Vocaloid © Crypton Future Media, Yamaha, Internet, etc. No commercial profit taken.
Dilema
by akanemori (id: 4479325)
Piko menyukai manis, semua orang tahu itu.
Tidak mengherankan kalau ia juga pandai memasak sweets, tidak heran juga kalau dia pandai dalam hal itu.
Jika ditanya alasan mengapa ia menyukai makanan-makanan manis itu, ia akan menjawab, "Karena mama juga menyukai sweets, 'kan? Mama juga pandai membuat mereka, 'kan?" Piko bertanya dengan antusias, sang ibu tersenyum lembut mendengar pertanyaan Piko, ia lalu menepuk tempat duduk di sebelahnya,
"Duduklah anakku yang manis," Piko menurut dan duduk di tempat yang bundanya siapkan.
"Katakan," senyuman masih menggantung di wajah tirusnya, "Kenapa kau sangat menyukai sweets, Piko?"
"Karena mama juga sangaaaaaat mencintai sweets!" Piko menjawab antusias "Apapun yang mama cintai juga akan Piko cintai!"
Perempuan paruh baya itu tersenyum, "Mama dan papa memang sangat mencintai makanan manis, tetapi kau harus mencari profesi yang kamu suka dari lubuk hatimu, bukan karena mama." Ia tersenyum sedih.
Piko hanya menunduk sedih. Ah, ia tahu kalau ibunya akan membicarakan soal topik ini. Sebuah tepukan ringan seringan kertas mendarat di punggung Piko.
"Kalau kau memang mencintai sweets, cintailah ia dari dalam lubuk hatimu, Piko."
"Piko! Sudah berapa kali kau bolos les piano, hah?!"
Sebuah map besar menghantam permukaan meja kerja ayahnya, Piko hanya bisa menunduk takut.
"Pokoknya Papa tidak mau mendapat panggilan orang tua lagi. Ingat itu!"
Ayahnya menatap Piko tajam, seakan akan memangsa Piko dan menguliti Piko.
"Kata mama, aku boleh memasak sweets!" Piko menelan ludah "J-jadi aku tidak mau les piano lagi!"
Mata teal ayahnya membulat, lalu dengan kasar ia menarik rahang Piko hingga Piko menghadapnya secara sempurna. Poni Piko tidak mampu lagi menutupi kedua irisnya, poni putih itu tersibak dan menampakan warna mata yang seperti ayahnya, hanya saja lebih jernih.
"Dengar," Ia mengepal erat "Ibumu sudah tiada, Piko. Miki sudah tiada, terima saja."
Di iris hijau bening itu timbul tetesan asin, tatapan ayahnya melunak. Piko kembali menunduk, "Pembohong…."
Ayahnya mengenggam bahu Piko. Saat ia hendak memeluk Piko dengan dalam, sebuah tamparan mendarat di pipinya. Dengan amarah, Piko menampar ayahnya sendiri, ayah kandungnya.
"Maaf pa…." Piko berbalik, "Tetapi ibu masih ada, ia menungguku di kamar,"
Selanjutnya langkah mungil Piko membawanya ke kamar pribadinya.
Mikuo menundukan kepalanya, mengambil sepucuk foto yang sempat terjatuh bersamaan dengan map yang ia banting tadi. Di foto itu tercetak jelas gambaran sebuah keluarga.
Sang ibu dengan helaian merah marun dan tampak ceria memeluk anaknya. Walaupun wajahnya tampak kekanak-kanakan, namun disaat bersamaan ia terlihat dewasa. Selanjutnya seorang anak yang tampak tidak nyaman dipeluk ibunya, ia tampaknya diseret dan dipaksa untuk berfoto. Rambut peraknya sedikit menutupi matanya yang senada dengan Mikuo. Selanjutnya dirinya, yang terlihat tersenyum kalem di sebelah kedua keluarganya. Bukan salahnya, ia memang pendiam sejak dulu kala.
Foto ini berharga, setidaknya berharga sebagai kenang-kenangan penting bagi Mikuo.
Foto ini adalah kenang-kenangan keluarganya dulu.
"Aku tidak mengerti pemikiran papa," Piko bergumam sembari mengangkat kepalanya dari pelukan bantal, tampak matanya yang sembab karena menangis selama satu setengah jam tanpa henti.
"Maksudku … Mama di sini, 'kan? Mama masih ada, 'kan…?"
Sang ibunda mengangguk, membenarkan. "Mama selalu bersama Piko dan papa."
"Kalau begitu Papa harus bertemu mama!" Piko menggigit bibir bawahnya. "Papa harus bertemu mama…."
Miki menunduk sedih, "Tidak bisa…." Ia tidak ingin anaknya terluka lagi, tidak lagi. "Piko, bagaimana kalau kau membuat sebuah kue untuk papa?"
Piko menyernyit. "Untuk apa, ma?"
"Siapa tahu begitu papa merasakan masakanmu, ia tergerak dan membolehkanmu membuat sweets lebih banyak lagi! Bagaimana?" Miki tersenyum dengan ceria. Ah, sekaligus untuk memberikannya sebuah pesan.
"Tentu saja!" sedetik kemudian ekspresi Piko mengusut. "Tapi, buat apa?"
"île flottante! Itu adalah makanan kesukaan ayahmu!"
Mikuo menghela nafas, sesekali ia memijit keningnya.
Sungguh, pekerjaan menata bisnis istrinya kembali tidaklah mudah, bahkan semua waktunya terkuras hanya karena kewajibannya itu. Terlebih sekarang ia merupakan single parent. Ia jadi teringat Piko….
Apa anaknya sakit jiwa?
Jika iya, apa itu termasuk bagian dari kesalahannya?
Mikuo membuka ruangan kerjanya, dan menemukan sebuah atau bisa dibilang seiris kue putih. Bukan kue biasa bagi Mikuo.
Jantung Mikuo berdetak keras, darahnya mendesir, dan kedua bola matanya melotot. Kue ini….
"île flottante…." Mikuo menoleh ke belakangnya, Piko menatapnya dengan sedih. "Kue kesukaan papa. Mama menyuruhku untuk memberinya ke papa."
Setapak demi setapak, Piko mendekati ayahnya. Naluri Mikuo segera memeluk Piko dengan erat, ia tidak peduli kalau Piko berencana membunuhnya atau apa. Biarkan Mikuo meminta maaf seperti ini.
"Maaf, pa…." Mikuo tersentak dan menatap Piko dengan heran.
"Maaf aku sudah menampar papa…. Ini bukan salah papa…," gumam Piko. Mikuo ingin sekali berteriak atau menjerit kalau itu semua adalah salahnya. Tapi daripada itu, Mikuo malah memeluk Piko lebih erat. Ia mencurahkan rasa bersalahnya disambut dengan rasa kerinduannya.
Wajah Piko sangat mirip dengan bunga tercintanya.
Piko berusaha melepaskan pelukan ayahnya. "Ayah, aku ingin ayah memakan kue buatanku."
Mikuo mengiris kecil kue sewarna salju tersebut. Rasa susu hangat yang tercampur ringan ditambah dengan saus tebal khas Miki berpadu dengan cetakan tipis karamel merembes dari hidangan kesukaannya satu itu. Mikuo mengecap harmoni dari dilema masa lalu yang bermain di mulutnya.
Potongan kue yang mengembang sempurna di atas susu benar-benar menggambarkan sebuah pulau manis yang mengapung diatas sungai segar. Mikuo memakan kue itu dengan sendu. Bukan karena rasanya yang tidak pas dengan indera pengecapnya, tapi karena ia mengingat suatu tragedi.
Tragedi yang berasal dari kue ini adalah salahnya.
Alasan kenapa Miki meninggal.
Mikuo menjatuhkan garpunya. "Enak, Piko. Sangat mirip dengan buatan ibumu." Mikuo tersenyum tulus, sungguh tidak menyangka ia bisa merasakan kembali kue kesukaannya ini.
"Tentu saja! Ibu yang mengajarkannya langsung padaku!"
Mikuo menahan napasnya.
Lembaran-lembaran kenangan masa lalu terbuka, gambaran saat Miki berjanji akan membuatkannya Floating Island setelah konser akbarnya, gambaran dimana Miki menghancurkan ovennya dan membuat dapurnya menjadi lautan api. Dan gambaran dimana Miki ditemukan terbujur kaku karena kehabisan napas. Saat itu Piko tidak ada, saat itu Piko sedang kamping di luar.
Ini salahnya.
Seharusnya, di hari itu ia tidak meminta Miki membuatkan cemilan favoritnya.
"Papa? Kenapa papa menangis?" Mikuo menyentuh pipinya. Ah, ia menangis.
Mikuo menggeleng lalu tersenyum "Ini … benar-benar mirip dengan punya ibumu, dan ini adalah makanan yang merenggut nyawa ibumu." Ah, tidak. Mikuo tidak berani melihat wajah Piko yang menangis.
"Aku tahu, Pa."
Piko tersenyum. "Ibu yang bilang, ia akan bersama kita! Walaupun itu berarti ia tidak berwujud, tetapi ia ada disini!"
Mikuo mengelus puncak Piko. "Mungkin papa harus berpikir seperti itu juga. Terima kasih sudah menghibur papa, Piko."
Piko tersenyum di dalam dekapan Mikuo dan menatap ke arah pintu. Mikuo bingung, lalu menatap ke arah yang dilihat Piko.
Manik Mikuo membulat
"Lihat Mikuo! Aku sudah menepati janjiku, 'kan? Kau akan tersenyum lagi, 'kan, kalau memakan île flottante?"
