Caramel Popcorn

Cast: SEVENTEEN

Rating: T

Genre: Friendship/Romance, Family.


Chapter 6: Papih Seungcheol


Semakin tua tubuhmu semakin sedikit waktu tidur yang dibutuhkan, itu kenyataan jadi jangan bilang itu pembenaran untuk kebiasaan begadang. Walaupun Seungcheol juga punya kebiasaan seperti itu, apalagi Chan masih suka menangis dan mencarinya malam malam, walaupun ada Hansol kadang kadang Chan cuma mau sama Papih-nya saja.

Seungcheol baru pulang jam sebelas malam, Hansol masih tiduran di sofa di depan TV. Kenapa anak itu bukannya tidur tapi malah nonton?

"Hansol." Seungcheol mengelus rambutnya dan ternyata anak sulungnya itu sudah tertidur itu.

"Papih!" Tapi anak bungsunya malah masih bangun. Si kecil Joongchan langsung berdiri di sebelah badan kakaknya dan mengulurkan tangan pada Papih, minta digendong.

"Joongchannie, kau pasti menyusahkan Hansol Hyung lagi, ya?"

Joongchan menggeleng keras keras dan cemberut.

"Baik, bagaimana Joongchannie saja."

Seungcheol kemudian membangunkan Hansol, menggoyangkan badannya, "Hansol, bangun, Nak."

Hansol merengut, merasa tidurnya terganggu, "Boo?"

"Ini ayahmu, Nak."

Hansol langsung sadar.

"Oh, Papih."

"Sana ke kamar, bagaimana kalau Boo mencarimu?"

"Boo sudah tidur dari jam delapan tadi, Pih. Papih juga butuh tidur, kan? Sini Joongchan biar denganku saja."

"Tidak, Hansol. Hari ini Joongchan dengan Papih." Kata Seungcheol final, lalu Joongchan memeluk leher ayahnya erat. Kalau sudah begini, Joongchan tidak akan mau dilepas dari Seungcheol.

"Baiklah."

"Ya sudah, Hansol, selamat tidur."

Seungcheol berjalan ke kamarnya di bagian rumah yang lain dari kamar ketiga anaknya.

"Papih." Tapi Hansol memanggilnya.

"Iya, Hansol?"

"Sophia sudah tiga hari tidak pulang."

Seungcheol terdiam, dalam terdiamnya itu dia berusaha tidak panik mengingat Sophie itu anak perempuan satu satunya. Hansol terlihat cemas dan tidak enak, Seungcheol tahu itu dari matanya.

"Kenapa kau baru bilang sekarang? Kau sudah telepon polisi?"

Joongchan terlihat bingung dengan suasana yang tiba tiba tegang.

Hansol lambat lambat menjawab, "Belum."

"Kenapa kau belum menghubungi polisi, Nak?"

Seungcheol meninggalkan Hansol dengan Chan di tangan kiri dan handphone di tangan kanan, "Hallo, ini ... "

Lalu handphone Hansol sendiri bergetar di sakunya. Boo menelepon dari kamar.

"Iya, Boo?"

"Hansol, jangan bilang pada Papih kalau Sophie hilang."

"Terlambat, Boo. Aku baru saja bilang."

"Ah! Papih pasti langsung telepon polisi."

"Boo, jangan bilang kau menuruti surat yang kita temukan di meja Sophie."

"Bukan begitu, Suamiku Sayang. Tadi Sophie menghubungiku, aku tahu Sophie ada dimana, tapi dia minta aku merahasiakannya."

"Kenapa? Dimana dia sekarang?"

"Tenanglah. Sophie bilang kau pasti sadar kalau sudah liat kalender."

Hansol berjalan ke kalender terdekat.

"Tanggal 22, kenapa?"

Seungkwan menggerutu, "Kalau kau tidak sadar juga, lebih baik kau lihat kalendernya Sophie."

Hansol buru buru lari ke kamar Sophie.


Sementara itu Mingyu.

"Ini membuatku lapar, Nona."

"Apa itu berarti aku berhasil, Chef?"

Mingyu mengangguk, "100% berhasil, selamat, Nona!"

Lalu mereka berjabat tangan.

"Hari H-nya besok, ya?" tanya Jihoon.

Gadis yang dijabat Mingyu itu mengangguk, "Kalau hari jadinya tanggal dua-tiga, kapan aku harus memberi kejutannya?"

"Malam ini lah." Jawab Mingyu.

"Oh." gadis itu kemudian bingung, "Tapi bagaimana caranya aku pulang? Memang malam malam begini masih ada bis? Papih pasti mencariku, aku memang sudah meninggalkan pesan supaya Papih jangan mencariku, tapi dia pasti akan tetap mencariku, kan?"

"Hebat, keluargamu pasti akan tetap mencarimu, Sophie." Kata Jihoon. Pada anak Papih ini dia tidak ketus ketus amat ternyata.

"Kau tidak bilang pada Papih aku disini, kan?" Tanya Sophie.

"Tentu saja tidak, Sophia Chwe."

"Aku juga sudah bilang Boo untuk jangan bilang Papih kalau aku disini."

"Siapa Boo?" tanya Mingyu.

"Kakak iparnya." Jawab Jihoon, mewakili Sophie.

"Tapi bagaimana kalau ayahmu tetap menelepon polisi? Bisa gawat itu."

Jihoon, Sophie, dan Mingyu melirik jam besar di dapur rumah Om Josh. Sudah mau pergantian hari dan butuh setengah jam menuju rumah keluarga Choi.

Jun menghilang seperti biasa, Hoshi ambil shift malam, dan Wonwoo sudah tidur. Tadinya Mingyu izin untuk menginap dan mungkin bersenang senang dengan Wonu-nya, tapi akhirnya dia malah mengajari gadis berusia empatbelas tahun membuat kue.

"Ya, sudah." Kata Mingyu, "Jihoon Hyung, kau ada mobil?"

Jangan bilang Mingyu mau bawa mobil.

"Kau, yang benar saja, aku yang bawa."

Sophie mengemasi semua barangnya di kamar tamu dan melemparnya ke bagasi sedan Jihoon. Dia duduk di belakang bersama sekotak kue dan terlihat sangat cantik dengan terusan lengan panjang cokelat dan rambutnya yang panjang kepirangan. Menurut Jihoon dia mirip dengan Hansol, kakak beradik yang sopan, Papih benar benar berhasil mendidik anak.

Jihoon mengambil kunci mobilnya dan sedikit berdandan, bagaimana pun mengantar Sophie pulang sama saja dengan menemui Papih.

Mingyu naik ke atas, ke master bedroom, "Chagiya."

"Kenapa, Mingyu."

"Aku mau ikut Jihoon Hyung mengantar Sophie pulang."

"Jam segini?" Wonwoo mencari jam terdekat dan sadar ini sudah dini hari.

"Iya, sekarang. Dah, Chagi."

Mingyu berdiri, tapi Wonwoo menahannya.

"Gyu, mau vanilla cheesecake."

"Nanti kubawakan, ok, Chagi?"

"Cium dulu sini."

Dan ketika bibir Mingyu baru saja menempel di bibir Wonwoo, Jihoon berdehem, "Cepat turun sebelum kita yang dituduh menculik Sophie."


Rumah keluarga Choi itu besar, langit langitnya tinggi, dan cuma satu lantai. Rumah itu seperti dijatuhkan di tengah rerumputan hijau yang cantik dan luas sekali, Jihoon tahu rerumputan itu sebenarnya adalah lapangan golf pribadi.

Gerbang rumah itu sudah terbuka, sepertinya ada tamu di dalam, apa itu polisi?

Ya, itu pasti polisi. Dari dalam mobil mereka bisa melihat seorang polisi berbicara dengan Seungcheol di depan pintu rumah.

Mingyu yang pertama turun dan dia membukakan pintu untuk Sophie yang sudah membawa kue.

"Sophia!"

"H-hello, Papi."

Dan Papih melihat Mingyu. Dia langsung mencengkeram kerah kaus Mingyu, "Jadi kau yang menculik putriku!" serunya pada Mingyu yang sudah ketakutan.

"B-bukan saya, Om."

"Apanya yang bukan kau!?"

"Papih!" Sophia berseru, Jihoon menarik tangan Papih, menahannya. Seungcheol melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah kaus Mingyu.

"Maaf membuat Papih repot sampai harus menghubungi polisi segala. Tapi hari ini kan hari penting, aku juga ingin melakukan hal yang berarti."

Mingyu membantu membuka kotak kue di tangan Sophie.

"Selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke-21. Ini vanilla cheesecake seperti yang dulu selalu Mami buat untuk kita."


Seungcheol merasa kepalanya pusing berputar putar, ini vertigo, Seungcheol menyebutnya bagian dari penyakit orang tua.

Uji dan anak laki laki bernama Mingyu sudah pulang dengan seperempat vanilla cheesecake buatan Sophie. Seungcheol tidak tahu saja vanilla cheesecake itu sebenarnya buatan Mingyu juga. Anak anaknya sudah tidur, termasuk Joongchan si raja begadang itu. Seungcheol merasa terlalu lega sampai rasanya ringan sekali dan itu membuatnya pusing.

Dia mengetik pesan untuk Junghan dan Sang.

To: Yoon Jeonghan, Lee Sang

Batalkan rapat besok, aku tidak akan ke kantor.

Lee Sang mungkin tidak tahu, tapi kalau Seungcheol SMS begitu artinya dia minta pekerjaannya pindah ke rumah. Cuma Jeonghan yang tahu hal itu.


"Seungcheollie."

"Do Yoona?"

"Iya, Seungcheol. Apa kau tidak berpikir ini saatnya kau punya teman baru."

"Teman apa? Aku punya banyak teman, Jeonghan, Josh, Sang, ada anak anak juga, ada anak Ashley juga."

"Bukan, Seungcheol. Maksudku teman hidup."

Seungcheol merasa dia digoyangkan. Siapa yang berani beraninya membangunkan Choi Seungcheol? Awas saja.

"Lee Sang? Kenapa kau disini?"

"Sajangnim, anda menangis."

"Hah?"

Lee Sang menunjuk wajah Seungcheol dan Seungcheol baru merasakan air matanya mengalir, pasti karena mimpi itu.

Waktu berputar dengan cepat, dulu ada Do Yoona yang tidur di sebelahnya setiap malam, lalu ada Dongjinnie yang super siaga dan selalu menghandel pekerjaan Seungcheol di kantor. Tapi itu dulu, sekarang Seungcheol punya hiburan mungil berbayar bernama Uji, juga duo kesayangannya di kantor Jeonghan-Sang.

"Dimana Jeonghan, Sang?" tanya Seungcheol, biasanya cuma Jeonghan yang masuk kamar Seungcheol. Ini pertama kalinya Sang ada di kamar Choi Sajangnim dan anak itu terlihat agak nervous.

"Jeonghan-ssi terjebak macet jadi saya yang disini."

"Oh. Baiklah, Sang. Aku siap bekerja."

Sang menyodorkan berkas yang harus Seungcheol tanda tangani bersama sebuah pena.

Seungcheol duduk dengan benar dan menerima berkas itu.

"Duduklah di sini, Sang."

"Di-di ranjang anda."

"Tentu saja, memangnya dimana lagi?"

Lalu Sang duduk.

"Oh, ya, Sang. Kau memanggil Jeonghan dengan Jeonghan-ssi?"

"Iya."

"Padahal kalian seumuran, kan. Aku sih biasa memanggilnya Hannie, pacarnya juga biasa memanggilnya begitu. Mungkin lebih tepatnya Honey, ya?"

Sang diam saja, cuma tertawa saja.

Seungcheol lama lama kesal juga.

"Ayolah, Sang. Jangan terlalu kaku, kita di rumahku dan bukan di kantor, harusnya kita bisa ngobrol, kan?"

"I-iya, Sajangnim."

"Nah, kalau begitu ada yang ingin kau tanyakan?"

"Kalau begitu, apa Sajangnim sedang sakit?"

Seungcheol menyuruh Sang banyak bicara karena dia tahu dia pasti menangis kalau diam saja, tapi Sang menanyakan hal itu, itu membuat Seungcheol ingat Sophie yang sekarang sedang di sekolah dan itu membuatnya ingat Do Yoona.

"Kau tahu, Sang. Walaupun anak anak itu sangat manis, tapi mereka bisa saja selalu membuatmu pusing."

Seungcheol membubuhkan tanda tangannya, menyerahkan berkas itu pada Sang.

"Saya kurang tahu karena saya belum pernah punya anak, Sajangnim."

Seungcheol tersenyum, "Kau akan tahu nanti. Aku mau telepon Jeonghan dulu."

Sang pergi ke meja kerja Seungcheol sementara Seungcheol menelepon Jeonghan.

"..."

"Ya, Jeonghan, kau dimana?"

"..."

"Aku mimpi."

Sang terbatuk.

Dan tidak lama dari itu Jeonghan masuk kamar Seungcheol seenaknya. Jasnya rapi dan bagus, bahu dan dadanya terlihat bagus sekali dalam jas yang dia pakai sekarang, dan rambutnya yang baru diwarnai ulang juga rapi tergerai.

"Bisakah kau keluar dulu, Sang." Katanya.

Dan Sang menurut.

Jeonghan menutup pintu kamar Seungcheol.

"Apa itu mimpi yang menyedihkan?"

"Iya, kurasa."

Lalu Jeonghan duduk di hadapan Seungcheol.

"Kata nenekku, kalau kau mimpi bertemu orang yang sudah tiada itu berarti orang itu benar benar mendatangimu."

Kata kata Jeonghan itu membuat ingin sekali menangis. Dan Jeonghan memeluknya.

"Apa yang Yoona-ssi katakan padamu?"

Di bahu Jeonghan, Seungcheol berkata, "Do Yoona menyuruhku mencari pasangan lagi, tapi kalau aku melihat Sophie aku rasa dia tidak bisa menerima ibu baru."

"Bukan tidak, tapi belum, Seungcheol."


Jeonghan keluar dari kamar Seungcheol dengan lengan kemeja yang digulung dan rambut yang di kuncir, jasnya ditenteng begitu saja.

Sang menatapnya.

"Kenapa kau menatapku begitu, Sang?"

"T-tidak."

Jeonghan memutar mata, "Demi Yeondai Corp, Sang. Aku tidak melakukan yang aneh aneh dengan Sajangnim."

"Lalu?"

Jeonghan tersenyum, "Nanti kau akan tahu sendiri, semakin cepat kau dekat dengan Sajangnim semakin cepat kau akan tahu soal hal itu."

Sang bingung, walaupun dia sebenarnya tidak rookie rookie amat di Yeondai, tapi di antara Jeonghan dan Seungcheol, dia yang paling tidak tahu apa apa. Ya, nanti mungkin dia akan tahu.

Sekarang sudah jam duabelas, waktunya istirahat makan siang. Jeonghan sudah mau angkat kaki saat Seungcheol keluar dari kamarnya dengan kaus dan jeans casual.

"Di antara kalian siapa yang bisa mengantarku?"

"Boss, kami bukan supir." Tolak Jeonghan.

"Tidak apa apa, Jeonghan-ssi." Kata Sang.

Seungcheol menjentikkan jarinya, "Bagus, Sang, ayo antar aku jemput Uji, Uji yang waktu itu."

Saat Sang menurunkan Seungcheol dan Uji di Pizza Hood, Seungcheol memberi Sang gulungan uang setengah gaji Sang sebulan. Sang rasa dia ingin menangis.

"Untuk makan siang." Kata Seungcheol

"Te-terimakasih, Sajangnim." Balas Sang.

Uji menarik-narik tangan Seungcheol, "Ayo, Papih."

"Iya, Uji."

Mereka masuk ke Pizza Hood dan memilih duduk di sofa daripada di kursi dan memesan pizza untuk berdua.

"Soonyoung, antar ini ke meja 8."

Hoshi melihat ke arah meja nomor delapan. Ada dua orang di sana, muka mereka ditutupi buku menu, pasti sedang ciuman deh, manis banget.

Dan saat buku menu itu diturunkan, Hoshi nyaris menjatuhkan nampannya. Dua orang yang sekarang sedang tertawa tawa itu adalah Jihoon bersama orang yang sudah bisa dipastikan adalah Simon Choi Seungcheol a.k.a Papih. Selama ini Hoshi cuma mengenalnya sebatas nama dari kartu nama yang tertinggal di meja Jihoon, ternyata begini aslinya.

"Silahkan." Kata Hoshi, dia berusaha tetap profesional.

Jihoon terkejut, tapi dia juga berusaha tetap profesional.

Sejak kapan Hoshi kerja di Pizza Hood!?

"Uji ada apa?"

"Tidak, Papih."

"Oh, ya. Uji, kapan kontrak kita berakhir?"

Jihoon terkejut lagi, lalu cemberut sok manis, "Papih tidak mau re-new kontrak denganku?"

Seungcheol mengelus rambutnya, "Bukan begitu, Baby. Tentu saja kita akan re-new. Kita akan re-new kecuali kau tidak mau re-new, Baby."


TBC


Note(1): Alasan Seungcheol dipanggil Papih dan bukannya Daddy seperti kebanyakan adalah lagu f(x), dan lagi dulu banyak yang bilang kalau Papih itu keturunan hispanic, jadinya aku terbawa bawa, lagian begitu juga masuk ke Hansol-nya juga.

Note(2): Apa disini tidak ada yang tahu apa itu Sugaring? Apa itu Sugar Daddy dan Sugar Baby? Kalau tidak berarti aku harus mencari cara lain untuk menjelaskan hubungan Papih dan Uji.

Note(3): Alasan aku memilih tanggal 23 adalah karena 23 itu 31-8.

Note(4): Kira kira kenapa Wonwoo ingin vanilla cheesecake? (jawabannya tidak lain tidak bukan karena dia sudah tahu Mingyu dan Sophie buat vanilla cheesecake, tapi dia terlalu ngantuk buat malak. Paham kan, keadaan dimana benar benar ngantuk tapi benar benar lapar.)