Title : I'm yours, don't worry.
Author : Park Min Chan
Cast : Lee DongHae ( Super Junior )
Super Junior Members
Lee SooRa ( Other Cast )
Lee Jaebum ( Other Cast )
Genre : Romance ( Maybe )
Author Short Story : This is my first time for create a fanfiction. I hope you can enjoy it, and don't be a silent reader. I need your critic or else.
Disclaimer : All them belong to themselves and GOD. I own only the plot.
Summary :
Chapter 7
"Sudahlah jangan membandingkan dirimu dengan orang lain, aku suka kau yang begini. Mari kita ke ruangan appa ku." Donghae menggandeng dan menggengam tanganku dengan erat.
"Jantungku berdetak dengan saat cepat lagi sekarang. Apa-apaan ini. Dia selalu saja begini, membuatku tersanjung dengan apa yang dilakukannya padaku" akupun membalas genggaman tangannya
"Kenapa baru datang sekarang, Soora-ah?"
Appa seperti sudah lama menanti kedatanganku saja. Aku jadi senang.
"Aku baru selesai mengerjakan tugasku appa. Mianhae."
"Jangan ladeni appa, Soora-ah. Dia selalu ingin ruangan nya ramai dengan orang yang menjenguknya."
"Tidak apa-apa eomma. Dengan banyak orang yang datang kesini kan bisa membuat appa senang dan tidak terlalu terbebani berada disini."
Appa mengangguk-angguk setuju dan tertawa.
"Appa sudah makan? Eomma juga sudah makan? Jangan sampai lupa makan eomma."
"Ne, eomma sudah makan chagi. Kalian sudah makan?"
"Aku sudah. Bagaimana denganmu Soora-ah?" tanya Donghae
"Aku sudah. Tenang saja."
"Eomma, appa aku mengantar Lee Soora dulu ya. Aku akan kesini lagi besok."
"Dengan Soora-ah lagi. Ne?"
"Ne, appa."
"Baiklah. Kembalikan dia dengan selamat, Donghae-ah."
"Tentu saja appa" jawab Donghae sambil tertawa.
"Gomawo. Kau hati-hati dijalan jangan kebut. Ne?"
"Ne, Soora-ah. Aku ingat itu."
"Baiklah."
"Oh ya, ingat satu hal. Jangan berusaha untuk jadi orang lain, Soora-ah. Aku tidak peduli dengan wanita-wanita cantik yang menyukaiku. Kau cantik dimataku. Sampai jumpa~"
Donghae pergi meninggalkan rumah Soora. Soora masih berada diluar rumahnya dan memegang dadanya kuat, ia merasa jantungnya berdetak tidak seperti biasanya.
"Bisa-bisa aku sakit jantung dibuatnya. Jantungku selalu berdetak secepat kereta express jika ia menyanjungku." Soora berbicara sendiri dan segera masuk kedalam rumahnya.
Eomma Soora pun menanyakan habis kemana Soora pergi, Soora ragu, ia ingin menceritakan jika ia habis pergi dengan seorang namja, dan bisa dibilang sedang dekatnya, jika eomma tahu bahwa namja itu bukan Jaebum entah apa reaksinya.
"Habis darimana, Soora-ah?"
"Menjenguk appa temanku, eomma."
"Temanmu? Apakah ia namja?"
"Ne. Waeyo?"
"Jaebum?"
"Aniya."
"Baiklah. Istirahatlah, kau terlihat sangat lelah sayang."
"Ne eomma. Eomma juga, jangan tidur terlalu malam."
Soora pun pergi ke kamarnya, dan takut jika eomma curiga padanya.
"Apa eomma curiga padaku ya?"
"Biarkanlah, aku malas dekat-dekat dengan Jaebum lagi jika bukan eomma yang memintaku."
Karena besok harinya Soora tidak ada jadwal kuliah pagi, ia sengaja mengerjakan tugasnya sampai selesai sambil membaca buku super junior yang ia beli. Saat sedang asik mengerjakan tugasnya Donghae menghubungi Soora, mengajaknya pergi ke dorm super junior pagi hari karena ia tidak ada jadwal pagi juga besok. Soora pun menerima nya dengan senang hati, walaupun ia sangat grogi karena mengapa harus ke dorm super junior?
Saat tengah malam, Donghae dihubungi eomma nya yang mengatakan bahwa jantung appa nya kumat, dan appa nya mengalami sesak napas lagi. Ia yang sedang berada di dorm langsung berangkat kerumah sakit, Hyukjae yang khawatir dengan kondisi Donghae yang tidak stabil karena khawatir dengan keadaan appa nya, ikut menemani nya kerumah sakit. Dan Hyukjae yang meminta agar ia saja yang mengemudi, karena Donghae dalam mengemudi kurang hati-hati apalagi dalam kondisi seperti ini.
Sepanjang perjalanan Donghae hanya diam dan memandang keluar jendela, Hyukjae yang sudah mengajak nya berbicara tidak direspon. Terkadang ia memukul paha nya sendiri, seperti mengekpresikan kekesalan dan kekhawatirannya pada appa yang sangat ia sayangi.
"Kau jangan seperti ini, Donghae-ah. Appa mu akan baik-baik saja. Kau berdoa dan tenang."
"Apa kau tidak mendengar ku?"
"Oh, jebal. Jangan seperti pikir aku tidak sedih melihatmu yang seperti ini, Donghae-ah?"
Donghae hanya mengangguk.
"Aniya. Appa mu tidak apa-apa, hanya kambuh sebentar. Jangan terlalu khawatir, kami akan melakukan yang terbaik."
"Berikan yang terbaik. Jangan membuat eomma ku khawatir."
"Ne, kami akan berusaha."
"Ne, gomawo."
"Cheonmaneyo."
Appa nya tertidur, lelap sekali. Eomma nya menatap dengan tatapan datar dan wajahnya tampak lemas sekali, Donghae serasa ingin menangis melihat eomma nya yang sangat baik, ingin menjaga appa nya sampai seperti ini. Donghae pun menghampiri eomma nya, dan memeluk nya dari belakang.
"Saranghae~. Eomma jangan sedih. Aku akan lebih sedih lagi."
"Ne, chagiya. Saranghae~.
"Appa bagaimana eomma?"
"Tadi ia setelah makan kuberi obat, setelah minum sesaknya kambuh. Eomma panik, dokter langsung menangani nya. Tetapi untunglah baik-baik saja. Hanya kondisi badannya semakin lemah. Ia semakin sering mencari mu dan hyung mu, Donghae-ah."
"Baiklah. Aku besok akan menghubungi Donghwa hyung, kalau bisa biarkan ia datang kesini. Agar appa senang."
"Bagaimana kalau ia sedang sibuk?"
"Penting mana appa nya atau pekerjaan nya eomma?" nada Donghae berbicara sedikit keras
"Ne ne. Jangan menatap eomma seperti itu."
"Sudah malam, aku pulang dulu eomma. Aku tidur di dorm saja bersama Hyukjae. Eomma jangan terlalu lelah, eomma tidurlah sejenak. Lagipula appa juga sedang tidur."
"Ne, chagiya. Gomawo Hyukjae-ah."
Hyukjae mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah eomma aku pulang. Saranghae~" Donghae pamit dan memegang tangan appa nya sebentar lalu pulang.
"Ya. Lee Donghae, mengapa belum tidur? Kau masih belum tenang? Appa mu baik-baik saja."
"Aku takut. Semoga selalu begitu."
"Kita harus bisa melakukan yang terbaik, mari kita latihan yang rajin. Debut kita sebentar lagi, kau harus membuat appa mu bangga melihatmu. Kau bisa, Donghae-ah!"
"Ne, Hyukjae-ah. Terima kasih, kau memang paling mengerti aku."
"Dua bulan setengah lagi. Mari berjuang bersama!"
Hyukjae dan Donghae berpeluk sebentar lalu mereka pun tidur.
"Selamat pagi Lee Soora, ayo cepat bangun jelek! ^^"
"Aku sudah bangun, dasar kau ikan menyebalkan."
"Aku ikan tampan. Mari siap-siap."
"Terserah kau. Baiklah, kau sana mandi. Bau amis mu sampai sini."
"Ya! Lee Soora, kau berani mengejek ku sekarang ya. Awas kau nanti."
Setelah sarapan, Soora pun pamit pada eomma nya. Eomma nya bingung menagapa anaknya berangkat sepagi ini sedangkan ia tidak ada jadwal kuliah pagi.
"Menjenguk appa temanku."
"Sedekat itukah kau dengannya? Mengapa kau tidak menceritakan pada eomma mu ini?"
"Aku malu"
"Aku eomma mu, dan kau anakku. Apa yang mengganggu?"
"Aku akan menceritakan pada eomma. Saranghae~.
Donghae sudah didepan rumah Soora dan tentu saja menunggu Soora untuk pergi bersama. Soora sudah memberitahu bahwa ia ingin pergi dengan Donghae pada Hami.
"Kita akan kemana, oppa?"
"Kerumah sakit. Kemarin malam sesak nafas appa ku kambuh."
"Mwo? Mengapa tidak mengatakannya padaku oppa?!"
"Kemarin sudah malam, Soora-ah. Kemarin aku ditemani Hyukjae, sebenarnya aku juga ingin menghubungi mu tapi tidak mungkin."
"Jadi sekarang bagaimana kondisi appa?"
"Kondisi badannya mulai melemah." Jawab Donghae lemas.
Soora pun memegang lengan Donghae dan mengelusnya pelan.
"Jangan terlalu dipikirkan. Kita berdoa bersama untuknya. Ne?"
Donghae mengangguk pelan tanpa tersenyum pada Soora.
"Semalam kau tidur dimana? Kemarin malam siapa yang menyetir? Apakah kau sendiri?"
"Di dorm. Hyukjae yang menyetir, aku tidak diijinkannya untuk menyetir."
"Baguslah."
"Apa maksudmu bagus? Kau mengejek ku bahwa aku tidak bisa menyetir dengan baik?" Donghae pura-pura memasang wajah cemberut yang mengundang tawa Soora.
"Apakah appa baru tidur eomma?"
"Ne, aku baru saja menyuapi nya makan. Ia ngantuk dan ingin tidur."
Donghae mengangguk, Soora pun memberi bingkisan buah yang dibawanya
"Eomma ini ada buah untuk appa."
"Gomawo, chagiya."
"Ne, tidak apa-apa eomma. Bagaimana kondisi appa sekarang?"
"Kemarin sempat sesak nafasnya kumat, tapi langsung membaik karna dokter datang sangat cepat. Tapi kondisi badannya sudah mulai melemah."
"Oh, begitu. Semoga saja tidak apa-apa. Appa mau makan banyak kan eomma?"
"Biasanya ia banyak makan, tetapi sekarang sudah pilih-pilih makanan. Semua buah juga belum tentu ia makan, ia lebih senang apel hijau atau pir sekarang."
"Omo, tidak ada apel hijau atau pir dalam bingkisanku."
"Tidak apa-apa Soora-ah."
"Aniya eomma. Donghae-ah apakah kau mau menemani ku mencari apel hijau atau pir? Jika tidak mau juga tidak apa-apa, aku bisa mencarinya sendiri, kau disini saja menemani eomma."
"Kau bicara seperti dikejar hantu saja. Aku mau."
Eomma tertawa.
"Jadi maksudmu aku hantu?!"
"Ne. Waeyo? Bukannya kalian mirip?"
"Ya! Donghae-ah!"
Donghae dan Soora sudah mencari apel hijau dan pir itu di beberapa pasar dan pusat perbelanjaan tapi tidak menemukannya sama sekali. Sedangkan hari sudah hampir siang, mereka berdua pun harus pergi untuk kuliah.
"Bagaimana ini? Aku ada jadwal siang ini oppa."
"Memangnya kau saja? Aku juga ada siang ini. Mana sehabis itu aku harus latihan."
"Kau pasti lelah."
"Ne. Lalu bagaimana lagi? Ini impianku, aku harus berjuang untuk mendapatkannya."
"Aku bangga padamu."
"Omo... aku baru ingat!"
"Mwo? Kau mengejutkan ku saja oppa."
"Aniya. Aku tahu tempat buah langganan eomma ku."
"Ya! Mengapa tidak daritadi? Berikan saja padaku alamatnya, aku saja yang membelinya, kau pergilah kuliah."
"Apa maksudmu? Kita pergi membelinya bersama."
Donghae dan Soora pun bersama-sama membeli apel hijau dan pir ke tempat langganan eomma nya, lalu kembali mengantarnya lagi ke rumah sakit, berbicara sebentar karena appa Donghae sedang bangun, dan ia mengatakan sangat merindukan anaknya, Donghae pun tidak mungkin meninggalkan appa nya. Setelah itu Donghae dan Soora pun pergi ke kampus, dengan secepat mungkin Donghae mengemudikan mobilnya yang membuat Soora memukul-mukul pundaknya karena ia sangat takut jika berada di mobil dalam keadaan kebut.
"Perlu aku antar ke kelasmu?"
"Aniya. Aku bisa sendiri. gomawo." Dengan secepat mungkin Soora pergi ke kelasnya yang membuat Donghae tertawa melihatnya berlari seperti anak kecil. Sedangkan Donghae hanya jalan sesantai mungkin menuju kelasnya, entah apa yang dipikirkan nya sehingga ia bisa dengan santainya menuju kelasnya.
"Mengapa kau terlambat?"
"Aku habis dari rumah sakit."
"Mengapa tidak mengajakku Donghae-ah?"
"Aku malas denganmu. Hahaha"
Dengan keras Hyukjae meninju perut Donghae.
"Ne hyung. Kau harus ke seoul, appa sudah seribu kali menanyakan keadaanmu dan ia ingin bertemu denganmu."
"Ia sempat sesak, tapi tadi sudah banyak bicara denganku. Ia bilang bahwa ia rindu padaku, padahal aku baru sehari meninggalkannya. Kondisi badannya sudah agak melemah, nafsu makannya sudah agak berkurang dan jadi suka pilih-pilih makanan."
"Ne hyung. Cepatlah."
"Ne hyung ne. Gomawo hyung."
"Jadi kau sudah bertemu dengan appa dan eomma Donghae?! Omo Soora-ah, beruntungnya dirimu!"
"Jangan berbicara terlalu keras. Mengapa kau selalu tidak bisa mengkontrol suaramu itu, Hami-ah?"
"Aniya, mianhae. Lalu-lalu bagaimana lagi?"
"Tidak ada lagi. Hanya itu."
"Kau tadi kesini dengannya kan?"
"Ne. Waeyo?"
"Aniya, Soora-ah. Apakah tugasmu sudah selesai?"
"Sudah."
Pulang dari kampus Soora pun menemani Hami pergi ke cafe untuk mengerjakan tugasnya sebentar, disana ia juga bercerita sejauh apa ia dekat dengan Donghae, dari appa dan eomma nya yang sudah mengenal dirinya, bercanda seperti sudah kenal sejak lama, Donghae yang sangat perhatian padanya, semua ia ceritakan padanya. Juga kondisi appa Donghae yang semakin melemah.
"Semangat yang sedang latihan! Jangan lupa makan malam. Jika kau kerumah sakit titip salamku pada eomma dan appa. Ne, oppa?^^"
"Ne, chagiya^^."
"GLEK."
Donghae sudah siap didepan rumah Soora untuk mengantarnya ke kampus, betapa kesalnya Soora saat ia mengetahui bahwa Donghae sudah didepan rumahnya tanpa memberi tahunya lebih dulu. Akhirnya Soora diantar Donghae ke kampusnya, karena jika ia menolak Donghae akan mengeluarkan jurus merayu maut yang ia miliki dan mengeluarkan senyum nya yang paling manis sedunia. Didalam mobil Soora hanya diam, ia masih canggung dan malu jika mengingat pesan yang dikirim Donghae padanya tadi malam. Donghae mengajaknya bicara, ia hanya menjawab seperlunya saja. Sampai Donghae merasa bingung mengapa ia seperti itu, sebenarnya, Donghae tahu mengapa Soora diam seperti itu, terkadang ia tersenyum sendiri jika melihat wajah Soora yang malu-malu.
"Kau terlihat lebih manis jika sedang malu."
"Mwo?"
"Kurang jelas? Kau manis. Jika sedang malu-malu."
"Apa maksudmu?"
"Kau malu kan? Tadi malam?"
"Ya! Oppa!"
Donghae tertawa sampai menggunakan tangannya untuk menutup mulutnya yang tertawa sangat lebar, dan itu membuat Soora semakin malu.
"Sudahlah. Jangan membuatku kesal."
"Ne ne, Soora-ah." Donghae tetap tertawa.
Soora sampai dikampus.
"Hari ini jadwalku kosong. Aku akan latihan koreo, nanti sore aku menjemputmu."
"Kita akan kemana?"
"Rumah sakit. Waeyo? Kau tidak mau?"
"Aku mau. Hati-hati dijalan."
"Apakah kau tidak bersama Hyukjae, hyung?"
"Aniya, ia mengambil baju dirumahnya. Ia akan kesini sendiri katanya."
"Oh ne. Lalu mengapa kau kekampus tadi? Bukannya jadwalmu kosong, hyung?"
"GLEK. Aniya, Ryewook-ah."
"Benarkah?"
"Annyeong~. Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Mau tahu saja kau." Jawab Donghae ketus
"Jika kau tidak mau memberi tahu nya padaku aku juga tidak akan memaksamu untuk cerita padaku. Pasti cerita mu itu tidak penting. Ne hyung?"
"Diam kau. Mengapa kau selalu menyebalkan Kyuhyun-ah?"
"Apa? Aku tampan? Daridulu, hyung."
"Terserah kau."
Selama dua jam member super junior latihan koreografi, dan berusaha semaksimal mungkin agar apa yang mereka inginkan tercapai. Ya, debut pertama mereka. Donghae langsung pergi mandi karena merasa sangat tidak nyaman dengan keringat yang menempel di badannya. Leeteuk, Yesung, Kangin, Siwon langsung pulang sehabis latihan, dan sisanya masih berada di dorm. Dan satu setan tampan sedang asik dengan game nya, dan Wook sedang sibuk memasak untuk member yang masih berada di dorm.
Setelah mandi Hyukjae mendekati Donghae dan bertanya siapakah yeoja yang sedang dekat dengannya. Awalnya Donghae tidak ingin menceritakannya, tapi Hyukjae memohon-mohon dan karena ia terlalu menyanyangi Hyukjae, maka ia pun bercerita siapakah Soora itu. Walaupun sebenarnya Hyukjae sudah menebak Soora lah yeoja itu, ia tetap mendengarkan apa yang diceritakkan Donghae.
"Kau dimana?"
"Rumah Hami-ah, oppa. Waeyo?"
"Astaga. Bukannya kau akan menemaniku ke rumah sakit?"
"Ah? Ne tentu saja aku ingat tenang saja. Kita ketemu dimana?"
"Dasar pelupa. Aku akan menjemputmu dirumah."
"Mwo? Dasar ikan menyebalkan."
"Mengapa kau memanggilku ikan? Seperti member yang lain saja."
"Karena kau suka memanyun-manyunkan mulutmu seperti ikan."
Saat sampai di rumah sakit, Soora dan Donghae melihat eomma yang menangis sambil menutup mulut juga hidungnya dengan sapu tangan. Disamping nya ada dokter yang sedang memeriksa appa, appa tergeletak lemah di kasurnya. Donghae langsung menghampiri tanpa memperhatikan Soora lagi, ia tampak sangat khawatir sekali. Soora berjalan pelan, ia kasihan, tidak tega melihat eomma menangis seperti itu, apalagi dengan kondisi appa yang memang sangat memprihatinkan. Dan ia pun tidak pernah melihat Donghae khawatir sampai seperti itu, ia memegang tangan eomma nya kuat, menyelipkan jari-jari nya di jari eomma nya.
Setelah dokter selesai memeriksa, Donghae langsung mendekati dokter nya. Soora mendekati eomma, ia merangkul pundak eomma. Eomma kaget akan kedatangannya tetapi langsung menyenderkan kepalanya ke pundak Soora, Soora pun mengelus pundak eomma pelan berusaha menenangkannya.
"Bagaimana appa ku? Eomma, apa yang terjadi? Mengapa tidak menghubungiku? Aku seperti mau mati sekarang melihat appa seperti ini."
Eomma diam, dokter langsung mengatakan bahwa appa tidak apa-apa, sesak nya kambuh lagi karena terlalu sering berbaring di kasur, jika mau duduk atau sekedar jalan setapak itu akan membuatnya lebih baik. Donghae pun dengan kerasnya membantah, ia marah pada dokter.
"Appa ku sakit jantung, dan kau tahu itu kan? Mengapa kau menyuruhnya jalan setapak? Kau pikir itu mudah?"
"Setidaknya itu akan membuatnya lebih baik Donghae-ssi."
Donghae sangat emosi, ia tidak terima argumen yang diucapkan dokter, Soora mendekatinya, dan menggenggam tangannya pelan, dan membisikannya pelan
"Kau sedang emosi oppa. Appa baik-baik saja."
"Ne, gomawo dokter. Kami akan berusaha mengajak nya berjalan pelan-pelan."
"Ne. Aku permisi."
Eomma langsung duduk di bangku nya dan menggenggam tangan appa erat yang sangat mengartikan bahwa ia tidak mau appa meninggalkannya. Donghae masih terdiam di tempatnya, entah apa yang membuatnya terdiam seperti itu. Soora sudah melepaskan genggaman nya pada Donghae, ia tadi spontan memegang tangan Donghae karena ia hanya ingin membuat Donghae tenang, tidak emosi saja.
"Eomma, mengapa tidak bilang padaku sesak appa kambuh lagi?"
"Kau ini bagaimana, eomma panik, tidak mungkin eomma menyempatkan diri menghubungimu, sedangkan tadi saat appa mu kambuh mungkin kau sedang dijalan bersama Soora, eomma tidak mau membuatmu khawatir."
"Ne eomma, mianhae."
"Apakah kau baik-baik saja oppa?"
"Ne. Memangnya aku terlihat seperti apa?"
"Aniya. Hati-hati dijalan."
Donghae mengangguk pelan.
"Jangan ngebut. Selamat malam."
Author POV
Soora pun masuk dalam rumahnya dan menemui eomma nya, mungkin sudah yang keberapa kalinya eomma menanyakan dengan siapa Soora pulang, ia menjenguk appa siapa, mengapa Soora tidak menceritakan pada eomma nya sendiri. Soora pun duduk disamping eomma yang sangat disayangi nya itu, ia meletakkan kepalanya di pundak eomma manja. Ia memulai bercerita, mulai dari siapakah namja yang sering mengantar nya pergi dan pulang, mengapa ia baru menceritakkan sekarang pada eomma nya dan ia juga bercerita siapa yang ia jenguk akhir-akhir ini.
Respon eomma sangat baik, ia memang tidak heran jika anaknya sebaik itu, mau menjenguk appa seorang namja yang baru dekat dengannya. Dari sekolah menengah pertama, Soora selalu mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan sosial, maka dari itu ia sangat memperdulikan siapapun yang ada disekelilingnya, ya walaupun ia pun sering sekali acuh dengan seseorang.
-TBC-
