Boyfriend Tsun!
Monsta X's fanfic
Wonho (Shin Hoseok) x I.M (Im Changkyun)
Changkyun terbangun tepat ketika alarm ponselnya berbunyi –ah tidak lebih tepatnya 15 menit sebelumnya karena itu ia habiskan untuk mencari rohnya yang belum terkumpul.
Pukul 5 pagi.
Tanpa buang banyak waktu lagi, pemuda Im ini segera beranjak dari ranjang-
Aish.
Dia langsung berdesis begitu merasakan ada sepasang kaki lain yang menahan kakinya.
Tidak melewat, your ass.
Mau tak mau kejadian tadi malam kembali diingatnya.
Kalau saja dia tidak ingat bahwa ini apartement Wonho dan posisinya sekarang 'menumpang', sudah Changkyun tenggelamkan saja pemuda itu di kamar mandi.
.
.
.
Wonho terbangun saat telinganya lelah mendengarkan suara alarm dari ponsel entah siapa itu dan tangannya juga lelah menunda si alarm.
Sengaja Changkyun tidak mematikannya.
Jam 6 kurang 15 menit.
Dan kelas paginya –dan Changkyun juga baru mulai pukul 7.
What the hell, orang aneh mana yang bangun sepagi ini?!
Oh tidak, Changkyun tidak aneh kok hanya unik saja dan spesial di mata Shin Hoseok seo-
Wtf.
Wonho tidak bisa menjaga bicaranya ketika ia bangun dan menyadari kakinya sudah ada di sisi ranjang kiri –daerah kekuasaan Changkyun.
Dan sisi ranjang kiri itupula sudah rapih bahkan tidak meninggalkan jejak ada seseorang yang pernar tidur disana.
Kalau Changkyun sendiri yang menarik kakinya untuk merambati tubuhnya rasanya tidak mungkin karena Wonho pasti akan sangat menyadarinya dan mungkin saja –ehem- menyerang Changkyun saat itu juga.
Lagipula semalam Changkyun benar-benar terlihat ingin meledak karena malu.
Polos sekali.
Wonho jadi memulai paginya dengan senyuman lagi.
Apalagi begitu indra penciumannya mencium sesuatu yang harum.
Syukurlah dia tidak pergi karena kakiku menindih kakinya
"Changkyunie~ Tunggu aku~"
Belum pernah Wonho sebahagia ini saat seseorang tidur –dalam artian apapun– bersamanya semalaman.
"Sekali lagi kubilang singkirkan tanganmu di pinggangku."
Wonho mengulas senyum menggoda sebelum semakin menyamankan pelukkan dan dagunya di bahu yang lebih muda.
"Astaga sayang, jangan sok malu dan lupa kejadian semalam. Semalam kau kan sangat memera-"
"Shin Hoseok."
"Bukankah ini hal yang normal dilakukan jika pacarmu memasakkan sesuatu?" protes Wonho tidak terima. Untuk usia 18 tahun, selain galak, 'lurus' dan taat peraturan pacar sewaannya itu Changkyun sangat kaku dan canggung untuk menerima perlakuan yang sedang tren-trennya ini. Boyfriend experience dengan banyak klien dan pendapatan tinggi apanya, Changkyun benar-benar seorang pemula.
Ah, atau dia masih malu ya sampai tidak bisa merespon balik ala pacar bayaran?
"Tapi aku bukan benar-benar pacarmu."
"Kau tidak pernah memperlakukan wanita –salah, klien maksudku seperti ini ya?"
Changkyun tampak berpikir sejenak dan Wonho tiba-tiba gemas melihatnya.
"Tidak, menginap saja tidak. Satu-satunya aturan di dalam surat perjanjian yang kulanggar hanyalah memasuk apartement mereka; itu juga karena mereka terlalu mabuk untuk membawa diri sendiri. Justru aku takut kalau dimasakkan, mereka memasukkan yang tidak-tidak di dalamnya."
"Jadi aku yang pertama nih?"
Changkyun menutup rapat bibirnya dan kembali sibuk dengan dapur.
Wonho jadi ingin memeluk Changkyun lebih erat lagi.
Apalagi saat indra penciumannya merasakan samar-samar bau tumbuhan yang habis terkena siraman hujan dari tubuh Changkyun sebelum muncul bau lainnya.
Bau yang anehnya justru tercium seperti rumah dimana dia harus kembali.
"Kau membuat pergerakkanku terbatas, Shin Ho-"
"Aku suka baumu," Hidungnya mengusap pelan dan tanpa sadar, ia semakin erat memeluk yang lebih muda. "Kau memakai sampo dan sabunku?"
"Iya," Suaranya memelan tidak seperti biasanya. "Aku minta maaf tapi apa kau marah?"
Permintaan maaf kelewat kaku dan datar tetapi ia tidak mempermasalahkannya. Toh, sekarang atensinya sudah tertuju pada satu titik.
"Tidak," Senyumnya terulas lebar. "Aku suka hanya saja mint terlalu kuat untukmu, kau memiliki bau tersendiri yang lebih dominan. Aku akan membelikan sampo, sabun, kalau perlu parfum untukmu –khusus untukmu."
Bahu dan punggung Changkyun sempat menegang beberapa saat sebelum mengendur kembali tepat ketika pelukkan Wonho melonggar.
"Aku benar-benar tidak salah memilihmu! Kau benar-benar minta tidak aku lepaskan ya?"
"Simpan bibir manismu itu untuk gadis lain dan sana mandi. Aku tidak mau marah-marah seperti semalam."
"Berat sekali tau melepaskan pelukkan ini?" Wonho benar-benar tidak menyangka bahwa yang bersuara kali ini adalah dirinya. Bisanya para wanita atau lelaki yang justru bersikap manja untuk menarik perhatiannya tetapi sekarang...pft.
Im Changkyun sangat istimewa.
"Diamlah," Changkyun menghela nafas lagi. Jujur, Shin Hoseok benar-benar mengganggu konsentrasinya. "Kecuali kau mau melihat dapurmu terba-"
"Aku suka melihatmu marah-marah, lebih manis."
Orang gila.
"Cepat mandi."
Changkyun tengah menata sarapan mereka saat Wonho muncul hanya dengan bathrobe dan rambut basah yang berusaha dikeringkannya dengan handuk.
"Ah, aku lupa tapi Changkyun-ah, selamat pagi."
"Pagi," Changkyun menghela nafas setelah ia mendudukkan diri di bangku bersebrangan dengan bangku Wonho. "Akhirnya kau memanggilku dengan panggilan seharusnya, hyung."
"Kau juga," Wonho kembali mengulas senyum, Changkyun benar-benar membuatnya gila sekarang. "Aku sadar semakin aku memaksamu, kau juga akan semakin keras. Ah, tapi itu tidak menutupi keinginanku untuk memanggilmu Changkyunie la-"
"Siapa bilang kopi itu untukmu?"
Wonho mendesah keras. "Lagi?!"
"Pftttt," Ingatkan Wonho untuk berusaha mengontrol ekspresi terkejutnya kalau tidak mau senyum Changkyun tiba-tiba menghilang. "Aku terlalu banyak minum kopi akhir-akhir ini, itu tidak baik untuk kesehatan sama halnya dengan alkohol, kurasa teh lebih baik tapi...lupakan saja, minum sajra kopi itu sampai kau mamp-"
"E-eh tidak-tidak!" Wonho buru-buru menyingkirkan cangkir yang baru berisi bubuk kopi tersebut. "Aku mau teh buatanmu. Ya, teh! Kurasa benar, itu lebih baik apalagi untukku yang kemarin baru minum dan anak kecil seperti-Baik-baik usia 18 tahun! Aku tau! Kau sudah dewasa! Iya-iya!"
Wonho menyerah dan Changkyun tidak bisa menahan diri untuk tidak mengulas senyum yang sedaritadi ditahannya.
Terus tersenyum untukku dan karenaku ya, Changkyunie?
Wonho tentu saja hanya menyuarakannya di dalam benaknya; semakin dia mendesak Changkyun, semakin keras pula anak itu –sifat-sifat pembangkang yang mulai tumbuh di dalam dirinya yang masih remaja. Lagipula dia masih mau lebih lama menikmati senyum manis Changkyun di pagi yang cerah ini.
"Kau sangat lucu tau, hyung. Atau aku yang aneh?"
"Baru kali ini aku senang dipuji lucu oleh seseorang. Tidak, aku yang aneh bukannya kau."
"Terus panggil aku hyung ya?"
"Hyung terlihat seperti suami takut istri tau?"
"Kau yang menjadi istri kan, Changkyun-ah?"
"Tidak."
"Kamu itu sangat manis jadi tentu saja berperan sebagai is-ah iya, kau laki-laki. Iya, kau ssangnamja jadi tersenyum untukku lagi? Juseyo?"
"Tidak."
"Aku tersenyum karena ingin bukan karenamu."
"Ayo berangkat, kita sudah terlambat."
"Astaga, Changkyun-ah TT"
"Changkyun-ah, nanti pulang bareng lagi ya. Kau pulang jam berapa?"
"Tidak mau. Kasian mobilku menginap lama-lama."
Hft.
Ternyata masih marah.
Makanya jaga ucapanmu, Shin Hoseok!
"Aku kan sudah bilang mau membelikanmu sesuatu," Wonho sedikit melirik dari kaca spion pakaian yang Changkyun kenakan. Itu baju yang ia sempat belikan beberapa stel, sepertinya masih kurang untuknya.
"Aku bisa membelinya sendiri," Changkyun terdiam sebentar. "Dan ada juga beberapa hal yang harus kubeli untuk kebutuhan sehari-hari kita."
Senang rasanya mendengar kata kita ketimbang kau dan aku.
"Tapi kau tidak tau selera-"
"Selain parfum, baju juga mau kau beli?"
Wonho mengangguk,
"Itu pemborosan," Ragu-ragu, Changkyun bersuara kembali. Kali ini ia tidak memalingkan wajahnya lagi melainkan menatap lurus ke jalanan di depan. "Apa semua mantanmu kau perilakukan seperti ini juga?" tanyanya hati-hati.
"Ya, ada beberapa tapi bukan hanya pacarku saja tapi teman-teman wanita-"
"Sudah kuduga."
"Aku belum selesai bicara!"
Salah satu alisnya naik. "Lalu?"
Wonho menghela nafas. "Tidak banyak, aku baru mengatur mereka kalau mereka benar-benar 'menggangguku'."
"Mengatur?" Changkyun tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa sinis. "Karena dari itu aku menolak ikut denganmu. Aku tidak suka jenis pakaian pilihanmu dan apa kau pikir ini seperti Fifty Shades of Grey? Seperti aku ingin mendengarkanmu saja dan apa lagi maksudmu dengan mengganggu."
"Yang kuatur sepertimu juga menolak dan keras kepala, sama sepertimu," Lamat-lamat pemuda Shin ini meneguk air ludahnya sendiri. "Berbeda dari pikiran orang kebanyakkan tentang playboy, justru mantan-mantanku yang 'kuatur' itu orang terlurus yang pernah ada. Mereka berpakaian dengan baik, bersikap baik, tidak macam-macam, dan lain-lainnya tapi tetap saja itu menggangguku."
Changkyun sempat menoleh ke arah Wonho untuk membaca ekspresi wajahnya yang kelewat pias. Ia jadi sedikit tertarik karenanya. "Maksudmu?"
"Contohnya dirimu," Wonho menarik nafas sejenak. "Aku tidak suka gaya berpakaianmu. Mungkin kau pikir itu nyaman tapi aku tidak nyaman melihat tulang selangkamu yang terlihat di balik kaos berleher rendahmu. Apa kau tidak merasa kedinginan karenanya? Kau tau tereksposnya tulang selangka itu bisa membahayakan dirimu juga. Makanya aku membelikanmu banyak sweater –kebesaran kalau perlu."
"Ke-kenapa dengan tulang selangkaku? Dan kenapa kau setegang itu huh?" Changkyun tidak bisa terlepas dari atmosfir canggung yang terciptakan saat ini. Wonho biasanya terlihat jenaka dengan kata-kata blak-blakkan tak lulus sensornya atau dia berbicara tanpa berpikir panjang –mungkin sengaja menggunakan kata itu untuk memecah gelak tawa tetapi nampaknya memang Wonho dari dulu terbiasa untuk mengutarakan pendapatnya tanpa peduli kata yang digunakan dan akibatnya.
Karena sungguh, Changkyun tidak bisa menahan degup jantungnya untuk tidak berdebar-debar.
Tapi kau bukan satu-satunya, Im. Beberapa mantannya juga diperlakukan seperti ini.
"Ma-maaf aku menanyakan hal personal seperti ini. Itu tidak tertulis di a-aturan bukan?"
"Tidak apa-apa," Wonho tertawa renyah. "Semuanya juga menanyakan hal yang sama sepertimu tapi respon mereka kebanyakkan marah dan langsung memutuskanku sebelum benar-benar 'berpacaran' tapi reaksimu itu benar-benar sama seperti Hyungwon dulu dan hanya Hyungwon yang bertahan sebelum akhirnya menyerah; mungkin karena aku terlalu mengekang?"
"...Makanya, tidak peduli dengan pekerjaanmu aku ini sebenarnya berharap banyak padamu."
Awalnya, Changkyun berharap Wonho akan menyerah padanya dan membayar –uang tetap segala-galanya tau– meskipun itu berarti dia harus kembali ke rutinitas membosankannya dari awal atau mencari lagi orang lain –tentunya akan sangat susah– tetapi sejauh ini, entah mengapa dia ingin membuka diri pada Wonho tak peduli reputasi playboynya itu dan itu sudah lebih dari cukup bagi hatinya yang mulai terisi.
Tapi sekarang dia berharap Wonho tidak merasa nyaman padanya dan memilih pergi karena degup jantungnya saat ini tidak dapat dikendalikan lagi; ekspresinya sudah tidak bisa dia kendalikan lagi.
Jangan terlalu banyak berharap padaku, Shin Hoseok...
Changkyun jadi takut pada dirinya sendiri.
...tbc
kok jadi melow?! :") karena w melow sama tugas:")
