya bertumpu menjadi satu—menandakan bahwa ia sedang berpikir keras. Tapi tiba-tiba ia menoleh. Ditatapnya Kibum, menyebabkan obsidian cokelatnya bertemu dengan manik hitam milik Kibum.

"Saya permisi dulu."

Bahkan perkataan sang dokter tak mampu mengusik apa yang mereka lakukan. Mereka hanya berdiri, diam, dan saling menatap. Kibum mengamati dengan seksama pandangan mata Kyuhyun, menelisik maksud di baliknya. "Jangan lakukan," ujarnya masih dengan tatapannya yang tak lepas dari Kyuhyun.

"Tak ada cara lain, Bum-ah," balas Kyuhyun yang juga tak mengalihkan pandangannya.

"Jangan."

"Harus, Kibum. Dia keluargaku," tegas Kyuhyun.

Sorot keyakinan itu terpancar jelas di mata Kyuhyun. Membuat Kibum tak melanjutkan bantahannya. Ia menghela nafas keras yang menunjukkan ketidaksukaan atas keputusan yang diambil sahabatnya itu. Ucapan terakhir Kyuhyun memang benar. Sungmin adalah keluarganya. Namun pernahkah Kyuhyun memikirkan dirinya sendiri? Setidaknya pernahkah Kyuhyun memikirkan Kibum? Ia begitu mengkhawatirkan pemuda itu. "Aku tak setuju kau melakukannya," ujarnya kesal.

"Aku tak perlu persetujuanmu, Kim Kibum."

Kibum tersentak. Rasa kecewa mulai menjalari tubuhnya. Sebegitu eratkah hubungan darah itu? Bahkan persahabatannya sejak kecil tak dianggap olehnya. Ia ingin mendukung apa pun keputusan Kyuhyun. Tapi tidak untuk kali ini. Tidak dengan tubuhnya itu. Ia tak akan menyetujuinya. "Kalau begitu, lakukan sesukamu," katanya dingin.

Kyuhyun menatap Kibum—menemukan raut kecewa di wajahnya—sebelum ia mulai beranjak meninggalkannya. Sungguh, ia tak ingin mengecewakan pemuda itu. Kibum adalah satu-satunya sahabatnya—orang terdekatnya melebihi keluarganya. Tidak. Kibumlah keluarganya. Keluarga sejatinya. Tapi darah ini... Ia tak bisa menghapus ikatannya dengan Sungmin walau keinginan itu begitu besar.

Kibum memperhatikan punggung Kyuhyun yang menjauhinya. Ia tersenyum getir. Pemuda itu benar-benar mengacuhkan pendapatnya. Hanya satu yang bisa ia lakukan sekarang. Berdoa. Mengenyahkan semua pikiran negatif yang melintas di benaknya. "Semoga bukan kau orangnya," ucapnya di sela-sela doanya. Sejujurnya, ia memiliki perasaan tak enak mengenai keputusan sahabatnya ini.

.

- Chapter 6 End -

.

Special Thanks To:

mifta cinya | ameliachan | gnagyu | Wonhaesung Love | Rahma94 | kyuli 99 | kimura shiba | sofyanayunita1 | Raein13 | yolyol | Aisah92 | hyunnie02 | Fitri MY | kim min soo | gaemgyulah | Sparkyubum | Puput | mauleiaicha | GaemGyu92 | Gyurievil | kyuboss | ChoRara | Guest yang tidak menyebutkan nama

(Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama)

Hai...

Maaf aku gak nepatin janji buat update tahun depan. Lagi sedikit senggang dan mumpung ingat, jadilah nulis lanjutan Wish. Gimana? Gimana? Kalian puas gak dengan chapter ini?

Makasih untuk para reader dan reviewer yang masih berkenan untuk membaca FF ini. Kabar baik (atau mungkin kabar buruk (?)), Wish sebentar lagi akan tamat! Dan setelahnya project untuk menyelesaikan FF Memories :D

Oh ya, ada yang punya akun Wattpad kah? Aku lagi suka baca cerita di sana. Jika berminat, bisa follow aku. Username: shimizudani

See you in the next chapter ^_^