PART 7

Kyuhyun mengira hari-harinya di asrama akan sangat buruk. Ia semula berpikir akan merasa kesepian dan terabaikan. Awalnya memang seperti itu saat ia menolak mengenal teman-temannya dengan lebih dekat. Ia hanya kenal dekat dengan Lee Hyukjae. Bukan Kyuhyun yang mau mendekati Hyukjae, justru Hyukjaelah yang lebih banyak mengajak Kyuhyun ngobrol dan bercanda.

Semula Hyukjae pun tak yakin ia bisa mendekati Kyuhyun, teman sekamarnya itu. Namun, lama-lama anak itu mau membuka diri. Ia bisa mengimbangi candaan Hyukjae. Malah kadang anak itu yang lebih dulu mengusili Hyukjae, terlebih lagi jika ia tahu nilai-nilai Hyukjae yang pas-pasan bahkan tak jarang di bawah standar. Melihat wajah Hyukjae yang merana malah menjadi hiburan tersendiri bagi Kyuhyun.

Untung saja Hyukjae bukan tipe orang yang mudah tersinggung. Meskipun kadang hatinya mendidih juga mendengar kata-kata Kyuhyun yang seringkali keterlaluan, tapi Hyukjae tak sampai marah apalagi menyimpan dendam. Paling-paling Hyukjae hanya merengut atau kadang memasang tampang menyedihkan seperti orang mau menangis. Sejahat apa pun Kyuhyun, namun ia akan benar-benar berhenti mengerjai Hyukjae dan merasa amat bersalah jika Hyukjae sudah memasang wajah muram seperti hendak menangis.

Hari Sabtu adalah hari yang menyenangkan bagi Hyukjae dan sebagian besar anak-anak yang lain. Hari Sabtu adalah hari bebas belajar. Sekolah hanya diadakan untuk kegiatan ekstrakurikuler dan pengembangan diri. Tak ada angka-angka yang menjadi momok bagi Hyukjae, tak ada Sejarah yang membuat Hyukjae terbang ke alam mimpi, tak ada rumus-rumus Fisika yang membuat Hyukjae pusing tujuh keliling. Hari Sabtu Hyukjae selalu memuaskan dirinya untuk mengikuti basket, sepak bola, dan dance.

Begitu pula dengan Kyuhyun. Sekarang ia pun mau mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah dan asrama dengan suka hati. Kyuhyun suka sepak bola, maka ia pun ikut klub sepak bola bersama Hyukjae. Tubuhnya yang jangkung sangat proporsional menjadi seorang penjaga gawang. Hyukjae yang bertubuh lebih kecil dan gesit sangat sesuai dengan posisinya sebagai penyerang.

Mengikuti banyak kegiatan terbukti dapat mengurangi beban hati Kyuhyun. Jika tahu ada kegiatan yang dapat membuatnya lupa pada masalahnya, sudah barang tentu Kyuhyun akan ikut banyak kegiatan dari dulu. Dasar memang Kyuhyun sendirilah yang keras kepala. Ia lebih suka terpuruk daripada harus bangkit dan berjuang.

Sejak pukul delapan pagi, Kyuhyun dan teman-temannya yang lain sudah berada di lapangan untuk melakukan pemanasan sebelum latihan sepak bola dimulai. Pemanasan dilakukan untuk menghindari cedera otot. Kyuhyun dan teman-temannya mulai berlari ringan mengelilingi lapangan. Keringat mulai menetes satu-satu membasahi tubuh mereka. Kegiatan yang bermanfaat dan menyehatkan bagi anak-anak muda seperti mereka.

Mereka berlatih dan bermain sepak bola selama dua jam. Dua jam yang menyenangkan bagi anak-anak. Kegiatan di luar kelas tampaknya memang lebih menyenangkan bagi mereka daripada mendengarkan guru ceramah dan mengerjakan soal-soal di dalam kelas. Kegiatan di luar kelas memang tidak membosankan dan rasanya sangat menyenangkan.

Biasanya waktu yang terlewati Kyuhyun habiskan dengan merenungi dan meratapi nasibnya. Namun, setelah banyak kegiatan yang ia ikuti dan banyaknya teman di sekelilingnya membuat hidupnya lebih berwarna. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bercengkerama bersama teman-temannya yang lain. Bercerita tentang hal-hal konyol atau melakukan permainan-permainan seru.

"Kyu, tak apa kan kalau setelah latihan sepak bola kau kutinggal sebentar?" tanya Hyukjae sambil mengeringkan kepalanya yang penuh keringat dengan handuk kecil.

"Kau pergi ke mana pun aku tak akan mencarimu, Hyuk. Kau toh bukan namjachingu-ku. Kautinggal seharian pun aku tak akan merasa kehilanganmu," jawab Kyuhyun sekenanya.

Hyukjae merengut mendengar kata-kata Kyuhyun. Tak ingat apa anak itu sebulan yang lalu ia mengomel tak jelas saat Hyukjae tinggal seharian. Sekarang setelah punya banyak teman, ia merasa seolah-olah tidak membutuhkan Hyukjae lagi.

"Kau mau ke mana?" tanya Kyuhyun akhirnya tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya.

"Hah, penasaran juga kau akhirnya!" ejek Hyukjae. Ia tahu Kyuhyun tak benar-benar mengacuhkannya. Hyukjae adalah teman pertama dan terbaik Kyuhyun.

"Kau selalu saja pergi setelah latihan sepak bola dan baru kembali kalau waktu makan siang hampir tiba. Kau tak mungkin diam-diam menyelinap keluar asrama, kan? Kalau kau menyelinap keluar kenapa tak mengajakku?" tanya Kyuhyun yang mulai bangkit lagi rasa ingin tahunya.

"Kau ingin menyelinap keluar?" tanya Hyukjae heran.

"Tentu saja, kenapa tidak, bukankah itu seru? Kapan kau mau keluar? Aku ikut," jawab Kyuhyun antusias.

Hyukaje mengeluh mendengar ucapan Kyuhyun. Dulu anak itu begitu pendiam dan terlihat tak sedikit pun mau terlibat dengan orang-orang di sekitarnya. Namun, sekarang ia terlihat bersemangat sekali mau melanggar peraturan.

"Aku belum mau menerima detensi karena melanggar peraturan, Kyuhyun-ah. Aku tak boleh mengatakannya sekarang. Nanti saja kalau waktunya sudah tiba aku akan mengatakannya padamu," kata Hyukjae.

"Kalau itu rahasia kenapa kau tadi pamit padaku? Ayolah, ceritakan padaku apa yang mau kaulakukan! Kau tahu aku bukan jenis orang yang suka membocorkan rahasia," bujuk Kyuhyun pada Hyukjae.

Hyukjae menggeleng kuat-kuat sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Ia takut dari mulutnya akan keluar kata-kata yang belum waktunya ia ceritakan. Kalau saja orang itu tidak mengancam akan mengeluarkan siapa saja dari tim, jika sampai ada yang ketahuan membocorkan rahasia, Hyukjae sudah sejak jauh-jauh hari menceritakannya pada Kyuhyun.

Saat pertama kali Hyukjae dipilih, ia bahkan sudah berteriak-teriak kegirangan seperti orang gila. Teman-teman satu timnya bahkan sampai memandangnya, seperti benar-benar sedang melihat orang gila. Saat itu Hyukjae memang terlampau senang karena apa yang diidam-idamkannya akan terwujud. Jadi, ia melakukan semua kegilaan itu di luar kontrol.

"Huh, ya, sudahlah kalau kau tak mau cerita! Toh, sebentar lagi aku juga akan tahu," kata Kyuhyun sambil memamerkan smirk andalannya pada Hyukjae.

"Apa maksudmu?" tanya Hyukjae.

"Bukan apa-apa. Kalau belum waktunya aku tahu, maka aku tak akan tahu. Tapi, jika sudah waktunya aku tahu, aku pasti akan tahu," kata Kyuhyun dengan wajah mencurigakan.

"Haah, kata-katamu selalu berputar-putar, Kyu," kata Hyukjae saat ia kesulitan mencerna kalimat Kyuhyun.

"Sudah sana pergi! Aku tak akan merindukan kepergianmu. Jadi, jangan khawatir atau berpikiran yang tidak-tidak!" kata Kyuhyun mengusir Hyukjae pergi.

"Yak, siapa juga yang mengkhawatirkanmu? Dasar!" sungut Hyukjae sebal.

Hyukjae beranjak pergi dari ruang ganti. Ia naik ke kamarnya di lantai dua asrama untuk berganti pakaian. Sebentar kemudian, Hyukjae sudah terlihat menenteng tasnya keluar kamar.

Jika hari itu terasa membosankan, waktu rasanya berjalan dengan sangat lambat. Namun, saat hari terasa menyenangkan, waktu rasanya berputar sangat cepat. Seperti yang Kyuhyun rasakan hari ini. Waktu rasanya berputar semakin cepat.

Setelah Hyukjae tak terlihat lagi batang hidungnya, Kyuhyun mengobrol dan bercanda dengan teman-teman sekelasnya yang tinggal di lantai paling bawah. Ia dan beberapa teman-teman sekelasnya mengobrol sampai lupa waktu. Hari sudah menjelang sore saat kepala Hyukaje menyembul dari pintu kamar Kim Suro, tempat Kyuhyun dan beberapa anak lainnya sedang berkumpul.

Kepala Hyukjae bagaikan jam yang mengingatkan mereka kalau sore ini mereka masih ada ektrakulikuler basket. Anak-anak yang ikut basket pun langsung membubarkan diri dan bersiap-siap ke lapangan basket indoor yang ada di gedung dekat aula.

Kyuhyun menunggui Hyukjae yang sedang bermain basket di pinggir lapangan. Hyukjae memang kelewat lincah. Setelah bermain sepak bola, pergi entah ke mana, sekarang ia terlihat lihai bermain basket. Tenaganya memang melimpah. Lain dengan Kyuhyun yang tenaganya bisa dua kali lipat lebih banyak jika sudah bermain game.

Ingat game-gamenya membuat Kyuhyun rindu dengan permainan itu. Dulu, tak pernah ia melewatkan hari tanpa bermain game. Sekarang, selama hampir setengah tahun Kyuhyun tinggal di asrama, ia tak pernah bersentuhan dengan dunia game.

Asrama sekolah tentu saja tidak menyediakan game sebagai sarana rekreasi. Di asrama, yang ada hanya televisi 32 inchi yang bisa ditonton bersama-sama di ruang santai. Tak boleh ada yang membawa telepon seluler di asrama, apalagi game yang sudah barang tentu dilarang keras untuk dibawa ke asrama.

Kehidupan di asrama memang terasa monoton. Namun, di sanalah mereka tahu apa artinya hidup susah, menempa kemandirian, saling toleransi, dan bekerja sama. Di sinilah mereka saling tergantung satu sama lain. Kawan-kawan senasib dan seperjuangan bukan merupakan saingan, namun mitra bagi mereka.

Mereka merasakan susah senang, suka duka, sedih dan bahagia bersama. Mereka tertawa dan menangis bersama. Saling membantu dan menguatkan. Mencapai sukses bersama tanpa ada niat untuk meninggalkan atau mengorbankan yang lain.

Latihan hari itu diakhiri dengan kekalahan telak di tim Hyukjae. Hyukjae merasa sangap capai karena seharian ini ia telah menghabiskan tenaganya dengan banyak kegiatan. Hyukjae langsung menghabiskan sebotol air mineral yang disodorkan Kyuhyun padanya. Ia masih berusaha mengatur napasnya yang memburu.

"Hah, lelahnya!" katanya sambil menyelonjorkan kai.

"Kau seharian ini beraktivitas. Sejak pagi kau sudah ikut sepak bola, sore ini basket, siang tadi pun kau berjam-jam latihan dance, kan?" tanya Kyuhyun.

Hyukaje hampir saja menyemburkan air yang ada di dalam mulutnya saat mendengar perkataan Kyuhyun barusan. Sedangkan Kyuhyun malah duduk dengan santai sambil menatap teman-temannya yang lain yang sedang mengeringkan keringat dengan handuk.

"Dari mana kau tahu aku latihan dance?" tanya Hyukjae horor. Ia sudah berusaha mati-matian menyembunyikan kegiatannya di Sabtu siang. Pelatihnya memang melarang anggota tim dance untuk memberitahukan hal ini pada siapa pun.

"Jika belum waktunya aku tahu, maka aku tak akan tahu. Jika sudah waktunya aku tahu, maka aku pasti akan tahu," jawab Kyuhyun.

"Siapa yang memberitahumu?" tanya Hyukaje.

"Tak perlu ada yang memberitahuku, Hyuk. Kau tahu kan aku sangat jenius?" kata Kyuhyun,"kenapa kau tak memberitahuku kalau kau ikut dance. Lagi pula untuk apa dirahasiakan. Dance kan bukan kegiatan yang melibatkan rahasia negara," sungut Kyuhyun.

Hyukjae mengusap rambutnya frustrasi. Ia berdoa semoga saja mulut Kyuhyun tidak mirip ember bocor. Hyukjae tak mau didepak dari tim dance. Dua bulan lagi ada kompetisi dance yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta terkenal.

Jika menang, tentu akan banyak tawaran dari agensi-agensi yang ingin merekrutnya menjadi trainee. Menjadi artis ternama memang cita-cita Hyukjae. Setamat SMA nanti, ia berencana mengikuti seleksi trainee yang setiap tahun diadalan oleh agensi-agensi yang banyak bertebaran di Seoul. Mengikuti kompetisi dance ini membuka peluang baginya untuk meraih cita-cita.

Dance memang bukan ektrakurikuler yang ada di sekolah ini. Untungnya guru kesenian mereka yang baru, Bong Sae Hyuk, adalah mantan finalis kompetisi dance tiga tahun yang lalu. Ia sendiri yang menghadap bruder kepala dan memilih anggota timnya untuk melatih mereka menghadapi kompetisi dance. Selain Hyukjae ada lima temannya yang tergabung dalam tim itu. Mereka memang mengikuti kompetisi untuk grup bukan perorangan.

"Jangan beritahukan pada siapa pun, Kyu! Aku tak tahu dari mana kau bisa tahu kalau aku ikut latihan dance. Kalau sampai ini bocor, aku bisa didepak dari tim," ujar Hyukjae memohon, atau lebih tepatnya mengancam.

"Huh, kau kira aku suka menggosip apa? Yang aku tak mengerti mengapa latihanmu dirahasiakan? Pelatihmu takut kalau gerakannya bocor dan ditiru tim lain?" tanya Kyuhyun penasaran.

"Pelatih Bong hanya tak mau terlalu digembar-gemborkan. Baru kali ini ia mengikuti kompetisi dance bertaraf nasional sebagai pelatih. Ia tak mau eksploitasi secara besar-besaran malah membuat kami besar kepala sebelum bertanding. Itu sebabnya ia merahasiakan semua ini. Kalau kami sudah lolos babak seleksi baru ia akan memberitahukan secara umum," jelas Hyukjae.

Kyuhyun manggut-manggut mendengar penuturan Hyukjae. Penjelasan sahabatnya itu terdengar sangat masuk akal.

"Kau berlatih setiap Sabtu kan? Kalau begitu Sabtu depan aku ikut kau latihan. Aku ingin melihatmu berlatih," kata Kyuhyun jahil.

Hyukjae membelalakkan matanya. Mengajak Kyuhyun sama saja bunuh diri. Ia akan langsung ditendang dari ruang latihan kalau sampai membawa orang lain melihat mereka berlatih.

"Jangan macam-macam, Kyu. Kau ingin melihatku ditendang dari sana dengan tidak hormat? Mulai sekarang kau pura-pura saja tidak tahu tentang kompetisi dance itu. Kalau tidak aku akan bunuh diri di depanmu dan membiarkan arwahku yang penasaran menghantuimu seumur hidup," kata Hyukjae berapi-api mendramatisir keadaan.

Kyuhyun tertawa keras mendengar ancaman Hyukjae itu. Bunuh diru, huh! Apa dia kira mati itu enak.

"Arraseo, aku tak akan memberitahukannya pada siapa pun. Tapi, kau berhutang cerita padaku. Kenapa kau bisa dipilih padahal tak ada pemberitahuan apa pun tentang keiktsertaan sekolah kita dalam kompetisi dance itu?" kata Kyuhyun pada Hyukjae.

Hyukjae mendadak pusing menghadapi tingkah teman sekamarnya itu. Sia-sia saja ia tadi mengancam Kyuhyun kalau akhirnya dia sendiri yang posisinya sekarang terancam.

"Terserahmulah, Kyu. Aku mau kembali ke kamar," ucap Hyukjae lemas. Hari ini ia sudah merasa lelah secara fisik, sekarang ditambah dengan tingkah Kyuhyun, Hyukjae merasa lelah secara mental.

Malam itu Kyuhyun dan Lee Hyukjae menikmati waktu santai mereka di ruang santai. Banyak anak yang juga berada di sana. Ada yang duduk santai menonton acara hiburan di layar televisi 32 inch, ada juga yang asyik mengobrol dengan teman dekat mereka.

Begitu juga dengan Kyuhyun dan Hyukaje yang terlihat duduk di sudut ruangan, tempat favorit mereka, untuk mengobrol. Kyuhyun terus-menerus menagih hutang cerita Hyukjae. Mau tak mau, Hyukjae pun terpaksa menceritakan hal ikhwal dirinya bisa bergabung dengan tim dance yang dilatih oleh Bong Sae Hyuk.

"Kau ingat, kan, saat kita masuk ke sini, kita disuruh mengisi formulir data diri. Di situ tercantum apa hobi dan cita-cita kita. Di situ aku menuliskan dancing sebagai hobiku dan artis sebagai cita-citaku," kata Hyukjae.

Kyuhyun tertawa keras mendengar penjelasan Hyukjae. Apalagi saat sahabatnya itu berkata ia ingin jadi artis. Kyuhyun tak pernah tahu kalau Hyukjae ingin menjadi seorang artis.

"Diam, Kyu, kau mau aku melanjutkan ceritaku tidak?" kata Hyukjae galak.

"Maaf, maaf, aku tak tahu kalau kau ingin jadi artis. Kenapa kau ingin jadi artis?" tanya Kyuhyun.

"Jadi artis terkenal cita-citaku sejak kecil, Kyu. Aku ingin masuk TV, konser sampai ke luar negeri, dan tentu saja punya uang banyak. Ikut kompetisi ini bisa jadi langkah awal untukku. Siapa tahu ada agensi yang tertarik dan menjadikanku trainee mereka," kata Hyukjae.

"Kau pikir jadi artis itu enak, huh? Seorang artis akan selalu jadi sorotan. Mereka tak lagi punya privasi. Belum lagi tuntutan pekerjaan yang membuat mereka hanya tidur dua atau tiga jam sehari. Apa enaknya hidup seperti itu?" kata Kyuhyun dengan nada sinis.

"Aku berasal dari keluarga sederhana, Kyu. Ayahku hanya pegawai rendahan. Ibuku hanya bekerja di rumah dan menerima pesanan kue. Itu pun tidak tiap hari. Kakaku setelah SMA tak bisa melanjutkan kuliah dan hanya jadi pegawai di mini market. Sialnya lagi, aku pun tak begitu pandai. Tapi aku punya bakat menari. Kalau aku maksimalkan dan aku bisa menunjukkan bakatku pada banyak orang, aku pasti bisa. Aku yakin akan sukses kalau aku berusaha keras," kata Hyukjae semangat.

Kyuhyun menatap Hyukjae. Temannya itu memang selalu optimis. Ia bisa menerima kekurangannya dan bisa memaksimalkan kelebihannya. Kyuhyun memandang Hyukjae dengan tatapan iri sekaligus kagum. Sampai sekarang pun Kyuhyun masih tidak tahu apa yang ia mau dan apa yang ia inginkan. Sampai sekarang pun Kyuhyun masih sulit menerima keadaan dirinya.

"Kau pasti bisa, Hyuk. Aku tadi sudah melihatmu dan kau menari dengan sangat bagus. Kau hebat, Hyuk," ucap Kyuhyun tulus,"aku saja sampai sekarang tak tahu apa yang aku inginkan,"lanjut Kyuhyun nanar.

"Ck, kurasa kau tak perlu khawatir tentang masa depanmu. Kau anak tunggal. Ayahmu juga kaya. Siapa lagi yang akan mewarisi semua itu kalau bukan kau," kata Hyukjae.

'Itu kalau aku masih dianggap anak, Hyuk' kata Kyuhyun dalam hati. Hyukjae tak tahu apa saja yang sudah Kyuhyun lalui. Hyukjae hanya tahu Kyuhyun anak orang kaya dan pewaris tunggal perusahaan ayahnya. Hyukjae tak tahu kalau semua itu bukan lagi menjadi milik Kyuhyun. Mungkin selulus SMA ia akan ditelantarkan begitu saja. Siapa yang mau peduli. Ayahnya pun sudah tidak menganggapnya lagi.

"Kau belum melanjutkan ceritamu, Hyuk," ingat Kyuhyun. Mendengar cerita Hyukaje lebih menarik bagi Kyuhyun daripada harus mengingat nasibnya.

"Cerita yang mana? Ouch, tentang pelatih Bong?" tanya Hyukjae linglung.

Kyuhyun memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan Hyukjae barusan.

"Memangnya ada cerita lain yang ingin kudengar?" cemooh Kyuhyun.

"Ya, ya, ya, tak usah menatapku seperti itu, Kyu, aku tak suka! Pelatih Bong pernah ikut kompetisi itu tiga tahun yang lalu dan menjadi finalis. Tahun ini ia ingin ikut lagi, tapi sebagai pelatih. Pelatih Bong sama denganku, ia ingin menjadi seorang artis. Tapi, kakinya pernah mengalami cedera dua tahun lalu yang membuatnya tak bisa meraih mimpinya."

"Makanya pelatih Bong ingin anak didiknya berhasil dan itu tentu saja bisa mengangkat namanya kembali," potong Kyuhyun sebelum Hyukjae menyelesaikan ucapannya.

Hyukjae menatap Kyuhyun heran. Anak ini mulutnya seringkali lebih cepat bekerja daripada otaknya.

"Pelatih Bong bilang begitu?" tanya Hyukjae bodoh. Seingatnya pelatih Bong tidak pernah bicara seperti itu pada anggota timnya.

"Memangnya kau pernah melihatku bicara dengan pelatih Bong, Hyuk?" kata Kyuhyun gemas. Otak Lee Hyukjae memang kadang susah connect dan itu membuat Kyuhyun sebal setengah mati.

"Lalu dari mana kau bisa menyimpulkan kalau Pelatih Bong ingin terkenal lagi? Kurasa dia tidak seperti itu," ucap Hyukjae.

"Kau kan bilang ia dulu ingin jadi artis, tapi tak kesampaian karena cedera. Ia pasti masih ingin jadi orang terkenal dengan cara yang berbeda. Dari situ apa kau tak bisa simpulkan sendiri?" kata Kyuhyun keras karena kesal pada kebebalan Hyukjae.

"Jangan keras-keras! Kau mau semua anak dengar?" potong Hyukjae sambil menatap ke kiri dan kanan, takut kalau-kalau ada yang mendengar apa yang dikatakan Kyuhyun.

"Itu salahmu. Kau terlalu lamban berpikir," kata Kyuhyun membela dirinya sendiri.

"Susah memang berdebat denganmu, Kyu. Sudahlah, aku mau kembali ke kamar saja," sungut Hyukjae kesal.

Hyukjae merasa kesal dengan Kyuhyun yang seolah-olah mengejek Pelatih Bong. Hyukjae sangat menghormati dan memuja Pelatih Bong. Pelatih Bong sudah berbaik hati memasukkannya ke dalam tim. Pelatih Bong yang membuka jalan bagi Hyukaje untuk meraih mimpinya.

Kyuhyun menatap kepergian Hyukjae tanpa berusaha mencegah atau mengejarnya. Ia biarkan saja Hyukjae berlalu dengan segala kekesalan di hatinya. Kyuhyun hanya berguman lirih saat Hyukaje berlalu dari hadapannya. Hyukjae belum tahu saja siapa sebenarnya Pelatih Bong.

TBC

Hai, hai, saya balik lagi nglanjutin cerita ini. Tambah berputar-putarkah critanya? Moga kalian gak tambah bosan baca sampai part ini. Tinggal beberapa part lagi saya tamatin crita ini. Trima kasih buat kalian yang udah baca, review, dan follow cerita saya ini. See u next part.