-Baby Aery HHS-

Luhan (GS) | Sehun

T+ / M

Romance, Absurd, Marriage Life, Fluffy

Typo, Mature, GS

Chapter 7

.

.

.

.

.

Keningnya berkerut. Dia bergerak tidak nyaman, dan sesekali merubah posisinya untuk mencari kehangatan. Badannya terasa dingin, tapi sampai dia meringkuk memeluk lutut, atau merapatkan selimut, tubuhnya tidak juga menghangat. Sehun terbangun karena itu.. dia membuka mata dan melihat hari sudah tidak lagi malam. Rasa pusing di kepalanya masih mendera, namun tidak semenyiksa semalam.

Dia mendudukan diri, masih lumayan lemas. Matanya mencari-cari keberadaan Luhan namun tidak menemukan sosok perempuan itu. Karena tenggorokannya didera haus Sehun menyibak selimut, berniat untuk beranjak dari ranjang, tapi yang terjadi mulutnya menganga saat mendapati dirinya tidak mengenakan apapun.

Telanjang bulat!

SEJAK KAPAN DIA MENJADI SEPERTI INI?

Sehun menelan liur, dia tidak mengingat apapun selain tubuhnya yang demam, tapi Sehun yakin kalau dia memakai baju lengkap kemarin, jadi kenapa sekarang dia telanjang? Sebuah handuk yang setengah basah terjatuh dari atas pangkal pahanya, dan dia mengambilnya dengan napas tersendat.

Apa jangan-jangan Luhan mengkompres pangkal pahanya? Jika iya, itu artinya Luhan..

Suara langkah kaki mendekat terdengar di tengah-tengah keterkejutannya yang belum hilang. Sehun menatap horror pada arah pintu karena kemungkinan yang datang adalah Luhan. Setengah gugup, Sehun segera mengembalikan semua posisinya seperti semula. Dia kembali berbaring, pura-pura tidur agar Luhan tidak tau kalau dirinya sudah terbangun.

Sehun hanya merasa malu jika harus bertatap muka dengan Luhan dalam keadaan Luhan sudah melihat 'lagi' seluruh bagian tubuhnya.. sungguh itu memalukan untuk Sehun. Jadi biarkan Luhan berpikir kalau dirinya tidak tau apapun yang sudah perempuan itu lakukan.

Dari matanya yang sedikit mengintip Sehun bisa melihat Luhan yang mendekat. Perempuan itu langsung menempelkan tangannya pada kening Sehun, memeriksa suhu tubuh Sehun. "Syukurlah.. tidak lagi panas seperti semalam." Gumaman itu Sehun dengar. Sepertinya Luhan merasa begitu lega karena suhu tubuhnya turun, dan mengetahui kalau Luhan sangat mengkhawatirkannya membuat Sehun ingin tersenyum. Oh, kenapa ingin tersenyum?

"Sehun."

Jangan jawab!

"Kau sudah bangun?"

Jangan bergerak! Mati-matian Sehun berusaha mempertahankan posisinya. Mengkontrol bola matanya agar tidak bergerak-gerak resah, dan tetap terpejam tenang supaya Luhan tidak mencurigainya.

"Kau masih tidur rupanya."

Sehun melihat kalau Luhan sedang berdiri dengan kerutan di kening sembari memperhatikannya, seperti perempuan itu sedang memikirkan sesuatu. Tapi apa yang sedang Luhan pikirkan, Sehun pun benar-benar tidak bisa menebak.

Luhan tidak sedang berpikir untuk melakukan tindakan macam-macam, kan?

Perempuan itu berbalik memunggunginya, dan barulah Sehun sedikit melebarkan matanya. Dia terus memperhatikan Luhan yang sedang mengambil pakaian di lemari, dan saat perempuan itu kembali berbalik Sehun langsung memejamkan matanya lagi.

"Aku mohon jangan dulu bangun, Sehun."

Apa yang akan kau lakukan memang?

Dalam kepura-puraannya Sehun merasakan kalau Luhan dengan hati-hati sedang memakaikannya pakaian. Sedikit mengintip, Luhan terlihat begitu lucu karena wajah tegangnya saat tengah memasukan tangannya pada lubang lengan.

Sebegitu takutnya ketahuan ya? Dalam hati Sehun tertawa. Luhan pun pasti berpikiran sama, tidak ingin dirinya tau kalau dia sudah melucuti pakaiannya tanpa Izin semalam, karena itu akan menimbulkan kesan canggung bagi mereka berdua. Jadi perempuan ini memakaikannya pakaian sebelum terbangun, padahal dia sudah bangun sejak tadi dan melihat semua yang Luhan lakukan.

"Selesai."

Oh! sudah selesai? Celenanya juga? Kapan?

Luhan berjalan keluar dari kamar, dan saat pintu sudah tertutup Sehun segera membuka mata lalu menyibak selimut. Benar.. sekarang dia sudah memakai pakaian lengkap. Terlalu tenggelam pada pikirannya Sehun sampai tidak merasakan pergerakan Luhan di tubuhnya.

Uh, memang apa yang ingin kau rasakan Sehun?

Sedikit mendengus, Sehun kembali berbaring dan menutupi wajahnya menggunakan selimut.

Dia tidak sedang kecewa, kan? MEMANG APA YANG KAU KECEWAKAN? SADARKAN OTAKMU KEPARAT!

Kaki panjangnya menendang-nendang udara tak menentu. Dia melompat turun dari ranjang, lalu bergegas menuju kamar mandi. Sepertinya dia masih demam dan butuh merendam kepalanya di dalam air mendidih.

.

.

Luhan sedang memotong sayuran saat melihat Sehun masuk ke dapur dan duduk di kursi pantry. Wajah pria itu terliihat kusut juga masih sedikit pucat. "Kau butuh sesuatu? Kau lapar atau haus?"

"Berikan aku air putih."

"Tunggu." Luhan segera menuangkannya dan memberikannya kepada Sehun.

"Nona!" Suara dari luar terdengar. "Ini yang kau pesan." Dan Hyun Woo muncul di detik berikutnya, membawa dua kantung plastik di tangannya.

"Kau mendapatkannya?"

Sehun hanya memperhatikan Luhan yang menghampiri Hyun woo, lalu menerima dua kantung plastik itu. Mendecih pelan saat Luhan tersenyum lebar kepada Hyun Woo.

"Ini obatmu." Salah satu kantung itu Luhan sodorkan di depan Sehun. "Minumlah setelah makan." Dan dengan enggan Sehun menerima.

"Terima kasih Hyun woo." Luhan mengusak rambut kecoklatan Hyun woo, membuat pria itu tersenyum malu juga gugup. Setelahnya dia meninggalkan dapur, entah pergi kemana, menyisakan Sehun yang tidak lepas menatap kearah Hyun woo.

"Kau anak paman Suk Jin?"

Mendapat pertanyaan dari atasan acuhnya untuk yang pertama kali membuat Hyun woo sedikit kaget. "Ya tuan." Dia menjawab gugup, tidak tau harus memasang senyum seperti apa.

"Berapa usiamu?"

"Delapan belas tahun."

"Delapan belas?" Sehun mengulang dengan tidak menduga. "Bocah apanya." Dia bergumam pelan, lalu lebih menatap tajam kepada Hyun woo, seperti ingin melempar pisau bayangan melalui matanya agar Hyun woo mati.

Tapi apa yang salah dari Hyun woo?

Entahlah.. Sehun hanya tidak menyukainya.

.

.

Selesai menghabiskan sarapannya Sehun kembali masuk ke kamar. Dia menutup pintu bertepatan dengan Luhan yang keluar dari dalam kamar mandi. Perempuan itu bersenandung, terlihat senang juga rapi. Wewangian parfume bahkan menguar di sini, membuat Sehun keherapan karena Luhan terlihat tidak seperti biasanya. "Kau mau kemana?"

Luhan berbalik badan menghadap Sehun. Dengan senyuman lebar, dia merentangkan ujung dressnya lalu berputar-putar. "Cantikkan?" Menunjukan kepada Sehun keindahan dress yang dikenakannya. "Akhirnya aku terlepas dari hoddie tidak sexy itu. Sekarang aku bisa memakai dress-dress cantik yang ibu belikan."

Kening Sehun berkerut. Kalau Luhan sudah tidak memakai hoddie lagi bukankah itu artinya.. "Kau sudah membeli bra?"

"Tentu." Luhan mendekat. Menarik ke samping bagian bahu dress berlengan pendeknya, dan memperlihatkan tali hitam yang tersampir di bahunya. "Hyun woo yang membelikan."

"Apa?"

Luhan memundurkan langkah saat Sehun seperti terkejut berlebihan di depannya.

"Kau menyuruh dia membelikan bra? Kau tidak punya malu, ya?"

"Memang kenapa?" Cuek pada bentakan Sehun, Luhan kembali merapikan dressnya. "Lagi pula siapa yang membuatku melakukan itu? Kalau suamiku tidak membelikanku ukuran empat puluh, aku tidak akan mengandalkan orang lain." Dengan sengaja Luhan memberi penekanan di kelimatnya, seperti ingin mengingatkan Sehun pada kesalahannya.

"Tapi tetap saja dia itu orang asing!"

"Dia bukan orang asing, dia orang yang aku kenal." Luhan menatap aneh kepada Sehun yang tidak terlihat seperti biasanya. Untuk apa peduli pada hal seperti ini? Kepribadiannya kan cuek, jadi buat apa sekarang peduli pada hal yang bukan kepentingannya sendiri? Luhan mendesis sebab hatinya bertanya-tanya. "Kenapa kau marah? Kau tidak mungkin marah karena aku mengandalkan Hyun woo, kan?"

Sehun terdiam layaknya batu karena pertanyaan Luhan. Kalau Luhan bertanya seperti itu, sekarang Sehun pun baru tersadar dan sedang bertanya seperti itu kepada dirinya sendiri. Kenapa dia marah? Untuk apa? Sehun berdehem, lalu menghindar dari tatapan menyelidik Luhan. "Aku.. aku hanya tidak berpikir kalau kau seberani itu menyuruh Hyun woo."

"Aku tidak menyuruh Hyun woo membeli narkoba, jadi untuk apa takut."

"Tapi bisa saja sekarang dia sedang mengkhayalkanmu memakai bra yang dia beli."

"Dia normal, itu wajar."

"Perempuan gila."

"Oooo.. kau cemburu ya?" Luhan menuding jahil tepat di hidung Sehun, seperti menemukan sesuatu yang disembunyikan. Dia tersenyum menggoda kepada pria itu yang langsung menyingkirkan tangannya.

"Untuk apa aku cemburu pada bocah seperti dia?"

"Oh, lihat! Jadi kalau Hyun Woo bukan bocah kau akan benar-benar cemburu, begitu?"

Sehun mendengus lalu melewati Luhan begitu saja yang sedang tertawa geli. Padahal apa yang lucu? Luhan mengejarnya dan merangkul Sehun dari belakang. "Kau cemburu, kan? Yakan?" Seperti tidak puas dia terus mencerca Sehun, walau pria itu tetap bungkam, menatapnya kesal atau tak henti melepaskan diri dari pelukannya.

Namun Luhan bukan perempuan yang mudah menyerah. Saat Sehun ratusan kali berpaling, dia akan ribuan kali menghampiri. Saat Sehun ratusan kali menghindar, dia akan ribuan kali mengejar. Saat Sehun ratusan kali melepaskan pelukannya, maka Luhan akan ribuan kali memeluk Sehun, bahkan semakin erat dan lebih erat sampai pria itu tidak bisa berpaling, menghindar juga terlepas darinya!

.

.

"Noona, kau sudah siap?"

"Tentu!" Luhan menyahut pertanyaan Hyun woo dari dalam kamar.

"Kalian mau kemana?" Sehun yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang, bersama leptop di atas pangkuannya bertanya kepada Luhan yang terlihat lebih rapi daripada tadi pagi.

"Aku mau keluar jalan-jalan bersama Hyun woo."

"Aku sedang sakit dan kau berniat jalan-jalan?"

Luhan mendekati Sehun, lalu menangkup kedua pipi pria itu. "Kau sudah tidak demam, kau juga sudah meminum obat, jadi tidak apa-apakan kalau aku pergi sebentar? Aku bosan di Vila terus."

Sehun melepaskan tangan Luhan dari pipinya. "Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu kepadaku? Mungkin aku bisa saja tiba-tiba demam dan jatuh pingsang."

"Ya ampun.. berhenti cemburu Oh Sehun."

"Aku tidak cem-bu-ru."

"Baik.. kau tidak cemburu jadi biarkan aku pergi, ok?" Luhan mencium bibir Sehun sekilas, lalu berlari kecil menuju pintu, namun belum juga pintu itu terbuka, dia sudah lebih dulu mendengar pekikan dari arah belakang. "Sehun." Jejak langkah sebelumnya kembali Luhan tapaki saat melihat pria itu meringis kesakitan di atas ranjang. "Kau kenapa? Apa yang terjadi?" Setengah khawatir Luhan memegang lengan Sehun.

"Perutku sakit." Sehun kembali mengaduh, masih memegangi perutnya. Dia pun tidak tahu kenapa melakukan ini, berpura-pura sakit hanya agar Luhan tidak pergi, tapi aktingnya tidak cukup buruk sebagai seorang amatiran.

Ini hal terkonyol yang pernah dia lakukan!

"Benarkah? Kenapa?" Luhan dengan bodohnya terperangkap pada akting Sehun. Dia benar-benar terlihat cemas karena kebohongan Sehun. "Hyun woo!"

"Ya noona."

"Ambilkan obat sakit perut, sekarang."

"Baik noona." Tidak butuh waktu lama untuk menunggu Hyun woo. Pria itu kembali masuk ke kamar setelah menemukan obat yang Luhan minta. "Ini noona."

Luhan menerima obat itu, dan segera mengambil satu butir untuk dia berikan kepada Sehun. "Minum ini."

Sehun menatap butiran obat itu ngeri. Ini diluar dugaan! Oh, dia tidak sakit sungguhan.. apa harus Luhan melakukan ini kepadanya?

"Sehun." Melihat Sehun hanya diam, Luhan menegur dengan cara menggoyangkan sedikit bahunya. "Kau tidak apa-apa?"

Jangan sampai terjebak pada kebohonganmu sendiri bodoh! Sehun tersadar lalu menatap Luhan. "Aku tidak mau meminum obat itu."

"Kenapa?"

"Karena.." Berpikir! Gunakan otak pintarmu! "Karena.. aku sudah minum obat demam. Iya, itu.."

"Kau meminumnya tadi siang. Sekarang sudah jam empat sore, Sehun."

KENAPA KAU MELUPAKAN HAL ITU? Sehun memaki dirinya sendiri dengan kencang. "Benarkah?" Mati saja kau kalau ketahuan!

"Minum ini."

"Tidak mau."

Mata Luhan menyipit melihat gelagat Sehun. Pria itu sekarang sudah tidak terlihat kesakitan lagi padahal beberapa menit lalu dia bertingkah seperti akan mati. Tidak mungkin kan rasa sakitnya hilang secepat itu, terkecuali kalau.. "Kau pura-pura ya?"

"Apa?"

"Kau pura-pura sakit perut."

"Tidak. Ahk.. sakit sekali." Sehun kembali berlaga kesakitan, tapi entah kemana jiwa aktor yang hinggap pada dirinya beberapa menit lalu. Sekarang aktingnya sangat buruk! Tidak menjiwai.

"Kau iya!" Luhan membentak karena tipuan Sehun benar-benar terlihat. Dengan gemas sekaligus kesal Luhan meraih bantal guling lalu memukulkannya dengan brutal kepada Sehun. "Pria bodoh! Pria menyebalkan!"

"Yak! Apa yang kau lakukan!" Sehun berusaha menghindar, melindungi dirinya sendiri menggunakan lengannya yang dia silangkan dari amukan Luhan.

Hyun woo yang sejak tadi menyaksikan tersenyum melihat kekacauan di depannya. Walau terkesan kasar, tapi bukan kah mereka terlihat manis? Pintu kamar Hyun woo tutup. Dia keluar dan hanya mendengar makian Luhan yang disahut jeritan Sehun dari luar.

.

.

Hari itu Luhan kehilangan kesempatannya untuk pergi jalan-jalan, dan dia menyalahkan Sehun untuk semua itu! Padahal dia sudah bosan setengah mati karena sejak datang dia belum pernah melihat pemandangan sekitar. Tapi dengan teganya saat ada kesempatan Sehun justru menggagalkannya.

Bagai memiliki dunia masing-masing Sehun sibuk dengan leptopnya, sementara Luhan yang masih kesal kepada Sehun hanya memainkan game di ponselnya sejak tadi. Walau kini mereka berada di satu ranjang yang sama, tapi seakan ada tembok yang memisahkan keduanya. Membuat mereka tidak saling melihat atau berbicara.

"Mati kau!" Kekesalannya Luhan lampiaskan pada karakter game yang sedang dia tembaki. Bagaimana dia menyentuh layar ponselnya bahkan terlihat kasar, seperti dia tidak peduli jika layar ponselnya akan menjadi retak. "Mati kau Oh Sehun keparat!"

Mendengar makian untuknya Sehun hanya mendecih. Mungkin Luhan sedang membayangkan kalau karakter game yang sedang dia bantai adalah dirinya, tapi siapa peduli?

"Oo.. kenapa ini?" Luhan menggerak-gerakan ponselnya yang tiba-tiba saja tidak berfungsi, dan saat di layar muncul peringatan bahwa batre lemah, Luhan hanya bisa menghela napas. Ponselnya tidak lagi bisa digunakan. Luhan berpaling menatap Sehun. Dia terdiam sebentar, sebelum perlahan menggeser posisinya mendekat kepada Sehun. Sudah dibilang kalau Luhan benci suasana seperti di medan perang, jadi tidak apa-apa dia mengalah, toh dia memang tidak diizinkan untuk marah kepada Sehun, karena dia tidak memiliki hak apapun untuk itu. "Kau sibuk?"

Sehun tidak menoleh saat Luhan menyelipkan tangannya pada lengannya dan menyandarkan kepala di bahunya. Dia masih fokus pada pekerjaan yang sedang dikerjakan. Luhan ikut menatap layar leptop milik Sehun, memperhatikan apa yang terpampang di layar walau dia tidak paham pada satu hal pun. "Aku bosan di Vila ini. Sudah setengah bulan kita di sini tapi tidak pergi kemanapun. Hyun woo bilang ada tempat yang indah di sini jadi aku ingin pergi melihat." Tanpa diminta Luhan menjelaskan sesuatu yang mungkin tidak terlalu perlu dia jelaskan, tapi Luhan rasa Sehun harus tau itu. "Tapi kau justru menggagalkannya, jadi kau harus mau jalan-jalan bersamaku nanti."

Sehun tidak menolak atau mengiyakan permintaan Luhan. Jemarinya masih asik bermain di atas keyboard, mengacuhkan Luhan yang sudah memanyunkan bibirnya. Keheningan melanda untuk saat itu, hanya ada suara dari keyboard yang Sehun tekan, sampai sebuah Video Call masuk ke leptop yang sedang Sehun gunakan.

Itu skype dari Jongin! "Mengganggu saja."

Berbeda dengan respon Sehun yang merasa begitu terusik pada Video Call Jongin, Luhan justru terlihat begitu senang, sampai-sampai dia menepis tangan Sehun yang akan menolak panggilan itu, dan tanpa ijin Luhan menerima Video call Jongin.

"Hai Jongin." Luhan dengan girang melambaikan tangan begitu Jongin muncul di layar. Pria itu terlihat masih mengenakan kemeja dengan dasi yang sudah dikendorkan, duduk di atas kursi putar dan di kelilingi dinding penuh tertempel disain berbagai bangunan. "Kau masih di kantor?"

"Minggir." Sehun yang merasa kesal akan tindakan seenak Luhan, menyingkirkannya dari hadapan leptop dengan cara mendorong menggunakan bahunya. "Ada apa?" Dengan tatapan tidak suka Sehun bertanya kepada Jongin yang tertawa.

"Ya, ampun.. apa aku sebegitu mengganggu kalian tuan Oh? Apa kau tidak mengharapkan panggilan dariku? Aku merindukanmu."

Luhan tertawa tanpa sengaja karena jawaban Jongin yang menurutnya menggelikan, konyol tapi juga lucu. Namun Sehun mungkin tidak sepemikiran dengannya karena pria itu mendelik kepadanya hingga membuat Luhan kembali diam.

"Aku akan menutupnya kalau kau hanya akan mengatakan sesuatu yang tidak berguna."

"O.. jangan!" Jongin berseru begitu melihat pergerakan Sehun yang akan menutup leptopnya, dan untungnya Sehun tidak jadi melakukannya . Pria ini memang tidak bisa diajak bergurau! "Aku menelpon untuk memberitahumu, kalau besok kau harus hadir di kantor, karena kita akan membahas proyek untuk di Jepang."

"Apa tidak bisa lain kali?"

"Ini proyek besar. Kau pikir ada lain kali? Apa kau belum puas juga menjadi bayi besar Luhan? Ini hanya satu hari seperti kemarin. Malamnya kau bisa menikmati kembali momen panas kalian."

Makian sudah Sehun siapkan di ujung lidahnya untuk dia semburkan kepada Jongin yang sudah bicara melantur. Namun belum juga satu kalimat dia keluarkan, Leptopnya sudah berpindah tempat menjadi di atas pangkuan Luhan.

"Hai Luhan.. Aku lebih senang melihat wajah cantikmu dari pada wajah pria vampir itu."

Luhan terkekeh pada Jongin yang mengerlingkan mata untuknya. "Tentu, aku juga senang melihat wajah tampanmu lagi."

Tampan? Sehun mendengus. Tampan apanya? Kulitnya saja hitam.

"Aku akan sangat suka untuk menelponmu setiap hari."

"Kau bisa menelponku kapanpun yang kau mau, tapi sekarang aku ingin memberitahumu kalau Sehun baru saja pulih dari demamnya.. jadi apa bisa kalau dia tidak datang ke kantor besok pagi?"

"Bagaimana ini?" Jongin merubah mimik wajahnya menjadi sedih. "Sejujurnya aku tidak akan tega menolak apapun keinginanmu, tapi si pucat itu adalah bagian terpenting di tim kami."

"Benarkah?" Luhan tidak kalah dengan Jongin. Dia memanyunkan bibirnya, memasang wajah memelas yang sangat menyerupai anak berusia tiga tahun. "Apa kau tidak bisa mengundurnya saja?"

"Waahh.. sepertinya aku akan terkena masalah. Tapi demi dirimu aku akan mencobanya."

Hebat! Sehun hampir ingin bertepuk tangan sekaliguas muntah melihat Luhan yang berlaga imut dan Jongin yang sangat menjijikan di matanya. Sepertinya memang benar, seharusnya Luhan menikah dengan Jongin, agar mereka bisa membangun keluarga ajaib bersama.

"Kau akan terkena masalah?" Luhan menghembuskan napas, dengan bahu yang terjatuh lemas. Matanya menatap tidak tega kepada Jongin yang mengangguk layaknya seekor anak anjing yang meminta belas kasihan. "Aku tidak akan tega kalau kau terkena masalah, jadi bagaimana kalau aku mengundang kalian ke sini? Besok hari sabtu jadi kalian bisa menghabiskan waktu di sini sampai minggu sore. Aku akan menyiapkan tempat tidur yang nyaman untuk kalian. Bagaimana?"

"Kau gila?"

"Aku setuju!"

Dua ucapan itu dikatakan serempak oleh Sehun juga Jongin. Yang membedakan Sehun terlihat tidak setuju pada saran Luhan, namun Jongin begitu menyetujui gagasan Luhan.

"Ooohh.. sepertinya suamimu akan mengamuk, Luhan."

"Diam kau!" Sehun mendelik kepada Jongin yang justru tertawa puas sembari sesekali memukul meja. Membuat Sehun kesal sementara pria itu tidak bisa melakukan apa-apa padanya adalah sesuatu yang lebih lucu dari acara komedi apapun yang pernah Jongin lihat.

Tidak mempedulikan Sehun, Luhan tetap tersenyum kepada Jongin. "Jadi datang ya besok. Aku akan menunggu kalian." Setelah mengatakan kalimat itu sambungan terputus, dan barulah Luhan beralih kepada Sehun. "Kau lucu." Tidak takut pada amarahnya, Luhan jusrtu mengecup bibir Sehun sekilas.

Dan mungkin itu seperti siraman hujan di atas api yang berkobar. Seketika amarahnya berkurang, walau sekarang Sehun masih mendelik kepada Luhan. "Kau tidak waras, Luhan.. untuk apa mengundang mereka datang?"

"Untumu, tentu saja." Dia tidak merasa melakukan hal yang salah, jadi Luhan menjawab dengan begitu tenangnya. "Yang penting kau bisa menghadiri pertemuan itu tanpa harus ke sana, kan? Lagipula aku butuh teman. Jika ada Jongin pasti lebih menyenangkan."

"Menyenangkan untukmu, tapi tidak untukku."

"Kenapa? Dia temanmu, kan? Apa kau mau aku menyuruh Ren untuk datang?"

"Sudahlah.. lupakan." Malas untuk berdebat Sehun membaringkan tubuhnya, diikuti Luhan kemudian.

Tau kalau Sehun masih kesal Luhan mendekat lalu memeluk pria itu seperti biasanya. Namun Sehun menolak. Dia melepaskan pelukan Luhan, lalu berbaring membelakangi. Merasa gemas pada mode marah Sehun yang malah terlihat imut dimatanya, Luhan tersenyum geli. Dia kembali memeluk Sehun yang juga terus menolaknya. Beberapa kali penolakan itu Luhan dapat sampai akhirnya Sehun tidak lagi menolak dan Luhan sepenuhnya menang di malam itu.

.

.

Esoknya Vila menjadi begitu ribut karena kedatangan lima teman kantor Sehun yang diantaranya ada Suho juga Jongin. Tepat jam makan siang, Luhan mengeluarkan semua makanan racikannya yang tidak pernah gagal memanjakan lidah yang menikmati. Tawa berderai saling bersahutan dengan suara sendok atau sumpit. Makan siang menjadi ajang saling berbagi cerita satu sama lain, yang membuat makan siang kali ini lebih dari sekedar makan siang.

Setelahnya tujuan utama dimulai. Sehun bersama teman-temannya berkumpul di ruang tamu, membahas tentang pekerjaan. Luhan yang hanya menjadi pemanis, hanya duduk diam di kursi. Mendengarkan, dan melihat bagaimana mereka saling beradu argument.

Luhan tidak tau kalau duduk seperti patung bisa jadi tidak membosankan kalau yang kau lihat adalah Sehun. Sekarang sudut bibirnya bahkan tertarik ke atas, karena sosok Sehun yang menjadi berkali-kali lebih menawan saat sedang bekerja.

Pria itu menjadi begitu tegas ketika sedang mengutarakan pemikirannya, seperti tidak memiliki keraguan atau batas untuk memamerkan otak pintarnya. Bahkan saat dia hanya duduk fokus mendengarkan itu sudah cukup menambah ketampanannya yang memang sudah melebihi batas pria lainnya. Bagaimana kening itu berkerut atau alisnya yang melengkung dengan pandangan tertuju ke leptop saat sedang meneliti, sangat tidak menjenuhkan untuk dipandang.

Matanya bahkan sama sekali tidak terasa lelah atau perih walau Luhan menjadi jarang berkedip. Berkedip menjadi sesuatu yang dia hindari sekarang karena tidak ingin melewatkan apapun ekspresi Sehun. Sebegitu bahayanya kah kalau terpesona pada seorang Oh Sehun? Kau menjadi mengacuhkan segalanya bahkan dunia, dan hanya berpusat kepadanya. Tapi pria itu memang memiliki satu juta pesona mematikan juga melumpuhkan, kan? Dan wajar jika dirinya yang hanya perempuan biasa dapat terjerat pada pesonanya.

JADI CEPAT SADARKAN DIRIMU SEBELUM KAU BENAR-BENAR JATUH PADANYA LUHAN BODOH!

Seperti ada yang berteriak di telinganya. Luhan menggeleng-gelengkan kepala, mengusir suara itu yang telah menyadarkannya. Dari mana asal suara itu? Hatinya? Otaknya? Atau hantu? Sedikit meremang Luhan beranjak dari kursi lalu pergi dari sana.

Sehun yang tidak sengaja melihat Luhan keluar dari dalam vila terus mengamati kemana perempuan itu pergi. Luhan terus berjalan turun dari bukit, dan seandainya sekarang dia tidak sedang rapat, mungkin Sehun sudah mengejarnya.

.

.

Selepas rapat usai Sehun segera turun dari bukit. Dia selalu menatap kesekitar, tidak melepas sudut manapun di sekelilingnya. Sekarang dia sudah berada di bawah, namun Luhan belum juga tertangkap pandangannya. Perempuan itu tidak kenal daerah sini, jadi seharusnya dia tidak pergi jauh, terkecuali nekad. Dan Sehun pikir Luhan tidak seberani itu.

Hari sudah menjadi semakin sore saat Sehun telah berjalan sedikit jauh. Dia sesekali memanggil nama perempuan itu, tapi mendapati apa yang dilakukannya sia-sia Sehun bermaksud kembali ke Vila untuk meminta bantuan. Namun baru satu langkah dia berbalik sebuah panggilan menghentikannya.

Itu Luhan.. dia melambai sembari tersenyum lebar. Dan entah perasaan ini hinggap dimana, tapi Sehun merasa lega karena menemukan perempuan itu ada di pandangannya dalam keadaan baik-baik saja.

.

.

"Kau mau membawaku kemana?"

Luhan hanya tersenyum, tidak menjawab. Dia mengeratkan genggamannya pada tangan Sehun. Mereka berjalan menyusuri sebuah jalan yang dikelilingi pepohonan rindang juga tanaman liar lainnya. Luhan lah yang memimpin langkah dan Sehun hanya mengikuti sembari mengamati karena dia baru melihat suasana seperti ini.

"Sampai."

Ucapan Luhan membuat Sehun berhenti merekam jalan. Dia menatap ke depan, tepat di ladang yang dipenuhi bunga Dandelion yang telah mekar. Sehun hanya berdiri. Menganggap biasa keindahan di depan matanya yang mungkin akan membuat kaum hawa kegirangan. Namun itu menjadi berbeda ketika Luhan masuk diantara bunga-bunga berkelopak kecil berwarna kuning itu.. bergabung bersama ratusan Dandelion yang bergerak ringan diterpa angin.

Bagi seorang pria, perempuan yang tersenyum diantara ratusan Dandelion-lah yang akan membuat Dandelion itu terlihat indah. Dan Sehun sedang merasakannya, bahkan hatinya pun ikut merasakan itu.

Luhan menikmati senja bersama Dandelion yang dia temukan. Tidak seperti Luhan yang akan melompat girang saat menemukan sesuatu yang dia sukai, sekarang Luhan justru hanya tersenyum lebar dengan manisnya, sembari menikmati di mana dirinya berada sekarang, berdiri di tengah-tengah Dandelion yang menari.

Sehun balas tersenyum kala Luhan memanggil namanya, menyuruhnya untuk bergabung. Dan bagai sudah diatur, kakinya melangkah sendiri, mendekat kemana Luhan berada sekarang. Keduanya saling menatap dan balas tersenyum saat sudah berhadapan. Luhan mengambil satu langkah, menjadi semakin dekat, dan tanpa sungkan dia memeluk Sehun.

"Dari mana kau menemukan tempat ini?" Sehun bertanya kepada Luhan yang sedang menyandarkan kepalanya pada dadanya. Apa senyaman itu? Kenapa kau sering melakukannya? Terkadang dia juga ingin menanyakan itu.

"Hyun woo. Ini tempat yang akan kami datangi saat itu, tapi karena kau menggagalkannya aku jadi mencerinya sendirian."

Sehun mendecak. "Bukankah kau memintaku untuk pergi bersama? Kenapa tidak memberitahu?"

"Kau hanya diam."

Benar! Sehun ingat kalau dia tidak memberi jawaban. "Kalau begitu lain kali kau tidak boleh pergi sendirian."

"Kenapa?" Luhan melepas pelukannya dan menatap penuh tanya kepada Sehun.

"Kenapa apanya? Kau akan merepotkanku kalau kau tersesat."

"Hanya itu?"

Tidak! "Ya, hanya itu."

Luhan mendengus, merasa sedikit kecewa. Dia berharap Sehun akan mengkhawatirkannya, tapi harapan macam apa itu saat mereka saja bukan pasangan sungguhan, dan Sehun sudah memiliki kekasihnya sendiri. Jangan konyol, Luhan. Itu hanya harapan kosong.

"Ayo kita pulang." Menyadari posisinya Luhan memundurkan langkah. "Jangan sampai menginjak Dandelionnya, itu akan menyakiti mereka. Ini semua adalah harta karunku." Dia sedikit bergurau, berbicara dengan nada ceria seperti biasanya. Penuh kehati-hatian agar tidak menggugurkan satu bungapun, Luhan berjalan melewati Sehun yang masih terdiam.

"Luhan."

"Ya." Merasa dipanggil, Luhan berbalik badan, dan dia tidak sempat mencerna apapun saat pinggangnya ditarik dan bibirnya dibungkam oleh bibir lain yang terasa lembut.

Hitungan detik Luhan butuhkan untuk mencerna semuanya. Mencerna apa yang Sehun lakukan, mencerna keterkejutannya, juga mencerna debaran hatinya yang menggebu. Dirinya bahkan harus bertarung dengan otaknya untuk menganggap kalau ini nyata dan bukan mimpi apa lagi khayalan.

Sehun membaca akan keterkejutan hebat Luhan. Dan mungkin perempuan ini sedang menduga-duga pada apa yang dia lakukan sekarang, tapi Sehun sendiripun tidak tahu kenapa melakukan ini. Terlepas ini benar atau salah, dia hanya melakukan sesuai keinginannya, karena dia tidak ingin melihat Luhan kecewa seperti apa yang dia lihat barusan.

Jangan kecewa, Luhan. Jangan merasa kecewa padaku, karena saat kau kecewa padaku, kau hanya akan semakin terluka karena aku tidak akan bisa memenuhi harapanmu.

Dekapan pada pinggangnya terasa semakin erat, dan saat itu Luhan yakin jika ini bukan sekedar mimpi di ujung senja, tapi ini kenyataan.. Di tengah-tengah hamparan Dandelion, Sehun untuk pertama kali mencium dirinya, dan betapa Luhan bahagia untuk menyadari itu.

.

.

Senja sudah tenggelam saat mereka menyusuri jalan untuk kembali pulang. Sejak mereka keluar dari ladang Dandelion senyuman Luhan tidak kunjung meredup, bahkan terus merekah seperti ingin memberitahu senja tentang kebahagiaannya.

"Sehun." Di tengah langkah kaki yang meninggalkan jejak, Luhan memanggil pria di sampingnya.

"Hemmm.."

"Aku ingin bertanya."

Tanpa menoleh Sehun mengangguk. Pria itu tetap terlihat tenang, tidak tersirat apapun yang dapat Luhan tebak bagaimana perasaannya sekarang.

"Waktu itu kenapa kau pura-pura sakit perut saat aku akan pergi dengan Hyun woo?"

"Aku hanya tidak menyukai Hyun woo karena aku dengar dia adalah seorang playboy yang biasa membuang gadisnya setelah ditiduri, dan aku hanya takut kau akan menjadi korbannya, mengingat kau itu sedikit tolol dan mudah dibodohi. Mungkin bisa saja kau dipaksa saat sedang bersamanya."

"Benarkah?" Luhan sangat terkejut mendengar penuturan Sehun. Dia amat terlihat mempercayai sederet kalimat Sehun. Selama ini penilaiannya pada Hyun woo adalah laki-laki yang baik hati juga polos, tapi apa yang diharapkan dari pria jaman sekarang? Luhan meringis di dalam hati.

Sehun tertawa dalam diam. "Tentu saja." Dengan yakinnya dia menangguk, tanpa ambil pusing bagaimana pandangan Luhan terhadap Hyun Woo sekarang. Dasar perempuan bodoh. Seperti menipu anak berusia lima tahun memang kalau menipu Luhan.

.

.

Sehun keluar dari kamar setelah mandi. Dia berjalan, bermaksud bergabung bersama teman-temannya yang sedang bermain kartu di ruang tamu, namun saat dia melewati dapur Sehun menghentikan langkah. Ada Luhan di sana yang ditemani Jongin. Mereka mungkin sedang masak untuk makan malam, dan Sehun hanya bisa menyaksikan bagaimana mereka berbagi tawa bersama sekarang.

Luhan terlihat menikmati kebersamaannya bersama Jongin. Itulah yang Sehun tangkap. Luhan memang sebaiknya seperti itu.. hidup bersama Jongin atau Chanyeol, bukan dengan pria kaku seperti dirinya.

.

.

Para tamu undangan Luhan kini sudah jatuh terlelap setelah perut mereka kenyang. Beralaskan kasur lantai mereka tidur bersama di ruang tamu yang sudah disisihkan beberapa perabotannya. Lampu-lampu di beberapa ruangan telah padam, tanda kalau sudah waktunya tubuh diistirahatkan.

Luhan pun sudah siap dengan pakaian tidur jitunya, yaitu kemeja kebesaran milik Sehun dan celana pendek. Namun saat dia akan naik ke ranjang, lengannya ditarik membuatnya berbalik kepada Sehun yang menyerahkan sepasang piyama miliknya.

"Jangan membuat tubuhmu sendiri kedinginan hanya untuk menggodaku. Pakai ini."

Sehun langsung berbaring selepas menyerahkan sepasang piyama itu. Sementara Luhan hanya terdiam, menatap piyama miliknya. Ada sesuatu yang berbeda pada Sehun yang Luhan rasakan, tapi Luhan tidak tau itu apa, karena perbedaan itu tidak nampak nyata, Luhan hanya merasakan itu dari tatapannya.

.

.

Keheningan membuat suasana menjadi amat sunyi. Semua orang telah lelap di balik selimut masing-masing, namun Sehun masih terjaga saat jam sudah menunjukan pukul satu dini hari. Dia masih berkutat bersama selembar kertas juga pensil karena dia harus sedikit merubah desain dari hasil mereka rapat tadi siang. Matanya tajam terfokus pada kertas yang hanya menjadi gumpalan tidak berguna di lantai, karena beberapa kali tangannya mencoba mengukir sebuah gambar selalu berakhir tidak sesuai dengan yang dia harapkan.

Otaknya buntu, tidak ada bayang-bayang sebuah gambar yang bisa dia tuang di kertas. Entah pergi kemana imaginasinya yang selalu disebut 'imaginasi langit' oleh orang-orang. Kenyataannya imaginasinya masih berbatas dan tidak setinggi itu.

Menyerah pada otaknya Sehun memutuskan untuk istirahat sejenak. Mungkin dengan begitu otaknya bisa mengumpulkan sebuah ide. Wajahnya dia usap dengan lelah. Sehun menyandarkan punggungnya pada kursi lalu memejamkan matanya, mencoba merangkai sebuah khayalan tentang desain yang cocok, namun yang muncul dalam pikirannya jauh dari angan-angan sebuah bangunan, karena Luhan lah yang menari-nari di dalam otaknya.

Luhan yang tersenyum.

Luhan yang berdiri di tengah-tengah Dandelion.

Dan Luhan saat dia menciumnya tadi sore.

Ya, Tuhan.. dia tidak boleh seperti ini!

Sehun membuka mata, lalu menoleh ke samping, tepat ke ranjang di mana Luhan tertidur dengan tenang sekarang. Menarik napas dalam Sehun kembali menatap kertas kosong di atas meja, bergelut dengan pemikirannya. Dia harus melakukan sesuatu. Hanya itu yang Sehun tau.

.

.

"Jongin!"

Itu jeritan nyaring Luhan di jam Sembilan pagi. Luhan tengah bermain-main bersama Jongin di halaman depan. Hanya bermain batu gunting kertas, dimana yang kalah akan menerima sentilan di kening. Hanya permainan sepele, tapi kenapa terlihat seseru itu?

Sehun meminum kopi paginya, masih dengan arah pandangan ke depan, tepat ke jendela kecil dimana dia mengintip Luhan melalui sana. Pria itu hanya duduk seorang diri, sampai Suho datang dan bergabung duduk di sebelahnya.

"Mengkhawatirkan Luhan, hemm?" Suho bertanya jahil, tapi memang sayang.. sikap dingin Sehun tidak pernah pilih-pilih orang. "Baiklah, aku diacuhkan." Sengaja menyindir, Suho meneguk teh hangat miliknya.

"Hyung.."

"Oh, ada yang bersuara?" Pura-pura terkejut, Suho menlihat kesekitar, sampai pandangannya jatuh kepada Sehun. "Kau ada di sini? Aku pikir aku duduk sendirian karena barusan aku diacuhkan."

Sehun mendecih geli, lalu balik menatap Suho. "Balas dendam?"

"Mana mungkin.. balas dendam itu buruk. Hanya agar kau merasakan rasanya diacuhkan."

"Baiklah.. aku kalah."

Gurauan pagi itu membuat suasana menjadi lebih mencair. Keduanya tertawa singkat sebelum Sehun kembali dengan jiwa seriusnya. "Aku ingin bertanya kepadamu." Pandangannya kembali Sehun lempar ke depan.

"Tanyakan.."

"Apa yang harus dilakukan agar tidak terkana masalah?"

"Woow." Suho mendecak dengan kening berkerut. "Apa pertanyaan arsitek selalu seperti ini?"

"Jawab saja."

"Baiklah.. seperti membangun rumah. Agar sesuai dengan yang kita inginkan dan tidak terkena masalah nantinya, bukankah kita harus melakukannya dengan benar? Kita membeli kayu yang bagus, cat yang bagus, pelapis yang bagus, juga genteng yang kuat, itu semua untuk menghindari masalah nantinya. Jadi tentu saja.. menghindarinya."

"Bagaimana kalau masalah itu ada pada dirimu sendiri?"

"Masalah itu memiliki sebab, Sehun.. tidak mungkin akan muncul tiba-tiba pada dirimu sendiri. Carilah sebabnya dan hindari dia. Seperti rumah yang kebocoran, itu tidak mungkin jika airnya tembus masuk ke dalam. Pasti ada yang terjadi pada gentengnya."

Sehun tertawa karena perumpamaan Suho. "Apa jawaban seorang kepala proyek selalu berputar tentang rumah?"

"Karena aku tidak memiliki bayangan wanita cantik yang bisa dijadikan perumpamaan."

Keduanya kembali tertawa tanpa segan, tidak terlihat kalau mereka berbeda kursi di dalam pekerjaan. Suara tawa keduanya mungkin tidaklah terlalu nyaring, tapi dari luar Luhan bisa mendengarnya. Dia menoleh, mencari cela di jendela untuk mengintip. Dan dia melihat Sehun yang masih memperlihatkan tawanya walau berangsur-angsur mereda.

Luhan tersenyum menyaksikan itu. Pada apapun hal yang membuat Sehun tertawa sekarang Luhan akan mengatakan terima kasih karena telah membuat pria itu tertawa, dan memberi tahu dirinya bagaimana jika Sehun tertawa.

Oh, dia bahkan bisa melihat gigi taring Sehun yang selalu bersembunyi sekarang.

.

.

Minggu sore menjadi waktu kepulangan Suho bersama rekan-rekannya. Luhan tidak kunjung berhenti melambaikan tangan, sampai kendaraan berwarna hitam itu benar-benar lenyap dari pandangannya. Dia terlihat sedikit sedih melepas kepergian mereka karena suasana Vila akan kembali sepi, namun berbeda dengan Sehun yang nampak sangat baik-baik saja. Dengan tenang pria itu bahkan lebih dulu naik ke atas bukit, membiarkan Luhan sendiri di belakangnya.

"Sehun.. tunggu aku!"

Menghiraukan, Sehun terus berjalan seorang diri, tidak menoleh sama sekali.

"Akh!"

Dan saat terdengar pekikkan itu Sehun baru berbalik dengan wajah kaget. Pikirnya Luhan terjatuh karena terpeleset, tapi perempuan itu hanya pura-pura memekik, kenyataannya sekarang Luhan sedang tersenyum lebar dengan tatapan jahilnya. Merasa dibodohi Sehun hanya mendengus lalu meperlebar langkah kakinya.

"Sehun.. aku bilang tunggu." Luhan mengejar, setengah berlari untuk menyusul. Sesampainya di atas dengan mudah Luhan menjajari Sehun sampai mereka masuk ke dalam vila. "Kau mau makan malam apa?" Luhan bertanya, membuat langkah keduanya terhenti. Dengan pandangan menanti Luhan menatap Sehun yang terdiam.

Setelah beberpa detik Sehun baru berbalik menghadap Luhan dengan pandangan serius yang membuat Luhan menyembunyikan senyum kecilnya dibalik tanda tanya. "Luhan.. ayo, kita lakukan."

"Lakukan?" Luhan mengulang dengan bingung. Masih tidak bisa menangkap maksud Sehun.

"Lakukan ide konyolmu itu."

"Ide konyolku?" Luhan menatap hal lain, berpikir tentang ide yang Sehun maksud. Otaknya menggali segala hal yang mungkin bisa disebut konyol, sampai muncul sebuah jawaban yang sebenarnya kurang Luhan yakini. "E..reksi?" Dengan ragu dia bertanya memastikan.

"Ya.. kita lakukan ide itu."

Seperti yang Suho katakan. Agar tidak terkena masalah kita harus menghindarinya, dan sumber masalahku adalah kau Luhan. Dan secepat mungkin aku harus terlepas darimu, sebelum ada salah satu diantara kita yang terperangkap dalam kesepakatan ini.—Sehun.

.

.

.

.

.

To Be Continue..

Ai.. ai.. ai.. ai.. aku happy bisa bawa chap 7 untuk kalian, karena sebenernya kemarin sempet ada kendala yang bikin FF ini mundur untuk dipost, tapi untung File FF ini bisa diselamatkan T_T Untuk chap delapan aku mau bilang, kayanya bakal lama karena PCku rusak dan masih diservice. Padahal moodku buat nulis ini lagi tinggi banget. Tapi semoga ada solusi biar aku tetep bisa nulis. Cuma mau sampein itu, takut kalian nunggu2.

Untuk chap ini maaf mengecewakan yang ngarep ada NC atau Luhan yang lumat-lumat anunya Sehun lol tapi mungkin next ya hohoho tapi diharapkan tidak mengharapkan lebih pada NC di FF ini. yang kepo adeknya Luhan siapa juga masih aku sembunyikan, karena belum saatnya dia muncul dipermukaan(?) kalo cewe apa cowo udah aku kasih tau. Silakan baca ulang chap 2^^

Untuk yang kemarin koreksi kesalahanku Terima kasih banyak ya.. Aku merasa malu karena kalian lebih teliti dari pada akunya sendiri TT pokoknya terima kasih banyak. Yang tanya soal kompres mengkompres, itu bener ko.. Kompres dilakukan diketiak atau pangkal paha. Dan kenapa aku ambil pangkal paha kan biar enak liat anu hahaha abaikan. Kompres di pangkal paha lebih manjur(?) dari ketiak.

Dan ini DearLu09 yang udah spam riview berfaedah dan nagih mulu Terima kasih ya.. Aku terharu loh sama cara nagihnya -_- ni ampe airmata keluar mulu dari hidung.

Untuk yang suka baca FF YAOI boleh cek Storyku ya.. Kemarin aku POST FF YAOI OneShot judulnya 'UKE SOSIALITA' silakan dibaca dan diberi riview. Doakan anaku (Re: PC) bisa cepet sembuh T_T

Ok.. Terima kasih untuk Riview yang berkesannya. Sekali lagi tolong maklumi kalo ada Typo. Typo adalah sahabat dekat para author. Untuk Follow juga Favoritnya terima kasih banyak. Ditunggu lagi riviewnya^^

Kita ketemu di Next Chap yang mudah2an bisa up sebelum puasa. Amin.. See you :* Jump! Jump! Jump! Jump! We Are HHS.

Gomawo..

Saranghae..