NCT and SMRookies are brands associated with SM Entertainment

and

Hogwarts is a part of Harry Potter verse that owned by none other than J.K. Rowling

.

Beberapa perubahan disesuaikan untuk kebutuhan jalannya cerita .

Tidak ada keuntungan yang diperoleh dari cerita fiksi ini

-xXx-

A Day in Hogwarts (Series)

by Dee

-xXx-

Disastrous Career Advice Day

a few EXO members as cameo


Disastrous Career Advice Day

.

Tahun kelima di Hogwarts sama dengan tahun neraka, setidaknya ada dua event 'spesial' yang patut menjadi fokus setiap murid Hogwarts di tingkat tersebut. Keduanya saling berhubungan dan menentukan nasib mereka di tahun-tahun berikutnya.

Event pertama adalah 'Pilihan Karir'.

Dan yang kedua adalah, yang paling 'dinantikan' oleh murid tahun kelima, yaitu O.W.L.s. Singkatan dari Ordinary Wizarding Level alias ujian dasar dunia sihir.

Keduanya sangat penting karena O.W.L.s menentukan kelas lanjutan apa yang dapat mereka ambil di tahun keenam sekaligus dasar dari ketepatan karir keinginan dengan kemampuan mereka.

Dan disinilah kita, di sebuah asrama dengan dengan bendera singa emas setelah jam makan siang berakhir.

" Kau sudah baca pamflet yang diberikan oleh Professor Wang minggu lalu, NakaYut?" si penanya tampak fokus dengan kertas warna-warni yang bertebaran di atas meja rendah asrama yang bernuansa merah.

" Hmm..."

" Jadi kau sudah menentukan pilihan karirmu?" tanyanya lagi.

Mata bulat lebarnya yang tampak seperti kelinci masih mencermati satu persatu tulisan bercetak tebal pada masing-masing kertas tersebut.

" Hmm..."

" Kalau begitu apa pilihanmu?"

" Hmm..."

" Kau masih bingung dengan pilihan karirmu?" meskipun hanya dijawab dengan sebuah gumaman, si penanya menganggap obyek pertanyaannya itu mencermati pertanyaannya.

" Bagaimana bisa kau belum menentukan pilihan karirmu? Ujian NEWT kita akan ditentukan oleh pilihan karir dan nilai OWLs kita." Mata kelincinya masih belum teralihkan dari kertas yang berisikan pilihan karir yang umum ada di dunia sihir.

" Hmm..."

" Heh! Jawab yang benar Bakamoto, mau jadi—"

Mata bulatnya mendadak memancarkan amarah yang meluap-luap melihat lawan bicaranya ternyata duduk bersila di meja seberang dengan beberapa lembar kartu di tangannya.

Alis melengkung sempurna milik si pemuda Jepang itu berkerut fokus pada setiap kartu yang dikeluarkan oleh pemain lawannya.

" BAKAMOTO SIALAN! SUNGGUH BUANG-BUANG WAKTU AKU BERBICARA SERIUS PADAMU!" amuk si penanya.

Mulutnya nyaris merapalkan mantra illegal berwarna hijau kesayangan Dark Lord terdahulu yaitu, Avada Kedavra alias mantra pembunuh, kepada teman seasramanya yang satu ini.

" DENGARKAN ORANG YANG SEDANG BERBICARA, Yuta SIALAN!" emosi yang meluap-luap membuat pemuda itu lupa dengan slogan 'cinta damai' nya dan tanpa ragu mengambil sapu terbang milik Yuta.

Dengan perasaan tidak sedikitpun menyesal ia menyabetkan sapu itu pada lengan Yuta sekeras-kerasnya. Ia kemudian melemparkan sapu di tangannya keras-keras dan meninggalkan ruangan itu dengan asap membumbung tinggi di atas kepalanya.

" SAKIT SIALAN!" seru Yuta yang kaget dengan perlakuan kejam yang ia terima. Setelah selama sepersekian detik ia hanya bisa memandang kebingungan teman satu kamarnya itu saat menyumpahinya.

Belum sempat ia membalas perlakuan kejam si pelaku penyabetan, suara ledakan terdengar cukup keras dan Yuta hanya bisa melongo di tempatnya.

" Buahahahahaha... Bakamoto astaga! Lihat mukamu! Lihat mukamu! Oh astaga hahahaha..." tawa sang lawan pecah seketika melihat separuh alis Yuta keriting karena terkena ledakan kecil kartu yang ia pegang.

" Hahahahahahaha... Mukamu Bakamoto. Astaga mukamu! Ahahahaha..." si lawan menepuk-nepuk lantai disisinya dengan keras melihat tidak hanya alis Yuta yang menjadi korban, tetapi juga ujung rambutnya ikut terbakar di beberapa tempat.

Dan tidak lupa noda hitam, karena terkena asap kartu yang dengan cepat menghilang dilalap api. Sepertinya tahun ini Yuta memiliki kesialannya sendiri dengan sesuatu yang mudah meledak.

Ramuan yang meledak.

Howler yang meledak.

Dan sekarang kartu exploding snap kesayangannya meledak tepat dihadapannya.

" Ya, Lee Donghyuck!"

" Ya Tuhan, perutku. Astaga perutku sakit sekali... Astaga... Siapapun selamatkan aku!" seru Donghyuck histeris.

Ia tidak bisa menghentikan tawanya melihat wajah epik dari si pemikat asrama mereka.

" Ya Tuhan, ini adalah kejadian paling epik sepanjang tahun ini!" seru Donghyuck masih histeris. Matanya mengeluarkan air mata disertai dengan liur yang sedikit lolos dari mulutnya karena ia sama sekali tidak bisa menutup mulutnya.

" Shut up, Lee Donghyuck!"

" Astaga aku tidak bisa berhenti tertawa, selamatkan aku!"

" Hei apa yang terjadi disini?" sebuah suara yang terdengar grogi terdengar dari arah belakang troublemaker duo berbeda tingkat itu.

" Taeyong, selamatkan aku tolong hahaha..."

" Kau tidak berada dalam bahaya, Lee Donghyuck, jadi untuk apa aku menyelamatkanmu?" pemuda yang dipanggil Taeyong itu berjongkok, menyejajarkan dirinya dengan sang pacar yang duduk bersila dengan kepala tertunduk.

Entah sejak kapan lantai batu asramanya lebih menarik untuk Yuta ketimbang perapian yang memancarkan radiasi panas menenangkan atau wajah tampan pacarnya sendiri.

" Lihat wajah pacarmu itu, astaga, hahaha..."

" Apa yang terjadi padamu—" Seluruh kata-kata yang ada di dalam pikiran Taeyong terbuang sia-sia melihat wajah pacar manisnya itu compang-camping.

" Oh, astaga. Apa yang terjadi wajahmu, Yuta?" tanya Taeyong dengan menahan tawanya sendiri.

Mana mungkin ia menertawakan pacarnya yang tampak sangat kesal sampai-sampai ia bisa melihat air mata berkumpul di sisi luar mata kucing kekasihnya.

" Taeyongii..." Yuta merengek.

Ya, saatnya Taeyong menjadi pacar sigap untuk menenangkan Yuta. Sebelum ia menangis dengan keras di depan adik kelas. Dan kembali menjadi korban keganasan sang informan handal.

Dengan lembut ia menarik tangan pacar berkewarganegaraan Jepang-nya ketika ia bangkit dan meninggalkan Donghyuk yang kini tersengal karena tawanya sendiri.

Biasanya Taeyong sungguh malas membiarkan orang-orang melihat kedekatannya dengan Yuta tetapi, be damned dengan para mata liar.

Kekasihnya ini sedang dalam titik kekecewaan yang tertinggi. Karena dipermalukan dan membutuhkan dirinya untuk sedikit menguranginya, jadi ia membiarkan Yuta bergelayut manja dengan kedua tangan melingkar erat di pinggangnya.

" Berapa banyak yang bisa kudapatkan dari si Slytherin princess itu dari fotomu ini, Bakamoto?" seru Donghyuck sengaja memancing kekesalan si pemuda Jepang.

" MENJUALNYA, MAKA GINJAL DAN OTAKMU YANG AKAN KUJUAL DI KNOCKTURN ALLEY MUSIM PANAS NANTI, LEE DONGHYUCK!" seru Yuta yang nyaris menerkam Donghyuk jika tangan Taeyong tidak melingkar di perpotongan lehernya untuk menahannya.

" Aku akan kaya raya semester ini karena fotomu NakaYut. All thanks to Kim Doyoung."

" KIM DONGYOUNG SIALAN!"

-xXx-

Sementara itu,

" Biasanya, berapa lama konsultasi ini berlangsung?—

" Jika lebih cepat apa itu tanda-tanda Professor puas dengan pilihan karirmu?—

" Apa saja yang dibicarakan bersama Professor di dalam sana?—

" Apa mereka akan berusaha untuk menggoyahkan pilihan kita?—

" Mereka itu—"

" DIAM, MOON TAEIL! Tidak bisakah kau melihat aku sedang belajar di sini?"

Pemuda yang disebutkan namanya pun mencebikkan bibirnya kesal karena senior kesayangannya ini menolak untuk menjawab satu dari rentetan pertanyaan yang ia ajukan.

Bukan salah seorang Ravenclaw untuk dilahirkan dengan insting keingintahuan yang tinggi. Tentu saja ika bukan karena kemampuan dan rasa ingin tahu yang tinggi, maka topi seleksi tidak akan memilih mereka berada di asrama ini.

Sebuah hal yang tidak lagi perlu dipertanyakan.

Menjengkelkan bagi mereka adalah ketika rasa penasaran mereka tidak terpuaskan.

Sama seperti Taeil yang sebenarnya sangat gugup menunggu waktu konsultasi karir tiba.

Untuk menjamin obyektivitas pilihan mereka, Hogwarts membuat kebijakan silang asrama. Yang berarti ia yang seorang Ravenclaw harus berkonsultasi dengan Professor Maison – kepala asrama Slytherin – dan Professor Sprout – kepala asrama Hufflepuff.

Semuanya sudah ditentukan dengan cermat hanya waktu saja yang belum mengizinkan Taeil melepas kegugupannya.

Jongdae, sang senior – tahun ketujuh – gemas sendiri melihat kegugupan adik kelasnya. Padahal dalam keadaan normal, adiknya itu lebih terlihat seperti bintang acara komedi ketimbang murid asrama Ravenclaw.

" Tenanglah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kau hanya perlu menjawab motivasi karirmu dan para Professor akan menyarankan di bagian mana nilaimu perlu diperbaiki. Untuk memenuhi syarat NEWT terutama."

" Benarkah? Seperti itu?"

" Kau meragukanku, Moon Taeil? Aku sudah pernah mengalaminya sekali, for your information."

" Tidak, aku tidak meragukanmu. Tapi—" dengan ragu Taeil mendongakkan kepalanya dan menatap Jongdae dengan sedikit tidak biasa.

" Tetapi apa?"

" Apa pernah ada kasus seseorang tidak memiliki pilihan karirnya?" tanya Taeil dengan keraguan yang sangat ketara.

" Hmm... kupikir semua setidaknya punya gambaran pekerjaan apa yang mereka inginkan. Atau paling tidak impian masa kecil mereka."

" Bagaimana kalau aku bilang aku tidak memiliki ketertarikan pada karir tertentu?"

" WHAT? Bagaimana bisa?!" Jongdae berseru keras. Beberapa murid yang juga ada di ruangan yang sama memandang keduanya kesal.

" Sejujurnya aku benar-benar tidak bisa membayangkan pekerjaanku di masa depan."

" Ya, dimana ambisimu sebagai Ravenclaw, Moon! Bagaimana kau bisa masuk asrama Ravenclaw tanpa ambisi semacam itu?"

" Entahlah, topi seleksi memaksaku untuk masuk ke Revenclaw padahal aku ingin dia menempatkanku di Hufflepuff," jawab Taeil dengan jujur. Jongdae, sang senior menganga mendengarnya.

Topi seleksi memang mempertimbangkan antara Hufflepuff dan Ravenclaw untuk beberapa saat. Tetapi, pada akhirnya ia memang ditempatkan di Ravenclaw dengan sedikit pemaaksaan dari topi seleksi itu sendiri.

" Tidak ada cita-cita menjadi Auror? Atau Potioneer semacam itu?" Jongdae bertanya lagi.

" Tidak." Taeil menjawab dengan sangat singkat,

" Professor di Hogwarts?"

" Nope."

" Perdana Menteri Sihir?"

" Nah."

" Presiden Korea?"

" Aa.." Taeil lagi-lagi menggelengkan kepalanya.

" Megalomaniak diktator?"

" Apa itu?"

" Oke, I'm out. Kau membuat kepalaku jauh lebih pusing sekarang, Moon."

-xXx-

Berbeda dengan dua murid asrama Hufflepuff tingkat lima yang terlihat berdiskusi dengan serius. Kertas selebaran yang diberikan kepala asrama mereka tampak tersebar di sekitar mereka, sedangkan satu kertas ada di tangan mereka masing-masing.

" Winwinnie, sudah memutuskan pilihan karirmu?" tanya Hansol pada pemuda berambut pirang dengan highlight pink di sebelahnya.

" Healer. Sebenarnya sudah pasti sejak Professor Sprout merekomendasikanku pada Madam Pomfrey di kelas Healing. Tapi hyung sendiri tahu seberapa payahnya aku di kelas Rune kuno."

" Kau tidak terlalu parah dalam kelas itu Winwinnie. Kau tidak lihat nilaiku di kelas Rune kuno tahun lalu? P alias Poor."

" Tapi nilai itu tidak berpengaruh pada pilihan karir hyung, kan?" kata Winwin sendu.

" Coba sedikit saja aku belajar lebih keras untuk yang satu ini," tambah Winwin. Hansol ikut dibuat sedih oleh kegalauan teman satu asramanya itu.

Syarat untuk melanjutkan kelas dengan tingkatan yang lebih tinggi alias advance di Hogwarts memang sangat tidak mudah.

Jika di kelas Pertahanan biasa syarat untuk mengikutinya di tingkat enam adalah A atau acceptable, maka untuk mengikuti kelas pertahanan lanjutan (advanced defense) nilai terendah mereka harus mencapai E (exceed expectation).

Karena itulah Winwin merasakan kegalauannya. Karena untuk mengikuti kelas lanjutan rune kuno yang diperlukan untuk studi-nya sebagai healer, ia harus mendapatkan nila E di ujian Mei nanti.

" Memang benar. Tapi setidaknya Acceptable lebih berkelas daripada Poor. Kau pasti bisa lebih baik tahun ini untuk mendapatkan E." Hansol mencoba untuk menyemangati si Hufflepuff yang lugu.

" Masalahnya tidak ada satupun di Hufflepuff yang mengambil kelas itu, selain kita."

Fakta itu membuat Hansol kembali terdiam.

" Bagaimana dengan Kun?"

" Hyung ini, hanya ada enam belas orang yang mengambil kelas rune kuno di angkatan kita. Dan Kun mana mau mempelajari hal merepotkan seperti itu."

" Ah iya aku lupa. Hanya ada trio Slytherin dan Doyoung di kelas kita."

" Itu masalahnya, hyung. Trio Slytherin terlalu sibuk dengan kelas mereka yang padat dan Doyoung pun begitu. Dan dari keempatnya tidak ada yang berbakat menjadi guru."

" Sayang sekali kita tidak bisa meminta bantuan para hyung di tingkat tujuh." Hansol menambahkan, Winwin mengangguki pernyataan Hansol barusan.

Mana mungkin menyusahkan senior yang sedang menjalani tahun penghabisan - literally penghabisan – sebagai junior yang baik tentu mereka harus sedikit sadar dengan fakta itu.

Tetapi kemudian ia teringat sesuatu yang bisa menjadi solusi keduanya untuk memperbaiki nilai.

" Bagaimana senior Baekhyun dari Gryffindor?"

" Sol-hyung mengenalnya?"

" Aku mengenalnya sedikit siapa tahu kita bisa minta bantuannya. Kudengar dia mendapatkan nilai tertinggi OWL di tahunnya untuk pelajaran rune kuno."

" Ayo, hyung. Kita temui senior itu!" semangat Winwin yang kembali menjadi kesenangan tersendiri untuk Hansol.

Ah, senang bisa membuat kesayangan Hufflepuff kembali tersenyum.

-xXx-

Asrama Slytherin,

Tidak seperti pemandangan di asrama lainnya, enam orang pemuda duduk melingkar di atas lantai batu yang telah diberi mantra penghangat.

Enam orang yang terdiri dari tiga siswa tingkat lima dan dua siswa tingkat enam serta satu orang tingkat empat itu tampak sibuk dengan botol yang berputar di tengah–tengah mereka.

Satu di antaranya memasang muka datar seolah tidak terpengaruh sedikitpun sedangkan dua orang tampak merapalkan 'jangan aku' berulang kali supaya botol itu tidak berhenti ke arah mereka.

Pletakk

Suara ketukan itu terdengar sangat keras yang kemudian disusul dengan koor mengaduh dari keempat di antara mereka.

" BOTAK SIALAN!" seru si muka datar tidak terima.

" APA KAU BILANG?! Tampan begini kau bilang botak sialan? Kau yang sialan dasar muka kulkas!"

" Bisakah kalian tidak menyumpah?"

" Berkaca pada dirimu, princess. Kau sendiri tidak bisa berhenti menyumpah." Si pemuda berambut panjang berkomentar.

" Jangan ikut berkomentar mr. Seo!"

" Kalian para tingkat lima, sudah bersiap untuk wawancara pilihan karir kalian?" tanya si ketua asrama setelah ia akhirnya bisa mengontrol emosinya.

" Apa yang perlu di khawatirkan, wawancara seperti itu mudah saja." Si pirang menjawab dengan enteng.

" Hooo... Jung Jaehyun. Percaya diri sekali," sorak beberapa di antara mereka.

" Kalau begitu aku tidak perlu khawatir lagi kan?"

" Memang apa yang perlu di khawatirkan? Sejak awal tidak ada yang perlu di khawatirkan, senior Kris." Si pemuda bermarga Seo itu gantian menjawab.

" Apa pilihan karir kalian, hyung-deul?" tanya si tingkat empat.

" Meneruskan perusahaan ayah," jawab Jaehyun singkat.

" Ohoo... calon CEO rupanya, Jaehyun kita ini."

" Lalu kenapa harus bersekolah di Hogwarts? Tidak di sekolah muggle saja?" tanya si tingkat empat penasaran.

" Bosan di Korea. Siapa tahu aku memenuhi kualifikasi untuk menjadi Minister of Magic." Jaehyun menjawab dengan asal.

" Hubungannya apa, Jung Jaehyun. Astaga bocah satu ini." Kris, si ketua asrama, mendesah frustasi.

" Ada hubungannya, Kris. Siapa tahu jika aku cocok menjadi Perdana Menteri Sihir, ayahku tidak perlu memperbudakku dari posisi bawah."

Sekumpulan murid Slytherin itu kini duduk di sofa hijau empuk yang ada di sekeliling perapian. Dinginnya lantai batu Hogwarts membuat mereka tanpa komando memindahkan pantat mereka meskipun lantai tempat mereka duduk sebelumnya telah diberi mantra penghangat.

Musim dingin telah tiba, salju baru beberapa hari yang lalu turun tetapi udara di luar sudah nyaris mencapai titik beku. Dan berada di bawah tanah serta langsung berhubungan dengan danau hitam membuat asrama Slytherin terasa ekstra dingin.

" Terserah padamu, junior gila," timpal si muka datar.

" Bagaimana denganmu, Chittaphon? Apa kau akan kembali ke Thailand dan menjadi petinggi kementrian sihir di sana?"

" Senior Kai ini lupa atau memang sedikit err... " balas pemuda yang biasanya dipanggil Ten dengan mata yang memutar malas.

" Junior kurang ajar." Balas sang senior tidak terima.

" Untuk apa aku bersusah payah mengikuti kelas Healing bersama Madam Pomfrey kalau nantinya aku hanya bekerja di kementrian. Duh!" Ten membalas dengan sarkasme yang kental.

" Ish."

" Mungkin aku akan melanjutkan pendidikan ke pusat riset di Amerika. Kudengar mereka lebih banyak mengembangkan teknologi yang paling baru tetang kesehatan. Dan setidaknya mereka lebih muggle-friendly daripada pusat pendidikan healer di sini." Ten menambahkan dengan serius.

Mendengar jawaban salah satu calon penguasa asrama setelah ia lulus nanti membuat Kris berpikir apa yang salah sistem di Inggris atau Hogwarts lebih tepatnya.

Entah kenapa sebagian besar adik tingkatnya tidak ada yang memilih untuk bertahan di Inggris.

" Amerika? Kalau begitu maukah kau menjadi, first husband dari Presiden Komunitas Sihir Amerika nantinya, Ten Chittaphon?"

" Itu lamaran atau kau habis terbentur sesuatu, Seo?" balas Ten tak kalah.

" Bagaimana kalau memastikan masa depan. Itu terdengar lebih bagus untukku." Johnny menanggapi.

" Keep dreaming, John." Ten menganggap lalu ocehan musuh numero uno-nya sekaligus ehem-pacar-ehem-nya.

" Aku tahu kau memimpikanku setiap malam, princess."

" Kau punya tendensi menjadi stalker rupanya, Johnny boy."

" Only for you, dearest—"

" Bisakah kalian berdua berhenti flirting dimana pun kalian berada?" kata Kris dengan empat siku-siku imajiner di sudut dahinya.

" Jadi, Johnny dan Ten sebenarnya sama-sama suka?" sahut Jeno dengan polos.

" TIDAK/YA!" dua jawaban berbeda diserukan dengan bersamaan.

" Jangan mengada-ada, Seo! Atau aku akan mencukur dua alismu seperti waktu itu!" ancam Ten.

Johnny hanya terkekeh geli tetapi ia tidak membalas ancaman Ten.

" Seperti ini dinamai dengan flirting?" Ten bertanya keheranan. Entah betul-betul keheranan atau hanya berakting.

" Okay, aku bukan konsultan cinta dan masalah pasangan jadi aku tidak ingin mengurusi masalah orang semacam kalian berdua. Jadi apa pilihan karirmu, Kun?"

" Kaisar China." Yang ditanya menjawab dengan asal dan memilih untuk kembali dengan komik muggle yang sedang ia baca. Dan meninggalkan orang-orang disekitarnya dengan tatapan tidak percaya dan mulut yang melongo.

" Okay, terserah padamu. Next, Johnny?" Kris memecah keheningan.

" Aku? Mudah saja, menjadi seorang pangeran? Atau presiden komunitas sihir Amerika juga tidak buruk." Si pemilik nama Johnny Seo itu membalas dengan mudahnya.

" What the?!"

" Lee Jeno, mulai sekarang tolong pikirkan rencana karirmu di masa depan dengan baik. Aku akan menggantung sapumu di menara astronomi jika kau berakhir seperti mereka di tahun kelimamu." Kai mengancam satu-satunya Slytherin tingkat empat yang secara kebetulan tersesat bersama orang-orang sesat semacam senior tingkat limanya yang aneh dan ajaib.

" Kuusahakan untuk menyusahkanmu, Senior Kai." Jeno membalas dengan sebuah salut hormat.

" That's the spirit! Oh, anakku! Kau belajar dengan sempurna!" seru Ten bahagia.

" Kalau Jeno, anakmu berarti dia juga anakku." Itu timpalan Johnny yang kemudian mendapatkan ciuman sayang dari tongkat sihir Ten.

" Merlin, Morgana, Salazar. Kenapa aku harus menjadi senior dari orang-orang gila ini."

-xXx-

Empat professor dari masing-masing asrama berkumpul di ruang rapat untuk membicarakan konseling karir yang sebentar lagi akan mereka lakukan.

" Entah kenapa aku mendapatkan firasat yang sangat tidak baik untuk konsultasi kita kali ini." si Professor pengajar Herbologi yang sekaligus kepala asrama Hufflepuff berkata.

" Akupun begitu Professor Sprout. Sepertinya kali ini kita mendapatkan kasus yang cukup sulit." Professor Flitwick membalas. Professor bertubuh mini itu adalah kepala asrama Ravenclaw yang mengajar kelas Mantra.

" Mengingat siapa saja yang ada di dalam daftar tahun ini. Aku tidak heran jika ada kasus aneh." Gantian Professor Maison, pengajar kelas Ramuan sekaligus kepala asrama berlambang ular perak.

" Ayo kita lakukan," ucap Professor Wang, kepala asrama Gryffindor, tanpa semangat seperti biasanya.

" Merlin. Berikan kekuatan pada kami."

.

.

To Be Continued

-xXx-

Kamus Mini dunia sihir:

1. Exploding snap : permainan kartu dunia sihir

2. Knockturn Alley : gang gelap dimana terdapat deretan toko tempat menjual barang-barang yang dianggap berbahaya dan terkadang ilegal.

3. Auror : Sejenis polisi yang ada di dunia sihir, mengurusi masalah-masalah kriminalitas di dunia sihir

4 Potioneer : pembuat ramuan

5. Sistem penilaian di Hogwarts (tugas, ujian, dll)

- O (Outstanding) = Luar biasa

- E (Exceed Expectation) = melebihi perkiraan

- A (Acceptable) = bisa diterima

- P (Poor) = kasihan

- D (Dreadful) = mengerikan

- T (Troll)

6. Ada 2 ujian utama di Hogwarts yaitu OWLs di tahun ke lima dan NEWT di tahun ke tujuh.

.

.

Balasan Review :

Park RinHyun-Uchiha : rugi apanya... untung itu kekekeke...

ROXX h : Ten sama Jaehyun punya banyak aib seriusan kekeke... Masih banyak ujian... cb cherry bomb bakalan banyak sesuatu... waspada hati... moment jyanten akkk...

yeolloaddedbaek : rambutnya emang bogoshippeo banget...

Doraeyoyuta : tuh tuh (tunjuk atas) sedikit momentnya TaeYu lolll~~~

.

Pojok cuap-cuap : Janten moment kemarin senin demi apaaaaa aaakkkk hati saya *dies* ehehe... seneng banget akhirnya anakku (read: Ten) keluar dari basementnya gedung sm... kinclong banget si anak kemaren.. walaupun nggak banyak ngomong tapi liat dia bersinar aja udah uhh... hati eomma nak~~ lmao..

okay sedikit berlebihan... tapi HAPPY BORN DAY BUAT SI TETUANYA NCT~~ MAS MOON~~ Tetep lucu, tetep lawak, tetep datar kayak biasanya ya mas~~ lmaaoooo

makasih banyak buat yang udah baca, review, follow, favorite

semoga makin banyak yang suka sama cerita ini

and last, hello fellow NCTzen~~

Dee