Saya datang dengan update fic lagi kawan-kawan….rasanya senang sekali ide bisa mengalir dan saya bisa kembali mempublish fic saya.
Kenapa minggu ini fandom kita sepi sekali dari pengunjung yah? Apa hanya saya saja yang merasa yah? Dilihat dari intensitas fic-fic yang sudah publish makin banyak, cuman pengunjungnya yang sedikit. Tapi yah….gak apa-apalah, mungkin masih pada sibuk MOS atau menjelang ospek atau masih ada yang ujian buat masuk perguruan tinggi. Ada juga lagi KKN. Pokoknya kegiatan apapun itu tetap semangat buat ikutin kegiatannya yah.
Buat yang menjalankan ibadah puasa, selamat menunaikan ibadah puasa yah. Semoga puasa kalian sebulan kedepan bisa lancar-lancar ajah…
Makasih yang sudah review chapter kemarin. Ada Zanpaku Nightfall Akenomyosei, Wi3nter, Rose Cherry Malfoy alias Vany Rama kun, Ray Kousen7, Chadeschan, Rizuki Aquafanz, Yuuka Aoi, Reiji Mitsurugi, Shiianhia el Kuchiki, Kinkyo Sou, Princessnya Lee min ho oppa, hirumaakarikurosakikuchizaki, Ichiruki Yuki-hime, Wakamiya Hikaru, Himetarou Ai, dan terakhir Chikuma unlogin. Dan juga semuar teman-teman yang sudah baca. Big thanks buat kalian XD
Baiklah. Kita mulai saja yah ceritanya.
.
.
.
Disclaimer : Bleach bukan punya saya. Walaupun sudah susah payah minta di Kubo-sensei tetep gak dikasih
Summary : Kurosaki Ichigo, Rukia Kuchiki dan Sosuke Senna adalah teman sejak kecil. Setelah berpisah, Ichigo berjanji akan kembali pada mereka. Ichigo dari kecil sudah menyukai Senna. Bagaimana jika selama ini Ichigo dibohongi? Apakah perasaannya pada Senna akan tetap bertahan sedangkan perasaannya semakin mengarah kepada Rukia?
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Pairing : IchiRuki slight IchiSenna
Rated : T
Warning : AU, OOC, gak bisa lepas dari Typo. Don't Like Don't Read. Bagi yang tidak suka dengan IchiRuki, menjauh sesegera mungkin. Yang tidak suka dengan plot cerita ini, silahkan menjauh.
.
.
.
"Dasar pemalas. Ayo bangun Ichigo. Aku ada kelas pagi hari ini," Rukia menggoyang-goyangkan tubuh Ichigo yang masih nyaman di bawah selimutnya. Sudah sepuluh menit yang lalu ia membangunkan pria ini namun rambut mencolok ini tidak bergeming sama sekali.
"Sebentar lagi, Rukia," owh. Sekarang baru ia mengucapkan sepatah kata dan bukannya segera bangun.
"Hei! Kau yang berjanji mengantarkanku ke kampus tadi malam. Sekarang kau malah tidur disini. Setengah jam lagi kelas dimulai, Ichi," ujar Rukia dan berusaha menepuk-nepuk pipi sang kekasih.
"Kapan aku berjanji? Aku masih mengantuk, Rukia," Ichigo memejamkan matanya semakin erat dan kembali memeluk gulingnya.
CTAK
Urat-urat jidat Rukia sudah mulai terbentuk sekarang. Haruskah ia memukul orang ini sampai sekarat? Kalau tahu begini ia ke kampus sendiri saja memakai mobilnya atau diantar oleh Kira, sopir pribadinya. Atau mungkin minta dijemput oleh Renji.
"Baiklah! Tidur saja semaumu. Aku akan berangkat sendiri!" teriak Rukia frustasi.
GREB
"Awww…apa-apaan kau Ichigo?" seru Rukia karena tiba-tiba saja Ichigo menarik tangannya. "Dan lepaskan aku! SEKARANG!" seru Rukia lagi dan menyadari dirinya berbaring di bawah tubuh Ichigo yang hanya memakai kaos hitam ketat. Seketika wajahnya memerah. Hei, jarak mereka terlalu dekat sekarang.
"Mau kemana?" tanya Ichigo. Ambernya tidak lepas dari violet milik Rukia.
"Aku mau ke kampus, Tawake! Lepaskan aku," Rukia berusaha memberontak agar terlepas dari kurungan Ichigo. Usahanya tidak berhasil karena Ichigo menggenggam kedua tangannya dengan erat.
"Mau kuantar?" tanya Ichigo.
"Tidak perlu! Tidur saja!" jawab Rukia ketus dan membuang mukanya.
"Aku ingat janjiku Rukia. Aku tadi hanya bercanda dengan pura-pura tidur. Kau jadi marah seperti ini," Ichigo memalingkan wajah Rukia agar kembali berhadapan dengannya.
"Bercandamu keterlaluan. Aku sudah membangunkanmu daritadi tapi kau malah pura-pura tidur. Kau tahu kelas….."
Rukia terdiam dan membelalak saat merasakan bibirnya basah. Ya ampun pagi-pagi Ichigo sudah menciumnya. Lagi. Belum hilang rasa ciuman mereka tadi malam, kini Ichigo sudah kembali menciumnya. Kalau setiap saat Ichigo menciumnya dengan cara seperti ini, ia tidak akan bisa menolaknya.
Akhirnya dengan senang hati Rukia membalas ciuman Ichigo. Ciuman di atas ranjang yang empuk dan hanya ada mereka berdua yang berbaring. Tangan Ichigo mengelus rambut hitam milik Rukia sementara Rukia mengalungkan kedua lengannya pada leher Ichigo.
"Ichi…." desah Rukia di sela-sela ciuman mereka.
"Hm…"
"Aku harus berangkat ke kampus. Kita bisa terlambat nanti,"
"Sebentar lagi," jawab Ichigo dan kembali mencium kekasihnya. Ya Tuhan bibir kekasihnya ini begitu lembut untuk dicium. Bisa-bisa ia akan mencium Rukia-nya setiap hari.
"Rukia, menikahlah denganku," ujar Ichigo saat sudah melepaskan ciuman mereka.
"Ap…apa?" masih dengan nafas yang terputus-putus Rukia berharap telinganya tidak tuli saat ini.
"Dasar bodoh. Aku bilang menikah denganku. Bagaimana?" Ichigo mengetuk lembut kening Rukia. Mengutuk betapa lemotnya otak Rukia.
"Me…menikah? Kita masih kuliah Ichigo," ujar Rukia menatap kekasihnya tidak percaya.
"Kita bisa melanjutkan kuliah setelah menikah. Jadi apa jawabanmu?" tanya Ichigo kembali menatap mata milik Rukia.
"Akan kupikirkan,"
"Heeeee? Itu saja jawabanmu? Aku butuh jawaban yang jelas," jerit Ichigo dan memeluk Rukia yang masih berada di bawahnya.
"Aku pasti akan memberikan jawaban bagus. Tapi bukan sekarang, Ichi. Ini terlalu buru-buru. Kita saja belum bertunangan" Rukia tersenyum dan membalas pelukan Ichigo. Ia tahu kata-kata Ichigo serius.
"Tidak perlu bertunangan. Langsung menikah saja," jawab Ichigo terkekeh.
"Baiklah-baiklah tidak usah bertunangan. Tapi sekali lagi bukan sekarang jawabannya. Aku akan memberitahumu secepatnya,"
.
.
.
"Jadi, kau mengambil mata kuliah yang lebih sedikit sekarang?" tanya Rukia pada Ichigo yang masih mengemudikan mobilnya dan menuju ke kampus.
"Begitulah. Ayah ingin aku segera mewarisi perusahaannya dan ingin aku juga mendapatkan gelar. Satu-satunya aku pindah di kelas percepatan semester ini. Jadi kita tidak akan sekelas lagi, Rukia," jawab Ichigo dan masih fokus dengan jalanan di depannya.
"Aku mengerti alasan paman. Kau adalah pewaris tunggal keluarga Kurosaki, oleh karena itu paman menyuruhmu belajar juga di perusahaan," jawab Rukia.
"Bagaimana denganmu. Apakah ayahmu tidak menyuruhmu mewarisi usaha interiornya?" tanya Ichigo pada Rukia.
"Entahlah. Sejauh ini ayah tidak memintaku. Lagipula, aku juga sudah membantu ayah walaupun di balik layar. Aku sering memberikan ide untuk ayah mengenai interior terbaru yang harus diproduksi," ujar Rukia. "Ah….rupanya sudah sampai,"
Ichigo menghentikan mobilnya tepat di parkiran seperti biasanya. "Apa….kau tidak akan merindukanku karena tidak sekelas denganmu lagi?"
Rukia tertawa pelan. Ia menertawakan betapa lucunya Ichigo saat seperti ini. "Percaya diri sekali kau, Mikan! Untuk apa aku merindukanmu?"
Ichigo tertawa hambar. Tidak menyangka Rukia akan mengatakan hal ini. Ia sempat berpikir Rukia akan merengek karena mereka tidak di satu kelas lagi.
Rukia masih terkekeh saat melihat Ichigo tertawa tidak rela. Di angkatnya tangan kanannya dan mengelus pipi kiri Ichigo. "Tentu saja aku akan merindukanmu, Ichigo. Tapi ini demi kebaikanmu dan perusahaan yang akan kau pimpin nanti. Jadi berusahalah," jawab Rukia.
Kali ini senyum Ichigo mengembang mendengar perkataan Rukia. Sekilas ia kembali mencium bibir kekasihnya dan memeluknya. Tidak ada yang bisa menggambarkan kebahagiaanya pada diri Ichigo karena bisa mendapatkan Rukia.
"Arigatou,"
.
.
.
"Hei, kau sudah gila yah?" Renji heran mendapati junior yang sedang duduk bersamanya di salah satu café malah senyum-senyum sendiri.
"Woi Ichigo!" panggil Renji kali ini lebih keras dan memukul keras meja yang ada dihadapannya.
"Hah? Kau bilang apa tadi senpai?" Ichigo mengerjap-ngerjapkan matanya dan kembali kealam nyata.
"Percuma saja aku bicara padamu sekarang. Sepertinya kau sedang ada di duniamu sendiri. Jadi, katakan apa yang membuatmu menjadi tidak fokus begini?" Renji kembali menyesap cappuccino nya yang masih menghangat.
"Tidak ada yang istimewa senpai. Aku hanya gembira hari ini," jawab Ichigo ikut-ikutan menyesap kopi mocca nya.
"Aku tahu wajah mu saat kau gembira dan sedih. Jadi, katakan padaku apa yang membuatmu gembira? Aku senpaimu dan jangan mencoba berbahagia sendiri, jeruk," Renji membujuk juniornya tersebut. Diantara mereka tidak ada rahasia. Jadi tidak adil kalau Ichigo mulai main rahasia-rahasian dengannya.
"Hm…ano…aku sudah mendapatkan cinta Rukia,"
"APA? Kau bilang apa tadi? Katakan sekali lagi," Renji mengorek-ngorek kupingnya berharap ia salah dengar.
"Aku dan Rukia sudah menjadi sepasang kekasih, senpai," ulang Ichigo dan agak sedikit berteriak.
"Katakan…katakan padaku bagaimana ini bisa terjadi. Bukankah…bukankah…kau…"
"Aku tahu apa yang senpai maksud. Aku akan menceritakannya sekarang,"
.
.
.
Rukia mengutuk dirinya sendiri karena tidak konsentrasi dengan mata kuliahnya kali ini. Bagaimana ia bisa berkonsentrasi jika pikirannya dipenuhi dengan seorang Kurosaki Ichigo, sang kekasih yang saat ini tidak satu kelas lagi dengannya. Biasanya ia akan melihat Ichigo duduk di tempat duduknya dan mendengarnya memanggil namanya atau melemparkan kertasnya, kini hal itu tidak akan pernah terjadi lagi.
Satu lagi yang membuat pikirannya terganggu. Baru beberapa jam setelah acara jadian mereka, dan selama beberapa jam itu sudah tiga kali ia mendapat ciuman dari Ichigo. Dan kejadian tadi pagi didalam kamar dan diatas ranjang Ichigo, jangan salahkan jika wajahnya mendadak memerah seketika.
'Astaga…apa yang aku pikirkan,'
"Kuchiki-san, ada apa denganmu? Apa kau sakit? Wajahmu memerah," tanya Unohana Retsu yang saat itu sedang mengajar.
"Ti…tidak sensei. Saya tidak apa-apa," jawab Rukia sambil berusaha membuang jauh-jauh khayalan anehnya agar wajahnya tidak kembali memerah.
'Baka!'
.
.
.
Renji dan Ichigo sudah menghabiskan waktu mereka sekitar dua jam hanya untuk mendengarkan penjelasan Ichigo mengenai hubungannya dan Rukia serta Senna. Kini Renji tahu asal-usul hubungan mereka.
"Lalu, sekarang aku ingin menanyakanmu bagaimana kau menjelaskannya pada Senna? Cepat atau lambat ia akan tahu semuanya," Renji menyesap cappuccino ketiganya dan memakan cake yang ia pesan.
"Aku dan Rukia akan jujur padanya. Aku dan Rukia tentu tidak akan bisa menyembunyikan ini lama-lama. Tapi aku dan Rukia akan berbicara dengan Senna saat ia sudah pulang nanti," jawab Ichigo jujur.
"Sampai sekarang Senna masih menghubungimu?" tanya Renji dan diikuti anggukan oleh Ichigo.
"Dan kau masih bersikap seolah-olah kau masih mencintainya?" tanya Renji lagi dan sekali lagi Ichigo mengangguk.
"Kejam juga kau, Ichigo,"
"Aku hanya tidak ingin mengagetkannya dengan hubungan kami yang tiba-tiba ini, Senpai," jawab Ichigo tidak menatap sang senpai. Ia tahu ia pria brengsek dan pengecut. "Lagipula aku takut konsentrasinya akan terpecah. Kompetisi akan diselenggarakan sebulan lagi dan ia butuh memusatkan pikirannya pada kompetisinya dan tidak diganggu oleh urusan seperti ini,"
"Urusan seperti ini kau bilang? Kau pikir Senna akan senang, begitu ia tahu kalian sudah berhubungan lama di belakangnya? Ini bukan masalah sepele, Ichigo," nasihat Renji pada juniornya tersebut. Ia tahu betul bagaimana Ichigo sepertinya menganggap masalah ini remeh.
"Aku tidak menganggap ini sepele, Senpai. Hanya saja, kami juga memerlukan waktu untuk sama-sama bicara dengan Senna," jelas Ichigo dan menopang dagu. Sampai sekarang ia masih bingung bagaimana caranya ia memberitahu pada Senna.
"Apa boleh buat. Terserah padamu saja. Tapi bolehkah aku mengatakan sesuatu?"
"Boleh saja. Memangnya apa yang senpai ingin bicarakan?" tanya Ichigo dan menatap Renji.
"Jagalah Rukia-chan baik-baik. Jangan lepaskan dia. Karena jika kau tidak menjaganya dengan baik apalagi sampai melepaskannya, aku akan merebutnya,"
Mata amber Ichigo membelalak. Apa maksud pemuda rambut merah ini?
"Maaf, tapi aku tidak mengerti maksud senpai,"
"Cerna dengan baik perkataanku Ichigo. Karena sepertinya aku sudah mulai menyukai Rukia-chan. Jadi kau harus menjaganya jika tidak ingin ia ada di pelukanku nanti," ujar Renji kali ini lebih blak-blakan. Dan ia tahu juniornya kali ini pasti mengerti.
"Kheh….akan kuanggap sebagai tantangan. Tapi aku yakin senpai tidak akan sempat melakukannya karena Rukia tidak akan kulepaskan dan Rukia tidak akan jatuh cinta padamu," tantang Ichigo yakin dan menyeringai.
"Oleh karena itu jangan sampai melepaskan Rukia-chan. Aku akan gembira jika kau melakukan hal itu. Hahaha…." Renji tertawa. Diikuti oleh Ichigo. Suasana yang sempat tidak enak tadi mendadak kembali santai.
"Tapi aku benar-benar serius Ichigo,"
"Ah…sepertinya aku harus waspada denganmu, Senpai,"
.
.
.
"Ada acara malam ini?" Rukia menatap Ichigo yang berada di balik kemudi mobilnya. Saat ini mereka sudah sampai di depan kediaman Kuchiki. Rumah Rukia. Tumben Ichigo menanyakan hal seperti itu.
"Ada apa mendadak menanyakan itu? Ingin mengajakku jalan?"
"Bagaimana kalau makan malam diluar? Sambil merayakan sebulan kau dan aku menjadi sepasang kekasih," jawab Ichigo dan menatap balik Rukia.
"Ah…aku hampir lupa. Aku tidak ada acara malam ini,"
"Jam tujuh. Kau harus sudah siap," Ichigo menarik lengan Rukia dan mencium keningnya. "Berdandanlah yang cantik untukku nanti malam,"
Rukia tersenyum.
.
.
.
Betapa bodohnya ia tidak mengetahui bahwa hari ini sudah sebulan mereka menjadi sepasang kekasih. Dan waktu memang terasa sangat cepat. Selama sebulan belakangan ini mereka benar-benar menjalani kegiatan seperti kebanyakan sepasang kekasih. Jalan bersama, makan bersama, kencan, pergi ke bioskop, saling memberi kejutan, saling melemparkan kata cinta dan saling memuji. Begitu bahagianya mereka selama sebulan ini. Rukia baru merasakan indahnya jatuh cinta pada orang yang memang merupakan cintanya. Cinta pertamanya dan ia harap akan jadi cinta terakhirnya.
Waktu menunjukkan jam tujuh saat ia pamit kepada kedua orangtuanya akan makan diluar bersama Ichigo. Dengan mudahnya Rukia mendapat ijin dari ayah dan ibunya karena mereka tahu ia dan Ichigo sangat dekat. Dan kedua orangtua mereka bahkan ayah Senna sama sekali belum mengetahui perihal hubungan mereka.
Rukia duduk di teras rumahnya. Sudah lima belas menit ia menunggu Ichigo. Kenyataanya Ichigo sama sekali tampak belum menampilkan batang hidungnya.
"Dasar jeruk bodoh. Tidak sopan membiarkan wanita menunggu. Awas saja kalau ia datang," rutuk Rukia dan menghentak-hentakkan kakinya yang dibalut sepatu hak tinggi nya.
"Awas apa?" Rukia menoleh dan melihat Ichigo sudah ada disebelahnya. Dengan kemeja hitam, celana kain hitam dan sepatu hitam, Ichigo terlihat sempurna malam ini. Kekasihnya ini selalu bisa membuatnya salah tingkah hanya dengan melihatnya saja.
"Aku akan menendangmu sekarang juga, Kurosaki Ichigo. Kau tahu sudah lima belas menit aku menunggumu dan kau datang dengan menunjukkan wajah tidak berdosa," jawab Rukia ketus.
"Aw…tuan putri marah rupanya," Ichigo mendesah panjang.
"Tapi….." ia menarik lengan Rukia agar mendekat padanya. Dipeluknya Rukia dan merasakan aroma parfum yang dikenakan Rukia dan menyesapnya. "Bagaimana kalau aku bilang kalau tuan putri malam ini sangat cantik?"
Bluushh
Wajah Rukia memerah. Ichigo berbisik tepat di telinganya dan menimbulkan rasa geli akibat nafas Ichigo dan perkataan Ichigo tadi membuat Rukia merona.
"Apa kau akan tetap marah pada pangeran?" tanya Ichigo lagi.
"Bagaimana tuan putri bisa marah pada pangeran jika ia sudah dipuji seperti ini? Tuan putri akan memaafkan pangeran karena sudah terlambat menjemput. Sekarang bisakah melepas pelukanmu dan kita berangkat?"
Ichigo tersenyum penuh kemenangan kali ini. Dilepaskan pelukannya dan menatap kekasihnya yang ada didepannya. Rukia tampak manis dengan gaun ungu gelap selutut. Gaun itu sederhana saja, tidak ada hiasan apa-apa, namun entah mengapa gaun yang tanpa lengan itu begitu pas dengan tubuh mungil kekasihnya. Rukia juga mengenakan sepatu hak tinggi berwarna putih susu yang sepadan dengan kulitnya yang seputih susu pula. Sedangkan untuk aksesoris, Rukia hanya memakai kalung dan gelang di tangan kirinya. Tampak sempurna.
Ichigo mengulurkan lengannya dan menawarkan pada Rukia. Rukia tahu maksud Ichigo dan ia langsung merangkul lengan Ichigo dan berjalan menuju mobil Ichigo yang diparkir.
.
.
.
Mobil merah Ichigo berhenti tepat didepan sebuah restoran Perancis. Restoran tersebut tidak besar. Tidak pula bertingkat. Namun Rukia bisa merasakan kesan romantis saat melihat restoran tersebut dan yang ia tahu ia baru tahu kalau di Karakura ada restoran sebagus ini.
Lamunannya buyar saat Ichigo membukakan pintu untuknya dan menawarkan kembali lengannya. Rukia tersenyum sesaat dan berjalan bersama Ichigo kedalam restoran tersebut.
Benar juga kata Rukia. Restoran ini adalah restoran yang romantis. Sekeliling ruangannya dipenuhi dengan hiasan mawar merah, ditambah dengan semua kursi dan meja nya yang terbuat dari kayu kokoh sehingga selain kesan romantis Rukia juga merasakan ia ada di alam terbuka. Namun ada yang hilang dari restoran ini. Dan Rukia curiga kalau ini pasti akibat perbuatan Ichigo.
"Mana pengunjung lainnya? Jangan bilang kau yang membuat restoran ini sepi, Ichigo," Rukia mendelik kepada Ichigo. Saat ini mereka sudah duduk di pinggir jendela dan bisa melihat keramaian kota Karakura.
"Hei, jangan-jangan kau bisa membaca pikiranku Rukia? Aku memang memesan restoran ini hanya untuk kita berdua. Aku tidak ingin ada yang menganggu," jawab Ichigo dan mulai memotong steaknya.
"Semua juga akan tahu kalau restoran ini sudah dipesan khusus begitu melihat tidak ada satupun pengunjung di restoran ini. Kenapa kau melakukan ini?" tanya Rukia.
"Aku kan sudah bilang tidak ingin ada yang mengganggu kita berdua," jawab Ichigo dan menuangkan wine merah pada cangkirnya dan Rukia.
"Kekanak-kanakan," ejek Rukia. "Bukankah lebih bagus jika ada orang?"
"Sudahlah jangan banyak protes," seru Ichigo memasang wajah cemberut.
"Baiklah. Maafkan aku. Aku hanya bercanda, tawake," ujar Rukia dan tersenyum manis di depan sang kekasih.
Makan malam berlangsung romantis dan penuh candaan. Selain kata-kata romantis, rupanya Ichigo bisa juga mengeluarkan jurus-jurus candaannya sehingga membuat Rukia tertawa berkali-kali.
"Rukia, ada yang ingin ku berikan padamu. Dan setelah melihat benda ini jangan protes. Anggap saja ini hadiah buatmu," ujar Ichigo sambil merogoh-rogoh sesuatu dalam kantong celananya.
"Apa itu Ichigo?" tanya Rukia heran dengan hadiah Ichigo.
Rukia melihat kotak kecil berwarna hitam yang di genggam oleh Ichigo. Rukia tampak terkejut karena sudah bisa menebak apa isinya, dan ia terkejut lagi saat Ichigo membukanya dan menampakkan sepasang cincin perak polos tanpa ukiran ada di depan matanya. Dan satu ukurannya lebih kecil.
"Ini memang belum resmi. Tapi aku ingin, kau Kuchiki Rukia, di tempat ini memakai cincin ini dan menjadi tunanganku," Ichigo berkata sambil mengeluarkan cincin yang lebih kecil. "Bagaimana?"
"Ah…ano…etto…seharusnya kau jangan bertanya Ichigo, kalau kau sudah tahu jawabannya," Rukia terlihat gugup dan warna merah mengalir di sepanjang wajahnya.
"Aku anggap jawaban tidak jelasmu sebagai ya. Kau bersedia menjadi tunanganku. Kemarikan tanganmu, Rukia," Rukia lalu mengulurkan tangannya dan langsung saja Ichigo memasukkan cincin itu ke jari manis milik Rukia. Sangat pas, sehingga Rukia bertanya dalam hati bagaimana Ichigo bisa tahu ukuran jari miliknya.
Ichigo mengulurkan tangannya. Kali ini giliran Rukia yang memasukkan cincin tersebut pada jari manis milik Ichigo. Rukia mengamati cincin tersebut. Perak, bagus sekali. Rukia menatap lekat-lekat cincin tersebut. Sesaat tidak terlihat apa-apa saat ia memperhatikan cincin tersebut. Benar-benar polos.
"Coba arahkan ke tempat gelap dan kekurangan cahaya," perkataan Ichigo membuyarkan lamunannya. Rukia lalu mengarahkan cincin tersebut di bawah kolong meja dan melihatnya. Matanya langsung berbinar-binar. Rukia tidak menyangka akan mendapat kejutan seperti ini.
"Ichigo….bagaimana bisa?"
"Itu cincin istimewa Rukia. Ukiran nama kita, 'IchiRuki' hanya bisa dilihat dalam kegelapan. Jadi saat gelap lihatlah cincin itu, maka nama kita berdua akan terlihat,"
"Astaga, Ichigo. Berapa yang kau habiskan untuk memesan cincin cantik nan ajaib ini?" Rukia masih terlihat terpesona dengan apa yang ia lihat dan tanpa sadar ia mengamati lagi cincin tersebut.
"Jangan tanyakan seberapa banyak uang yang aku habiskan. Tanyakan saja seberapa banyak cinta yang aku limpahkan dalam cincin itu," jawab Ichigo tersenyum hangat.
"Ichigo,"
"Uang tidaklah penting Rukia. Itu hanya barang yang suatu saat bisa diganti dengan yang baru atau bisa saja hilang. Tapi cintaku tidak akan bisa diganti ataupun hilang untuk seorang Kuchiki Rukia,"
Rukia terdiam dan sekali lagi wajahnya memerah. Ia tidak menyangka akan dipuji habis-habisan oleh kekasihnya tersebut.
"Astaga! Darimana kau dapat kata-kata romantis seperti itu?"
"Mungkin karena aku suka membaca buku-buku romantis," canda Ichigo.
"Jadi, kau sekarang resmi menjadi tunangan Kurosaki Ichigo. Setelah kita membereskan masalah-masalah yang ada, kita akan mengadakan acara pertunangan agar semua tahu," bangga Ichigo.
"Terserah kau saja,"
.
.
.
Ciuman di dalam mobil tidak ada yang melarang kan? Asalkan tidak ada yang melihat mereka bercumbu. Itulah kegiatan Ichigo dan Rukia. Sudah di depan rumah sang gadis, namun tiba-tiba sang pria menariknya dan mulai menciumnya. Walaupun sang gadis sudah ingin mengakhiri ciumannya, namun sang pria nampaknya tidak rela melepaskannya.
"Ichigo, sudah cukup," tolak Rukia halus saat Ichigo ingin menciumnya lagi. Sedangkan Ichigo hanya menunjukkan tampak bosan.
"Kenapa? Kau tidak mencintaiku?"
"Astaga! Pertanyaan bodoh macam apa itu? Kalau ka uterus menciumku aku tidak akan bisa masuk sampai pagi meladeni perbuatanmu ini," jawab Rukia dan mengambil tas tangannya.
"Besok acara puncak kompetisi dance Senna. Aku ingin mendoakannya agar ia sukses," Rukia membuka pintu dan keluar. "Sampai jumpa besok, Ichigo.
.
.
.
"Rukia! Kenapa HP mu tidak aktif?" Hisana berlari-lari menghampiri Rukia begitu Rukia mengucapkan 'aku pulang'
"Ada apa ibu, kenapa tergesa-gesa?" jawab Rukia dan buru-buru melepas sepatu hak tingginya.
"Senna….Senna…"
"Ada apa dengan Senna, ibu?"
"Senna mengalami kecelakaan baru saja. Paman Aizen sudah berangkat ke Inggris. Menurut dokter disana, kaki Senna mengalami luka yang cukup parah sehingga membuatnya tidak akan bisa berjalan. Hanya keajaiban yang membuatnya bisa berjalan lagi," Hisana tampak berkaca-kaca saat mengatakannya.
"Tidak….tidak mungkin," Rukia merosot terjatuh dan terduduk pasrah di ruang keluarga mereka. Ia tidak ingin percaya. Bagaimana mungkin impian Senna bisa hancur dalam satu malam.
"Besok kompetisinya, Ibu. Senna sudah bertahun-tahun menanti saat-saat seperti ini. Bagaimana mungkin semua bisa hancur? Ibu….aku tidak bisa membayangkan perasaan Senna," Rukia masih menangis sedangkan Hisana hanya bisa memeluk putrinya dan membisikkan kata-kata yang menghibur, namun ia tahu kata-katanya tidak mungkin sampai kepada Rukia. Rukia dan Senna adalah satu, jika satunya sakit, maka yang satunya akan merasakannya.
.
.
.
"Rukia…."
"Aku sudah mendengarnya, Ichigo,"
"…"
"…"
"Rukia…."
"Aku tidak tahu apa yang harus ku perbuat Ichigo," kali ini Ichigo yang di seberang sana bisa mendengar tangisan tertahan Rukia. Ichigo bisa mengerti perasaan kekasihnya tersebut. Bagaimana pun Senna sangat berarti bagi Rukia. Tentu saja Rukia shock saat mengetahui keadaan ini.
"Aku tidak tahu kata-kata apa yang bisa aku katakan Senna saat ia kembali nanti. Apa aku harus berkata untuk bersabar? Kau tahu kata-kata itu sama saja mengejeknya," lanjut Rukia yang masih menangis. Ichigo hanya bisa menjadi pendengar yang baik. Ingin sekali ia pergi kerumah gadisnya dan langsung memeluknya. Namun waktu yang menunjukkan dua dini hari sangatlah tidak mungkin.
"Aku juga tidak tahu bagaimana melanjutkan hubungan kita,"
"Rukia…."
"Aku tidak tahu apa aku bisa mengatakannya,"
"Kita pasti bisa Rukia,"
"Aku tidak tahu,"
"Rukia, kita akan mengatakannya,"
"BAGAIMANA MUNGKIN BISA AKU MENGATAKANNYA?" teriak Rukia frustasi. "Bagaimana bisa aku mengatakan kepadanya kalau aku sudah merebutmu? Merebut kekasihnya saat ia dalam keadaan begini? Saat ia dalan keadaan tidak berdaya? Tidak, bahkan saat ia sudah sembuh nanti bagaimana bisa aku mengatakan bahwa aku sudah merebut satu-satu yang tersisa dari mimpinya. Mimpinya adalah hidup bersamamu, Ichigo"
"Kau tidak merebut siapapun, Rukia,"
"Apakah aku harus katakan, 'Senna, maaf aku sudah mengambil Ichigo darimu. Selama kau di Ingrris aku dan Ichigo sudah menjalin hubungan di belakangmu' apa itu yang harus ku katakan?"
"Senna akan mengerti,"
"Aku tidak ingin mengatakannya,"
"KALAU KAU TIDAK INGIN MENGATAKANNYA, AKU YANG AKAN MENGATAKAN KEPADA SENNA. SEMUANYA!"
Pip
Sambungan yang baru saja diputus oleh Ichigo dan teriakan terakhir Ichigo membuat airmata Rukia merebak dengan derasnya. Sejak ibunya mengabari keadaan Senna, hatinya melemah. Ia tahu selain kompetisi ini, harapan dan mimpi Senna ada pada ia bisa merebut Ichigo juga setelah kecelakaan ini merebut mimpi untuk menjadi penari terhebat di dunia? Tidak. Ia tidak sanggup melakukannya.
Dan kembali Rukia menangis dalam gelap dan memandangi cincinnya yang memperlihatkan ukiran ICHIRUKI.
Sepertinya cincin ini tidak akan ada di tangannya lagi.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Astaga! Saya pisahin IchiRuki lagi. Maafkan saya semua. Jangan bunuh saya. Saya mohon jangan bunuh saya. Ini hanya tuntutan scenario saja, jadi saya tega lakuin ini.
Nah, saya sudah buat Senna celaka dan gak bisa jalan sehingga buat hati Rukia yang sudah mantap untuk pertahanin Ichigo jadi melemah.
Gimana reaksi Ichigo? Bagaimana keputusan Rukia? Itu akan terjawab di chapter depan. Jadi mohon kesabarannya dalam menunggu update nya lagi. Sekali lagi terima kasih sudah menunggu dan membaca.
Akhir kata saya pamit, sudah malam dan saya harus bangun sahur. Ja….
