.7.
Sinar oranye keemasan membias memasuki jendela bus yang ditumpangi Eniq, menyilaukan matanya hingga dia harus menyipit. Namun hal itu tidak mengganggunya untuk terus menatap ke luar karena ini pertama kalinya dia pergi sangat jauh dari panti asuhannya.
Apa yang dilihatnya sangat berbeda dari kota kecil nelayan miliknya. Lebih banyak transportasi mengisi jalan dibanding pejalan kaki. Perumahan beratap merah dibagi berpetak-petak dipotong oleh jalan besar yang langsung mengacu pada sebuah bangunan sangat tinggi, jauh di atas skala manusia, di jantung kota. Menaranya berkepala kerucut menjulang menusuk cakrawala. Dari kejauhan seperti raksasa kelabu, gigantisnya menghasilkan bayangan gelap pada lapangan besar di depannya. Akhirnya Eniq bisa melihat St. Mary yang sebenarnya. Gambar yang ada di buku seperti miniatur tanpa kesan, padahal aslinya membangkitkan bulu kuduk.
Dan kalau ia melihat lebih jauh ke belakang, ia bisa melihat raksasa lainnya berupa cairan tawar perak keemasan, meliuk-liuk, menikung dengan sangat halus hingga titik terjauh. Permukaannya di musim panas sangat tenang menghanyutkan bagai lapisan kristal. Begitu tenangnya hingga ia bisa melihat beberapa perahu kayu meluncur, menghayati dorongan menggoda dari hulu ke hilir Sungai Warnow.
"Apa pendapatmu, Eniq?" Roger memutuskan untuk bertanya, sedari tadi dia sudah memperhatikan antusiasme Eniq.
Eniq memalingkan kepalanya, menatap Roger, kembali melihat bola mata birunya yang semakin mempesona ditimpa cahaya senja. "Jauh lebih besar daripada yang kuduga, Roger, Sir."
Roger tersenyum, memaknai 'besar' dalam dua arti tidak terlalu berlebihan. "Dibanding kota-kota lain di Jerman yang banyak berubah selesai perang, Rostock masih bertahan. Tetap tua, tetap anggun."
Eniq mengiyakan dalam diam. Beberapa pangkalan laut dan udara militer sempat dibangun di Warnemuende semasa perang. Pernah pula dinistakan pasukan Soviet. Namun sekarang hanya namanya yang tersisa, serangan udara, ledakan, dan waktu telah menyapu bersih noda-noda peperangan ke dalam sejarah. Sebagai kota yang berhasil bertahan dari gempuran keanarkhisan manusia, penghargaan tertinggi adalah keindahan yang semakin terasah akibat pengalaman.
"Apa kau tahu bahkan Rostock hampir menjadi kota terpadat karena," Roger melihat ke luar, kepada vista yang menawarkan sejuta misteri, rahasia, sekaligus godaan untuk terus dijelajahi, "Siapa yang tak ingin berada di Surga?"
NeverLand. Eniq mengimbuhkan.
"Kakek, Eniq, kita sudah sampai di terminal!" Elize mengingatkan. Mereka tidak akan terus sampai ke daerah kota tua. Karena pada daerah itu tidak dibangun permukiman. Kota tua disakralkan untuk gereja dan pasar. Wajar pasar bertumbuh di dekat gereja, karena gereja merupakan aksis dari jalan terbesar, yang notabennya dilalui banyak penduduk, pengusaha yang jeli akan menyadari potensinya. Lagipula pelataran gereja biasanya merupakan lapangan besar menggunakan perpaduan batablok merah dan kelabu membentuk pola-pola lingkaran dikhususkan sebagai tempat pertemuan. Pengaturan ini masih merupakan warisan Romawi kuno yang diusung setinggi-tingginya. Tidak ada negara di Eropa yang melenceng dari cengraman akar adatnya. Tempat pertemuan itu sangat fleksibel, maka bila sekarang berubah menjadi pasar pun tidak ada masalah sama sekali.
Jalan terbesar ( road ) terpecah-pecah menjadi Avanue dan Street. Avanue lebih besar dari street, menghubungkan road dengan street, atau avanue satu dengan yang lainnya. Seperti jaringan pembuluh, avanue akan pecah menjadi sulur-sulur yang lebih kecil yang disebut street. Nantinya street yang akan membantu orang mencapai kavling rumahnya atau rumah relatifnya.
Mereka berada di terminal paling dekat dengan rumah Elize. Belum ada perumahan yang terlihat, keramaian masih sangat orthodoks. Keriuhan dari pasar malam memberi ilustrasi lain kehidupan bagai festival. Kemungkinan Eniq akan lebih menikmati waktunya dengan melihat-lihat bila sebuah mobil hitam yang berhenti di depan mereka datang lebih terlambat.
Pria berpakaian formal; kemeja berkerah tinggi, berdasi tipis warna hitam. Topi sutra bundarnya senada dengan rompi gelapnya. Warna matanya seperti mata Elize –Eniq bisa langsung memperkirakan relasinya-. Warna madu yang teduh.
"Aku tidak terlambat kan?" seharusnya retoris, tapi pria itu kelihatan gelisah. Padahal busnya baru saja berderum pergi.
Elize tertawa, "Tentu saja tidak. Kau datang di waktu paling tepat, Ayah."
Ya, ayah..., sudah masuk dalam prediksi Eniq. Dia tidak terkejut.
"Bagaimana kalau kita masuk ke mobil dulu, Tuan-tuan," pria itu tersenyum kepada Elize, "Dan Nona? Percakapan bisa menunggu, tapi tidak makan malam,". Dia sudah memperhatikan ada personil adisional, seperti juga si adisional memperhatikannya. Tapi perkenalan mereka akan terjadi lebih santai dalam perjalanan.
"Pasti kau adalah Eniq," rupanya Tuan Lebercht –nama keluarga Elize- tidak tahan ingin bercengkrama. Begitu mobil meluncur, dia langsung membuka mulut. Tentu saja karena dia tidak sabar ingin bertemu muka dengan teman spesial putrinya yang membuatnya harus pulang lebih awal daripada biasanya. Istrinya menelponnya berkali-kali hanya untuk memastikan dia akan pulang seperti janjinya dan bergabung dalam makan keluarga.
"Benar, Herr(1)," Eniq sekuat tenaga menahan kakinya tetap di bawah. Kosentrasinya dipakai untuk menjaga posisi duduknya tetap sama, percakapan ramah dan sopan luput darinya. Harusnya dia mengucapkan, "Senang berjumpa denganmu."
Baris kalimat itu boleh dilewatkan, karena Tuan Lebercht sendiri tidak peduli dengan basa-basi, dia lebih senang bertanya, "Apa pelajaran di sekolah terasa mudah bagimu? Elize bilang kau terlalu cerdas untuk anak seukuran kalian. Tentu saja olimpiade mendatang bukan -."
"Ayah!" Elize memutus galak, "Kau belum memperkenalkan dirimu sendiri! Astaga."
Tuan Lebercht menepuk dahinya, antusiasme berlebihan sering menyandung langkahnya. Roger, duduk di samping Eniq, bibirnya terus melengkung sedari tadi. Kecerobohan Tuan Lebercht fenomena internal biasa di dalam keluarga. "Seite. Sampai di mana aku tadi?"
"Olimpiade, Herr Seite," Eniq memberi kata kunci.
"Ah ya, benar. Olimpiade bukan hal besar bagimu tentunya?"
"Jangan pernah ceroboh," Eniq tidak mengatakan ini untuk menyindir, "dalam pertandingan. Seseorang terus mengatakan itu padaku."
Tawa menghanyutkan berputar dalam cakrawala mikro dalam mobil, "Nasihat bagus, pastinya dari seseorang yang bijak."
"Suster Hilda? Ya," Eniq menjawab pelan. Mengingat Suster Hilda, omelan yang didapatnya akan menjadi dua kali lipat. Dia belum memberitahu ke mana dia pergi.
"Ngomong-ngomong Suster Hilda," Tuan Lebercht pasti orator atau kritikus kelas kakap, buktinya dia bisa terus menyambung percakapan dengan berbagai topik baru, "Benar kau tinggal di panti asuhan?"
"Ayah!" Elize kembali menegur, memperingatkan Tuan Lebercht untuk tidak mulai menyinggung masalah pribadi. Dan keberuntungan memihak padanya, baru saja mereka melalui rumah sendiri dan terlewatkan karena Tuan Lebercht terlalu kusyuk dalam mengintrogasi tamu kecilnya, "Rumahnya sudah terlewat!"
"Astaga!" pekik Tuan Lebercht tertahan. Dia membuka kaca jendelanya, melihat nomor rumahnya beberapa nomor di belakang mobilnya. Untuk pertama kalinya dalam perjalanan, pria itu bungkam, memundurkan mobilnya dengan tenang hingga tepat di depan rumahnya.
Sepanjang kiri dan kanan, rumah tipikal dua lantai beratap merah, berderet membentuk jalan yang mereka lalui dari ruang kosong di tengahnya. Trotoar tidak pernah putus sepanjang jalan, lebarnya kira-kira dua meter. Di satu titik ada lampu jalan dari besi dicat hijau, beritme mengikuti panjangnya trotoar. Pengakhiran di puncaknya bergulung-gulung seperti sulur tanaman rambat.
Cahaya-cahaya dari dalam ruang-ruang sedikit menerobos ke luar, sama sekali tidak kuasa melawan pekat. Namun tawa dan desing percakapan menguar di udara, nuansa damai berjaya memenangkan hati gelisah sepulang beraktivitas.
Mereka menaiki lima anak tangga sebelum mencapai teras rumah dan menunggu di sana. Seite menekan tombol di samping pintu, belakangan ada suara nyanyian mesin dari dalam rumah. Sembari menunggu, Seite menduga-duga masakan yang akan dihidangkan melaui harumnya yang menyusup keluar tanpa tertahan pintu, jendela, maupun tembok. Berliku-liku di sekitar hidung, membangkitkan kelaparan sangat. "Ayam panggang lemon," Seite mengangguk-angguk, sangat yakin dengan penciumannya, "daging asap dengan basil dan zaitun, istriku memang pandai menjamu tamu."
Seolah telah mendapat kata kunci, pintu mengayun terbuka. Seorang wanita yang membukanya. Wajahnya sangat ramah, apalagi mata biru magnetis Roger ada padanya. Sungguh pesona sangat kuat untuk seorang wanita. Kesan pertama yang didapat Eniq adalah wanita cerdas di balik keramahan dan kesopanannya. Istilah 'Singa menyembunyikan taringnya' bisa dipakai, tapi jelas wanita di hadapannya bukan singa. "Selamat datang, Suamiku, Ayah, Elizeku yang manis, dan tentu saja Eniq." Wanita itu lebih memilih menyapa satu persatu untuk pendekatan personal. Untuk nama terakhir yang disebutnya, dia membiarkan dirinya lebih lama memandangi pemilik nama tersebut, sekaligus memberikan senyum lebih lebar. Pernyataan terbuka kalau ia menerima tamu dengan sangat baik.
"Aku adalah ibu Elize, Valentine Lebercht," ucap wanita itu tegas setelah membiarkan Eniq menginspeksinya dengan pikirannya sendiri, dalam batas waktu toleransinya.
"Eniq saja, Frau(2) Valentine," mengacu pada tidak ada nama keluarga.
Valentine tersenyum, senyum sendu, prihatin, namun tidak berlebihan. Mengasihani adalah tindakan hina, kecuali berempati. "Silakan masuk. Makan malam hampir siap."
Eniq mengeksplorasi seluruh bagian rumah Elize yang sempat disapu dalam padangannya. Cahaya kuning keemasan menyelimuti ruang keluarga dengan tungku perapian dari bata merah. Di sana ada jendela menjorok keluar, yang bisa dilihat dari luar rumah. Sekarang tirai warna hijau pastel sudah menutupinya, pastinya karena sudah cukup malam. Furnitur di sana warnanya dibuat sehalus dan sekontras mungkin dengan cahaya keemasan. Cocok sekali pilihannya bila jatuh pada warna-warna gradasi hijau.
Sebelum bermuara pada ruang makan, Eniq menjumpai mulut tangga. Tentunya tangga itu akan menuntunnya ke lantai dua. Dia hanya menjumpai warna putih sepanjang penglihatannya. Putih bersih, pada setengah bagian ke atas sampai plafon, setengah ke bawah berwallpaper aprikot, satu kesatuan dengan lantai marmernya.
Lampu dengan tempat-tempat lilin ala klasik bergantung di atas meja makan bundar dari kayu ek. Dapur ada di sebelah kiri, di penghujung ruangan ada pintu besar menghadap taman belakang.
Rumah mungil yang menyenangkan.
"Ngomong-ngomong apa kau sudah memberitahu Suster Hilda?"
"Belum," Eniq masih sibuk melihat kesana-kemari dengan ketertarikan observasi luar biasa.
Elize membelalak jengah, "Seharusnya kau beritahu dia! Kau akan membuatnya khawatir! Telepon seka-."
"Jangan!" Eniq menyergah cepat.
Elize memandangnya. Padangan amat menuntut penjelasan. Sangat deklaratif hingga tidak perlu menyuarakannya.
"Aku sudah menyinggungnya semenjak pagi sebenarnya, biar sekalian saja," ucap Eniq pelan, tidak peduli.
"Anak-anak, jangan bicara saja! Ayo duduk," Valentine mengibaskan tangannya ke dua anak yang berdiri mematung di dekat meja makan.
Elize masih tidak percaya dengan kekejaman Eniq –wajahnya sangat cemberut waktu duduk, semakin cemberut karena Eniq duduk di sampingnya-. Namun tidak ada seorangpun yang memusingkannya.
Sejam hanyut dalam pembicaraan cukup menerbangkan semua kekesalan Elize pada Eniq dan kecemasannya pada Suster Hilda. Seite terus merentetkan pertanyaan. Eniq tidak salah menerka. Seite bekerja sebagai pembantu kepercayaan dari kandidat minister president dari suatu partai. Dia menjadi duta, menjamu perwakilan dari partai lain, bernegosiasi dengan berbagai pihak, tidak heran dia begitu pandai berbicara. Seite mengaku dia tidak ceroboh bila sedang bekerja –terpaksa membela diri karena terus didesak istrinya-. Bahkan keluarganya cuma tertawa menanggapinya, tapi Eniq percaya. Bila tidak, mana mungkin Seite menjadi tangan kanan dari calon penguasa? Seite banyak bicara mengenai kesibukannya. Tahun depan akan diadakan pemilihan umum seperti dua tahun lalu –terlalu banyak alasan sehingga Pemilu belum bisa berlangsung stabil, hanya saja Seite tidak memberitahukannya. Katanya itu adalah rahasia umum. Kabar dibiarkan tetap simpang siur, membiarkan masyarakat menduga-duga. Namun kenyataannya tetap menjadi uap yang tak dapat diraih. Animo menjadi pegangan, biarpun mungkin fakta tidak seindah animo itu sendiri-.
Kesibukannya tentu berhubungan dengan Pemilu, seperti menyusun dan mempersiapkan agenda pawai ke seluruh penjuru kota, mengatur rapat dan kaderisasi calon, dan lain sebagainya, yang meskipun dibicarakan tidak membuka cakrawala anak-anak dalam berpolitik.
Namun Eniq mendengarkan baik-baik, mencatatnya dalam hati. Keterangan apapun akan menjadi penting pada saatnya. Pengetahuan umum harus dikuasainya dengan baik, apalagi politik banyak berhubungan dengan penetapan perundangan baru dan eksekusinya.
"Herr, saya memperhatikan peraturan baru akuisisi tanah. Sebenarnya bagaimana prosedur untuk reklaim?"
"Kau memperhatikan berita berat, Eniq," Seite senang Eniq memperhatikan dunia perpolitikan.
"Mudah saja sebenarnya. Pemilik surat tanah atau orang yang telah diberi kuasa harus pergi ke ibu kota...Itu di Schwerin. Selanjutnya kau pergi ke pemerintah distrik, karena sebenarnya akuisisi tanah ini berintegral pada pemerintahan Jerman keseluruhan. Setelah mendaftar di sana, kau akan diminta pergi ke Lembaga Kenotarisan Distrik, karena notaris yang selalu mengurus masalah perdata seperti ini. Kau tinggal berputar-putar di dalam sana selama seharian penuh, ketika keluar kau sudah punya akta tanah baru."
"Apa biasanya orang-orang yang tinggal di areal non-hunian akan mendapat surat pengumuman?"
"Tentu saja. Pemerintah tidak mau disangka rampok kan?" Seite tertawa, menurutnya pertanyaan Eniq konyol.
"Bagaimana pembagian arealnya?" seiring semakin dalamnya pertanyaan, suasana makan malam pun makin serius. Semua menyimak adu tanya-jawab Eniq-Seite.
"Well, tentu saja didasarkan pada kandungan dan sumber daya alam di area tersebut. Para peneliti seharusnya sudah menyelesaikan tugas mereka. Meneliti kandungan tanah bahkan mengeksplorasi dari kulit bumi sampai ke perutnya. Pembagian ini sangat penting, selain sebagai aksial pemerintah terhadap eksodus, juga bila-bila, katakan saja suatu saat ditemukan tambang gas atau minyak, perumahan rakyat tidak digusur untuk digantikan pabrik-pabrik dan mesin bor," jelas Seite panjang lebar, senang dia bisa menjabarkan begitu banyak wawasan dan pandangan.
"Tapi berarti, bila areal yang memang sudah dihuni, terbukti tidak memiliki kandungan alam dalam perut buminya, penduduk di sana tidak harus pindah ke manapun," simpul Eniq.
"Persis. Bahkan mungkin menjadi daerah pemusatan penduduk."
Eniq menggigiti kukunya. Yang lain mengamatinya. Keheningan menjadi ganjil karena mereka semua menunggu Eniq mengeluarkan suara lagi.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan, Nak? Tanyakan sampai kau puas," Seite malah ingin ditanya lebih banyak lagi.
Eniq tersenyum kecil, "Tidak, Herr. Aku sudah cukup jelas, terima kasih atas penjelasannya."
"Oh, tidak masalah," Seite mendengus, "Bagaimana kalau kita alih topik? Aku sangat tertarik dengan jumlah tangkapan ikan trout belakangan ini! Grafik kurva di surat kabar sangat mencengangkan, sampai aku takut para nelayan itu mengeruk semua ikan trout di laut!"
Percakapan berlangsung keluar dari topik menarik Eniq. Dia sudah tidak terlalu fokus, rileks mendengarkan percakapan sambil menyantap hidangan penutup luar biasa. Sup buah. Dia sempat mengernyit karena rasa kecut stroberi, dengan girang dituangkannya gula cair sebanyak-banyaknya ke dalam mangkuknya. Apa yang menahannya tidak menghabiskan gula cair itu hanya segaris tipis kesopanan yang belum diputusnya. Setelah berpikir banyak, asupan manis sangat membantunya kembali bugar, setidaknya tetap pada standar. Manisan dari kebutuhan tersier telah menjadi sekundernya.
"Eniq," Elize memecah ketekunannya memakan hidangan penutupnya, "Bagaimana kalau besok sore kita main tenis? Aku akan ajak Kakek."
"Ah ya," Roger tersenyum, "Kita bisa main di lapangan, sangat dekat dari rumah."
Anak laki-laki itu mengernyit. Sayang sekali. Padahal dia ingin menjejal kemampuannya dengan Roger. Kalau saja dia bisa selevel dengan Roger, dia dapat mengalahkan Elize seperti sesumbarnya. Tapi tidak bisa, besok dia sudah merencanakan pergi ke kantor surat kabar dan notaris. Tidak boleh ditunda. "Tidak, maaf. Kemungkinan besok aku akan ada di panti."
"Kenapa?"
"Suster Hilda, kau mengerti kan?" Eniq tidak ingin menyebut peristiwa besar apapun yang akan menimbulkan kepanikan dalam keluarga Elize. Tapi Elize mengerti maksud Eniq, segera dia cemberut lagi, "Semua salahmu, karena kebodohanmu!"
Senyum masam menghiasi bibir Eniq. Baguslah dia kabur saat makan pagi tadi. Omelan Suster Hilda bermanfaat sekarang. Kemungkinan dia tidak akan diperbolehkan keluar dari panti oleh Suster Hilda –cukup untuk menghentikan paksaan Elize-, lalu waktu berharga itu akan digunakannya untuk menyelidiki kantor surat kabar dan kantor Westin.
"Pokoknya kalau kau sudah sempat, kabari aku, okay?"
Eniq mengangguk sebagai tanda kesepakatan.
--HF-Smile--
Bus terakhir pukul sepuluh malam sempat dikejarnya.
Tidak banyak lagi kendaraan atau orang berseliweran di jalan. Sudah cukup larut untuk beraktivitas. Lampu-lampu pun meredup dalam kesunyian. Tanda-tanda kehidupan sulit diditeksi, hanya deruman mesin yang mendengkur sepanjang perjalanan. Cengkraman menghanyutkan alamiah seperti ini cenderung membuat orang pesimistik.
Kenangan makan malam kekeluargaan, pertemuan dengan wajah-wajah baru penuh keramahan larut dalam pusaran bayangan horor kemarahan Suster Hilda.
Eniq sama sekali tidak bisa membayangkan bagaimana Suster Hilda akan melumatnya, lebih menyedihkan lagi, semenjak dia tidak bisa mensimulasikan kemarahan Suster Hilda, dia tidak bisa merekonstruksi alibi, alasan, atau apapun juga yang bisa meredakan amukan Suster Kepalanya dalam sekejap.
--HF-Smile--
Eniq mengendap-endap, menunggu dirinya pasti dengan kesenyapan di balik pintu belakang. Dia memutuskan masuk sembunyi-sembunyi daripada harus bertemu Suster Hilda karena dia sama sekali tidak menemukan alibi yang cukup kuat.
Untunglah dia selalu ingat pintu belakang yang terhubung dengan dapur jarang dikunci. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dapur maupun di ruang-ruang lain yang dilaluinya. Jam di ruang tengah berdentang sebelas kali, memekakkan telinga. Bahkan ketika Eniq menaiki anak-anak tangga menuju kamarnya, dia masih bisa mendengar gaungnya.
Lorong kamarnya hanya diterangi cahaya lemah kekuningan dari lampu tempel di setiap samping pintu. Anak-anak yang lain pasti sudah tertidur.
Eniq tidak segera menerobos masuk kamarnya, tapi mengamati. Ia menemukan serbuk-serbuk kayu di sekitar pintu kamarnya. Pintu tuanya sedikit keropos di bagian sikunya. Bila dibuka tanpa perhatian khusus, maka bagian rentan itu akan lantak, meninggalkan jejak-jejak serbuk. Dia selalu memperhatikan caranya membuka pintu sehingga tidak pernah meninggalkan jejak.
Hanya satu kesimpulannya.
Ada orang yang masuk ke dalam kamarku.
Anak lelaki itu ragu menekan kenop pintunya. Mungkin Suster Hilda mencarinya. Dia tidak bisa memastikan apakah wanita tua itu masih ada di dalam atau tidak, tapi kemungkinan siapapun orang itu, dia masih ada di dalam karena serbuk-serbuk kayu itu terakumulasi di sekitar pintunya. Seandainya orang itu sudah keluar, pasti ada serbuk kayu di sepanjang lorong. Eniq menempelkan telinganya di pintu, mencoba mencari tanda kehidupan.
Tubuhnya tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Berat tubuh condong ke depan membuatnya terperosok dan tersungkur di dalam kamarnya.
Hal pertama yang masuk ke dalam jangkauan matanya adalah sepatu hitam mengkilat dan rok panjang mencapai lantai. Eniq tidak berani mengadah, dia tahu pasti siapa yang ada di hadapannya.
"Dari mana saja kau, Eniq?" suaranya berbisik, tapi kedengaran seperti mendesis.
"Aku..."
Belum sempat Eniq menjawab, Suster Hilda kembali melemparkan sebuah pertanyaan, "Ke mana kau tadi pagi?"
Bocah itu menunduk, sangat dalam. Dia tidak akan mengeluarkan jawaban apapun, lebih mudah kalau Suster Hilda memarahinya dan menghukumnya.
"Berdiri! Aku sedang bicara denganmu!" perintah Suster Hilda galak.
Berdiri di hadapan Suster Hilda tidak pernah semenegangkan ini. Eniq menelan ludah seraya mengangkat tubuhnya. Siluet Suster Hilda lebih besar daripada biasanya. Tidak ada kelembutan dan kasih sayang.
"Sekarang jawab pertanyaanku," suaranya kembali merendah, tapi mengancam. Eniq menggaruk lemah kakinya dengan kaki yang lain sebagai tanda kegugupan. Juga menelan ludah. "Jawab!"
"Aku diundang ke rumah Elize, makan malam dengan keluarganya," jawab Eniq akhirnya. Berbohong hanya akan memberatkan hukuman.
"Kenapa kau tidak memberi kabar?"
"Itu-Kupikir karena aku juga membuat masalah di pagi hari," garukan di kakinya semakin intens.
"Jadi kau sudah tahu di mana salahmu? Kabur pada makan pagi walaupun sudah tahu kau harus ada di sana."
"Pagi tadi aku ada janji main tenis," meskipun tidak ada janji, tapi dia benar-benar bermain tenis. Dia tidak sepenuhnya berbohong.
Mata Suster Hilda menyipit, mengawasi bocah tanggung yang berdiri kaku di hadapannya. Ia memutuskan untuk terus mengintrogasi, "Kenapa kau tidak mengatakan kau punya janji?"
"Karena mendadak. Aku menerima ajakan pagi-pagi sekali," kebohongan yang bagus, Suster Hilda tidak akan bisa mendesaknya lagi karena wanita itu tidak mau mengekspos masalah penyitaan panti asuhan pada anak-anak, meskipun sebenarnya Eniq sudah tahu.
"Apapun alasanmu, kau tetap mendapat hukuman karena membuat orang-orang khawatir," sesuai dugaan, Suster Hilda berhenti bertanya, "Besok pagi-pagi sekali pergilah ke ruang pengakuan dosa. Kuminta kau merenungkan kesalahanmu. Dan kau tidak boleh ke manapun selain ke sekolah. Kau hidup dalam batasan-batasan, kau tidak boleh sembarangan melanggarnya."
"Baik, Suster," jawabnya pelan. Bola mata hitam kelamnya bergulir bersamaan gerakan Suster Hilda. Emosinya selalu kontradiksi, antonim. Di saat bersamaan dia merasa senang sekaligus sedih. Senang karena dia bisa memanfaatkan waktu hukumannya untuk kabur ke kantor surat kabar dan kantor notaris, sedih karena dia harus mengecewakan Suster Hilda lagi.
Tapi ada benang merah yang menghubungkan kesenangan dan kesedihannya yang disebut tujuan.
Eniq hanya akan mengabdikan dirinya pada tujuan itu, apapun yang bakal terjadi padanya.
--HF-Smile--
Dua hari menuju penyitaan.
Eniq berada di dalam ruang pengakuan dosa. Ruang sempit mengurungnya nyaris dalam kegelapan total. Ada koneksi berupa jendela dengan ruang di sebelahnya yang menjadi ruang pendeta.
Apa yang berenang-renang dalam benaknya bukanlah kesalahan-kesalahan yang sudah dilakukannya, tapi potongan-potongan informasi yang sudah dikumpulkannya sampai saat ini.
Dia menggigiti kukunya sambil menyambungkan potongan-potongan puzzle.
Perpindahan penduduk besar-besaran dari Jerman Timur ke Jerman Barat, memicu pertumbuhan lingkungan-lingkungan kumuh tanpa setifikat resmi. Oleh karena itu pemerintah menelurkan undang-undang akuisisi tanah yang meratakan penyebaran penduduk berdasarkan potensi zona-zona. Pemberlakuannya marak semenjak tiga tahun lalu, di mana eksodus terjadi dan menimpangkan perekonomian serta kepadatan populasi.
Bila Rostock-Warnemuende adalah daerah pemusatan suatu industri, baik industri perumahan maupun besar, berarti seharusnya ada potensi alam yang tersimpan di dalamnya. Namun sejauh mata memandang, apa yang ditemukan adalah bangunan-bangunan tua, mercusuar, pasir putih, tebing-tebing, dan air asin.
Kegiatan perekonomian utama sepanjang sejarah adalah industri perkapalan-Warnow Warft Shipyard yang melegenda-, perikanan, dan pusat lalu-lintas maritim. Material-material bahan baku biasanya diimpor dari negara bagian lain. Tidak ada yang berbau pertambangan hasil sedimen fosil dalam perut bumi di Warnemuende.
Pernyataan Roger di bus pun mengganjal hipotesisnya.
"Apa kau tahu bahkan Rostock hampir menjadi kota terpadat karena siapa yang tidak mau tinggal di Surga?"
'Terpadat', Eniq sangat menggarisbawahi kata itu. Mungkin bukan saja karena Warnemuende adalah Surga di bumi, tapi juga merupakan daerah akumulasi kependudukan.
Dia bisa membuktikan hipotesisnya benar, yang dia perlukan adalah data peningkatan penduduk tiga tahun terakhir yang bisa dia dapatkan di kantor surat kabar.
Kekusyukannya terpecah oleh debaman halus daun pintu.
Ada gambar hidup terbentuk di jendela yang berhadapan dengan tempat di mana Eniq berada. Tentu saja itu manusia, jangan berpikir konyol, dan gambar hidup itu sebenarnya Suster Hilda.
"Apa hasil renunganmu, Eniq?"
"Aturan dapat dilanggar untuk urusan yang lebih mendesak."
"Apa urusan yang sangat mendesak bagi anak kecil sepertimu?" Suster Hilda kembali bertanya, dia kedengaran geram karena sepertinya hukuman berdurasi subuh ke pagi kurang menyadarkan anak asuhnya.
"Urusan yang menyangkut orang banyak dan keselamatan," balas Eniq polos namun keras kepala.
Suster Hilda merenung, mempertimbangkan misteri di balik kalimat lugas Eniq. Anak ini sangat yakin dengan pendiriannya hingga merasa dirinya tidak bersalah. Atau dia berhasil membaui sesuatu dengan hidung kecilnya? Kontemplasi terakhir menghenyakan Suster Hilda, membuatnya meningkatkan kewaspadaan, "Kau tidak sedang mencampuri urusan orang lain kan?"
"Tidak."
"Dengar, kita harus mengakhiri sesi ini sekarang. Ada tamu yang akan datang dan kau harus hadir di ruang makan," ucap Suster Hilda lelah.
"Mereka tidak akan mengadopsi anak aneh sepertiku," tentang Eniq, dia tidak sedang mengasihani diri sendiri. Dia bahkan tidak berpikir dirinya bersedia diadopsi.
"Tidak ada yang aneh pada dirimu. Kau sama saja dengan anak-anak seusiamu," bujukan wanita tua itu tidak seramah biasanya, terburu-buru dan tegang, "jangan merajuk, ayo ikut aku keluar."
Decitan kursi bergeser mengisi telinga Eniq, tapi dia bergeming.
Kesabaran Suster Hilda menipis. Kecintaannya pada anak-anaknya, keinginannya untuk melindungi dan menyelamatkan menjadi pisau yang berbalik arah menusuk padanya. Dia selalu berada di ambang batas antara kasih sayang dan ketegangan. Mudah meledak dalam emosi, larut dalam pikirannya sendiri, dan tidak suka ditantang.
"Eniq, ayo keluar," wanita itu sebisa mungkin merendahkan suaranya. Menjaga kewarasan tetap memegang kendali meskipun sulit dilakukannya.
Eniq adalah pembangkang, kesimpulan yang menstimulasi api kemarahan menyembulkan ketegangan ke permukaan, menyembunyikan sisa-sisa kewarasan ke dasar terdalam. "Kau menghabisi kesabaranku, apa kau perlu aku menyeretmu?"
Warna merah menyala membakar wajah Suster Hilda, pertama kali dalam hidupnya dia tidak bisa mengontrol dirinya. Dengan sekali sentakan, dia membentangkan pintu penghubung ruangannya dengan ruang Eniq.
Tatapan lurus Eniq diarahkan kepadanya. Tidak ada rasa takut maupun bersalah di sana. Yang ada adalah tantangan dan keteguhan. Anak ini jelas menguji kapasitasnya sebagai orang yang usianya terpaut jauh darinya. Di mana sopan santun yang ditanamkannya semenjak kecil? Suster Hilda kehilangkan akal sehatnya dan mulai memaki, "Sekarang kau jagoan pembangkang, eh? Apa yang kulakukan untukmu adalah demi kebaikanmu! Kau tidak perlu bersikap defensif pada hal yang tidak kau mengerti!"
Eniq mengangkat wajahnya, semakin dalam menatap Suster Kepalanya. Tidak berkedip, tidak ragu. "Maafkan aku, Suster. Aku pun melakukan sesuatu untuk kebaikan Suster...Dan orang-orang. Oleh karena itu, aku akan tetap di sini."
Kalau sedari tadi tangan Suster Hilda terkepal kaku di samping tubuhnya, ketika aliran kerjasama antara otak dan syaraf neuron terputus, maka ke mana tangan itu bergerak, melayang pergi meninggalkan sisi tubuh pemiliknya, seluruhnya di luar tanggung jawab akal sehat. Meskipun di saat kesadaran itu kembali, dia menyesal tidak bisa memutar waktu.
Tubuh ringannya dengan mudah terhempas, seperti layangan rusak dipermainkan keganasan ombak atau lecutan angin, membentur keras dinding yang mengungkung ruang menjadi satu setengah meter persegi.
Nafas tidak tentram menyesakan kamar yang sudah penuh oleh dua pribadi, ditambah hawa panas yang meningkat membakar kulit. Selama kesesakan itu ada, tidak ada yang memulai mengucapkan kata.
"Kalau memang itu yang kau inginkan," tandas Suster Hilda menahan nafas. Dia mengembalikan Eniq dalam kesendirian dan kesunyian ruang sempit itu. Pukulan pertama yang didapatnya membuatnya sedikit kehilangan arah. Ulu hatinya seperti dihujam, dicabik-cabik. Setelah sekian lama dia berhasil terbang dengan pikiran bahagianya, begitu tinggi hingga dataran dan lautan terlihat seperti gambar peta skala satu banding sepuluh ribu, sakit hati menyeretnya jatuh hingga kegelapan paling keji.
Ada kalanya Peter Pan pun berkontemplasi. Dia bukanlah jelmaan peri, bukan pula anak dewa-dewi yang sempurna. Desas-desusnya dia adalah bayi atau bocah laki-laki, manusia. Manusia yang sebenarnya rapuh, tunduk pada tekanan kesedihan. Namun ketika seorang bocah memutuskan dirinya adalah Peter Pan, identitas dirinya harus dibuang ke palung terdalam, membelakangi nasib buruknya, dan hanya melihat ke arah datangnya sinar saja.
Hanya itu satu-satunya alasan baginya untuk tidak cengeng, kembali bangkit dengan keteguhan berkali-kali lipat.
--HF-Smile--
(1) Herr : Mister ( Germany )
(2) Frau : Mistress (Germany )
Let's learn some facts or you can skip it:
Sumber : berbagai situs internet yang bikin pusing kepala...
Warnow Werft Shipyard : dibuka tahun 1946 di Warnemuende, bergerak dalam bidang perkapalan; seperti jual-beli kapal, pembuatan, penderekan, penyewaan. Memiliki peran penting dalam memajukan Rostock dan memulihkan ekonomi Jerman setelah kekalahan besar pada Perang Dunia II.
Mecklenburg-Vorpommern : merupakan satu dari 16 negara bagian Jerman, di mana kota Rostock terdapat di dalamnya. Setiap negara bagian memiliki kepala pemerintahan sendiri, yaitu presiden mentri.
Pada tahun 1991, yang menjabat sebagai presiden mentri adalah Dr. Alfred Gomolka. Dan pada tahun berikutnya terjadi pemindahan tampuk pemerintahan. -inget kan ayahnya Elize, Seite, yang sedang sibuk persiapan pawai?-
Old Town ( Kota Tua ) : dibangun di sekitar satu atau beberapa pasar, dilengkapi dengan gereja dan Town Hall, merupakan ciri arsitektur kota Eropa pada masa klasik.
Author's note : akhirnya chap 7 ini rampung juga! Yey! Terima kasih buat semua dukungannya! Saya tidak tega melihat Eniq harus ditampar dan mengalami sakit hati pertamanya, secara Suster Hilda adalah orang yang paling dia sayangi selama ini, orang yang memberi banyak harapan, pelajaran, dan panutan. Orang yang sudah memiliki arti sedalam itu baginya, yang mengenalkannya pada kebahagiaan, akhirnya menjadi orang pertama yang menjatuhkannya dari kenikmatan terbang di langit ketujuh. Tapi dia harus menerimanya sebagai proses untuk menjadi dewasa.
Daripada memilih bersikap manja dan merasa dikhianati, Eniq lebih memilih memperjuangkan tujuan yang dianggapnya benar, semua dilakukannya untuk the most dearest person for him, meskipun dia harus mengorbankan perasaannya sendiri...ckckckckck, kok saya jadi curhat??
Errr, hope you all enjoy it! Please keep tracking me. Let's see together how L become so strong and wonderful.
Reviews and con crits are very welcome.
EDIT : pada versi chapter 7 sebelumnya, saya salah menuliskan 'Jerman Barat ke Jerman Timur', padahal seharusnya dari 'Jerman Timur ke Jerman Barat'. Saya sudah merevisinya, semoga di kemudian hari saya lebih berhati-hati sebelum mempost fic. Happy reading!
