Author mohon maaf atas keterlambatannya. Beberapa hari lalu author sakit dan nggak bisa ngapa-ngapain hueeee

Lalu urusan kuliah juga udah mulai ngurus skripsi. Everything is driving me crazy right now, almost literally.

Please wish me luck!

Dan sebagai permintaan maaf, author bakal update dua chapter sekaligus :")

Enjoy!


Aneh.

"Tenten?"

Ini aneh.

Kedua telapak tanganku terasa dingin. Berbeda dengan suhu wajahku. Bersama, mereka menciptakan sensasi teraneh yang pernah ada.

"Mm...bukan apa-apa..."

Sasuke membungkukkan tubuhnya di atas tubuhku, posisinya di tengah kedua kakiku mengeliminasi semua kesempatan untuk kabur. Bagaimana tidak, ia menggangguku saat tengah menyiapkan bahan untuk sarapan besok pagi hingga membuatku terpaksa duduk di atas meja makan; semua demi mengakomodasi tubuhnya saat menginvasi ruang pribadiku.

"Singkirkan tanganmu." perintahnya ketus. Ia mulai kehilangan kesabaran.

Aku menggeleng.

Aku tidak bisa melakukan lebih dari ini.

"Tch. Sekali lagi saja."

Tidak.

Jantungku serasa mau copot.

Ini tidak boleh.

Aku takut.

"...Tenten?"

Ulang tahun Sasuke yang ke 19...besok. Tanpa alasan yang jelas, kakak nomor dua-ku menjadi lebih rakus dari biasanya. Pada dasarnya Sasuke memang selalu seenaknya, tapi kali ini ia lebih memaksa dari biasanya dan itu membuatku merasa...

"Kau malu?"

...aneh.

"HabisnyaーSasuke-li...lidahー"

"French kiss." koreksinya.

"Terserah! Pokoknya itu terasa aneh. Aku tidak mau."

"...hn. Tapi kau bilang akan memberiku hadiah ulang tahun yang kuinginkan."

"Barang, tahu. Yang bisa dibeli dengan uang dari Itachi-nii!"

Dahi Sasuke direhatkannya ke atas dahiku. Beberapa saat tanpa suara, perlahan aku membuka pertahananku.

Mata Sasuke segelap langit malam. Mereka sama seperti milik Itachi.

"Aku tidak butuh itu."

Jantungku melompat.

Tepat sebelum jemariku kembali bersilang, Sasuke menangkap mereka dan menempelkannya di kedua sisi wajahnya. Aku berharap keringat dingin yang melumasi tanganku hanyalah bagian dari khayalanku dan tidak mengenai Sasuke.

"Tapi-"

"Kumohon."

Manik coklatku melebar. Sasuke memohon. Padaku.

Sekelumit penyesalan mengganjal hatiku saat mataku menangkap waktu yang tertera di jam dinding (pukul 11 malam lewat 49 menit) dan kepalaku mengangguk. Mengiyakan.

"Taーpi!" seruku dengan telapak tangan di bibir Sasuke. Ia tampak siap menyerang kapan saja.

"Ulang tahunmu masih sekitar sepuluh menit lagi, tunggulah sampai tepat tengah malam."

Tatapan bisa membunuh, hanya saja Sasuke tidak berniat sungguh-sungguh membunuhku dengan miliknya.

Aku tersenyum geli.

Sasuke tidak pernah berubah.

Itachi bagaimana?

Senyumku lenyap secepat ia muncul. Pikiranku selalu dipenuhi oleh Sasuke selama beberapa tahun terakhir, aku nyaris menikmati ketidakberadaan Itachi.

Sasuke tahu ekspresi itu.

"Mm-?!"

Aku nyaris berteriak kalau saja Sasuke tidak menangkap punggungku saat dia mendorongku hingga tersungkur. Dan, bibirnya di atas bibirku.

"Sas-?!"

"Terlalu lama." desisnya berbahaya.

"Sekalian saja kita mulai sampai tepat tengah malam."

Jeritan protesku tenggelam dalam kerakusan bibir Sasuke.

Dan lidahnya.

Ciuman Sasuke tidak lagi terasa innocent. Sentuhannya memicu rasa panas. Saat dia menyentuhku seperti ini.

Sasuke seperti akan menelanku bulat-bulat.

Tapi aku tidak berbuat apapun. Aku pasrah di bawah dominasinya.

Karena aku tahu, Sasuke melakukannya karena ia sayang padaku.

Hanya saja ia punya metode yang berbeda.

...ya kan, Itachi?