Tittle : Eternal Sunshine
Genre : Brothership, Friendship, Family
Rating : Fiction T
Cast : Kyuhyun dan kawan-kawan …. temukan saja ya
Disclaimer : Canon, Typos, Geje, If read don't bash, jangan meng-copi paste meskipun menyertakan nama.
Summary : Kyuhyun percaya matahari akan selalu bersinar kekal. Kyuhyun percaya akan cinta dan kasih sayang, meski di saat ia tak sedang diperlihatkan.
.
.
~ Sebelumnya : ~
"Changmin ah, sudah cukup.."
"Sedikit lagi, Kyu.."
"Ayo hyung, kau bisa..", ucap dua orang di sebelahnya memberi semangat.
Kyuhyun melanjutkan makannya dengan amat sangat berat hati.
Hingga akhirnya ia sudah tidak kuat menahannya. "Changmin ah, aku mual.."
"Oke, kau minum dulu."
Kyuhyun mengabaikan mereka, ia menyingkap selimutnya lalu berlari dengan cepat ke toilet. Changmin, Jonghyun dan Minho menjadi khawatir, mereka pun menghampirinya.
"Kyu…"
Benar saja, Kyuhyun memuntahkan semuanya.
.
.
.
Chapter 7
.
.
"Kyu, kau tidak apa-apa?", panik Changmin ia lalu membantu Kyuhyun berdiri dan kembali ke ranjang setelah menyelesaikan semuanya.
"Hyung.. ini minum dulu.", Jonghyun mengangsurkan segelas air putih untuk Kyuhyun. Sementara Minho hanya memperhatikan dengan wajah khawatirnya.
"Kyuhyun ah, jangan diam saja. Apa kau masih merasa mual? Atau ada yang sakit? Apa kita perlu ke rumah sakit?"
Setelah merasa lebih tenang, Kyuhyun menggeleng. "Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Ini gara-gara kalian sih, yang memaksaku makan.", tukasnya ringan tanpa menghiraukan wajah khawatir teman-temannya.
.
-o-
.
"Sial! Menyebalkan!", lelaki itu meremas kertas-kertas di atas meja kerjanya lalu melempar ke sembarang arah.
"Apa kesalahan kertas-kertas itu sampai-sampai kau menyiksanya tanpa perikemanusiaan?"
Ringisan Donghae berakhir, tekukan wajahnya terinterupsi oleh sebuah suara yang.. oh baiklah. Siapa yang tidak kenal suara ringan namun terdengar tajam milik pria itu? Membuatnya lumayan terkejut. Tanpa buang waktu, Donghae menoleh ke sumber suara.
"Hyung?"
Heechul dengan setelan jas biru pekatnya tengah berdiri sembari berkacak pinggang tak jauh dari tempat di mana Donghae menganiaya kertas-kertas tak berdosa itu.
"Kenapa? Ada masalah?", tanya Heechul dengan alis kiri yang terangkat.
"Tidak. Tidak sama sekali." Donghae menggeleng seperti bocah.
"Lalu, apa maksud mu berteriak kesetanan dan mengacaukan ruangan kerjamu seperti ini?"
Donghae baru menyadari kelakuan gilanya, "Itu..", ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku tidak sengaja.", dan memperlihatkan cengiran tak berdosanya pada sang hyung.
"Ck! Kau ini ada-ada saja, Hae.", Heechul memungut kertas-kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah. "Bagaimana dengan Siwon? Apa kau jadi menemuinya?"
"Itulah yang membuatku kesal, hyung.", Donghae mendengus. "Baru kali ini dia berani mengabaikanku. Dasar kuda aneh!", rutuknya.
Karena sikap diam Siwon sejak pagi tadi, membuat Heechul bertanya-tanya sendiri. Ia ingin mengajaknya berbicara, tetapi Heechul terlanjur berjanji bertemu dengan Kibum di luar kantor. Sehingga Heechul meminta Donghae untuk mengajak Siwon berbicara. Tapi apa yang terjadi? Jangankan duduk manis untuk berbincang, Siwon justru mengusir halus Donghae dari ruangannya. Beralasan ia sedang tidak bisa diganggu.
Heechul terkekeh, "Sudahlah, biarkan dia sendiri dulu. Aku sudah tahu alasannya."
"Karena Kyuhyun dan Kibum?", tebak Donghae
"Yeah.. siapa lagi?", jawab Heechul dengan helaan nafas.
"Kibum menceritakannya padamu?"
"Dia tidak perlu menceritakannya, aku sudah tahu alasan kenapa Kibum ingin bertemu denganku."
"Aku dengar Kyuhyun sedang sakit saat ini.", ujar Donghae lagi.
"Emm.. mungkin karena itu juga Siwon tidak bisa bersikap tenang hari ini."
.
-o-
.
Akhirnya malam itu tepat pukul 19.00, Kibum kembali ke rumah. Entah kemana saja tempat yang ia tuju seharian ini selain bertemu Heechul. Rumah masih tampak sepi, bahkan lampu-lampu ruangan belum ada yang menyala. Kibum tidak ingin sibuk mencari tahu sedang apa Kyuhyun di kamarnya, atau Siwon yang ia yakini belum kembali dari tempatnya bekerja. Setelah menyalakan semua lampu, ia masuk kamar. Kibum menghempaskan tubuh, setengahnya dibiarkan menyentuh permukaan tempat tidur, sementara setengah yang lain dibiarkan menggantung.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu itu mengalihkan fokusnya.
"Hyung, Kibum hyung.."
Kibum diam lalu menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang, ia tidak perlu menebak siapa di luar sana karena yang ada di kepalanya memang satu orang adalah Kyuhyun. Kibum mempernyaman posisi tidurnya, benar, ia berniat mengabaikan panggilan itu.
"Hyung..", Kyuhyun tidak berhenti mengetuk pintu kamarnya.
Dengan rasa malas Kibum beranjak dan membukakan pintu. Wajah dinginnya menatap Kyuhyun tanpa bicara. Di dalam hati timbul sedikit tanda tanya, setelah ia melihat ada yang berbeda dengan wajah Kyuhyun, tampak lebih pucat dari biasanya. Tetapi Kibum tidak peduli.
"Hyung, boleh aku masuk?"
"Untuk apa?"
"Ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Aku sedang sibuk.", Kibum kembali akan menutup pintu kamarnya.
"Tunggu!", dengan cepat Kyuhyun berhasil mencegat.
"Sudah aku katakan, aku sedang sibuk!"
"Hyung!", teriak Kyuhyun. "Sekali ini saja kau boleh mengatakan aku egois. Aku hanya ingin tahu, ada apa selama ini denganmu? Mengapa kau selalu bersikap dingin denganku, tetapi selalu berbeda jika dengan Siwon hyung?", tanya Kyuhyun bertubi-tubi.
"Kau ingin mengetahuinya?"
"Iya, biarkan aku tahu semuanya."
Kibum tersenyum getir, "Kau tetap saja egois!"
"Apa begitu sulit untuk berbicara denganku?", sahut Kyuhyun sambil menahan pintu itu
"Ck, aku sedang tidak ingin ribut. Menjauhlah dari hadapanku.", akhirnya Kibum menutup kasar pintu kamarnya.
Kibum kembali menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Dengan segala perasaan yang tak karuan, membuat rasa lelah yang menderanya akhir-akhir ini cukup terasa di dalam tubuhnya. Sesaat tatapannya tak beralih dari langit-langit kamar, sesaat pula ia kembali dihinggapi pemikiran-pemikiran acak yang sejatinya hanya berotasi di satu objek, Kyuhyun.
Ia mengingat sejak kecil mereka, Kibum dan Kyuhyun adalah kakak adik yang cukup dekat. Apapun yang Kibum punya, Kyuhyun juga pasti punya, bahkan mainan dari jumlah hingga bentuk yang sama. Sebenarnya Kibum tidak ingin menyusahkan orang tua mereka. Dengan berbagi satu mainan itu akan cukup dari pada harus membeli dua mainan dengan wujud dan warna yang sama. Tetapi Kyuhyun kecil tidak suka berbagi. Dengan usia yang tidak terpaut jauh, Kibum lebih sering mengalah untuk hal ini. Biarlah Kyuhyun saja yang memiliki mainan baru, dia tidak apa-apa. Kibum akan meminta sesuatu yang berbeda yang tidak disukai Kyuhyun.
Tetapi semakin lama semakin Kibum tidak mengerti. Kyuhyun selalu mengikutinya ke mana pun dan apapun yang ia lakukan. Kibum merasa insting kepicikkan Kyuhyun sudah bekerja dengan baik sejak mereka masih di usia begitu dini. Kyuhyun seakan berpolah sebagai saudara yang baik dengan tujuan ingin memonopoli semua yang ia punya. Dan ketika Kibum melayangkan protes itu pada orang tua mereka, akan berujung Kibumlah yang harus mengalah.
.
-o-
.
Di tengah-tengah kesibukan, sebuah pesan sampai di ponsel Siwon. Itu dari Kyuhyun yang memintanya untuk tidak pergi ke mana-mana setelah pulang kerja. Siwon melihat jam di pergelangan tangannya, tanpa berpikir panjang lagi ia dengan segera membereskan meja kerja, bersiap untuk pulang. Meskipun sebetulnya ada kerjaan yang harus Siwon selesaikan hari ini juga. Tak masalah, karena saat ini ia sadar, Kyuhyun jauh lebih membutuhkannya dari apapun.
… … … …
Kyuhyun sedang duduk sembari memeluk bantal di ruang tv, menyaksikan sebuah acara yang Siwon yakin pikirannya tidak masuk ke dalam acara yang ditayangkan pada layar berukuran 55 inch tersebut. Sejak dulu, Kyuhyun memang tak begitu menyukai acara tv kecuali musik. Dan kebiasaannya yang menyumpal kedua telinganya dengan earphone di depan tv yang menyala adalah ketika ia merasa tak tenang, misalnya seperti saat ini.
"Kyuhyunie…"
Kyuhyun menoleh, "Siwon hyung."
"Mengapa malah duduk di sini, seharusnya kau beristirahat di kamar.", ujar Siwon.
"Aku bosan."
Siwon menoleh ke lantai dua, di mana kamar Kibum dan Kyuhyun terlihat lampu yang sudah menyala. Ia yakin Kibum sudah berada di rumah saat ini. Perlahan pandangannya kembali pada Kyuhyun yang sepertinya tidak ada perubahan yang berarti pada kondisi tubuhnya. Siwon lalu menempelkan tangannya pada dahi Kyuhyun. Ia menghela nafas karena suhu tubuh maknae itu belum terasa normal, tapi tidak sepanas pagi tadi.
"Ayo, kembali ke kamar, kau harus makan dan minum obat.", titah Siwon menarik lengan dongsaengnya.
"Hyuung.."
"Jangan membantah lagi. Changmin sudah mengatakan semuanya padaku, kau memuntahkan semuanya."
"Tapi hyung.."
"Kyu…", Siwon menatap Kyuhyun dengan wajah keras yang tampak begitu serius.
Melihat tatapan itu, Kyuhyun menjadi menelan ludah. Akhirnya ia menurut dan berjalan menuju kamarnya yang dibantu oleh Siwon.
Sesampainya di kamar, Siwon menyelimutinya tanpa ada perlawanan sedikitpun dari Kyuhyun. Hening, tidak satu katapun terucap dari keduanya. Hanya terdengar hembusan nafas lelah dari Siwon. Sepasang manik Kyuhyun tetap tertuju saat Siwon beranjak mulai merapikan meja belajarnya yang terlihat begitu berantakan. Ia kemudian melangkah keluar sambil membawa kantong plastik hitam yang Kyuhyun yakini itu adalah sampah-sampah yang ia kumpulkan di kamarnya sejak minggu lalu.
Tepat di ambang pintu, Siwon berhenti dan menoleh pada Kyuhyun, "Tunggu di sini sebentar, aku akan segera kembali."
Tidak ada kesan yang melegakan dari ucapan itu, Kyuhyun menjadi semakin tidak nyaman di tempatnya. Kyuhyun tahu, Siwon memang senang merapikan seluruh penjuru ruangan termasuk kamarnya. Tapi itu akan Siwon lakukan tidak di hari kerja atau bahkan di malam hari seperti ini. Timbul perasaan bersalah dalam hati namja itu. Bukannya meringankan beban sang hyung, ia justru merasa sangat menyusahkan.
Beberapa saat Siwon kembali dengan membawa nampan yang berisi bubur, air dan obat di tangannya. Ia kemudian duduk di sisi ranjang Kyuhyun. Sementara Kyuhyun sendiri hanya bergeming, saat ini pikirannya sedang disesaki oleh bayangan kemarahan Siwon. Ia menoleh ketika sang hyung yang hanya duduk diam sambil mengusap kasar wajahnya. Seolah keduanya tak punya clue mengenai topik apa yang akan mereka bicarakan setelah ini. Apa Siwon akan memarahinya? Kyuhyun tak tahu.
Sebelum hal itu terjadi, Kyuhyun memutuskan pertama membuka pembicaraan.
"H-hyung, aku akan makan bubur ini, aku juga akan meminum obatnya, setelah itu aku akan langsung tidur.", ucapnya dengan gugup.
Siwon mengerutkan dahi mendengar ucapan Kyuhyun yang menurutnya begitu aneh. "Kau kenapa?"
"Aku tahu, aku memang menyusahkan. Maafkan aku, hyung.. aku berjanji tidak akan membuatmu khawatir. Tapi tolong jangan marah padaku..", Maknae itu mulai berkaca-kaca dan sepertinya sebentar lagi air mata itu akan tumpah.
"Hei.. apa yang salah denganmu?"
"Aku tahu, hyung sangat lelah. Tapi tolong jangan melakukan hal seperti tadi. Kau terlihat mengerikan sekali, hyung.."
Seketika itu Siwon merubah ekspresinya antara ia terenyuh atau menahan tawa karena ucapan maknae itu. "Memangnya apa yang sudah aku lakukan, Kyu?"
Kyuhyun tidak bisa menjawab, ia sedang sibuk membujuk perasaannya agar menjadi lebih tenang di depan Siwon.
"Ah, sepertinya kau benar-benar butuh istirahat." Siwon mengusap sayang surai Kyuhyun. "Baiklah, setelah makan dan minum obat, kau kembali beristirahat, ne? Aku tidak ingin besok pagi mendapati demammu tidak turun juga.", tutur sang hyung yang terkesan ada sedikit nada ancaman di dalamnya.
Kyuhyun hanya sanggup memberikan anggukan. Pikiran macam apa yang sudah menghinggapinya sampai-sampai ia merasa ketakutan setengah mati pada Siwon. Detik itu juga ia merutuk bodoh pada dirinya sendiri. Padahal seharusnya Kyuhyun sadar, Siwon sangat menyayanginya. Bahkan ia senang sekali menyiapkan sarapan untuk Kyuhyun meskipun maknae itu sering mengejek masakannya. Siwon suka menutup tubuh Kyuhyun dengan selimut jika ia terlelap saat mendengarkan musik di ruang tv, selalu menemaninya mengobrol ketika ia merasa bosan, dan… hal-hal menyenangkan lainnya. Bodoh. Kyuhyun memang bodoh.
.
-o-
.
Pagi itu…
Di tengah rasa kantuk yang masih mendominasinya, dengan malas Kibum membuka mata. Karena lagi-lagi Siwon meneriakkan namanya dari luar. Huh, bangun pagi memang menyebalkan. Akhirnya ia beranjak dan membukakan pintu.
"Kibumie, hari ini kau masih libur kan?"
"Kenapa?"
"Aku harus berangkat pagi, ada meeting mendadak di kantor. Tolong temani Kyuhyun di rumah, dia sedang duduk di ruang tv. Aku berharap kalian berdua bisa sarapan bersama pagi ini."
Siwon lalu melangkah pergi dengan terburu-buru tanpa mendengar jawaban atau melihat ekspresi Kibum.
Kibum membuang kasar nafasnya sekali. 'Baiklah, ini demi Siwon hyung.', gumamnya. Kibum melakukan ini demi Siwon, bukan Kyuhyun. Mungkin ia ingin menebus kesalahan karena membuat acara sarapan pagi kemarin menjadi kacau.
Sedangkan Kyuhyun, maknae itu.. entah karena alasan apa ia bisa bangun lebih awal pagi ini. Biasanya dialah yang paling susah untuk dibangunkan. Apa mungkin anak itu benar sudah merasa lebih baik, seperti yang Siwon harapkan? Atau karena ia tidak tidur semalaman? Entahlah.
… … …
"Ah, Kibum hyung. Kau tampak segar sekali pagi ini.", Kyuhyun menyambut kedatangan Kibum dengan senyuman ringan, seolah tidak pernah terjadi apa-apa malam tadi. Benar, Kibum memang terlihat segar, tidak seperti dirinya yang enggan mandi pagi.
Tanpa menjawab Kibum berjalan menuju dapur, sementara Kyuhyun mengekorinya dari belakang. Mereka akhirnya duduk berhadapan.
Kyuhyun tersenyum, "Mungkin makanan ini terlalu berat untuk dijadikan sebagai sarapan. Siwon hyung tidak memasaknya, aku mendengar ia menelepon dan memesan semua ini di restaurant cepat saji. Kau pasti senang karena ini seafood kesukaanmu. Oh ya, dia juga membelikan Jjajangmyeon untukku. Kau mau mencobanya? Di London pasti tidak ada yang menjual makanan ini. Aku.."
"Makanlah, jangan banyak bicara.", ucap Kibum tenang. Namun ia tidak melirik Kyuhyun sedikitpun.
"Tidak. Karena semalam kau sibuk, aku rasa sekarang kita bisa melanjutkan pembicaraan malam tadi. Kita akan makan setelahnya."
Mimik wajah keduanya berubah.
Kibum menghentikan kegiatannya, "Kau tidak berhak mengaturku seperti itu."
"Aku tidak bermaksud begitu, aku hanya ingin penjelasanmu, hyung."
"Bisakah kita hanya makan saja?"
Kibum ingin mengawali harinya tanpa keributan, tetapi mengapa maknae ini tidak memberinya luang untuk berpikir tenang barang sebentar saja?
Kyuhyun tak menghiraukan, "Aku tidak mengerti mengapa kau selalu bersikap dingin terhadapku, bahkan semenjak kau kembali ke rumah ini, aku tidak pernah mendengarmu memanggilku sekalipun. Kenapa?"
"…"
"Apa kau hanya akan diam saja? Sengaja membiarkanku dibayangi rasa bersalah sementara aku tak bisa tahu di mana letak kesalahanku?"
"Mengapa kau merasa bersalah jika kau tidak pernah melakukannya?"
Kyuhyun berdiri dan mendekati Kibum, "Justru karena aku tidak tahu letak kesalahanku, aku bertanya padamu agar aku bisa memperbaikinya."
Kibum pun berdiri lalu mengernyih, "Anak manja sepertimu, tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri."
"Apa maksudmu?"
"Untuk apa aku membuang-buang tenaga menjelaskan semuanya jika pada akhirnya kau hanya akan membuat segalanya lebih runyam saja."
Kyuhyun mendesah lelah, "Hyung.. aku masih tidak mengerti dengan ucapanmu. Mengapa kau berkata begitu?"
"Anak manis sepertimu, lebih baik duduk saja. Kau tinggal memerintah orang-orang disekelilingmu, maka mereka akan memberikan apapun yang kau inginkan, mendengarkan apapun yang kau keluhkan, mencari jalan keluar apapun masalahmu. Dengan rengekan sedikit saja, mereka akan kalang kabut mengkhawatirkanmu."
Kyuhyun terhenyak di tempatnya berdiri. Ia masih mencoba mencerna semua kalimat yang dilontarkan Kibum. Apa maksud dari semua itu? Kyuhyun tidak bisa memikirkannya.
"Aku rasa itu saja yang perlu kau ketahui.", Kibum mulai melangkah untuk menjauhi Kyuhyun, namun lengannya tiba-tiba ditahan oleh genggaman erat Kyuhyun.
"Hyung, kau pikir dengan seperti ini semua akan selesai dengan sendirinya? Katakan apa sebenarnya yang kau inginkan!", jengah Kyuhyun.
"Cukup!", hentak Kibum "Jangan ganggu aku lagi, Kyuhyun. Jangan menampakkan wajahmu di depanku."
Kyuhyun terkesiap, seketika itu juga ia kehilangan kata-kata. Entah mengapa semua terdengar menyakitkan sekali, padahal sebelumnya ia tidak pernah merasa seperti ini dengan segala ucapan Kibum.
"Kau tidak seharusnya berkata seperti itu pada dongsaengmu sendiri.", Kibum menoleh saat mendengar suara yang ia kenal.
"Siwon hyung.."
Siwon yang tiba-tiba sudah berdiri tidak jauh dari mereka. Sementara Kyuhyun masih berdiri dengan kepala menunduk di depan Kibum.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Tbc dulu ya.. lagi mentok hehehe… ^^
Makasih untuk semua yang membaca dan mereview.
Sampai jumpa di chapter 8
Author : Belle
