My Love Certain Come Back Chap 7 of?
Title : My Love Certain Come Back
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Angst
Rating : T(bisa berubah seiring jalannya cerita)
Main Pairing : HaeHyuk/Kyumin slight KyuHyuk/HaeMin
DISCLAIMER : HaeHyuk/KyuMin hanya milik Tuhan dan orangtuanya, kecuali FF ABAL ini Cuma punya author SEORANG…
WARNING : AU, YAOI, BL, TYPO(s), dll
A/N : Kamshahamnida sudah menyempatkan waktunya untuk membaca fanfic saya yang ANEH ini. Mekipun banya SIDERS, tapi saya bersyukur masih ada yang mau membaca dan meninggalkan jejak nya meski sedikit :D Read it? Don't forget to RCL my fanfic
Jeongmal kamshahamnida ^^
Summary : 'Akankah kita bersatu lagi? Tuhan… Tolong jawab aku! Aku akan selalu mencintanya. Itulah janji seumur hidupku"
Happy Reading
Last Chapter
"Kyu… hikss… jebal~ ampuni aku Kyu~~" Ryeowook meremas pakaian bagian jantung nya, seolah-olah ia sedang meremas jantung nya secara langsung tatkala mendengar teriakan yang amat memilukan dari dalam kamar. Ingin sekali rasa nya Ryeowook membukakan pintu kamar Eunhyuk dengan kunci duplikat yang ia miliki, namun sebuah suara menyuruh nya untuk tak melakukan semua itu.
"Jika kau berani membukakan pintu untuk nya tanpa perintah dari ku…" Kyuhyun menggantungkan kalimat nya.
"Kupastikan…"
Chapter 7
Author POV
"Kupastikan nasib appa mu akan sama seperti nasib hyung mu!" ancam Kyuhyun yang membuat Ryeowook ingin menangis saat ini juga. Namun, ia tak boleh memperlihatkan sisi lemah nya dihadapan Kyuhyun. Jika sampai ia memperlihatkan nya, maka Kyuhyun akan semakin menjadi untuk mengancamnya dikarenakan Ryeowook yang memang terlalu lemah, baik dalam segi fisik maupun batin.
"A-aku tak akan membukakan p-pintu nya s-sebelum mendapatkan perintah da-ri tuan..." susah payah Ryeowook mengatakan satu kalimat pada Kyuhyun karena menahan tangis nya. Kyuhyun pun mendekat ke arah Ryeowook dan mengacak-ngacak rambut nya. "Jadilah anak penurut selama kau masih ingin bahagia..." setelah mengatakan itu, Kyuhyun langsung pergi meninggalkan Ryeowook yang masih berdiri pada posisi nya. Sepeninggalan Kyuhyun, Ryeowook langsung menangis terisak meratapi nasib hidup nya yang amat buruk ini. Didalam hatinya Ryeowook berdoa agar Tuhan menyadarkan Kyuhyun dari sikap nya yang seperti ini.
.
.
.
"Tuan..." panggil Ryeowook pada Kyuhyun. Merasa dirinya dipanggil, Kyuhyun menolehkan kepalanya dan mendapati Ryeowook yang membawa sebuah nampan berisikan sandwitch dan susu untuk sarapan Kyuhyun.
"Kau sudah memberikan sarapan terhadap Hyukkie?" tanya Kyuhyun dengan nada dingin nya.
"B-belum..."
BRAK
Kyuhyun menggebrak meja di hadapan nya dan bangkit dari duduknya, lalu ia menjambak rambut rapih Ryeowook, membuat sang empunya hanya bisa meringis kesakitan. "Kenapa kau belum memberikan nya sarapan?" tanya Kyuhyun marah.
"S-saya be-belum mendapatkan izin dari t-tuan..." ucap Ryeowook yang nyaris seperti bisikan. Kyuhyun merenggangkan jambakan nya dan beralih mengusap-usap rambut Ryeowook. Kyuhyun tersenyum atau lebih pantas dibilang menyeringai saat melihat ekspresi Ryeowook yang ketakutan.
"Mianhae..." ucap Kyuhyun dengan nada yang dibuat-buat. Sedetik kemudian, Kyuhyun mengambil alih nampan yang sedari tadi dipegang oleh Ryeowook dan membawanya pergi. Kyuhyun berjalan menuju sebuah pintu yang tertutup dengan rapat. Ia berhenti di depan pintu itu dan memegang nampan itu dengan tangan kanan nya, sedangkan tangan nya lain ia gunakan untuk merogoh saku celana nya. Mengambil sebuah benda berukuran kecil untuk membuka pintu tersebut. Kyuhyun memasukan sebuah kunci dan memutarnya hingga pintu itu dapat terbuka. Kyuhyun masuk ke dalam kamar itu dan mendapati sang penghuni kamar yang tengah melamun di atas ranjang nya dengan mata yang sembab dan keadaan yang sangat berantakan. Kyuhyun menaruh nampan itu di atas sebuah meja yang tak jauh dari ranjang sang penghuni kamar berada. Kyuhyun duduk di tepi ranjang itu sehingga menimbulkan sebuah goyangan pada ranjang nya. Merasakan keberadaan seseorang, sang penghuni kamar pun tersadar dan menolehkan pandangan nya ke arah Kyuhyun. Kyuhyun membalas menatap namja itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kumohon... keluarkan aku dari sini!" pinta namja itu dengan suara paraunya. Kyuhyun tak mengubris perkataan nya dan malah mengambil piring sandwitch di atas nampan itu. Kyuhyun memotong sadwitch itu dan menusuk nya dengan garpu. Kyuhyun berniat menyuapi namja itu dengan sandwitch yang dibawanya, namun namja itu malah membuang wajah nya ke arah lain untuk menghindari sandwitch yang disodorkan oleh Kyuhyun.
"Aku tak ingin makan..." Kyuhyun menghela nafasnya lelah dan mencoba untuk menyuapi namja itu lagi. Namun namja itu malah menjauhkan garpu itu dari mulutnya. "Aku tak ingin makan Kyu~"
Kyuhyun meletakan piring beserta garpunya di atas nampan, lalu ia beralih mengambil segelas susu dan berniat untuk meminumkan nya terhadap namja itu. Namun lagi-lagi namja itu menjauhkan gelas itu dari mulutnya secara kasar, membuat sebagian susu itu tumpah mengenai selimut nya. "Aku tak mau makan ataupun minum! Yang ku mau hanya keluar dari sini dan bertemu dengan Donghae..." Kyuhyun bangkit dari duduk nya dan menarik nafas nya dalam-dalam, lalu...
PRANG!
Namja itu terlonjak kaget dan menolehkan pandangan nya terhadap Kyuhyun yang baru saja melempar gelas susu nya sampai menjadi serpihan kaca. Kyuhyun menarik lengan namja itu kasar untuk turun dari ranjang. "LEE HYUKJAE! KAU BERANI MEMBUAT KU MARAH?" Kyuhyun berteriak marah dan menjambak rambut Eunhyuk kasar, membuat Eunhyuk meringis kesakitan dan merasa pusing pada kepalanya. Eunhyuk berusaha untuk melepaskan tangan Kyuhyun dari rambut nya, namun sayang Kyuhyun malah semakin kuat menjambak rambut Eunhyuk. Kyuhyun menghempaskan tubuh Eunhyuk ke lantai yang dingin dan ikut berjongkok untuk mensejajarkan nya dengan Eunhyuk. Kyuhyun menarik paksa wajah Eunhyuk agar menatap wajahnya "Jangan meminta yang macam-macam selama kau berada di sini!" Kyuhyun melepaskan tangan nya dari wajah Eunhyuk dan bangkit dari jongkok nya. Baru beberapa langkah Kyuhyun akan meninggalkan kamar Eunhyuk, tiba-tiba saja langkah nya terhenti karena Eunhyuk memeluk kaki Kyuhyun dengan sangat erat.
"Kumohon... kumohon... keluarkan aku dari sini..." pinta Eunhyuk penuh harap. Kyuhyun hanya diam tak menjawab, ia malah mencoba untuk melangkah kan kakinya lagi. Namun Eunhyuk tetap memeluk kaki Kyuhyun, menahan nya agar tak meninggalkan kamarnya sebelum melepaskan Eunhyuk untuk bertemu dengan Donghae. "Kyu..." panggil Eunhyuk meminta jawaban atas permintaan nya.
"Lepaskan tangan mu!" perintah Kyuhyun, namun Eunhyuk malah mepererat pelukan nya terhadap kaki Kyuhyun. "Shireo!" Kyuhyun berusaha untuk menahan emosi agar tak semakin menjadi. Lalu, ia pun menghentak kan kakinya, sehingga pelukan Eunhyuk terhadap kakinya bisa terlepas. Kyuhyun pergi keluar dari kamar Eunhyuk dan mengunci pintu kamar Eunhyuk agar ia tak bisa kabur. Kyuhyun pun berjalan keluar dari rumah nya untuk berangkat menuju kampusnya. Kyuhyun masuk ke dalam mobilnya. Saat mobil nya hendak melaju, tiba-tiba saja Ryeowook mengetuk-ngetuk jendela mobil nya. Kyuhyun membuka jendela mobil nya. "Ada apa?"
"Apa yang harus saya lakukan selama anda pergi?" tanya Ryeowook.
"Kerjakan tugas mu seperti biasanya, dan tugas tambahan untuk mu adalah menjaga Hyukkie dan pastikan dia mengisi perut nya dengan makanan yang sehat." Perintah Kyuhyun.
"Baik tuan..." Ryeowook membungkukkan badan nya. Mobil Kyuhyun pun mulai bergerak maju, namun tiba-tiba saja mobil nya kembali mundur mendekati Ryeowook. "Satu hal!" Ryeowook mengangkat tubuh nya menyadari bahwa Kyuhyun kembali memundurkan mobil nya.
"Jangan ada yang berani membantunya melarikan diri dari rumah ini, termasuk kau! Pastikan kau masuk kamarnya hanya untuk memberikan nya makan, mengganti kan pakaian nya dan merapikan kamarnya. Jangan lakukan hal yang lain selain itu. Jika ada tamu asing yang datang untuk mencari diriku atau Hyukkie, bilang saja bahwa mereka salah rumah." Ryeowook mengangguk paham atas perintah dari tuan nya itu. Mobil Kyuhyun kembali berjalan meninggalkan halaman rumah nya. Ryeowook berlari dengan secepat kilat memasuki rumah Kyuhyun. Ia mencari-cari sebuah benda kecil di dalam sebuah laci yang letak nya tak jauh dari sebuah ruangan dimana didalam nya terdapat seorang namja yang membuat nya kembali teringat pada hyung nya yang telah meninggal. Ryeowook mendapatkan kunci duplikat yang sedari tadi ia cari, kemudian ia melangkah kan kakinya menuju pintu kamar Eunhyuk.
CEKLEK
"Annyeong, Ryeowook imnida..." jujur saja, baru kali ini Ryeowook menyapa Eunhyuk secara langsung. Karena selama ini ia tidak pernah berani untuk menyapa Eunhyuk. Eunhyuk terlonjak kaget dengan posisi yang masih duduk di atas lantai. "Nu-nuguseyo?" Eunhyuk kaget karena tiba-tiba saja ada orang yang menurut nya asing masuk ke dalam kamar nya. Ryeowook mendekat ke arah Eunhyuk dan berjongkok untuk mensejajarkan wajah nya dengan Eunhyuk.
"Tenang hyung, aku bukan orang jahat..." Ryeowook mencoba untuk meraih pundak Eunhyuk namun Eunhyuk memberikan respon yang membuat Ryeowook kecewa. Ryeowook menarik tangan nya kembali dan tersenyum lembut terhadap Eunhyuk.
"Aku anak dari kepala pelayan rumah ini yang kau kenal sebagai Kim ahjussi." Eunhyuk menatap Ryeowook sesaat, kemudian Eunhyuk meraih kedua tangan Ryeowook dan menggenggam nya dengan erat. "Ryeowook-sshi, jebal bantu aku keluar dari rumah ini!" pinta Eunhyuk penuh harap. Ryeowook tersenyum simpul mendengar permintaan Eunhyuk barusan. Ingin, rasanya Ryeowook ingin sekali mengeluarkan Eunhyuk dari rumah Kyuhyun detik ini juga, namun apa daya? Dia hanyalah anak dari seorang kepala pelayan rumah ini yang harus mengabdi kepada tuan nya. Andaikata ia bisa melakukan nya pun, maka nyawa appa nya lah yang menjadi taruhan nya. Jika ia membebaskan nya, maka ia harus siap untuk kehilangan anggota keluarga terakhir yang ia miliki. Namun, apabila ia tak membantu Eunhyuk untuk pergi ia juga harus siap merasakan sakit pada hati nya melihat Eunhyuk yang tersiksa setiap hari nya. Semuanya serba salah! Tuhan tak adil karena memberika nya permainan hidup di tingkat yang paling sulit untuk ia selesaikan. Ryeowook membalas genggaman tangan Eunhyuk. "Pasti, aku pasti akan membantu hyung untuk keluar dari sini." Eunhyuk tersenyum senang dengan mata berbinar-binar. "Tapi nanti, bukan sekarang." Seketika itu pula, senyum dan mata yang berbinar senang beberapa detik yang lalu hilang begitu saja.
"Apa maksud mu?"
"Sungguh, aku akan membantu mu untuk keluar dari sini hyung... tapi tak sekarang, karena jika aku melakukan nya sekarang, maka nyawa appa ku dalam bahaya." Eunhyuk mengerti. Amat sangat mengerti. Mana mungkin Ryeowook rela mengorbankan nyawa appa nya hanya demi kebebasan dirinya yang notabene bukanlah siapa-siapa bagi Ryeowook. Eunhyuk hanya mengangguk paham, asalkan ia bisa bersabar, mungkin ia akan bisa bebas dari sini karena Ryeowook sudah berjanji. Bersabar, hanya perlu bersabar. Ryeowook pun berdiri dan membantu Eunhyuk untuk berdiri dan kembali berbaring di ranjang nya dan Eunhyuk pun hanya menurut.
"Hyung, kau tunggu dulu di sini ne. Aku akan mengambilkan sarapan untuk mu." Eunhyuk mengangguk kecil menanggapi nya. Dalam hati kecilnya, Eunhyuk berharap bahwa Ryeowook akan menepati janji nya.
.
.
"Kyuhyun-ah!" Sungmin berteriak memanggil nama namja brengsek yang telah membuat nya harus merasakan sakit dalam hidupnya, baik fisik maupun batin.
"Hyung?" Kyuhyun berbalik dan berjalan ke arah Sungmin yang berdiri agak jauh di belakang Kyuhyun.
PLAK
Sungmin menampar Kyuhyun saat ia sampai dihadapan nya. Kyuhyun hanya diam tak bereaksi karena ia sadar bahwa ia pantas mendapatkan semua ini. "Ikut aku!" perintah Sungmin. Sungmin pun berjalan diikuti Kyuhyun di belakang nya. Mereka berdua terus berjalan tanpa ada percakapan sedikit pun hingga akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah toilet dan mengunci pintu nya agar tak ada yang bisa masuk. Sungmin melemparkan sebuah amplop besar berwarna coklat tepat pada wajah Kyuhyun. Kyuhyun pun membuka amplop itu dan mengeluarkan isi kertas nya. Sebelum ia membacanya, Kyuhyun melirik Sungmin sekilas yang terlihat nampak murung. Kyuhyun kembali mengalihkan pandangan nya terhadap kerta itu. Ia baca isi kertas itu dengan sangat teliti. Kata demi kata, kalimat demi kalimat dan keterangan demi keterangan ia baca dengan jelas, membuat jantung nya berhenti berdetak. Rasanya seperti ada belati yang menusuk tepat di ulu hatinya. Kyuhyun menatap Sungmin tak percaya yang dibalas dengan acuh oleh Sungmin.
"Kau hamil hyung?"
PLAK
"Tsk, setelah kau menikmati tubuh ku dan mengucapkan berbagai kata cinta sekarang kau bertanya seperti itu? Cih, dasar bajingan!"
"Aku akan bertanggung jawab! Aku akan menikahi mu hyung!"
"Bertanggung jawab? Jika aku tak hamil, maka kau tak akan menikahiku?"
"Aniya, bukan begitu! Sungguh aku ingin menikahi mu karena aku mencintai mu, sungguh!" Kyuhyun menggenggam kedua tangan Sungmin namun Sungmin menghempaskan nya begitu saja.
"Manis sekali ucapan mu itu Kyu~ tapi mungkin lebih baik kau tak usah melakukan tanggung jawab apa-apa terhadap ku!"
"Hyung, sungguh aku mencintai mu! Aku ingin menikahi mu, menjadikan mu hanya milik ku seutuh nya."
"Kau seorang psycho?" Kyuhyun terdiam, entahlah ia tiba-tiba terdiam karena apa. Sungmin memijit pelipis nya pelan. "Hhh~ lupakan..."
"Kumohon... menikahlah dengan ku hyung~" pinta Kyuhyun penuh harap.
"Apa kau tak punya otak? Kau menghamili ku dan mengajak ku menikah sebagai pertanggung jawaban dengan keadaan kau menyimpan seorang namja lain di rumah mu yang merupakan kekasih Donghae? Tsk, miris sekali hidup ku!"
"Apa yang harus kulakukan agar kau mau menikah dengan ku hyung?"
"Lepaskan Eunhyuk!" Kyuhyun membelalakan matanya mendengar ucapan Sungmin barusan. Kyuhyun menatap Sungmin dengan tatapan meminta kebenaran atas ucapan Sungmin.
"Aku serius Cho Kyuhyun! Aku beri kau waktu sampai besok..."
"Apa itu tak terlalu singkat?"
"Jika kau ingin melebihi waktu yang sudah ku berikan, maka aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas tawaran mu mengajak ku menikah dan mianhae karena aku harus mencari laki-laki lain yang mau menjadi ayah dari anak di dalam kandungan ku ini. Dan yang terpenting, namja yang akan menjadi ayah dari anak ku ini adalah namja yang baik, setia, dan hanya mencintai pasangan hidup beserta anak nya. Dan kuharap, namja itu tak akan pernah merampas kehidupan orang lain, terlebih lagi sampai menghancurkan hidup nya..." Sungmin pergi keluar dari toilet meninggal kan Kyuhyun yang kini hanya bisa menatap lantai toilet dengan amplop coklat besar di tangan kirinya dan sebuah kertas yang merupakan isi dari amplop itu di tangan kanan nya. Kyuhyun meremas amplop di tangan kirinya sambil membaca kembali isi kertas di tangan kanan nya.
.
.
.
Sungmin berjalan dengan langkah cepat keluar dari toilet. Air matanya sudah tak bisa ia bendung lagi. Beruntunglah karena sekarang adalah jam pelajaran pertama dimulai, sehingga koridor kampus sepi dan tak akan ada yang bisa melihat Sungmin menangis. Entahlah ia akan kemana setelah ini, ia hanya mengikuti langkah kakinya saja tanpa tujuan.
BRUK
"Mana bajingan itu?" Sungmin mendongkak kan kepalanya dan mendapati Donghae tengan menatap nya tajam. Sungmin tak menjawab pertanyaan Donghae, ia malah menatap wajah Donghae sambil menangis. Melihat Sungmin yang menangis seperti itu, Donghae jadi mengubah tatapan nya seperti biasa. "Aku tau kau baru bertemu dengan nya kan? Sekarang dimana dia?" tetap tak menjawab. Donghae menghela nafas nya lelah, ia memijit pelipisnya pelan.
GREP
Donghae tercengang karena Sungmin memeluknya begitu saja. "Hiksss..." Sungmin menangis di dada bidang Donghae. Awalnya Donghae bingung harus memberikan respon seperti apa, namun mengingat Sungmin adalah sahabatnya yang selalu membantu nya dalam keadaan suka maupun duka, Donghae pun membalas pelukan Sungmin dan mengelus-elus punggung Sungmin bermaksud untuk menenangkan. "Kenapa hiksss hidup ku se-hikss perti ini Hae?" diam. Donghae hanya mampu diam tak tau harus menjawab apa. Ia pun bingung dan kesal kenapa hidup nya dan hidup Sungmin seperti ini. Dihancurkan oleh satu namja yang sama, namun berbeda cara. Jika Tuhan ingin mempermainkan mereka, lalu kapan permainan ini akan berakhir?
"Kumohon hikss jangang lakukan apa hikss pun terhadap Kyuhyun hikss..."
"Hyung, setelah kau dihancurkan seperti ini, kau masih membela bajingan itu? Kau ingin melindungi bajingan itu, eoh?" ucap dan tanya Donghae tak percaya atas perkataan Sungmin barusan.
"A-aniya... bu-kan be hikss gitu... aku akan membuat Hyukkie kembali hikss padamu dengan cara ku hikss sendiri... jebal~ selama aku masih mampu hikss... biarkan aku yang mengurus nya..."
"Hajiman—"
"Untuk kali hikss ini saja... jebal~ ikuti hikss perkataan ku..."
"Arraseo..."
"Jangan hiksss le...hikss paskan pelukan mu hikss Hae..." pinta Sungmin dengan suara serak nya. Donghae menurut, ia tak melepaskan pelukan nya dan mempererat pelukan nya terhadap Sungmin menyalurkan kehangatan kasih sayang terhadapnya. Sampai-sampai mereka tak menyadari bahwa ada seorang namja tampan dengan lesung pipi tengah memperhatikan mereka sedari tadi.
"Hyung... apakah selama ini kau tak pernah sadar bahwa aku selalu memperhatikan mu?" namja berlesung pipi itu memalingkan wajah nya tak kuat lagi memperhatikan keadaan pujaan hatinya yang berada dalam pelukan namja lain.
.
.
"Aaa~" Eunhyuk membuka mulut nya saat Ryeowook menyuapi nya makan. Awalnya Eunhyuk tak ingin makan, tapi berkat ancaman Ryeowook yang menyatakan bahwa ia tak akan membantunya keluar, Eunhyuk pun menurut dan mau untuk makan.
TOK! TOK!
"Masuk!" Ryeowook menghentikan aktivitas menyuapi Eunhyuk nya sejenak untuk melihat siapa yang akan masuk ke dalam kamar Eunhyuk.
"Appa!/Kim ahjussi!" seru Ryeowook dan Eunhyuk bersamaan saat melihat bahwa Kim ahjussi lah yang masuk ke dalam kamar Eunhyuk. Dengan senyuman hangat ciri khas nya, Kim ahjussi masuk ke dalam kamar Eunhyuk dan duduk di sebuah kursi yang berada di sebelah kanan ranjang Eunhyuk.
"Bagaimana keadaan anda tuan?"
"Issh, jangan panggil aku 'tuan' Kim ahjussi! Panggil Eunhyuk atau Hyukkie saja." Protes Eunhyuk yang tak terima dipanggil tuan.
"Tapi itu perintah dari tuan Cho, dan segala perintah tuan Cho harus dilaksanakan." Jawab Kim ahjussi masih dengan seyuman hangatnya.
"Seberkuasa itukah Kyuhyun sampai-sampai segala perintahnya harus terus dilaksanakan?"
"Ne." Jawab Kim ahjussi seadanya. Ryeowook kembali menyuapi Eunhyuk makan dan Eunhyuk merespon nya dengan sangat baik.
TIK TIK TIK
Suara detikan jam terdengar jelas di gendang telinga mereka masing-masing, mengingat keadaan kamar Eunhyuk sangat lah sunyi. Mereka bertiga hanya diam tak ada yang berniat membuka sebuah pembicaraan. Makanan yang Eunhyuk makan pun sudah habis, Ryeowook menyimpan piring kosong itu di atas nampan yang berada tak jauh dari ranjang Eunhyuk. Mengingat keadaan kamar Eunhyuk yang masih berantakan akibat perbuatan Kyuhyun terhadap Eunhyuk tadi, Ryeowook pun bangkit dari duduk nya. "Hhh~ sebaiknya aku membereskan semua ini." Ryeowook membawa nampan itu dan keluar dari kamar Eunhyuk. Kini, hanya tinggal Kim ahjussi dan Eunhyuk yang berada di dalam kamar. Mereka berdua hanya diam, Eunhyuk bingung harus membicarakan apa terhadap Kim ahjussi. Sedangkan Kim ahjussi merasa tak ada yang perlu dibicarakan. Cukup diam untuk menjaga Eunhyuk takut-takut terjadi sesuatu terhadap nya atas perintah dari tuan muda nya itu. Tiba-tiba saja Ryeowook masuk kembali ke dalam kamar Eunhyuk dengan beberapa peralatan kebersihan seperti sapu, lap, kantong plastik dan lain-lain. Ryeowook masuk dan menghampiri pecahan gelas yang dilempar Kyuhyun. Eunhyuk hanya memperhatikan langkah Ryeowook yang kini mulai memunguti serpihan kaca dan memasukan nya ke dalam kantong plastik. Untuk membersihkan serpihan kaca yang benar-benar kecil, Ryeowook memilih untuk menyapukan nya.
"Kim ahjussi..." Eunhyuk mengalihkan pandangan nya menuju Kim ahjussi yang masih setia berada di tempatnya.
"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"
"Tentu!"
"Sebenarnya pertanyaan ini ingin sekali ku tanyakan sedari tadi, namun aku baru berani mengatakan nya sekarang. Jika kalian dan para pelayan lain nya tak mengikuti perintah Kyuhyun, apa yang akan terjadi?" senyuman hangat yang tadi selalu terpatri di wajah ramah Kim ahjussi tiba-tiba saja memudar. Ryeowook yang tadinya sedang menyapu bermaksud untuk membersihkan sisa-sisa serpihan kaca yang sangat kecil menghentikan aktivitas nya. Kim ahjussi dan Ryeowook menundukan wajah mereka secara bersamaan. Menatap lantai dengan tatapan sendu, seolah-olah mereka sedang melihat kejadian menyedihkan di lantai itu. Eunhyuk menatap Ryeowook tak mengerti, matanya tak sengaja melihat tangan Ryeowook yang menggenggam sapu dengat kuat. Jelas sekali pada wajah Ryeowook jika ia sedang menahan rasa sedih, kesal, marah dan kecewa yang bercampur menjadi satu. Ryeowook mendongkak kan lagi kepalanya dan menghampiri Eunhyuk, lalu ia duduk di tepi ranjang nya.
"Hyung, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Ryeowook.
"Emp, molla. Hanya saja, pertanyaan itu muncul begitu saja di otak ku." Jawab Eunhyuk jujur.
"Jika pertanyaan ku ini tak layak dijawab, maka jangan di jawab saja." Ucap Eunhyuk sambil menggenggam tangan Ryeowook erat. Kim ahjussi mendongkak kan kepalanya dan kembali tersenyum hangat kepada Eunhyuk.
"Jika kami, atau para pelayan disini tak mengikuti perintah tuan muda Cho, maka kami harus bersiap-siap atau lebih tepat nya kami harus siap mental untuk kehilangan orang yang kami sayangi. Dan hal itu, pernah menimpa aku dan Ryeowookie."
"Kami sangat senang kau berada di sini Eunhyuk-ah... sosok mu mengingatkan aku pada anak ku yang pertama." Lanjut Kim ahjussi.
"Ryeowook pun pernah berkata padaku jika ia sangat senang kau berada disini, karena sosok mu mengingatkan nya pada sosok hyung nya."
"Appa!" Ryeowook yang mendengar appa nya memulai pembicaraan ke arah yang hanya akan membuat hatinya menangis lagi, mencoba untuk menghentikan nya. Namun, Kim ahjussi malah menarik nafas nya lagi, bersiap untuk melanjutkan perkataan nya.
"Kami akan sangat senang jika kau tetap berada disini. Mungkin, kau sangat sedih dan ingin keluar dari rumah ini karena tuan muda Cho mulai bertindak kasar terhadap mu. Justru, keinginan mu untuk keluar dari rumah inilah yang membuat tuan muda Cho bertindak kasar terhadap mu. Seandainya kau memilih untuk tetap berada disini bersama tuan muda Cho, pasti tuan muda Cho akan sangat senang dan tak akan berlaku kasar terhadap mu. Selain itu, kami pun akan sangat senang atas keberadaan mu disini sebagai pendamping tuan muda Cho. Jadi—"
"APPA!" cukup. Sudah cukup Ryeowook membiarkan appa nya mengatakan hal-hal yang membuat nya terasa sakit. Jika appa nya terus berkata hal semacam itu, maka semua nya hanya akan membuat hatinya sulit untuk membantu Eunhyuk keluar dari rumah ini. Jujur saja, perkataan appa nya memang benar, amat sangat benar malah. Namun, Ryeowook juga mempertimbangkan kemungkinan lain yang bisa saja terjadi. Ryeowook tak ingin kejadian terpahitnya terulang lagi, ia tahu betul bagaimana karakter tuan muda nya.
Ryeowook memandang Eunhyuk yang sedang menundukan kepalanya sambil meremas selimut nya. Dari raut wajahnya, Ryeowook dapat membaca bahwa Eunhyuk telah terjerumus dalam perkataan appa nya. Terlihat jelas Eunhyuk seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. Ryeowook tau bahwa appa nya sangat rindu sosok anak pertamanya itu, begitupun Ryeowook yang rindu akan sosok seorang hyung. Namun mereka tak bisa mengehendak kan keinginan mereka dengan membuat orang asing yang tak tahu apa-apa kehilangan kebahagiaan nya.
"Appa, bisakah kau keluar sekarang? Biar aku yang menjaga Eunhyuk hyung." Pada awalnya, Kim ahjussi hanya diam saja enggan untuk keluar, namun Ryeowook memohon kepada Kim ahjussi lewat tatapan matanya. Kim ahjussi pun menhyerah dengan tatapan memohon Ryeowook yang seperti itu, Kim ahjussi berdiri dari duduknya dan pergi keluar meninggalkan Eunhyuk dan Ryeowook berdua di dalam kamar.
"Jangan dengarkan perkataan appa ku, hyung. Dia hanya rindu sesaat pada hyung ku, setelahnya... dia akan seperti biasa." Ryeowook mencoba membuat Eunhyuk untuk melupakan perkataan appa nya.
"Memang nya, apa yang terjadi pada hyung mu? Bolehkah aku tau?"
"Dia meninggal..."
"Ne?" Eunhyuk menatap Ryeowook tak mengerti, siapa tau saja telinga nya salah dengar.
"Dia meninggal..."
"Siapa yang melakukan nya?" Ryeowook diam tak menjawab dan malah kembali melakukan aktivitas membersihkan lantai dari pecahan kacanya yang sempat terhenti.
'Jika kalian dan para pelayan lain nya tak mengikuti perintah Kyuhyun, apa yang akan terjadi?'
'Jika kami, atau para pelayan disini tak mengikuti perintah tuan muda Cho, maka kami harus bersiap-siap atau lebih tepat nya kami harus siap mental untuk kehilangan orang yang kami sayangi. Dan hal itu, pernah menimpa aku dan Ryeowookie.'
Tiba-tiba saja Eunhyuk mengerti dan tahu siapa yang melakukan nya saat jawaban Kim ahjussi atas pertanyaan nya kembali teringat.
"Apa Kyuhyun yang melakukan itu?" Ryeowook tak mengubris pertanyaan Eunhyuk barusan ia malah berjalan keluar dari kamar Eunhyuk.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa aku ini? Siapa Kyuhyun? Arrrgghh—" Eunhyuk menjerit prustasi karena ia sangat bingung dengan kehidupan nya. Ia lebih baik mati dari pada hidup dalam dalam ketidak tahuan seperti ini. Rasanya sungguh sakit.
'Hae-ah!'
'Hae-ah, kau tau kalau aku sangat senang sekarang?'
'Hae, jika aku senang apakah kau akan senang?'
'Kenapa kau bertanya seperti itu hmp? Tentu saja aku juga akan senang.'
'Meskipun kita berpisah?'
'Apa maksudmu?'
Tiba-tiba saja, sebuah bayangan dirinya bersama Donghae dengan seragam SMA yang mereka pakai di bawah pohon apel belakang sebuah sekolah melintas di pikiran nya. Hanya sebentar, sangat sebentar malah. Eunhyuk meremas rambutnya sendiri merasakan rasa sakit pada kepalanya. Eunhyuk menangis tanpa suara, ia benar-benar ingin keluar dari rumah ini. Paling tidak, meskipun ia tak bisa keluar, ia ingin Kyuhyun menceritakan kehidupan nya yang sesungguhnya, bukan kepalsuan.
Eunhyuk memeluk kedua lututnya sambil menangis, di dalam hatinya ia ber-do'a kepada Tuhan agar ia bisa tau bagamaina dan seperti apa kehidupan yang sebenarnya. Rupanya diambang pintu, sedari tadi Ryeowook menyembulkan kepalanya sedikit untuk melihat keadaan Eunhyuk. Melihat Eunhyuk yang seperti itu, membuat Ryeowook juga tak tahan untuk tidak ikut menangis atas kepedihan yang Eunhyuk rasakan.
"Aku berjanji akan membuat mu keluar dari sini hyung... tapi tak sekarang, aku mohon... bersabarlah..."
.
.
.
Sungmin duduk di sebuah bangku koridor lantai 5 yang cukup sepi. Berkat bantuan Shindong teman nya yang satu itu, Sungmin berhasil untuk membolos semua mata pelajaran kuliah hari ini.
16:28
Sungmin melihat jam tangan pink yang melingkar di pergelangan tangan nya dengan indah. Ia menghembuskan nafas nya lelah. Lelah, karena menangislah yang bisa ia lakukan saat ini. Tiba-tiba saja pandangan nya terhalangi oleh sebuah kaleng soft drink yang terlihat dingin, terlihat dari butiran-butiran air yang menempel dari kaleng soft drink itu. Penasaran, Sungmin pun mendongkak kan kepalanya untuk melihat siapa yang telah menempatkan kaleng soft dring tepat didepan wajah nya.
"Nugu?" tanya Sungmin pada orang yang telah menempatkan kaleng soft drink di depan wajahnya. Namja tampan nan tinggi dengan lesung pipi alami yang dimilikinya itu hanya tersenyum manis, membuat lesung pipi nya tercetak dengan jelas.
"Ini untuk mu, ambilah..." Sungmin hanya diam menatap kaleng soft drink dan namja itu secara bergantian. Tak hanya itu, Sungmin pun beralih menatap penampilan namja itu dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan menyelidik. Menyadari dirinya dicurigai, namja itu melipatkan kedua tangan nya di dada. "Kau pikir aku punya niat jahat terhadap mu? Jika kau berpikiran seperti itu, maaf saja... karena aku bukan orang seperti itu. Ini!" namja itu kembali menyodorkan kaleng soft drink nya, namun Sungmin masih enggan untuk menerimanya.
"Aku tau kau haus Minnie hyung."
"YA! Itu nama kecil ku, dari mana kau tau? Siapa kau sebenarnya? Kau ingin menculik ku?" namja itu memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan-pertanyaan aneh yang keluar dari bibir plump Sungmin. Berbicara masalah bibir plump Sungmin, namja itu jadi teringat masa-masa sekolah nya dulu saat ia merasakan manis nya bibir plump itu.
Sungmin menyelidik kembali namja itu. Haruskah ia percaya pada orang asing yang bahkan Sungmin belum tau namanya sama sekali, sedangkan dia sudah tau namanya, bahkan nama kecilnya! Tapi, jika dipikir-pikir perkataan namja itu ada benarnya juga, Sungmin sangat haus karena ia belum minum dari tadi, terlebih lagi entah berapa jam lamanya Sungmin menangis. Dan yang pasti cairan tubuh nya mengurang, dan Sungmin butuh minuman. Dengan bibir yang sedikit di-pout kan, Sungmin akhirnya menerima kaleng soft drink dari namja itu. Sedangkan namja itu hanya tersenyum dan ikut duduk di samping Sungmin. Sungmin membuka kaleng soft drink itu dan meminumnya dengan cepat hingga tinggal setengahnya.
"Kau SPY?" tanya Sungmin tiba-tiba.
"Aniya, I am sexy man, free and single." Jawab namja itu membuat Sungmin mendelik kesal ke arah nya.
"Kau tak mengenaliku hyung?" tanya namja itu membuat Sungmin memperhatikan namja itu lebih dalam.
"Ah ne! Kau namja bola basket yang waktu itu bertabrakan dengan ku kan?" untuk sesaat, mungkin namja manis kita yang satu ini bisa melupakan rasa sedih nya berkat namja tampan ini.
"Hyung, tak bisakah kau melihat wajah ku lebih teliti lagi?" Sungmin memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat wajah namja itu lebih teliti lagi. Beberapa detik kemudian, Sungmin membulatkan kedua bola matanya dan menjauhkan jarak duduk nya dengan namja itu.
"K-kau!" Sungmin menunjuk namja itu tak percaya.
"Si-Siwon? Choi Siwon?"
"Akhirnya kau ingat padaku hyung~" seketika itu pula, Siwon langsung memeluk Sungmin dengan sangat erat. Sedangkan Sungmin yang masih belum percaya hanya mampu diam.
"Hyung, selama ini aku selalu memperhatikan mu... apa kau tak sadar?" tanya Siwon dengan posisi masih memeluk Sungmin. Bukan nya menjawab, Sungmin malah melepaskan pelukan Siwon.
"Wae?" tanya Siwon tak mengerti.
"Kenapa kau selalu memperhatikan ku? Apa kau..."
"Ne, aku masih mencintai mu hyung... sangat sulit untuk melupakan mu. Sudah berkali-kali aku berpacaran dengan yeoja maupun namja, namun hasil akhirnya sama saja. Aku mencintaimu, aku tak bisa melupakan mu hyung..." Sungmin menatap Siwon tak percaya, lalu ia menundukan kepalanya begitu saja.
"Ta-tapi, kau tak boleh mencintaiku..." lirih Sungmin.
"Wae? Kenapa aku tak boleh mencintaimu? Apa karena kau sekarang sedang mengandung anak Kyuhyun?" tanya Siwon yang 100% benar. Sungmin berpikir bahwa ia tak pantas dicintai oleh siapa-siapa selain namja bajingan itu.
GREP
Siwon memeluk Sungmin lagi dengan erat, seolah-olah jika ia merenggangkan pelukan nya makan ia akan kehilangan Sungmin untuk selamanya.
"Apa kau benar-benar tak mencintaiku hyung? Tak bisakah kau mencoba untuk mencintaiku? Apa itu tak bisa? Seberapa besarkah cinta mu terhadap bajingan itu sehingga sangat sulit bagimu untuk mencintai namja lain selain bajingan itu?" dan pada akhirnya, Sungmin harus teringat lagi pada kesedihan yang sedang ia rasakan. Air mata sudah tak bisa Sungmin bendung lagi, kaleng soft drink yang sedari tadi ia pegang jatuh begitu saja. Sungmin menangis dalam dekapan Siwon.
"Aku bisa menerima mu apa adanya hyung... aku menerima keadaan mu yang sedang mengandung anak bajingan itu. Aku akan menikahimu, setelah itu kita pergi Paris. Kita hidup disana bersama kedua orang tua ku. Aku akan mengurus mu dan bayi mu kelak, aku akan membiayai kehidupan kita bertiga, aku akan melindungi kalian berdua. Meskipun dia bukan anak ku, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyayangi nya layak nya anak hasil perbuatan ku sendiri." Siwon mengusap-usap punggung Sungmin sayang, Siwon sungguh sakit melihat Sungmin mengeluarkan air mata. Ia pun tak sanggup jika harus mendengar isakan Sungmin lebih lama. Posisi mereka yang seperti ini sukses membuat seorang namja yang tak lain dan tak bukan adalah Kyuhyun, meremas amplop coklat besar dengan sangat kuat.
.
.
.
BRAK
Kyuhyun membuka pintu rumah nya dengan kasar. Semua sapaan para pelayan terhadap nya ia abaikan begitu saja. Tatapan matanya amat tajam dan menusuk, membuat siapa pun yang berpapasan dengan nya tak akan pernah berani untuk menatap mata itu. Ia melangkah kan kakinya dengan cepat, matanya kini tertuju pada satu titik. Pintu berwarna putih dimana di dalam nya ada seseorang yang sedari tadi ingin ia temui.
"Tuan, anda sudah pulang?" pertanyaan Kim ahjussi pun ia abaikan seolah-olah ia tuli dan buta akan orang-orang disekitarnya tak terkecuali pintu dan orang yang ada di balik pintu itu.
Tiba-tiba saja langkah nya terhenti karena seseorang dengan beraninya menahan pergelangan tangan nya. Kyuhyun menghentikan langkah nya dan berbalik untuk melihat siapa yang sudah berani berlaku seperti ini terhadap nya.
"KIM RYEOWOOK!" teriak Kim ahjussi melihat tingkah anak nya yang melebihi batas tanpa memikirkan bagaimana konsekuensi nya.
"Anda terlihat tak baik, apa perlu saya panggilkan dokter?" tanya Ryeowook dengan nada panik. Bukan, Ryeowook bukan panik karena Kyuhyun yang tak terlihat baik, namun Ryeowook panik karena arah langkah Kyuhyun menuju pintu kamar Eunhyuk.
Tanpa menjawab pertanyaan Ryeowook, Kyuhyun menghempaskan tangan Ryeowook begitu saja. Ia pun melanjutkan langkah nya mendekati pintu kamar Eunhyuk.
BRAK
Dalam kondisi seperti ini, seorang Cho Kyuhyun tak memerlukan sebuah kunci untuk membukanya. Karena dengan sekali dobrakan penuh amarah seperti itu, pintu berhasil terbuka dengan mudah nya.
Kosong!
Hal pertama yang ia lihat saat membuka pintu kamar Eunhyuk hanyalah keadaan kamar yang rapih tanpa penghuni. Kyuhyun membalikan badan nya menghadap ke arah semua pelayan nya, lebih tepatnya tatapan tajamnya ia tujukan kepada ayah dan anak yang merupakan pelayan di rumah ini, Kim ahjussi dan Ryeowook.
"MA-NA LEE HYUK-JAE?"
TBC
Annyeong yeorobun~ mianhae karena saya memang tak bisa menepati janji saya untuk melanjutkan semua ff saya dalam jangka waktu yang dekat. Tapi, saya seperti ini bukan karena sebuah alasan. Jujur saja, ada suatu hal yang membuat saya menjadi down dan putus asa untuk melanjutkan semua ff saya. Setiap kali ingin melanjutkan ff, pasti saja saya selalu dalam keadaan bad mood gara-gara 'hal itu'. Awalnya saya menyerah dan tak akan melanjutkan semua ff saya. Namun, berkat teman saya yang membaca kan komentar para readers my ff di depan saya, tiba-tiba saja setelah mendengarkan teman saya membaca komentar para readers saya jadi tergerak untuk melanjutkan lagi semua ff. Namun seperti biasa, saya hanya mampu melanjutkan nya satu-satu.
Untuk itu, saya mohon readers memaklumi keadaan saya...
mian ngga bisa bales riview readers di chap sebelum-sebelumnya#bow
Gomawoyo sudah menjadi readers dalam ff saya, dan setia menunggu kelanjutan nya. Saya amat sangat berterima kasih...
Don't forget RIVIEW please...^^
JEONGMAL KAMSHAHAMNIDA~#deepbow
